Arsip Bulanan: Oktober 2009

Rendezvous

Aku pertama kali berkenalan dengan kata bahasa Perancis ini dari papa. Dia mengajak kami yang waktu itu masih kecil, pergi ke sebuah ice cream parlor di bilangan Blok M yang bernama “Rendez Vous” (kabarnya sekarang pindah ke Pondok Indah). Aku ingat pertama kali makan es krim potong Tutty Fruity di  situ, dan rasanya … hmm heaven (padahal belum pernah pergi ke heaven hihihi). Meskipun sekarang aku tidak bisa recall rasanya seperti apa, karena sudah makan berbagai jenis eskrim yang enak-enak. Masa itu  cuma ada Es krim Diamond, Peters, Swensens dan yang sedikit berkelas ya “Rendez Vous” itu.

Hari Rabu lalu, aku rendezvous alias kencan dengan adikku Tina, yang sudah lama juga tidak bertemu. Dia mau memperpanjang paspornya, karena masa berlakunya hampir habis.  Sebetulnya masa berlakunya habis sama-sama, tapi karena summer lalu aku ke Indonesia, aku perpanjang duluan, sebelum pergi ke Indonesia. Akibatnya tinggal dia sendiri yang harus memperpanjang paspor (lebih tepat disebut mengganti paspor, karena kita menerima paspor baru). Sebelumnya dia sudah email aku, “Mel, temenin gue dong…males nih… ntar gue traktir lunch deh”.

Gara-gara dijanjiin lunch itu ….. eh ngga kok Tin bukan itu alasannya hehehe, kebetulan hari Selasa kosong, jadi aku bisa pergi temani dia. Kami janjian bertemu di stasiun Meguro jam 10.00, sesudah aku antar Kai ke penitipan. Kemudian bersama-sama pergi ke Photo Studio yang bernama Niimiya-kan, untung membuat pas foto. Aku ngotot menyuruh dia membuat foto di situ, karena tidak mau mengulang kegagalanku, membuat foto dengan mesin otomatis yang ada di depan bidang Imigrasi KBRI Tokyo… hasilnya jelek banget (awas kalau ada yang bilang “dari sononya” hahaha). Di situ memang ada mesin otomatis, dengan harga yang relatif murah, hanya 800 yen… Tapiiiiiii hasilnya jelek banget (rugi dong cantik-cantik di foto jadi jelek…berlaku 5 tahun lagi…lama kan?).

Niimiya- Kan 新宮館 03-3441-3923 setiap hari kec minggu dan hari libur dari 9:30 AM-

Niimiya- Kan 新宮館 03-3441-3923 setiap hari kec minggu dan hari libur dari 9:30 AM-

Photo Studio Niimiya-kan ini adalah satu-satunya photo studio di Jepang yang menyediakan background berwarna merah, sebagai syarat foto paspor Republik kita tercinta. Jika tanya Photo Studio lain, pasti akan mendapat jawaban, “Merah??? Negara mana tuh? Di sini cuma ada putih dan biru muda”. Hihihi. Atau bisa juga mengambil foto biasa, kemudian diedit dengan komputer. Tapi hasilnya pasti kurang bagus juga. Karena kita tidak bisa menentukan merah yang mana.

Syarat pas photo yang lain adalah memakai baju putih berkerah. Jadi sebelumnya aku sudah wanti-wanti Tina jangan lupa memakai baju putih. Yang sulit dulu aku selalu pergi mengganti paspor pada musim dingin, sehingga tidak bisa memakai baju putih berkerah tanpa kedinginan. Sedangkan “turtle neck”, baju dengan kerah sampai menutup leher tidak diperbolehkan. Sengsara bener deh.

Kalau kepepet ya apa boleh buat, box foto di depan Imigrasi KBRI Tokyo, 800 yen

Kalau kepepet ya apa boleh buat, box foto di depan Imigrasi KBRI Tokyo, 800 yen

Setelah selesai dipotret, membayar biaya 1700 yen, kami menunggu 3 menit. Setelah itu mulai berjalan ke arah Gotanda Stasion, ke arah  KBRI.  Sembari jalan banyak juga bertemu orang Indonesia, atau orang-orang berwajah Indonesia. Dan memang daerah Meguro ini sering disebut dengan Kampung Melayu, saking banyaknya orang Indonesia dan Malaysia yang bermukim di sini.

Meskipun data lengkap, mengisi formulir juga cukup lama loh!

Meskipun data lengkap, mengisi formulir juga cukup lama loh!

Di pos penjagaan KBRI, kami menyerahkan ID card, berupa kartu asuransi atau SIM. KTP Jepang tidak bisa kami serahkan karena itu akan dipakai waktu mengisi formulir. Kemudian kami masuk ke Bidang Imigrasi KBRI, bertemu dengan Pak Darussalam, petugas bidang paspor. Pak Darus ini sudah lama sekali aku kenal, mungkin termasuk local staff yang terlama yang kukenal. Kami diberi formulir untuk di isi, dan untung aku sudah bilang pada Tina, untuk mencatat RT/RW tempat tinggal di Jakarta, karena dikatakan sedapat mungkin yang lengkap. Bagi yang tinggal di Jakarta, yang tinggal di daerah elit Menteng bukan di gang-gang  misalnya…. apa tahu RT/RW tempat tinggalnya ya? Kok aku ragu hihihi.

bukan...bukan di ITB, tapi depan Imigrasi KBRI Tokyo

bukan...bukan di ITB, tapi depan Imigrasi KBRI Tokyo. Dan berbatik (scarf) loh!!

Sambil Tina mengisi formulir, mulai deh aku iseng foto sana sini…. Dasar narsis! hihihi.

Setelah membayar 2500 yen, sebagai biaya paspor 48 halaman, kami meninggalkan KBRI. Kami harus mengambil paspor itu hari Kamis. Wah pokoknya pelayanan Imigrasi di KBRI Tokyo sekarang sudah lancar deh. Dalam waktu 3 hari paspor baru bisa selesai. Dulu? Musti tunggu minimal seminggu.

Resto Indonesia yang sudah cukup lama berdiri, Sederhana... kalau saya sih mikir dulu untuk masuk ke situ

Resto Indonesia yang sudah cukup lama berdiri, "Sederhana"... kalau saya sih mikir dulu untuk masuk ke situ

Jadilah aku dan Tina makan siang di Meguro, di sebuah restoran Yakiniku bernama Suien, tempat banyak orang Indonesia bertandang untuk makan siang. Dulu menu Lunchnya banyak dan murah. Sekarang tidak begitu banyak, yang murah hanya satu set, seharga 900 yen. Kami bernostalgia di restoran ini, karena dulu sering sekali ke sini dengan teman-teman satu gereja. Salah satunya Pak Nanang T. Puspito, ahli Gempa, temannya Pak Oemar Bakri. Sekarang semua sudah pulang ke Indonesia, atau pergi ke negara lain, tercerai berai. Tinggal kami berdua saja yang tinggal di Tokyo. Merasa sedih juga.

(set yakiniku seharga 900 yen. kanan lidah sapi, 1 piring 500 yen)

Satu yang paling aku suka dari restoran ini adalah…. tidak bau asap.  Biasanya retoran Yakiniku, tidak bisa tidak berasap. Sehingga kita harus siap untuk pulang berbau daging panggang. Tapi di restoran itu memakai sistem pengisapan asap yang terpasang di tempat panggangan. Cara untuk membuktikannya dengan merokok ke arah panggangan. Pasti asap akan lari, diisap ke dalam pangganggan.

Setelah makan siang, Tina ikut aku pulang ke rumah. Ini adalah permintaanku khusus, karena aku mau minta dia mengajarkan Riku bermain pianika. Ya, dari kami empat bersaudara, cuma Tina yang berbakat seni musik. Dia bisa bermain gitar dan piano (selain musik tentu saja bakat olahraga). Jadi ceritanya, pagi hari sebelum Riku berangkat ke SD, dia menangis tidak mau pergi. Katanya, “Aku tidak suka pelajaran musik. Aku tidak bisa bermain pianika (di Jepang namanya kenban harmonika). Apalagi kalau lagunya cepat.” Aku dan Gen berpandangan, karena kami tahu, kami juga benci pelajaran musik (kami berdua tidak bisa bermain musik). Tapi kami terpaksa menasehati, “Riku, semua harus dipelajari. Tidak suka tidak apa-apa. Tapi harus coba pelajari semua. Tidak usah jadi pandai. Mama tidak suruh kamu jadi nomor satu di bidang musik. Setiap orang kan punya bakatnya masing-masing, Mama ngertiiiiii sekali kalau kamu tidak suka musik. Mama juga tidak bisa baca not balok, tidak bisa bermain pianika. Tapi jangan hanya karena tidak bisa, semua pelajaran lain jadi korban kan?”

“Kalau gitu aku pulang saja ya waktu jam pelajaran musik?”
“Wahhh jangan, tidak bisa dan tidak boleh. Tidak bisa, karena Mama hari ini ada janji dengan Tante Titin. Tidak boleh, karena kamu harus ikut semua pelajaran. Gini aja, mama tulis di buku penghubung, minta pada sensei supaya Riku boleh duduk mendengar saja waktu pelajaran musik ya. Pasti sensei bisa mengerti”. Jadi deh aku menulis permasalahannya Riku, yang dia akui, bahwa kalau lagu yang lambat dia bisa memainkan pianika, tapi untuk lagu berirama cepat dia tidak bisa “mengejar”nya. Masalahnya hanya kurang latihan sebetulnya. Tapi aku tidak bisa melatih pianika…wong aku ngga bisa. Jadi aku tulis di buku itu, bahwa nanti setelah pulang sekolah, Riku supaya membawa pulang pianikanya dan berlatih dengan tantenya.

Dengan amanah” itulah Tina ikut pulang ke rumahku, menunggu Riku pulang sekolah, dan mengajarkan dia pianika. Padahal menurut cerita Riku, waktu jam pelajaran musik dia ikut bermain pianika, karena lagunya lagu baru (Yang akhirnya aku berkesimpulan gurunya sengaja mengganti dengan lagu baru, yang semua murid belum bisa, sehingga Riku tidak merasa ketinggalan. Memang karena Riku pernah tidak masuk selama seminggu selama sakit, jadi ketinggalan di pelajaran musik.  Duuuuh Chiaki sensei… I love you deh dong sih.

Untung saja Tina mengajarkan pianika. Ternyata ada juga peraturan cara memakai jari tangan yang benar bagaimana. Kalau aku pasti ajar asal-asalan, yang penting bunyi! hihihi.

berfoto dengan Riku yang sedang ngambek, di depan pintu penitipannya Kai

berfoto dengan Riku yang sedang ngambek, di depan pintu penitipannya Kai

Akhirnya jam 4:30 kami, Aku, Tina dan Riku bersama-sama naik bus, menjemput Kai di penitipan. Senang juga karena Kai masih mengingat Tina, dan panggil “Titin….”. Karena kami jarang bertemu, setelah itu kami “rendezvous” makan takoyaki dan es krim di gedung stasiun deh.

memperhatikan pembuatan takoyaki (octopus ball)

memperhatikan pembuatan takoyaki (octopus ball)

Terima kasih ya Titin…sudah mau mengajar anakku bermain pianika. Untuk yang satu ini aku memang angkat tangan.

Cemburu

Wah kalau udah berurusan dengan kata yang satu ini, hubungan dua manusia bisa runyam deh. Apalagi kalau dibiarkan, yang tadinya kecil…jadi besar besar mengembang dan meletus! Dooorr …. dan akhirnya semua tindakan yang dilakukan akan salah di mata yang cemburu. Entah dia itu perempuan atau laki-laki.

Nah, hari Rabu itu, aku a. g. a. k. cemburu… ngaku nih. Begini ceritanya.

Sudah sejak Jumat lalu, Kai tidak bisa ke “belakang”. Sembelit. Sudah upaya macam-macam tetap tidak bisa. Aku sempat bicara dengan guru di penitipannya, dan mendapat jawaban yang melegakan. “Tidak apa-apa kok bu, ada anak yang memang biasanya siklusnya 4-5 hari”. Tapi aku tahu pasti Kai juga menderita. Jadi aku putuskan kalau Hari Rabu sembelitnya tidak sembuh, aku akan ke RS. Selasa malam…menunggu…menunggu sampai pagi tidak ada tanda-tanda. Akhirnya jam 9 pagi, aku telepon ke penitipan memberitahukan bahwa kami akan terlambat, karena mau ke Rumah Sakit dulu.

Sudah bersiap-siap, kami turun ke bawah, ke tempat sepeda…. Nah saat itu Kai menangis sambil berkata, “Ma…pu pu”. Cepat-cepat deh aku naik lift ke lantai 4, kembali buka pintu dan ke WC. …. Lega deh… (sorry ya pasti ada yang bilang iiiih imelda…ginian aja diceritain hihihi)

Nah karena aku tahu Kai juga senang dan lega, aku peluk dia.
“Untung ya nak…bisa keluar.”
“Mmmmm ” (maksudnya iya)
“Yuk kita pergi…”
Shensei?” (Dia selalu berkata shen-sei bukan sensei… dan entah kenapa memang Kai suka sekali dengan penitipannya, sensei-senseinya)
“Hmmm … Kai sayang siapa? Mama atau sensei?”
“(Sambil liat aku) Shensei..”
“Hah? Kai ngga sayang mama?” Lalu dia cium aku.
Iseng aku tanya lagi, “Kai sayang siapa? Mama atau shensei?”
Lalu dia ketawa… diam
“Ayo …kai sayang siapa? Mama atau sensei?”
“Shensei”… (huh… menyebalkan sekali…. aku jadi teringat kalau pertanyaan yang sama diajukan pada Riku waktu kecil, dia PASTI menjawab Mama)
“Kaiiiiiiiiiiiiiiiiii….. Kai ngga sayang mama ya?”
Lalu dia cium aku lagi…
Gebleknya aku tanya lagi
“Kai sayang siapa? Mama atau sensei?”
“Mama…”
“Nahhhh gitu dong” Sambil aku cium-cium dia.

Betapa memang kita manusia akan bertanya terus pada pasangan kita, siapa yang dia cintai. Seakan tindakan saja tidak cukup. Cemburu. Dan jika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, kita akan terus bertanya, bertanya, bertanya… sampai mungkin pasangan kita itu muak dan berkata, “Ya aku cinta kamu kok” (padahal karena terpaksa tuh)…. Nah udah dijawab begitu juga biasanya masih marah  tuh kalo cewek!bilangnya… ngga tulus, karena musti ditanya dulu baru bilang…. hahahaha… Susah ya jadi laki-laki. Menghadapi perempuan yang cemburuan (tapi kejadian bisa kebalikan kok, cowonya yang cemburuan)

Kembali ke Kai, aku jadi berpikir saat itu. Memang aku jarang berduaan pergi dengan Kai, istilahnya ‘date’ kencan atau rendezvous deh. Bahkan mungkin tidak pernah! Selalu ada Riku. Sedangkan dengan Riku, aku sering pergi date berdua, makan es krim lah, takoyaki lah….

Jadi aku bilang pada Kai,
“Kai… mama to isshoni tabeni ikou ne… (Kai pergi makan sama mama ya?)”
“Ikou… (mari pergi)”
Cepat-cepat aku telepon penitipan dan membatalkan pergi ke sana hari ini. Aku mau ‘date’ kencan dengan anak kedua ku.

Akhirnya kami berdua jalan ke famires (Family restoran) dekat rumah. Dan menikmati date berdua. Sambil makan dia senderan ke aku, dan sesekali aku minta dia cium pipiku. Sayangnya, dia tetap tidak mau makan sayur yang kupesan. Kai memang tidak suka sayur, lain dengan Riku yang hobby makan sayur. Susah deh…gimana ngga mau sembelit kalau gitu? Akhirnya sebelum pulang ke rumah, aku dan Kai mampir ke toko konbini (convinient store) untuk membeli jus sayur dan buah.

Hilang deh cemburuku hari itu.

(Terima kasih pada Eka yang saking kepikirannya ikut membantu aku mencari artikel tentang sembelit. di sini :

http://papadanmama.com/2009/10/bagaimana-mengatasi-anak-susah-buang-air-besar-bab/ )

Maternity Blue

BUKAN…. bukan saya! Hehhee… Saya hanya mau bercerita tentang seorang teman yang sedang hamil , dan saya sudah minta ijin darinya untuk menuliskannya di blog.

Saya berkata padanya bahwa dia sedang mengalami “Maternity Blue”. Padahal sebetulnya “Maternity Blue” merefer pada kondisi depresi sesudah bersalin  atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Postnatal Depression. Karena dia dalam keadaan hamil, seharusnya disebut Prenatal Depression. Nah, cerita mengenai Postnatal Depression sering ditemui, tapi ternyata untuk Prenatalnya itu jarang (mungkin si ibu sudah melupakan kondisinya waktu hamil, dan lebih konsentrasi pada sesudah melahirkannya).

Kalau postnatal, memang sering seorang ibu mengalaminya. Apalagi anak pertama. Kondisi dia harus merawat bayi 24 jam sehari, capek, tidak bisa tidur karena setiap 2-3 jam si bayi bangun menangis dan minta menyusu, cucian bertumpuk, tidak bisa jalan-jalan sesukanya tanpa membawa si bayi. Belum lagi kalau di bayi menangis terus tanpa henti, tidak diketahui penyebabnya. Rasanya pengen jambak rambut sendiri dan lari. Tapi believe me, kondisi bayi sampai usia 1 tahun merupakan masa yang masih bisa dinikmati tanpa harus terus menerus bersama si bayi. Kita masih punya waktu yang cukup lama untuk mengurus diri selama si bayi tidur (yang cukup lama dan sering), karena seiring dengan pertumbuhan bayi, waktu tidur mereka berkurang…sehingga sulit sekali bisa melakukan sesuatu secara terpadu. Well, setiap masa sebetulnya mempunyai romantika tersendiri.

Tapi se -stress bagaimanapun sesudah bersalin, masih bisa dihibur dengan kehadiran si bayi sendiri. Kita masih bisa memandangi bayi yang lucu dan lembut, harum baunya itu. Tapi …..sebelum melahirkan? Adanya cuma kita sendiri! Si perempuan hamil, dengan perut besar, susah berjalan, tidak boleh makan dan minum sembarangan, belum lagi kalau merasa mual terus-menerus, tidak bisa cium bau ini itu…. semuanya harus dihadapi sendiri! Suami? ada tentu saja, tapi kan tidak di sebelah kita terus-terusan.

Nah, Temanku ini baru menikah 1,5 tahun dan tinggal di Jepang. Dulu di Jakarta dia bekerja dan selalu sibuk setiap harinya. Di Jepang? kalau tidak bekerja maka waktu seakan berdetik lambaaaaat sekali. Ditambah tidak begitu mengerti bahasanya.Saya perkirakan karena kesepiannya itu dia mengalami prenatal depression yang cukup parah. Ya, dia sampai menuduh suaminya selingkuh karena menemukan nama perempuan di HP nya.

Jadi, HP di Jepang, kalau memakai bahasa Jepang, sudah ada alternatif pilihan kata-kata yang akan dipakai. Semisal kita mau menuliskan arigato dengan hiragana, maka wakti kita mengetik ari…maka akan keluarlah alternatif arigato atau arimasu, arimasen…. kita tinggal pilih saja.  Kemudian jika kita satu kali menulis kata yang tidak ada di kamusnya HP itu, maka kata itu akan terekam. Misalnya sekali saya tuliskan imelda, maka akan timbul selalu sebagai alternatif waktu aku ketik i. Ini berguna untuk menyingkat waktu.

Kebetulan dia iseng mengetik kemungkinan nama-nama perempuan… nah keluarlah satu nama Fumiko. Langsung dia cecar suaminya…siapa ini? bla bla bla…. dan akhirnya dia sempat “ngabur” dari rumah sampai larut malam. Bingung deh suaminya nyari kemana-mana. Dan dia curhat padaku, dan mengatakan, “Mbak…. apa aku gila ya?”

Lalu aku mengatakan bahwa dia tidak gila…sumbernya cuma satu yaitu kesepian dan menjadi parah karena memang seorang ibu hamil lebih labil. Banyak faktor psikis yang membuatnya lebih labil. Mudah-mudahan sekarang dia sudah “tidak gila” lagi, dan bisa mengusahakan supaya tidak kesepian. (Nah, susah kan menjadi seorang ibu tuh….)

Sebagai tambahan dia cerita ke aku, bahwa dia pernah lupa tidak sengaja memasukkan HP suaminya ke dalam mesin cuci, tercuci dan rusak… Dan suaminya tidak marah (baik kan?) . Tapi dia bilang, “Mbak aku lebih baik dia marah, soalnya aku selalu dimarahin ibuku kalau salah. Kalau tidak dimarahi rasanya gimana gitu.” hehehe ….ada-ada saja kan. Tapi ya gitu deh, komunikasi akhirnya merupakan kata kunci.

Apakah aku pernah prenatal depression seperti dia? Ooooh pernah juga. Cuma sejak aku tahu aku hamil dan tidak bisa pulang kampung, aku mulai chatting dan menemukan teman-teman di dunia maya. Berasa seperti pulang kampung deh.  Waktu di YM bisa membuat room sendiri, bisa nyanyi-nyanyi, pasang musik, bahkan sampai buka kelas bahasa Jepang! Jadi soal depresi ngga terlalu menjadi masalah untukku. Dan aku memang masih bekerja terussss…

Tapi aku juga pernah melakukan “kebodohan” besar yang setara dengan mencuci HP hehehe. Begini ceritanya….

Aku masih bekerja terus 4 hari seminggu sampai kehamilan berusia 7 bulan. Jadi kadang aku tidak sempat bebenah dan mencuci baju. Apalagi sudah sulit bergerak dengan perut gendut. Jadi begitu  week end, aku rajin deh membersihkan rumah dan mencuci pakaian.  Nah, tiba deh Sabtu yang naas itu.

Karena aku environmentalis (cihuy) … jadi aku memakai sebuah alat yang namanya Bath Pump. Alat ini bisa menyedot air yang ada di bak mandi untuk direcycle dipindahkan ke mesin cuci melalui pipa yang tersambung dengan mesin kecil itu. Kalau mau gampang dan pakai cara primitif sih, cukup pakai ember, pindahin air dari bak ke dalam mesin cuci. Tapi aku hamil dan tidak boleh angkat berat-berat, jadi pakai alat itu. Seperti biasanya aku tinggalkan saja menyala, sambil mengerjakan yang lain, kemudian untuk beberapa wkatu aku akan kembali untuk matikan dan mulai menyalakan mesin cuci.

Tapi pagi itu aku lupa! Sering sih lupa tapi sebentar,  pagi itu aku bercakap-cakap di telepon dengan adikku (dia sebel juga sih seakan dijadikan penyebab kecelakaan itu). Jadi cukup lama sekitar setengah jam, aku tidak perhatikan ternyata selang yang seharusnya masuk ke dalam mesin cuci itu meleset dan jatuh ke lantai. Jadilah seluruh lantai banjir, dan baru kusadari waktu aku lihat air itu sudah sampai di dekat dapur! Ya ampun. …..

Cepat-cepat aku matikan mesin, tapi terlambat! Sudah terlalu banyak air di luar. Dan yang menjadi masalah…. aku tidak bisa mengepel. Wong untuk membungkuk saja susah, apalagi ngepel! Jadi aku cepat-cepat membangunkan Gen, untuk membantu aku mengepel.  Tapi sayangnya suamiku itu tidak bisa langsung ON kalau dibangunkan. Pasti butuh waktu satu jam dulu baru bisa “mengumpulkan nyawa”… bangun, ngerokok, ngelamun, ngerokok, minum kopi… lewat satu jam baru ok! start!.

Padahal itu kondisi kritis. Kalau tidak cepat-cepat dipel, bisa meresap ke lantai bawah (kami di lantai 4). Aku bilang, pakai saja handuk-handuk (yang cukup banyak itu)… tapi dia bilang…kotor masak handuk untuk ngepel! Loh? Kan ntar dicuci… lagipula bukan ngepel banget, hanya menyerap air yang banyak itu dan membuangnya ke kamar mandi. Dia maunya pakai koran. Aduh mak, koran kan lamaaaaaa….Kalau aku bisa jongkok mengepel, aku akan kerjakan itu sendiri, lebih cepat malah! Dalam hati aku kesal sekali, tapi … ya itu salah aku, kok dia yang harus kerjakan ….

OK, akhirnya setelah beberapa waktu banjir berhasil diatasi. Keringlah lantai kami. Lalu… “ting tong….”

“Ya …”
“Saya penghuni kamar di bawah…. di situ sedang banjir ya?”
“Eh… tadi iya, sekarang sih sudah kering”
“Ya tapi sekarang di kamar kami jadi bocor”
wahhhhh…akhirnya Gen pergi melihat ke kamar di bawah. Terrible!

Dari sela-sela langit-langit terdapat rembesan bocoran. Di kamar tamunya sofa sampai basah kena tetesan air. Pokoknya gawat deh. Kami langsung menelepon maintanance apartemen, dan segala perbaikan dilakukan oleh pihak perusahaan. Untung kami membayar asuransi jadi semua biaya ditutup oleh asuransi. Cuma malunya itu tidak bisa dihapus begitu saja. Gen membawa kue dan mendatangi mereka untuk minta maaf. Juga minta maaf karena aku tidak datang. Ya aku tidak datang karena perut mulai kram dan sulit jalan.

Tapi dari peristiwa itu aku juga tahu bahwa memang kita tidak bisa mengharapkan orang lain melakukan pekerjaan dengan langkah yang sama seperti kita. Jalan pemikiran orang itu lain-lain dan untuk itu perlu didiskusikan sebaiknya bagaimana. Seandainya aku pakai handuk-handuk yang ada dan berkata, “Ok kita buang saja semua handuk-handuk itu kalau sudah selesai”, mungkin kerugian tidak terlalu besar, atau malah tidak menyebabkan bocor pada tetangga di bawah. Apa yang kita bayangkan tidak akan bisa dimengerti tanpa adanya komunikasi. Dan ini berlaku untuk semua aspek kehidupan. Aku memang dulu pendiam, Gen juga sama. Jadi lebih banyak pakai telepati untuk bicara (uhuy) …. iya kalau pas sama yang dipikirkan. Kalau tidak? bisa runyam deh.

Karena itu bicaralah kalau ada pemikiran, masalah atau uneg-uneg. Karena kita tetaplah manusia yang punya perasaan dan pikiran dan kadang perasaan lebih dominan dari pikiran yang logik. Dan to tell you the truth… aku banyak belajar mendefinisikan pemikiranku dengan menulis di blog! So… keep on blogging deh teman-teman. Tentu saja yang sehat ya! heheheh.

Mau kasih tahu juga bahwa aku dapat award 500post dari Fanda. Aku tidak tahu harus diapakan award ini. Katanya sih harus diberikan pada blogger yang jumlah postingannya sudah 500. Nah…. karena saya tidak tahu berapa jumlah postingan teman-teman, harap lapor ya! Sambil menjadi PR juga bagi saya untuk mencari teman blogger yang sudah 500 postingannya.

Buat temanku yang sedang hamil yang menjadi inspirasi tulisan ini, sabar sabar aja yah. Jangan curigaan, dan komunikasikan terus dengan suami. Aku juga pernah bertindak bodoh menyebabkan banjir yang mahal. Tapi ya nikmati saja kehamilan kamu. Apalagi kalau si janin sudah mulai bergerak…lucu deh… bentuk perut kamu bisa mencang mencong hhihihi. (Ada tuh foto perut mencang mencong, ntar aku kasih liat yah …soalnya ngga bisa dipasang di sini 🙂 ) Dan aku juga siap kok jadi marriage counselor untuk kamu hahaha.

2 minggu sebelum melahirkan Riku bersama papa, mama, kiyoko dan tina adikku

11-02-2003, 2 minggu sebelum melahirkan Riku bersama papa, mama, kiyoko dan tina adikku

Oleh-oleh dari Rumah Sakit

Weleh emang selain obat dan penyakit, Rumah Sakit bisa kasih oleh-oleh apa? Ya, hari ini  saya mau menuliskan sesuatu yang saya dapatkan dari Rumah Sakit.

Setiap Rumah Sakit (bahkan Puskesmas) di sini, untuk bagian anak pasti menyediakan sebuah rak buku. Kadang ada yang menyediakan ruang untuk bermain, kalau memungkinkan, tapi kalau Rumah Sakit yang sempit paling sedikit ada satu rak buku berisi bermacam-macam picture book. Nah, saya senang membacakan bermacam-macam Picture Book kepada anak-anak saya, sambil melihat judul-judul yang ada. Wahhh memang Jepang surganya Picture Book deh, segala topik bisa dijadikan buku bergambar.

Saya memang pernah membaca dari jurnal mengenai Picture Book, tentang macam-macam  tema PB dari untuk anak-anak sampai orang dewasa. Dan saya rasa tema-tema yang amat sederhana untuk anak-anak itu menarik sekali. Sesuatu yang jorok atau tabu dibicarakan di Indonesia bisa dikemas menjadi menarik, dan di dalamnya diselipkan “pengetahuan” yang pasti tidak akan bisa masuk kepala jika diberikan di kelas. Karena diberikan dalam PB, bisa langsung dimengerti. Misalnya karena pernah membaca buku Kasabuta, Riku tahu kenapa keropeng itu terbentuk dan menjelaskannya pada saya setiap dia jatuh.

Inilah buku-buku Picture Book yang pernah saya temukan di Rumah Sakit selama menunggu giliran.(Baik yang kemarin waktu ke RS maupun yang dulu-dulu yang pernah saya rekam dalam kamera HP saya)

PB berjudul Hana no ana no hanashi, Cerita tentang Lubang Hidung, karangan Yagyu Genichiro. Dipenuhi dengan gambar yang lucu dan menarik, dan juga dijelaskan bagaimana terjadinya kotoran hidung atau upil.

PB hahaha no hanashi, “Cerita mengenai Gigi“, karangan Kako Satoshi. Seorang penulis Picture Book, yang pernah saya bahas dalam postingan “Anda Tahu PLTA Cirata“. Apa yang menyebabkan gigi berlubang dan sakit dijelaskan dalam gambar sehingga mudah dicerna oleh anak-anak.

Kedua Picture Book di atas mungkin masih “sopan”. Nah berikut tema yang mungkin akan dibilang…. iiiih imelda jorooookkk. hehhee Tapi manusiawi sekali, dan dengan bantuan PB ini malah orang tua akan mudah menjelaskan pada anak-anak.

Picture Book terjemahan dari bahasa Jerman, judul bahasa Jepangnya, Unchi shitanowa dareyo, “Siapa yang Berak”. Dengan buku ini, anak-anak bisa tahu bagaimana bentuk kotoran binatang yang berbeda-beda tentunya. Karena biasanya anak-anak tidak ada kesempatan melihat kotoran hewan secara langsung kan? Saya ingat dulu kalau minum jamu pil yang harus diminum 10 biji sekaligus, pasti ingat kotorannya kambing deh.

Buku ini masih membicarakan soal kotoran, tapi digambar asli oleh orang Jepang yang bernama Gomi Taro, seorang penulis PB yang terkenal. Buku yang berjudul Minna Unchi (1977), “Semua berak” itu sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa. Ya, buang air memang wajar dilakukan semua orang dan binatang.

Sebuah Picture Book lagi dengan tema ‘jorok’ karangan Cho Shinta berjudul ONARA, “Kentut”. Saya sudah lupa isinya bagaimana tapi cukup menarik.

Sayang saya belum bertemu PB tentang “kencing” karena ternyata waktu saya browsing, ada sekitar 60 buku yang menceritakan tentang membuang kotoran, tapi terbanyak memang mengenai buang air besar. BAK nya sedikit. Padahal saya pikir perlu sekali. Saya ingat, waktu toilet training untuk Riku, amat sulit. Karena dia melihat saya ke WC duduk…jadi sampai umur 3 tahun dia selalu duduk di wc rumah. Nah karena akan masuk TK di usia 4, saya buru-buru memberitahukan dia bahwa laki-laki harus berdiri, dan sambil memarahi papanya, menyuruh papanya mengajarkan cara kencing ala laki-laki yang benar. Kelihatannya sepele, tapi hal ini penting loh.

Jadi hampir tidak ada tabu dalam picture book di Jepang, semua bisa menjadi  bahan untuk menulis PB. Saya tidak tahu apakah di Indonesia ada pengarang PB yang berani menulis hal-hal seperti ini. Kalau terjemahan mungkin ada ya….

Jadi bumi diciptakan Tuhan dan manusia pertama adalah Adam dan Hawa....

Jadi bumi diciptakan Tuhan dan manusia pertama adalah Adam dan Hawa....

Nah, posting hari ini saya tutup dengan foto Kai yang membacakan buku untuk Riku. Biasanya kebalikan kan? Tapi tadi pagi waktu saya menyuruh Riku ke sekolah, dia masih mengeluh persendian sakit, dan sempat muntah karena batuk. Yah terpaksa saya meliburkan dia lagi, daripada dia belum sembuh benar ke sekolah dan menerima virus influenza. Malah lebih gawat lagi deh. Dan dengan demikian saya juga terpaksa minta ijin tidak mengajar hari ini (untung kemarin universitasnya yang libur karena ulang tahun pendirian Univ Waseda, jadi tidak perlu minta ijin). Saya kasih tahu Kai, “Kakak sakit, musti bobo”. Lalu dia mengambil buku (dan lucunya kenapa ambil Bible bergambar dan tebal hihihi) lalu dia membacakan untuk Riku. Bunyinya, ” Aaa u u u aa ooo ….. ” Jelas saja, dia belum bisa baca kok. Lagaknya aja tuh ….hihihihi.

Riku juga baik mau mendengarkan celoteh Kai yang tidak keruan

Riku juga baik mau mendengarkan celoteh Kai yang tidak keruan

Quality Time

Pagi hari Riku mengeluh kaki dan tangannya sakit. Aku ukur suhu badannya tidak demam, hanya 36,5. Ah pasti dia cuma mau bolos. Tapi, kemarin dia juga mengeluh kakinya sakit, sampai dia manja minta aku antar dia ke sekolah. Meskipun terlambatpun dia maunya pergi sama aku. Akhirnya kami sampai di sekolah pukul 8:30 persis anak-anak sudah menyiapkan pelajaran pertama, tapi guru belum ada karena selalu ada “pengarahn pagi” setiap pagi.

Karena kemarin dia juga mengeluh begitu, dan menurutnya hari ini yang sakit  lutut, tangan (siku) dan dagu, juga tenggorokan. Hmmm, mengingat kondisi sekolahnya yang sedang banyak murid sakit influenza, dan sakit di pergelangan merupakan tanda-tanda influenza, maka aku dan Gen putuskan supaya Riku tidak ke sekolah. Aku pergi mengantar buku penghubung (berisi sebab kenapa tidak masuk) ke sekolah dan Kai ke penitipan, sedangkan Gen mengantar Riku ke dokter.

Rupanya pas dia sampai di RS dan diukur demamnya ternyata sudah 38,1 derajat. Wah! Oleh dokter dia langsung mengikuti test influenza. Hasilnya negatif, jadi bukan influenza. Tapi, jika besok masih demam, maka harus ke RS lagi untuk ditest lagi.

riku diantar ke rumah sakit oleh papanya, dan aku menyusul setelah antar Kai

Riku diantar ke rumah sakit oleh papanya, dan aku menyusul setelah antar Kai

Yang mengejutkan waktu ambil obat di apotik, di pintu apotik tertulis, pasien atau keluarganya yang positif atau dicurigai mengidap influenza, jika mau mengambil obat influenza tidak boleh masuk ke dalam apotik, harus lewat pintu belakang, mengebel dan petugas akan ambil resepnya di luar. Tentu hal ini untuk mencegah penyebaran influenza terhadap pasien lain. Apalagi virus H1N1 ini menjadi “mematikan” pada pasien penyakit lain. Ada berita bahwa ada anak kecil berusia 4 tahun meninggal, karena virus ini bertambah ganas karena dia menderita pnemonia. Juga ada yang meninggal karena virus ini mencapai otak. Duhhhh… Kelihatan memang seperti paranoid, sampai di setiap sudut ada alkohol gratis segala, tapi memang kalau sudah terinfeksi, akan sulit ditanggulangi.

Jadi hari ini aku merawat Riku yang berada di rumah. Karena bosan tidur terus, aku sempat memberi ijin dia untuk menonton TV selama 1 jam di sore hari. Sesudah itu aku ajak tidur lagi, karena dia tidak mau ditinggal kalau aku jemput Kai di penitipan. Aku bohongi dia bahwa aku ngantuk mau tidur, dan kalau sudah bangun akan pergi sama-sama jemput Kai. Begitu dia tertidur, aku langsung cepat-cepat naik sepeda dan menjemput Kai, membeli es krim (di sini es krim boleh diberikan pada anak demam dengan tujuan menurunkan panas) dan pulang. Untung saja Riku masih tidur. Sedangkan si Kai panggil-panggil “Kakak…kakak”… “Sssshhh kakak bobo!” “Bobo?” dengan lirih Kai ikut berbisik. Duhhh gemes!

Dan…. waktu aku ajak Riku dan Kai tidur malam harinya, pertanyaan itu keluar dari mulut Riku.

“Mama… Riku akan jadi kakek juga ya?”
“Iya dong Riku…semua manusia kan jadi tua. Mama juga jadi nenek, Riku juga jadi kakek.”
“Jadi Riku juga akan mati dong?”
“Iya …kan manusia pasti akan mati” ia mulai menangis.
“Loh kenapa Riku?”
“Ya kalau mati kan ngga bisa main lagi, ngga bisa pergi-pergi lagi. ”
“Yah…namanya manusia…. memang harus mati. Kecuali benda, kalau benda tidak mati. Manusia, hewan, tumbuhan semua mati”
“Kalau begitu buat apa aku hidup? Aku lebih baik jadi benda saja”
“Kalau Riku jadi benda, Riku tidak bisa punya pikiran seperti tadi (hmmm susah nih). Riku tidak bisa bertemu dengan papa, mama. Karena Riku tidak bernafas, tidak bisa makan, tidak minum….”

“Manusia diberi kehidupan oleh Tuhan. Diberi nyawa. Karena itu kita harus bersyukur pada Tuhan. Memang dengan “hidup” itu kita merasakan senang, tapi juga susah. Merasakan sehat tapi juga sakit. Nah seperti Riku sekarang, Riku sakit kan? Dan saat sakit, ingin segera sembuh, dan merasa ingin sehat. Jadi bersyukur pada “rasa sehat” itu. Kalau Riku tidak sakit. Riku tidak bisa menghargai sehat itu gimana. ”

Sambil aku bercakap-cakap begitu dengan Riku, Kai ganggu terus. Ganggunya dengan tidur di atas Riku…mau manja. Terpaksa aku angkat dia, karena Riku sulit bernafas. Lalu aku tanya “Kai sayang Riku?” Duhhh si Kai langsung mencium pipi Riku…. how sweet.

“Riku tuh Kai aja sayang Riku. Mama juga sayang Riku. Mama melihat Riku begini, demam dan lemas begini. Rasanya mama mau minta penyakitnya Riku supaya masuk ke badan mama aja.”
“Kenapa? ”
“Biar mama aja yang sakit, dan Riku bisa sehat, nonton TV, makan yang enak….” Dia menangis terisak-isak…
“Loh kenapa?”
“Kok mama yang musti sakit?”
“Riku…. mama dan papa sayang Riku. Orang tua sayang anak-anaknya. Dan sedih kalau anak-anaknya sakit. Papa dan mama akan berusaha supaya Riku dan Kai jangan sakit, biar papa dan mama saja yang sakit.”

Aku juga tidak bisa menahan air mata, karena melihat Kai mengelus-elus kepala Riku yang sedang menangis. Memang dari sejak bayi Kai selalu ikut menangis kalau Riku menangis. Uhhh… bahagianya mempunyai dua anak yang mau saling mengasihi. Dan Kai juga melihat mataku yang berair, lalu berkata sambil memegang pipiku yang basah, “Mama… me (mata)”
“Iya Kai… ini namida (air mata)”

Sambil aku ganti popoknya Kai, aku lanjutin lagi deh kotbahku 🙂
“Riku dulu juga waktu kecil begini. Riku kan lihat waktu Kai lahir…. Kecil, tidak bisa apa-apa. Sekrang? jadi nakal begini. Riku juga sama. Mama tahu dulu Riku waktu lihat Kai lahir, Riku tidak suka sama Kai kan?”
Dia mengangguk.
“Karena Riku pikir mama dan papa akan lebih sayang sama Kai. Tapi ngga kan? Mama papa tetap sayang Riku. Malah sekarang Kai juga sayang Riku kan? Riku musti senang punya papa, mama, dan Kai. ”

Sambil aku belai kepala Riku, “Manusia itu lahir, jadi besar, SD, SMP, SMA, Universitas…. menikah, punya anak….jadi tua…lalu mati. Memang sudah begitu. Riku ingat juga kan film Lion King. Simba yang kecil …bapaknya mati…. trus Simba kecil jadi Raja trus punya anak namanya Simba juga. Namanya Circle of Life… memang harus berputar…” Uh mulai sulit menjelaskan tapi aku lihat dia mulai mengantuk. Dan Kai juga ingin dibuatkan susu.

Sekembalinya dari membuat susu, kudapati Riku sudah tidur. Kai menunggu susu, dan minum sambil tiduran. Aku berbaring di sebelah Kai, sambil pura-pura tidur. Karena aku lhat mata Kai juga mulai merem-melek. Tiba-tiba Kai berbalik menghadap aku, dengan muka tengadah, mata merem. Duuuh lucu sekali. Tanpa sadar aku tersenyum lebar, berpikir dia sudah tertidur. Tahu-tahunya dia melihat aku tersenyum, dan ikut tersenyum….dan akhirnya kami berdua tertawa terbahak-bahak sambil berpandangan. Duuuh kapan tidurnya dong. Aku mulai pura-pura tidur lagi, dan akhirnya si Kai tertidur lelap.

Banyak air mata tumpah malam ini, tapi aku melewati malam yang sangat membahagiakan…. bisa berbincang dengan ke dua anakku. Semoga demam Riku turun….ataupun kalau besok masih demam, semoga bukan influenza, hanya masuk angin biasa.

Kai mencoba pakai masker, yang cuma tahan 5 menit hihihi

Kai mencoba pakai masker, yang cuma tahan 5 menit hihihi

Penutupan Sekolah

Memang akhir-akhir ini di Jepang ada berita tentang sekolah yang ditutup, terutama SD, karena tidak ada muridnya. Ini merupakan imbas dari jumlah anak atau kelahiran di Jepang yang semakin sedikit, sehingga terpaksa untuk daerah tertentu yang jumlah murid usia SD nya tidak ada/sedikit sekolah ditutup atau dihentikan.

Tapi kali ini yang ingin saya bahas bukan penutupan sekolah secara permanen, tetapi hanya sesaat (temporary) dan merupakan keadaan darurat sehingga terpaksa ditutup. Istilahnya memang “Penutupan Sekolah” 学校閉鎖 gakkou heisa. Tapi mungkin untuk orang Indonesia bisa dipakai istilah “Meliburkan satu sekolah”. Dan mungkin di Indonesia tidak ada kebijakan ini, yang ada mungkin karena terpaksa, seperti yang terjadi di daerah yang menjadi korban bencana.

Di Jepang kebijakan penutupan sekolah ini ada dan terpaksa diambil sebagai tindakan untuk mencegah penyebaran penyakit atau wabah yang kemungkinan akan meluas melalui kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dua tahun yang lalu saya pernah mengalaminya di universitas akibat penyakit hashika (measles) yang melanda mahasiswa universitas. Konon angkatan tersebut waktu kecil tidak mendapatkan vaksin hashika, sehingga tidak mempunyai kekebalan terhadap penyakit hashika.  Measles pada orang dewasa ini dikhawatirkan bisa tersebar melalui kegiatan pembelajaran, sehingga banyak/ hampir semua universitas meliburkan kegiatan kuliah selama 2 minggu.

Nah, dengan adanya influenza jenis baru, yaitu  virus H1N1 atau yang disebut juga dengan flu babi, sudah banyak sekolah yang menutup/meliburkan sekolahnya terutama di daerah Kansai ( daerah sekitar Osaka, Kobe, Kyoto) Jepang barat. Dan hari ini (tanggal 19 Oktober) aku tercenung waktu menerima selebaran pemberitahuan dari sekolahnya Riku bahwa kelas 5, seluruh kelas dan kelas 6-1 ditutup/diliburkan sampai dengan tanggal 23 Oktober nanti. Meliburkan kelas lima keseluruhan disebut dengan Gakunen heisa 学年閉鎖 dan satu kelas 6 saja disebut dengan gakkyuu heisa 学級閉鎖. Memang tidak dikatakan akibat virus jenis baru ini, tapi memang di 3 kelas 5 sudah ada 8 orang terkena influenza dan demam seperti influenza diderita oleh 14 orang. Untuk kelas 6-1 ada 2 orang yang terkena influenza dan 5 orang demam.

Akhirnya….sampai juga di sekolah/daerah kami. Semoga penutupan kelas ini tidak menyebar atau memburuk dengan harus meliburkan satu sekolah 学校閉鎖.  Akibat penutupan kelas ini, kegiatan sore hari di sekolah juga dibekukan, sehingga otomatis anak-anak langsung pulang, dan menghabiskan waktu di rumah saja. Waaaah aku pikir, kalau sampai Riku musti libur…bagaimana nih dengan kerjaanku. Semoga ngga deh (Sambil membayangkan ibu-ibu murid kelas 5 dan 6-1 yang harus ‘melayani” anaknya di rumah sampai Jumat …duh…)

Padahal persis hari ini (tanggal 19 Oktober), di seluruh Jepang diadakan penyuntikan vaksin anti virus H1N1 yang diproduksi Jepang. Memang jumlahnya masih terbatas (1 juta orang), sehingga yang saya dengar dari berita, vaksin terutama diperuntukan bagi pekerja medis (dokter dan perawat), ibu hamil yang berisiko tinggi karena virus ini berbahaya untuk janin, dan anak-anak usia sekolah dasar. (Sudah ada korban beberapa orang anak karena virus ini jika komplikasi dengan penyakit lain akan menjadi penyakit yang parah dan sulit disembuhkan). Menurut kabar balita dan usia SD s/d kelas 3 akan menerima vaksin itu pada bulan Desember mendatang. Dalam tahun ini diperkirakan bisa diproduksi vaksin untuk 100 juta orang.

Kalau dipikir sistem yang cepat tanggap seperti ini memang merupakan ciri khas Jepang, yang selalu bisa memprediksi suatu masalah dan mengambil keputusan yang mungkin juga agak terlambat, tapi cukuplah untuk mencegah penyebaran sehingga tidak menjadi masalah akut. Yang pasti kami memang harus lebih menjaga kesehatan karena menjelang musim dingin, ketahanan tubuh berkurang dan kemungkinan terjangkit influenza cukup besar. Saya juga sekarang rajin sekali menggunakan alkohol yang disediakan di setiap sudut kampus tempat mengajar, sebagai salah satu pencegahan penularan penyakit.

Well, mencegah memang selalu lebih baik daripada mengobati.

Cita-cita

Jumat lalu sepulang dari kerja, aku menjemput Kai dan sambil mendorong baby-car dengan Kai di atasnya, aku menjemput Riku dari les bahasa Inggrisnya. Dalam perjalanan pulang, sambil berjalan dia berkata,

“Mama, nanti kalau besar aku mau jadi pelukis saja”
“Hmmmm…”
“Kan Riku suka menggambar”
“Ya, boleh tapiiiiii…. harus belajar semua, jangan cuma menggambar saja”
“Iya, nanti kan aku mau masuk universitas, belajar yang susah-susah, yang tidak diketahui anak SD”
“Iya…. Riku mau jadi apa saja boleh, tapi tetap musti belajar ya” .

Sambil aku ngedumel dalam hati…. jangan jadi pelukis kenapa ya? Pemasukannya tidak tetap. Iya kalau terkenal…kalau tidak terkenal mau makan apa? Masak bergantung pada orang tua terus sampai tua?.

Sesampai di rumah, pas aku lagi menyalakan komputer untuk online, Kai datang padaku membawa kamera kami yang lama. Cara pakai kamera ini memang agak rumit, sehingga dia tidak bisa pasang sendiri. Kalau yang baru, dia bahkan sudah tahu di mana tempat SD cardnya segala. Setelah aku ajarkan bagaimana-bagaimananya, dia pergi dengan mengambil foto semua yang dia lihat. Hmm untung digital, jadi nanti bisa dihapus. Kai juga sudah semakin besar….

Malam hari, anak-anak sudah tertidur, aku menemani Gen yang baru pulang untuk makan malam. Saat itu aku baru ingat bahwa Riku hari ini menerima rapor semester ganjilnya. Tidak ada kebiasaan orang tua murid mengambil rapor anaknya. Loh? Jadi, tidak ada pesan-pesan yang disampaikan oleh guru seperti waktu orang tua mengambil rapor di Indonesia?

Sebetulnya ada waktu orang tua murid bertemu dengan gurunya, yaitu waktu ada pertemuan per kelas antara orangtua dan guru hari Selasa sebelumnya. Selama satu jam, kami orang tua berkumpul di kelas, dan gurunya memberikan evaluasi kegiatan murid selama satu semester, termasuk kegiatan undokai yang lalu. Lalu menjelaskan tentang rapor murid yang diberi nama AYUMI. Seperti nama gadis Jepang memang, tapi ayumi itu bisa berarti “Langkah” juga. Jadi namanya bukan seperti  “Laporan Belajar” atau nama-nama keren lainnya, tapi “Langkah” yang memang kedengarannya lebih membumi, cocok untuk murid SD. Sehingga “AYUMI” (semestinya) tidaklah menakutkan.

AYUMI untuk kelas satu SD ternyata hanya dinilai dengan 2 nilai. Yaitu “Bisa” できる dan “Sedikit lagi” もう少し. (Kalau di Indonesia berapa nilai ya? Masihkah dengan angka maksimum 10?) Penilaian ini untuk 5 pelajaran yaitu Bahasa Jepang 国語, Berhitung 算数, Musik 音楽,  Prakarya 図工 dan Olahraga 体育, serta Kepribadian. Penilaian Riku untuk  semua bidang “Bisa” kecuali dalam bahasa Jepang untuk membuat kalimat dan membaca masih kurang. Hmmm memang seniman (pelukis) tidak berhubungan dengan kalimat dan membaca sih hahahaha. (Aku juga pusing euy membaca tulisan dia yang kayak cakar ayam… tapi aku juga introspeksi diri, mungkin ini gara-gara dia bilingual di rumah, sehingga kata-kata dia tahu, tapi untuk menyambungnya menjadi satu kalimat yang bagus agak kurang).

Pembagian nilai dengan dua saja dan kebanyakan diisi dengan “Bisa” seakan menjadi “penghargaan” bagi murid-murid yang baru saja 6 bulan menjalani kehidupan bersekolah. Sehingga untuk selanjutnya murid-murid tidak malu dan rendah diri dalam berusaha.

