Yamashita Park and Pecinan

Pagi hari aku sebetulnya menantikan fajar. Tapi ternyata karena kamar kami mengharap ke utara, tidak bisa melihat matahari terbit. Pemandangan yang sama, pada malam hari dan pagi hari, amatlah berbeda.

pelabuhan pukul 7 pagi hari

Karena paket hotel termasuk sarapan, maka kami menuju Restaurant normandie yang berada di lantai 5. Sebetulnya tempat ini bagus sekali kalau malam, tapi harganya juga bagus sekali. Untung saja sarapan disediakan di tempat ini sehingga kami bisa melihat bagian dalamnya seperti apa.

Dan oleh pelayan kami diberi tempat duduk di dekat jendela, yang pemandangannya bagus sekali (kalau malam pasti harus reservasi nih). Breakfast menunya sendiri tidak begitu wah, malahan aku jadi ingin makan bubur ayam hihihi.

Sinar matahari yang menyirami bumi terlihat begitu hangat sehingga kami memutuskan untuk jalan-jalan pagi sebelum check out. Tapi begitu kami sampai di lantai satu, brrrrrr angin menyambut kami, sehingga kami kembali lagi ke kamar mengambil coat.

Banyak orang berjalan kaki, atau jongging di Yamashita Park ini. Atau hanya sekedar duduk sebentar (karena kalau lama-lama meskipun di bawah sinar matahari tetap saja menggigil). Di situ ada kolam dengan patung dan dikelilingi 5  lonceng yang rupanya sebagai tanda kerjasama sister city dengan San Diego.

Kapal Hikawamaru yang ditambatkan juga lain penampilannya dengan waktu malam hari. Aku lebih suka malam hari…. lebih mistis. Tapi aku menemukan sesuatu yang lucu di rantai jangkar kapal. Yaitu deretan burung camar yang berbaris rapih. Sementara yang tidak kebagian tempat terbang atau berenang di perairan di bawahnya, yang lumayan riaknya gara-gara angin.

Karena semakin merasa dingin, aku mengajak Gen kembali ke hotel melewati jalan yang lain. Rupanya di situ juga ada taman bunga mawar yang sedang berbunga. Sementara di sebelah kiri ada lapangan rumput yang luas tempat anak-anak bermain. Ahhhh pemandangan seperti ini selalu membuat hati merasa damai. Sambil merasa iri, mengapa di Indonesia tidak ada tempat yang bersih seperti ini.

Sambil pulang ke kamar, kami juga menyempatkan diri mampir lagi ke lobby gedung utama yang bersejarah dengan interior khasnya, dan taman hotel dengan air mancurnya.

Kami cepat-cepat check out pukul 11, terlambat 5 menit, dan menemui antrian tamu lain yang check out. Antri bo…. dan tidak lama… sama sekali tidak lama. Padahal ada lebih dari 20 tamu yang sedang antri.

Karena kami boleh memakai parkir sampai jam 1, maka kami menaruh barang kami yang tidak perlu, lalu berjalan ke arah China Town. Benar saja pemandangan China Town di siang hari lain sekali dengan waktu malam hari. Tentu saja lebih bagus waktu malam. Tapi, semua toko terbuka, dan kami menemukan “tongcai” . Itu loh sejenis sayuran kering dengan rasa asin-asin untuk bubur ayam. Dijual dalam keramik bundar. Waktu kami lihat wahhh, murah, hanya 250 yen. Jadi beli deh.

Selain itu aku juga melihat kue china yang dulu waktu SD sering kami makan. berbentuk bundar merah. Dulu kami sering bermain “hosti-hosti”an dengan snack ini. Setelah aku bisa baca kanji baru tahu namanya di Jepang adalah Sanjashi さんざし(山楂子) , bahasa Inggrisnya Hawthorn dan ternyata terbuat dari buah yang banyak mengandung vitamin C, dan berguna untuk memperlancar pencernaan. Hmmm musti kasih makan Kai nih, dia suka sembelit soalnya.

Wah memang masuk ke toko cina itu asyik, asal bisa baca hehehe. Ada keringan kuda laut, ada shark fin juga. Waktu Gen bilang, mau beli? Duh aku ngga tau masaknya gimana….

Tujuan kami di Pecinan sebetulnya adalah Kuil Kanteibyo (Kuil Guan Gong). Aku sudah beberapa kali pergi ke China Town Yokohama, tapi belum pernah sampai ke kuil ini. Dan kali ini harus bisa kesampaian.

Begitu sampai di temple ini, wahhh deh. Amat lain dengan kuil-kuil Jepang yang umumnya tidak “berwarna”. Kuil Cina memang jauh lebih meriah, semarak dan berwarna warni. Emas dan Merah sudah pasti. Guan Gong adalah dewa untuk keadilan, keberanian dan kesetiaan. Bagi yang ingin berdoa, diharapkan  untuk membeli batangan dupa yang cukup besar (berbeda dengan Jepang yang pendek dan berwarna hijau), paling sedikit 5 batang untuk dipasang di lima tempat. Karena kami tidak bermaksud berdoa, kami tidak membeli dupa, tapi masih diperbolehkan naik sampai ke depan altarnya. Wah semakin dekat dengan gerbang dan atap, semakin silau mata memandang. Apalagi waktu itu matahari terang benderang, meskipun tidak berarti panas hehehe.

Aku bayangkan kuil ini pasti ramai sekali kalau Tahun Baru Imlek, lengkap dengan barongsai dan musiknya…. Dan aku sambil menuliskan ini berdoa untuk arwah Gus Dur, Presiden Indonesia ke 4 yang berani memperbolehkan Imlek dirayakan di Indonesia.

Begitu turun dari kuil tersebut aku membeli taiyaki, sejenis kue dorayaki tapi berbentuk ikan mas. Tapi taiyakinya berwarna putih dengan isi custard, coklat dan anko (selai kacang merah). Riku ingin sekali makan taiyaki rasa coklat, jadi sekalian beli untuk oleh-oleh Riku.

Taiyaki berwarna putih. Ikan mas sering dipakai sebagai lambang dalam selamatan

Sambil berjalan ke arah hotel, kami menemukan keganjilan, yaitu melihat Sang Merah Putih berkibar di sebuah toko. Langsung deh tergerak nasionalisme kami (uhuuy…lebay amat), dan masuk ke toko itu. Siapa tahu menjual barang-barang Indonesia. Eeeehhh ternyata hanya merupakan kumpulan toko-toko kecil yang menjual macam-macam baju, assecories, buku, hobby dan lain-lain. Kecil memang tapi cukup menyenangkan, dan yang pasti WC nya yang terletak di lantai 3 itu bersih benar! Jadi, ngapain dong pasang Sang Merah Putih? Pasti yang pasang asal milih saja deh, bendera negara mana juga jadi (atau malah dia pikir itu bendera Polandia ya?)

bendera merah putih yang menarik perhatian kami....

Nah terakhir kami akhirnya mampir ke sebuah toko yang menjual segala “panggangan”. Ada ayam, bebek, hati ayam, babi merah (chashu), babi asin (yang asin jarang sekali ada di Jepang) padahal di “Kenanga” Jakarta banyak tuh dan tidak pake sambal khasnya…. Toko ini sebetulnya lebih melayani pembelian untuk dibawa pulang (take away) dijual langsung per gramnya, atau dalam bentuk obento (set dengan nasi). Tapi mereka juga punya kamar makan di atas khusus untuk orang yang sudah pesan. Ada seorang obasan (ibu-ibu) yang menawarkan kami untuk makan di atas saja. Jadilah kami memesan set panggangan untuk lunch , karena malas membawa pulang ke rumah. Harganya 1000 yen, tapi dagingnya banyak euy, jadi puas deh.

kiri: babi panggang merah dan putih; kanan : bebek panggang dan ayam

Akhirnya kami harus berlari-lari ke parkiran hotel karena waktu sudah menunjukkan pukul 1. Padahal aku bilang, biarlah kalau perlu kita membayar tambahan parkir juga tidak apa-apa. Paling cuma untuk setengah jam. Jadi sekitar pukul 1:25 an kami naiki lagi lift mobil dari B4 untuk keluar. Ternyata kami sama sekali tidak usah membayar kelebihannya. Tau gitu kan…. nambah hihihi (ngelunjak itu sih!)

Well, berakhirlah bulan madu ke 4 kami. Pertama ke Raffless Hotel Singapore, ke dua ke Ritz Carlton Bali, ke tiga Makassar Golden Hotel, dan ke empat Hotel New Grand Yokohama. Mungkin ada yang tanya, kok suka nginap di hotel-hotel begituan sih? Well, kebetulan pekerjaan Gen berhubungan dengan hospitality, jadi kami ingin menjadi “Hotel Critics” ceritanya. Tapi karena bayar sendiri, frekuensinya sedikit deh. Nanti kalau anak-anak sudah besar, boleh juga tuh menjadi pekerjaan pokokku hehehe.

19 gagasan untuk “Yamashita Park and Pecinan

  1. dyah suminar

    hi mbak…
    bunda selalu terkesan baca semua yang di posting mbak Imel. benar benar melihat dengan jeli hal hal yang dilihat,dialami.
    Sebenarnya bunda sering melakukan perjalanan…ke banyak tempat…Eh..karena kesibukan…foto2 dan cerita hilang begitu saja…
    nanti bulan madu ke 5 ke Yogyakarta dan jawa tengah ya…..
    .-= dyah suminar´s last blog ..Hari Perempuan =-.

    Balas
  2. edratna

    Imel, saya selalu menikmati cerita jalan-jalanmu…..bukankah kita serasa ikutan berjalan-jalan hanya dengan membaca?
    Ini pula yang menyebabkan saya suka membaca, apalagi jika ceritanya juga mengungkapkan kejadian atau peristiwa di beberapa kota di belahan dunia. Jadi..pas nanti ada kesempatan ke sana, jadi ingat soal itu….”Ohh dulu si itu (tokoh cerita) juga melewati jalan ini.” Norak ya…maklum untuk berjalan-jalan selain waktu juga membutuhkan biaya tak sedikit, jadi senang sekali Imel meluangkan waktu untuk menulis beserta foto2nya yang menarik..

    Btw…kembali ke bubur ayam???…hehehe
    .-= edratna´s last blog ..Bulan renungan? =-.

    Balas
  3. henny

    Puasss banget ngikutin Rangkaian Perjalanan dalam rangka Bulan Madu!!!

    Aku ‘kan menunggu dengan setia Kisah Perjalanan Anniversary Mas Gen dan Mbak Imel yang ke 5, 10, 25, 50, 75 dan seratus!!

    Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Perkawinan!!
    .-= henny´s last blog ..Cinta yang Utuh! =-.

    Balas
  4. aurora

    yang paling berkesan buat aku sih, taman mawar itu lho mbak… mbak aja yang disana merasa iri, apalagi kami, di Indonesia yang sangat jarang ada tempat seindah itu…. tapi catatan: itu soal taman…
    soal pemandangan hutan, lembah, laut gunung, disini jawaranya mbak….

    NB: jadi ingin ke sana. mau liat, kuda laut kering itu kayak gimana…
    .-= aurora´s last blog ..Jejak-jejak yang tertata =-.

    Balas
  5. nanaharmanto

    jalan-jalan untuk bulan madunya mantap….
    wah, jadi kepengen juga kapan-kapan nih…. Taiyaki-nya kayaknya enak deh….hmmm…

    hehehe..sama dong Mbak, aku juga suka kue cina itu, yang tipis asam…aku juga sering main hosti-hostian dengan adik dan kakakku hahaha….kok sama ya….sekarang kayaknya masih ada dijual di toko makanan cina deh….jadi nostalgia dengan masa-masa itu lagi…
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Pulang Kampung dan Perjumpaan =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *