Mana kelingkingku?

***Posting ini adalah isi Kebaktian Paskah Oikumene KMKI yang dilaksanakan hari Sabtu, 25 April lalu, di gereja Anselmo, Meguro. ***

Dua jari kelingking yang hanya separuh, rajah bak baju menempel abadi, itu hanya penampilan luar yang tidak bisa berubah dan tak bisa diubah siapapun juga. Tapi Hati dan Keinginan hidup yang pernah ingin dibuang, tidak ada yang tahu perubahannya kecuali dia dan Tuhannya.

dua kelingking yang hanya separuh dan rajah di badan

Adalah seorang Suzuki Hiroyuki yang memukau 70-an orang Indonesia di Gereja Meguro, Sabtu lalu. Dengan semangat yang diselingi usapan air mata, dan sesekali gelak tawa mengalirlah cerita mengenai kekuatan “Sang Pemberi Hidup” pada hidupnya.

Pada usia 17 tahun memasuki dunia hitam Yakuza, gangster di Jepang. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk menjadi Yakuza, seseorang harus mengorbankan separuh jari kelingkingnya. Belum lagi tato sekujur badan. Tidak ada rasa sakit bagi Yakuza, karena hidupnya harus TEGA untuk kekerasan. Kalau perlu membunuh orang.

Dan selama 17 tahun, Suzuki muda ini menjalani hidup yang seenaknya, sampai membuang istri dan anaknya. Sampai saat 17 tahun sesudahnya, dia diusir dari kelompoknya.  Tidak ada tempat berlindung. Dia dikejar-kejar oleh musuhnya yang lain karena ada hutang juga. Dia tidak punya apa-apa lagi, karena dia juga telah memutuskan hubungan dengan istrinya. Tidak ada saudara, tidak ada uang, tidak ada pekerjaan. Siapa yang mau mempekerjakan seorang “bekas” Yakuza?  Salah-salah orang yang mempekerjakan dia akan dibunuh dan dijadikan target juga oleh gerombolan Yakuza yang lain.

Salah satunya jalan adalah bunuh diri. Tapi saat itu dia bertemu dengan seorang pendeta. Yang memberitahukan bahwa ada “Yesus” yang telah mati untuk dia, orang yang tidak berguna itu. Jika kamu percaya, maka apa saja akan bisa dilampaui. Dan ingat… “Yesus tidak pernah mengatakan hidupmu akan MUDAH, tapi bahwa engkau akan diselamatkan”.

Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?

Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?

Tidak mudah membuang masa lalu. Sekitar 17 tahun yang lalu, dia memanggul salibnya sampai ke Hokkaido. Dia ingin merasakan penderitaan Yesus sendiri. Sambil berjalan dan mendengarkan, bertukar pikiran dengan umat Kristen Jepang yang sangat sedikit.

Di suatu tempat dia berjumpa dengan seorang nenek berusia 86 tahun yang beragama Kristen. Lalu dia bertanya pada si Nenek,

“Nek, apa yang kamu rasa paling sulit dalam hidup beragama?”

Si Nenek berkata:

“Saya percaya Tuhan. Percaya saja itu mudah. MUDAH sekali. Tapi yang sulit adalah… TERUS PERCAYA.”

Sebagai umat baru, yang baru menerima Yesus, atau yang baru menganut agama, biasanya semanagat masih menyala-nyala. Tapi setelah sekian lama, banyak mengalami hal-hal sulit, yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Di situ lah tantangan untuk TETAP percaya bahwa Tuhan itu ada. Begitu mudah kita akan jatuh lagi ke dalam Ketidakpercayaan kita.

Saya tidak bisa menuliskan kembali kesaksian Pendeta Suzuki ini semuanya. Ada cerita yang lucu dikemukakannya, ketika dia memanggul salib, dia diminta untuk berbicara dalam acara agama kristen di televisi. Dia pikir, acara itu disiarkan hari Minggu, pagi lagi, tentu tidak ada teman yakuza yang akan menonton acara religius seperti itu. TAPI dia salah…. ternyata ada orang yang tahu, dan seluruh dunia yakuza tergoncang. Apalagi si penagih hutang yang akhirnya mendatangi dia. Saat itu dia sudah hidup bersama istri dan anaknya kembali. Betapa takutnya dia menghadapi kawanan Yakuza itu, tapi ternyata Tuhan melindungi dia, melalui tangan anak kecil, anaknya sendiri, yang tidak takut-takut, membelai kepala botak si Yakuza, dan bermain di sebelahnya. Sampai si Yakuza itu malah mengeluarkan dompet dan memberikan uang 20.000 yen untuk uang saku si anak. Tuhan bekerja!

Suzuki Sensei ini juga merupakan satu-satunya orang Jepang, Kristen yang diundang dalam acara makan pagi kenegaraan di Washington DC. Presiden Clinton hanya berpidato 5 menit.  Pendeta Billy yang terkenal itu hanya punya plot waktu 5 menit. Tapi Pendeta Suzuki ini mendapat waktu 15 menit + termasuk terjemahan. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak bisa masuk Amerika karena pernah di”pulangkan” karena tidak bervisa waktu ke Hawaii.

Banyak buku dan ada sebuah film yang dibuat berdasarkan jalan cerita hidup Pendeta Suzuki. Sayangnya masih berbahasa Jepang.

Kai dan Banner

Saya merasa beruntung bisa mendengarkan langsung kisah hidupnya, hari Sabtu yang lalu. Meskipun dalam hujan, saya berhasil datang ke gereja bersama Kai dan Riku naik bus dan kereta. Karena hujan, hanya 70 umat kristen dan katolik Indonesia berkumpul di Meguro.Tapi dengan sukses 70 orang ini menghabiskan jatah makan 200 orang, makan nasi kare, bubur ketan hitam dan masih bisa membawa bekal pulang ke rumah. Ya kami semua bisa membawa pulang bekal makanan jasmani, tapi yang terutama bekal makanan rohani yang memperkuat iman untuk TETAP percaya pada TUHAN.

Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb

Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb

DVD dan Buku-buku karangan Pdt Suzuki:

15 gagasan untuk “Mana kelingkingku?

  1. Eka Situmorang-Sir

    Aku menitikkan air mata.. (sampe OB kantor yg lewat jadi terheran – heran)
    Bener mbak Tuhan itu bekerja setiap saat, kapan saja, dimana saja. Tak ada yang mustahil, kiatnya terus percaya.

    ->> “Yesus tidak pernah mengatakan hidupmu akan MUDAH, tapi bahwa engkau akan diselamatkan”.

    ->> Amiiin !

    Balas
  2. achoey

    Mbak, ternyata Yakuza benar adanya. Saya kira hanya di film saja.
    Selalu ada jalan bagi para pencari Tuhan, hingga orang yang sudah menjadi Raja Tega pun bisa kembali menjadi manusia penuh damai.

    Balas
  3. suryaden

    setuju yang sulit untuk terus percaya, memang beragama juga memerlukan kedalaman, yang tiap saat harus di apdet pula…

    Balas
  4. Retie

    tante, aku ngga bisa bilang apa-apa. aku menangis baca postingan tante. aku masih merasa kurang begitu mencintai Yesus yg telah rela memanggul salib dan menebus dosa kita 🙁
    thx infonya tante

    Balas
  5. Justinus

    “Saya percaya Tuhan. Percaya saja itu mudah. MUDAH sekali. Tapi yang sulit adalah… TERUS PERCAYA.”

    Semoga dengan senantiasa menyambut Sakramen Maha Kudus, Engkau didalam aku, aku didalam Dikau … kita dimampukanNya untuk terus percaya kepada Dia

    AMDG

    Balas
  6. vizon

    great…!
    untuk menjadi percaya, benar sekali, sangat gampang… tapi untuk tetap percaya itulah yg sulit…
    menurutku, untuk bisa terus konsisten, yg dibutuhkan adalah penghayatan mendalam akan ajaran agama, sehingga dapat menjalankannya dg penuh kesadaran… 🙂

    vizon´s last blog post..cantiak

    Balas
  7. tanti

    Tak ada yang tak mungkin didalam Tuhan.
    Kesaksian yang menguatkan, kiranya Tuhan memberkati dalam setiap pelayanannya, menjadi berkat bagi orang lain yang mendengarnya.

    tanti´s last blog post..Muatan Beban

    Balas
  8. Melati

    Kalau dihalangi kesulitan, saya teringat Yesus.
    Dia sendiri mengalami kesulitan. Apalagi manusia.
    Tapi manusia mendingan karena bisa bersama dengan Yesus yang jejakNya bisa kita ikuti.

    Dalam blog hari ini juga kata botak mempunyai peran yang penting.

    Balas
  9. G

    Mengharukan sungguh. Memang TUHAN selalu bekerja, kita ini yg seringkali kurang percaya. Luarbiasa apa yg terjadi pada Pdt. Suzuki dan kesaksiannya. Membaca entri ini saya merasa lagi dikuatkan bhw Yesus hidup di dalam kita dan melalui kita.

    G´s last blog post..dialog dengan rindu, atau ini sebuah monolog

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *