Arsip Tag: waseda

22-12-2011

Bingung mau tulis judul apa, jadi tulis tanggal saja. Kok bingung sih? Kan sudah jelas-jelas tanggal itu adalah Hari Ibu?

Well, aku penganut Mothers Day di bulan Mei, seperti orang Jepang dan orang-orang lain di Amerika, Inggris, merayakan mothers day. Yaitu minggu ke dua bulan Mei. Padahal sih menurutku, kalau mau merayakan Mothers Day mending merayakan pada saat ibu kita ultah saja sudah cukup. Lagipula kebiasaan manusia, heboh di hari H nya, sesudah itu dilupakan begitu saja. Mending seperti aku yang selalu ingat ibu karena jauh di mata :(. Tanggal 22 Desember menurutku lebih baik dinyatakan sebagai Hari Perempuan Indonesia, selaras dengan sejarahnya Kongres Perempuan Indonesia I (Yogyakarta 22-25 Des 1928). Dan Ibu adalah Perempuan, bukan?

Tanggal 22 Desember itu adalah hari selesainya TK Kai untuk tahun ini. Biasanya aku menitipkan dia di TK (perpanjangan) setiap hari Kamis dan Jumat, tapi tanggal 22 itu tidak ada perpanjangan kelas. Dia hanya 1 jam saja berada di TK nya untuk upacara, dan sesudah itu pulang.  Karena Gen tidak bisa ambil libur lagi, jadi aku putuskan untuk membawa Kai ke kampus. Aku sudah minta ijin pada mahasiswaku, dan memang hari kamis itu juga merupakan kuliah terakhir di tahun 2011 sebelum masuk libur musim dingin (sampai tgl 9 Januari). Selain itu aku tidak perlu banyak menerangkan karena memang programnya menerjemahkan sebuah bacaan.

Jadi aku jemput Kai di TK, pulang ke rumah dan mengganti baju seragamnya. Dia langsung menyiapkan 4 buah buku Ultraman dan Rangernya dan memasukkan ke dalam ranselnya. Aku tawarkan membawa pensil warna dan kertas, dia tidak mau. Tadinya aku juga sempat berpikir  membawa komputer untuk memutarkan DVD film + headset, tapi karena kelihatannya dia begitu bersemangat dengan bukunya, aku membatalkan membawa laptop. Cukup berat soalnya.

Dia memaksa memanggul ranselnya sendiri, padahal aku tahu itu berat. Tapi mumpung dia semangat deh. Aku sendiri bawa barang seminim mungkin, supaya jika harus membawa ransel Kai pun aku masih bisa berlenggang :D.  Kami naik kereta lokal, memang lebih makan waktu tapi bisa duduk dan sedikit orang. Begitu sampai stasiun Takadanobaba, kami mau naik bus, tapi Kai mengeluh lapar. Memang waktu makan siang sih. Tapi kalau mampir makan dulu pasti terlambat, jadi aku memenuhi permintaan dia untuk membeli “Happy Set” nya Mac D. Yang mengharukan waktu dia pesan bagian dia, dia langsung bilang, “Mama, untuk Riku yang ini….” Dia ingat kakaknya…. Lalu aku katakan, “Ya nanti ya, sesudah mama selesai mengajar, sebelum pulang kita beli buat Riku”.

Nah, waktu mau naik bus ke kampus itu yang aku kaget! Loh kok begitu banyak orang yang antri? Kebanyakan bukan mahasiswa lagi. Kakek nenek! Memang bus ini bus umum, bukan bus kampus. Dan aku juga tahu bahwa ada cukup banyak lansia yang belajar lagi di universitas W, tapi yang pasti tidak sebanyak ini! Lagipula bus berdatangan terus…. heran benar deh. Tapi karena bersama Kai, aku menunggu sampai kami bisa dapat tempat duduk. Sebetulnya kalau mau jalan kaki bisa sih, sekitar 30 menit. Sampai kampus cuma 4 halte. Tapi kalau mau buru-buru lebih baik naik bus deh. Pas di halte ke 3 aku melihat sumber penuhnya bus-bus ke arah kampus ini, karena hampir semua kakek nenek, ibu-ibu itu turun di halte ke 3 itu. Dan aku melihat antrian manusia begitu panjang. Memang di situ ada semacam jinja, bernama Ana Hachimangu. Tak bisa tidak, aku langsung menanyakan pada nenek-nenek yang duduk di belakangku dan sedang antri turun bus (bayangkan turun aja antri hihihi). “Ada apa sih?”

gambar diambil wikipedia

Kata nenek itu, “Ya hari ini adalah Touji 冬至  hari permulaan winter, hari yang malamnya terpanjang selama winter. Pada hari ini orang dari seluruh Jepang datang ke jinja ini untuk berdoa” bla bla bla tidak jelas. Dan setelah pulang aku mendapat informasi seperti ini:

Orang Jepang (yang percaya) akan datang ke jinja (kuil Shinto) Ana Hachimangu 穴八幡宮 untuk mendapatkan “jimat” Ichiyouraifuku 一陽来復 yang berarti : Setelah musim dingin akan datang musim semi, berarti tahun yang baru akan datang. Segala kesusahan akan berhenti dan akan datang keberuntungan. Jadi kebanyakan yang datang ke sini ingin berdoa supaya bisa untung dalam perdagangan. Mereka akan membeli jimat yang akan dipasang di rumahnya di tempat yang tinggi. Jimatnya sendiri berupa kertas yang bertuliskan kanji Ichiyouraifuku itu. 

Ana Hachimangu ini memang terletak dekat universitas Waseda, merupakan jinja sejak tahun 1062 tapi waktu pemboman AS tahun 1945, jinja ini terbakar. Tahun 1989 dibangun kembali sehingga menjadi seperti sekarang. Dan yang menyenangkan waktu membaca bahwa jinja ini bertetangga dengan kuil Buddha dan gereja kristen … tentu saja dengan harmonis.

Aku dan Kai turun di halte terakhir dan sempat berfoto di depan salah satu gedung bersejarah universitas W, kami lalu pergi ke kelas tempatku mengajar di lantai 7. Tapi sebelumnya aku mampir ke WC wanita yang ada di lantai 8 (lucu deh gedung ini, wc wanita di lantai genap dan wc pria di lantai ganjil) . Masih ada waktu 10 menit sebelum kuliah dimulai, jadi Kai makan burgernya, sambil bermain. Sepuluh menit berlalu, Kai memegang janjinya untuk tidak ramai-ramai, apalagi mengeluarkan suara keras (anak ini suaranya kencang banget sejak lahir! padahal prematur loh). Jadi kuliah bisa dimulai dong waktu jam menunjukkan pukul 1:00 siang.

Baru berlalu  5 menit, tiba-tiba Kai berbisik … “Mama… unchi…. (p*p*p) ”
Waduuuh…. payah deh. Aku tahu anak ini memang tidak pernah bisa tahan. Di mana saja bisa p*p*p tidak seperti kakaknya yang harus di rumah.
Gaman dekiru? (Bisa tahan)”
Dekinai (Tidak bisa)” sambil berbisik memelas….. ingin ketawa juga tapi sebel juga. Karena berarti aku harus ke lantai 8 atau 6 untuk membantu dia p*p*p kan…. Jadilah aku memberikan tugas mencari arti beberapa kata di kamus kepada mahasiswa-mahasiswa sambil aku menemani Kai.

Setelah kembali ke kelas,  satu setengah jam berlalu dengan lancar, tanpa gangguan dari Kai. Dia benar-benar bermain sendiri di bawah tempat dudukku, di atas karpet, jadi tidak terlihat oleh mahasiswa. Aku merasa Kai hebat bisa diam terus, meskipun aku perlu konsentrasi dua kali lipat selama memberikan kuliah. Ada satu kejadian lucu, yaitu waktu aku memberikan contoh, sambil menuliskan A B C D E di white board. Kai melihat huruf itu dan bernyanyi lagu ABC hahahaha. Semua mahasiswa tertawa, dan aku cepat-cepat menyuruh dia diam 😀 ssstttt.

Setelah kuliah selesai, tentu saja kami mampir Mac D dulu untuk membeli bagian Riku sesuai permintaan Kai. Dan waktu kami sampai di rumah sekitar pukul 4:30, pas Riku juga pulang. Jadi kami bertemu di depan pintu lift, dan….. Kai lari ke Riku dan memeluknya. Ahhhh meskipun mereka selalu berkelahi ternyata mereka juga saling merindukan. Aku terharu melihat mereka……

Seorang mahasiswaku bertanya pada Kai:
“Kai tahu mama itu guru?”
“Tahu… Imeruda Sensei!” 😀

 

Sedangkan Ubi Kuliah!

Kamu tahu bahasa Jepang untuk Universitas/Perguruan Tinggi? Aku ajarin ya, istilahnya Daigaku. Jadi kalau kamu lulusan Universitas Indonesia = lulusan Indonesia Daigaku.  Kalau lulusan ITB = Bandung Kouka Daigaku. Tinggal dibalik deh susunan katanya.

Hari ini aku mau posting yang ringan dan lucu aja deh. Yaitu sebuah kudapan asli Jepang, terutama dari Kanto (Tokyo dan sekitarnya), yang pasti mudah dibuat dengan bahan yang pasti ada di Indonesia juga. Nama kudapan ini adalah Daigaku Imo, Ubi (di) Universitas? Yang pasti artinya bukan Universitas Ubi, karena susunan katanya bukan IMO DAIGAKU! (Pasti tidak ada yang mau sekolah di sana ya hihihi).

Kebetulan aku punya ubi atau bahasa Jepangnya satsuma imo banyak kiriman dari Akemi san. Biasanya aku cuma goreng biasa lalu taburkan garam sedikit. Mau membuat kolak, tapi bahan lainnya tidak lengkap (unggu kolang-kaling, belum sempat beli). Lalu aku teringat kudapan ini. Kalau mau diterjemahkan sih bisa saja menjadi Ubi Karamel.

Bahan:

Ubi (saya pakai ubi cukup besar 1 batang, ya kira-kira 400 gram)
Gula pasir 4 sendok makan
Air 2 sendok makan
Kecap Kikkoman 1 sendok teh
Cuka (jepang) 1 sendok teh (Cuka Indonesia mungkin cukup setetes/dua tetes, dan saya rasa bisa ganti sedikit lemon kalau tidak ada cuka)

Caranya:

Potong ubi sedang tidak beraturan, kalau saya waktu itu membuat stick saja.
Goreng sampai kuning.

Campuran gula, air, kecap dan cuka dipanaskan di wajan lain sampai menjadi kecoklatan. Kemudian masukkan gorengan ubi ke dalamnya, dan campur. Biasanya waktu dihidangkan orang Jepang menaburkan sedikit wijen hitam di atasnya, tapi karena saya tidak punya ya tidak pakai. Toh itu hanya sebagai pemanis saja.

Kudapan sederhana dari Tokyo...monggo....
Kudapan sederhana dari Tokyo...monggo....

Yang menarik, dengan resep yang ini karamel memang tidak mengeras, sehingga agak “pliket” waktu memakannya. Tapi rasanya? Hmmm yummy loh, sebagai teman minum teh atau kopi….sedaaaap! Selamat mencoba, dan kamu bisa berkuliah bersama si UBI.

Setelah aku cari sejarah nama ini, ternyata memang makanan ini berasal dari lingkungan universitas. Dulu tahun 1912, jenis makanan ini amat disukai kalangan mahasiswa, dan sekitar tahun 1925 ada beberapa mahasiswa Universitas Tokyo yang mencari tambahan uang kuliah dengan menjual makanan ini di sekitar universitas. Tapi ada mahasiswa Universitas Waseda (tempatku mengajar sekarang) juga mengaku bahwa daigaku imo dimulai di universitas itu. Yang mana yang benar? entahlah… Yah pokoknya makanan ini populer di kalangan mahasiswa, jadilah namanya Daigaku Imo. Kalau dipikir-pikir hebat juga mahasiswa bisa menciptakan patent yang enak gini …kalau mahasiswa Indonesia menciptakan patent apa ya? Demo? hihihi.

Waseda Daigaku dalam hujan di musim dingin.... kemarin 3-12-09
Waseda Daigaku dalam hujan di musim dingin.... kemarin 3-12-09 (camera HP Biblio)

OK deh saya mau kasih kuliah pada ubi-ubi hihihi dulu… Selamat hari Jumat…dan menyambut weekend tentunya!

Jika anak libur….

Bukan rahasia lagi, kalau orang tua kadang tidak suka jika sekolah anak-anaknya libur. Apalagi di musim panas di Jepang, mengurus anak-anak sebulan penuh di rumah, amat merepotkan. Itu jika kita terus berada di rumah, tidak mudik atau berencana pergi summer camp misalnya. Ibu-ibu di Jepang langsung “kurus” setiap liburan musim panas, karena harus menyediakan makan untuk 3 kali, memikirkan ajak anak-anak pergi ke mana dsb-dsb. Aku beruntung bisa pulkam waktu liburan musim panas, sehingga paling tidak di Jakarta Riku dan Kai bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, di rumah yang berlipat-lipat luasnya dari rumah di Tokyo yang seperti kandang kelinci!

Seorang teman di telepon minggu lalu mengatakan “Saya kan baru masuk kantor hari ini, gantian dengan istri saya menjaga anak-anak karena asisten rumah tangga belum masuk” …. Wah sampai segitunya ya? Dan memang sulit kondisinya, jika anak-anak terlalu besar untuk dibawa ke kantor, tapi masih belum bisa ditinggal di rumah sendiri. Kecuali dimasukkan penitipan anak (yuhhhuuuu imelda, mana ada penitipan anak di Jakarta yang mau menerima temporary begitu seperti di Jepang), atau meminta bantuan sanak keluarga untuk menemani mereka. Ternyata sulit juga mengatur soal anak-anak bagi pasangan yang bekerja di Jakarta ya?

Rasanya belum selesai aku  menertawakan kondisi temanku itu, ternyata aku  “kena batunya”.  Sebetulnya sejak membaca jadwal sekolah Riku aku  sudah tahu bahwa tanggal 1 Oktober itu hari libur. Tapi tanggal 30 September sore, aku masih memarahi Riku untuk mengerjakan PR. Lalu dia bilang, “Mama bantuin dong, ini PR nya ada dua….” Aku agak heran waktu itu, kok ngga biasanya sampai dobel begitu.

Waktu mempersiapkan makan malam, aku berkata, “Ayo abis makan, tidur cepat ya, besok mama kerja jadi musti bangun pagi.” nahhh di situ Riku bilang, “Mama, besok aku kan libur” ….. #&$#’%(‘&)(‘)=’%$”” HAH!

Aku langsung panik… Bagaimana dengan Riku? Kalau Kai memang sudah pasti pergi ke penitipan, tapi Riku? Dia tidak bisa ditinggal sendiri. Dia harus dititipkan atau meminta orang menjaga Riku, atau meminta ibu dari temannya Riku untuk menerima Riku di rumahnya untuk bermain bersama anaknya, atau…cara terakhir mengajak dia sama-sama pergi ke tempat kerja.

Untuk penitipan, tidak mungkin! Jika mau menitipkan di penitipan , aku harus memberitahukan pihak penitipan dua hari sebelumnya. Lah aku sendiri baru sadarnya terlambat begitu. Lagi pula biayanya mahal! Paling sedikit aku harus membayar 7000 yen (700rb rupiah) . Hmmm

Untuk menelepon ibu mertua juga sudah terlalu malam. Dan untuk menitipkan pada ibu teman sekolahnya kok malu ati ya? Soalnya setiap jumat aku sudah merepotkan dia dengan menitipkan Riku, dan bersama anaknya pergi ke les bahasa Inggris, selama aku pergi mengajar.

Ya, memang semester genap ini, aku harus bekerja dua kali seminggu, setiap Kamis dan Jumat. Karena di Universitas Waseda, aku mendapat jatah mengajar di semester genap. Dan tanggal 1 Oktober itu adalah permulaan kuliah, sehingga tidak bisa aku batalkan kuliahnya. Runyam deh.

Terpaksa, “Ya sudah besok Riku ikut mama kerja.”
“Kerja ke mana ma?” (Bayangan dia aku masih kerja macam-macam seperti studio dll.
“Besok mama harus ke universitas memberikan kuliah. Riku ikut kuliah, tapi janji ngga boleh ribut, ngga boleh ganggu kakak-kakak sedang belajar… bla bla bla.” Seribu satu pesan aku sampaikan.

Malam harinya sebelum tidur Riku berkata pada Kai, “Besok kakak pergi ke universitas loh. Kai ke himawari aja, main-main dengan teman-teman di sana. Enak loh” (semua kalimat dalam bahasa Indonesia)
Kai menjawab , “O…kai ” (kalimat ini sering dia pakai selai OKE, untuk menyatakan dirinya tahu…)
Aku cuma bisa terdiam dan manyun, bingung hadapin esok hari yang pasti ribet.

Pagi hari dengan semangat Riku bangun, makan pagi, siapkan barang-barang yang mau dibawa. Jam 8 aku bangunkan Kai dan kami bertiga naik bus ke stasiun, menitipkan Kai.

“Mama, kita naik apa ke universitas?”
“Bus, kereta, bus….”
“Eeeee??? naik taxi aja!”
“Mahal! Riku harus tahu, bagaimana mama kerja satu hari. Ngga ada tuh main-main loh. Diam saja… dan ikut. Kecuali Riku mau tinggal di rumah sendiri!” … Dia terdiam.

Jadi begitulah kemarin satu harian, dia mengikuti langkahku kemana saja aku pergi. Meskipun dia tidak bisa duduk tenang di ruang kuliah, masih belum “seberapa” nakal dibanding anak lain…. mungkin…. Bayangkan, aku membuka pelajaran  bahasa Indonesia dengan perkenalan :
“Kenalkan. Nama saya Imelda. Saya tinggal di Nerima. Saya datang dari Jakarta. Saya guru bahasa Indonesia” Dan waktu saya tanya mahasiswa-mahasiswa, tahu artinya?….
Sepuluh mahasiswa hanya bengong, dan dari kursi belakang si Riku berkata, “Aku tahu!” huh……… $#&$'((&))(=” Tentu saja aku berkali-kali minta maaf pada para siswa, karena memang tidak pernah ada dosen yang membawa anaknya mengajar di Jepang. TABU! (Tapi aku kan terpaksaaaaaa banget nih)

Setelah istirahat makan siang dan menyelesaikan beberapa urusan, seperti fotocopy, ke kantor pos dan lain-lain (jalan mondar mandir deh pokoknya), kuliah jam kedua dimulai. Lebih santai karena hanya dua mahasiswi saja. Dan setelah aku minta maaf, malah salah satu mahasiswi yang pernah menjadi guru bahasa Jepang dua tahun di Manado, bercakap-cakap dengan Riku pakai bahasa Indonesia. Wahhh merasa mendapat angin, Riku kesenangan, dan menggambar-gambar di papan tulis yang lebar itu. Huh! (Bisa dimengerti sih, puas rasanya menggambar di tempat yang luas begitu kan?)

Tapi justru kuliah jam kedua benar-benar padat dan berisi! Yang tadinya aku mau membubarkan kelas lebih cepat, malah jadi lebih panjang hehhehe. Untunglah.

Jadi hari kamis kemarin aku benar-benar capek pek pek… pikiran, badan….. dan juga masih tetap khawatir dengan keadaan teman-teman blogger di Padang yang menjadi korban gempa. Imoe, Arif dan Pakde …. Tuhan semoga mereka selamat…..

Kemarin adalah hari libur warga Tokyo. Hari Jadinya Tokyo, Tomin no hi. Tanggal 1 Oktober 1898, pertama kali didirikan Kelurahan TOKYO (Tokyo -shi), dan tahun 1952 seiring perkembangan wilayah dan performance menjadi TOKYO-TO , Tokyo metropolitan City. Untuk itu semua sekolah dari SD sampai SMA yang didirikan oleh pemda Tokyo, dan berada di wilayah Tokyo libur.

Sedikit tambahan mengenai pembagian negara Jepang. Kalau di Indonesia dibagi menjadi 33 propinsi, maka di Jepang dibagi menjadi 47 TO-DO-FU-Ken, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Prefektur. Satu TO, yaitu Tokyo To, metropolitan city; Satu DO, yaitu Hokkaido, Wilayah khusus (seperti DI di Indonesia mungkin ya); Dua  FU yaitu Osaka -FU dan Kyoto-FU (wilayah khusus juga)  dan yang lainnya KEN, setara dengan propinsi di Indonesia. Namun kami penerjemah tidak bisa menerjemahkan prefektur ini menjadi propinsi, karena banyak faktor. Jadi biasanya kami memakai terjemahan bahasa Inggris, prefektur.

Selain hari Tokyo, ada banyak peringatan di tanggal 1 Oktober. Bagi yang ingin tahu silakan baca lagi postingan tahun lalu di sini.


Eco di Kampus

“Eco” adalah kata trend di Jepang. Bukan mas Eko dari Jawa meskipun mirip. Tapi Eco singkatan dari Ecology. Maksudnya jika suatu barang bisa “memamerkan” eco nya, pasti dapat diterima di masyarakat Jepang. Meskipun hampir mirip dengan tulisan Yoga di greenwashing, Eco disini tidak bermaksud menutupi kegiatan yang salah yang terkait dengan lingkungan hidup. Malah suatu kegiatan berlomba untuk memperhatikan lingkungan hidup kita. Mobil yang Eco, AC Eco, Mesin cuci Eco….semua produsen alat listrik perumahan di Jepang berlomba-lomba menciptakan barang yang ramah lingkungan (hemat energi).

Kali ini saya ingin menengahkan Eco di kampus. Saya sudah 9 tahun mengajar bahasa Indonesia di Universitas Waseda, di kampus pusat di Takadanobaba, Shinjuku. Dan sejak saya pertama mengajar di sana, saya selalu mendengar berbagai himbauan dalam kampus untuk aktif melakukan kegiatan “eco”. Dibanding dengan kampus universitas lain, kampus Waseda ini memang terlihat lain. Di setiap sudut ada paling sedikit 5 tempat sampah, dengan tulisan penuntun, apa saja yang boleh dibuang di situ. Kertas, plastik, botol plastik, kaleng, sampah terbakar. Semua sampah harus dipilah. Bekas kartu fotocopy dikumpulkan setelah selesai dipakai. Dan yang saya perhatikan juga tidak disediakan tisue lap tangan atau mesin “angin” untuk mengeringkan tangan di wastafel WC.

Tapi minggu lalu saya menemukan satu lagi usaha untuk mencapai “Eco campus”. Biasanya kalau membeli makanan di mana saja di Jepang, pasti dimasukkan dalam kotak plastik. Tapi ada makanan kotak (nasi kotak) yang dijual dalam kampus memakai kemasan dari kertas tebal yang dilapis plastik. Jadi setelah makan diharapkan kita melepaskan plastiknya untuk kemudian menaruh di tempat sampah khusus daur-ulang (recycle) kertas. Tergantung lagi kita si konsumer mau menjalankannya atau tidak. Tapi karena ini sangat praktis, saya rasa mahasiswa sanggup dan mau melakukannya. Dan meskipun ini baru sedikit jumlahnya (saya tidak tahu persis, tapi baru ada di dalam kampus dengan jumlah tertentu) benar-benar merupakan usaha yang patut dicontoh.

Lalu sambil makan saya berpikir bagaimana nasi kotak di Indonesia sekarang yang sering dimasukkan dalam wadah styrofoam(?) yang pastinya sulit untuk dibakar/daur ulang …kecuali hanya bisa di reuse (Tapi kalau bekas nasi padang yang berminyak begitu, siapa yang mau re-use lagi?). Hmmmm sampah lagi. Lalu teringat jaman dulu yang nasi kotaknya masih berupa nasi bungkus pakai kertas yang relatif lebih bisa dibakar. (Bahkan kalau mau lebih jadul lagi yang pakai daun pisang. ) Betapa kemajuan jaman semakin membuat sampah-sampah itu lebih sulit dikelola. (Paling bagus sih membuat bento atau bekal makanan di kotak bekal yang permanen seperti yang saya buat setiap pagi untuk Riku. Sehat isinya hemat kemasannya. Ramah lingkungan dan ramah dompet)

Setting temperatur AC dan heater yang sesuai

Satu lagi yang bisa saya perkenalkan tentang usaha “hemat energy” di kampus ini adalah “Peringatan” untuk menyetel setting temperatur yang sesuai musim sehingga tidak membuang energy berlebihan. Pada musim panas, setelan AC hanya boleh 28 derajat. Panas dong? Ya memang, misalnya di luar suhu udara 36 derajat maka dengan setting 28 derajat saja sebetulnya sudah cukup terasa dingin. Jangan seperti di Indonesia yang kadang hampir semua menyetel lebih dingin dari 22 derajat. Selain boros listrik, tidak baik untuk kesehatan badan. Menimbulkan penyakit modern akibat AC yang dalam bahasa Jepang disebut “Reibobyou” (penyakit AC).

Demikian pula dalam musim dingin. Misalkan di luar suhu udara di luar 13 derajat, maka setting 20derajat cukup sudah. Jangan kita set menjadi 28 derajat. Perbedaan suhu luar dan dalam yang terlalu besar akan menimbulkan penyakit, selain boros energi.

Hai mas-mas jawa yang bernama Eko (nama pasaran kayaknya yah). Jangan ge-er karena nama Anda sering disebut di Jepang sebagai himbauan untuk lebih memperhatikan environment.