RSS
 

Archive for Agustus, 2009

Televisi 24 jam

31 Agu

Pasti Anda berpikir, “Oh pasti itu chanel TV siaran CNN atau chanel film dari televisi kabel” atau “Wah gila juga kalau Imelda mau nonton TV sampai 24 jam”. Yang pasti, biasanya saya belum tentu mau menonton TV lebih dari 1 jam.

Televisi 24 jam adalah nama sebuah acara di Nihon Terebi (chanel 4 di Jepang)  yang tayangkan setiap tahun di akhir bulan Agustus, akhir pekan selama 24 jam, dan merupakan acara live. Judulnya dalam bahasa Inggris adalah 24H Television Love Save the World. Acara ini merupakan acara charity , untuk mengumpulkan sumbangan bagi kegiatan sosial. Pertama kali mengudara pada tahun 1978, setiap tahun menampilkan artis-artis terkenal yang menarik perhatian para penyumbang dari kalangan pemirsa televisi.

Acara 24HTV ini pun kembali digelar tanggal 29-30 Agustus kemarin. Dan tema tahun ini adalah “Start”. Dalam acara itu seperti biasanya ada acara marathon yang biasanya diikuti oleh seorang aktor/artis yang terkenal. Tahun ini yang akan lari dalam waktu 24 jam sejauh 126.585 atau 3 kali maraton adalah Imoto Ayako. Dia memang terkenal sebagai  seorang aktris nyeleneh (dengan tanda khas, yaitu alis mata yang amat tebal) yang suka adventur, mencoba sesuatu yang baru dan berbahaya. Dia pernah mendaki kilimanjaro, pergi ke 36 negara untuk membuat acara televisi …tentu saja ini yang membuat dia juga dapat terus mendapat kontrak dari televisi dan melanjutkan karir sebagai artis TV. Tapi kali ini untuk acara 24HTV ini, dia mencoba untuk menyelesaikan 3 kali maraton dalam sehari (24 jam).

Imoto Ayako mencoba lari 3 x marathon dalam 24 jam

Imoto Ayako mencoba lari 3 x marathon dalam 24 jam

Selain acara maraton, ada acara rally tenis meja selama 8 jam 15 menit yang sudah tercatat sebagai rekor dunia. Dan akhirnya berhenti dalam rekor baru 8:29:58. Ada pula acara melintasi selat Tsugaru Kaikyo (Selat Tsugaru) yang menghubungkan pulau utama Honshu dengan Hokkaido. Tapi yang berenang adalah penyandang catat, tuna netra.

Acara ini selama 24 jam memang sarat dengan cerita dan liputan yang terus menerus membuat mata basah dan hati menjadi hangat. Banyak cerita inspiratif yang disampaikan. Seorang ibu yang mengetahui dirinya mengidap kanker waktu usia janin di kandungannya sudah 4 bulan. Dia bertekad tetap melahirkan dan membesarkan sang bayi, sampai ajalnya menjemput. Sebuah buku berisi pesan-pesan untuk anaknya ditulis, dan menginspirasi banyak anak muda yang kurang mengerti artinya hidup.

Kisah seorang gadis lulus SMA, yang sejak lahir hidup di kursi roda. Dia lahir tanpa tangan dan hanya ada 1 kaki. Sejak kecil dia dididik ibunya untuk melaksanakan semua sendiri, mulai dari pakai baju, sampai memanjat tangga. Satu hal yang membuat ibunya juga tabah menjalani cobaan membesarkan anak cacat adalah senyumannya. Memang terlihat, anak bayi cacat ini terus tersenyum dan semangat. Sayangnya waktu masuk masa puber, dia menyadari bahwa banyak kegiatan teman-temannya yang tidak bisa dia ikuti tanpa tenaga ekstra. Dia menjadi pemurung dan tidak bersemangat. Tapi begitu dia melihat latihan kelompok cheer leader, dia merasa… dia harus masuk kelompok ini. Dan guru pelatih cheer leader bertanya padanya, apa yang bisa dia banggakan? “Senyuman dan bersemangat!” Dan benar, senyuman dan semangatnya bisa menularkan anggota cheer leader yang lain dalam berlatih. Setelah lulus SMA, dia bercita-cita untuk menjadi artis suara (dubber).

