Jika anak libur….

Bukan rahasia lagi, kalau orang tua kadang tidak suka jika sekolah anak-anaknya libur. Apalagi di musim panas di Jepang, mengurus anak-anak sebulan penuh di rumah, amat merepotkan. Itu jika kita terus berada di rumah, tidak mudik atau berencana pergi summer camp misalnya. Ibu-ibu di Jepang langsung “kurus” setiap liburan musim panas, karena harus menyediakan makan untuk 3 kali, memikirkan ajak anak-anak pergi ke mana dsb-dsb. Aku beruntung bisa pulkam waktu liburan musim panas, sehingga paling tidak di Jakarta Riku dan Kai bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, di rumah yang berlipat-lipat luasnya dari rumah di Tokyo yang seperti kandang kelinci!

Seorang teman di telepon minggu lalu mengatakan “Saya kan baru masuk kantor hari ini, gantian dengan istri saya menjaga anak-anak karena asisten rumah tangga belum masuk” …. Wah sampai segitunya ya? Dan memang sulit kondisinya, jika anak-anak terlalu besar untuk dibawa ke kantor, tapi masih belum bisa ditinggal di rumah sendiri. Kecuali dimasukkan penitipan anak (yuhhhuuuu imelda, mana ada penitipan anak di Jakarta yang mau menerima temporary begitu seperti di Jepang), atau meminta bantuan sanak keluarga untuk menemani mereka. Ternyata sulit juga mengatur soal anak-anak bagi pasangan yang bekerja di Jakarta ya?

Rasanya belum selesai aku  menertawakan kondisi temanku itu, ternyata aku  “kena batunya”.  Sebetulnya sejak membaca jadwal sekolah Riku aku  sudah tahu bahwa tanggal 1 Oktober itu hari libur. Tapi tanggal 30 September sore, aku masih memarahi Riku untuk mengerjakan PR. Lalu dia bilang, “Mama bantuin dong, ini PR nya ada dua….” Aku agak heran waktu itu, kok ngga biasanya sampai dobel begitu.

Waktu mempersiapkan makan malam, aku berkata, “Ayo abis makan, tidur cepat ya, besok mama kerja jadi musti bangun pagi.” nahhh di situ Riku bilang, “Mama, besok aku kan libur” ….. #&$#’%(‘&)(‘)=’%$”” HAH!

Aku langsung panik… Bagaimana dengan Riku? Kalau Kai memang sudah pasti pergi ke penitipan, tapi Riku? Dia tidak bisa ditinggal sendiri. Dia harus dititipkan atau meminta orang menjaga Riku, atau meminta ibu dari temannya Riku untuk menerima Riku di rumahnya untuk bermain bersama anaknya, atau…cara terakhir mengajak dia sama-sama pergi ke tempat kerja.

Untuk penitipan, tidak mungkin! Jika mau menitipkan di penitipan , aku harus memberitahukan pihak penitipan dua hari sebelumnya. Lah aku sendiri baru sadarnya terlambat begitu. Lagi pula biayanya mahal! Paling sedikit aku harus membayar 7000 yen (700rb rupiah) . Hmmm

Untuk menelepon ibu mertua juga sudah terlalu malam. Dan untuk menitipkan pada ibu teman sekolahnya kok malu ati ya? Soalnya setiap jumat aku sudah merepotkan dia dengan menitipkan Riku, dan bersama anaknya pergi ke les bahasa Inggris, selama aku pergi mengajar.

Ya, memang semester genap ini, aku harus bekerja dua kali seminggu, setiap Kamis dan Jumat. Karena di Universitas Waseda, aku mendapat jatah mengajar di semester genap. Dan tanggal 1 Oktober itu adalah permulaan kuliah, sehingga tidak bisa aku batalkan kuliahnya. Runyam deh.

Terpaksa, “Ya sudah besok Riku ikut mama kerja.”
“Kerja ke mana ma?” (Bayangan dia aku masih kerja macam-macam seperti studio dll.
“Besok mama harus ke universitas memberikan kuliah. Riku ikut kuliah, tapi janji ngga boleh ribut, ngga boleh ganggu kakak-kakak sedang belajar… bla bla bla.” Seribu satu pesan aku sampaikan.

Malam harinya sebelum tidur Riku berkata pada Kai, “Besok kakak pergi ke universitas loh. Kai ke himawari aja, main-main dengan teman-teman di sana. Enak loh” (semua kalimat dalam bahasa Indonesia)
Kai menjawab , “O…kai ” (kalimat ini sering dia pakai selai OKE, untuk menyatakan dirinya tahu…)
Aku cuma bisa terdiam dan manyun, bingung hadapin esok hari yang pasti ribet.

Pagi hari dengan semangat Riku bangun, makan pagi, siapkan barang-barang yang mau dibawa. Jam 8 aku bangunkan Kai dan kami bertiga naik bus ke stasiun, menitipkan Kai.

“Mama, kita naik apa ke universitas?”
“Bus, kereta, bus….”
“Eeeee??? naik taxi aja!”
“Mahal! Riku harus tahu, bagaimana mama kerja satu hari. Ngga ada tuh main-main loh. Diam saja… dan ikut. Kecuali Riku mau tinggal di rumah sendiri!” … Dia terdiam.

Jadi begitulah kemarin satu harian, dia mengikuti langkahku kemana saja aku pergi. Meskipun dia tidak bisa duduk tenang di ruang kuliah, masih belum “seberapa” nakal dibanding anak lain…. mungkin…. Bayangkan, aku membuka pelajaran  bahasa Indonesia dengan perkenalan :
“Kenalkan. Nama saya Imelda. Saya tinggal di Nerima. Saya datang dari Jakarta. Saya guru bahasa Indonesia” Dan waktu saya tanya mahasiswa-mahasiswa, tahu artinya?….
Sepuluh mahasiswa hanya bengong, dan dari kursi belakang si Riku berkata, “Aku tahu!” huh……… $#&$'((&))(=” Tentu saja aku berkali-kali minta maaf pada para siswa, karena memang tidak pernah ada dosen yang membawa anaknya mengajar di Jepang. TABU! (Tapi aku kan terpaksaaaaaa banget nih)

Setelah istirahat makan siang dan menyelesaikan beberapa urusan, seperti fotocopy, ke kantor pos dan lain-lain (jalan mondar mandir deh pokoknya), kuliah jam kedua dimulai. Lebih santai karena hanya dua mahasiswi saja. Dan setelah aku minta maaf, malah salah satu mahasiswi yang pernah menjadi guru bahasa Jepang dua tahun di Manado, bercakap-cakap dengan Riku pakai bahasa Indonesia. Wahhh merasa mendapat angin, Riku kesenangan, dan menggambar-gambar di papan tulis yang lebar itu. Huh! (Bisa dimengerti sih, puas rasanya menggambar di tempat yang luas begitu kan?)

Tapi justru kuliah jam kedua benar-benar padat dan berisi! Yang tadinya aku mau membubarkan kelas lebih cepat, malah jadi lebih panjang hehhehe. Untunglah.

Jadi hari kamis kemarin aku benar-benar capek pek pek… pikiran, badan….. dan juga masih tetap khawatir dengan keadaan teman-teman blogger di Padang yang menjadi korban gempa. Imoe, Arif dan Pakde …. Tuhan semoga mereka selamat…..

Kemarin adalah hari libur warga Tokyo. Hari Jadinya Tokyo, Tomin no hi. Tanggal 1 Oktober 1898, pertama kali didirikan Kelurahan TOKYO (Tokyo -shi), dan tahun 1952 seiring perkembangan wilayah dan performance menjadi TOKYO-TO , Tokyo metropolitan City. Untuk itu semua sekolah dari SD sampai SMA yang didirikan oleh pemda Tokyo, dan berada di wilayah Tokyo libur.

Sedikit tambahan mengenai pembagian negara Jepang. Kalau di Indonesia dibagi menjadi 33 propinsi, maka di Jepang dibagi menjadi 47 TO-DO-FU-Ken, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Prefektur. Satu TO, yaitu Tokyo To, metropolitan city; Satu DO, yaitu Hokkaido, Wilayah khusus (seperti DI di Indonesia mungkin ya); Dua  FU yaitu Osaka -FU dan Kyoto-FU (wilayah khusus juga)  dan yang lainnya KEN, setara dengan propinsi di Indonesia. Namun kami penerjemah tidak bisa menerjemahkan prefektur ini menjadi propinsi, karena banyak faktor. Jadi biasanya kami memakai terjemahan bahasa Inggris, prefektur.

Selain hari Tokyo, ada banyak peringatan di tanggal 1 Oktober. Bagi yang ingin tahu silakan baca lagi postingan tahun lalu di sini.


27 gagasan untuk “Jika anak libur….

  1. henny

    Masih capek mbak? mau dipijat? hehehe…

    Lukisan isengnya Riku di papan tulis hasilnya keren banget!!.. dan sempat merasakan kepanikan mbak Imel begitu ‘nyadar’ kalo Riku libur.. hhh, untung bisa teratasi…btw, biaya penitipan mahal sekali ya.. hitungan per jam gitu??

    mauuuuuu hen…. sayang aku udah musti berangkat kerja lagi nih hehhehe.

    iya biayanya itungan perjam, itung aja 1 jam 1000 yen, sedangkan aku pergi ngajar+ pp 7 jam jadi deh segitu, belum makannya 500 yen hihihi

    EM

    Balas
  2. Maria

    Halo, Imelda sensei.
    Postingan kali ini jadi seperti lanjutan dari postingan “Menjadi Peneliti” tentang mengajak keluarga ke tempat kerja. Saya pikir sebenarnya kalau bisa mengenalkan lingkungan pekerjaan ke keluarga ada baiknya juga ya sejauh tidak mengganggu aktivitas kerja rekan yg lain (susah sih). Oh ya, kalau di Jepang sering ada acara Family Gathering atau tidak ya, Sensei?

    Riku kayaknya bisa jadi pemacu semangat belajar yang baik buat kakak-kakak di universitas… mungkin bisa dipertimbangkan menjadi asisten dosen?^^

    Balas
  3. AtA chan

    Hihi..makanya jangan menertawakan teman yg kesusahan mbak..
    Paling enggak riku dapat pengalaman baru dan tau pekerjaan Mamanya..
    Besok pasti nyombong ke temen2nya tuh
    ,kalo mamanya dosen 🙂

    Balas
  4. krismariana

    hahaha, geli deh membayangkan riku menyeletuk dari kursi belakang kelas. ya jelas dia lebih jago bahasa indonesia dibandingkan mahasiswa2 mbak imelda… besok jangan2 dia mengikuti jejak mamanya: jadi dosen bahasa indonesia 😉

    Balas
  5. Oemar Bakrie

    Kalau sekolah anak saya libur saya jadi merasa “keenakan” tidak perlu berangkat terlalu pagi, tapi buntutnya malah jadi kena macet. Terus kalau anak-anak sudah bosan libur di rumah ya gantian saya atau ibunya yg bawa ke kantor. Untungnya kantor kami tidak terlalu ketat soal ini … hehehe 🙂
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..Gempa bumi belum bisa diprediksi ! =-.

    Balas
  6. nh18

    Sepuluh mahasiswa hanya bengong, dan dari kursi belakang si Riku berkata, “Aku tahu!” huh……… $#&$’((

    Mohon Maaf EM …
    Sumprit saya ngakak membayangkan kelakuan si Riku saat itu …
    hahaha …

    Ini lucu banget pasti .,..

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..EXPANDING COVERAGE =-.

    Balas
  7. Lala

    Haha… Riku sekarang makin pandai ngomong bahasa Indonesia, ya, Sis… Nanti cari mantu orang Indonesia aja, gimana? *masih jauh, Lalaaaaaa… hihihihi*

    Soal ngajak anak ke kantor, ada beberapa teman kantorku yang bawa anak2 mereka ke kantor, cuman biasanya mereka bawa pas hari sedang luang, yaitu hari Sabtu (setahun kemarin, masih masuk hari Sabtu, tapi setengah hari). Jadi, yaa… anak2 itu bisa maen2 di kantor… Biasanya aku yang temani menggambar, mainan komputer, dll dsb.. Maklum, aku kan pengangguran di kantor.. wekekeke…

    Ah, Sis..
    nggak kebayang ya, betapa merepotkannya kalau musti bawa anak ke kantor seperti dirimu.. Perhatian bisa terpecah-pecah gitu, ya…

    Balas
  8. Hery Azwan

    Riku nalurinya nggak bisa diboongin. Langsung keluar spontan saat ditanya. Apalagi mahasiswa nggak ada yang bisa jawab. Dia pasti merasa tertantang untuk menunjukkan jati dirinya. “Ah, cemen banget nih mahasiswa. Udah pada gede-gede kok nggak bisa menjawab pertanyaan semudah itu. Payah deh…”, begitu kira2 Riku berpikir sebelum mengambil keputusan untuk menjawab. He he…..Mantab Riku. Lanjutkan….(Kata Mamanya, lebih cepat kelas selesai lebih baik). He he…

    Balas
  9. AFDHAL

    hahahha..ngebayangin waktu riku ngacung n bilang “Aku tahu”
    dan ngebayangin riku ngomong bahasa indonesia..
    kira2 kalo setahun lebih gak ke indonesia, si riku masih inget bahasa indonesia gak yah??
    🙂
    .-= AFDHAL´s last blog ..Berbatik =-.

    Balas
  10. Tuti Nonka

    Hehehe … Riku, gimana kalau jadi asisten mama ngasih kuliah bahasa Indonesia? Pasti mahasiswa pada senang, soalnya Riku ganteng, pinter, dan lucu … 😀

    Memang anak libur sekolah itu pe-er tersendiri bagi orang tua ya Mbak, terutama di kota besar yang ortunya bekerja. Kalau di kota kecil macam Yogya, saya lihat para ortu santai-santai saja tuh, soalnya anak-anak pada main sendiri …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Batik Indonesia, Milik Kita Tercinta =-.

    Balas
  11. Gandi Wibowo

    Masih kecil udah kuliah… wah.. hebat..

    Ternyata Guru bahasa jepang belajar bahasa Indonesia ya… Guru Bahasa Indonesia juga belajar bahasa jepang?
    .-= Gandi Wibowo´s last blog ..Sungguh aku tak pandai memilih =-.

    Balas
  12. Opa

    “…Ibu-ibu di Jepang langsung “kurus” setiap liburan musim panas, karena harus menyediakan makan untuk 3 kali, memikirkan ajak anak-anak pergi ke mana dsb-dsb….”

    @Imel : alasan paling tepat tuk balik Indonesia ya!..

    Balas
  13. MANG MANULLANG

    haaha… Riku top! (kecil2 udah bisa bahasa Jepang n Indo)
    .-= MANG MANULLANG´s last blog ..Bencana: Ujian, Peringatan atau Azab? =-.

    Balas
  14. wita

    wah wah, riku kayaknya msh kena sindroma naik taksi di jakarta tuh. slm di jkt kmn2 naek taksi sih, jd pas pulang jd kebawa deh, pgnnya naik taksi terus hihihihi

    Balas
  15. edratna

    Saya baca sambil senyum2, membayangkan tingkah Riku….hehehe.
    Dan betapa senangnya mahasiswi punya partner ngobrol bahasa Indonesia dengan Riku.

    Dulu, jika si mbak belum pulang, anak2 dibawa ke kantor plus mainannya. Ibu/bapaknya rapat, anaknya main dan berlarian sepanjang koridor lantai ruangan kerjaku. Suatu ketika bapak Direktur jalan-jalan ke bawah, bengong melihat situasi di lantai tempat para stafnya kerja (udah biasa sehabis lebaran, kantor jadi arena bermain anak-anak yang mbaknya belum pulang). Tapi beliau termasuk sayang anak, sambil geleng2 beliau cuma bilang…”Urus dulu deh anak-anakmu, ntar aja jika pembantumu udah ada, kita rapat untuk ke depan”…..hehehe
    .-= edratna´s last blog ..Bagaimana agar perusahaaan tetap eksis dengan pengendalian SDM =-.

    Balas
  16. Riris E

    Terpaksa menitipkan anak sudah menjadi permasalahanku setiap habis Lebaran sebelum si Mbak balik ke Jakarta. Rasanya? Nano-nano alias macem-macem, sedih, berat, dan harus rela sementara dititipkan di tetangga, Mbak! Maklum, pembantunya kakakku jg blum balik ke Jakarta. Byuh..kok jadi curhat.. 😀

    JAdi pingin tahu, gmana reaksi para mahasiswa itu mendengar jawaban Riku?
    .-= Riris E´s last blog ..Jakarta Bertabur Batik =-.

    Balas
  17. olvy

    wow, salut banget emi chan ^^ Riku emang pinter banget *biarpun agak repot tapi semua pasti ada hikmahnya, iyakan Emi chan?*
    .-= olvy´s last blog ..Happy Ied Fitri 1430 H (2009 Masehi) =-.

    Balas
  18. jmzacharias

    Ha2x apa yang dialami Riku & Mbak Imelda, itu pernah saya kecil & mama saya (dosen juga) alami…lha wong pas SD sewaktu pulang sekolah (jam 12:00) selalu mampir kekantor mama saya, kl nggak ada di ruang kerja mulai deh saya ngincer2x dari kelas ke ruang kelas lain…kl udah ketemu mama saya yg lagi ngajar, langsung masuk kelas deh (nakal ya) dan duduk dibangku belakang he2x…sambil gambar2x he2x.

    Thanks ya Mbak untuk sharing-nya termasuk dapat informasi ttg 47 TO-DO-FU-Ken-nya Jepang 🙂
    .-= jmzacharias´s last blog ..Mitama Matsuri (Soul Festival) =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *