SW 1 – Transportasi

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari liburan Silver Week kami (21-23 September)

Hari Selasa, 22 September 2009. Setelah satu hari libur sekeluarga disia-siakan, jam 9:30 kami keluar rumah. Siap dengan ransel berisi pakaian ganti dan susunya Kai, baby car, Kai dan Riku (tidak boleh ketinggalan hihihi), kami berempat berjalan ke halte bus dan memulai perjalanan kami ke Yokohama. Tujuan kami adalah Y150, sebuah acara gabungan untuk memperingati 150 tahun pembukaan pelabuhan Yokohama.

start the journey... its a bit late 9:30!
start the journey... its a bit late 9:30!

Kok tidak naik mobil? Tadinya aku juga pikir mau naik mobil sampai rumah mertua, taruh di situ, lalu jalan-jalan dan kembali menginap di rumah mertua, lalu besoknya lanjutkan jalan-jalan di daerah Yokohama lagi. Tapi waktu kami melihat televisi, diberitakan bahwa jalan tol di mana-mana macet, penuh dengan antrian mobil yang akan dan dari luar kota Tokyo. Hmm sekali-sekali semua anggota keluarga sama sama capek dengan naik kereta saja, yang sudah pasti jam-jamnya dan tidak terpengaruh kemacetan jalan.

dalam kereta dari Kichijoji ke Shibuya
dalam kereta dari Kichijoji ke Shibuya

Dari rumah naik bus ke stasiun Kichijoji, dan dari Kichijoji naik kereta ke Shibuya. Di Shibuya, kami mampir ke patung Hachiko, untuk menunjukkan pada Riku tempat patung anjing yang terkenal dipakai sebagai tempat berkumpul/janjian bertemu 待ち合わせ machiawase. Tulisan tentang anjing Hachiko itu ada di sini.

depan patung hachiko Shibuya,  sebagai meeting point
Depan patung Hachiko Shibuya, sebagai meeting point

Orang Jepang memang sering menentukan suatu tempat sebagai titik pertemuan, biasanya di stasiun, meskipun ada juga yang janjian di Mac D atau kedai kopi sih. Tapi kebanyakan berkumpul di depan stasiun. Kalau di Jakarta mau ngumpul di mana ya? Paling Mall, atau langsung ke restoran ya?Atau minta dijemput di rumah masing-masing hihihi. Di Jepang sih ngga ada tuh main jemput-jemputan.

bekas gerbang Toyoko Line sebagai museum
bekas gerbong Toyoko Line sebagai museum

Sebegitu lamanya aku tidak ke Shibuya, terkaget-kaget melihat ada gerbong kereta lama Tokyu Tokyo-Yokohama (Toyoko Line) yang ditaruh di depan Hachiko. Gerbong berwarna hijau itu menjadi ajang pameran foto jalur Toyoko line (Sekarang menjadi Minato Mirai Line) dan dilengkapi tempat duduk sehingga bisa menjadi tempat beristirahat juga. Tapi kereta Toyoko line bisa membangkitkan kenangan lama, karena dulu sebelum menikah, aku tinggal di Stasiun Gakugei Daigaku dari Toyoko Line ini. Uuuuh dulu dari rumah ke Shibuya dekat sekali, sehingga bisa bermain sampai malam di Shibuya.  (Shibuya adalah salah satu stasiun besar di jalur Yamanote Line, sederet dengan Shinjuku, Ikebukuro, Ueno, Tokyo dan Shinagawa)

pakai seat belt dan siap untuk diputar-putar
pakai seat belt dan siap untuk diputar-putar

Dan saat itu di pelataran halaman Shibuya juga ada sebuah mobil trailer terbuka yang diparkir di situ. Karena masih pagi belum terlalu ramai, dan rupanya di mobil trailer itu dilengkapi dengan ruangan semacam kokpit (duh gaya amat)  untuk pengemudi dan kokpit itu bisa diputar-putar seperti ajungan permainan saja. Rupanya alat ini untuk memperlihatkan kehebatan seat belt. Merupakan kegiatan kepolisian dengan sebuah sekolah menyetir mobil.

8,1 % dari orang yang duduk di belakang dan meninggal dalam kecelakaan  tidak memakai seatbelt
8,1 % dari orang yang duduk di belakang dan meninggal dalam kecelakaan tidak memakai seatbelt

Memang setiap pergantian musim, kepolisian membuat kampanye keselamatan lalu lintas.  Pemeriksaan kelengkapan mobil, termasuk juga kampanye pemakaian seat belt dan child seat untuk anak-anak. Di sini selain supir dan sebelah supir, penumpang yang duduk di belakangpun semua harus memakai seat belt. Peraturan ini baru mulai berlaku tahun ini. Dikatakan bahwa resiko kematian bagi penumpang yang duduk di belakang pun tinggi, karena bisa terbentur kursi di depannya, bahkan terlempar mengenai kaca muka.

demi ibu dan calon bayi, ibu hamil pun perlu memakai seatbelt
demi ibu dan calon bayi, ibu hamil pun perlu memakai seatbelt

Karena kami melihat ada antrian anak-anak untuk mencoba “diputer-puter” gini, maka Gen menemani Riku untuk antri, dan mencoba kehebatan seat belt itu. Setelah selesai mencoba, ternyata datang maskot kepolisian Jepang yang bernama Pipo- kun ……. dan anak-anak mulai merubungi maskot dan berfoto bersama. Aku jadi berpikir… Kepolisian Indonesia punya maskot ngga sih? Maskot itu kan sebagai simbol yang ramah yang bisa melekat di hati warga. Anak-anak juga langsung bergelayut ke maskot itu.

maskot kepolisian Jepang, Pipo-kun
maskot kepolisian Jepang, Pipo-kun

Baru di Shibuya, still a long way to go…. dan masih jam 11 tapi rasanya sudah jalan jauh dan mengalami macam-macam. Tapi kami tidak diburu waktu kok, jadi kami menikmati setiap detik yang bisa dilewatkan bersama.