Arsip Tag: belanja

Santa + Minggu yang Sibuk

Minggu ini amat sibuk. Padahal hari Rabu tanggal 23 November ada hari libur loh. Ya, hari libur untuk menghargai buruh, kinrou kansha no hi 勤労感謝の日. Jadi semua libur. Tapi aku sudah mengayuh sepedaku pagi-pagi jam 7 pagi menuju Tsutaya, toko rental DVD. Kami harus mengembalikan DVD Pirates of Caribbean yang kami pinjam. Setelah memasukkan DVD itu ke dalam deposit box yang terdapat di depan toko, aku pulang. Hari itu kami tidak pergi ke mana-mana, benar-benar dara-dara (santai-santai) di rumah saja.

Eh, hari Kamisnya, pagi-pagi lagi, aku harus keluar rumah dalam dingin ke toko kombini (Circle K) dekat rumah untuk belanja buah! Jadi ceritanya si Riku harus membawa buah-buahan sebagai bahan menggambar. Aku memang tahu, tapi kapannya itu akan diberitahu kemudian oleh senseinya. Dasar Riku dia lupa memberitahukan aku sampai hari H nya. Untung toko kombini biasanya menjual jeruk atau pisang. Jadi deh mamanya pontang-panting cari buah sebelum dia berangkat ke sekolah. Kurasa yang seperti ini termasuk juga dalam “desk job”nya emak-emak!

Ternyata hari Jumat, hari ini berulang lagi deh kejadian pontang-panting di pagi hari. Bukan membeli sesuatu tapi membawakan kunci rumahnya Riku yang tertinggal di rumah. Setiap Kamis dan Jumat Riku harus masuk rumah sendiri sesudah pulang sekolah karena aku bekerja dan tidak bisa sampai di rumah waktu dia pulang. Jadi deh aku cepat-cepat mengantarkan kunci itu ke SD nya Riku sebelum mengantar Kai ke TK. Pagi-pagi udah buru-buru deh.

Sesudah selesai mengajar aku berbelanja di Kichijoji. Aku suka belanja daging di toko daging yang berada di situ karena murah. Nah hari ini aku baru sadar mengenai satu hal. Jadi kalau kami membeli daging/ayam kami menyebutkan jumlah gram yang diinginkan lalu dibungkuskan oleh petugas. Nah setelah daging itu dimasukkan ke plastik, mereka pasti membungkusnya lagi dengan kertas. Tadi itu ada ibu yang tiba-tiba berkata, tidak usah pakai kertas. Kupikir itu karena dia mau cepat-cepat saja. Tapi….. aku jadi berpikir juga, untuk apa fungsinya dibungkus kertas lagi, toh sudah dalam plastik. Kan bisa saja tempelkan harga di atas plastik. Hmmm…. jadi waktu giliranku, aku tanya pada petugas, kenapa sih musti dibungkus kertas lagi? Lalu jawabnya: “Ya supaya tangan pembeli tidak kotor”. Memang kadang plastik saja tidak menjamin tidak bocor. Jika bocor maka darah/cairan akan mengotori tas/ tangan pembeli. Dengan adanya kertas itu maka paling sedikit darah/cairan itu akan terserap dulu di kertas, sebelum mengotori tas/tangan pembeli. Hmmm satu lagi layanan penjualan ramah pasar Jepang, tapi belum tentu ramah lingkungan karena berarti menambah sampah kertas.

bungkusan plastik daging, masih dilapisi kertas lagi

Selesai belanja aku pulang naik bus, dan di dalam bus itu aku mendengar percakapan menarik dari dua anak SD berdiri dekatku :
“Santa Claus ada berapa orang ya? Kalau sakit gimana?”
” Pasti ada dua! Lalu bagi tugas negara ini Santa A yg itu Santa B. Kan ada 25 Negara!”
” Loh kan ada perbedaan waktu di setiap negara! Jadi sendiri juga bisa.”
geli juga mendengar pemikiran mereka tentang Santa Claus. Riku sendiri selalu bicara begini:
“Mama, Natal kali ini aku minta Santa Claus lego paket yang ini. Dari mama dan papa, lego paket yang ini…..”
Kemudian aku tanya
“Memangnya Riku percaya Santa Claus itu ada?”
“Eh? Kan Santa Claus itu orang tua kita sendiri”
“Kalau tau begitu, kenapa kok ada permintaan pada Santa Claus paket ini, dan mama papa paket ini? Itu kan berarti dua-duanya mama musti beli?”
“hehehehe” sambil tertawa culas. Duuuuuuuh “%#%$&%”&))’

Untung Kai masih belum mengerti soal Santa Claus, dan menggunakannya sebagai tameng minta hadiah yang banyak hihihi.

Ahhhh… aku juga mau minta hadiah pada Santa Claus ahhhhhh…. Apa ya? Rumah aja deh 😀

SPG? Umbrella Girl? Elevator Girl!

Sebetulnya aku belum mau menulis lagi, soalnya toh tidak ada yang baca juga. Semua sibuk mempersiapkan Idulfitri (INGAT! Harus disambung tulis Idulfitrinya hihihi) . Tapi biarlah mumpung masih hangat di otakku, lebih baik dituangkan saja. Daripada keburu lupa. Cerita mudik di Jakarta juga masih banyak yang belum diceritakan, dan sedang ditulis…mohon maaf tertunda lama.

Tadi siang aku pergi belanja. (laporan buk!) Naik sepeda ke arah stasiun, dan di tengah perjalanan aku menemui beberapa perkembangan baru.  Ada satu bangunan baru, yang tadinya sebuah rumah makan kecil, sudah dibangun menjadi rumah baru (ruko) dengan warna lumayan jreng. Kuning. Baguslah, berarti toko itu mengadakan “reformasi”.

Tapi waktu hampir mendekati stasiun dan mau menuju ke parkiran sepeda, aku kaget, karena lahan parkirnya sudah ditutup dengan pagar seng untuk konstruksi bangunan. Wahhh aku musti parkir di mana? Pantas tadi aku lihat banyak sepeda parkir di bawah tangga tempat yang sebetulnya tidak boleh parkir. Untung saja ada celah untuk memarkirkan sepedaku di depan supermarket. Ya sudah aku parkir di situ saja.

Nah, kemudian aku masuk ke supermarket itu, naik ke lantai dua dan dari situ aku pergi ke toko discount, toko murah yang menjual daging, sayur dan ikan. Setiap belanja “besar” aku pasti ke situ, karena harganya “miring” (murah kok dibilang miring ya? :D) . Dan…begitu masuk ke situ aku sedih… karena rupanya toko ikanku itu sudah tutup. Gulung tikar! Tempatnya dipakai untuk menaruh kardus-kardus berisi sayuran dari toko sebelahnya. Sedih! Di mana lagi aku bisa beli ikan yang segar dan bagus 🙁 Ahhh, mungkin toko itu terpaksa tutup karena banyak orang takut makan ikan teradiasi? Atau karena sedikit pembelinya (memang pembelinya lebih sedikit dibanding toko daging/sayur di sebelahnya). Suram deh hatiku 🙁 Padahal aku memang tidak berniat beli ikan hari ini, tapi kok tetap saja sedih.

Sesudah memilih daging dan ayam yang mau kubeli, aku mampir ke toko sayuran, membeli waluh, wortel dan jamur shiitake. Mau membeli ketimun, aku urungkan. Mahal ih… memang banyak sih, sekitar 10 buah seharga 310 yen, tapi aku tidak perlu banyak-banyak (tepatnya tidak bisa banyak-banyak karena belanjaan sudah berat). Harus tahan mata supaya bahan-bahan itu jangan malah jadi masuk tong sampah karena busuk.

Setelah selesai, aku menuju lift yang mengantarku ke lantai 2 dan menghubungkan dengan supermarket tadi. Dalam elevator itu aku dengar kata “elevator girl” itu. Setelah aku masuk lift, rupanya ada pasangan manula yang masuk sesudahku.
Si Bapak berkata: “Ayo elevator girl… tahan pintunya”
dan dijawab oleh si Ibu, “Siapa yang elevator girl?” (Sebetulnya itu juga pertanyaanku, karena aku yang pertama masuk. Masa dia bercanda denganku?)
“Omae deshou, 60 nen mae (Kamu kan, 60 tahun lalu)….
hahaha, aku jadi geli sendiri, dan membuat kau berpaling dan sambil tertawa aku bertanya,
“Deai wa erebeta no naka desuka?” dan si Ibu berkata,
“Bukan kok …” Sambil tertawa. Dan membukalah  pintu elevator itu, dan aku menahannya dan mempersilakan mereka turun duluan. Kulihat si Ibu jalan sedikit  tertatih dengan tongkatnya, sedangkan si bapak masih gesit berjalan dengan jarak 1 meter di belakangnya. Duh… kenapa jauh-jauh sih? Kadang aku suka gemes dengan kemesraan pasangan Jepang 😀 Mereka sama sekali tidak mesra!

Elevator Girl. Kita pasti akan bisa bertemu dengan mereka di Departemen Store terkenal. Mereka berpakaian seragam dan bertugas untuk menyambut tamu (dengan membungkuk) lalu menanyakan ingin ke lantai berapa, dan menghentikan di lantai yang dimaksud sambil membungkuk kepada (calon) pembeli itu. Mereka cantik-cantik! Padahal tugasnya hanya menekan tombol lift saja 😀 Begitulah pelayanan kelas satu dari Departemen Store terkenal. Aku tidak ingat apakah ada Elevator Girl di Indonesia, yang kuingat di Pasific Place adanya petugas laki-laki.

Aku tidak tahu seberapa populernya pekerjaan sebagai Elevator Girl ini. Apakah bisa menyaingi SPG-SPG yang kadang seksi-seksi (kalau pameran mobil dan motor tuh kan seksi-seksi loh. Eh ada nama khususnya ngga ya gadis-gadis motor show?) . Dan aku juga baru tahu bahwa ada istilah Umbrella Girl, setelah berteman dengan Mas Agustus Sani Nugroho. Dia pasti sering cuci mata tuh, dikelilingi gadis cantik pembawa payung setelah racing (tapi aku tidak khawatir karena mBak Cindy lebih cantik dan pintar!). Aku baru tahu 3 sebutan nih, apakah ada lagi Girl-Girl yang lain? Yang cantik-cantik dengan tugas yang (relatif)  ringan?

Sepertinya aku pernah memotret Elevator Girl, tapi sekarang susah carinya di antara begitu banyak file foto. Tidak berani pasang foto-foto dari internet, karena perlu minta ijin. Maunya sih pasang fotonya Mas Nug dengan salah satu Umbrella Girlnya…. nanti deh kalau Mas Nug berkenan ya hehehe. Jadi posting kali ini tanpa foto. Maafken 😀

 

Belanja

Menjelang kepulangan ke Tokyo, masih ada “tugas” yang harus aku lakukan, yaitu …belanja. Kok tugas sih? bukannya hobby? hihihi. Tapi memang aku tidak hobby belanja dalam arti, window shopping, pergi ke mall lalu jalan-jalan, masuk keluar toko, melihat barang, memegang, menimbang-nimbang, lalu melakukan transaksi. Ngga gue banget!

Karena kalau mau ke Mall, aku harus punya tujuan! Tujuan misalnya lunch/dinner dengan teman atau saudara, atau membeli buku atau gadget. Kalau kebetulan lewat, lirik sedikit dan memang aku perlu, nah barang itu musti bersyukur bahwa bisa masuk tas dan dibawa pulang. Kecuali memang barang itu aku perlukan dan cari sudah lama. Biasanya barang yang terbeli tanpa pikir panjang adalah buku dan CD. Jarang sekali aku bisa menemukan baju atau sepatu yang sesuai selera (dan ukuran) .

Biasanya di Jepang saya belanja baju di online shopping, yang size, model dan warna nya benar-benar beragam. Sepatu? yah paling satu tahun sekali, dan biasanya sudah pasti di satu toko, karena cuma toko itu yang menyediakan sepatu untuk size 39 ke atas. Buku? online laah… amazon.co.jp bahkan selain menyediakan buku, CD, peralatan rumah tangga seperti bohlam, batere, pampers dan susu pun bisa. Dan dijamin sampai keesokan harinya! Bahkan terkadang harga barang-barang yang dijual di online shop begitu lebih murah dari di toko. Yup, barang-barang itu tidak butuh pramuniaga yang menawarkan produk, tidak perlu toko untuk ditaruh dalam display mereka, paling-paling mereka hanya butuh gudang penyimpanan.

Nah, aku sudah merencanakan untuk belanja barang-barang seperti kopi, teh, bumbu-bumbu, snack bahkan cabe keriting (kalau bawang merah dan cabe rawit ada di Tokyo) dua hari sebelum kepulangan di supermarket besar dekat rumah. Tapi aku mau mau membeli buku. Ada beberapa buku yang masih aku cari dan perlukan. Dan tidak enak belanja buku sambil menggendong koala. Koalanya sendiri sudah berat, masih musti membawa buku-buku yang berat itu ke cashier lagi… Soalnya pengalaman belanja di Gramedia Grand Indonesia waktu sekalian ketemuan dengan teman-teman alumni, payah bener deh. Tidak bisa tenang memilih, meskipun aku akhirnya bisa beli beberapa buku melengkapi koleksi Pramoedya A.T yang aku belum punya.

Karena waktu sudah mendesak, akhirnya aku ambil jalan pintas. Mumpun masih ada waktu seminggu sebelum pulang, aku coba belanja buku online. Dulu sekitar tahun 2000-2004 aku selalu belanja di gramedia online dari Tokyo, minta dikirim ke rumah di Jakarta, lalu tinggal aku bawa waktu pulang. Waktu itu aku masih “kaya” dalam arti masih punya budget banyak untuk buku, punya waktu banyak untuk membaca dan memilih buku meskipun lewat online. Sering browsing di suratkabar online, sehingga tahu juga ada buku baru apa saja yang baru terbit. Tapi sekarang? sulitlah!

Jadi meskipun aku berada di Jakarta, akhirnya aku coba untuk belanja buku online. Karena kebetulan buku-buku yang aku cari adalah buku lama dan tidak ada di gramedia online, terpaksa aku cari toko buku online yang lain. Ada dua yang saya coba pakai, yaitu http://khatulistiwa.net dan http://bearbookstore.com. Padahal sebelumnya aku sempat mendaftar di sebuah situs online bernama Amartapura, karena tertarik situs itu menjual juga buku bekas/langka. Padahal setelah aku mendaftar, ternyata buku langka itu tidak ada stocknya hihihi.

Ok aku tidak mau menyebutkan apakah layanannya bagus atau tidak. Nanti aku terkena kasus seperti Prita lagi hihihi. But, pengalaman belanja online di situs belanja buku online di Indonesia memang membutuhkan kesabaran yang besar, yang tidak akan terjadi jika kamu membeli di situs belanja online besar macam amazon. co.jp.

Pertama, stock buku jarang diupdate. Sehingga meskipun di web dikatakan ada stocknya, pada kenyataannya tidak ada. Dari 9 buku yang saya sudah pesan di situs X, ternyata hanya ada 4 buku, dan itu diberitahukannya pada saat barang diantar. Well, OK lah, karena servicenya cukup bagus, biarpun 4 buku, mereka tetap mengantar sehari setelah pemesanan. Tapi berarti aku harus cari lagi 5 buku yang tidak ada itu kan? Dan itu butuh waktu lagi untuk browsing, padahal tujuan belanja online sejatinya untuk menyingkat waktu!

Di situs yang lainnya lebih parah. Dari 5 buku yang aku pesan pertama, tidak ada semua! dan itu diberitahukan lewat email DUA hari setelah pemesanan. Padahal juga sudah aku melakukan pemesanan kedua sehari setelah pemesanan pertama, yaitu 8 buku (selain yang 5 tadi loh) dan alhasil…. hanya ada SATU buku yang bisa diantarkan 2 hari setelah pemesanan kedua, dengan alasan buku yang lain masih ada di gudang, dan baru bisa diantarkan 5 hari lagi (memang ada hari sabtu/minggu/libur diantaranya)…. tapi aku kan sudah di Tokyo kalo begitu… Dan perlu diketahui 8+5 buku yang aku pesan itu semuanya berstatus “tersedia” loh! (Dan rasanya tidak mungkin dalam saat bersamaan ada yang pesan buku yang sama…. )

Amat KECEWA dengan pelayanan situs belanja online di Indonesia. Memang tidak bisa dibandingkan dengan pelayanan di Jepang misalnya. Tapi kalau tidak dibenahi, percuma dong punya website keren-keren tapi mental pelayanannya tidak mendukung. Dan aku juga jadi teringat bahwa aku juga tidak boleh mempercayai informasi tentang toko misalnya di website tanpa MENELEPON langsung. Karena dua kali kejadian aku tidak bisa pergi ke toko tersebut, karena info di website tidak lengkap (i.e. tokonya pindah). Not up-to-date deh intinya. Jadi perlu cek dan ricek deh.

Well, buku yang aku cari memang agak sulit, meskipun tidak semua buku lama. Buku aneh? mungkin bisa dikatakan begitu. Makanya aku senang sekali waktu Bro Neo mengirim sms sebelum acara Kopdar, isinya…”Mau dibawain apa dari Pare-pare? Kebetulan aku di Gramedia nih”. Langsung tanpa malu-malu aku bilang, “Kalau ada Bukan Pasar Malam dan Anak Bajang Menggiring Angin…mau dong dibeliin”. Akhirnya Bukan Pasar Malam (PAT) yang dibelikan Bro Neo di Gramedia Pare-pare sekarang ada di tanganku. Terima kasih loh Bro (dan aku tahu Bro juga terus mencarikan Anak Bajangnya setelah itu… terima kasih untuk waktunya)

Buku (dan CD) memang harus dibeli waktu diterbitkan! Jangan menunda-nunda (kecuali emang ngga ada duitnya)… Menyesal belakangan harus ditanggung sendiri.

Jadi inilah hasil panen aku selama liburan di Indonesia selama sebulan kemarin. Hasil belanja online + belanja di saat terakhir di Aksara, Citos bersama Yoga + hadiah buku dari Krismariana berjudul Jakarta 1950-an.

Masalahnya sekarang adalah … kapan bacanya ya? hihihi

(Catatan: Bukunya Alan Greenspan itu dari papa, katanya untuk Gen …rasain! hihihi baca deh buku setebel itu **grin**. Buku Rara Mendut itu sudah dibeli sejak Februari lalu, dan selalu “terpaksa ditinggal” karena koper sudah berat. Kali ini pun dia harus menjadi penghuni lemariku di Jakarta. Filosofi Kopi aku sudah baca, tapi karena buku pinjaman jadi aku ingin punya juga… beli deh. )

Kartu “celengan” a.k.a kartu fans

Dompet saya penuh Kartu!!! Uh sampai sulit ditutup. Kalau penuh duit sih seneng sekali, tapi ini KARTU, dan bukan kartu kredit juga atau Kartu ATM. Akhirnya terpaksa saya pindahkan semua ke dalam satu plastik kecil. Kartu ini namanya Point Card, Kartu untuk menyimpan point. Misalnya setiap 100 yen mendapat 1 point, Jika berbelanja 1000 yen, maka akan mendapat 10 point. Jika sudah terkumpul point sampai jumlah tertentu yang ditentukan oleh si Toko, maka kita bisa mendapatkan gift card, yang bisa ditukarkan dengan uang yang akan dikurangkan pada pembelian waktu itu. Sebetulnya sama saja sistemnya dengan diskon sekian persen, tapi diskon itu dipending dulu sampai waktu tertentu. Sehingga mau tidak mau, kita juga “dipaksa” menjadi fans untuk berbelanja lagi di toko itu.

Hampir setiap toko di Tokyo mengeluarkan Point Card semacam ini. Nah kalau kita suka ganti-ganti toko ya pasti kita mempunyai banyak Kartu seperti ini. Ada yang cuma terisi sedikit, karena ternyata kita tidak “kembali” lagi berbelanja di toko itu. Tapi ada pula yang sudah berapa kali ganti kartu, karena “tabungan” kita sudah terpakai dari point yang kita kumpulkan. Secara psikologis memang senang sekali waktu kita mendapat potongan harga dari apa yang sudah kita tabung sebelumnya. Saya sendiri belum melihat sistem ini dipakai di Indonesia (atau sudah ya?)  Selain hitungan persen dari jumlah belanja kita hari itu, mungkin bisa juga diterapkan penyimpanan uang kembali “recehan” yang selalu menjadi masalah di Indonesia, gara-gara dibayar dengan permen. Kalau bisa ditabung dalam kartu itu kan suatu waktu bisa mendapat uang yang lebih banyak yang sebetulnya uang titipan kita sendiri.

Memang sulit juga sih untuk memulai sistem kartu ini, karena perlu alat khusus atau program komputer. Meskipun ada juga toko yang mengeluarkan kartu sederhana dengan sistem cap…sekian banyak cap akan mendapat sekian yen. Saya sendiri tidak tahu berapa besar budget untuk pembuatan kartu-kartu  ini, tapi untuk menarik pembeli dan pemasaran jangka panjang, bagus juga mungkin ya?