Arsip Tag: kimono

Kamon

Setiap pagi aku mengambil koran dari selipan pintu apartemen kami. Kalau hujan koran itu pasti dimasukkan plastik. Dan kemarin aku langsung menggunting plastik itu dan mengeluarkan selebaran pamflet-pamflet promosi yang pernah aku tulis di Sepuluh Pagi.  Nah kali ini mataku tertaut pada sebuah selebaran yang menarik menurutku.

Selebaran tentang rumah masa depan.... Laaah rumah masa sekarang saja belum punya 😀

Selebaran itu adalah promosi rumah masa depan! Letaknya cukup dekat apartemenku. Seluas 0,56m persegi harganya CUMA 2.478.000 yen. Itu sudah termasuk ongkos pemakaian abadi, biaya pembangunan, batu nisan dan biaya pahatan tulisan + pajak. Ya…pamflet yang menawarkan kuburan/makam. Harganya bisa semahal itu karena terletak di pusat kota. Kalau mau cari yang murah harus cari di pinggir kota, atau kalau perlu ke daerah sekalian. Dan di tempat ini tertulis shukyou jiyu (agamanya bebas). Memang dulu orang Jepang pasti maunya dimakamkan di kuil Buddha, dan berarti dengan cara Buddha. Tapi orang Jepang modern sudah lebih bebas menentukan agama apa yang dipilih atau tanpa agama sekalian. Karena itu biasanya mereka membeli makam di pemakaman swasta yang tidak mempersoalkan agama. Biasanya yang membeli kuburan sendiri adalah anak ke dua dan ke tiga (dst) karena anak laki-laki pertama (dan keluarganya)  akan dikubur di makam keluarga yang turun temurun.

Nah yang menarik dari selebaran itu bukan promo makamnya tapi halaman belakangnya. Di situ tertulis : “Apakah Anda tahu KAMON keluarga Anda?

gambar-gambar simbol di belakang pamflet yang sama : Kamon

Bukan kemon yang sering diucapkan oleh Riku dari bahasa Inggris Come ON. Tapi Kamon 家紋 dalam bahasa Jepang yang berarti lambang keluarga. Sejak dulu keluarga tertentu memakai Kamon sebagai lambang garis keturunan, garis darah atau hubungan keluarga, bahkan status. Pada jaman Heian (th 794 – 1185), kaum bangsawan memakai lambang keluarga ini pada kegiatan sehari-hari seperti  baju, kuda, surat-menyurat, yang dilanjutkan secara turun temurun, dan ini dapat dikatakan merupakan awal mulanya kamon. Pada jaman setelah itu yaitu jaman Kamakura (1185 – 1333), kaum samurai menyebarkan pemakaian lambang ini untuk memperjelas perbedaan keluarga yang berpihak pada samurai atau yang merupakan musuh.

Pada jaman sekarang, lambang ini bisa dilihat pada kimono hitam di bagian leher belakang, atau pada makam keluarga yang dipahat di batu nisannya. Tapi memang keberadaannya mulai berkurang, bahkan banyak anak muda sekarang yang tidak mengetahui kamon atau simbol keluarganya. Memang kesannya feodal sekali, tapi rasanya kalau kita lebih melihat itu sebagai bentuk budaya, kita bisa terus melestarikan keberadaannya, bukan?

Nah, sambil mengumpulkan bahan untuk tulisan ini, aku langsung menghubungi ibu mertuaku untuk menanyakan lambang keluarga deMiyashita. Karena aku memang pernah melihatnya di kimono yang dipakai ibu mertuaku itu, dalam perayaan perkawinanku. Dan inilah lambang keluarga kami.

Kamon keluarga kami : Migimitsu Tomoe 右三つ巴. Baru sadar bahwa lambang ini sering digambarkan juga di Taiko (gendang Jepang)

Memang Jepang mempunyai banyak lambang-lambang. Aku tidak tahu apakah keluarga bangsawan Indonesia punya lambang-lambang tertentu. Yang aku tahu paling kesultanan Hamengkubuwono dan Pakubuwono punya lambang kerajaannya. Tapi selain itu aku tidak tahu, mungkin teman-teman ada yang tahu?

Sudah Dewasakah Anda?

Sebetulnya apa sih ukuran kedewasaan seseorang? Apakah kalau dia sudah menikah? Atau kalau sudah bekerja? Atau sudah merayakan ulang tahun sweet seventeen… buktinya kalau ultah ke 17 biasanya dirayakan (besar-besaran)? Atau mengikuti aturan negara Paman Sam yang bisa nonton bokep adalah yang berumur 21 untuk X-rated film (eh bener ngga ya?…maklum belum pernah nonton sih …. uhuy). Atau kalau sudah masuk dalam daftar pemilih untuk Pemilu? Undang-undang yang menyatakan beda anak dengan dewasa bisa dilihat di Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA)  memaparkan dalam Pasal 1 bahwa anak adalah orang yang belum berusia 18 tahun. Jadi kalau berumur 18 tahun 1 hari sudah dewasa? Bahkan menurut saya umur 17 tahun sudah punya KTP, jadi semestinya patokan umur 17 tahun yang dipakai.

Lagipula dewasa itu juga tidak hanya ditentukan oleh umur. Bisa saja seorang anak sudah dewasa dalam bersikap atau kebalikannya seorang yang seharusnya sudah dewasa, masih bertingkah dan mempunyai pemikiran seperti anak-anak. Padahal sebetulnya tidak selalu bertingkah atau berpikir seperti anak-anak itu salah kan? Hanya saja agak aneh jika dilalukan oleh seorang yang bukan anak-anak.

Kenapa sih Imelda tiba-tiba bicara soal dewasa-dewasaan. Hanya satu sih sebabnya yaitu hari ini (tanggal 12 Januari 2009) di Jepang adalah hari Dewasa di Jepang. Seijin no hi 成人の日。Dan merupakan hari libur Nasional di Jepang. Tanggal Merah! Sampai dengan tahun 1999 dirayakan pada tanggal 15 Januari, sejak diberlakukan Happy Monday (2000) maka hari dewasa berubah menjadi hari Senin minggu kedua bulan Januari.

Menurut undang-undang mengenai hari libur nasional di jepang, dituliskan bahwa mendukung remaja yang menyadari dirinya telah dewasa dan berusaha hidup mandiri.  Setiap remaja yang telah berumur 20 tahun akan diundang oleh pemerintah daerah yang mengadakan upacara Hari Dewasa di tempat-tempat tertentu. Remaja Putri dan Putra akan datang ke pesta itu dengan memakai kimono atau hakama (kimono laki-laki. Kimono Furisode (berlengan panjang) dipersiapkan khusus untuk dipakai dalam upacara hari dewasa ini. Saya pernah mempunyai murid yang dibelikan kimono oleh ibunya seharga 1.000.000 yen. Memang sih kimono ini bisa dipakai lagi untuk event-event lain (meskipun jarang ada event yang mewajibkan memakai kimono) juga bisa dipotong lengannya sehingga dapat dipakai jika sudah menikah (lengan panjang khusus untuk perempuan muda yang belum menikah)

Umur 20 tahun di Jepang dinyatakan telah dewasa, dan ini berarti mereka boleh minum minuman keras (di tempat umum), boleh merokok dan boleh ikut pemilu.

Hatsumode – Sembahyang pertama

Tadi malam, kami tidak sempat mengikuti pergantian tahun lewat televisiNHK yang sedang menyiarkan acara “rutin” tahun baru Kohaku Uta Gassen 紅白歌合戦 (Kompetisi Lagu Merah-Putih) — sebuah kompetisi penyanyi kelompok pria (putih) dan kelompok wanita (merah). Kami juga mendengar tanda pergantian tahun yang dibunyikan dari kapal Hikawamaru di pelabuhan Yokohama. Juga tidak mendengar bunyi Joya no Kane 除夜の鐘, lonceng kuil Buddha yang dibunyikan sebanyak 108 kali. Angka ini merupakan perlambang dari dosa-dosa/nafsu manusia (bonno 煩悩).

Jadi setelah kami mandi/berendam di ofuro serta goro-goro malas-malasan, sekitar jam 12:30, saya, Gen, Riku dan Kai keluar rumah jalan-jalan. Tujuannya hatsumoude 初詣 ke kuil Jinja dekat rumah yokohama. Rumah mertua (selanjutnya saya bilang rumah kami saja, bahasa jepangnya JIKKA 実家 rumah asal, karena kelak kami akan menempati rumah itu secara turun temurun)  terletak di daerah perbukitan. Jadi kami harus melewati jalan naik turun tanjakan yang tidak terhitung jumlahnya. Untung pergi dengan Gen, kalau tidak saya harus menggendong baby car naik-turun tangga…. ogah deh… Yang pasti jangan coba-coba naik sepeda deh di sini.

