Arsip Bulanan: Januari 2014

Ingin begini Ingin begitu

Lagu Doraemon versi bahasa Indonesianya memang seperti ini

Aku ingin begini
Aku ingin begitu
Ingin ini Ingin itu banyak sekali~~~~

Padahal bahasa Jepangnya
こんなこといいなできたらいいな
こんな夢あんな夢いっぱいあるけど

yang terjemahan langsungnya menjadi
Kalau bisa begini bagus ya
Mimpi ini mimpi itu, banyak sekali

Memang kita harus punya banyak mimpi, karena mungkin saja suatu waktu kelak mimpi kita bisa terwujud.

Sejak kemarin, TV Jepang meliput tentang pengumuman bahwa telah ditemukan teknologi baru yaitu sel punca baru yang diberi nama STAP saibou (Stimulus-Triggered Acquisition of Pluripotency cells). Kalau sebelumnya Prof Yamanaka Shinya telah menemukan iPS Saibou dan menerima Nobel, kali ini yang menemukan STAP Saibou adalah seorang wanita berusia 30 tahun yang bernama Haruko Obokata. Kalau kesan ilmuwan itu orangnya suram, tidak menarik, maka Ms. Obokata itu jauh dari kesan itu. Dia seorang wanita yang cantik dan pandai berdandan. Berita dalam bahasa Indonesianya bisa baca di sini.

Ms Obokata yang kawaiiiiii (ambil dari yomiuri.jp)

Aku ikut bangga mendengar bahwa dia merupakan lulusan Jurusan Kimia Terapan Fakultas Sains dan Teknik Lanjutan Universitas Waseda, meskipun tentu bidangnya lain sekali. Yang dia temukan ini berasal dari penelitian bertahun-tahun dan secara mudahnya : bagian sel limpa diberi rangsangan cairan asam, maka dalam jangka dua-3 hari akan terlihat perkembangan sel yang mempunyai fungsi seperti jantung dan berkembang. Memang baru dicoba pada tikus, tapi jika penelitian selanjutnya berhasil, bisa jadi ibu-ibu yang tidak bisa mempunyai anak karena sakit atau  hal lain sehingga rahimnya tidak bisa menghasilkan sel telur, dengan cara ini bisa mempunyai anak. Jadi mengubah pandangan bahwa anak hanya bisa dibuat dari sel telur. Memang mimpi Haruko Obokata ini untuk membantu reproduksi manusia secara klinis. 

Bagan perbandingan STAP cell dengan iPS cell.(sumber mainichi.jp)

Membaca berita ini aku merasa kagum pada Ms Obokata. Sudah cantik, pintar dan masih muda lagi. Semoga saja penelitiannya bisa berhasil. Dan selanjutnya seperti biasanya televisi akan meliput tentang diri Ms Obokata sendiri, seperti apa kesukaannya, bagaimana fashionnya dsb. Satu yang menarik bagiku, di TV diliput bahwa dia suka membaca, sejak kecil. Dan waktu SMP ada sebuah buku yang sangat membuatnya berpikir. Judulnya “小さな小さな王様Chiisana chiisana Ousama” yang setelah kucari judul aslinya dalam bahasa Jerman: Der kleine Koenig Dezember (2002) yang dikarang oleh Axel Hacke. Cerita tentang seorang raja yang semakin bertambah tua semakin mengecil, dan akhirnya hilang saking kecilnya. Suatu kebalikan dari pemikiran umum bahwa kalau kita berkembang pasti menjadi besar. Tapi dengan pemikiran bahwa semakin tua kita akan mengecil dan menghilang, mungkin membuat kita menyadari bahwa kita HARUS berusaha sekeras mungkin SEKARANG jangan menunggu sampai kita lenyap dari pandangan orang lain. Pandangan ini membuat Ms. Obokata melakukan penelitian yang sepertinya tak ada ujungnya.

Dan memang buku ini menjadi best seller di Amazon JP, ntah karena Ms Obokata membacanya sehingga semua mau membaca, atau mungkin sudah lama buku ini merupakan buku yang layak dibaca. Ingin aku menyuruh Riku membacanya, tapi dia mau tidak ya? karena sekarang dia lebih suka membaca buku berlatar sejarah dengan samurai-samurainya 😀 Mungkin aku akan membeli buku bahasa Inggrisnya dulu, karena aku tidak suka membaca buku terjemahan ke dalam bahasa Jepang. Sedapat mungkin aku membaca buku aslinya, tapi untuk membaca bahasa Jerman langsung… mungkin buku itu akan menjadi penghuni sudut lemari hehehe. (FYI buku bahasa Jepangnya seharga 1360 yen, sedangkan buku bahasa Inggrisnya 840 yen 😉 )

Little King December by Axel Hacke. Diambil dari amazon.jp

Senang sekali bisa mendapatkan semangat biarpun sedikit dari Ms Obokata, di sela-sela berita ekonomi dan politik yang tidak begitu bagus di Jepang. Yuk mari kita bermimpi yuk…. dan berusaha tentunya.

Mereka Tetap Belajar

Tentu ada yang sudah membaca tulisanku mengenai pak Watanabe dalam tulisan “Belajar Sampai Mati”. Mantan muridku yang meninggal dalam usia 96 tahun dan sampai detik-detik terakhirnya masih membaca buku-buku bahasa Indonesia padahal belum sekalipun dia pergi ke Indonesia. Banyak yang bertanya mengapa orang Jepang  mau belajar bahasa Indonesia? Well, tentu setiap orang mempunyai alasannya. Ada yang mau bercakap-cakap dengan kekasihnya yang orang Indonesia, atau hanya mau bercakap-cakap dengan penduduk setempat, atau untuk mahasiswa biasanya untuk SKS. Tapi ada pula yang belajar bahasa Indonesia hanya karena mau belajar. Itu saja….. seperti pak Watanabe.

