Belanja

Menjelang kepulangan ke Tokyo, masih ada “tugas” yang harus aku lakukan, yaitu …belanja. Kok tugas sih? bukannya hobby? hihihi. Tapi memang aku tidak hobby belanja dalam arti, window shopping, pergi ke mall lalu jalan-jalan, masuk keluar toko, melihat barang, memegang, menimbang-nimbang, lalu melakukan transaksi. Ngga gue banget!

Karena kalau mau ke Mall, aku harus punya tujuan! Tujuan misalnya lunch/dinner dengan teman atau saudara, atau membeli buku atau gadget. Kalau kebetulan lewat, lirik sedikit dan memang aku perlu, nah barang itu musti bersyukur bahwa bisa masuk tas dan dibawa pulang. Kecuali memang barang itu aku perlukan dan cari sudah lama. Biasanya barang yang terbeli tanpa pikir panjang adalah buku dan CD. Jarang sekali aku bisa menemukan baju atau sepatu yang sesuai selera (dan ukuran) .

Biasanya di Jepang saya belanja baju di online shopping, yang size, model dan warna nya benar-benar beragam. Sepatu? yah paling satu tahun sekali, dan biasanya sudah pasti di satu toko, karena cuma toko itu yang menyediakan sepatu untuk size 39 ke atas. Buku? online laah… amazon.co.jp bahkan selain menyediakan buku, CD, peralatan rumah tangga seperti bohlam, batere, pampers dan susu pun bisa. Dan dijamin sampai keesokan harinya! Bahkan terkadang harga barang-barang yang dijual di online shop begitu lebih murah dari di toko. Yup, barang-barang itu tidak butuh pramuniaga yang menawarkan produk, tidak perlu toko untuk ditaruh dalam display mereka, paling-paling mereka hanya butuh gudang penyimpanan.

Nah, aku sudah merencanakan untuk belanja barang-barang seperti kopi, teh, bumbu-bumbu, snack bahkan cabe keriting (kalau bawang merah dan cabe rawit ada di Tokyo) dua hari sebelum kepulangan di supermarket besar dekat rumah. Tapi aku mau mau membeli buku. Ada beberapa buku yang masih aku cari dan perlukan. Dan tidak enak belanja buku sambil menggendong koala. Koalanya sendiri sudah berat, masih musti membawa buku-buku yang berat itu ke cashier lagi… Soalnya pengalaman belanja di Gramedia Grand Indonesia waktu sekalian ketemuan dengan teman-teman alumni, payah bener deh. Tidak bisa tenang memilih, meskipun aku akhirnya bisa beli beberapa buku melengkapi koleksi Pramoedya A.T yang aku belum punya.

Karena waktu sudah mendesak, akhirnya aku ambil jalan pintas. Mumpun masih ada waktu seminggu sebelum pulang, aku coba belanja buku online. Dulu sekitar tahun 2000-2004 aku selalu belanja di gramedia online dari Tokyo, minta dikirim ke rumah di Jakarta, lalu tinggal aku bawa waktu pulang. Waktu itu aku masih “kaya” dalam arti masih punya budget banyak untuk buku, punya waktu banyak untuk membaca dan memilih buku meskipun lewat online. Sering browsing di suratkabar online, sehingga tahu juga ada buku baru apa saja yang baru terbit. Tapi sekarang? sulitlah!

Jadi meskipun aku berada di Jakarta, akhirnya aku coba untuk belanja buku online. Karena kebetulan buku-buku yang aku cari adalah buku lama dan tidak ada di gramedia online, terpaksa aku cari toko buku online yang lain. Ada dua yang saya coba pakai, yaitu http://khatulistiwa.net dan http://bearbookstore.com. Padahal sebelumnya aku sempat mendaftar di sebuah situs online bernama Amartapura, karena tertarik situs itu menjual juga buku bekas/langka. Padahal setelah aku mendaftar, ternyata buku langka itu tidak ada stocknya hihihi.

Ok aku tidak mau menyebutkan apakah layanannya bagus atau tidak. Nanti aku terkena kasus seperti Prita lagi hihihi. But, pengalaman belanja online di situs belanja buku online di Indonesia memang membutuhkan kesabaran yang besar, yang tidak akan terjadi jika kamu membeli di situs belanja online besar macam amazon. co.jp.