Selain kisah-kisah nyata dari para penyandang cacat, ada pula acara mewawancarai 100 juta penduduk Jepang. Seorang artis atau aktor akan pergi ke suatu desa, yang ditentukan oleh permainan darts. Dan selama perjalanannya di desa itu, mereka bertemu dan mewawancari warga yang mereka temukan. Tema pertanyaan mereka adalah, “Start” apa yang telah/akan  dilakukan dalam waktu dekat. Ada satu pertemuan dengan warga biasa yang cukup mengharukan. Pertemuan dengan seorang nenek berusia 94 tahun (ah jadi teringat pak watanabe).

Nenek ini adalah seorang bidan. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai bidan sekitar 8-9 tahun yang lalu. Dan setelah berhenti, dia menjadi murid SD dan mengambil mata pelajaran matematika saja. Bayangkan sebuah kelas berisi anak-anak usia SD (Kalau tidak salah kelas 4) dan di antara mereka ada seorang nenek berusia 80 tahun-an  yang belajar bersama. Aneh bukan?

Dan mungkin ada yang bertanya, kok dia sudah bekerja sebagai bidan, kenapa harus masuk SD lagi? Ternyata si nenek melakukan hal itu, sebagai ganti kegiatan anak perempuannya. Si Nenek memang seorang bidan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa waktu bayi perempuan yang dikandungnya meninggal setelah dilahirkan. Ya, anak perempuannya meninggal. Si nenek sengaja belajar kembali di SD sebagai pengganti anak perempuannya. “Saya membayangkan dia berkembang, dan belajar bersama dengan anak-anak seusianya”. Nostalgia masa silam tetapi berani dijalankan mengingat umurnya yang sebetulnya sudah tua sekali.

Aku tidak suka menonton TV. Tahu sebabnya? Karena aku mudah menangis dan tenggelam dalam cerita yang ditayangkan. Untuk menghindari kepala pusing, aku tidak mau menonton TV. Tapi karena penasaran dengan acara-acara yang ditampilkan, aku nonton acara ini, meskipun bolong-bolong (karena bukan di rumah sendiri). Dan memang akhirnya aku jadi sakit kepala, tetapi cukup puas karena bisa melihat… ya memang benar, Orang Jepang selalu bersemangat dan berusaha terus, tidak peduli dia itu orang normal yang sehat ataupun orang cacat yang terbatas gerakannya. “Manusia jika berusaha pasti akan bisa!”

Ah…. coba ada acara televisi semacam ini di Indonesia. Apalagi selama acara berlangsung 24 jam lebih, dikumpulkan sumbangan secara langsung atau melalui telepon/credit card. Coba seandainya sms-sms yang dikirim untuk pemilihan idol di Indonesia itu adalah sumbangan … berapa ratus juta rupiah yang bisa dikumpulkan? Kabarnya sumbangan yang terkumpul dalam acara 24 HTV tahun ini sebanyak 2.720.000.000 yen! (tahun lalu 1.083.666.922円)  Dan hasil pengumpulan ini dipakai untuk beberapa kegiatan sosial/kesejahteraan, yang laporannya bisa diikuti lewat website juga.

Dan satu lagi yang aku juga kagum pada orang Jepang, yaitu kontinuitas. Mungkin orang Jepang menganggap itu atarimae, lumrah bahwa jika memulai sesuatu maka harus berusaha untuk melanjutkannya. Tapi tidak untuk Indonesia. Kadang aku malu mengakui bahwa orang Indonesia memang cepat melempem. Buat acara bagus besar-besaran. Kali pertama amat berhasil, tapi biasanya berhenti di situ, tidak ada acara kelanjutannya. (Aku tidak mau pakai contoh konkrit deh di sini…takut kena UU internet hihihi). Komitment dan kontinyualitas… mungkin hanya mimpi saja di negara kita.

 

Badai datang! Pemilu penentuan!

31 Agu

Pernahkah Anda mengalami badai? bukan…bukan badai di hati, tapi badai topan yang berpadu dengan hujan deras dan angin kencang. Jepang setiap memasuki bulan September  pasti mengalami beberapa kali badai. Badai di Jepang, berlainan dengan badai atau hurricane di Amerika yang biasanya memakai nama wanita, badai di Jepang hanya diberi nomor, sesuai dengan waktu kedatangannya. Dan sebetulnya persis sore hari ini akan datang badai nomor 11 yang mendekati daerah Tokyo dan sekitarnya.

Sebelum badai mendekat memang sebaiknya, kita menyingkirkan semua barang yang kira-kira bisa berterbangan/jatuh jika angin keras bertiup. Pot tanaman yang berada di beranda/teras diletakkan ke tempat yang aman. Selain itu karena sulit untuk pergi keluar dalam badai, lebih baik menyimpan bahan makanan/makanan.

Sesudah badai datang, yang biasanya berlangsung 2-3 jam tergantung besarnya badai itu sendiri, langit yang tadinya seperti mengamuk kembali tenang dan ….begitu bersih, begitu biru dan begitu indah! Memang ada sisa-sisa sampah/kotoran bekas badai, tapi jika Anda melihat ke langit, tidak akan percaya bahwa hari sebelumnya pernah terjadi badai.

Well, kemarin telah terjadi badai dalam pemerintahan Jepang. Dalam kehidupan berpolitik di Jepang. Karena kemarin adalah hari pemilu untuk memilih anggota parlemen, dan hasilnya… sungguh di luar dugaan.

Karena kami pergi menginap di rumah mertua di Yokohama Sabtu malam, maka sebelum ke sana, Gen pergi ke kantor kelurahan cabang dekat rumah untuk melakukan pemilihan sebelum hari H. Pemilih yang tidak bisa memilih pada hari H (tanggal 30 Agustus) boleh memilih sejak hari Rabu atau kira-kira 10 hari sebelum hari H, di tempat yang sudah ditentukan. Tinggal datang, menyerahkan kartu pemilih dan mendapatkan surat suara. Kurang lebih caranya sama dengan pemilu Indonesia. Yang mungkin beda adalah lembar kertas suara yang tidak sebesar koran, karena hanya memilih 4 orang untuk wakil dari kelurahan kami, dan 7 orang untuk wakil di parlemen. Bukan sistem coblos atau contreng. Semua pemilih wajib menulis nama calon yang diinginkan (tulis tangan)  dalam selembar kertas sebesar memo pad.

poster 4 calon di wilayah kami, semua poster ukurannya HANYA segini, tanpa baliho

Hal yang lain lagi adalah bilik pemilihan yang hanya berupa sekat-sekat seperti booth telepon umum. (praktis, tidak usah mengeluarkan biaya pembuatan “kamar” kecil) . Hmmm pasti kalau sekat sebesar itu saja tidak bisa dipakai di Indonesia. Karena pasti tidak bisa membuka surat suara sebesar kertas koran dengan leluasa, atau mungkin akan terjadi “kasus mencontek” alias melihat pilihan orang di sebelahnya.

memilih di bilik yang dibatasi sekat saja

Juga tidak ada tanda pencelupan jari dengan tinta sebagai tanda sudah memilih. Sesudah memilih, ya keluar saja dari tempat pemilihan. Saya cuma bisa melihat dari luar ruang pemilihan, karena saya tidak punya hak pilih. Lha wong saya masih warga negara Indonesia.

Ada dua partai yang besar yang bersaing dalam pemilihan umum ini, yaitu partai LDP (Liberal Democratic Party) atau Jiminto, dan The Democratic Party of Japan (DPJ) atau Minshuto. Nah yang membuat “badai” di pemerintahan Jepang kemarin yaitu hasil yang membuktikan adanya “Perubahan Politik ” Jepang (Hasil pemilu diketahui semalam saja yah). Dari LDP yang berkuasa, ke tangan DPJ dan dengan hasil yang telak sekali. Bayangkan LDP yang sebelumnya menguasai 300 kursi harus puas dengan 119 kursi. Dan DPJ mendapatkan 308 kursi dari sebelumnya 115 kursi. Suatu kemenangan yang telak!

kantor kelurahan cabang tempat diadakannya pemilu sebelum hari H. Pada hari H biasanya menggunakan sekolah negeri.

kantor kelurahan cabang tempat diadakannya pemilu sebelum hari H. Pada hari H biasanya menggunakan sekolah negeri.

Memang hasil pemilu mencerminkan keinginan/harapan warga terhadap politik Jepang sendiri. Sudah sejak turunnya Koizumi, warga merasakan turunnya semangat masyarakat dalam mendukung pemerintahan. Nah, kemarin saya tanya sebetulnya apa sih JANJI dari DPJ, jika mereka menang, yang digembar-gemborkan dengan slogan Manifesto itu? (Semoga janji itu ditepati tentunya).

Ada 6 bidang yang jelas-jelas dijanjikan oleh partai DPJ untuk mendapat penekanan yaitu Menghapus Pemborosan, misalnya dengan menghentikan pembangunan “Cafe Mangga Pemerintah” (katanya sebuah cafe Mangga Negara akan dibangun, yang mungkin memang bisa menarik wisatawan domestik dan manca negara, tapi untuk membangunnya perlu biaya yang tidak sedikit), juga menghentikan “penugasan” mantan birokrat ke perusahaan dengan gaji pemerintah. Rekonstruksi Ekonomi dan Keuangan Negara, Memperkuat Produksi Pertanian, Kehutanan dan Perairan, Pembangunan Kembali Daerah, Reformasi Dana Pensiun dan Medis. Dan yang langsung “terasa” di keluarga-keluarga Jepang adalah bidang Dukungan Membesarkan dan Pendidikan Anak.

DPJ menjanjikan bantuan/tunjangan pemerintah dalam membesarkan anak dan pendidikan. Secara nyata mereka menjanjikan memberikan bantuan biaya melahirkan sebesar 550.000 yen (dari 300.000 yang sekarang) Well… ini membantu sekali, karena biaya melahirkan di Jepang TIDAK MURAH, karena tidak dicover asuransi (melahirkan bukan penyakit kan, makanya lebih baik operasi caesar spy dianggap sakit dan tercover asuransi. Tapi di Jepang ibu-ibu sedapat mungkin tidak memilih operasi, tidak seperti di indonesia yang katanya operasi = trend)

Setiap anak akan mendapatkan tunjangan sebesar 312.000 yen per tahun sampai dengan lulus SMP. Well….terima kasih sekali….paling tidak bisa ditabung untuk pendidikan selanjutnya yang biasanya tidak terbayarkan. Banyak orang Jepang kewalahan untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Universitas karena mahalnya. Jauh lebih murah mengirimkan anaknya belajar di LN daripada di Jepang.

Saya sih tidak begitu ngerti masalah politik begini, tapi yang penting warga Jepang memang menantikan perubahan dalam kehidupan bernegara. Dan semoga dengan perubahan partai yang memimpin negara ini, warga bisa merasakan perkembangan yang baik. Meskipun tentu saja perubahan yang terjadi bagaikan badai, yang juga membuat perubahan, dan mungkin kotoran/sampah sehingga perlu pembersihan besar-besaran.

Ada satu yang kami sesalkan dari pemilu kemarin, yaitu tidak sempat memotret Putra kedua Koizumi (mantan PM), Koizumi Shinjiro) yang akhirnya terpilih sebagai wakil Jiminto untuk daerah pemilihan Kanagawa 11. Karena sebetulnya waktu kami pergi ke pantai Kannonzaki beberapa wktu yang lalu, sempat berada di belakang mobil kampanye anak Koizumi ini.

Karena tidak kesampaian memotret mobil kampanyenya anak Koizumi, jadi saya pasang foto waktu naik mobil kampanye bapak-semang tempat tinggal saya yang kebetulan anggota parlemen ya (sudah mantan sih). Ceritanya pernah saya tulis di Pengalaman Demokrasi -1-

Dengan naik mobil kampanye, calon memberikan pidato atau menyapa warga di lingkungannya. turba deh.

Dengan naik mobil kampanye, calon memberikan pidato atau menyapa warga di lingkungannya. turba deh. sebetulnya ada slogan dari bapak semang saya itu, tapi saya hapus untuk menjaga privacy.

 

Penipuan OREORE

29 Agu

Membaca tulisan Uda Vizon di sini, aku jadi teringat sebuah iklan di televisi yang baru saja aku lihat kemarin.

Ada ibu yang menantikan telepon penipuan itu...karena bisa terhibur dari kesepian...

Ada ibu yang menantikan telepon penipuan itu...karena bisa terhibur dari kesepian...

Anda bisa melihat videonya di sini, tapi tentu yang tidak mengerti bahasa Jepang, tidak akan mengerti apa-apa. Saya akan mencoba menggambarkannya dalam bahasa Indonesia.

Telepon berbunyi dan diangkat seorang nenek.

“Eh, siapa? ORE?”

“Ya ..ORE….(AKU) bu…” (Ore  = watashi yang biasanya dipakai lelaki dewasa)

Sambil melihat koran mengenai berita penipuan yang berkedok anggota keluarga “OreOreSagi” (Ore = aku, Sagi =penipuan). Banyak orang tua yang menerima telepon tanpa mengucapkan namanya, hanya berkata “ore”, dan menyamar menjadi anggota keluarga si orang tua itu.Ibu itu berkata,

“Ohhhh Ore ore sagi-san  ya, saya sudah tunggu-tunggu?”

“Ibu… ini Aku! Masa lupa pada suara anak sendiri?”

“Oh maaf deh…, jadi hari ini apa modus operandinya?”

“Ibu…. masih pikir begitu. Sebetulnya ngga ada urusan penting sih. Aku cuma mau tanya bagaimana kabarnya. Kan sudah lama aku tidak menelepon.”

“Wah terima kasih ditelepon. Kamu sendiri bagaimana?”

“Ya biasalah, kerjaan sibuk.”

“Saya tidak akan transfer duit ke kamu loh!”

“Ibu…. masih pikir saya penipu?”

“Kalau begitu ore-oresan… kapan kita bisa bertemu lagi?…”

Ironis sekali iklan ini. Tujuan iklan ini? Tentu saja ada dua, satu yaitu mencegah bertambahnya  penipuan dengan MO  menipu orang tua dengan menyamar menjadi anggota keluarga yang tertimpa kecelakaan atau ditangkap polisi atau kemalangan lainnya, sehingga perlu uang dalam jumlah besar, dan minta ditransfer SEGERA.

Menurut laporan kepolisian Jepang pada tgl 28 Agustus lalu, korban dari penipuan “ore ore sagi” ini 84,5% adalah orang tua berusia di atas 60 tahun. Kerugian yang dialami selama setahun lalu mencapai 27.500.000.000 yen. Kebanyakan mereka yang ditelepon menyadari bahwa si penipu itu lain suaranya dengan anak atau cucunya, tapi saking gembiranya menerima telepon, tidak merasa aneh dan menyangka mungkin sedang sakit. Alasan minta transfer uang juga bermacam-macam, ada yang karena kecelakaan lalu lintas, atau harus mengembalikan uang perusahaan yang sudah dipakainya, atau dikejar-kejar penagih hutang dari bank/tukang kredit.

Bukan hanya ibu ini saja yang menunggu telepon anaknya. Ibumu juga.... ya ibu KAMU!

Tapi yang juga disampaikan dalam iklan yang dibuat oleh iklan layanan masyarakat Jepang ini adalah, betapa hubungan orang tua dan anak yang semakin “jauh”, sampai si nenek merasa senang ada penipu yang meneleponnya dan menemaninya mengobrol lewat telepon. Betapa karena jarangnya anak-anak menelepon, si nenek sudah lupa suara mereka dan menyangka anaknya penipu. Dan sebagai penutup iklan itu dituliskan “Daripada khawatir….tanyakan kabarnya (teleponlah)!”

Waaah kena deh, kapan aku terakhir menelepon rumah di Jakarta? 10 hari yang lalu? Lupakah mama papa akan suaraku?

Iklan ini sekaligus sebagai introspeksi diri, apakah diri ini masih menjaga silaturahmi dengan keluarga, terutama papa dan mama. Aku membaca sudah ada beberapa teman blogger yang mudik dan berkumpul dengan keluarga. Atau yang berencana akan pulkam di akhir ramadhan nanti. Tapi ada pula yang tidak bisa mudik. Semenit telepon, sepucuk surat atau sms mungkin bisa menjadi perekat hubungan kekeluargaan kita. Ini yang kadang hilang, dan jarang dirasakan di Jepang. Karena semakin banyak orang tua yang tinggal sendiri, di rumah sendiri atau di panti jompo, dan belum tentu sekali setahun mereka dijenguk keluarganya. Masyarakat Jepang yang sibuk. Tapi masyarakat Indonesia pun sebentar lagi akan menjadi masyarakat yang sibuk dan ….dingin. Jangan sampai ibu (bapak) kita bertanya, “Kamu siapa?” waktu kita meneleponnya.

Silaturahmi itu penting…. sangat penting. Apa kabar saudaraku semua? Aku harap semua dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Selamat menikmati akhir pekan… dan salam dari Tokyo!

Foto, video dan keterangan saya dapatkan dari website AC Japan.

 

Sakit kelapa eh kepala

27 Agu

Entah kenapa beberapa hari ini aku menderita sakit kepala (zutsuu 頭痛) yang cukup mengganggu. Tadi pagi waktu browsing, sempat membaca bahwa di Jepang sudah mulai banyak jatuh korban flu H1N1 yang sering disebut flu babi.  Dan ada cerita dari seorang ibu yang mengatakan bahwa anaknya sempat parah sekali terjangkit flu babi, yang awalnya hanya dari sakit kepala, tanpa demam. Hmmm jadi ngeri juga deh. (Eh kalau kena flu babi, mungkin penderita jadi ngorok kayak babi ya? hihihi)

Di sekolah Riku juga ada yang sudah terjangkit. Untung waktu liburan sehingga tidak sempat menyebar. Yang pasti ditekankan untuk selalu cuci tangan, kumur-kumur, dan jika demam sedikit saja jangan masuk sekolah. Untung sekali, sampai sekarang ke dua boys ku ini sehat. Bahkan di Jakarta selama 28 hari pun tidak pernah terjangkit penyakit atau demam, padahal sepupunya ada yang sempat demam. Dan kebetulan juga di RT rumahku di Jakarta itu juga ada laporan DB (sebelah rumah loh padahal). Karena bapakku  Ketua RT, tahu deh soal laporan-laporan itu dan berjaga-jaga terus. Dan kami bisa pulang semua dalam keadaan segar bugar. Puji Tuhan!

Tadi sore kepala masih sakit, tapi aku harus menjemput Kai di penitipan. Biasanya naik sepeda bersama Riku, tapi hari ini Riku malas sekali. Dia merayuku untuk naik bus saja. “Mahal!” saya mengomel, tapi lalu saya pikir… hmmm boleh juga sekali-sekali santai, sambil liat pemandangan tanpa harus berkonsentrasi. Jadi kami berdua berjalan cepat ke halte bus.

“Mbak… naik taxi ya?” Riku mulai berkata…dan aku tertawa geli. Dia memang sering menggoda aku dengan panggilan-panggilan yang aneh-aneh, yang dia dengar waktu di Jakarta. Kadang kala dia panggil, “Bu minta air minumnya dong!”… memanggilku dengan BU, meniru mbak Riana.
“Ngga… naik bus. Naik taxi mahal tau!”
“Yaaahhhh naik taxi deh… bu …bu…”
“Kalau panggil BU…kita naik sepeda. Kalau panggil mbak …kita naik bus. Ngga ada naik taxi!”
“Iya deh mbak…..”
(semua percakapan dalam bahasa Indonesia)

Begitulah Riku sudah pintar memakai bu, mbak, dan mas. Tapi aku belum pernah dengar dia memanggil papanya dengan mas hihihi.

Sampailah kami di penitipan Himawari, dan menjemput Kai. Tapi sebelum pulang naik bus lagi, aku ajak mereka bermain selama sejam di taman dekat halte bus stasiun. Taman Akashiya namanya.  Lumayan di sana ada luncuran dan parit kecil dengan air jernih mengalir. Hmmm aku senang tinggal di Tokyo karena ini. Meskipun kota sibuk, padat tapi pasti ada tempat biarpun kecil, yang menyajikan kesejukan. Pepohonan, gemericik air, dan teriakan anak-anak bermain. Sedikit waktu, sedikit usaha dan sedikit perhatian bisa membuat seisi keluarga di Tokyo terhibur menikmati alam. Dan… rasanya sakit kepalaku hilang selama aku berada di luar rumah.

kakak beradik mencuci kaki di parit yang jernih, dan di atas nya pohon bungur putih berbunga

Satu lagi yang aku lihat di taman itu, adalah sebuah gudang kecil berisi perlengkapan waktu gempa bumi seperti tenda dsb. Pemerintah daerah Nerima sudah menyiapkannya untuk warganya. Tentu saja itu disediakan/dibeli dari pajak yang kita bayar, tapi…. kami sebagai warga merasa terlindung dengan adanya jaminan ini.

gudang berisi peralatan untuk kondisi darurat setelah gempa

gudang berisi peralatan untuk kondisi darurat setelah gempa

Hipotesaku, aku sakit kepala karena reibobyou, penyakit akibat AC, udara kaleng, yang merupakan penyakit modern yang biasa menyerang waktu musim panas.

Well, sedikit demi sedikit irama hidupku memang harus disesuaikan dengan kehidupan di Tokyo. Yang pasti berdoa kenceng, semoga bukan virus flu babi…..

 

Mencegah kemalingan

27 Agu

Sebetulnya kalau kita kemalingan sesuatu… kita juga harus introspeksi diri. Pasti ada sesuatu yang bersumber pada diri sendiri yang kurang diperhatikan (taruh sembarangan), yang kurang dijaga (tidak pakai kunci), atau bahkan…kita lupa bahwa kita punya (baru sadarnya waktu dicuri). Meskipun kita tidak hidup di hutan yang berlaku hukum rimba, adakalanya kita terpaksa “berjaga-jaga” bagaikan kita hidup di hutan, karena penghuni “hutan dunia” itu ada yang tidak menaati “Panduan Tidak Tertulis Cara Bersahabat Universal”. Berjaga-jaga juga bisa dengan cara sedikit menjaga jarak sehingga tidak ngelunjak.

Nah, saya kemarin kedapatan sebuah surat di milis, yang saya juga pikir cukup bagus untuk dimulai. Karena kalau bukan masyarakat yang memulai siapa lagi? Kan kita tidak bisa menunggu pejabat pemerintahan yang sedang sibuk mengatur jalannya kehidupan bernegara untuk turun tangan dalam kasus ini. Selama bisa diadakan oleh swasta …why not?

Saya sendiri baru baca sekilas, tapi saya ingin share dengan pembaca TE soal PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA. Saya copykan saja ya surat elektronik yang saya dapat dari Milis ICJ (Indonesian Community in Japan) ini:

Malaysia kembali dituding mengklaim kekayaan budaya Indonesia. Untuk tarian saja, ini adalah kasus yang keempat, setelah “Tari Piring” dari Sumatera Barat, “Tari Reog Ponorogo” dari Jawa Timur dan “Tari Kuda Lumping” yang juga dari Jawa Timur. “Tari Pendet” dari Bali diklaim dengan dijadikan iklan pariwisata Malaysia. (Belakangan diketahui bahwa ini adalah salahnya Discovery Channel yang memasukkan tari itu di iklannya, bukan atas suruhan Malaysia)

Saya terkesan dengan upaya sejumlah anak muda yang terus berupaya
untuk mencegah hal ini untuk terus terjadi. Mereka (Indonesian
Archipelago Culture Initiatives atau IACI) telah melakukan sesuatu.
Teman-teman dapat melihat upaya mereka di situs
http://budaya-indonesia.org/ . Mereka melakukan proses pendataan
budaya indonesia dalam situs tersebut. Selain itu, mereka juga
mengupayakan langkah perlindungan hukum atas kekayaan budaya
Indonesia.

Saya pribadi sangat apresiatif dengan langkah nyata tersebut. Selain
itu, saya menghimbau kepada rekan-rekan sekalian untuk membantu
perjuangan anak muda ini agar kisah Batik, Sambal Balido, Tempe, Lakon
Ilagaligo, dan lain sebagainya tidak kembali terulang.

Setidaknya ada 2 bantuan yang dapat kita berikan untuk perjuangan tersebut:

1. mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum.
Kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian
(baik bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap
menggubungi IACI di email: office@budaya-indonesia.org

2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia.
Perlindungan hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara
optimal. Jadi, jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau
video tentang budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA, dengan alamat http://budaya-indonesia.org/
Jika Anda memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan
menggubungi IACI di email: office@budaya-indonesia.org

Sekarang bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan atau sekedar pembelaan diri, tetapi melakukan sesuatu yang nyata.

- Lucky Setiawan

nb: Mohon bantuanya untuk menyebarkan pesan ini ke email ke teman,
mailing-list, situs, atau blog, yang Anda miliki. Mari kita dukung
upaya pelestarian budaya Indonesia secara online.

Nah, jadi kalau ada waktu dan ada pikiran/ide dan lain-lain bisa bergabung tuh di sana. Paling sedikit….intip yuuuk website itu.


 
12 Comments

Posted in Share