Keep it as a promise

14 Des

Sabtu 14 Desember, meskipun akhir pekan, aku harus pergi meeting antar dosen di universitas S tempatku bekerja. Tempat meetingnya bukan di kampus yang biasa aku pergi setiap Jumat, tapi di kampus dalam kota Tokyo yang terletak di daerah Kanda. Kepala urusan bahasa asing selain bahasa Inggris meminta maaf karena dosen-dosen mau datang dari tempat jauh, di hari libur dan di akhir tahun yang terkenal sebagai bulan sibuk, shiwasu. Apalagi di luar cuaca cerah sehingga membuat perasaan “bersalah” itu lebih besar karena merebut waktu libur yang sebetulnya mungkin bisa dipakai untuk jalan-jalan bersama keluarga.

Tapi hari ini deMiyashita juga tidak bisa pergi ke mana-mana, karena Riku ada sekolah sampai jam 12 (sebulan sekali mereka masuk hari Sabtu), dan mulai jam 1:30 dia juga harus mengikuti Sekolah Minggu untuk penerimaan sakramen pengampunan dosa dan latihan drama Natal. Besok adalah hari terakhir untuk Sekolah Minggu di tahun 2013, untuk libur sampai awal Januari. Besok juga akan diadakan perayaan Natal bersama, dan Riku harus bermain drama dengan teman-temannya. Jadi Riku dan Imelda sibuk dengan acara sendiri, sedangkan papa Gen dan Kai di rumah dan bagian antar jemput.

Pertemuan dosen kali ini memang perlu sekali aku hadiri karena universitas akan mengganti kurikulum pengajaran bahasa. Dan senangnya aku bisa bertemu dengan dua dosen bahasa Indonesia yang lain, yang belum pernah bertatap muka karena mereka mengajar di hari yang lain (Senin). Kesempatan juga untuk membuat jaringan komunikasi di antara kami.

Setelah pembicaraan yang cukup padat, kami kemudian berkumpul di lantai basement, di kantin universitas untuk mengadakan ramah tamah. Seperti biasanya pertemuan orang Jepang, kami mengelilingi meja yang sudah disediakan bir dan juice kemudian begitu ada tanda untuk menyiapkan minuman, kami membuka bir/juice untuk menuangkannya ke gelas orang lain. Di sini tidak ada yang menuang sendiri (dan “peraturan” seperti ini berlaku untuk acara minum-minum yang lain) begitu melihat gelas seseorang (biasanya atasan) kosong, kita wajib menuangkan minuman baru (bir) ke gelasnya. Setelah masing-masing memegang gelas berisi bir, pemimpin acara akan mengajak berkampai (toast).

Sambil minum, makan kami bercakap-cakap dengan teman-teman sesama dosen, baik yang mengajar bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Terus terang aku kehilangan kehadiran seorang teman dosen bahasa Spanyol, Sarah, yang tidak bisa datang hari ini. Tapi…. aku mendapat teman baru! Yeay….

Ya, waktu itu aku sudah bersiap akan pulang, tiba-tiba ada seorang dosen wanita “bule” dosen bahasa Perancis mendatangiku dan berkata, “Kamu bukan orang Jepang kan?” Hehehe, tentu saja bukan. Dia pikir aku mengajar bahasa Spanyol karena katanya mukaku seperti orang Spanyol. Begitu dia tahu aku mengajar bahasa Indonesia, dia senang, dan memberitahukan bahwa dia tinggal dekat Sekolah Indonesia Meguro! Wah, itu kan wilayahku juga hehehe.

Dia merasa senang universitas ini mengajarkan bahasa Indonesia karena dia pikir memang bahasa Indonesia memang perlu dipelajari, meskipun bahasa Indonesia sendiri tidak termasuk bahasa major di dunia. Lalu dia tanya, bahasa Indonesia susah tidak? Aku katakan tidak susah, karena tidak perlu tulisan khusus seperti Arab atau Thailand. Lagipula pelafalannya mendekati bahasa Jerman. Lalu dia bilang, “Ya saya mengajar bahasa Perancis, tapi sebenarnya saya berasal dari Belgia, dan di Belgia juga memakai bahasa Belanda. Ibu saya bicara bahasa Belanda”. Jadilah kami berbicara bahasa Belanda (dia yang bicara sih, aku cuma menimpali sedikit-sedikit hehehe), padahal awalnya kami memakai bahasa Inggris :D.

Satu lagi persamaan kami berdua adalah kami menikah dengan orang Jepang dan beragama katolik. Masih banyak yang mau kami bicarakan, tapi acara ramah-tamah sudah harus disudahi. Aku menanyakan apakah dia tahu restoran Cabe di jalan Meguro, dan ternyata dia tidak tahu. Karena itu dia berkata, “Imelda, Keep it as a promise. We will meet again at the Indonesian Restaurant. I wont go there without you. Give me your email address, and we’ll set  the date around January!”

Dan sambil berjalan ke arah stasiun dia bercerita bahwa dia baru saja membeli CD lagu anak-anak berbahasa Belanda.
“Tot Ziens Imelda”….
“Tot Ziens Suzanne….”
“Wait, how you said Tot Ziens in Indonesian?”
“Sampai jumpa….”
“Oh I should learn Indonesian”
“No need, lets speak in Dutch and bring back our memories of our mother…..”

Dan ya, bertemu dengannya membuatku ingat pada alm. mama dan alm. Oma Poel.
Suzanne sepintas mirip oma Poel!

(Tadinya aku mau pasang fotonya di sini. Tapi meskipun aku sudah minta ijinnya, aku urungkan. Biar ceritanya saja yang kubagi ya…. pertemuan hari ini menghasilkan seorang teman lagi!suteki )

Kuromon (Gerbang Hitam) simbol universitas ini. Di depan sini aku berpisah dengan Suzanne…. Tot ziens!

10 Replies to “Keep it as a promise

  1. Senangnya ketemu teman baru yang langsung “Klik”…ini tak mudah, tapi begitu menemukan senangnya bukan main.
    Nanti cerita kalau sudah ketemu makan-makan ya Mel…

    Maaf nih, akhir-akhir ini jarang BW, sesekali cuma baca aja….
    soalnya lagi jadi pengacara (pensiunan sibuk acara)…..:)

  2. Terharu Mba Em. Apalagi pas bagian:

    “Tot Ziens Imelda”….
    “Tot Ziens Suzanne….”
    “Wait, how you said Tot Ziens in Indonesian?”
    “Sampai jumpa….”
    “Oh I should learn Indonesian”
    “No need, lets speak in Dutch and bring back our memories of our mother…..”
    ….
    Huks..
    Semoga lancar bisa ketemuan nanti di Januari ya Mba…

  3. senangnya nambah teman baru….asik yah kalau ketemu orang baru yg seidaknya banyak atau ada persamaannya dengan kita….ga sabar nunggu cerita makan di resto indonesia nih.

  4. Bertambah teman …
    artinya wawasan kita siap bertambah …
    karena pasti ada hal yang dia tau … tetapi kita belum tau … demikian pula sebaliknya

    Salam saya EM

Comments are closed.