Dan di bagian akhir ada kolom “Pesan Sekolah kepada orang tua” yang memuat penilaian guru tentang Riku. Dan pesan gurunya itu membuat aku bangga pada Riku (cieee). Katanya, “Riku setiap pagi selalu masuk kelas dengan bersemangat dan mengucapkan Selamat Pagi (Di sekolah ini salam sangat dijunjung tinggi…kami pasti harus mengucapkan salam jika berpapasan dengan siapa saja…. senang deh). Waktu berlatih menulis hiragana, Riku menjiplak dengan rapih dan menunjukkan usaha menulis dengan rapih. Waktu melakukan kebersihan kelas juga berusaha sungguh-sungguh, dan sering terlihat waktu acara makan bersama, Riku bahkan membagikan piring dan makanan kepada teman-temannya dan memikirkan teman-temannya juga.” Wow… bangga deh… yang penting itu nak! Ngga usah pinter-pinter juga (ngga) apa-apa….hehehhe.

Jadi sambil makan dan membaca AYUMI itu, kami berdua tertawa dan membayangkan ….. dua anak yang MUNGKIN menjadi PELUKIS (Riku) dan KAMERAMAN (Kai) hihihi. Padahal namanya anak-anak…cita-cita bisa bergulir, berganti-ganti terus seperti sikat gigi yang dibuang jika sudah tidak bisa dipakai lagi.

Dan dalam hati aku berkata…”Masih bagus mereka punya cita-cita daripada kamu dulu mel, sama sekali tidak bercita-cita kan?”

Kai sedang menggambar pesawat. Loh kok bukan fotonya Riku? hihihi

Kai sedang menggambar pesawat. Loh kok bukan fotonya Riku? hihihi

Maaf

Baru saja aku menonton berita TV, sambil menemani Gen makan malam. Dalam berita itu ditayangkan sebuah balon udara yang melayang-layang tidak menentu di udara tanpa kemudi (Kejadian di Amerika). Tapi semua orang memperhatikan balon udara ini dengan cemas, karena dikatakan ada yang melihat seorang anak berusia 6 tahun yang tepat sebelum balon udara ini terlepas dari ikatannya, masuk ke dalamnya. Jadi diperkirakaan anak itu melayang tanpa kendali sendirian.

Tak kurang dari helikopter dan polisi mengejar-ngejar balon udara itu, dan akhirnya setelah melanglang (buana) mendarat dan berhasil ditangkap. TAPI… ternyata si anak tidak ditemukan….

Ternyata si anak, tidak ikut terbang bersama balon udara itu! Dia sempat turun dan karena takutnya bersembunyi. Dia takut dimarahi ayahnya.

Nah, tentu saja si Ayah waktu menemukan anak itu, langsung memeluknya, dan mendengar pengakuannya bahwa dia takut, dan mengatakan, “Maafkan ayah ya… kamu takut makanya kamu sembunyi ya…”Sambil mengecup anak itu di depan kamera televisi yang meliput.

Sebuah tindakan yang WAJAR sekali bukan? Tapi tindakan ini TIDAK WAJAR jika kejadiannya di Jepang. Jika di Jepang, si AYAH akan membungkuk menghadap kamera dan mengatakan, “Maaf kami telah merepotkan dan membuat keributan.” Tanpa ada usaha untuk memeluk si anak. Masyarakat umum lebih penting daripada si Anak. Dan terus terang hal ini yang membuat aku HERAN dan BENCI sifat orang Jepang yang ini. Memang aku tahu Jepang sangat mengagungkan kelompok daripada individu, tapi kok ya keterlaluan gitu sampai anak saja menjadi korban?

Mumpung lagi ngedumel, satu lagi yang sering mengganjal hatiku jika melihat berita tentang murid yang meninggal di sekolah, entah karena kecelakaan atau bunuh diri akibat bullying (ijime). Di situ pasti ada pihak sekolah yang mengucapkan maaf di depan media, karena kejadian yang memalukan itu bisa terjadi. Tidak jarang, setelah kejadian kepala sekolah yang bersangkutan mengundurkan diri dari jabatan, sebagai wujud tanggung jawabnya. Bagus memang, karena berarti sekolah amat sangat bertanggung jawab atas kegiatan muridnya. Tapi kalau meninggalnya di rumah, kok pihak sekolah juga yang harus meminta maaf? Seakan-akan jika anak sudah bersekolah, maka keluarga melepaskan tanggung jawabnya, dan seluruh tanggung jawab tentang anak ini berada pada pihak sekolah. Mungkin memang benar karena dilecehkan di sekolah, maka si anak mengambil tindakan nekat dengan bunuh diri di rumah, tapi…. kalau di rumah semestinya kan ada pihak keluarga, yang sebetulnya bisa juga mencegah si anak agar tidak bunuh diri?

Maaf, aku sudah mulai tidak fokus nulisnya, jadi aku hentikan saja di sini. Yang pasti aku masih merasa untung dan bangga menjadi orang Indonesia, yang masih lebih memperdulikan anak-anak ketimbang masyarakat. Karena pasti aku akan berbuat seperti ayah yang di Amerika itu.

Oden

Memasuki musim gugur, temperatur udara mulai menurun sehingga cukup membuat badan menggigil jika berpakaian tipis. Saat kutulis posting ini pukul 3 pagi temperatur sekitar 15 derajat celsius. Sambil kemulan selimut duduk di depan komputer, dan browsing menemukan suatu artikel berjudul “Isi oden apa saja yang disukai orang”.

Oden adalah semacam rebusan dengan memakai kaldu ikan dan ayam, berisi daikon (lobak), chikuwa dan sumire, (semacam bakso ikan dengan cara pembuatan yang berbeda), satsuma age (bakso ikan goreng berbentuk pipih), tahu goreng, tulang muda sapi, sosis, telur rebus, shirataki (semacam soun) , kulit tahu berisi mochi dan lain-lain. Semua bahan direbus dalam kaldu untuk waktu yang lama, dan tentu saja disajikan dalam keadaan panas. Oden ini selalu dijual di toko-toko konbini (convinience store) begitu musim mulai menjadi dingin.

menurut angket isi oden yang paling laku adalah Daikon (lobak), telur, chikuwa dan kulit tahu isi mochi... yummy

menurut angket, isi oden yang paling laku adalah Daikon (lobak), telur rebus, kulit tahu isi mochi dan konyaku (devil tounge) ... yummy

Kecuali sosis (jika ada), semua bahan oden yang dijual sebenarnya adalah halal. Tentu paling aman kalau masak sendiri, sehingga bisa memilih bahan apa saja yang dimaui. Bumbu oden instant juga banyak dijual di toko-toko. Tinggal rebus saja deh. Dulu aku pernah masak oden di acara bazaar kebudayaan Jepang di kampus UI, dan saat itu saya masukkan potongan ayam…. jadi deh seperti sup ayam hehehe.

Dulu waktu masih single,  kalau saya kangen bakso, saya akan membeli oden terutama sumire (bakso ikan) di konbini, dan makan panas-panas pakai sambal ABC (kalau orang Jepang biasanya memakai karashi, mustardnya orang Jepang berwarna kuning). Memang lain sih dengan bakso daging, tapi bisa sedikit mengobati kerinduan akan makanan tanah air. Sekarang? Kangen bakso sih tinggal buat sendiri hihihi (Jadi ingat Sigi yang tinggal di Mie, minta resep bakso. Sudah coba belum ya dia?)

Huh ngomongin makanan dini hari begini jadi lapar deh. Mendingan tidur dulu deh. Oyasuminasai! (Selamat tidur).