Arsip Bulanan: November 2013

Lucu tapi…..

HAMA!

Sambil berjalan ke tempat parkir yang cukup jauh dari  sekolah tua, Kyukaichi gakkou, Riku tiba-tiba berkata, “Me mau hotel!” haiyah amburadul sekali bahasanya hehehe. Riku mengaku bahwa dia sering sulit membedakan yang mana yang bahasa Indonesia dan yang mana yang bahasa Inggris. Itu karena dia lebih bisa bahasa Indonesia dibanding bahasa Inggris. Lalu aku terangkan deh, “I want to stay in a hotel”.

Memang waktu itu sudah mulai gelap, meskipun baru jam 5 sore. Untuk pulang ke Tokyo pasti butuh waktu 4 jam lebih. Dan aku kasihan juga pada Gen yang harus menyetir terus. Karena itu aku juga sarankan pada Gen untuk menginap saja malam itu, sehingga besok paginya kami masih bisa pergi ke Takato Castle yang letaknya hanya 1 jam dari Matsumoto Castle. Masalahnya kami belum ada hotel, dan maunya hotel di kota apa?

Tadinya kami mau kembali ke Nagano city saja dan mencari hotel di sana. Tapi kalau tidak ada? hmmm akhirnya aku buka situs “jalandotnet” situs yang aku pernah menjadi anggota, situs pemesanan hotel dalam negeri seperti agodadotcom deh. Begitu mencari Nagano, tidak ada hotel yang kosong untuk malam itu. Ada satu tapi kok kelihatannya spooky banget hotelnya, meskipun murah. Akhirnya aku mencari di rakuten dan…voila aku dapat sebuah hotel yang kosong dan hanya kena tarif untuk dua orang dewasa saja, karena mereka mendukung keluarga. Mereka memberlakukan tarif gratis untuk anak SD ke bawah. horeee.

Oh ya perlu diketahui bahwa hotel-hotel di Jepang bayarnya dengan sistem per kepala, bukan per kamar. Memang untuk hotel internasional bisa per kamar, tapi hampir seluruh hotel dan penginapan Jepang memang dihitung per kepala. Ada yang set dengan sarapan pagi, atau dengan makan malam juga, tapi aku hanya memilih yang kamar saja. Dan yang menarik dari hotel ini, dia punya lapangan parkir untuk 200 mobil dan hot spring. Berarti hotel yang cukup besar. Dan aku ingin sekali berendam di hot spring untuk melemaskan otot-otot badan yang sudah lama tegang. Aku juga menuliskan di kolom catatan bahwa kami datang dengan mobil dan sampai kira-kira pukul 8 malam.

Nah, kami lalu mencari makan malam. Tapi sayangnya Matsumoto kota kecil yang jenis makanannya juga terbatas. Kalau ada satu nama restoran yang disebutkan, pasti ada salah satu di antara kami yang tidak setuju. Akhirnya Gen menyetting alamat hotel pada Car Navigation dan masuk tol. Kami berhenti di sebuah Parking Area kecil dan makan malam di situ. Murah meriah dan masing-masing bisa pilih maunya makan apa. Kami makan dengan lahap mengingat kami belum makan yang benar sejak berangkat (hanya roti pengganjal perut saja).

Kami sampai di hotel sekitar pukul 8. Tempatnya agak masuk dari jalan besar dan dikelilingi pohon pinus. Hmmm serem juga hehehe. Kami membayar biaya untuk dua dewasa seharga hotel bintang 4 atau 5 di Bandung tapi kwalitasnya sama seperti hotel melati di Indonesia. Memang penginapan di Jepang mahal sih.

Kami langsung masuk kamar, dan memasang kasur sendiri 😀 Hehehe aneh kan? Tapi itu memang biasa karena hotel ini pegawainya sedikit, dia tidak bisa melayani semua kamar dengan memasangkan kasur. Lagipula sistem kamar di Jepang kan tatami, jadi kasur hanya dikeluarkan waktu mau tidur. Senang juga sih bisa merebahkan badan di atas kasur dengan sprei yang bersih, meskipun bau obat nya agak keras. Tapi daripada bau apek kan?

Karena capek sekali, aku langsung tidur setelah berendam di hot spring yang untuk perempuan. Anak-anak bersama papanya sudah duluan sebelum aku. Dan untunglah satu pemandian dengan air panas itu kosong sehingga aku sendirian saja….. (meskipun agak ngeri sih karena hotelnya sudah tua… kalau mau dibayangkan seperti Hotel Indonesia tahun 80-an deh hehehe)

Pagi pukul 6:30-an di luar jendela kamar hotel lantai 6. Atas: pemandangan pegunungan. Matahari belum begitu kelihatan. Bawah: Monyet berjalan

Pagi hari aku bangun bersamaan dengan Riku dan kami memandang ke arah matahari terbit. Tidak begitu jelas terlihat sih tapi kami baru bisa melihat sekitar kami ya waktu pagi itu, karena waktu kami sampai sudah gelap sekali. Dan akhirnya kami mengerti kenapa di dalam lift itu ada tulisan “DILARANG MEMBERI MAKAN MONYET!”, dan waktu aku melihat ke bawah (kami di lantai 6) terlihat dua ekor monyet yang sedang berjalan di aspal. Ooooh rupanya memang ada monyet yang dipelihara dan dilepaskan. Monyet bahasa Jepangnya: SARU.

Permintaan dari hotel : JANGAN beri makan monyet!

Tapi aku salah duga lagi! Waktu aku dan Gen jalan pagi berdua di sekeliling hotel sebelum cekout, kami melihat LAUTAN monyet (puluhan ekor sih) di sebuah ladang kosong, di atas pohon dan di atas atap penginapan yang bertingkat dua. PANTAS saja tidak boleh memberikan makanan kepada monyet-monyet ini, karena begitu diberi makan, maka jangan heran kalau mereka AKAN menyerang manusia demi mendapatkan makanan, atau MERUSAK rumah, penginapan, hotel yang ada di sekitar itu.

ladang yang dipenuhi monyet-monyet

 

Memang monyet-monyet itu “turun” gunung pada pagi hari, karena begitu matahari tinggi, mereka tidak ada lagi di ladang yang sama. Mungkin karena manusia sudah ramai berdatangan dengan mobil-mobil sehingga mereka takut, atau kepanasan? aku tidak tahu persisnya karena aku tidak sempat mewawancara mereka 😀 Sayang sekali memang, lucu-lucu begini dibilang hama.

Monyet di atas pohon ini mau menikmati pemandangan gunung waktu pagi 😀

hello!

Pengalaman menginap mendadak, dilanjutkan dengan perjalanan sekeliling daerah Komane yang terletak di bawah pegunungan Komagatake amat menyegarkan badan dan rohani yang penat. Keindahan alam musim gugur dan pegunungan bersalju yang membentang lebar membuat kami ingin menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya sebagai bekal hidup di Tokyo.

pemandangan sekitar hotel

Pagi itu kami cek out pukul 9 dan mencari makan pagi untuk dimakan di mobil dan melanjutkan perjalan menuju Takato Castle yang termasuk dalam 100Castle Jepang.

pegunungan chuo alps membentang

 

Matsumoto Castle

Sabtu 23 November lalu, Gen libur! Horreeeee…. soalnya jarang sekali Gen libur 2 hari weekend, sabtu dan minggu. Untung saja dia libur, kalau tidak pasti aku ngedumel. Tanggal 23  itu hari buruh (terima kasih kepada pekerja) kok malah masuk kerja 😀 Karena bisa libur 2 hari, kami bermaksud untuk jalan-jalan, doraibu (drive– menyetir) sambil momijigari (mencari daun-daun merah kuning musim gugur).

Tapi sampai sabtu pagi kami belum tahu akan kemana. Untung saja Gen terbangun jam 8 sehingga dia langsung mengatakan, “Yuk kita ke Matsumoto (Nagano)! Jam 9 kita pergi”. Haiyah aku langsung kelabakan deh, sambil siapkan sarapan onigiri, susis dan telur, aku bersiap-siap ganti baju Kai dan diri sendiri. Dan yah jam 9 lebih sedikit kami bisa berangkat.

Jalanan padat tapi tidak sampai macet, karena Matsumoto itu cukup jauh yaitu sekitar 222 km dari rumah kami, paling sedikit butuh 3 jam untuk sampai. Tapi tentu saja kami mau tidak mau mampir di beberapa parking area untuk istirahat ke wc. Dan tidak lupa aku membeli roti dan minuman. Untung saja, karena dengan makan roti itu kami bisa lanjut terus sampai Matsumoto tanpa harus berhenti makan.

Yang menyenangkan waktu kami berhenti di Futaba Parking Area. Dulu waktu musim ajisai dan lavender, kami bisa mendapatkan foto yang indah di situ. Dan kali ini kami bisa mendapatkan pemandangan gunung Fuji yang jelas sekali! Sayang cahaya matahari cukup kuat sehingga sulit untuk mengatur balance cahaya jika mau memotret manusia dengan latar gunung Fuji.

Gunung Fuji dari Futaba Parking Area

Karena hari begitu cerah dan sesekali kami bisa melihat pemandangan gunung Fuji, juga pegunungan Alps Jepang, kami menikmati doraibu kami. Aku beberapa kali mengambil foto-foto tapi karena dari dalam mobil yang bergerak, hasilnya kurang bagus.

Sambil menuju Matsumoto Castle, Gen sempat menyebutkan nama castle lain yang terletak hanya satu jam dari Matsumoto. Karena itu aku bilang supaya membatasi saja kunjungan di Matsumoto dan dapat dua castle. TAPI ternyata tidak bisa memperpendek kunjungan ke castle yang satu ini. Kenapa?

Matsumoto Castle dan bayangannya

Sebelum masuk areal castle itu saja pemandangannya sudah bagus. Castle itu dikelilingi parit/ kolam yang membuat bayangan castle di permukaannya. Indah! Riku memakai camera canon jeprat-jepret sana sini. Di luar saja cudah cukup lama kami melewatkan waktu.

Kemudian kami masuk ke areal castle itu dengan membayar harga tanda masuk 600 yen (dewasa) dan 300 yen (anak-anak). Dan tidak jauh dari pintu masuk ada dua orang SAMURAI dengan pakaian perangnya menawarkan diri untuk berfoto bersama dengan latar belakang castle. Senangnya kalau ada ‘service’ seperti ini, kami TIDAK perlu memberikan tip kepada mereka (tidak seperti di Indonesia, apa-apa tip). Mereka dengan senang hati melayani, meskipun waktu sore kami akan pulang, kami sempat juga melihat samurai duduk kecapekan (dan Gen memotretnya hehehe). Tentu saja karena pakaian perang itu memang berat kan.

Riku dan Kai bersama dua samurai beryoroi (baju perang)

Lalu kami masuk ke dalam castle yang juga disebut dengan Karasujou Crow Castle (Kastil Gagak) karena bangunannya dicat hitam semua. Di pintu masuk kami harus melepaskan sepatu dan memasukkannya ke dalam tas plastik yang telah disediakan, dan mulai antri untuk menaiki kastil tersebut. Perlu diketahui castle ini didirikan 1504 (akhir jaman Azuchi Momoyama, awal jaman Tokugawa)

bagian dalam kastil. Kanan bawah tempat mengintip ke luar

Haduuuuuh aku teringat waktu pergi ke Himeji Castle deh. Waktu itu aku amat sangat ketakutan memanjat tangga dalam castle itu. Dan di Matsumoto Castle ini bahkan LEBIH mengerikan karena sudut tangganya sangat curam, melebihi 60 derajat. Udah gitu sempit dan tidak bisa berlama-lama ragu naik atau tidak karena antrian padat. Tapi sebetulnya menaiki tangga curam itu masih lebih mending daripada menuruninya! Legaaaa sekali rasanya waktu berhasil keluar dari castle ini, sekaligus bangga aku tidak batal tengah jalan. Mungkin kalau 20 tahun lalu aku akan membatalkan naik (sampai di Basillica St Peters pun aku terpaksa menunggu di bawah karena takut naik :D), tapi sekarang aku punya satu tekad yaitu menunjukkan pada anak-anakku bahwa mama bisa! Tentu dengan harapan mereka juga tidak takut untuk mencoba sesuatu hehehe.

tangga yang curam

Kami keluar dari kompleks kastil itu menjelang pukul 4 dan bergegas pergi ke sekolah tua, Kyukaichi gakkou yang telah aku tulis di sini.

kastil dari dekat

 

 

 

Hari Guru Nasional

Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Terus terang aku tidak mengerti kenapa ada Hari Pendidikan, dan ada Hari Guru. Di Jepang dua-duanya tidak ada. Mungkin karena pendidikan sudah lumrah dan sejarahnya terlalu lama?

Banyak teman yang menuliskan terima kasih kepada guru-guru mereka dari TK, SD, SMP, SMA, Universitas dan ada yang menulis guru agama juga guru ketrampilan khusus. Tentu aku pun selalu berterima kasih pada guru-guruku, tapi kalau mau disebutkan nama, aku paling ingat sampai sekarang guru kelas 1 SD ibu Catherine dan kelas 5 SD ibu Mardiyanti. Ibu Catherine sudah berteman denganku di FB, tapi aku belum mengetahui kabar dari ibu Mardiyanti.

Kebetulan akhir pekan kemarin aku pergi ke sebuah sekolah SD di Matsumoto yang merupakan salah satu sekolah yang tertua di Jepang setelah Restorasi Meiji. Dibangun tahun 1875 dan sekarang dipakai sebagai museum pendidikan. Namanya Kyu Kaichi Gakkou dan bangunan ini ditetapkan menjadi Warisan Budaya Penting  Jepang pada tahun 1961.

Untuk masuk bangunan bergaya Eropa ini kami membayar 300 yen untuk dewasa. Buka pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Kami datang sudah pukul 4:20 dan masih sempat mengelilingi bangunan dua lantai ini. Sebetulnya jika banyak waktu aku dan Gen ingin membaca semua keterangan yang terdapat dalam kelas-kelas yang dijadikan tempat pameran, karena kami berdua memang mengambil program pendidikan sekolah waktu program pasca sarjana.

tampak muka

Kelas pertama yang kami masuki menggambarkan suasana kelas jaman dulu, yang masing-masin murid mendapatkan papan tulis kecil untuk mencatat. Ah suasana seperti ini memang masih aku alami waktu SD dulu, meskipun tentu bangku dan papan tulis kecil tidak ada. Tapi suasana kelasnya membuat aku bernostalgia. Kalau dipikir-pikir sekolah jaman dulu memang masih memakai alat-alat tradisional tapi kok rasanya lebih ramah lingkungan ya?

suasana kelas jaman dulu

Yang juga menarik adalah perbandingan bangku belajar SD dari jaman sebelum Meiji (terakoya) sampai jaman sekarang. Semakin ke sini tempat menulisnya semakin jauh dari tanah 😀

Memang jaman semakin modern, jika dulu murid SD mencatat penjelasan guru dari papan tulis, sekarang mungkin sudah ada yang memotret penjelasan guru dan tidak mencatat sama sekali (kejadian di universitasku sih) dan mungkin kelak tidak perlu lagi membawa buku dan alat tulis, cukup iPad saja. Atau perubahan dari pihak guru pun pasti terjadi, dan mungkin kelak guru dan murid tak perlu lagi bertemu langsung ya (di universitasku ini sudah dimulai). Tapi menurutku yang paling penting, manusia harus terus belajar, tentu saja gurupun termasuk.

 

 

12 Jam Doraibu

Setelah menuliskan Sehari Tanpa Gadget : Doraibu, akhirnya deMiyashita bisa mempunyai waktu libur yang pas semuanya libur, yaitu hari Minggu kemarin, mulai dari jam 12 siang sampai 12 malam lebih. Kok siang sekali berangkatnya? Ya, karena kami harus menunggu Riku yang ke gereja dan ikut sekolah Minggu sampai jam 11. Aku dan Kai sudah ke gereja sabtu sorenya, mengikuti misa berbahasa Indonesia di gereja Meguro, sedangkan Riku belum.

Kemana selama 12 jam? Yang pasti kami pergi ke dua prefektur: Kanagawa dan Shizuoka. Sebelum kami jalan, kami menjemput ibu mertua dulu di Yokohama. Saat itu kami belum tahu mau ke mana, tapi sudah pasti tidak mau ke arah pelabuhan dan kota Yokohamanya, karena ada pertandingan marathon wanita. Jadi kami melarikan mobil ke arah Odawara dan paling tidak mengunjungi Ashinoko, Hakone tempat yang bisa melihat daun-daun merah-kuning ciri khasnya musim gugur, dan gunung Fuji. Momijigari! (Mencari pemandangan musim gugur)

Tapi hampir jam setengah 2 kami baru sampai di Ninomiya, dekat Odawara padahal kami sudah lapar sekali. Kebetulan ada rumah makan Jepang bernama Ebiya, kami langsung parkir saja di situ. Ternyata rumah makan ini menyediakan segala macam masakan ikan, udon dan soba. Maklum tempatnya dekat laut (Odawara), jadi aku memesan ikan Bora bakar, ibu mertua ikan Isaki bakar dan sazae (sejenis kerang), sedangkan Gen dan Riku makan nasi dengan ikan teri mentah dan Kai sashimi. Karena lapar semuanya enak 😀 Rupanya ibu mertuaku jarang bakar ikan karena memang makan waktu dan bau ke mana-mana ya. Jadi dia senang sekali bisa makan ikan bakar.

Makan siang terlambat di Ebiya. Kiri atas: sejenis kerang bernama Sazae. Kiri bawah nasi dan ikan teri mentah. Kanan bawah Ikan Bora bakar

Setelah makan kami menuju ke Hakone dan kebetulan ada papan penunjuk “Ichiya Castle” (harafiahnya : Kastil Satu Malam), langsung Riku berkata: “Aku mau ke situ, itu kan tempatnya si bla bla bla”. Aku tidak menyimak tapi bangga anakku tahu sejarah negaranya sendiri 🙂 Jadi kami mampir menuju peninggalan castle Ichiya. Tapi untuk melihat castlenya harus mendaki sedangkan aku pakai rok dan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Ibu mertua juga tidak bisa mendaki, sehingga aku, Kai dan ibu mertua tunggu di rest area. Rest areanya juga bagus tempatnya, ada sebuah restoran bakery, tenpat penjualan hasil ladang dan bunga, serta hamparan ladang jeruk sedangkan di kejauhan terlihat pantai yang biru. Sementara kalau lihat di atas bukit bisa terlihat ray of light yang indah. Sayang kamera Nikonku dibawa Gen mendaki sehingga aku hanya ada kamera digital, yang kurang bisa menangkap ray of light nya.

Ishigakiyama, Ichiyajo yang tinggal situsnya saja (tidak ada bangunannya)

Menurut Riku, Ichiyajo artinya kastil yang dibangun 1 malam. Maksudnya BUKAN kastil sungguhan pada jaman Toyotomi Hodeyoshi. Untuk mengelabui musuhnya dibangunlah bangunan semi permanen yang dari jauh terlihat seperti kastil padahal dalamnya kosong. Menurut wikipedia selama pemerintahan Toyotomi ada dua kastil yang termasuk dalam ichiyajo yaitu Sunomatajou dan Ishigakiyamajou. Yang kemarin kami pergi itu namanya Ishigakiyamajou.

Rest area di Ichiyajo. Kai bergaya di kebun jeruk

Setelah berbelanja tanaman hias dan jeruk, kami meninggalkan tempat ini. Sudah pukul 4, dan kupikir Gen akan mengarah pulang. Ternyata dia masih mau mencari tempat wisata di sekitar tempat itu. Dan aku teringat sebuah hotel yang bernama FUJIYA, yang mempunyai arsitektur dan taman yang indah. Cocok untuk berfoto di sana. Lagipula aku ingat pernah pergi ke sana dengan mama dan papa. Ah jadi kangen mama, untung aku sudah tidak menangis lagi jika teringat alm. mama (kecuali pas down a.k.a PMS :D) Jadi kami bermobil menuju hotel itu menyusuri jalan menanjak yang berliku-liku. Pemandangannya bagus di sebelah kanan, tapi kami juga harus melihat antrian mobil yang sedang turun. MACET! Wah, kalau pulangnya nanti musti ikut antri di belakang antrian itu….. membuat hati ini terasa berat. Tapi kemudian ibu mertuaku bilang, kalau pulang lewat jalan lain saja, dan memang dulu kami pernah melewati jalan lain itu.

Kami sampai di hotel Fujiya sudah pukul 4:45, dan senja sudah mulai menggelapkan pandangan. Saat itu di hotel yang terkenal dengan keaslian dan kemahalannya itu masih dipenuhi dengan tamu dari dua pernikahan. Kupikir kalau perlu kami bisa duduk di cafe dan ngopi. Tapi ibu mertuaku bilang dia mau membeli roti di toko hotel. Jadi kami ikut lihat-lihat di sana. Oh ya hotel ini terkenal dengan kare dagingnya. Jadi aku juga membeli pack berisi kare daging untuk oleh-oleh. 

Kai yang belanja roti sendiri (pakai uang sendiri) di hotel Fujiya

Ada satu yang lucu di toko roti ini. Kai yang membawa dompetnya sendiri, ingin membeli SATU roti yang paling murah. Dia lihat dari harga roti dan memilih yang seharga 270 yen. Aku tahu dia mau bayar sendiri, jadi aku biarkan dia membawa roti yang dia ingin beli ke kasir. Untung saat itu kasirnya tidak ada orang, dan gadis penjaga kasir juga melayani Kai dengan ramah. Kai memang sudah bisa berhitung sedikit, dan dia tahu kalau dia memberikan 300 yen akan dapat kembalian. Jadi dia ambil 300 dari dompetnya dan memberikannya ke kasir. Dari jauh aku dan Gen melihat Kai yang berani dan berlagak seperti anak besar. Ah…. dia sudah bukan anak kecil lagi, sedikit demi sedikit dia akan mandiri. Jadi terharu deh…..

Setelah membeli roti kami keluar ke taman yang indah. Untung kami bisa mengejar terang senja dan masih bisa berfoto di situ. Sementara itu mulai banyak tamu yang keluar untuk menikmati keindahan senja dan lampu yang menerangi hotel dan taman. Persis pukul 5:05 kami meninggalkan parkir hotel. Kok tahu itu pukul 5:05? Ya, karena ada pemberitahuan lewat speaker bahwa sudah pukul 5:05 dan penangkapan babi hutan untuk hari itu selesai. Rupanya banyaknya babi hutan yang berkeliaran membuat pemda menginjinkan perburuan babi hutan di sekitar daerah itu.

Hotel Fujiya, Hakone

Tentu kami memakai jalan yang lain dan menjauhi jalan menurun yang masih macet. Tentu sambil melihat navigator dan GPS dari HPku. Car navigator kami sudah berusia 3 tahun dan selama 3 tahun itu sudah ada beberapa perubahan yang terjadi di daerah itu. Kami sampai di rumah mertua pukul 10 malam. Jalan toll macet cukup parah dan membuat kami harus duduk lama di mobil. Setelah istirahat sebentar di rumah mertua kami pulang ke Tokyo dan sampai di rumah pukul 12 malam. Tentu saja anak-anak sudah tertidur semua 😀

Perjalanan 12 jam doraibu (bermobil) yang nariyuki (tanpa tujuan awal) yang melelahkan tapi cukup menyenangkan.

Sehari Tanpa Gadget: DORAIBU

Bagiku meskipun aku tidak bekerja untuk IT, tanpa gadget… atau tepatnya HPku yang sekarang itu mustahil benar. Bayangkan dalam satu HP itu ada:
1. Telepon (tentunya)
2. Camera (dan ini mungkin lebih penting dari teleponnya :D)
3. Catatan dan agenda ( mengatur jadwal apa saja yang harus dilakukan) juga ALARM
4. Internet yang bisa sambung ke : Jadwal kereta, email, FB dan Twitter juga blog, selain tentu untuk browser kalau cari keterangan alamat/nama toko dll.
5. Aplikasi alert jika ada gempa, begitu bunyi langsung masuk kolong meja 😀
6. Game  (pengusir bosan sambil menunggu)
7. dan yang terakhir baru-baru ini aku download aplikasinya adalah Kindle untuk baca buku/novel. Nah loh.

Bisa dibayangkan kan, tanpa SATU gadget ini bagaimana hidupku kan?

foto yang kuambil dengan HPku tadi sore: Univ W tempatku bekerja

Satu kata : LIBUR dan itu berarti HARUS BERSAMA KELUARGA (aku tidak mau kehilangan kontak dengan keluarga jika terjadi gempa waktu tanpa HP). Pergi DORAIBU (bepergian dengan mobil) ke tempat wisata tanpa HP, TAPI harus bawa kamera DLSRku karena sayang  jika tidak mengabadikan keindahan musim gugur/dingin di sini. Dan pada kenyataannya selain Kamera aku jarang memakai HP jika sedang bepergian bersama keluarga. Apalagi kalau lupa membawa kabel charger hehehe.

Kapan ya bisa LIBUR untuk driving bersama keluarga melanjutkan perjalanan deMiyashita menggenapi 100Castlenya? Tentu dengan bonus pemandangan pohon-pohon yang menguning dan memerah ciri khas musim gugur. Semoga dalam waktu dekat bisa mewujudkannya.

musim gugur di Tokyo, diambil pakai Canon Powershot G9 23-11-2010

Aku tahu aku tidak berdomisili di Indonesia, tapi aku tetap daftar saja untuk hajatnya Neng Iyha 
Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”

 

Donguri

Hari ini waktu menjemput Kai pulang dari TK, aku membiarkan dia bermain di halaman TK nya. Aku selalu senang karena TKnya mempunyai halaman yang cukup luas untuk anak-anak bermain, berlari bahkan bermain pasir. Dan sejak 2 tahun lalu ada tambahan lahan kecil di bagian belakang halaman itu yang belum ditanami apa-apa, hanya diberi rumput artifisial yang lembut. Karena tanahnya lebih rendah dari halaman TK sehingga membentuk sebuah perosotan alami dengan rumput artfisial. Dan kalian musti melihat murid-murid TK ini berguling-guling di tanah! Aku bisa bayangkan betapa menyenangkannya.

Kai tidak begitu suka bermain dengan orang lain. Dalam arti dia lebih suka bermain sendiri, jika teman akrabnya tidak ada. Biasanya dia bermain perosotan atau jungle jim, tapi hari ini dia menyusuri tepian halaman TK untuk mencari donguri! Aku juga jadinya membantu dia mencari dan mengumpulkan donguri.

donguri hasil pungutannya Riku. mirip mlinjo kan? 

donguri koro koro donburi ko                                               
oikeni hamatte sa taihen 
dojouga dete kite konnichiwa
botchan isshoni asobimashou

donguri korokoro yorokonde
shibaraku isshoni asondaga
yappari oyama ga koishito
naiteha dojouwokomaraseta

Sebuah lagu anak-anak yang pasti bisa dinyanyikan semua anak Jepang! Aku pun tahunya dari Riku waktu dia masih di penitipan Himawari, masih usia 3 tahun. Dia yang mengajari mamanya 😀 Tapi memang lagu ini begitu sederhana dan mudah diingat. Diciptakan oleh Aoki Nagayoshi (1879-1935) pada tahun 1921 dalam buku Kawaishouka かわいい唱歌 dan terdiri dari dua bait.  Bait pertama menceritakan tentang donguri (biji pohon) yang jatuh ke rawa. Lalu dojou (lele) datang dan menyapanya : konnichiwa sambil berkata “Hei ayo main bersama”. Bait kedua isi: donguri sangat senang dan bermain bersama, tapi dia kangen pada gunung dan menangis membuat si lele susah.

partitur lagu Donguri korokoro

Lagu anak-anak ini kemudian resmi diajarkan di sekolah dasar pada mata pelajaran musik pada tahun 1947. Bahkan lagu ini menurut Kindaiichi Haruhiko, seorang linguist Jepang terkenal, merupakan satu dari 3 lagu anak Jepang terbaik. Dan pada tahun 2007 terpilih masuk ke dalam 100 lagu Jepang terkenal. Karena lagu ini sudah lewat masa penggunaan hak cipta, sekarang menjadi milik umum public domain. Karena itu aku juga berani memasang lagu itu di sini.

Doguri koro-koro

 

NB: Kalau aku mendengar kata koro-koro, langsung teringat bahasa Makassar yang artinya marah-marah atau ngambek. Yang pasti dongurinya ngga ngambek kok 😀

Yang pasti donguri dan DONBURI itu lain loh. DONBURI itu adalah makanan berupa nasi dalam cawan dan diatasnya diberi lauk (jenis apa saja).

Satu lagi catatan: semacam donguri yang namanya Ginnan dijual dengan harga yang cukup mahal. Biasanya dibakar sebagai sate dan nikmati dagingnya dengan garam saja. Atau dimasukkan dalam cawan mushi. Rasanya ada pahit-pahitnya tapi itu yang membuat enak. Nah aku pernah melihat acara TV di Jepang yang menayangkan bahwa jika kita memungut ginnan di jalanan Tokyo maka kita tidak perlu membayar apa-apa, silakan dibawa pulang. Karena ginnan yang telah jatuh dari pohon itu sudah dianggap sebagai sampah.

biji ginnan waktu masih muda. Aku pungut dari jalanan di univ W pada bulan Juni

Ketika Aku Cantik

Hari Jumat lalu, aku mengajar tentang puisi Indonesia kepada mahasiswa kelas menengah. Aku memperkenalkan karya Chairil Anwar yang terkenal “Aku” dan karya Rendra. Sambil aku menanyakan mereka apakah mereka menyukai Haiku, Tanka atau puisi modern Jepang dan siapa penyair Jepang kesukaannya. Atau kalau tidak suka puisi dan sastra, mungkin mereka punya sebuah kata mutiara, kalimat yang mereka sukai berupa quotes atau peribahasa, apa saja. Lalu kutanya satu-satu. Dan ternyata memang hanya 4 orang (3 wanita) dari 20 mahasiswa yang menyukai puisi.

Aku biasanya mengambil contoh puisi Jepang untuk diterjemahkan dari karya Kaneko Misuzu yang sudah pernah aku tulis di sini, tapi dari mahasiswaku aku menjadi mengenal satu lagi nama penyair wanita Jepang yaitu Ibaraki Noriko. Aku langsung mencari puisinya dan menurut suamiku yang paling terkenal itu judulnya : “Ketika Aku sedang Cantik-cantiknya” わたしが一番きれいだったとき。

Ketika aku sedang cantik-cantiknya         わたしが一番きれいだったとき
Kota runtuh berserakan                 街々はがらがらと崩れていって
dari tempat-tempat yang tak terduga        とんでもないところから
bisa terlihat langit biru                  青空なんかが見えたりした

Ketika aku sedang cantik-cantiknya         わたしが一番きれいだったとき
Orang di sekelilingku banyak yang mati      まわりの人達が沢山死んだ
di pabrik di laut di pulau tak bernama        工場で 海で 名もない島で
Tak ada lagi niat untuk bersolek            わたしはおしゃれのきっかけを落としてしまった

Ketika aku sedang cantik-cantiknya                              わたしが一番きれいだったとき
tidak ada orang baik yang memberika hadiah             誰もやさしい贈り物を捧げてはくれなかった
Lelaki hanya tahu tanda hormat                                         男たちは挙手の礼しか知らなくて
dengan pandangan yang bersih semua berangkat       きれいな眼差だけを残し皆(みな)発っていった

Ketika aku sedang cantik-cantiknya                                わたしが一番きれいだったとき
Kepalaku kosong                                                                       わたしの頭はからっぽで
Hatiku kaku                                                                                 わたしの心はかたくなで
Hanya tangan dan kaki berwarna coklat                          手足ばかりが栗色に光った

Ketika aku sedang cantik-cantiknya                                 わたしが一番きれいだったとき
Negaraku kalah dalam perang                                             わたしの国は戦争で負けた
Adakah hal yang sebodoh itu?                                             そんな馬鹿なことってあるものか
menggulung lengan menyusuri kota hancur                  ブラウスの腕をまくり卑屈な町をのし歩いた

Ketika aku sedang cantik-cantiknya                                  わたしが一番きれいだったとき
dari radio mengalir musik jazz                                               ラジオからはジャズが溢れた
sambil sempoyongan merokok diam-diam                      禁煙を破ったときのようにくらくらしながら
Aku mabuk oleh musik luar negeri                                      わたしは異国の甘い音楽をむさぼった

Ketika aku sedang cantik-cantiknya                                    わたしが一番きれいだったとき
Aku amat tidak bahagia                                                             わたしはとてもふしあわせ
Aku merasa sangat aneh                                                            わたしはとてもとんちんかん
Aku merasa amat kesepian                                                       わたしはめっぽうさびしかった

Karena itu kuputuskan untuk panjang umur                    だから決めた できれば長生きすることに
setelah tua akan melukis yang sangat indah                      年とってから凄く美しい絵を描いた
seperti karya paman  Rouault                                                    フランスのルオー爺さんのようにね

Sebuah puisi yang ditulis waktu Ibaraki Noriko berusia 15 tahun waktu terjadi perang Jepang Amerika (sampai berusia 19 tahun) menggambarkan situasi pada saat itu. Tapi ada satu lagi puisi yang berjudul  Jibun no Kanjusei kurai 自分の感受性くらい、“Sensitifitas diri”Ibaraki Noriko menghardik diri sendiri yang menyalahkan dunia akan kegagalan atau kekeringan hati. Sampai dia menyebut dirinya sebagai bakamono ばかもの orang yang bodoh. Dengan puisi itu seakan dia ingin bangkit dari semua kegagalan.

Setelah aku dan Gen membahas dua karya Noriko ini, kami menyadari bahwa Ibaraki Noriko yang membuat majalah puisi berjudul “KAI” 櫂 pada tahun 1953 yang kanjinya kami pakai untuk nama anak kedua kami. Aku jadinya ingin mencari puisi-puisinya yang lain deh.

Kamu suka puisi siapa?

sumber http://kajipon.sakura.ne.jp/kt/shisyu.html

Negara Terkuat di Dunia

Seharian ini aku tidak kemana-mana, semua tidak enak badan sehingga lebih baik berada di dalam rumah karena suhu di Tokyo juga hanya 15 derajat. Kebetulan Gen juga bisa pulang jam 7 malam, sehingga kami bisa makan malam bersama.

Dan tentu saja TV nyala terus. Ada banyak acara yang bagus hari ini. Ada program kuis yang banyak menambah pengetahuan, dan salah satunya memperkenalkan sebuah buku cerita bergambar (Picture Book ) berjudul Negara Terkuat di Dunia Sekaide ichiban tsuyoi kuni.

Negara Terkuat di Dunia

Ceritanya mengenai sebuah negara besar yang kuat. Pemimpin negara itu ingin menjadi negara yang terkuat di dunia sehingga dia menyuruh pasukannya menyerang negara-negara kecil di sekitarnya. Begitu pasukan datang, rakyat negara kecil terpaksa harus melawan dan mempertahankan negaranya tapi kalah. Demikian seterusnya negara besar menjadi tambah kuat dan menyerang negara lain.

Tapi suatu hari presiden menyuruh pasukan menyerang sebuah negara kecil yang tidak mempunyai tentara. Pasukan datang ke sana dan disambut sebagai tamu. Pasukan bercakap-cakap dengan penduduk dan makan minum bersama. Bahkan mereka menari dan berdendang bersama. Melihat pasukannya bukannya bertempur malah beramah tamah dengan penduduk, presiden marah dan memanggil mereka pulang. Tentu saja negara kecil kalah. TAPI….

Setelah kembali ke negaranya, presiden menemukan banyak restoran yang menyajikan masakan dari negara kecil. Atau melihat penduduknya menari tarian dari negara kecil. Sesampainya di rumah, presiden diminta menyanyikan lagu pengantar tidur oleh anaknya. Dan tanpa sadar, lagu pengantar tidur yang dinyanyikan presiden itu adalah lagu-lagu dari negara kecil.

Jadi negara mana yang sebenarnya terkuat di dunia?

Buku karangan David McKee yang diterbitkan tahun 2005 ini sekarang merupakan picture book yang terpopuler di Jepang.

Pemeriksaan Anak Usia Sekolah

Aku sudah menerima surat dari kelurahanku yang “mengingatkan” bahwa Kai sudah usia sekolah (genap 6 tahun per tanggal 1 April 2014) sekitar sebulan lalu dan Kai “ditempatkan” oleh pemda di SD yang sama dengan Riku. Sekolah Dasar negeri (pemda) di Jepang memang berdasarkan rayon, jadi ditentukan dari alamatnya. Dan tanggal 7 November kemarin ada pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak usia sekolah ini sebelum masuk SD.

Karena waktunya jam 1, dengan sangat terpaksa aku ijin tidak mengajar di universitas W. Apalagi pagi harinya hujan sehingga aku juga tidak mengantar Kai ke TK dan pergi langsung pukul 1 ke SD. Waktu kami sampai di SD baru jam 12:47 tapi sudah terjadi antrian. Orang Jepang memang cepat! Padahal aku sudah berangkat jam 12:30 dari rumah, jalan kaki santai 15 menit. Ternyata ada yang lebih cepat lagi dariku.

Cepat-cepat kami antri dan Kai mendapat nomor 34. Dengan nomor ini kami mengikuti petunjuk guru-guru tentang apa yang harus dilakukan. Sebelumnya memang aku sudah menulis semua data yang diperlukan dalam kertas. Antara lain pertanyaan apakah pasti akan menyekolahkan ke SD yang ditunjuk atau akan pergi ke SD Swasta, atau untuk anak-anak penyandang cacat apakah mau ke sekolah khusus SLB. Selain itu ada kertas berisi pertanyaan mengenai kesehatan anak termasuk vaksin apa saja yang sudah diberikan. Nah, ini aku memang lalai, Kai jarang aku bawa menerimakan vaksin. Untung masih ada waktu sampai sebelum masuk SD bulan maret nanti untuk mengejar ketinggalan. Jepang memang sangat concern dengan kesehatan anak-anak sehingga menyediakan semua vaksin yang diperlukan dengan gratis.

Pemeriksaan pertama adalah mata oleh dokter ahli mata. Saat ini jika ada anak yang perlu diperiksa lebih lanjut akan diberi tanda dan disuruh periksa ulang. Sesudah itu pemeriksaan telinga (pendengaran), badan keseluruhan, gigi dan terakhir kemampuan pandangan (perlu kaca mata atau tidak). Kami juga ditanya apakah ada alergi atau tidak, terutama karena murid SD akan menerima makan siang (kyuushoku 給食)di sekolah. Keseluruhan pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter-dokter ahli yang mempunyai klinik di daerah kami, dan mereka sukarela membantu pemerintah daerah untuk memeriksa anak-anak ini. Aku pernah mendengar bahwa kebanyakan dokter ahli (terutama dokter gigi) libur praktek setiap hari Kamis, yang memang digunakan khusus untuk acara-acara seperti ini atau seminar-seminar. SD tujuan Kai ini diadakan kamis kemarin, sedangkan ada dua SD lagi di dekat daerah kami yang mengadakan pemeriksaannya Kamis depan dan dua minggu ke depan.

Dari pemeriksaan dan angket anak-anak ini, nanti bisa diketahui berapa jumlah murid yang akan masuk dan akan dibuka berapa kelas. Biasanya memang jumlahnya cukup untuk 3 kelas, tapi sekitar 3 tahun lalu, jumlahnya membludak sehingga harus membuka 4 kelas.

Pemeriksaan ini selesai dalam 2 jam, dan kami sudah diberitahukan untuk mengikuti pertemuan orang tua murid pertama pada bulan Februari nanti. Nah biasanya saat itu kami sudah tahu masuk kelas yang mana, apa saja yang harus disediakan dan terutama siapa yang bersedia untuk duduk dalam komite perkumpulan orang tua murid dan guru (PTA =Parent Teacher Association). Dulu waktu Riku tahun pertama aku sudah menawarkan diri menjadi sewanin 世話人 dan berkat kegiatan itu aku bisa berkenalan dengan ibu-ibu dari beragam kelas dan mukaku juga dikenal kepala sekolah. Tapi untuk tahun depan aku tidak mau mencalonkan diri karena sudah hampir pasti aku akan bertambah sibuk dengan pekerjaanku. Hmmm tapi kalau tidak ada yang mau dan bisa…… 😀