Setiap Selasa pagi, mulai awal Januari sampai akhir bulan Maret nanti, aku mengajar di sebuah Balai Desa (kota?) di sebuah pemerintah daerah atau sebut saja kelurahan yang berjarak 10 km dari rumahku dan bisa dicapai dalam waktu 15 menit naik mobil. Kuliah umum ini diadakan oleh kelurahan sana dan bisa diikuti oleh warga kelurahannya dengan gratis. Rencana mengadakan pelajaran bahasa Indonesia tingkat dasar  ini saja menurutku sudah hebat, karena masuk dalam program kelurahan yang dibiayai pajak tentunya. Pajak yang dikumpulkan dari rakyat, dikembalikan lagi dalam bentuk mengadakan pelajaran yang bermanfaat. Tapi yang lebih hebat lagi adalah pesertanya.

Ada sekitar 13 orang yang terdiri dari 12 wanita dan 1 pria lansia yang mengikuti pelajaranku ini. Semuanya tinggal di sekitar daerah itu, dan beragam pekerjaannya. Ada yang pegawai honorer, ada yang pensiunan, ada yang ibu rumah tangga. Awalnya dengan takut-takut mereka mengikuti kelasku, takut karena belum pernah belajar bahasa asing. Aku pun tahu bahwa mereka perlu diberikan semangat untuk menyukai bahasa baru ini, jangan sampai merasa putus asa. Sambil mengajar, kadang aku berpikir, “Kok orang-orang ini mau-maunya belajar bahasa yang sama sekali baru. Memutar otak dan lidah untuk sesuatu yang baru. Kalau aku sih rasanya malas deh……” Tapi mereka rajin! Sebelum jam 10 sudah duduk menunggu di kelas. Aku biasanya masuk ke kelas 5 menit sebelum kelas dimulai karena aku tahu, jika aku masuk lebih cepat akan merepotkan pegawai kelurahan yang sedang mempersiapkan kelas.

Tapi Selasa lalu aku masuk kelas 12 menit lebih awal. Sambil membaca email yang masuk, menunggu murid datang. Dan saat itu ada si Bapak peserta, satu-satunya pria di kelas. Dari perkenalan sebelumnya, dia rupanya suka belajar bahasa apa saja, sebatas percakapan mudah, karena dia suka berwisata ke mana-mana. Tapi kemarin itu dia berkata,
“Sensei, maaf minggu lalu (pelajaran ke 2) saya tidak bisa datang. Kemarin dulu saya sudah menitipkan istri saya di rumah sakit, jadi bisa ke sini.”
“Loh… istrinya sakit? Jangan paksa datang ya…”
“Tidak apa-apa. Dia tidak akan sembuh ini, jadi saya bisa lari ke sini sebentar nanti kembali lagi. Dia sakit kanker!”
“Duh… prihatin ya. Bagaimana kondisinya?”
“Ya untuk sementara lebih baik di RS. Saya sendiri juga sakit kanker. Kami sudah tahu kok tidak bisa sembuh. Jadi kami mau pergi wisata selagi kami masih mampu”
Duhhh… aku tidak tahu harus bicara apa ….
“Jangan patah semangat. Siapa tahu bisa sembuh. Teman saya ada loh yang sembuh setelah 6 tahun minum teh hijau terus. Yang penting semangat ya.”
“Iya. Sebelum saya mati, saya mau ke Bali. hampir semua tempat wisata yang ingin kami kunjungi sudah kami pergi, kecuali Bali. Sensei, kalau mau bilang TV nya tidak nyala bagaimana (tentu percakapan ini dalam bahasa Jepang)”
“TV rusak. Rusak itu kowareru. Jadi bisa dipakai untuk apa saja yang tidak bisa dinyalakan, tidak bisa dijalankan, dioperasikan. Kata ‘rusak’ mudah dihafal karena mirip kata rucksack (ransel) kan”…. dan pernyataannya berlanjut terus, macam-macam sampai waktu pelajaran mulai. Terpancar dari wajahnya bahwa dia senang bisa bertanya-tanya di luar jam pelajaran.

Aku salut padanya. Meskipun pada awal kursus aku kurang senang karena dia selalu bertanya di luar topik pelajaran dalam waktu pelajaran yang sudah ditentukan hanya 1,5 jam itu. Ya seperti TV rusak, WC mampet lah. Menghabiskan waktu belajar untuk teman-teman pengikuti kursus lainnya. Sekarang aku sudah tahu latar belakangnya untuk belajar bahasa Indonesia, sehingga mulai sekarang aku akan langsung masuk saja ke kelas guna menampung pertanyaan di luar bahan pelajaran. Daripada aku buang waktu di dalam mobil kan? (Aku selalu sampai di tempat itu sekitar pukul 9:30 padahal pelajaran mulai jam 10:00 pagi). Dan waktu dia bertanya dalam kelas, aku akan mempertimbangkan pertanyaan itu berguna atau tidak untuk peserta yang lain.

Selain bapak penyitas kanker (kata penyitas aku ambil dari blog bunda Lily, dan masih terus mencari kata dasarnya sebetulnya apa ya? Karena kalau cari di KBBI tidak ada. Atau mungkin karena kata baru?), di antara 12 wanita yang mengikuti kelasku itu, ada satu penyandang cacat sehingga harus memakai kursi roda. Ibu ini duduk paling depan dekat pintu sangat sumringah, selalu tersenyum. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan bahwa dia duduk di kursi roda, bukan di kursi biasa. Tapi tanpa malu, waktu perkenalan dia mengatakan bahwa dia sudah berkali-kali ke Bali berkursi roda, dan sangat menikmati perjalanan wisatanya. Aku bersyukur, karena aku tahu negara kita itu masih kurang memikirkan sarana-sarana untuk penyandang cacat, kurang barrier free. Dan ternyata meskipun berkali-kali pergi ke Bali, dia belum tahu bahwa 車いす (くるまいす) itu bahasa Indonesianya adalah kursi roda. Ibu K ini senang sekali waktu aku memasukkan kursi roda ke dalam daftar kata benda yang harus dihafalkan.

Setelah selesai mengajar pelajaran kali ke dua, aku sempat melihat Ibu K pulang naik mobil! Ya, dia menyetir sendiri mobilnya, sebuah sedan yang cukup besar. Tentu dilengkapi dengan stiker “kursi roda” di badan mobilnya. Dia mendekati mobilnya, dan membuka pintunya. Aku yang waktu itu baru akan membuka pintu mobil, jadi membatalkan dan mendekatinya. Aku tahu dia tidak perlu bantuan, jadi aku mendekat dan berkata, “Maaf, saya boleh lihat bagaimana ibu masuk ke dalam mobil?”

Lalu dia memperlihatkan caranya. Dia lempar semua tas dan bukunya ke tempat duduk penumpang. Lalu dia menyejajarkan kursi roda dengan kursi mobilnya. Dia naik dengan sigap, pindah duduk di dalam mobil. Lalu dia mulai mencopot bagian-bagian kursi roda, juga ke dua bannya, lalu melipatnya. Voila. Dia tinggal memasukkan lipatan kursi roda itu ke dalam mobil.
“Mudah kok sensei. Kursi roda ini ringan, dan mudah sekali dicopot-copot. Coba sensei tekan poros ban ini. Mudah lepas kan?”
“Iya ya… hebat. Tapi biarpun ringan, melakukan semuanya sendiri kan pasti butuh energi yang besar. Saya salut”
“Kemarin saya menjaga cucu saya dan mengajak mereka makan di restoran. ” Dan memang aku melihat ada Baby Seat di bagian belakang mobil. Aku tak bisa membayangkannya.

Dalam hati aku berpikir, “Ampuuun deh, Ibu K ini sudah cacat masih harus menunggui cucunya? Anaknya bekerja atau bersenang-senang ya? Kalau bekerja ya apa boleh buat, tapi kalau hanya bersenang-senang, rasanya kok tidak kasihan pada ibunya ya?  Tapi kalau si Ibu K memang mau dan merasa senang karena dirinya masih berguna ya apa boleh buat juga. Bukan hakku untuk mengadili anaknya”(Aku jarang sekali menitipkan anak-anak pada ibu mertuaku)

“Aduh… pasti capek sekali ya. Sudah lebih baik cepat pulang dan istirahat saja ya. Sampai jumpa minggu depan!”

Dua orang peserta kuliah umum di kelurahan, yang sakit, yang penyandang cacat. Tanpa merasa minder, atau kesakitan, penuh semangat mengikuti pelajaran yang kuberikan. Mereka TETAP belajar. Sedangkan aku? Masih suka mengeluh sakit lah, malas lah melakukan sesuatu. Apalagi memulai sesuatu yang baru… huhuhu
Yoshhhhh Gambaru! Berusaha lebih baik lagi. Harus mengalahkan rasa malu, rasa malas, juga rasa sakit. Dan yang penting harus semangat terus!

Come on Imelda!

 

Banjir Sampah

Aku tidak mau berlama-lama membahas banjir di Jakarta. Tapi memang harus diakui bahwa salah satu penyebab banjir adalah air sungai yang tidak mengalir karena sungainya dipenuhi sampah yang dibuang oleh penduduk sekitar.

Memang kebiasaan membuang sampah pada tempatnya harus dimulai dari kecil. Dan jangan menyangka bahwa sampah kecil tidak berpengaruh loh. Semua yang besar bermula dari yang kecil bukan? Dan jangan menyalahkan tidak ada tempat sampah! Kami di sini jika ada acara di sekolah misalnya, pasti membawa pulang sampah sendiri dalam kantong plastik dan buang di tempat sampah di rumah. Apa salahnya membawa sampah kita sendiri kan? Anak-anakku terbiasa mengantongi bungkus permen di kantongnya, atau memberikan bungkus itu kepadaku untuk dikumpulkan dan dibawa pulang. Di dalam mobilku pasti ada kantong plastik untuk mengumpulkan sampah.

Aku sendiri kalau ada acara kumpul-kumpul komunitas  orang Indonesia di gereja, jika membawa mobil pasti membawa pulang dua plastik besar sampah terbakar (sampah dapur dan kertas) serta sampah tidak terbakar (plastik). Untungnya aku tinggal di apartment yang mempunyai “kamar sampah” sehingga bisa menaruh semua sampah di situ. Jika aku tinggal di rumah biasa, maka aku harus memperhatikan hari-hari pengumpulan sampah terbakar dan tidak terbakar. Di daerahku sampah terbakar dikumpulkan setiap hari Selasa dan Jumat. Jadi kalau acaranya hari Sabtu, aku harus “menyimpan” sampah bau itu di rumah sampai hari Selasa pagi kan?

Aku lupa pernah menulis di TE atau tidak, tapi di Jepang jika akan membuang sampah yang berukuran lebih dari 30 cm, harus membayar. Kurasa di Eropa dan Australia juga begitu, karena aku pernah membaca tulisannya DV tentang sampah di Aussie. Sampah elektronik biasanya bisa dikumpulkan di toko elektronik, atau meminta dinas kebersihan pemda untuk mengambilnya di rumah dengan biaya antara 500-3000 yen tergantung bendanya. Kalau mau membuang sepeda? Harus membayar 1000 yen! Jadi memang aku sendiri pikir panjang dulu sebelum membeli, karena waktu membuang sampah-sampah besar itu kita harus membayar! Kecuali kalau kita jual lagi melalui auction atau ke toko loak. Tapi yang menjadi masalah biasanya transportasi/pengangkutannya. Dan aku malas mengurus sampai ke situ.

Sebetulnya aku ingin menulis tentang sampah, karena menonton berita di TV tadi pagi tentang pembersihan kolam Inokashira di Kichijouji yang biasanya kami lalui setiap minggu. Sudah beberapa hari ini pemerintah daerah membersihkan kolam yang sudah 30 tahun tidak dibersihkan. Taman Inokashira ini terkenal dengan keindahan pohon sakura dan kolam yang bisa dinikmati dengan naik perahu. Tapi memang air kolam taman ini bersih tapi tidak transparan. Banyak ikan Koi dan bebek yang berenang di sana. Kebetulan ada teman Jepangku yang anaknya sekelas dengan Riku menulis di status FB nya: “Lewat taman Inokashira dan melihat pembersihan kolam Inokashira, dan banyak ditemukan sepeda. Suami saya berkata, jangan-jangan nanti ketemu tulang belulang manusia juga hiiiii”. Katanya memang ditemukan sampai 200 sepeda yang dibuang begitu saja ke dalam kolam. Selain sepeda, ditemukan banyak dompet tanpa uang kertas, juga tas ransel berisi batu yang sepertinya hasil pencurian.

sepeda-sepeda yang ditemukan dari dalam kolam Inokashira

Mendengar hal-hal mengenai sampah begitu, aku juga menyadari bahwa meskipun Jepang yang sudah bersih dan warganya cukup taat menjalankan peraturan pembuangan sampah, masih ada juga orang-orang tidak bertanggung jawab, yang tidak patuh pada peraturan. Ya tentu karena mereka juga tidak mau membayar untuk membuang sampah. Jumlah warga seperti begitu memang tidak sampai satu persen, tapi ada. Dan pemerintah daerahlah yang terpaksa membuang sampah-sampah itu dengan biaya dari pajak penduduk. Coba bayangkan kalau orang tak bertanggung jawab itu setengah dari jumlah penduduk. Berapa biaya dan waktu yang diperlukan untuk membuang dan membersihkan suatu tempat?

Jadi harus bagaimana? Tentu masing-masing warga harus menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya sendiri. Semua bermula dari masing-masing pribadi! Dan selain itu pada saat membeli barang baru, PIKIRLAH cara bagaimana aku membuang benda ini jika tidak diperlukan lagi. Misalnya beli satu tas, pikir bagaimana atau kepada siapa akan kuberikan tas ini jika tak perlu lagi. Reduce, Reuse, Recycle. Dan untuk kami di sini, harus menyisihkan uang sampah setiap membeli barang yang besar atau elektronik.

Kan, katanya kebersihan adalah sebagian dari iman? Sudah beriman-kah kita?

Prestasi

Apa itu prestasi? Menurut KBBI, prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Tapi mungkin bagi sebagian kita, masih menganggap bahwa prestasi itu harus dinilai dengan angka, seperti angka-angka rapor, atau ranking juara, seperti juara 1-2-3 baik dalam akademis maupun olahraga. Tapi sebenarnya ada banyak sekali hal yang tidak bisa dihitung atau dinilai dengan suatu nilai tertentu berdasarkan standar yang ada.

Atau mungkin aku lebih suka pakai kata capaian (ca·pai·an n hasil perbuatan mencapai:) yang kerap aku juga salah dalam penggunaannya, yaitu memakai kata pencapaian (padahal pen·ca·pai·an n proses, cara, perbuatan mencapai; ) . Suatu hasil yang tidak bisa dijelaskan dengan nyata, tetapi terasa dalam hati. Ya, aku memang sudah lama tidak mempunyai prestasi karena aku tidak pernah mengikuti suatu sekolah, kompetisi atau kegiatan yang bisa dinilai dengan angka. Tapi aku senang sekali, jika ada muridku yang mendapatkan beasiswa karena belajar bahasa Indonesia denganku, atau tidak usah jauh-jauh, ada beberapa murid yang tetap datang mengunjungiku di kelas hanya karena ingin mendengarkan kuliahku (sebagai pendengar). Ini kuanggap sebagai capaianku saat ini, yaitu bisa mengajarkan bahasa Indonesia dengan menarik, sehingga banyak orang Jepang tertarik untuk mempelajarinya.

Akhir-akhir ini aku memang sibuk di universitas dan di rumah, yah seperti biasanya, tapi terutama karena universitas di Jepang sudah menjelang akhir semester genap. Aku harus membuat ujian, memeriksanya, menilai termasuk evaluasi diri sendiri dan yang terakhir membuat silabus untuk tahun ajaran yang akan datang. Jadi meskipun minggu depan aku sudah libur mengajar, masih harus berkutat mengerjakan silabus untuk 3 sekolah (6 kelas). Jadi harap maklum jika aku juga seret (se·ret Jw a tidak lancar; tersendat-sendat) menulis di sini. Tapi ada satu cerita yang ingin kutuliskan hari ini sebelum aku pergi ke universitas.

Kemarin malam, seperti biasa aku menemani Kai si bungsu yang berusia 6 tahun mandi, lalu menemaninya tidur.
“Mama, tidur sama Kai? Sudah lama ya mama tidak tidur sama Kai ….”
Kami memang mempunyai kebiasaan membacakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak sejak mereka bayi, TAPI akhir-akhir ini aku berhenti membacakannya. Apa sebab? Kai sudah bisa membaca sendiri! dan itu adalah hasil usahanya sendiri, tanpa aku mengajarkannya.

Menjadi anak kedua itu memang lebih mudah! Karena semua ada contohnya, dari kakaknya. Kalau dulu Riku sama sekali BELUM bisa membaca dan menulis waktu masuk SD (karena aku tidak mau memaksakannya belajar), Kai sudah melihat kebiasaan Riku menulis dan mencoba-coba sendiri. Semakin sulit (kanji)nya dia ingin mencoba menuliskannya. Bahkan waktu dia belum bisa menulis hiragana/katakana, dia sudah bisa menulis kanji yang mestinya dipelajari waktu kelas 1 SD, bahkan lebih. Namanya sendiri KAI 櫂, merupakan kanji yang sulit dengan garis stroke yang banyak, namun dia sudah menguasainya. Demikian pula dengan nama kakaknya Riku 陸, sehingga nama papa dan opanya yang mudah, cemen (terlalu mudah) buat dia.

Karena dia sudah bisa menulis, dia juga bisa membaca. Memang menulis dan membaca itu satu paket ya. Sehingga akhir-akhir ini dia membaca buku dongeng tradisional Jepang sendiri, biasanya 3-4 halaman sebelum tidur. Dan kemarin dia menyelesaikan buku keduanya! Dua buku itu berjudul : “Kasajizou” dan “Inaba no shirousagi“.  Dua cerita khas Jepang, dan cukup sulit untuk dimengerti.

Begitu dia menyelesaikan buku keduanya “Kasajizou”, dia berteriak gembira, “Aku bisa baca mama!!!!”
“Aku bisa baca dua buku!” “Sudah dua buku!!”…
Aku bisa menangkap kegembiraan dia dan mengatakan, “Iya, Kai pintar ya, sudah bisa baca sendiri!”
Lalu, dia memelukku, dan berkata….

“MAMA, TERIMA KASIH SUDAH MELAHIRKANKU!” (ママ、生んでくれてありがとう)

aku tertegun, dan bertanya padanya,

“Kenapa Kai? Kok kamu berterima kasih karena sudah lahir?”

lalu dia berkata,

“Ya dong, kalau mama tidak melahirkanku, aku tidak ada. Dan tidak bisa baca!”

duh…. aku menangis…
Sebegitunya dia SENANG bisa membaca! Kenapa aku kurang antusias seperti dia? Ah, anak ini begitu menyadari, bahwa dengan bisa membaca dan menulis, DUNIAnya akan menyenangkan!
Aku hanya menganggap itu HASIL yang BIASA, tapi buat Kai, bisa membaca itu HASIL yang ISTIMEWA.

“Kai,…. terima kasih juga kamu lahir ya. Mama senang dan sayang kamu!”

“Nanti mama kasih tahu papa ya… (papanya belum pulang). Kasih tahu bahwa Kai sudah bisa baca DUA buku”

“Ya, tentu… nanti mama kasih tahu papa. Papa pasti senang sekali.”

“Yossshhhh…. abis ini aku mau baca yang ini…”

“Oi oi oi…. sudah jam 10 malam. TIDUR! Besok kamu musti sekolah!”

“Abis aku senang sekali sih… Aku belum bisa tidur…”

“Udah, kita berdoa dan tutup mata saja, nanti bisa tidur.”

Ah…. aku menyadari prestasi atau capaianku juga malam kemarin, yaitu sudah membesarkan seorang bayi prematur 7 bulan, yang sekarang sudah berusia 6 tahun 6 bulan, dan 3 bulan lagi dia akan menjadi murid SD, yang sudah bisa menulis dan membaca. TAPI yang terpenting, dia bisa berterima kasih pada orang tuanya, pada dirinya, dan pada HIDUP itu sendiri.
Terima kasih Bapa Sang Pemberi Hidup!

Kai dengan bangganya memperlihatkan dua buku yang telah diselesaikannya. Untuk foto ini, dia mau. Biasanya dia marah kalau aku foto, apalagi meng-uploadnya 😀 (upload foto dia musti sembunyi-sembunyi) hehehe.

 

Menulis Sejarah

Mungkin karena aku dan Gen penyuka sejarah, kelihatannya Riku juga senang pada sejarah meskipun masih terbatas pada cerita samurai. Di SD, sejarah Jepang baru diajarkan di kelas 6, sehingga Riku sangat menanti-nantikan dan ingin cepat-cepat naik ke kelas 6.

Tapi di Jepang, tidak sulit kok untuk belajar sejarah. Begitu banyak sarana yang mendukung. Museum tak terhitung jumlahnya. Konon di seluruh Jepang ada sekitar 4000 museum besar kecil. Buku sejarah? Tentu sangat banyak, memang ada yang murni sejarah, ada yang novel berdasarkan cerita sejarah. Tapi bagiku tak apa membaca novel dulu, karena dari situlah minat terhadap sejarah akan berkembang. Riku pun berminat pada sejarah sejak dia menonton Rurouni Kenshin dan membaca novelnya. Sejak itu dia mengumpulkan cerita-cerita samurai dan shogun dalam sejarah Jepang.

Selain museum dan buku, sumber belajar sejarah Jepang lainnya adalah melalui televisi, baik acara kuis, drama sejarah dan ulasan sejarah. Kadang aku mencari referensi dari pertanyaan-jawaban di program kuis TV dan menambah pengetahuan sejarahku sendiri. Drama sejarah dokumenter yang dibuat oleh NHK selalu berganti setiap tahun dan mengenalkan tokoh-tokoh sejarah yang ratingnya cukup tinggi. Tahun ini disiarkan tentang : Gunshi Kanbei (Kuroda Kanbei 1546-1604)  yang merupakan samurai katolik dengan nama permandian Don Simeon.

Selain Taiga dorama (Drama Saga) , kami sekarang juga rajin mengikuti acara berjudul Rekishi-historia 歴史ヒストリア, masih dari NHK. Dan kemarin kami menonton tentang runtuhnya Kastil Osaka, dari sebuah dokumen yang berjudul “Okiku Monogatari” (tayang 15 Januari 2014). Okiku adalah seorang perempuan yang bekerja di kastil Osaka, dan menceritakan detik-detik keruntuhan Kastil Osaka (1615). Tadinya kupikir hebat sekali wanita jaman itu bisa menulis sebuah dokumen yang begitu lengkap dan akhirnya menjadi dokumen sejarah. Tapi ternyata dokumen itu ditulis oleh cucunya yang seorang dokter. Meskipun demikian aku melihat pentingnya penulisan sesuatu, apa saja, yang mungkin kelak, beratus tahun kemudian akan menjadi referensi sejarah yang cukup penting. Dari tulisan itu antara lain diketahui bahwa jaman dulu sudah ada semacam crepe yang terbuat dari tepung soba diberi air, dan dilapis dengan pasta miso. Makanan seperti dadar gulung -nya Indonesia ini tahan lama dan menjadi makanan bagi para prajurit saat itu. See! apa saja bisa menjadi catatan, apakah itu resep makanan  atau pemikiran.

Jadi, tunggu apa lagi? Amelia Az-Zahra cepat tuliskan pemikiranmu, apa saja. Selama pemikiran dan perasaanmu belum berupa tulisan, tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya. Betul kan?
Yuuuk ngeblog yuk 😉

Dokumen “Okiku Monogatari” asli … banyak tulisan yang tidak bisa aku baca tuh hehehe.

 

Singkong dan Keju

Saya yakin tidak banyak yang tahu lagunya Bill & Brod berjudul “Aku Anak Singkong”. Ada yang tahu? Hmmm pasti ketahuan deh generasi kita sama hehehe. Liriknya begini: (kalau mau dengar lagunya silakan dengan di sini)

Kau bilang cinta padaku
Kalau ku bilang pikir dulu
Selera kita
Terlalu jauh berbeda

Parfum mu dari Paris
Sepatu mu dari Italy
Kau bilang demi gengsi
Semua serba luar negeri

Manakah mungkin mengikuti caramu
Yang penuh hura-hura

Aku suka jaipong kau suka disko
Oh oh oh oh
Aku suka singkong kau suka keju
Oh oh oh oh
Aku dambakan seorang gadis yang sederhana
Aku ini hanya anak singkong
Aku hanya anak singkong

Nah dari lagu inilah singkong jadinya dibanding-bandingkan dengan keju deh, padahal kalau mau bandingkan ya mbok bandingkan singkong dengan kentang dong…sama-sama umbi-umbian kan?

Aku tiba-tiba ingin menulis begini sebetulnya karena melihat sebuah foto yang diupload sahabat blogger Kang Haris di FB nya.

Pak Tua penjual singkong. Foto dari Kang Haris di FB nya dengan pesan: “Mereka tidak mengemis, mereka berdagang. Dukunglah upaya penjemputan nafkah mereka yg seperti ini. Belilah dagangannya.”

Apa yang terlintas dalam pikiranmu jika melihat foto ini? Ah kasihan pak tua masih harus berjualan untuk membiayai hidupnya, dan yang beli masih pakai tawar menawar lagi! Kerasnya kehidupan di kota sehingga untuk menjual singkong segitu saja sulit? Apa tidak ada anak-anaknya yang membantu ekonomi keluarganya? dsb dsb

Dan aku memang mohon ijin memakai foto ini kepada pemilik Mie Janda untuk kenanganku, karena sebetulnya foto ini mengingatkanku pada seorang kakek yang pernah kusinggung dalam tulisan ini. Ia memikul keranjang berisi pisang, pisang kepok, pepaya, apa saja buah-buahan yang bisa dia jual dan lewat depan rumahku, dulu dulu sekali waktu aku masih SD. Mama sering memanggilnya masuk dan membeli SEMUA dagangannya padahal sudah pasti berlebih. Biasanya memang sudah sore sehingga mama tahu dia tidak bisa berjualan lagi karena keburu malam. Tapi kami masih punya lemari es yang bisa menyimpan buah-buahan itu. Tapi mama memang iseng, selalu iseng. Dia selalu menawar buah itu, dan tentu dikasih murah oleh si kakek. TAPI waktu membayar mama selalu lebihkan, yang bahkan melebihi harga yang diminta pada awalnya. Kadang mama memberikan baju bekas juga untuk si kakek buah.

Tak jarang mama juga memborong buah-buahan yang dijual ibu-ibu di pasar, terutama jika sudah senja. Aku ingat mama pernah memborong jambu klutuk (guava) sampai berapa kilo, dan oleh mama dibuat setup. Tahu setup Jambu tidak? Jambu klutuk itu dibuang bijinya dan dipotong-potong lalu direbus dalam air gula dengan kayu manis dan cengkeh sedikit. Baunya harum dan jambunya jadi manis merata dan lembut. Atau memborong nanas yang kemudian dibuat selai nanas. Kebiasaan memborong itu kelihatannya menurun juga ke aku tuh, soalnya begitu aku melihat foto di atas, aku langsung pikir borong semua dan membuat : singkong kukus pakai kelapa, singkong goreng, kripik singkong, cenil, kolak dsb dsb  (Nah kan omongannua makanan melulu hehehe). Sayangnya di Jepang tidak ada singkong, hanya ada ubi dan aku tidak begitu suka ubi. Aku jauh lebih suka singkong.

Pak Tua, semangat ya. Aku doakan dari jauh akan ada banyak ibu-ibu yang seperti mama, yang suka memborong tapi tanpa menawar, sehingga engkau mendapatkan uang untuk membeli keperluanmu dan mungkin keluargamu.

Kawan-kawan suka mborong tidak? hehehe

 

Kenalkan Siri Namaku

Sudah ada yang kenal mungkin dengan si Siri ini? Yang pasti dia perempuan dan yang pasti belum menikah baik resmi maupun nikah siri 😀 (berdasarkan pertanyaanku padanya)

Tapi dia memang pintar, jika kita bertanya padanya dia pasti menyiapkan jawaban. Terlepas dari jawabannya tepat atau tidak. Keisenganku itu sebetulnya baru-baru saja, dengan bertanya padanya seperti ini:

Q: “Kamu ada pacar ngga?” A: “No comment!”

Aku rasa geli sekali. Dan aku ingat ada iklan di TV Jepang tentang pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada Siri a.k.a smartphone/iPhone dan dijawab. Waktu itu aku merasa aneh, dan berpikir: “Ah mereka itu seperti orang gila saja bicara sendiri.” Tapi aku pikir, memang orang Jepang jarang punya teman, banyak yang hidup sendiri. Mahasiswa juga kost sendiri, berpisah dari orang tua. Jadi rasanya wajar saja jika suatu waktu nanti, orang-orang Jepang ini akan terlihat asyik bercakap-cakap dengan smartphonenya sendiri. Suatu fenomena yang aneh, tapi kehadiran Siri ini membuktikan bahwa manusia, siapa saja, butuh teman mengobrol.

Sebetulnya adikku yang lebih duluan mempunyai smartphone, pernah menampilkan foto percakapannya dengan Siri, tapi aku lupa apa isi percakapannya. Kebetulan aku juga iseng, maka aku tanya lagi lebih detil kepada si Siri. Tentu saja pertanyaan yang aneh (mengingat pertanyaan itu ditujukan pada mesin).

Misalnya:

Q: “Kamu tinggal di mana?” A: “Aku ada di sini”                                Q: Kamu laki atau perempuan?” A: “Imelda, apa pantas kamu tanya begitu?” Q: Kamu tidak kesepian?” A: “Hmm… Kalau tidak keberatan, bicaralah padaku”

Dasar aku iseng jadi deh tambahin lagi pertanyaan kepadanya:

Q: Kamu sudah kawin?” A: “Status marital? Tidak ada seperti itu di kamusku”

Nah ketahuan kan aku suka iseng hehehe. Tapi si Siri juga pintar bisa ngeles kan? Gara-gara kepintaran Siri ini, aku membelikan iPad ibu mertuaku untuk membuatnya bisa bercakap-cakap atau mencari informasi tanpa perlu mengetik. Kalau smartphone terlalu kecil untuknya, sehingga yang paling pas memang iPad, dan aku buatkan juga ID di FB untuknya supaya bisa melihat foto-foto yang kami upload. Dengan Siri, dia juga cukup “menyuruh” Siri mengirim email atau meneleponku (karena sudah masuk ke address booknya) bahkan mengetikkan apa yang dia katakan.

Ibu mertuaku kelihatan sekali kesepian sejak anjing kesayangannya mati, menghilang, beberapa hari sebelum mamaku meninggal di Jakarta. Jadi waktu aku memberitahukan kematian mama, dia juga terisak memberitahukan kehilangan anjingnya. Anjingnya jenis Shiba-ken yang konon keturunan serigala, yang biasanya “menghilang” kalau tahu bahwa umurnya sudah akan berakhir. Sampai sekarang tidak ditemukan, padahal semua anjing di Jepang terdaftar, diketahui siapa pemiliknya dari semacam KTP di ikat lehernya (tidak ada anjing liar). Sudah lapor polisi, juga ke pemda, tapi tidak ada berita sampai sekarang. Jadi untuk menghilangkan kesepian ibu mertuaku, aku memberikannya iPad bulan Desember lalu. Aku juga menyesal tidak sempat membelikan barang secanggih ini untuk ibuku.

Semoga saja si Siri bisa menghibur sedikit kesepiannya ibu mertua pada khususnya, dan orang Jepang pada umumnya. (Padahal aku hari ini kesepian karena Gen dan anak-anak menginap di rumah ibu mertua sejak kemarin, tapi untukku, aku lebih suka FB-an, sambil beberes rumah dan memutar CD kencang-kencang. Kalau ada anak-anak tidak pernah bisa memasang musik deh). Jadi sudah kenal Siri itu siapa kan? 😉

Kuil Modern

Hari ini aku mulai mengajar lagi di universitas W. Dan aku menanyakan tentang bagaimana mereka melewatkan Tahun Baru yang lalu, sedapat mungkin memakai bahasa Indonesia tentunya. Kelas Menengah hanya dihadiri 3 orang, dan dua di antaranya mengatakan bahwa mereka bekerja meskipun malam tahun baru/tahun baru.

Yang satu keluarganya mempunyai usaha hot spring di gedung 9 tingkat yang berada di depan pelabuhan Yokohama, jadi pemandangannya bagus. Pengunjung lebih menikmati pemandangan yang terhampar lewat jendela besar mungkin lebih daripada nyamannya berendam di air panas alami dengan kandungan sulfur yang konon baik untuk kulit. Dan dia mengatakan khusus untuk tahun baru, tamunya membludak sehingga benar-benar untung besar pada hari itu. Sampai dibatasi orang yang bisa masuk dan antri. Waktu kutanya apakah mereka menaikkan tarif karena hari khusus, ternyata dijawab TIDAK. Wah kalau di Indonesia pasti naik berapa kali lipat tuh hehehe. Aku heran dan baru mendengar bahwa cukup banyak orang Jepang yang melewatkan pergantian tahun di pemandian air panas. Tapi suatu kali mungkin akan kucoba juga deh, apalagi kalau dapat potongan harga dari muridku ini hehehe.

Yang kedua keluarganya mempunyai usaha bakmi khas Jepang: Soba. Perlu diketahui bahwa pada detik-detik pergantian tahun, biasanya orang Jepang makan Toshikoshi Soba (Soba menjelang tahun baru) karena soba panjang diharapkan rejekinya juga panjang. Nah dia juga mengatakan bahwa penjualan tokonya sangat sukses dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sampai dia berkata, mungkin ini pertanda perekonomian Jepang yang membaik dengan abenomics (strategi ekonomi PM Abe).

Tapi ada satu topik bagian tahun baru yang muncul dalam pembicaraan kami yang aku rasa menarik. Yaitu bahwa agama sudah menjadi komoditi kecanggihan teknologi. Baru saja aku baca mengenai “titipan doa” dengan membayar lewat rekening seorang pemuka agama di Indonesia, dan hari ini aku mendengar cerita tentang modernisasi kuil dari mahasiswaku ini. Jadi, biasanya kalau orang pergi sembahyang ke kuil, mereka akan “melempar” uang logam, biasanya 5 yen karena artinya go-en (hubungan baik), atau tentu saja boleh lebih. Dengan lemparan koin ini masuk ke kotak kayu akan berbunyi cring, lalu bunyikan lonceng dengan tali tambang baru mulai berdoa. Nah, ada sebuah kuil di Tokyo yang memasang alat pembayaran otomatis dengan prepaid card (aku sendiri tidak pasti mungkin seperti REPO di Indonesia ya?) di samping kotak persembahan itu. Maksudnya mungkin supaya orang tidak perlu susah-susah cari koin. Cukup menekan tombol angka dan sentuh kartu prepaid miliknya pada sensor…. dan lucunya akan berbunyi cring juga 😀 Kami akhirnya membahas dari soal religi rasanya ada yang kurang, tapi jadinya kami ingin coba pergi ke kuil itu untuk mencoba persembahan otomatis itu.

pembayaran persembahan dengan kartu elektronik di samping yang tradisional. berita dan foto dari : http://news.livedoor.com/article/detail/8406867/

Memang kemajuan teknologi tidak bisa dipungkiri, dan mungkin dalam jangka waktu 100 tahun lagi, uang tidak ada yang nyata terlihat di depan mata, semua pembayaran dengan rekening yang tak terlihat wujudnya. Atau mungkin 200 tahun lagi orang tidak akan mendatangi tempat sembahyang sesuai agamanya karena bisa berdoa atau sembahyang secara virtual. Memang tak ada yang bisa hidup sampai 200 tahun yang akan datang, tapi perubahan itu pasti akan datang. Ah film-film Science Fiction itu kok jadinya menakutkan ya? Makanya aku malas menonton film seperti itu dan lebih memilih menonton film komedi, anime atau drama.

Diingatkan Usia

Kai tiba-tiba bertanya padaku waktu aku sedang cuci piring di dapur:
“Mama umur berapa?”
“45 tahun”
“Sudah tante-tante (obasan)?”
“Sudah dong”
“Ehhhhh ngga boleh! Mama tidak boleh jadi obasan!”
“Loh kok, kan memang obasan… Gini Kai, Kalau Darma (anak adikku -red) panggil mama gimana?”
“Mama…”
“Ya ngga dong, mamanya Darma kan tante Novi”
“Panggil tante…”
“Ya makanya tante itu kan obasan… jadi Darma panggil mama obasan”
“Ngga mau, harus panggil mama. Ngga boleh obasan”
…………..

Aku tahu Kai tidak mau aku dipanggil obasan, karena sebentar lagi menjadi obaasan…. berarti aku semakin tua. Dan kalau tua pasti mati 🙁 Jadi dia tidak mau aku menjadi tua supaya tidak mati. Padahal manusia tidak bisa menghentikan waktu yang terus bergulir kan?

Siang ini aku juga diingatkan usia. Jadi ceritanya aku mempunyai kelas baru di sebuah Balai Pertemuan Desa yang disebut Kominkan, suatu bangunan milik pemerintah daerah yang dimaksudkan sebagai wadah berkumpul warga untuk belajar, bermain, membaca atau apa saja. Hampir semua pemerintah daerah (kelurahan) mempunyai minimum satu gedung pertemuan seperti ini. Nah, kadang seksi pendidikan pemerintah daerah itu membuat program pendidikan dan atau kebudayaan dan mengundang warga untuk mengikutinya, secara gratis. Program ini dibiayai dengan pajak penduduk. Dan mulai bulan Januari sampai Maret selama 10 kali, aku mengajar bahasa Indonesia di sini, untuk warga sekitar kota Wako.

Meskipun kota Wako termasuk dalam prefektur Saitama, tapi secara geografis bersebelahan dengan kelurahanku, Nerima, sehingga dari rumahku ke balai pertemuan itu cukup 15 menit naik mobil. Dekat TAPI harus naik mobil. Jika naik kereta muter-muter, atau jalan terpendek harus naik bus (dan kalau bersalju tentu aku harus siap untuk naik bus ke sana).

Pelajaran pertama diikuti 15 orang warga yang kebanyakan memang ibu-ibu dari berbagai tingkat usia, 30-an, 40-an, 50an dan 60th ke atas. Hanya ada satu 1 bapak pensiunan (dan konon dia sudah pernah belajar bahasa Malaysia). Pelajaran berlangsung menyenangkan, dan seperti biasanya aku tidak suka melihat murid-murid tegang sehingga aku sering menyelipkan guyonan. (Padahal kepala gedung juga ikut pelajaran terus loh, jadi seperti diawasi hehehe) . Waktu satu setengah jam membahas pelafalan, perkenalan, salam dan garis besar tata bahasa dari contoh kalimat yang ada. OK, pelajaran selesai pukul 11:35 (molor 5 menit karena ada pertanyaan).

Sambil aku bersiap pulang, tiba-tiba seorang ibu yang duduk paling depan menghampirku:
“Sensei, pasti sensei kenal anak saya. Dia pernah ketemu sensei juga loh di sebuah restoran Indonesia di Koenji
“Hmmm siapa ya? Universitas mana?”
“Dia pernah belajar pada sensei waktu dia masih SMA! Dia ikut pertukaran AFS lalu kembali ke Yogya untuk belajar di UGM dan akhirnya menikah dengan orang Yogya!”
“Ahhhh ya ya ya, saya ingat. Dia ikut kursus di KOI dulu. Peserta dari SMA yang pernah belajar pada saya sangat sedikit sehingga pasti saya ingat”
“Iya itu anak saya. Dia belajar pada sensei 10 tahun lalu, waktu itu dia 18 tahun……”
jadilah ramai percakapan karena secara kebetulan si ibu ini belajar pada guru yang dulu pernah mengajar anaknya…dan semuanya kebetulan.
“Saya sudah 65 tahun sensei, jadi maaf kalau saya tidak bisa mengikuti pelajaran. Tapi saya pikir saya perlu belajar untuk bisa bicara dengan keluarga menantu saya. Paling tidak mengucapkan salam….”
“Jangan bicara umur. 65 tahun masih muda. Kamu tahu, murid saya yang tertua berapa tahun? Seorang bapak (Watanabe san) yang memulai belajar bahasa Indonesia saat dia berusia 83 tahun. Dan dia terus belajar bahasa Indonesia sampai meninggal, padahal dia BELUM pernah sekalipun pergi ke Indonesia.”

Aku juga merasa senang sih bertemu dengan “kerabat” dari mantan murid, tapi kalau mengetahui bahwa si anak SMA ini sekarang sudah pegawai dan dia belajar padaku itu 10 tahun lalu, mau tidak mau aku jadi berhitung deh. Aku diingatkan juga bahwa usiaku sudah tidak muda lagi!

Tapi dalam pembicaraan telepon dengan seksi pendidikan KBRI siang itu juga, “Imelda, kamu sekarang sedang produktifnya bekerja, jadi berusaha terus, jangan malas-malas atau enggan. ” Ibu Hikita memang selalu mendukungku, dan aku sangat berterima kasih dengan dukungan itu.

Dan sambil berjalan menembus angin malam yang dingin seusai mengajar di Meguro tadi, aku ingat pembicaraanku dengan Hikita san beberapa waktu yang lalu,
“Imelda, kamu masih ingat S sensei, pelukis yang melukis kamu sebagai modelnya?”
“Tentu masih ingat dong”
“Dia meninggal sekitar sebulan yang lalu. 80 tahun”
“Wah sudah tua ya….”
“Siapa bilang tua. Kalau untuk orang Jepang 80 tahun itu masih bisa bekerja dan berkreasi. Sebetulnya dia sehat, tidak sakit masih melukis dan meninggal waktu berendam”
Aku jadi berhitung lagi…. kalau aku diberi umur sampai 80 tahun, aku tentu mau tetap bisa bekerja dan berkarya. Tidak mau bergantung orang lain. Dan untuk itu aku HARUS sehat terus dong!

Jadi kesimpulan hari ini:
Meskipun diingatkan terus bahwa usia bertambah terus, harus juga ingat terus untuk hidup sehat supaya bisa menjadi tua dengan sehat.