Arsip Tag: samurai

Matsumoto Castle

Sabtu 23 November lalu, Gen libur! Horreeeee…. soalnya jarang sekali Gen libur 2 hari weekend, sabtu dan minggu. Untung saja dia libur, kalau tidak pasti aku ngedumel. Tanggal 23  itu hari buruh (terima kasih kepada pekerja) kok malah masuk kerja 😀 Karena bisa libur 2 hari, kami bermaksud untuk jalan-jalan, doraibu (drive– menyetir) sambil momijigari (mencari daun-daun merah kuning musim gugur).

Tapi sampai sabtu pagi kami belum tahu akan kemana. Untung saja Gen terbangun jam 8 sehingga dia langsung mengatakan, “Yuk kita ke Matsumoto (Nagano)! Jam 9 kita pergi”. Haiyah aku langsung kelabakan deh, sambil siapkan sarapan onigiri, susis dan telur, aku bersiap-siap ganti baju Kai dan diri sendiri. Dan yah jam 9 lebih sedikit kami bisa berangkat.

Jalanan padat tapi tidak sampai macet, karena Matsumoto itu cukup jauh yaitu sekitar 222 km dari rumah kami, paling sedikit butuh 3 jam untuk sampai. Tapi tentu saja kami mau tidak mau mampir di beberapa parking area untuk istirahat ke wc. Dan tidak lupa aku membeli roti dan minuman. Untung saja, karena dengan makan roti itu kami bisa lanjut terus sampai Matsumoto tanpa harus berhenti makan.

Yang menyenangkan waktu kami berhenti di Futaba Parking Area. Dulu waktu musim ajisai dan lavender, kami bisa mendapatkan foto yang indah di situ. Dan kali ini kami bisa mendapatkan pemandangan gunung Fuji yang jelas sekali! Sayang cahaya matahari cukup kuat sehingga sulit untuk mengatur balance cahaya jika mau memotret manusia dengan latar gunung Fuji.

Gunung Fuji dari Futaba Parking Area

Karena hari begitu cerah dan sesekali kami bisa melihat pemandangan gunung Fuji, juga pegunungan Alps Jepang, kami menikmati doraibu kami. Aku beberapa kali mengambil foto-foto tapi karena dari dalam mobil yang bergerak, hasilnya kurang bagus.

Sambil menuju Matsumoto Castle, Gen sempat menyebutkan nama castle lain yang terletak hanya satu jam dari Matsumoto. Karena itu aku bilang supaya membatasi saja kunjungan di Matsumoto dan dapat dua castle. TAPI ternyata tidak bisa memperpendek kunjungan ke castle yang satu ini. Kenapa?

Matsumoto Castle dan bayangannya

Sebelum masuk areal castle itu saja pemandangannya sudah bagus. Castle itu dikelilingi parit/ kolam yang membuat bayangan castle di permukaannya. Indah! Riku memakai camera canon jeprat-jepret sana sini. Di luar saja cudah cukup lama kami melewatkan waktu.

Kemudian kami masuk ke areal castle itu dengan membayar harga tanda masuk 600 yen (dewasa) dan 300 yen (anak-anak). Dan tidak jauh dari pintu masuk ada dua orang SAMURAI dengan pakaian perangnya menawarkan diri untuk berfoto bersama dengan latar belakang castle. Senangnya kalau ada ‘service’ seperti ini, kami TIDAK perlu memberikan tip kepada mereka (tidak seperti di Indonesia, apa-apa tip). Mereka dengan senang hati melayani, meskipun waktu sore kami akan pulang, kami sempat juga melihat samurai duduk kecapekan (dan Gen memotretnya hehehe). Tentu saja karena pakaian perang itu memang berat kan.

Riku dan Kai bersama dua samurai beryoroi (baju perang)

Lalu kami masuk ke dalam castle yang juga disebut dengan Karasujou Crow Castle (Kastil Gagak) karena bangunannya dicat hitam semua. Di pintu masuk kami harus melepaskan sepatu dan memasukkannya ke dalam tas plastik yang telah disediakan, dan mulai antri untuk menaiki kastil tersebut. Perlu diketahui castle ini didirikan 1504 (akhir jaman Azuchi Momoyama, awal jaman Tokugawa)

bagian dalam kastil. Kanan bawah tempat mengintip ke luar

Haduuuuuh aku teringat waktu pergi ke Himeji Castle deh. Waktu itu aku amat sangat ketakutan memanjat tangga dalam castle itu. Dan di Matsumoto Castle ini bahkan LEBIH mengerikan karena sudut tangganya sangat curam, melebihi 60 derajat. Udah gitu sempit dan tidak bisa berlama-lama ragu naik atau tidak karena antrian padat. Tapi sebetulnya menaiki tangga curam itu masih lebih mending daripada menuruninya! Legaaaa sekali rasanya waktu berhasil keluar dari castle ini, sekaligus bangga aku tidak batal tengah jalan. Mungkin kalau 20 tahun lalu aku akan membatalkan naik (sampai di Basillica St Peters pun aku terpaksa menunggu di bawah karena takut naik :D), tapi sekarang aku punya satu tekad yaitu menunjukkan pada anak-anakku bahwa mama bisa! Tentu dengan harapan mereka juga tidak takut untuk mencoba sesuatu hehehe.

tangga yang curam

Kami keluar dari kompleks kastil itu menjelang pukul 4 dan bergegas pergi ke sekolah tua, Kyukaichi gakkou yang telah aku tulis di sini.

kastil dari dekat

 

 

 

Kamon

Setiap pagi aku mengambil koran dari selipan pintu apartemen kami. Kalau hujan koran itu pasti dimasukkan plastik. Dan kemarin aku langsung menggunting plastik itu dan mengeluarkan selebaran pamflet-pamflet promosi yang pernah aku tulis di Sepuluh Pagi.  Nah kali ini mataku tertaut pada sebuah selebaran yang menarik menurutku.

Selebaran tentang rumah masa depan.... Laaah rumah masa sekarang saja belum punya 😀

Selebaran itu adalah promosi rumah masa depan! Letaknya cukup dekat apartemenku. Seluas 0,56m persegi harganya CUMA 2.478.000 yen. Itu sudah termasuk ongkos pemakaian abadi, biaya pembangunan, batu nisan dan biaya pahatan tulisan + pajak. Ya…pamflet yang menawarkan kuburan/makam. Harganya bisa semahal itu karena terletak di pusat kota. Kalau mau cari yang murah harus cari di pinggir kota, atau kalau perlu ke daerah sekalian. Dan di tempat ini tertulis shukyou jiyu (agamanya bebas). Memang dulu orang Jepang pasti maunya dimakamkan di kuil Buddha, dan berarti dengan cara Buddha. Tapi orang Jepang modern sudah lebih bebas menentukan agama apa yang dipilih atau tanpa agama sekalian. Karena itu biasanya mereka membeli makam di pemakaman swasta yang tidak mempersoalkan agama. Biasanya yang membeli kuburan sendiri adalah anak ke dua dan ke tiga (dst) karena anak laki-laki pertama (dan keluarganya)  akan dikubur di makam keluarga yang turun temurun.

Nah yang menarik dari selebaran itu bukan promo makamnya tapi halaman belakangnya. Di situ tertulis : “Apakah Anda tahu KAMON keluarga Anda?

gambar-gambar simbol di belakang pamflet yang sama : Kamon

Bukan kemon yang sering diucapkan oleh Riku dari bahasa Inggris Come ON. Tapi Kamon 家紋 dalam bahasa Jepang yang berarti lambang keluarga. Sejak dulu keluarga tertentu memakai Kamon sebagai lambang garis keturunan, garis darah atau hubungan keluarga, bahkan status. Pada jaman Heian (th 794 – 1185), kaum bangsawan memakai lambang keluarga ini pada kegiatan sehari-hari seperti  baju, kuda, surat-menyurat, yang dilanjutkan secara turun temurun, dan ini dapat dikatakan merupakan awal mulanya kamon. Pada jaman setelah itu yaitu jaman Kamakura (1185 – 1333), kaum samurai menyebarkan pemakaian lambang ini untuk memperjelas perbedaan keluarga yang berpihak pada samurai atau yang merupakan musuh.

Pada jaman sekarang, lambang ini bisa dilihat pada kimono hitam di bagian leher belakang, atau pada makam keluarga yang dipahat di batu nisannya. Tapi memang keberadaannya mulai berkurang, bahkan banyak anak muda sekarang yang tidak mengetahui kamon atau simbol keluarganya. Memang kesannya feodal sekali, tapi rasanya kalau kita lebih melihat itu sebagai bentuk budaya, kita bisa terus melestarikan keberadaannya, bukan?

Nah, sambil mengumpulkan bahan untuk tulisan ini, aku langsung menghubungi ibu mertuaku untuk menanyakan lambang keluarga deMiyashita. Karena aku memang pernah melihatnya di kimono yang dipakai ibu mertuaku itu, dalam perayaan perkawinanku. Dan inilah lambang keluarga kami.

Kamon keluarga kami : Migimitsu Tomoe 右三つ巴. Baru sadar bahwa lambang ini sering digambarkan juga di Taiko (gendang Jepang)

Memang Jepang mempunyai banyak lambang-lambang. Aku tidak tahu apakah keluarga bangsawan Indonesia punya lambang-lambang tertentu. Yang aku tahu paling kesultanan Hamengkubuwono dan Pakubuwono punya lambang kerajaannya. Tapi selain itu aku tidak tahu, mungkin teman-teman ada yang tahu?