Pertama, stock buku jarang diupdate. Sehingga meskipun di web dikatakan ada stocknya, pada kenyataannya tidak ada. Dari 9 buku yang saya sudah pesan di situs X, ternyata hanya ada 4 buku, dan itu diberitahukannya pada saat barang diantar. Well, OK lah, karena servicenya cukup bagus, biarpun 4 buku, mereka tetap mengantar sehari setelah pemesanan. Tapi berarti aku harus cari lagi 5 buku yang tidak ada itu kan? Dan itu butuh waktu lagi untuk browsing, padahal tujuan belanja online sejatinya untuk menyingkat waktu!

Di situs yang lainnya lebih parah. Dari 5 buku yang aku pesan pertama, tidak ada semua! dan itu diberitahukan lewat email DUA hari setelah pemesanan. Padahal juga sudah aku melakukan pemesanan kedua sehari setelah pemesanan pertama, yaitu 8 buku (selain yang 5 tadi loh) dan alhasil…. hanya ada SATU buku yang bisa diantarkan 2 hari setelah pemesanan kedua, dengan alasan buku yang lain masih ada di gudang, dan baru bisa diantarkan 5 hari lagi (memang ada hari sabtu/minggu/libur diantaranya)…. tapi aku kan sudah di Tokyo kalo begitu… Dan perlu diketahui 8+5 buku yang aku pesan itu semuanya berstatus “tersedia” loh! (Dan rasanya tidak mungkin dalam saat bersamaan ada yang pesan buku yang sama…. )

Amat KECEWA dengan pelayanan situs belanja online di Indonesia. Memang tidak bisa dibandingkan dengan pelayanan di Jepang misalnya. Tapi kalau tidak dibenahi, percuma dong punya website keren-keren tapi mental pelayanannya tidak mendukung. Dan aku juga jadi teringat bahwa aku juga tidak boleh mempercayai informasi tentang toko misalnya di website tanpa MENELEPON langsung. Karena dua kali kejadian aku tidak bisa pergi ke toko tersebut, karena info di website tidak lengkap (i.e. tokonya pindah). Not up-to-date deh intinya. Jadi perlu cek dan ricek deh.

Well, buku yang aku cari memang agak sulit, meskipun tidak semua buku lama. Buku aneh? mungkin bisa dikatakan begitu. Makanya aku senang sekali waktu Bro Neo mengirim sms sebelum acara Kopdar, isinya…”Mau dibawain apa dari Pare-pare? Kebetulan aku di Gramedia nih”. Langsung tanpa malu-malu aku bilang, “Kalau ada Bukan Pasar Malam dan Anak Bajang Menggiring Angin…mau dong dibeliin”. Akhirnya Bukan Pasar Malam (PAT) yang dibelikan Bro Neo di Gramedia Pare-pare sekarang ada di tanganku. Terima kasih loh Bro (dan aku tahu Bro juga terus mencarikan Anak Bajangnya setelah itu… terima kasih untuk waktunya)

Buku (dan CD) memang harus dibeli waktu diterbitkan! Jangan menunda-nunda (kecuali emang ngga ada duitnya)… Menyesal belakangan harus ditanggung sendiri.

Jadi inilah hasil panen aku selama liburan di Indonesia selama sebulan kemarin. Hasil belanja online + belanja di saat terakhir di Aksara, Citos bersama Yoga + hadiah buku dari Krismariana berjudul Jakarta 1950-an.

Masalahnya sekarang adalah … kapan bacanya ya? hihihi

(Catatan: Bukunya Alan Greenspan itu dari papa, katanya untuk Gen …rasain! hihihi baca deh buku setebel itu **grin**. Buku Rara Mendut itu sudah dibeli sejak Februari lalu, dan selalu “terpaksa ditinggal” karena koper sudah berat. Kali ini pun dia harus menjadi penghuni lemariku di Jakarta. Filosofi Kopi aku sudah baca, tapi karena buku pinjaman jadi aku ingin punya juga… beli deh. )

51 gagasan untuk “Belanja

  1. Tuti Nonka

    Hahaha … ternyata kalau soal belanja buku dan CD, kita sama Mbak .. kemaruk 😀 Cuma saya nggak pernah beli online, selalu ke toko buku langsung. Kemarin di Gramed Yogya ada sale buku, dari harga Rp. 2.000an sampai Rp. 20.000an. Ada buku “Rajawali Laut”, tentang pasukan udara AL RI, yang harga aslinya Rp. 225.000,- di-sale jadi Rp. 15.000,-. Langsung deh saya beli.

    Tapi kalau soal window shoping, kita nggak se’kubu’. Saya suka lihat-lihat tanpa berniat membeli baju, tas, sepatu, perhiasan. Ada kalanya nggak beli kalau memang nggak ada yang suka, tapi bisa juga beli selusin kalau ternyata ketemu yang cocok di hati … 😀

    Balas
  2. krismariana

    Ternyata pelayanan toko buku online di sini mengecewakan ya Mbak? Aku belum pernah sih. Kadang pengen juga, tapi aku menikmati menyusuri toko buku. Tapi jujur saja, aku jarang belanja buku di Jakarta, kecuali kalau ada pameran yg memberi diskon cukup lumayan. Kalau di Jogja ada beberapa toko buku diskon yang sekalian memberi sampul plastik pada buku yg kita beli. Jadi, aku biasanya menahan diri; pas pulang ke Jogja baru beli buku hehehe.

    Di Jkt ini, toko buku online sebenarnya cukup punya prospek bagus ya, mengingat banyak orang Jkt sibuk dan kemacetan ada di mana-mana. Tapi kalau pelayanannya mengecewakan, susah juga sih…
    .-= krismariana´s last blog ..Pelajaran Pertama tentang Bumi =-.

    Balas
  3. aurora

    beberkan saja lah mbak…. pelayanan toko online indonesia….

    biar kami juga tau, gimana sih, jajan online… lagian, kalo kena kasus kaya’ prita, kan keren juga tuh, sensasi tinggi….
    hehehe
    .-= aurora´s last blog ..bahkan gerimis pun menyaksikan =-.

    Balas
  4. mang kumlod

    Botchan, bagus tuh Mba.
    Wah beli buku Greenspan, dahsyat nih, mestinya gw yang beli tuh… 😛
    .-= mang kumlod´s last blog ..Nasyid Kocak =-.

    Balas
  5. nh18

    Hahaha borong buku ya EM

    Tak lupa (seperti biasa) di bumbui dengan kritikan pelayanan (walaupun tidak jadi )

    Ya maklum lah EM …
    Indonesia belum sehebat Jepang.

    Balas
  6. vizon

    wuih… mau buka toko buku di jepang ya nechan? kalap amat belinya… 😀

    toko online di indonesia memang belum sebaik di luar negeri, barangkali karena internet belum sepenuhnya menyentuh setiap orang. tapi, bila dibanding dengan setahun yang lalu, e-commerce sudah lumayan maju pesat lho di indonesia. semoga dari tahun ke tahun semakin lebih baik ya… 😀

    Balas
    1. suryaden

      pastinya saya harus ikut mbaca ini … penasaran banget sama buku itu juga…
      .-= suryaden´s last blog ..Masa lalu dan Politik Penyesalan =-.

      Balas
  7. Lala

    Kapan bacanya?
    huekekekekekeke…. aku ketawa dulu aaahh… Secara buku-bukunya ‘serem’ bener dan ga akan bisa dibaca yang sekedar selewatan.. 🙂

    ANyway,
    met baca, Sis! Bagi2 ceritanya aja deh…

    Balas
  8. dyah suminar

    waah…bagasi penuh buku ya mbak Imel.
    Kalau soal pelayanan,bunda sendiri sebagai orang bisnis,kadang malu melihat pelayanan di Indonesia.
    Juga belanja OL di Indonesia,masih belum se profesional di jepang atau negara maju lain..

    Balas
  9. Bro Neo

    revisi mbak EM,
    Gramedianya di Makassar, bukan di Pare Pare, di sini mah yang ada toko buku utk pelajaran sekolah, cari-cari buku umum gk ada.
    nah sekarang aku kalo ke “kota besar” semakin kalap deh kalo beli buku, dulu aja lumayan kalap, sekarang makin parah..

    tp spt krismariana, kalo di Jogja, gw pasti kalap bin kemaruk kalo ke toko buku yg diskon and kasih sampul itu 🙂
    .-= Bro Neo´s last blog ..Just wanna say… =-.

    Balas
  10. exort

    wah mba byk bgt bukunya, buku2 ‘berat’ pula..1 buku bisa ngabisin brp lama tuh tamatnya, saya masih punya 2 novel yg belum kebaca…uda susah bgt nyari waktu buat ngebaca
    .-= exort´s last blog ..nikmatnya =-.

    Balas
  11. DV

    Wah, Bukan Pasar Malam, seingatku adalah buku PAT yang paling disukai Romo Mangun, akupun juga suka, Imel!

    Beberapa waktu tinggal di sini tapi terus mengikuti perkembangan buku baru di tanah air, aku sempat tergiur untuk belanja online, tapi untung belum jadi terlebih setelah membaca postingan ini.

    Mending bersabar, menunggu pulang lalu membawa kembali buku2 baru ke Australia! 🙂
    .-= DV´s last blog ..Menyaksikan Disney on Ice =-.

    Balas
  12. Mami odi

    Hai mbak bk anak bajang mengiring angin itu bk lama yah,saya bacanya pas sma kls 1 kalau sekarang sy berumur 40 an berarti toe bk udh lama yah btw slam kenal yah .

    Balas
  13. Bang Aswi

    Gila-gilanya buku dilakonin waktu masih mahasiswa. Sekarang? Padahal dah jadi pekerja buku yang suka menulis. Hiks! Kadang suka rindu waktu jaman mahasiswa yang bisa bela-beli buku. Yang belum pernah saya lakukan adalah: belanja buku online. Heuhhh!
    .-= Bang Aswi´s last blog ..Komunikasi yang Sehat =-.

    Balas
  14. morishige

    begitulah, mbak. maklum, orang-orang belum terbiasa membeli buku secara online di Indonesia, mungkin karena itu juga penyedia layanan pembelian bukunya belum terbiasa juga..
    :mrgreen:
    tapi, lama kelamaan pasti pelayanannya makin baik. semoga aja..
    😀
    .-= morishige´s last blog ..Book: Negeri 5 Menara =-.

    Balas
  15. p u a k™

    Sini mbak kirim semua ke aku, nanti aku bacain..trus tak rekamin dengan suara merduku ini.. hehehe.. jadi The Reader dong..
    .-= p u a k™´s last blog ..Ketika pergi ke hutan.. =-.

    Balas
  16. whita K

    wihhh banyak bener bukunya..over weight ga tuh kemaren suitcase nya,,hehe

    Novel yang aku beli tahun kemaren juga belum dibaca2 tuh mba,
    .mudah2an ngga dimakan rayap..?! haha..

    Heheheh, ngga tuh. Kan kita bertiga jadi bisa max 70 kg.

    Aku juga masih banyak buku yang belum dibaca… panjang nih antriannya 😀
    EM

    Balas
  17. edratna

    Mungkin belum disadari bahwa banyak pencinta buku di Jakarta ini…karena sibuk dan macet dijalanan.
    Saya sendiri suka ke toko buku bersama anak ataupun sendiri jika waktu senggang, dan itu baru akhir-akhir ini setelah tak aktif kerja. Dulu? Sering banget nitip pada teman…atau malah suami yang suka punya waktu ke toko buku.

    Balas
  18. Ria

    wakakakaka…aku dah punya tuh buku rara mendut tapi mbakkk bener2 males bacanya, gila setebel itu 😀 wakakakaka…bagaimana kalo mbak imel baca duluan nanti bikin resensinya 😛
    kalau dirimu belinya bulan Februari, aku belinya akhir tahun kemarin…wakakakaka *parah bgt!!!*dan masih dibungkus dengan plastik 😛

    happy reading mbak 🙂 *walaupun gak tau sempetnya kapan* kekekekeke
    .-= Ria´s last blog ..What I’ve Got after 3 Years =-.

    Nah aku ngga bisa buat resensinya, krn ngga bisa baca…kan aku tinggal di Jakarta. Musti tunggu 1 tahun lagi tuh dia hihihi

    EM

    Balas
  19. Baju Tanah Abang

    Belanja buku memang menyenangkan tapi tergantung bukunya jua..tapi alo di obral lewat online shopp pasti lbi menyenangkan jadinya gak repot2 lagi nyarinya….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *