Arsip Kategori: History

Program 100 Kastil

Seperti yang sudah kutulis di sini, deMiyashita sedang mempunyai proyek  keluarga yaitu mengunjungi 100 kastil terkenal di Jepang. Ceritanya tidak mau kalah dengan kakek Miyashita yang sudah mendaki 100 gunung terkenal di Jepang. Padahal jumlah kastil di Jepang itu banyak sekali. Ada yang masih berupa bangunan kastil, ada yang sudah rata dengan tanah, hanya ada “bekas-bekas”nya saja. Jadi kami sendiri tidak bisa menentukan 100 kastil terkenal itu apa saja. Untung ada buku yang berjudul 100名城 (100 Kastil Terkenal Jepang) yang memuat 100 kastil berdasarkan daerahnya. Buku itu juga menyediakan tempat kosong untuk mengumpulkan cap kastil itu. Jadi kalau kami masuk ke kastil, dan menghubungi pintu masuk, baik bayar atau gratis, bisa menanyakan cap yang dimaksud.

Aku beli dua buku ini untuk Riku dan Kai supaya tidak berantem 😀

Tanggal 7 Juli adalah hari Tanabata. Setelah mengikuti misa dan sekolah minggu (aku mengikuti rapat sekolah minggu) jam 12 siang, Gen menjemput kami di gereja langsung naik tol. Tujuan kami hari itu adalah Odawara Castle yang terletak di prefektur Kanagawa. Aku sendiri sudah berkali-kali ke sini, karena memang bangunan kuil yang terdekat dari Tokyo adalah Odawara Castle sehingga sering mengantar teman ke sini. Riku juga sudah pernah, tapi waktu itu dia baru berusia 2 tahun :D.

pintu gerbang kastil Odawara yang berlapis

Yang menyenangkan sebelum kami sampai di kastil tersebut, kami harus melewati tol yang menyusuri pantai. Di luar terik matahari tapi dalam mobil ber-AC. Jadi sepanjang berada dalam mobil, melihat ke arah laut membiru, segar sekali rasanya. Tapi jangan keluar mobil, karena saat itu suhu di termometer sih 33 derajat, tapi real feelnya 38 derajat sajah! Dan untuk pertama kalinya aku merasa dehidrasi, pusing karena tidak mau minum selama perjalanan.

Kami sampai di kastilnya sudah pukul 15:20 karena berputar-putar mencari tempat parkir. Tapi dibanding dulu waktu aku datang ke sini, pengunjung kastil amat sangat sedikit, alias sepi. TAPI ada yang mengejutkan kami waktu kami mulai memasuki gerbang kastil. Ya kami bertemu dengan 4 orang cosplay (costume player, orang-orang yang memakai kostum dari anime/manga) . Cukup mengagetkan karena tidak menyangka di tempat yang begitu klasik, ada mereka. Sebetulnya aku ingin berfoto dengan mereka, tapi pengaruh hawa panas membuat aku malas.

si cosplayer 😀

Dan ternyata, tidak hanya 4 cosplay saja yang kami temui. Di gerbang kastil bagian dalam, kami bertemu lagi dengan perempuan dengan kostum salah satu pemain di Inuyasha. Langsung aku tanyakan padanya kenapa kok banyak cosplayer yang datang ke Kastil Odawara ini. Dan dia menjawab bahwa sejak jam 10 pagi memang sedang ada event khusus untuk cosplayer di situ. Pantas banyak sekali cosplayer yang kami temui. Coba tidak panas, pasti aku minta berfoto dengan mereka satu-per-satu. Riku juga tidak banyak tahu manga dan anime, sehingga melihat cosplayer begitu juga cuek saja 😀

Di depan kastil ada kebun binatang kecil, tapi karena takut kastilnya tutup, kami langsung memasuki bagian dalam kastil dengan membayar 400 yen untuk dewasa dan 150 untuk Riku. Kalau anak TK memang biasanya gratis.

Odawara Castle

Kami tidak boleh memotret di dalam kastil, dan kebanyakan memang peninggalan bersejarah dari kastil tersebut. Terdiri dari 5 tingkat, dan di puncaknya kami bisa melihat pemandangan ke luar dari 4 mata angin. Sayang ada pagar kawat sehingga hasil fotonya kurang bagus. Di lantai teratas itu juga ada tempat beristirahat dan tempat penjualan cindera mata. Jadilah banyak orang yang membeli es untuk mengusir udara panas sore itu.

dari puncak castle

Setelah menuruni kastil, kami memasuki sebuah kuil Hotokuninomiya jinja yang merupakan tempat memperingati Ninomiya Sontoku (nama aslinya Ninomiya Kinjiro 二宮 金次郎 4September  1787 – 17 November  1856). Dia berasal dari keluarga miskin, ayahnya meninggal waktu usia 14 tahun sehingga harus bekerja keras sambil mengurus adik dan ibunya yang meninggal 2 tahun sesudahnya, tapi di setiap kesempatan beliau membaca buku. Dalam usia 20 tahun dia berhasil mengubah sebuah tanah terlantar menjadi tanah pertanian dan menjadi kaya sebagai seorang tuan tanah. Kemudian dia menjadi seorang daimyo yang terkenal di Odawara.  Patung yang terkenal adalah waktu dia membaca buku sambil berjalan menggendong kayu bakar. 

Ninomiya Jinja. Kanan patung Ninomiya berjalan sambil membaca buku

Ninomiya ternyata juga dikenal sebagai pemimpin agrikultur, ekonomist, moralist dan filosofer. Aku sendiri belum tahu banyak tentang Ninomiya, tapi kalau membaca di wikipedia, kagum juga bahwa dia membuat semacam koperasi simpan pinjam untuk anggota tanpa bunga untuk 100 hari pertama. Meskipun dia tidak meninggalkan buku atau dokumen tertulis, bawahannya menuliskan pemikiran Ninomiya yang menggabungkan pemikiran Buddha, Shinto dan Konfusius dalam pelaksanaan praktis. Selain itu pemikirannya bahwa pertanian adalah bidang yang terpenting, karena berasal dari sang Pencipta.

miyukigahama, odawara

Kami meninggalkan kuil yang teduh itu untuk kembali ke Tokyo. Tapi kami ingin sekali mampir ke pantai yang terlihat dari jalan tol waktu datang, jadi Gen mencari jalan di bawah tol untuk mencari cara untuk ke pantai. Akhirnya setelah melewati jalan sempit pemukiman penduduk, kami sampai di sebuah terowongan untuk pejalan kaki berjalan ke pantai. Anak-anak langsung berlari ke pantai mengejar ombak. Riku dan Kai sempat mendapatkan ikan Katakuchiiwashi (anchovy) yang terdampar terbawa ombak. Tapi karena ikan jenis ini mudah busuk, kami kembalikan ke laut lagi.

Riku dan Kai mengumpulkan katakuchiiwashi (anchovy) yang terdampar

Tapi ombak di pantai Miyukigahama, Odawara ini cukup besar, sehingga aku selalu berteriak wanti-wanti anak-anak jangan terlalu dekat dengan air. Tidak ada orang sama sekali di sekitar pantai, dan itu bisa dimaklumi karena puanasnya rek! 😀 Yang menarik perhatianku di situ terdapat peringatan bahwa jika terjadi gempa bumi, harus segera melarikan diri lewat terowongan ke sisi pemukiman. Sepanjang pantai memang didirikan tembok tinggi dan kalau melihat tebalnya pintu terowongan itu, aku mengagumi antisipasi orang Jepang menghadapi tsunami.

tunnel penghalang tsunami di pantai Miyukigahama. Lihat ketebalan pintunya, seperti pintu  bank ya 😀 (Padahal belum pernah lihat pintu  bank selain di film)

Kami kemudian pulang ke Tokyo naik tol yang lumayan macetnya 😀 Meskipun cuma setengah hari, perjalanan 100 Kastil kami hari itu cukup menyenangkan. Masih ada beberapa kastil di sekitaran Tokyo yang bisa kami kunjungi pulang hari, tapi kalau sudah ke arah kansai (Osaka, Kyoto dan sekitarnya) kami perlu merencanakan jauh hari karena perlu menginap. Semoga bisa lengkap mengunjungi 100 kastil deh, entah selesainya kapan.

 

Koin Pertama

Untuk teman-teman yang berada di Indonesia, apakah masih memakai dan menyimpan koin? Pecahan koin yang paling besar di Indonesia adalah 1000 rupiah (kira-kira 10 yen) dan kurasa orang-orang sudah malas menyimpan dan membawa-bawa koin dalam dompetnya. Tapi kalau di Jepang koin terdiri atas pecahan 1 yen, 5 yen, 10 yen, 50 yen,100 yen dan 500 yen. Koin-koin ini tentu saja masih “berlaku” dalam arti dibawa-bawa dalam kantong koinnya atau sebagai kembalian waktu membeli sesuatu (bukan berupa permen), meskipun sekarang sudah mulai banyak pemakaian kartu dengan chip (prepaid).

Pernah lihat koin  kuno Indonesia? Ada di antara koin kuno itu yang berbentuk bulatan yang bolong bagian tengahnya kan? Nah di Jepang pun ada koin yang serupa bahkan sampai sekarang masih dipakai yaitu nominal 5 yen dan 50 yen. Dan jika mau ditelusuri sejarahnya ternyata koin yang pertama dipakai di Jepang dibuat pada tahun 708! Namanya Wado Kaichin atau Wado Kaihou. Sudah lama sekali ya?

Sebelum ke kuil, biasanya mencuci tangan dulu. Lihat airnya membeku!

Hari Minggu lalu, sebelum kami pergi ke Icicle di Chichibu itulah, kami mampir ke tempat bersejarah ini.  Sebuah bekas penambangan tembaga yang dijadikan sebagai koin Jepang pertama. Tempatnya kecil saja, dan letaknya tidak jauh dari jalan besar.

Omamori yang kami beli seharga 500 yen, koin kuno yang dibungkus dengan kertas keterangan

Kami menaiki tangga untuk melihat Jinja (kuil Shinto) yang dipakai untuk mendoakan supaya “uang (baca rejeki) bisa lancar masuk”. Boleh dikatakan tidak ada orang di situ, bahkan kalau kita mau membeli jimat/ kain berisi doa-doa yang disebut omamori, kita tinggal mengambil dari wadah yang ada, dan membayarnya di tempat yang tersedia. (Tidak ada yang berani mengambil uangnya)

Di sebelah kuil ada keterangan penambangan tembaga dan juga ema (kayu bertuliskan keinginan) yang digantung

Tidak jauh dari kuil itu kita bisa melihat bekas-bekas penambangan tembaga. Dengan menuruni kali dan melewati jalan setapak, kami  menemukan sebuah monumen berbentuk koin bolong itu. Di seberang kali ditandai tempat-tempat bekas penambangan tembaga. Memang sih bisa dikatakan tempat ini tidak ada apa-apanya. Hanya kuil, monumen dan … rerumputan. Tapi dari sinilah uang tembaga pertama yang dipakai sebagai alat perdagangan dimulai. Sejarah sebuah kebudayaan yang sudah maju untuk abad 8.

Ada sebuah monumen besar berbentuk koin di sebelah sungai kecil yang mengaliri daerah penambangan.

Kamu suka mengumpulkan koin seperti teman saya yang getol menabung sampai pakai ember/kaleng kerupuk sebagai celengan? Atau bahkan mungkin kolektor uang kuno? Ibuku dulu memang kolektor koin dari negara-negara yang pernah dia kunjungi, ditaruh dalam satu akuarium bulat (bayangin akuarium ikan mas deh) , tapi ngga tau deh sekarang kemana semua itu koin-koin. Aku sendiri tidak mengumpulkan koin tapi mengumpulkan perangko.

Jalan setapak menuju bekas penambangan. Aku berjalan terakhir sendiri dan sempat merasa takut juga dengan pemandangan begini di depan mata. Untung siang hari hehehe