Oh Dewi Sri

Aku rasa tidak ada seorangpun orang Indonesia yang tidak tahu bahwa Dewi Sri adalah Dewi padi. Itu merupakan pengetahuan umum, sama saja seperti Ganecha, yang menjadi lambang ITB  adalah dewa pengetahuan. Tapi kali ini aku memang merasa agak malu karena pengetahuanku hanya sekadar pada Dewi Sri adalah dewi padi. titik…. Dan aku mempelajari cerita asal muasalnya justru dari Picture Book yang ditulis oleh Kako Satoshi, yang karangannya “Anda Tahu PLTA Cirata” atau “Hahaha no hanashi” yang sudah pernah aku bahas juga. Kata Gen, tidak ada seorang Jepangpun yang tidak mengetahui Kako Satoshi, pengarang beberapa buku PB yang terkenal. Memang dia hebat, bisa menjelaskan yang sulit-sulit melalui gambar yang menarik!

Buku yang menceritakan Dewi Sri ini berjudul “Fushigina ine to ohimesama” (Padi yang Ajaib dan Putri Raja).

halaman depan picture book Fushigina ine to ohimesama

Dahulu kala masih banyak terdapat dewa-dewa baik yang berbentuk manusia maupun yang berbentuk binatang. Dan Maha Dewa menyerukan pada semua dewa-dewa untuk membangun sebuah gedung yang besar. Mereka semua berkumpul dan menyetujui untuk mendirikan gedung tersebut. Dewa Timur membawa batu, Dewa Angin membawa tanah liat, Dewa Obat membawa pasir, Dewa Hutan membawa pohon. Semua dewa membawa barang yang diperlukan dalam pembangunan, kecuali satu Dewa, yaitu Dewa Ular. Karena dia tidak berkaki dan bertangan, dia tidak bisa membawa apa-apa ke tempat Maha Dewa.

Dewa Ular melihat dewa-dewa lain membawa menjadi sedih, sehingga menangis.. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes air mata mengalir…dan begitu mencapai tanah menjadi tiga butir telur. Lalu Dewa Ular berpikir, daripada tidak membawa apa-dia ingin membawa telur itu kepada Maha Dewa. Lalu dibawanya satu telur dengan cara menggigitnya. Di tengah jalan Dewa Ular bertemu dengan Dewa Ayam, dan Dewa Ayam bertanya, “Ular kamu buru-buru begitu, ada apa sih?”. Tapi karena Dewa Ular menggigit telur, jadi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Dewa Ayam. Dewa Ayam marah karena dipikir Dewa Ular sombong, dan dia mematuk ekor ular. Tanpa sadar Dewa Ular berteriak “Aduh…” dan Akibatnya telur itu jatuh dari mulut Dewa Ular, mengenai batu dan pecah.

Dewa Ular kesal dan kembali mengambil satu lagi telur yang dia sembunyikan di lubang batu. Dan kembali dia dia bergegas pergi sambil membawa telur dalam mulutnya. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Dewa Merak. Dewa Merak bertanya kepada Dewa Ular, tetapi karena didiamkan, Dewa Merak mematuk peurt Dewa Ular. Dan telur yang di mulut Dewa Ularpun jatuh ke jurang setelah Dewa Ular berteriak, “Aduuuh”.

Dewa Ular kemudian kembali untuk mengambil telur yang tersisa. Dan di tengah jalan dia bertemu dewa Kelelawar. Dewa kelelawar juga bertanya, dan karena Dewa Ular tidak menjawab, Dewa Kelelawar mematuki kepala dan mencakar muka Dewa Ular. Namun kali ini Dewa Ular bertahan untuk tidak teriak, sehingga dia berhasil membawa telur itu kepada Maha Dewa.

Maha Dewa sangat gembira menerima persembahan telur dari Dewa Ular, dan membeli telur tersebut. Dengan ajaib telur itu menetaskan seorang anak perempuan cantik, dan diberi nama Sang Hyang Sri. Dan pada waktu bangunan besar itu selesai, Sang Hyang Sri sudah menjadi putri yang cantik.

Ternyata telur kedua yang jatuh ke jurang, tidak pecah malah terbawa aliran sungai, dan ditemukan oleh Dewa Kerbau. Dari telur itu lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Anita. Anita menjadi pemuda yang pandai dan gagah.

Saatnya tiba untuk merayakan selesainya pembangunan gedung. Anita datang bersama Dewa Kerbau, dan pertama kali dia melihat Sang Hyang Sri di sana. Anita langsung menyukai Sri dan demikian pula dengan Sri. Tetapi Maha Dewa tidak menyetujui pernikahan Anita dan Sri, karena dia mengetahui bahwa keduanya sebenarnya kakak-beradik, yang berasal dari telur Dewa Ular.Tetapi mereka berdua Anita dan Sri tidak tahu. Malahan Maha Dewa membuang Anita ke pulau yang jauh.

Sri yang bersedih terus menerus menjadi kurus dan akhirnya meninggal. Maha Dewa membuat makan di sebelah barat Bangunan, dan yang aneh di sekitar makam Sang Hyang Sri tumbuh rerumputan yang berbiji. Hingga suatu hari di makam Sri sampailah seorang yang kurus kering. Dialah Anita yang melalui jalan yang berat dari pulau terpencil dan akhirnya sampai ke makam Sri. Anita menangisi makam tanpa suara. Dan setelah berhenti menangis, dia memunguti biji dari rerumputan dis ekitar makam, dan menyebarkannya ke mana-mana. Bahkan setelah Anita meninggal, biji rerumputan menjadi besar dan enak. Inilah permulaan dari padi.

halaman belakang

Dalam kata penutupnya Kako Satoshi mengatakan bahwa beliau tinggal di Bandung pada tahun 1986 (waaah persis waktu aku masuk UI nih) untuk membantu UNESCO dalam program pemberantasan buta huruf. Dari penerjemahnya Hariyana, beliau  mengetahui cerita ini, dan setelah pulang kembali ke Jepang melakukan riset lebih detil lagi. Memang ceritanya bervariasi tapi beliau menyatukan cerita-cerita ini menjadi satu cerita mengenai permulaan panenan padi, dengan harapan dapat menceritakan keadaan negara di selatan (minami no kuni, sering dipakai untuk menunjuk negara-negara di sebelah selatan Jepang, seperti Asia Tenggara dan termasuk Indonesia)

Kako Satoshi,84 tahun, pengarang lebih dari 500 buku. Foto diambil dari http://www.pref.kanagawa.jp/osirase/bunka/bunspo/bunka-profile.html

Diterbitkan oleh penerbit Kaiseisha pertama kali bulan Mei 1989 seharga 890 yen, tapi sekarang sudah tidak terbit lagi, dan jika mau membeli harganya minimum 5000 yen saja. Kami meminjam buku ini dari perpustakaan Pemerintah Daerah Nerima.

Sebagai penutup aku mau mengutip lagi tulisanku di postingan lalu “how JAWA are you”:

Saya percaya, jika manusia keluar dari “sarang”nya bukan hanya bisa melihat pemandangan indah di luar, dan terlebih dapat melihat ke dalam sarangnya sendiri dengan lebih obyektif dan bahkan mendalaminya. Meskipun kadang saya –sebagai manusia tak bersuku– merasa gamang dalam menentukan dimanakah sebetulnya sarangku itu. Yang saya tahu, hutanku adalah Indonesia!

29 gagasan untuk “Oh Dewi Sri

  1. rhainy

    wah…ny juga baru tau ceritanya nih mbak…ny juga cuma tau kalo dewi sri , dewi padi….hm..seharusnya emang anak2 disuguhin ceritanya ya mbak, kenpa dewi sri itu dewi padi…dsb…; sip mbak, jadi pengen nyari dongeng2 untuk anak2 nih…(biasanya yg ny rajin beli untuk anak2, cerita nabi2 atau malah cerita2 modern lain…)
    .-= rhainy´s last blog ..Pantai =-.

    Balas
  2. sauskecap

    waktu kecil saya sering membaca kisah dewi sri… sepertinya ada yang berbeda… tapi saya benar-benar lupa…
    .-= sauskecap´s last blog ..Country Steak, Restoran Bergaya Western =-.

    Balas
  3. wita

    Dewi Sri itu adalah merek spa-nya Martha Tilaar hehehehey tau2an soalnya hbs anterin adek beli sepaket Dewi Sri Spa buat seserahan kawinannya. Aromanya eksotis, sangat njawani banget. Oiya, klo nggak salah dewi sri itu juga dewi kesuburan ya? heheh

    langsung tertarik sm judul postingannya, krn bru aja nyampe rumah beli wangi2an Dewi Sri itu hehehehey kirain neechan hbs nemu or beli produk dewi sri disana. soalnya disini mahal bgt, hmpr sama ky body shop gitu. Body shop-nya Indonesia hehehe.

    Satuju sm kutipan yg terakhir! 😀
    .-= wita´s last blog ..Antik & Gyuudon =-.

    Balas
  4. Bro Neo

    wah, berarti yg aku tahu cuma sepenggal aja yach… yg aku tahu cuma hubungan dewi sri ama pacarnya tdk direstui… trus dewi sri sakit ampe meninggal, trus tumbuh padi deh.. tp br tahu kalo asalnya dari telur-telur dewa ular…

    makasih sharing ceritanya mbak EM

    salam,
    .-= Bro Neo´s last blog ..Tiong Ting & Delingan =-.

    Balas
  5. vizon

    aku udah lama dengar nama dewi sri, tapi baru kali ini baca cerita lengkapnya. thanks nechan. jadi ada bahan buat ngedongeng nih, hehehe… 🙂

    Balas
  6. morning_hen

    Udah lama gak baca “cerita rakyat”, baru sekali ini baca versi dewi sri yang ini… Thanks for sharing ya, K’ Imel 🙂

    Balas
  7. koelit ketjil

    wahhh jadi juga tulisan ttg Dewi Sri.. maaf aku juga gak tau waktu kamu tanya ttg dewi Sri.. abis yang aku tau sudah dalam bentuk nasi, bubur, lontong, ketupat..hehehhehe 😀

    Balas
  8. edratna

    Ternyata…justru Imel yang tinggal di Jepang yang membahas tentang asal usul Dewi Sri dengan runtut.
    Dan anehnya, dari buku yang penulisnya dari Jepang…dan pernah datang ke Indonesia.

    Biasanya cerita tentang dewi Sri diceritakan secara turun temurun…..didongengkan dari ibu ke anaknya….
    .-= edratna´s last blog ..Kondangan =-.

    Balas
  9. Li Lee

    hebaaat. suka deh
    aku ndak tau Dewi Sri itu dewi padi dan Ganesha itu dewa pengetahuan
    Ganesha dewanya Hindu; aku tau di Malaysia sini karena banyak Indians
    cerita rakyat (setauku term nya itu untuk cerita” tradisional begini) memang aneh” ya
    waktu kecil aku juga sering didongengin
    bagus lhoh 🙂 cepet tidur dan mengasah imajinasi. ada kasetnya juga, biar ga perlu ngedongeng
    my appreciation and gratitude to Kako Satoshi for being such a knowledgeable yet humble man

    ~LiOnA~

    Balas
  10. hamidah

    wahhh baru tau juga kalo ceritanya seperti itu, saya fikir tidak sekomplek itu.

    setuju dengan muka bantal, nama cowok ko anita. hehehehe

    Balas
  11. orange float

    sewaktu kecil saya juga pernah membaca dongeng ini tapi sudah lupa alurnya. keren ya…. sebenarnya dongeng ini asli asal Indonesia atau bukan sih mbak
    .-= orange float´s last blog ..Kaum Ini Juga Manusia =-.

    Entahlah … tapi kan banyak cerita wayang juga bukan berasal dari Indonesia. Hindu!
    dan kebanyakan cuma orang Jawa yang tau, karena mereka menceritakan turun temurun lewat wayang
    EM

    Balas
  12. Hp

    Cerita yg bagus, menyentuh, dan seperti cerita Dayang Sumbi, kisah Dewi Sri ternyata adalah taboo. Tapi aneh juga, ternyata ular tidak menjadi tokoh antagonis. Sebaliknya, malah ayam, merak dan kelelawar yg menjadi sumber petaka. Dua binatang pertama adalah unggas yg hidup di siang hari, sedang yg terakhir berbeda jenis dan merupakan binatang nokturnal. Saya masih belum paham dgn perilaku jahat binatang tadi. Kenapa misalnya, dewa utama tidak menghukum mereka? Atau kenapa ular yg malah menjadi korban, karena justru ialah yg seharusnya jadi predator?

    Kalau kisah ini dari Indonesia, saya curiga jika ia mengandung beberapa pesan tertentu yg pro penguasa. Kita misalnya dapat mengartikan ular itu sebagai penagih pajak yg keliling desa membawa upeti, telur, kepada raja, dewa utama. Para penagih pajak ini tentu dibenci rakyat, ayam, merak dan kelelawar. Tapi ia tidak membalas perilaku buruk mereka. Yg sebaliknya muncul, justru akibat perlawanan rakyatlah yg menyebabkan terjadinya cinta adik dan kakak. Menariknya, cinta itu tik terjadi lantaran campur tangan raja secara langsung. Akibatnya, Sri mati merana dan menumbuhkan benih padi.

    Kenapa bisa muncul cinta adik dan kakak? Jawaban yg mengena adalah, hal itu menyimbolkan sebuah peperangan. Karena masyarakat desa memberontak, maka raja pun mengirimkan tentara untuk menumpasnya. Alhasil, sistem keluarga hancur. Disinilah raja memunculkan kebijaksanaannya dgn mencegah perkawinan adik dan kakak. Kedua tokoh ini ibarat tumbal yg membuat masyarakat paham bahwa tidak ada gunanya memberontak pada raja. Dan seandainya mereka taat dan patuh membayar upeti, tentu hasilnya malah kembali ke mereka sendiri: yakni panen padi yg melimpah.

    Hahaha… HP bikin cerita versi baru
    EM

    Balas
  13. An

    Jadi itu merupakan perpaduan dari berbagai versi cerita ya. . .

    Saya baru tau cerita detailnya seperti itu ternyata 🙂

    Balas
  14. henny

    500 buku!
    Berbagi pengalaman, ilmu dan pengetahuan… dan dapat dinikmati sepanjang masa oleh banyak orang… kapan giliran Mrs. Miyashita? 🙂

    Balas
  15. Retty

    Aku baru pertama mendengar cerita versi ini. Agak mirip dengan gaya kisah Jepang seperti Momotaro ya…

    Yang sering kugunakan di museum adalah cerita tentang Dewi Sri yang didorong jatuh dari kahyangan oleh Dewi-Dewi yang cemburu pada kecantikannya (hehehe kahyangan juga ada iri-irian ya?!).

    Walaupun seorang Dewi, tetapi terhempas ke bumi membuat dia meninggal. Seorang petani yang lewat melihat jenazah wanita cantik yang tidak mendapat pemakaman yang layak ini lalu jatuh kasihan. Dia memakamkannya secara layak. Dari makan itulah muncul tanaman padi yang ternyata sangat berguna sebagai makanan utama sang petani dan keluarganya. Itu adalah tanda terima kasih dari Dewi Sri.

    Karena menghormati Dewi Sri maka pak tani tidak pernah menggunakan parang untuk memanen padi. Ia senantiasa menggunakan ani-ani yang kecil dan tidak akan menakutkan bagi sang Dewi.

    Penghormatan kepada sang Dewi juga diberikan melalui penempatan panenan di dalam kamar utama rumah Jawa. Di kamar itu juga sepasang pengantin baru menghabiskan malam pertamanya. Pengantin juga diperlambangkan sebagai loro blonyo yaitu representasi Dewi Sri dengan suaminya Dewa Sadono.

    Nah cerita Sri dan Sadono ini belum pernah aku telusuri kisahnya. Tetapi secara umum cerita di atas sangat cocok untuk di museum karena memang orang Indonesia sangat mengutamakan prosesi pemakaman yang layak.

    Begitu kira-kira versi yang pernah saya dengar. Seru juga kalau ada versi lain dari daerah lain…

    Balas
  16. eliesaM

    Saya tertarik dengan ilustrasinya. Apakah yang menggambar wayangnya juga pak Kako Satoshi, orang Jepang? Gambarnya juga sangat menarik. Gaya Jepang, tapi mirip seperti wayang asli Indonesia.. Wow la~

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *