Arsip Tag: bahasa Indonesia

Porot dan U – dong!

Kemarin tiba-tiba temanku bertanya padaku, “Mel, bahasa Jakartanya untuk peres orang apaan sih?
“Bahasa Jkt? Peres? maksud kamu bullying?”
“Iya maksa seseorang dengan tekanan gitu loh”
“Aduh, apa ya? Peras aja kan udah bahasa Indonesia. Kok pakai cari kata lain? (soalnya aku tahu dia penerjemah, jadi kalau kerjaan ya bagusan pakai bahasa Indonesia kan?)
“Ngga, gue tiba-tiba teringat ada orang yang bilang, “Kita XXXX dia aja”, jadi penasaran gue lupa kata itu”
“Hmm aku orang baik sih jadi ngga tahu kata-kata kek gituan”
“wkwkwkw ho oh ya, emang kita berdua orang baik sih ya”

Dan akhirnya aku tanya sahabat-sahabatku Yessy, Puak dan Eka di twitter, dan keluarlah jawaban “MALAK”. Horeee, kupikir itu pasti jawabannya. Cepat-cepat aku kirim email temanku itu ke HPnya. Dan mendapat jawaban, “Gue baru inget mel, kata itu POROTIN” hahaha. Iya juga yah

Entah kenapa aku kalau dengar kata porot, selalu teringat pelorot. Celananya melorot hihi. Yah intinya sih kadang memang kalau kita tidak pakai, bahasa itu bisa terlupakan.

Hari ini seperti biasa aku mengantar Kai ke TK pukul 8:45an. Dan hari ini dia manja sekali padaku, menangis terus di depan pintu TK. Memang kemarin malam aku tidak membacakan picture book seperti biasanya sebelum tidur, karena aku sedang sakit tenggorokan. Riku yang mengambil alih membacakan untuk adiknya, sementara aku langsung tidur. Sepertinya Kai jadi merasa “kurang kasih sayang”, dan menangis terus di TK nya. Untung gurunya melihat aku sedang bingung, dan menjemput Kai masuk ke kelas, sementara aku lari ngabur hehehe.

Sampai dengan pukul 11:30, waktu Kai pulang TK aku tidurrrr ZzzZZZ, pulas banget deh. Hantam gejala flunya dengan obat dan tidur, soalnya hari Jumat aku mesti mengajar. Tidak bisa tidak masuk!

Begitu alarm berbunyi, aku pergi menjemput Kai, dan membiarkan dia bermain 30 menit di taman TK. Ah senangnya melihat dia mau bermain terus. Dibandingkan dengan Riku dulu, Riku malas bermain di halaman, itu juga karena dia melihat mamanya mau buru-buru pulang. Benar sekali terasa dulu Riku itu kasihan dibanding Kai. Waktuku melewati hari-hari dengan Kai lebih lega dan enjoyable.

Karena aku merasa lemas, malas masak makan siang untuk Kai saja. Jadi aku ajak Kai makan UDON. Riku dan Gen  tidak suka Udon, padahal di dekat rumahku ada resto Udon yang cukup terkenal karena pernah masuk TV (dan aku tonton kebetulan waktu itu). Resto ini membuat sendiri udonnya, dan memakai bahan semua yang dihasilkan jimoto 地元 daerah sendiri (lokal). Bahkan katanya harganya tidak sama setiap harinya, tergantung pakai bahan apa dan harga bahan itu berapa (yang berbeda tiap harinya). Biasanya kalau bahan itu banyak harga menjadi murah, sedangkan jika baru panen, masih segar harganya lebih mahal. Tapi untung saja kami diyakinkan bahwa tidak mungkin mahal sekali seperti sushi, masih terbayarlah. Kalau sushi memang harga “season” itu bisa membuat mulut menganga. Muahalnya rek.

Udon itu apa? Kalau soba sudah tahu ya? Mie Jepang yang berwarna coklat atau hijau yang ketebalannya seperti mie telur/mie kuning biasa. Sedangkan Udon adalah sejenis mi Jepang terbuat dari gandum yang berwarna putih dan khas nya mempunyai ketebalan yang TEBAL, mungkin sekitar 5 kalinya soba. Diameternya menurut JAS (Japanese Agricultural Standard) harus minimum 1,7 mm. Terus terang waktu aku pertama kali makan udon di Tokyo aku susah sekali menelannya. Waktu itu aku membayangkan cacing tanah soalnya (maaf ya) gendut-gendutnya mirip, cuma warnanya putih. Karena tebal, rasanya kenyal (hagotai ga aru), bagiku sih harus digigit dengan baik dulu sebelum ditelan. Lain sekali kekenyalannya dengan soba.

Udon dingin dengan kaldu kecap asin terpisah. Cara makan, ambil udon, celup ke kecap asin lalu dimakan.

Cara masak Udon memang bermacam-macam, biasanya ditentukan dari kaldu yang dipakai. Ada yang memakai kaldu dari shoyu (kecap Jepang) dan kaldu ikan (dashi), ada yang hanya kaldu ikan aja sehingga berwarna bening. Yang pasti sih Udon itu halal, selama tidak minta topping babi panggang iris tentunya (Jarang sekali resto Udon yang menyediakan babi panggang iris sih). Aku sendiri lebih suka makan udon dalam sup bening panas, daripada udon dingin (Zaru udon) yang dimakan dengan mencelupkan ke dalam sup kaldu dingin.

Tapi karena aku mengajak Kai, aku membiarkan dia yang memilih dari foto yang tersedia. Dan Kai memilih udon dingin. Kai sih apa saja berbentuk mi dia suka. Satu porsi besar Udon mori ini habis kami makan berdua.

Restoran bernama Enza ini memang kecil dengan kursi untuk 18 orang tapi cukup sejuk dan bersih. Suasananya enak. Tapi karena hanya menjual Udon saja, aku tak bisa mengajak Riku dan Gen ke sini. Yah cukuplah tempat ini menjadi tempat kencan khusus untuk aku dan Kai hehehe

Kai mengambil Udon, tapi karena terlalu panjang, akhirnya aku yang ambilkan dan potong-potong dengan kukuku. Setiap kali lupa membawa gunting.

NB: Keterangan lengkap mengenai Udon bisa baca di wikipedia.

 

 

Jika anak libur….

Bukan rahasia lagi, kalau orang tua kadang tidak suka jika sekolah anak-anaknya libur. Apalagi di musim panas di Jepang, mengurus anak-anak sebulan penuh di rumah, amat merepotkan. Itu jika kita terus berada di rumah, tidak mudik atau berencana pergi summer camp misalnya. Ibu-ibu di Jepang langsung “kurus” setiap liburan musim panas, karena harus menyediakan makan untuk 3 kali, memikirkan ajak anak-anak pergi ke mana dsb-dsb. Aku beruntung bisa pulkam waktu liburan musim panas, sehingga paling tidak di Jakarta Riku dan Kai bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, di rumah yang berlipat-lipat luasnya dari rumah di Tokyo yang seperti kandang kelinci!

Seorang teman di telepon minggu lalu mengatakan “Saya kan baru masuk kantor hari ini, gantian dengan istri saya menjaga anak-anak karena asisten rumah tangga belum masuk” …. Wah sampai segitunya ya? Dan memang sulit kondisinya, jika anak-anak terlalu besar untuk dibawa ke kantor, tapi masih belum bisa ditinggal di rumah sendiri. Kecuali dimasukkan penitipan anak (yuhhhuuuu imelda, mana ada penitipan anak di Jakarta yang mau menerima temporary begitu seperti di Jepang), atau meminta bantuan sanak keluarga untuk menemani mereka. Ternyata sulit juga mengatur soal anak-anak bagi pasangan yang bekerja di Jakarta ya?

Rasanya belum selesai aku  menertawakan kondisi temanku itu, ternyata aku  “kena batunya”.  Sebetulnya sejak membaca jadwal sekolah Riku aku  sudah tahu bahwa tanggal 1 Oktober itu hari libur. Tapi tanggal 30 September sore, aku masih memarahi Riku untuk mengerjakan PR. Lalu dia bilang, “Mama bantuin dong, ini PR nya ada dua….” Aku agak heran waktu itu, kok ngga biasanya sampai dobel begitu.

Waktu mempersiapkan makan malam, aku berkata, “Ayo abis makan, tidur cepat ya, besok mama kerja jadi musti bangun pagi.” nahhh di situ Riku bilang, “Mama, besok aku kan libur” ….. #&$#’%(‘&)(‘)=’%$”” HAH!

Aku langsung panik… Bagaimana dengan Riku? Kalau Kai memang sudah pasti pergi ke penitipan, tapi Riku? Dia tidak bisa ditinggal sendiri. Dia harus dititipkan atau meminta orang menjaga Riku, atau meminta ibu dari temannya Riku untuk menerima Riku di rumahnya untuk bermain bersama anaknya, atau…cara terakhir mengajak dia sama-sama pergi ke tempat kerja.

Untuk penitipan, tidak mungkin! Jika mau menitipkan di penitipan , aku harus memberitahukan pihak penitipan dua hari sebelumnya. Lah aku sendiri baru sadarnya terlambat begitu. Lagi pula biayanya mahal! Paling sedikit aku harus membayar 7000 yen (700rb rupiah) . Hmmm

Untuk menelepon ibu mertua juga sudah terlalu malam. Dan untuk menitipkan pada ibu teman sekolahnya kok malu ati ya? Soalnya setiap jumat aku sudah merepotkan dia dengan menitipkan Riku, dan bersama anaknya pergi ke les bahasa Inggris, selama aku pergi mengajar.

Ya, memang semester genap ini, aku harus bekerja dua kali seminggu, setiap Kamis dan Jumat. Karena di Universitas Waseda, aku mendapat jatah mengajar di semester genap. Dan tanggal 1 Oktober itu adalah permulaan kuliah, sehingga tidak bisa aku batalkan kuliahnya. Runyam deh.

Terpaksa, “Ya sudah besok Riku ikut mama kerja.”
“Kerja ke mana ma?” (Bayangan dia aku masih kerja macam-macam seperti studio dll.
“Besok mama harus ke universitas memberikan kuliah. Riku ikut kuliah, tapi janji ngga boleh ribut, ngga boleh ganggu kakak-kakak sedang belajar… bla bla bla.” Seribu satu pesan aku sampaikan.

Malam harinya sebelum tidur Riku berkata pada Kai, “Besok kakak pergi ke universitas loh. Kai ke himawari aja, main-main dengan teman-teman di sana. Enak loh” (semua kalimat dalam bahasa Indonesia)
Kai menjawab , “O…kai ” (kalimat ini sering dia pakai selai OKE, untuk menyatakan dirinya tahu…)
Aku cuma bisa terdiam dan manyun, bingung hadapin esok hari yang pasti ribet.

Pagi hari dengan semangat Riku bangun, makan pagi, siapkan barang-barang yang mau dibawa. Jam 8 aku bangunkan Kai dan kami bertiga naik bus ke stasiun, menitipkan Kai.

“Mama, kita naik apa ke universitas?”
“Bus, kereta, bus….”
“Eeeee??? naik taxi aja!”
“Mahal! Riku harus tahu, bagaimana mama kerja satu hari. Ngga ada tuh main-main loh. Diam saja… dan ikut. Kecuali Riku mau tinggal di rumah sendiri!” … Dia terdiam.

Jadi begitulah kemarin satu harian, dia mengikuti langkahku kemana saja aku pergi. Meskipun dia tidak bisa duduk tenang di ruang kuliah, masih belum “seberapa” nakal dibanding anak lain…. mungkin…. Bayangkan, aku membuka pelajaran  bahasa Indonesia dengan perkenalan :
“Kenalkan. Nama saya Imelda. Saya tinggal di Nerima. Saya datang dari Jakarta. Saya guru bahasa Indonesia” Dan waktu saya tanya mahasiswa-mahasiswa, tahu artinya?….
Sepuluh mahasiswa hanya bengong, dan dari kursi belakang si Riku berkata, “Aku tahu!” huh……… $#&$'((&))(=” Tentu saja aku berkali-kali minta maaf pada para siswa, karena memang tidak pernah ada dosen yang membawa anaknya mengajar di Jepang. TABU! (Tapi aku kan terpaksaaaaaa banget nih)

Setelah istirahat makan siang dan menyelesaikan beberapa urusan, seperti fotocopy, ke kantor pos dan lain-lain (jalan mondar mandir deh pokoknya), kuliah jam kedua dimulai. Lebih santai karena hanya dua mahasiswi saja. Dan setelah aku minta maaf, malah salah satu mahasiswi yang pernah menjadi guru bahasa Jepang dua tahun di Manado, bercakap-cakap dengan Riku pakai bahasa Indonesia. Wahhh merasa mendapat angin, Riku kesenangan, dan menggambar-gambar di papan tulis yang lebar itu. Huh! (Bisa dimengerti sih, puas rasanya menggambar di tempat yang luas begitu kan?)

Tapi justru kuliah jam kedua benar-benar padat dan berisi! Yang tadinya aku mau membubarkan kelas lebih cepat, malah jadi lebih panjang hehhehe. Untunglah.

Jadi hari kamis kemarin aku benar-benar capek pek pek… pikiran, badan….. dan juga masih tetap khawatir dengan keadaan teman-teman blogger di Padang yang menjadi korban gempa. Imoe, Arif dan Pakde …. Tuhan semoga mereka selamat…..

Kemarin adalah hari libur warga Tokyo. Hari Jadinya Tokyo, Tomin no hi. Tanggal 1 Oktober 1898, pertama kali didirikan Kelurahan TOKYO (Tokyo -shi), dan tahun 1952 seiring perkembangan wilayah dan performance menjadi TOKYO-TO , Tokyo metropolitan City. Untuk itu semua sekolah dari SD sampai SMA yang didirikan oleh pemda Tokyo, dan berada di wilayah Tokyo libur.

Sedikit tambahan mengenai pembagian negara Jepang. Kalau di Indonesia dibagi menjadi 33 propinsi, maka di Jepang dibagi menjadi 47 TO-DO-FU-Ken, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Prefektur. Satu TO, yaitu Tokyo To, metropolitan city; Satu DO, yaitu Hokkaido, Wilayah khusus (seperti DI di Indonesia mungkin ya); Dua  FU yaitu Osaka -FU dan Kyoto-FU (wilayah khusus juga)  dan yang lainnya KEN, setara dengan propinsi di Indonesia. Namun kami penerjemah tidak bisa menerjemahkan prefektur ini menjadi propinsi, karena banyak faktor. Jadi biasanya kami memakai terjemahan bahasa Inggris, prefektur.

Selain hari Tokyo, ada banyak peringatan di tanggal 1 Oktober. Bagi yang ingin tahu silakan baca lagi postingan tahun lalu di sini.


Belajar terus sampai mati

Akhir-akhir ini aku sering mengisi kuis di FB, dan salah satunya menghasilkan pernyataan seperti ini:

Your dream is to live a life where you are constantly learning and evolving.
You believe that the world, people, and life are incredibly fascinating.
You want to use your mind as much as possible. You want to dare yourself to do what’s difficult. You’d like to expand your worldview and maybe even solve some of the world’s problems.

Belum lagi ada kuis yang mengatakan orang yang lahir di bulan Januari memang suka mengajar dan diajar.  OK memang kita tidak usah percaya hasil ramalan/kuis sepenuhnya, tapi memang aku berusaha untuk terus belajar tentang apa saja rather than specialize in one subject. Aku ingin tahu semua! Dan pemikiran ini sebetulnya tidak cocok untuk orang Jepang yang “Otaku” menguasai bidang keahliannya saja sedalam-dalamnya, bukan all round.

Tetapi merupakan kenyataan juga bahwa jika kita sudah capek, atau sudah mencapai kondisi tertentu, stagnan atau berada dalam comfort zone, zona aman kita merasa tidak perlu lagi menambah pengetahuan dan seiring juga dengan kemampuan otak yang melambat. Padahal otak yang tidak dipakai, bisa berkarat, jamuran, dan akan menjadikan kita pikun!

“Saya tetap belajar bahasa Indonesia seminggu sekali supaya tidak pikun!” demikian jawab Bapak Watanabe, 94 tahun, mantan muridku. Dia, dan hanya dia sajalah yang selalu memenuhi pikiranku dan menyemangati aku untuk belajar dan belajar terus …. sampai mati.

Lelaki kelahiran delapan belas April 1915, siang ini duduk di hadapanku sambil makan siang bersama. Oh Tuhan,…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia.

Kemarin aku telepon dia, dan basa-basi bertanya kabarnya… dan dia berkata, “Sensei, kapan yuk kita minum kopi bersama”.
Lalu aku berkata, “Watanabe san, sebenarnya saya telepon untuk menanyakan apakah besok ada waktu untuk bertemu? Besok saya ada urusan di KBRI, kalau bisa sekitar jam 11 bertemu di Stasiun Meguro bagaimana?
“Tentu saya akan pergi ke sana. Sampai jam 11 besok”.

Jam 11 kurang lima aku sampai di stasiun, setelah tergesa-gesa setengah berlari dari KBRI menuju stasiun. Jangan sampai aku membiarkan Watanabe san menunggu. Dan persis pukul 11, aku melihat ke arah terminal bis, di situ bapak tua itu menunggu sambil celingak celinguk. Aku berjalan ke arahnya, sambil tersenyum gembira.

“Sensei… saya senang sekali bertemu sensei”… dia menjabat tanganku… dan memelukku. Aduh …aku benar-benar terharu dan ingin menangis. Laki-laki Jepang mana yang mau memeluk wanita di depan umum? Meskipun istrinya.  Aku merasakan kerinduannya yang besar untuk bertemu denganku. Ahhh Bapak… aku merasa tersanjung… aku tahu kamu menghormati aku sebagai sensei, tapi aku lebih menghormati bapak bukan sebagai murid. Entah harus kukatakan sebagai apa, sebagai sesepuh yang mengingatkan terus… Hai manusia, Jangan kalah oleh umur!

Dia masih sehat. Matanya awas, telinganya tajam. Hanya sayang kakinya mulai lemah, meskipun dia tidak memakai tongkat. Dan aku salah waktu itu, terlambat menyadari, sehingga dia sempat “merosot terduduk” di atas tangga turun. Tidak jatuh, tapi tiba-tiba sudah terduduk di atas tangga. Untung aku langsung tangkap dia, kemudian membantunya berdiri. Sambil berjalan menuju lift ke lantai atas gedung stasiun, aku lihat dia mengisap jari tengahnya. Oh No… buku jari tengahnya berdarah! Terkelupas kulitnya. Aduh….

“Watanabe san saya cari plester dulu ya?”
“Tidak usah… biasa ini”
dan kita langsung ke lantai atas dan mencari restoran soba. Aku tahu pasti makanan yang paling cocok untuk dia hanya soba…. (Aku pernah berdosa besar padanya. Waktu aku masih mengajar dia, dia memberikan aku tiket makan di restoran soba dekat rumahku. Tapi aku tidak pakai sampai hangus. dan aku menyesal…)

Sambil memesan soba, aku tanya pada pelayan restoran apakah dia punya plester. Dan aku dapatkan plester dan aku pasangkan di jari tengahnya.


Lelaki berusia 94 tahun, bukan main-main … 6 tahun lagi dia 100 tahun!  Dan siang ini dia memenuhi undanganku makan siang bersama.  Kami bertemu terakhir 4 tahun yang lalu. Oh Tuhan…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia. Karena…..

Ya, ternyata yang luka bukan hanya jari tengahnya. Kamu tahu, jika manusia sudah tinggal tulang berbalut kulit, maka kulit itu akan mudah mengelupas. Dan aku baru sadar ketika aku lihat bercak darah di mulut lengan kemeja putihnya. Ya dia berkemeja putih, berdasi dan berjas untuk bertemu dengan aku. Ternyata di lengan di bawah jam tangannya kulitnya terkelupas sepanjang 8 cm. Uhhhh tidak bisa dengan plester, itu harus diperban. Tapi dia berkata, “Tidak apa sensei, memang kalau sudah tua suka begini. Gampang jatuh! Tidak apa-apa. Nanti juga kering lukanya. ” Ingin aku memberikan saputanganku untuk membalut luka, tapi pasti kotor.
“Kalau ada saputangan….”
“Saya ada saputangan, tapi tidak apa-apa”

Aku sudah mulai sulit menelan makanan yang ada di hadapanku. Bukan… bukan aku takut darah atau luka, tapi aku tahu kenyataan, bahwa manusia yang renta mudah luka, mudah jatuh, mudah goyah…. dan sewaktu-waktu si renta itu tiba-tiba tidak ada lagi di hadapanku.

Aku berusaha bercakap-cakap yang ringan, sambil memperhatikan dia makan, jangan sampai tersedak. Jangan sampai dia emosi ingin menjawab, lalu makanan salah masuk. Aku selalu tunggu dia selesai mengunyah dulu baru aku ajak bercakap-cakap.

Dia adalah lulusan Tokyo Teikoku University. Elite, sangat elite di jamannya. Jurusannya? Ekonomi. Pasti dia cerdik pandai. Dan setelah lulus dia bekerja di perusahaan dagang Mitsui Bussan. Aku juga sering mengajar pegawai dari MB dulu, pegawai yang ditugaskan ke Indonesia. Namun Watanabe san ini tidak pernah mendapat kesempatan ditugaskan ke Indonesia. Malahan dia bertugas di Hamburg, Jerman selama 4 tahun. Karena pengalaman di Jerman ini, dia bisa berbahasa Jerman, dan anak lelaki yang sekarang tinggal bersamanya juga bisa berbahasa Jerman dan menjadi penerjemah.

Watanabe san sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Indonesia. Hingga usianya yang ke 83, waktu dia berjalan-jalan di dekat sekolah Indonesia Tokyo. Dia mendengar bahasa Indonesia. Juga waktu dia mengajar bahasa Jepang sebagai volunter di Kelurahan Meguro, dia bertemu dengan orang Indonesia. Dia merasa bahasa Indonesia indah bunyinya. Sampai dia bertanya, dimana saya bisa belajar bahasa Indonesia? Kemudian sampailah dia di rumah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Dan dia mendapat keterangan dari Pak Herlino Suleman (Pengarang “Pintu Tertutup Salju” ) ini, bahwa setiap hari Senin, Rabu dan Jumat ada pelajaran bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan yang bisa diikuti oleh warga Jepang. Pak Herlino juga mengajar di KOI (Kursus Orientasi Indonesia), tapi Watanabe san masuk ke kelas pemula, yang gurunya bernama Imelda Coutrier. Dan dia mengakui, bahwa kalau bukan Imelda sensei, mungkin dia tidak akan belajar terus di KOI.

Ya aku tahu kehadiran bapak Watanabe ini di kelasku. Kelas yang sulit, karena waktu itu muridnya berjumlah 40 orang. Jaman itu bahasa Indonesia sedang berjaya, zaman keemasan. Semua kursus dipenuhi peserta, sampai membludak. Guru Bahasa Indonesia dicari-cari. Dan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat aku mengajar di lobby SRIT, karena itu satu-satunya tempat yang bisa menampung 40 orang. Tanpa mike, aku harus menguasai 40 orang. Impossible. Tapi aku tahu awalnya 40 orang, setelah berjalan biasanya  akan berkurang. Akan ada murid-murid yang tidak tahan untuk belajar 3 kali seminggu. (setelah itu kami ubah jam belajar menjadi 2 kali seminggu dan akhirnya 1 kali seminggu). Benar saja setelah 6 kali, murid-murid tinggal 30 orang. Tapi Bapak Watanabe masih terus hadir dengan rajinnya. Sampai kelas atas dia sudah ikuti, dan begitu dia mengetahui bahwa aku mengajar kelas atas (kelas lanjutan) di sebuah Culture Center, Watanabe san berhenti belajar di KOI, dna belajar di Culture Center, di kelas saya. Di kelas itu, aku harus mengajar 3 lansia dari 9 murid yang ada. Bapak Watanabe 87 th, Bapak Fukuoka 85 th, dan Bapak Asaga 83 tahun. Kelas yang impresif (dan agak sulit)

Watanabe san masih terus belajar di Culture Center itu sampai sekarang. Meskipun aku sudah berhenti mengajar di sana sejak 5 tahun yang lalu. Hanya karena mendengar bahasa Indonesia yang indah… tanpa sekalipun pernah pergi ke Indonesia … bahkan ke Bali pun belum pernah. Tapi kecintaannya pada bahasa Indonesia dan ketekunannya memang patut mendapatkan penghargaan. Kalaupun aku punya hak untuk mencalonkan penerima Bintang Maha Putra atau penghargaan lainnya, ingin aku calonkan nama bapak Watanabe ini dalam nominasi. Yang pasti, semangatnya akan selalu aku patri dalam ingatanku.

“Seharusnya persatuan alumni KOI membuat acara reuni ya?” dia berkata. Terlihat dia ingin sekali hadir dalam acara-acara silaturahmi.
“Ya, seharusnya ada acara reuni ya. Tapi… ketua persatuan alumni (Bapak Fukuoka) sudah meninggal….” Ahhh suram sekali percakapan ini.
“OK nanti saya coba bicara dengan ibu Hikita, supaya kita mengadakan acara reuni.  Nanti saya kasih tahu hasilnya”
“Sensei juga kalau iseng, telpon saya, nanti kita bicara di telepon ya”
“Ya…. kalau tidak, saya akan coba kirim fax ya” Tapi aku tahu dia ingin ngobrol….
“Watanabe san juga hati-hati ya, jaga kesehatan dan hati-hati kalau mandi. Kamar mandi kan licin….”
“Iya… waktu itu juga teman saya ada yang meninggal di kamar mandi. Istrinya panggil-panggil, ternyata sudah tengkurap dalam bak” ….ahhh kenapa aku musti menyebutkan kamar mandi segala!!!!

Sambil berjalan ke tempat taxi….
“Kalau saya kebetulan ke Meguro lagi, nanti saya telpon dan mungkin bisa bertemu lagi ya…. ” Aku tahu ada perasaan itu…. di hati kami…. Mungkin kali ini adalah kali yang terakhir…

Kami berjabatan tangan lagi di depan taxi yang menanti…. dan berpelukan lagi. Tapi aku tahu pelukan ini agak lemah dibanding dengan yang tadi. Aku cuma bisa berdoa, Tuhan lindungi dia… lindungi dalam perjalanannya setiap hari Sabtu untuk belajar bahasa Indonesia, karena berarti dia akan naik kereta, dan jalan kaki sampai tempat kursus yang aku tahu jaraknya cukup jauh.

Aku bantu dia duduk di kursi belakang taxi dan berkata pada pak supir, “Yoroshiku onegaishimasu” (tolong perhatikan dia ya)

Dan aku membungkuk ke arahnya takzim dan melambaikan tangan…

Dan aku berbalik ke arah stasiun dan berusaha menahan tangis.

Dan sekarang aku bisa melepaskan tangisan yang kutahan tadi, sambil menuliskan posting ini.

Jika kamu bisa hidup sampai 94 tahun, masihkah kamu akan belajar… dan belajar…dan belajar terus?

Hormat, Doa dan Terima kasihku untuk Watanabe san.


Dan pagi ini (1 Juli 2009) pukul 8:00 aku menerima telepon darinya, mengucapkan terima kasih untuk pertemuan kemarin (Orang Jepang selalu begitu, menghubungi kembali untuk berterima kasih, sebuah kebiasaan yang patut ditiru). Dia berkata, dia senang dan terkejut melihat aku yang katanya tambah cantik (hahhaha dan aku tambahkan …tambah gendut). Dan dia mengucapkan selamat beraktifitas, semoga bisa bertemu lagi…. Ya, aku masih berharap bisa bertemu lagi, sementara itu aku ingin menulis banyak tentang sejarah dan pertemuan-pertemuanku dengan orang Jepang yang menginspirasiku.

EM

 

NOTE:

Watanabe san sudah meninggal tgl 7 Maret 2012, dalam usia 96 (hampir 97 di bulan April),  karena pnumonia. Di RS dia tetap membaca buku bahasa Indonesia. Sayang aku tak dapat datang melayat, karena persis pulang dari Indonesia, sesudah menghadiri pemakaman mama yang meninggal tgl 23 Februari 2012. Rest in Peace Watanabe san. Hormatku selalu.

Dua kakek Jepang yang kutulis di sini semua sudah meninggal. Bapak Fukuoka adalah dokter di Manado selama pendudukan Jepang. Bapak Asaga bertugas di Aceh dan Medan, pernah bercerita bahwa dia menjalani operasi usus buntu dalam perahu, tentu tanpa obat bius 🙁 Bapak Asaga mendonorkan badannya untuk medis, sehingga tidak ada penguburan sampai 3 tahun lebih. Hormatku untuk ketiga bapak tua, yang begitu mencintai Indonesia. Salute