Becak Kuno dan Modern

22 Feb

Minggu pagi, cerah dan kedua anakku bangun pagi. Jam 8 pagi mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakek-neneknya di yokohama. Hanya aku yang masih belum bersiap, karena ada terjemahan yang nanggung untuk dipotong. Meskipun akhirnya aku putuskan untuk keluar rumah pukul 9, sambil membawa laptop untuk bekerja di dalam mobil. (Dan ternyata mengetik dalam mobil juga sama sekali tidak nyaman… lain sekali dgn di pesawat yah hihihi)

Sudah sejak malam sebelumnya Riku dan Kai mempersiapkan tas mereka masing-masing. Tapi isinya mainan, sehingga untuk baju dan pampers/susu Kai masih perlu aku yang persiapkan. Mereka ingin sekali bertemu neneknya, A-chan. Kebetulan A-chan juga sendirian, karena Ta-chan sedang pergi naik gunung. Jadi kami mau mengajaknya pergi makan siang ke Chinta Town Yokohama.

Pecinan di hari minggu…. aduh aduh aduh. Entah kenapa hari minggu kemarin itu benar-benar padat orang. Aku bayangkan kalau pas imlek bagaimana nih? Pasti tidak bisa jalan. Kami harus menyibak antrian orang yang bisa dilihat di mana-mana. Semua antri! Untuk apa sih? Ternyata akan ada parade sore harinya, jadi mereka sudah bersiap untuk melihatnya.

Ada beberapa restoran yang ingin kami masuki tapi selalu ditolak penuh. Kalau mau musti reserved tempat dulu. Akhirnya kami masuki restorsn kedua yang “memanggil” kami dengan mengatakan, “Silakan masuk, kami bisa langsung memberikan Anda tempat, bahkan di kamar….”

Biasanya untuk bisa menempati kamar harus pesan tempat dan kadang ditarik biaya. Wah mungkin mahal tempat ini. Lalu A chan berkata, tidak apa deh daripada cari lagi, sudah lapar. Nanti saya yang bayar. Jadi masuklah kami ke restoran itu, dan sepakat tidak pesan banyak, cukup mengganjal perut. Karena mungkin resto ini tidak enak…. tamunya sedikit.

Riku dan A-chan... Gigi taring atas Riku tanggal sesudah makan Peking Duck hihihi

Ternyata… resto ini memang sedikit lebih mahal dari resto lain, tapi makanannya cukup enak. Dan Riku dimanjakan neneknya dengan dibelikan Peking Duck (katanya karena minggu depan akan ulang tahun). Entah bagaimana tapi restoran itu mungkin akan membawa berkah juga tuh untuk dua anakku. Karena gigi taring (gigi susu) Riku yang atas tanggal di situ, sedangkan si Kai meninggalkan peninggalan di WC hihihi (Katanya kalau bisa buang air besar di suatu tempat pertanda akan kembali lagi ke tempat itu…. katanya)

Pengemudi Velotaxi menawarkan diri eh taxinya. Naik pertama 300 yen (1 orang)

Nah kan, judulnya becak, tapi belum berbicara mengenai becak sama sekali ya? Sebetulnya kami bertemu dengan becak “modern” di sebuah persimpangan jalan masuk ke China Town ini (China Town mempunyai beberapa pintu masuk). Bentuknya serupa bajaj, yang dicat meriah, tapi kalau dilihat lebih jelas lagi, ternyata si supir duduk dan mengayuh seperti sepeda. Waaah kalau begini kan becak dong.

Namanya VeloTaxi diciptakan tahun 1997 di Jerman dan terkenal sejak pameran EXPO tahun 2005 di Aichi. Angkutan yang ECO ini, memang ramah lingkungan, karena pakai tenaga manusia. Bukan itu saja, kabin tempat duduknya semua dibuat dari daur ulang. Dan selain unsur transportasi, Velotaxi ini bisa digunakan sebagai sarana iklan. Velotaxi ini bisa ditemukan di beberapa tampat wisata, dan memang Yokohama mempunyai banyak tempat wisata, yang salah satunya adalah China Town.

Kalau melihat homepagenya, ada banyak cara mereka untuk mempromosikan pemakaian velotaxi ini. Bayangkan jika Anda adalah Cinderela yang dijemput dengan Velotaxi dengan pengemudi ber-tuxedo sebagai pengganti kereta kuda? Hmmm …mungkin memang tidak romantis ya.. tapi unik kan? Imelda mau coba? mau aja sih kalau dibayarin, soalnya cukup mahal kalau aku harus bayar sendiri. Bukan… bukan dihitung berdasarkan berat badannya, tapi satu orang dihitung 300 yen untuk naik pertama, dan selanjutnya dihitung per point, 1 point = 100 yen. Nah, yang aku belum ketemu 1 point itu dihitung berdasarkan apa? km atau waktu.

velotaxi di depan Gudang Batubata, Yokohama

Mungkin kita orang Indonesia akan mengatakan, yaaah kalau itu mah di negara kita juga banyak. BECAK! Dari dulu memang kita sudah ramah lingkungan kok, dengan tenaga manusia menyediakan transportasi bagi warga. Cuma memang aku merasa jaminan terhadap penumpang yang amat kurang. Bayangkan penumpang kok ditaruh di depan, dan harus melihat jalanan yang terkadang dibawa melawan arus oleh si abang (Nah kan pasti tukang becak kita panggil abang, bukan pak! lagi-lagi pemakaian bahasa yang “membedakan”)

Yang juga aku rasa lucu, kok velotaxi dikembangkan di Jerman, dan dipakai di Jepang. Padahal Jepang yang sebetulnya menemukan alat transportasi dengan manusia ini. Becak pun awalnya berasal dari JINRIKISHA (Rickshaw bahasa Inggrisnya) yang disebutkan berawal tahun 1868, awal Meiji. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa becak jinrikisha ini ditemukan oleh seorang Amerika yang tinggal di Jepang pada tahun 1869 yang bernama Jonathan Scobie, untuk mengangkut istrinya yang sakit-sakitan , dan pulang pergi ke Yokohama naik jinrikisha ini. (aduuuh romantis sekali ya? bagaikan digendong sang suami kan? )

jinrikisha di Kamakura

Jinrikisha kuno ini masih dapat ditemukan di tempat wisata Kamakura atau Kurashiki (dua tempat wisata tradisional Jepang, dan memang aku sendiri pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri). Berwarna hitam, dengan tempat duduk berwarna merah. Disediakan selimut untuk menutupi kaki penumpang wanita. Pengemudinya berpakaian kimono pendek dengan celana pendek hitam. Dan coba lihat kaki mereka… ya seperti abang becak sih (bukan bermaksud mengejek loh… tapi berotot maksudku). Waktu pergi ke kamakura, aku sempat melihat seorang ibu-ibu yang dijemput seorang pengemudi jinrikisha yang masih muda (Memang aku belum pernah bertemu pengemudi yang sudah tua, seperti di Indonesia yang sudah kakek-kakek masih menarik becak).

Terlepas dari sisi manusiawi (kok mempekerjakan orang begitu) atau sisi lingkungan (ramah lingkungan tanpa gas emisi dll), kehadiran velotaxi (becak modern), dan jinrikisha (becak kuno) di tempat wisata bisa membantu orang-orang tua atau penyandang cacat untuk menikmati tempat wisata di Jepang, selain mungkin dapat membangkitkan kenangan tentang masa lalu.

Riku naik becak di Yogyakarta (sebetulnya becak jepang yang benar ya.... narik becak, kalau di Indonesia malah dorong becak bukan narik hihihi)

Yamashita Park and Pecinan

30 Des

Pagi hari aku sebetulnya menantikan fajar. Tapi ternyata karena kamar kami mengharap ke utara, tidak bisa melihat matahari terbit. Pemandangan yang sama, pada malam hari dan pagi hari, amatlah berbeda.

pelabuhan pukul 7 pagi hari

Karena paket hotel termasuk sarapan, maka kami menuju Restaurant normandie yang berada di lantai 5. Sebetulnya tempat ini bagus sekali kalau malam, tapi harganya juga bagus sekali. Untung saja sarapan disediakan di tempat ini sehingga kami bisa melihat bagian dalamnya seperti apa.

Dan oleh pelayan kami diberi tempat duduk di dekat jendela, yang pemandangannya bagus sekali (kalau malam pasti harus reservasi nih). Breakfast menunya sendiri tidak begitu wah, malahan aku jadi ingin makan bubur ayam hihihi.

Sinar matahari yang menyirami bumi terlihat begitu hangat sehingga kami memutuskan untuk jalan-jalan pagi sebelum check out. Tapi begitu kami sampai di lantai satu, brrrrrr angin menyambut kami, sehingga kami kembali lagi ke kamar mengambil coat.

Banyak orang berjalan kaki, atau jongging di Yamashita Park ini. Atau hanya sekedar duduk sebentar (karena kalau lama-lama meskipun di bawah sinar matahari tetap saja menggigil). Di situ ada kolam dengan patung dan dikelilingi 5  lonceng yang rupanya sebagai tanda kerjasama sister city dengan San Diego.

Kapal Hikawamaru yang ditambatkan juga lain penampilannya dengan waktu malam hari. Aku lebih suka malam hari…. lebih mistis. Tapi aku menemukan sesuatu yang lucu di rantai jangkar kapal. Yaitu deretan burung camar yang berbaris rapih. Sementara yang tidak kebagian tempat terbang atau berenang di perairan di bawahnya, yang lumayan riaknya gara-gara angin.

Karena semakin merasa dingin, aku mengajak Gen kembali ke hotel melewati jalan yang lain. Rupanya di situ juga ada taman bunga mawar yang sedang berbunga. Sementara di sebelah kiri ada lapangan rumput yang luas tempat anak-anak bermain. Ahhhh pemandangan seperti ini selalu membuat hati merasa damai. Sambil merasa iri, mengapa di Indonesia tidak ada tempat yang bersih seperti ini.

Sambil pulang ke kamar, kami juga menyempatkan diri mampir lagi ke lobby gedung utama yang bersejarah dengan interior khasnya, dan taman hotel dengan air mancurnya.

Kami cepat-cepat check out pukul 11, terlambat 5 menit, dan menemui antrian tamu lain yang check out. Antri bo…. dan tidak lama… sama sekali tidak lama. Padahal ada lebih dari 20 tamu yang sedang antri.

Karena kami boleh memakai parkir sampai jam 1, maka kami menaruh barang kami yang tidak perlu, lalu berjalan ke arah China Town. Benar saja pemandangan China Town di siang hari lain sekali dengan waktu malam hari. Tentu saja lebih bagus waktu malam. Tapi, semua toko terbuka, dan kami menemukan “tongcai” . Itu loh sejenis sayuran kering dengan rasa asin-asin untuk bubur ayam. Dijual dalam keramik bundar. Waktu kami lihat wahhh, murah, hanya 250 yen. Jadi beli deh.

Selain itu aku juga melihat kue china yang dulu waktu SD sering kami makan. berbentuk bundar merah. Dulu kami sering bermain “hosti-hosti”an dengan snack ini. Setelah aku bisa baca kanji baru tahu namanya di Jepang adalah Sanjashi さんざし(山楂子) , bahasa Inggrisnya Hawthorn dan ternyata terbuat dari buah yang banyak mengandung vitamin C, dan berguna untuk memperlancar pencernaan. Hmmm musti kasih makan Kai nih, dia suka sembelit soalnya.

Wah memang masuk ke toko cina itu asyik, asal bisa baca hehehe. Ada keringan kuda laut, ada shark fin juga. Waktu Gen bilang, mau beli? Duh aku ngga tau masaknya gimana….

Tujuan kami di Pecinan sebetulnya adalah Kuil Kanteibyo (Kuil Guan Gong). Aku sudah beberapa kali pergi ke China Town Yokohama, tapi belum pernah sampai ke kuil ini. Dan kali ini harus bisa kesampaian.

Begitu sampai di temple ini, wahhh deh. Amat lain dengan kuil-kuil Jepang yang umumnya tidak “berwarna”. Kuil Cina memang jauh lebih meriah, semarak dan berwarna warni. Emas dan Merah sudah pasti. Guan Gong adalah dewa untuk keadilan, keberanian dan kesetiaan. Bagi yang ingin berdoa, diharapkan  untuk membeli batangan dupa yang cukup besar (berbeda dengan Jepang yang pendek dan berwarna hijau), paling sedikit 5 batang untuk dipasang di lima tempat. Karena kami tidak bermaksud berdoa, kami tidak membeli dupa, tapi masih diperbolehkan naik sampai ke depan altarnya. Wah semakin dekat dengan gerbang dan atap, semakin silau mata memandang. Apalagi waktu itu matahari terang benderang, meskipun tidak berarti panas hehehe.

Aku bayangkan kuil ini pasti ramai sekali kalau Tahun Baru Imlek, lengkap dengan barongsai dan musiknya…. Dan aku sambil menuliskan ini berdoa untuk arwah Gus Dur, Presiden Indonesia ke 4 yang berani memperbolehkan Imlek dirayakan di Indonesia.

Begitu turun dari kuil tersebut aku membeli taiyaki, sejenis kue dorayaki tapi berbentuk ikan mas. Tapi taiyakinya berwarna putih dengan isi custard, coklat dan anko (selai kacang merah). Riku ingin sekali makan taiyaki rasa coklat, jadi sekalian beli untuk oleh-oleh Riku.

Taiyaki berwarna putih. Ikan mas sering dipakai sebagai lambang dalam selamatan

Sambil berjalan ke arah hotel, kami menemukan keganjilan, yaitu melihat Sang Merah Putih berkibar di sebuah toko. Langsung deh tergerak nasionalisme kami (uhuuy…lebay amat), dan masuk ke toko itu. Siapa tahu menjual barang-barang Indonesia. Eeeehhh ternyata hanya merupakan kumpulan toko-toko kecil yang menjual macam-macam baju, assecories, buku, hobby dan lain-lain. Kecil memang tapi cukup menyenangkan, dan yang pasti WC nya yang terletak di lantai 3 itu bersih benar! Jadi, ngapain dong pasang Sang Merah Putih? Pasti yang pasang asal milih saja deh, bendera negara mana juga jadi (atau malah dia pikir itu bendera Polandia ya?)

bendera merah putih yang menarik perhatian kami....

Nah terakhir kami akhirnya mampir ke sebuah toko yang menjual segala “panggangan”. Ada ayam, bebek, hati ayam, babi merah (chashu), babi asin (yang asin jarang sekali ada di Jepang) padahal di “Kenanga” Jakarta banyak tuh dan tidak pake sambal khasnya…. Toko ini sebetulnya lebih melayani pembelian untuk dibawa pulang (take away) dijual langsung per gramnya, atau dalam bentuk obento (set dengan nasi). Tapi mereka juga punya kamar makan di atas khusus untuk orang yang sudah pesan. Ada seorang obasan (ibu-ibu) yang menawarkan kami untuk makan di atas saja. Jadilah kami memesan set panggangan untuk lunch , karena malas membawa pulang ke rumah. Harganya 1000 yen, tapi dagingnya banyak euy, jadi puas deh.

kiri: babi panggang merah dan putih; kanan : bebek panggang dan ayam

Akhirnya kami harus berlari-lari ke parkiran hotel karena waktu sudah menunjukkan pukul 1. Padahal aku bilang, biarlah kalau perlu kita membayar tambahan parkir juga tidak apa-apa. Paling cuma untuk setengah jam. Jadi sekitar pukul 1:25 an kami naiki lagi lift mobil dari B4 untuk keluar. Ternyata kami sama sekali tidak usah membayar kelebihannya. Tau gitu kan…. nambah hihihi (ngelunjak itu sih!)

Well, berakhirlah bulan madu ke 4 kami. Pertama ke Raffless Hotel Singapore, ke dua ke Ritz Carlton Bali, ke tiga Makassar Golden Hotel, dan ke empat Hotel New Grand Yokohama. Mungkin ada yang tanya, kok suka nginap di hotel-hotel begituan sih? Well, kebetulan pekerjaan Gen berhubungan dengan hospitality, jadi kami ingin menjadi “Hotel Critics” ceritanya. Tapi karena bayar sendiri, frekuensinya sedikit deh. Nanti kalau anak-anak sudah besar, boleh juga tuh menjadi pekerjaan pokokku hehehe.

New Grand

29 Des

Nama lengkapnya Hotel New Grand, Yokohama. Terletak persis di depan perairan dan Taman Yamashita (Jangan salah, bukan Miyashita loh…sering sekali orang salah menyebutkan nama keluarga kami). Hotel ini yang dipilih oleh Gen, waktu aku mencari-cari kamar hotel yang kosong secara online untuk tanggal 26 Desember. Padahal aku sebetulnya lebih tertarik pada Royal Park Hotel Yokohama, karena waktu 10 tahun yang lalu, kami tidak jadi menginap di situ dan memberikan jatah kamar kami untuk keluarga yang datang dari Jakarta. Kamar di Royal Park Hotel, yang bersebelahan dengan Landmark Tower  ini mempunyai kamar mandi berjendela bulat sehingga seakan-akan berada dalam Kapal dengan pemandangan pantai Yokohama yang spektakuler, karena kamar teratas berada di tingkat 67. Bayangkan saja…pasti bagus kan.

Tapi memang Hotel New Grand ini adalah hotel klasik, hotel yang kuno karena hotel ini mulai dibangun tahun 1926, dan selesai tahun 1927. Tidak kurang dari Jendral Mac Arthur pernah menggunakan ruangan di hotel ini sebagai ruang kerjanya, sehingga ada ruang suite bed room bernama Ruang Mac Arthur. Harga permalamnya? 140.ooo yen aja (14 juta rupiah saja).

Dan Gen berkata bahwa, seandainya dia menginap di hotel, dia ingin menginap di Hotel New Grand. Aku tadinya pikir mungkin karena dia suka sejarahnya, tapi ternyata setelah kami menginap baru dia sadar bahwa dia telah terpengaruh oleh sebuah film. Film Amerika yang berjudul Somewhere in Time, yang dibintangi Christopher Reeve & Jane Seymour. Nama hotel yang ada di film itu ternyata GRAND HOTEL, Mackinac Island Michigan.

Kebetulan saja namanya sama…. ada grand nya. Soalnya arsitekturnya agak beda deh. Tapi pas aku cari daftar harganya? well hampir sama ….mahalnya hihihi. Dan Gen bilang, kalau gitu nanti anniversary (10 tahun lagi) usahakan di Michigan yuuuk hihihi. Tapi siapa tahu ada kesempatan ke Amerika, biar kamar yang termurah lumayan juga tuh… (Aku sama sekali ngga ada keinginan untuk ke Amerika sih). Ternyata setelah cari keterangan tentang Grand Hotel ini, diketahui bahwa hotel itu tutup selama bulan November-Januari. Jadi sudah tidak bisa deh ke sana untuk merayakan anniversary…(syukurlah hihihi). Kalau mau pergi harus summer.

Jadi setelah kami selesai mengunjungi Rumah Diplomat dan Bluff No 18, kami menuju ke Yamashita-cho, Hotel New Grand Yokohama. Karena kami menginap, kami bisa memarkir mobil kami di parkiran hotel. Kalau tamu biasa belum tentu, karena hotel hanya mempunyai 140 space untuk mobil. Biaya parkir sehari untuk tamu yang menginap 1500 yen. Dan… kami berdua terkejut sekali waktu petugas mempersilakan kami tetap berada dalam mobil dan memasuki LIFT MOBIL.

Biasanya parkir di Jepang memang bertingkat, tapi yang masuk lift hanya mobilnya saja. Pengemudi dan penumpang turun sebelum mobil memasuki lift. Mobil kemudian akan diputar-putar menempati  space yang kosong dengan mesin-mesin yang ada. Tapi di hotel ini ternyata, kami juga harus nunut dalam mobil dan turun ke lantai 4 bawah tanah. Wuiiih, untung berdua Gen dan bukan aku yang nyetir…. Kalau tidak aku bisa semaput kali. (perlu diketahui aku tidak bisa masuk ke ruangan bawah tanah karena panic syndrome. Jadi kita merasa lift bergerak turun, dan saat itu yang aku pikir, “hiii gini kali kalau masuk liang kubur” hihihihi padahal kalau mati kan ngga ngerasa lagi atuh.

Begitu sampai di lantai 4 basement, kami mengeluarkan mobil dari lift, dan parkir mobil seperti biasa. Jadi saking sempitnya lahan parkir, tidak ada space untuk membuat jalan bertangga untuk mobil, dan lift mobil menjadi solusinya. Selanjutnya seperti parkir mobil biasa saja, dan kami naik lift ke lantai satu, lobby, untuk check in. Salah satu servis mereka yang saya rasa bagus adalah mereka tidak mencetak bill kosong dengan kartu kredit kita dulu sebelumnya. Tindakan seperti ini biasanya dilakukan pihak hotel (terutama di Indonesia) untuk menghindari tamu “lari”. Atau biasanya kita wajib membayar uang muka, atau bahkan membayar biaya penginapan di muka jika hanya menginap satu malam. Tapi Hotel New Grand ini tidak melakukan tindakan preventif seperti itu. Entah kenapa.

Karena waktu memesan kamar aku mengatakan bahwa kami menginap untuk memperingati ulang tahun pernikahan, maka kami mendapat hadiah berupa buah, selain dari champagne yang memang termasuk dalam paket yang aku pilih. Tadinya aku pikir dapat buah satu keranjang, eh ternyata cuma satu orange dan dua kiwi. dihh pelit ya hihihi (kalau di Indonesia buah murah sih, jadi hadiahnya bisa buah satu keranjang deh).

Kami diantar ke kamar “Premier Suite” (belum sanggup yang “Presidential Suite”) yang terletak di lantai 17, gedung baru yang merupakan gedung tambahan (annex) dari hotel utama (Hotel utamanya sendiri hanya berlantai 5).  Kamar seluas 64 meter persegi dibagi dua kamar, yaitu kamar tamu dan kamar tidur. Wah serasa di apartemen yang luas euy. Maklum orang Jepang tidak biasa dengan ruangan yang seluas ini.

Kamar mandi terdiri dari bath tub dan dua bilik, yang satu adalah WC dan satu lagi shower room. Dilengkapi dengan cermin besar dan amenities lengkap. Selain itu bagi wanita diberikan hadiah extra perawatan kulit dari Pola cosmetic.

Tapi yang paling super di kamar ini adalah pemandangannya. Kamar kami langsung menghadap ke Minato Mirai, tempat gedung-gedung tinggi termasuk Landmark Tower dan cosmo world berada.  Memang paket yang aku pilih ini judulnya “night view and champagne to welcome a new year”. Sayangnya tidak bisa keluar ke beranda, karena alasan keamanan. Kecuali waktu emergency tentunya. Jadi terpaksa deh memotret dari dalam kamar dengan cara mematikan semua lampu kamar supaya tidak membayang.

Pukul 6:30 kami keluar kamar menuju lantai di bawah kami, lantai 16 tepat “The Club” berada. Hanya penghuni kamar di lantai 15, 16, dan 17 saja yang bisa masuk ke “The Club” ini, dan penghuni kamar biasa di lantai 14 ke bawah juga tidak bisa “naik”  tanpa ada kunci khusus.  The Club menyediakan cocktail sebagai welcome drink.

Setelah minum satu gelas, kami turun ke bawah, melewati taman tengah hotel dan menuju ke Marine Tower. Kami memang belum merencanakan makan malam di mana, karena kami tidak mau terikat waktu dengan mengadakan booking restoran dan lain-lain. Bahkan kalau perlu kami bisa makan hamburger saja, karena ingin menikmati tujuan sesudah makan malam, yaitu mencoba Bar Sea Guardian dan juga champagne di kamar.

Akhirnya kami makan malam di sebuah restoran masakan italia “The Bund” di bawah Marine Tower. Spaghetti clasic, peperoncino dan crab cream spaghetti. Waktu spaghetti datang, kami sempat tertawa karena porsinya kecil sekali. Coba saja lihat perbandingan dengan rokoknya Gen. Tapi untung deh kami tidak pesan tambahan makanan, karena sebetulnya rasanya biasa-biasa saja.

Setelah dari restoran ini, kami jalan-jalan ke China Town yang berjarak hanya 200 meter dari hotel kami. Siapa tahu kami menjadi lapar dan bisa nyemil mie di sana hihihi. Tapi di China Town ini kami akhirnya hanya membeli oleh-oleh kue bulan untuk ibunya Gen, dan CAKWE! Duh seneng sekali mendapat cakwe di sini, karena sudah lama aku tidak membuat bubur ayam. Langsung Gen minta dibuatkan bubur ayam begitu sempat.

Pemandangan China Town di malam hari memang menarik. Lampu-lampu dan lampion, serta hiasan khas cina berwarna merah, emas dan kunis, mengkilau diterpa sinar lampu. Sayang sekali sudah cukup banyak toko yang menjual bahan makanan sudah tutup, sehingga kami memutuskan untuk  kembali ke hotel.

The night sill young….  Baru jam 9 malam. Jadi kami bukannya kembali ke hotel malah berjalan terus ke arah laut. Yamashita Park. Persis di posisi depan hotel, dilabuhkan kapal Hikawamaru, yang merupakan kapal pelatih. Kapal ini dihiasi lampu di sepanjang badannya sehingga menggoda untuk difoto.

Karena angin laut semakin dingin, kami akhirnya kembali ke hotel, dan menuju ke Bar Sea Guardian. Ternyata penuh sehingga kami diminta untuk menunggu saja di kamar, untuk kemudian ditelepon jika sudah ada kursi kosong. Dan sementara kami menunggu telepon, kami menikmati champagne di kamar, sambil memandang pemandangan malam hari lewat jendela.

Setelah mendapat telepon, kami pergi ke Bar Sea Guardian. Kami pikir harga-harga minuman di Bar Sea Guardian itu mahal, ternyata tidak seberapa juga, dan memang kami tidak memesan lebih dari satu jenis minuman masing-masing, karena masih ada tiga perempat  botol champagne yang musti dihabiskan.

Ada satu penemuanku di Bar ini, yaitu cream cheese. Ternyata enak euy. Biasanya kami makan Camembert atau Blue cheese, sehingga kebanyakan keju yang umum sudah kami ketahui rasanya. Justru cream cheese yang sebetulnya biasa (karena biasanya dipakai sebagai bahan pembuat cheese cake) menjadi istimewa karena rasanya lain daripada yang lain.

Well memang sesuatu yang istimewa bisa jadi biasa saja, atau malah kebalikan sesuatu yang biasa bisa menjadi sangat istimewa, tergantung kita menyikapinya. Itulah hidup….. (duh filosofis sekali yah hihihi)

Dan setelah tanggal berganti menjadi 27 Desember, kami kembali ke kamar dan menikmati night view…. di luar dan di dalam 😉

foto lengkap hotel bisa dilihat di :

http://www.facebook.com/