(Ada rumah yang memasang bendera Nipponmaru, bendera Jepang menyambut tahun baru, kanan adalah penunjuk jalan menuju jinja Takada Tenmanggu)

*********************

Sampailah kita di Takada Tenmanggu, dan waktu melihat antrian… hmmm kami pikir tidak begitu panjang antriannya. Saya membeli Hamaya 破魔矢 (Panah mengusir kemalangan) untuk tahun 2009. Biasanya orang Jepang akan menaruh panah ini sebagai hiasan dinding. Waktu kami masuk ke komplek kuil jinja ini juga terdapat sebuah pembakaran Hamaya dan perhiasan tahun baru dari tahun yang telah lewat. Lumayan juga dnegan adanya pembakaran ini maka udara di sekitar tempat itu menjadi hangat.

*****************

Ternyata antrian yang kami kira pendek, lumayan panjang sampai ke tangga yang menuju ke lembah. Jadi Gen yang antri terlebih dahulu, saya dan anak-anak menunggu di dekat api dan yang terang terkena sinar matahari. Jika berada di bawah bayangan terasa sekali dinginnya udara luar.  Tadi sebelum pergi, Ta-chan bilang di luar hanya 10 derajat.

Sambil menunggu, saya memperhatikan orang-orang yang datang untuk hatsumode. Banyak pasangan muda yang bapaknya menggendong bayi yang terbungkus dengan baju tebal. Tapi ada satu pasangan manula yang menarik perhatian saya. Bapaknya pakai kimono untuk pria, dan wanitanya tentu juga memakai kimono…. kimononya berwarna hijau tua dengan obi (ikat pinggang) berwarna emas…. wah warna emas itu membuat saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari pasangan itu. Saya ikuti semua gerakan mereka, termasuk waktu mereka membeli omikuji おみくじ undian peruntungan.

(Pasangan manula yang menarik perhatian saya, kanan omikuji Riku yang artinya Untung Besar)

*********

Tak lama Gen sudah mencapai ke dekat tempat kami menunggu, jadi kami bergabung untuk ikut antri. Di pintu masuk JInja terdapat tiga lonceng besar dan sebuah kotak persembahan. Biasanya kami memberikan uang logam 5 yen atau 50 yen (yang berlubang itu) sebagai persembahan. Kemudian kami akan menggoyangkan lonceng dengan tali itu, dan menepuk tangan, serta menunduk. Selesailah doa cara shinto. Tapi saya agak kaget waktu akan kembali ke  arah datang, ternyata  di sebelah saya berdiri seorang Kannushi 神主 (pendeta Shinto). Duh sayang sekali tidak bisa berfoto bersama (dasar mikirnya foto mulu hihihi).

(Biasanya omikuji yang tidak begitu bagus diikat pada tali yang ada di jinja tersebut)

**********

Lalu kami membeli omikuji, undian keberuntungan. Dan Riku mendapat Daikichi 大吉 (Keuntungan Besar). Semoga benar ya Riku heheheh. Di samping pintu Jinja itu juga terdapat daftar tahun sial bagi orang-orang yang lahir tahun tertentu. Tahun ini adalah tahun sial untuk laki-laki yang lahir di tahun 1985, 1968 dan 1949 dan untuk perempuan bagi mereka yang lahir di tahun 1991, 1977 dan 1973. Dan untuk mereka yang memasuki tahun sial, biasanya akan membeli jimat penolak bala di jinja.

(kimono girls , kanan di depan kuil buddha– loncengnya berbentuk gong)

********

Dalam perjalanan pulang, kami melihat dua anak perempuan memakai kimono. hmmm memang lain ya kalau punya anak perempuan (tapi saya tidak ngiri bahwa anak saya laki-laki saja… karena… saya tetap yang tercantik di rumah saya hahahaha). Kami kemudian berjalan menuju kuil buddha yang berada dekat dengan jinja. Memang orang yang pergi ke kuil buddha untuk berdoa sedikit. Tapi dengan berdoa ke sini, saya mendapat kesempatan untuk ikut membunyikan lonceng besar kuil… wow… (saya ingat di hiroshima juga pernah tapi tidak boleh sampai bunyi…hanya untuk ambil foto saja). Meskipun sedikit yang antri untuk membunyikan lonceng kuil ini sebentar-sebentar terdengar bunyi lonceng …sungguh terdengar mistis.

Kami pulang melewati SD tempat dulu Gen bersekolah. Tahun ini SD Takada menyambut ulang tahun ke 134 tahun. Sedangkan SD Shakujidai, tempat Riku nanti bersekolah bulan April baru 33 tahun. Hmmm SD yang bersejarah.  Dengan melewati ladang penduduk, kami kembali pulang ke rumah kami, sementara Kai tidur terus sejak kami berdoa di Jinja tadi….