Arsip Kategori: Diary

Tsuki ga kireidesune

Tadi siang, kami sekeluarga makan bersama di restoran. Suatu kesempatan yang sudah mulai jarang terjadi. Kemudian Riku yang kemarin berada di sekolah dari pukul 7 pagi sampai 6 sore karena ada pertandingan badminton di sekolah, bercerita bahwa dia kemarin melihat bulan purnama yang cantik dan besar sekali. Sayang sekali, aku kemarin menyetir mobil dan ada acara di gereja, kehilangan moment itu.

Tsuki ga kirei desu ne…. Bulannya indah ya…. Aku ambil tadi sore dari teras rumah. Masih bagus, meskipun sebetulnya purnamanya kemarin.

Riku melihat bulan yang besar itu di sekolahnya, sambil menengadah ke atas bersama beberapa teman-temannya. Dan ada pula teman wanitanya. Saat itu dia berkata,
“Mestinya ada laki-laki yang berkata, Tsuki ga kirei desu ne (harafiah Bulannya indah ya)”
tapi sekelilingnya tidak ada yang mengerti, tidak ada pulang yang mengatakan “Tsuki ga kirei desune”. Lalu Riku berpikir, ya tentu saja ada yang bisa mengerti perkataanku, ada pula yang tidak ya….. Lalu papa Gen bertanya, “Jadi, Riku bilang tidak Tsuki ga kirei desune”
“Tentu saja tidak… tidak ada juga yang bisa dibilang sih”

Terus terang, aku tidak mengerti percakapan itu. Kenapa? Apa maksudnya?
Lalu Riku mengatakan, “Coba saja mama cari di internet apa arti Tsuki ga kirei desune. Itu perkataannya Natsume Soseki”

Saat begini, aku merasa perlunya HP karena aku segera bisa mencari di internet. Jadi rupanya ada sebuah kejadian sewaktu pengarang Jepang terkenal (“Botchan” dsb) Natsume Soseki menjadi guru bahasa Inggris. Ada muridnya yang menerjemahkan “I Love You” sebagai “我君を愛す(ware kimiwo aisu)”, dan disalahkan oleh Natsume Soseki, katanya harus menerjemahkan dengan “Tsuki ga kireidesu ne (Bulannya Indah ya)”. Tentu saja maksudnya bahwa orang Jepang TIDAK AKAN MENGATAKAN aku cinta kamu secara langsung, tetapi biasanya akan mengatakan “Bulannya Indah ya” dan itu dimengerti sebagai pernyataan cinta.

Haduuuh ribet banget, tapi ini menunjukkan bahwa memang orang Jepang tidak pernah mengatakan cinta! Lalu tambah Riku, “Bahasa Inggris tuh bagus ya, ada LOVE ada LIKE, jadi bisa dimengerti. Tapi kalau bahasa Jepang hanya ada SUKI yang bisa artinya suka terhadap teman, atau suka terhadap pacar”. Hmmm anakku sudah mulai mengerti perbedaan bahasa, tapi ini didapat hanya karena dia suka membaca karya sastra dan sejarah. Karena itu dia tadi mengatakan “tentu saja ada yang bisa mengerti perkataanku, ada pula yang tidak ya”. Hanya orang yang mengetahui hubungan “Tsuki ga kirei desune” dengan Natsume Soseki sajalah yang mengerti, bahwa topiknya bukan BULAN tapi pernyataan CINTA.

Sastra itu sulit ya… tapi indah menurutku!

Bibliobattle

Ini adalah nama program kegiatan membaca dari sekolah SD nya Kai. Memang dalam satu tahun ada dua kali yang dinamakan “Pekan Membaca” 読書週間. Biasanya anak-anak harus menuliskan target mereka, semisal dalam 10 hari itu ingin membaca berapa buku. Tapi sekarang kebanyakan bukan jumlah bukunya yang penting, tapi jumlah halamannya. Dan untuk kelas 3, gurunya mengatakan bahwa targetnya 1000 halaman waktu liburan musim panas. Hmmm 1000 halaman kan banyak! Dan terus terang Kai tidak bisa membaca 1000 halaman selama liburan musim panas, karena lebih banyak bermain di Indonesia atau di Jepang. Tapi setelah itu, pada bulan November, Kai berhasil membaca 1000 halaman lebih dalam 1 minggu!

buku-buku pilihan gurunya untuk Bibliobattle kelas 3 ditaruh di depan kelas

Tapi sebagai kelanjutan kegiatan “Pekan Membaca”, pada bulan Desember, mereka mengadakan “Bibliobattle” dengan tema: Cerita kuno dunia atau cerita rakyat. Masing-masing anak diwajibkan memilih dari sekian banyak buku dan mempromosikan buku yang dibacanya (battle). Kemudian dari kelas akan dipilih buku yang paling populer di antara murid.

The Big Turnip, cerita rakyat Rusia

Saat itu Kai memilih ブレーメンの音楽隊 ”Town Musicians of Bremen” padahal menurutku itu bukan cerita rakyat 😀 Jika disuruh memilih cerita rakyat yang populer di Jepang, aku akan memilih buku yang berjudul 大きなかぶ Ookina kabu “The Big Turnip” yang merupakan cerita rakyat Rusia atau てぶくろ Tebukuro ”Sarung Tangan” yang merupakan cerita rakyat Ukrania. Tapi memang anak-anak Jepang terbiasa membaca cerita rakyat dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Penerbit yang terkenal sering menerbitkan buku cerita anak-anak adalah Fukuinkan Shoten. Dulu waktu Riku usia 1 sampai 3 tahun setiap bulan dikirimi buku baru berseri yang merupakan hadiah dari temannya Gen.

Tebukuro (Sarung Tangan) cerita rakyat Ukrania

Kalau soal cerita rakyat dunia, buku apa yang ingin kamu sarankan?

 

Gelas-gelas Kaca

Seperti beberapa teman sudah ketahui, sejak akhir Februari, Riku terjangkit influenza. Aku pernah menulis di sini mengenai apa bedanya Influenza dan Masuk Angin. Jangan sembarangan berkata flu di Jepang deh, kalau tidak mau dituding penyebar penyakit 😀 Karena kalau influenza di Jepang, pasti tidak boleh keluar rumah, untuk mencegah mewabah.

Nah sesudah Riku sembuh, giliran aku yang kena… aku hampir sembuh, papa Gen dan Kai yang kena. Berturut-turut dan sepertinya memang lebih baik begitu, karena kalau sekaligus empat-empatnya sakit berbarengan, siapa yang akan merawat kami? 😀

Selama Gen di rumah, aku jadinya suka menonton deh. Karena dia suka merekam acara-acara tertentu yang dirasa bagus. Kesempatan untuk menonton, dan menghapus supaya kapasitas BR kami bisa kosong kembali untuk diisi acara TV lain. Dan salah satu acara yang suka direkam Gen adalah tentang seni (art). Sambil “melirik” acara yang ditayangkan (sambil lalu) aku bisa mengetahui nama-nama seniman terkenal. Dan salah satunya adalah Francois Pompon, yang terkenal dengan patung beruang kutubnya.

beruang kutub dari kristal

Daaaan… tiba-tiba aku teringat! Almarhum mama punya koleksi beruang itu yang terbuat dari kristal! Aku memang mempunyai hobi yang sama dengan mama, yaitu menyukai gelas/kristal. Karena toh dipajang di rumah, aku dan juga adikku sering membelikan kristal sebagai hadiah untuk mama. Koleksinya banyak! Tapi sayangnya, aku tidak bisa bawa koleksi itu ke Jepang. Bukannya apa, sayang saja. Jepang kan negara gempa, kaca-kaca itu pasti akan hancur waktu gempa. Jadi mendingan taruh di Jakarta saja hehehe.

Ada satu tempat di Hakone yang sudah lama aku ingin kunjungi. Namanya Hakone Garasu no Mori 箱根ガラスの森 Venetian Glass Museum. Tapi sejak kami punya mobil, itu berarti kami punya anak. Duh, ngga deh membawa anak kecil ke museum yang isinya kaca semua. Nanti kalau pecah dan aku harus ganti, mau petik uang dari pohon apa ya? hehehe.

Jadi keinginan aku untuk masuk Museum Kristal itu baru terwujud pada tanggal 11 Desember tahun lalu. Kami ke museum Kristal itu setelah mengunjungi Museum Little Prince yang ke dua kali (pertama kali waktu anak-anak masih kecil). Riku mulai membaca bukunya, sehingga dia yang minta untuk pergi lagi ke Museum Little Prince itu. Karena dia sudah puas bisa ke Museum Little Prince, dia mau tinggal di mobil dan baca buku  saja waktu kami mampir di Museum Kristal. Dia tidak suka kristal, lain dengan Kai yang sangat suka barang-barang mengkilat dan berkilau. Jadilah aku, Gen dan Kai saja yang masuk ke Museum Kristal ini.

Begitu masuk memang sudah “silau” dengan tunel terbuat dari gelas kristal. Melalui tunel ini kita masuk ke bagian museum yang memamerkan kristal-kristal antik yang biasa terdapat di istana-istana Eropa. Kami tidak berlama-lama di sini karena mengingat Riku juga yang menunggu di mobil. Pokoknya asal lihat saja.

yang klasik dan modern

Di bangunan ke dua lebih banyak memamerkan karya gelas yang lebih bisa diterima awam. Lebih banyak bentuk, banyak warna dan desain. Selain itu di bangunan yang kedua ini terdapat toko yang menjual apa yang dipamerkan. Di sini aku harus menutup dompetku erat-erat karena cukup banyak yang ingin kubeli. Beberapa kali Gen menggoda untuk membelikan kalung yang kelihatan cocok untukku, tapi kutolak dengan mengatakan, “suka sih… bagus sih… tapi pakainya kapan dan bajunya apa?”

Nah yang kurasa memang menjadi daya tarik tempat ini adalah pohon kristal. Pohon besar yang semuanya kristal. Mengkilat terkena sinar matahari, tapi keindahannya menjadi “biasa” saja kalau difoto. Memang lebih bagus melihat langsung. Meskipun aku yang suka kristalpun mengetahui bahwa itu hanya keindahan semu, karena buatan. Mungkin akan lebih senang berlama-lama melihat pohon asli daripada pohon kristal. Cukup satu kali lihat saja sebagai pengalaman.

pohon yang mengkilau tapi jadi “biasa” kalau di foto. Kilauannya tidak terekam

Sebetulnya di dekatnya ada beberapa museum seperti museum Pola, Lalique dan museum seni patung (ini sudah pernah pergi tapi waktu itu tidak punya kamera hehehe). Nanti suatu saat ingin coba juga masuk museum-museum ini.

HPU 雑学

Apakah ada yang masih ingat singkatan HPU? Duluuu sekali waktu aku masih SD, aku ingat aku punya buku catatan dengan judul HPU : Himpunan Pengetahuan Umum. Isinya catatan macam-macam deh, mungkin google sekarang kalah loh 😀 Ada kepanjangan dari singkatan-singkatan, ada info-info lain yang kalau sekarang tinggal tanya di mesin pencari. Sedangkan dulu? Baca (buku/koran), Dengar (Radio/TV), dan Lihat (acara TV /pameran). Pengetahuan yang dirasakan perlu, aku catat di dalam buku HPU itu. Salah satu yang masih kuingat sampai sekarang adalah : Nama pabrik kertas Indonesia : Letjes (ingatnya juga masih ejaan lama hehehe)

Aku suka HPU, mungkin karena aku suka ingin tahu macam-macam ya. Dan ternyata hobiku untuk mengetahui macam-macam itu menurun ke anak pertamaku, Riku. Banyak kali dia menyebutkan sesuatu yang aku dan papanya tidak tahu, lalu dia beritahu. Aku memujinya tentu, tapi papanya bilang, “Buat apa tahu yang remeh begituan! 雑学 zatsugaku , pengetahuan “sembarang”. Belajar sesuatu yang bener sana!” Hmmmm di sini sudah mulai kelihatan kan bedanya. Memang orang Jepang lebih memilih menguasai satu bidang saja, tetapi secara mendalam. Sedangkan aku (tidak berani bilang orang Indonesia secara umum) lebih suka tahu semua hal, meskipun hanya permukaan saja 😀

Salah satu “pengetahuan”nya Riku yang menjadi topik waktu itu adalah ketika dalam suatu acara kuis, ditanya soal negara  yang paling banyak menghasilkan parfum (atau mirip-mirip begitu deh pertanyaannya). Tentu kujawab : Perancis. Nah di situ Riku menyela, “Jelas perancis lah, orang Perancis kan paling jorok dulu. Mereka tidak mandi jadi mesti pakai parfum yang banyak supaya tidak bau”
“Oh kalau itu mama tahu. Oma tuh dulu suka cerita kalau orang Eropa jarang mandi, tidak seperti orang Asia yang mandi tiap hari”
“Tapi orang Perancis bener-bener jorok. Tahu ngga kenapa orang-orang jaman dulu pakai payung dan sepatu hak tinggi? Soalnya mereka dulu suka lempar kotoran manusia ke luar jendela. Nah kalau dari lantai atas lempar keluar jendela kan bisa jatuh ke kepala orang! Makanya pada pakai payung. Trus di jalanan kan jelas bertebaran tuh kotoran manusia, jadi supaya tidak kena kaki, pakai deh hak tinggi…..” sambil ketawa-ketawa si Riku menjelaskan.

WHAAAAAT! “Masa sih Riku! Kamu becanda?”
“Ngga becanda… bener kok aku pernah baca!”

Nah saat begini, langsung dong googling cari penjelasan dalam bahasa Jepang, dan…. ketemu! Memang ternyata benar abad pertengahan di Perancis memang jorok dan bau. Sistem pembuangan mereka tidak bagus, sehingga orang membuang kotoran besar/kecil dalam pispot, lalu buang ke luar begitu saja……. hueeekkkk.

Tentu saja pengetahuan umumnya si Riku bukan hanya tentang yang jorok di atas, ada banyak kali dia nyeletuk tentang sesuatu, tapi yang membekas di kepalaku sampai  hari ini ya tentang si Perancis itu hehehe.

Coco chanel parfum kesukaanku! karena mama dulu sering pakai jadi setiap cium aroma parfum yang ini aku teringat mama. Dan pada saat-saat khusus aku pakai parfum ini.

Kamu suka HPU “pengetahuan sembarang” seperti aku dan Riku ngga?  😀

 

Kelas Ski

Sebetulnya aku ingin menyalahkan kelas Ski yang diadakan oleh SMPnya Riku sebagai penyebab sekian lamanya deMiyashita terkurung dalam rumah akibat influenza. Karena begitu Riku pulang dari kelas Ski, dia kena influenza. Dia sembuh, aku sakit…. menjelang aku sembuh, Gen dan Kai kena 😀 (sampai sekarang masih di rumah). Untung saja mulai akhir Januari aku sudah memasuki libur musim semi di dua universitas, sehingga tidak banyak kelas yang perlu aku batalkan.

Bagaimana aku tidak akan menyalahkan kelas Ski itu dong, karena di situ kemungkinan berjangkitnya virus amat tinggi. Bayangkan 4 hari “hidup bersama” sekitar 240 remaja kelas dua SMP. Sangat mungkin beberapa di antaranya sudah membawa virus influenza pergi ke kelas Ski kan, dan menjangkitkannya kepada teman-temannya kan?

Eh tapi mungkin hanya Riku yang dalamkondisi lemah badannya waktu pulang, ditambah keesokan harinya dia harus berlatih badminton lagi. Tapi bagaimana pun juga, aku tidak menganggap kelas Ski itu jelek! Bahkan aku merasa bersyukur bahwa Riku bisa mengikuti kelas Ski bersama teman-teman sekolahnya.

Rupanya kelas Ski itu merupakan program pendidikan yang diadakan di luar lingkungan sekolah bagian kurikulum untuk kelas 2 yang PASTI dijalankan di kelurahan kami. SMP Riku memang sekolah negeri (pemda) sehingga semua kebijakan pendidikan kelurahan pasti dirasakan langsung. Rupanya tidak setiap SMP negeri mempunyai program yang sama, mempelajari Ski bersama. Kelurahan kami bahkan mempunyai tempat penginapan di dekat resort untuk belajar main ski. Jadi 34 SMP yang ada di kelurahan kami itu secara bergantian menempati villa milik pemda. Bahkan pemda menyediakan bus untuk pulang pergi secara gratis. Ini membuat kami hanya perlu membayar sedikit untuk makanan dan sewa baju ski saja! Memang olahraga ski cukup mahal jika harus merencanakan sendiri.

Persiapan dilakukan dengan matang. Kami orang tua selain menyiapkan biaya, kami juga harus berkumpul untuk mendengarkan briefing sebelum keberangkatan. Dijelaskan program harian mereka, apa saja yang harus dipersiapakan untuk dibawa dsb. Di situ kami tahu bahwa ada 1 guru ski yang akan mendampingi 10 murid. Dan mereka menjamin dalam 4 hari biasanya murid-murid sudah bisa meluncur di atas salju. Dan pada hari keberangkatan Riku memang berhari-hari cuaca dingin dan turun salju di Karuizawa, sehingga menunjang kelas Skinya.

Enaknya punya anak sudah SMP itu adalah dia sendiri yang mempersiapkan tasnya. Mulai dari baju dalam, kaus kaki sampai glove. Karena baju musim dingin itu tebal, tentu makan tempat yang cukup banyak dalam tas. Untuk itu aku pinjamkan beberapa plastik kedap udara sehingga baju yang tebal-tebal itu dapat dipampatkan menjadi tipis. Oh ya, Riku dalam rombongan kelas ski ini ditugaskan untuk menjadi ketua tim “kamar mandi”. Bayangkan 200 orang harus mandi kan? Jadi perlu dibagi menjadi berapa kelompok dan kelas. Setiap kelas ada ketuanya dan mereka bertanggung jawab pada kebersihan kamar mandi. Sesudah dipakai, tentu harus dibersihkan. Termasuk memeriksa apakah ada keran yang masih terbuka, air yang menggenang dsb. Setiap anak punya tugas masing-masing, dan ya ini yang kusukai dari sekolah di Jepang. Semua harus bekerja, semua harus sama.

untung Riku berada di tengah ya? hehehe Ini kelasnya dia, semuanya ada 6 kelas

Program kelas di luar lingkup sekolah setiap tahunnya berbeda. Untuk kelas satu, berenang di laut pada musim panas. Waktu Riku kelas 1, dia tidak mengikuti kelas ini karena kami pergi ke Jakarta. Kelas 2 adalah kelas ski di musim dingin. Dan kelas 3 kelas budaya karyawisata ke Kyoto sekitar musim gugur.

Hiburan di Musim Dingin

Bagi kami yang tinggal di negara 4 musim, kami mempunyai cara untuk melewatkan panasnya musim panas, dan dinginnya musim dingin, serta melewatkan waktu-waktu di antaranya.  Intinya kami menikmati atau mencari cara untuk menikmati setiap musim yang datang.

Musim Semi, kami menikmati bunga sakura atau bunga-bunga lain yang bermekaran. Musim panas, kami menikmati pantai atau gunung. Sedangkan musim gugur, kami menikmati perubahan daun-daun yang berubah warna. Musim dingin? Kami menikmati salju yang turun. Tapi tidak semua daerah itu bersalju. Seperti Tokyo yang ada hanyalah angin yang bertiup kencang dan dingin yang menusuk sampai tulang. Bagaimana mau menikmati musim dingin kalau begitu ya?

Memang kalau menjelang Natal, begitu masuk bulan November, kami bisa menikmati lampu-lampu dan hiasan Natal di mana-mana. Memasuki bulan Desember ditambah lagu-lagu Natal. Tapi pemandangan Natal ini hanya bisa dinikmati sampai tanggal 25 Desember. Begitu tanggal 26 Desember, hiasan Natal diganti dengan hiasan Tahun Baru tradisional Jepang. Padahal musim dingin kan masih panjang?

belum masuk saja sudah dihadang oleh pemandangan seindah ini

Iluminasi atau pemandangan hiasan lampu-lampu di kota bisa menjadi tujuan wisata dalam musim dingin. Nah, tanggal 28 Desember yang lalu, aku sempat mampir ke Yomiuri Land, Kawasaki. Karena aku memang cuma mau melihat lampu-lampu saja maka aku hanya membeli Night Pass yang harganya cuma sekitar 1000 yen untuk dewasa. Night pass ini bisa dipakai mulai jam 4, yang memang pada musim dingin cepat gelap. Cocok deh.

Kami turun di stasiun Yomiuri Land Mae dari Odakyu line, untuk kemudian naik bus ke tamannya. Sebetulnya bisa juga naik Keio Line, dan dari situ bisa naik gondola ke tamannya. Tapi karena aku janjian dengan adikku yang tinggal di Odakyu line, jadi kami menggunakan bus saja. Sebelum pergi lebih baik pastikan dulu jadwal busnya supaya tidak terlalu lama menunggu, meskipun kalau berdiri di baris terdepan pasti dijamin bisa duduk dalam bus. Karena jalan mendaki untuk mencapai Yomiuri Land itu, cukup terjal, agak menyulitkan jika harus berdiri terus dalam bus. Kalau kakinya kuat sih tentu tidak apa-apa hehehe.

susah ya memadukan wajah dan latarnya

Begitu sampai di Yomiuri Land rasanya ingin berlari masuk saja, karena di pintu masuk saja sudah terlihat keindahan pemandangan berhiaskan lampu-lampu. Untung saja waktu itu tidak banyak pengunjung yang datang sehingga aku langsung bisa membeli karcis masuk dan masuk!

Tentu saja keindahan lampu-lampu itu ingin langsung diabadikan dengan memotretnya dari berbagai sudut, tapi aku belum bisa menguasai  cara memadukan foto diri dengan latar lampu-lampu dengan baik. Sulit ya!

supaya lega memang lebih enak berdua-dua

Karena anak-anak bosan dan kedinginan, kami tidak berkeliling taman, dan hanya antri untuk naik Kincir Ria yang harga karcisnya terpisah (600 yen). Karena kami berempat, sebetulnya bisa masuk satu kabin, tapi dengan sengaja kami pisah berdua-dua. Tumben Kai mau dengan kakaknya, sehingga aku bisa berdua adikku dalam satu kabin.

pemandangan dari atas Kincir Ria

Karena lega, kami bisa puas memotret dari atas, tapi angin yang masuk di sela-sela kabin cukup kencang dan membuat menggigil. Mungkin gara-gara ini pula, aku sempat masuk angin dan harus tidur seharian setelah itu.

tentu tak lupa swafoto di atas 😀

Iluminasi di Taman Yomiuri Land ini masih bisa dinikmati sampai tanggal 19 Februari 2017! Jadi masih bisa menikmati valentine di sini ya? hehehe Tapi pasti banyak orang dan antri tuh. Karena memang Yomiuri Land dianggap sebagai tempat melihat iluminasi nomor satu di Tokyo, dengan jumlah 4 juta lampu yang dipakai.

foto yang kami beli, diambil waktu sedang antri masuk Kincir Ria. Lumayan supaya ada kenang-kenangan foto berempat

Pinchi! Sial!

Semalam waktu aku akan tidur, Kai naik ke tempat tidurku dan tidur di sebelahku, “Aku sudah lama ngga tidur sebelah mama… peluk dong!”… hmmm dia mau bermanja-manja rupanya. Tapi dia itu sudah gede! sekarang sehingga tempat tidur terasa sempit jika harus bertiga. Mau usir kasihan juga sehingga aku biarkan saja karena dia sering sakit hati sekarang. Nah saat itu aku menikmati pembicaraan bincang sebelum tidur  kami.

Tiba-tiba saja dia bertanya,” Mama pernah merasa sial? Pinchi?”
“Tentu saja pernah. Tidak ada orang yang tidak pernah kan?”
“Tapi mama tidak pernah kelihatan seperti pinchi
“Ya buat apa mama terus bermuram durja kalau pinchi? Kan masih banyak yang bisa dikerjakan. Masih banyak keuntungan yang didapat. Harus punya semangat untuk mulai terus. Hmmm kalau dipikir-pikir mama memang jarang merasa pinchi ya?”

“Kalau papa? ” Dia bertanya pada papanya yang sedang bermain tab. Papanya diam saja.
“Papa juga sama seperti mama lah. Kan papa dan mama sama-sama ulang tahunnya.”
“Eh ngga bisa dong persis sama. Papa lain sama mama. Mama sepertinya tidak pernah susah”
“Hmmm iya ya. Kai selalu khawatir untuk mencoba sesuatu. Mama jarang khawatir. Mungkin karena mama selalu berpikir, kalau tidak mencoba kita tidak tahu bisa atau tidak. Kau tahu, mama punya semboyan sejak SMP dalam bahasa Inggris, You Can if You Think You Can”

“Ahhh itu aku tahu 為せば成る為さねば成らぬ何事も Naseba naru, nasaneba naranu nanigotomo!”
“Ya seperti itu. Meigen (kata mutiara) nya siapa ya itu?”
Langsung papanya berkata: “Lengkapnya 為せば成る為さねば成らぬ何事も、成らぬは人の為さぬなりけり itu Meigen dari 上杉鷹山Uesugi Youzan. Kata-kata dia dicantumkan dalam buku ” Representative Men of Japan (代表的日本人Daihyouteki Nihonjin)” karya Uchimura Kanzo. Sehingga John F Kennedy mengatakan bahwa dia paling mengagumi Uesugi Youzan dengan mottonya itu.

Langsung deh Kai menghafal peribahasa itu berkali-kali di tempat tidur.

Dan akhirnya aku bilang “Kai mau tahu mama dua kali merasa pinchi dalam sebulan kemarin. Pertama waktu mama pergi ke  Universitas Tokyo untuk memotret daun-daun musim gugur. Mama cuma punya waktu 2 jam, dan supaya mama tidak terlambat ngajar jam 3, mama naik taksi. Eh tahunya supir taxi tidak tahu jalan. Jadi mama bilang, sampai stasiun Kanda saja. Mama pikir mama lebih cepat jalan daripada naik taxi kalau sudah dekat stasiun. Lalu mama berhenti sebelum stasiun…dan ternyata itu masih jauuuuuh. Terpaksa mama lari, dan waktu mama isi absen, ternyata mama terlambat DUA menit! Duuuh sebel banget! Tahu gitu kan mama lebih cepat larinya. Pinchi deh 😀

Lalu yang kedua waktu mama diantar papa dengan mobil ke universitas. Waktu mama turun dari mobil, HP mama jatuh di dalam mobil. Mama sadar tapi papa sudah keburu pergi menjauh. Terpaksa deh mama cari akal bagaimana kasih tahu papa bahwa HP mama ada di mobil dan mama perlu sekali HP itu. Karena malamnya mama ada kerjaan lain dan semua orang akan menghubungi mama di HP. Nah, mama mau telepon papa, tapi telepon pakai apa? mama juga tidak hafal nomornya. Duh saat itu mama merasa sial banget! Pinchi deh. Terpaksa mama pergi ke ruang komputer dan mengirim email ke papa. Dan kalau perlu setelah mengajar, mama saja yang cari papa karena sulit untuk menentukan harus bertemu di mana tanpa HP. Di situ mama benar-benar merasa ketergantungan terhadap HP. Eh, tahunya papa sadar bahwa mama menjatuhkan HP dan papa cari ubek-ubek satu gedung tempat mama ngajar, lihat satu per satu kelasnya, dan akhirnya bertemu mama. Duh mama senang sekali! Yah lebih senang melihat HP daripada papa (sorry papa hehehe)”

“Ehhh ternyata mama bisa juga pinchi ya? hehehe.”

“Bisa dong, tapi mungkin jarang. Makanya harus selalu persiapkan diri sebelumnya. Kalau sampai terjadi hal yang sial, ya terima saja apa adanya, dan pikir bagaimana cara menyelesaikannya.”

Bincang sebelum tidur yang sangat berguna untuk Kai dan mamanya. Dan yah setelah Kai tidur aku terpaksa bangun karena tempat tidur terasa sempiiiit sekali  :v

Count Down di Mana?

Happy New Year 2017!

Persis tanggal 31 Desember sore, aku agak kesal mendapat message di WA berisi pertanyaan: “Mel, count down yang seru di mana?”. Dari seorang teman waktu SD yang kebetulan sedang berlibur akhir tahun di Tokyo. Hebat juga dia, sering datang ke Jepang dan yang aku ingat dia pernah melewatkan pergantian tahun di USJ- Osaka. Nah, tahun ini dia berada di Tokyo dan tanya padaku count down yang seru di mana 😀 Mustinya dia sebagai wisatawan cari informasi dulu dong karena cara wisatawan melewatkan tahun baru dan cara penduduk Jepang sendiri melewatkan tahun baru itu amat sangat berlainan. Duluuuu waktu aku masih muda dan baru datang ke Jepang, pernah melewatkan pergantian tahun di Meiji Jingu, dekat Harajuku bersama teman-teman. Tapi cukup satu kali itu saja deh! Karena dingiiiiin sekali 😀

Jadi saya, selayaknya kebanyakan penduduk Jepang yang mempunyai keluarga, pada pergantian tahun kemarin, kami melewatkan bersama bapak dan ibunya Gen di rumah mereka di Yokohama. Sudah menjadi tradisi bagi orang Jepang, untuk pulang kampung pada akhir tahun dan bersama-sama keluarga menyambut tahun baru. Ngapain saja? Ya kami biasanya mulai makan malam dengan minum sake dan makanan yang enak, lalu menjelang pergantian tahun makan mie Jepang, soba yang dinamakan toshikoshi soba. Bertahun-tahun, kami selalu menyiapkan soba tapi baru kali ini bisa makan toshikoshi soba tengah malam. Biasanya sudah tertidur sebelum pukul 12 sih :v

toshikoshisoba

Pagi harinya, aku masak Ozoni, sup khas tradisi untuk pagi tahun baru. Selain ozoni, aku juga sudah membeli Osechi ryoryi, makanan tahan lama untuk tahun baru. Osechi ini dihias dengan menarik dan masing-masing makanan mempunyai arti. Saya sudah pernah tulis di sini. Tapi sebelum kami makan, kami melakukan upacara “sembahyang” dulu di kamidana (altar Shinto) dan butsudan (altar Buddha) yang ada di rumah. Berterima kasih untuk Tuhannya orang Jepang dan hotokesama (leluhur) untuk pemeliharaan sepanjang tahun yang lewat dan semoga kami bisa menjalani sepanjang tahun yang baru dengan sehat dan tanpa halangan. Setelah itu baru kami minum otoso, semacam sake dengan campuran ramuan dan dimasak, sehingga alkoholnya sudah hilang, hanya tinggal rasa manis pahit. Otoso ini merupakan perlambang supaya kami tetap sehat sepanjang tahun dan dijauhkan dari penyakit.

kiri: otoso. Cawan yang merah di paling depan itu cawan khusus karena diterima kakeknya Gen dari Kaisar Jepang langsung (hadiah semacam bintang mahaputra) kanan: Ozoni, sup tahun baru. Paling bawah ada mochi bakarnya

Makanan tahun baru begini memang kebanyakan manis dan membosankan. Sehingga anak-anak (termasuk aku deh) bergembira waktu makan malam karena menunya sukiyaki. Nasi yang kumasak sampai ludes deh 😀 Padahal rencananya kalau sisa, akan kupakai untuk membuat bubur ayam yang akan kami santap pada hari kedua tahun baru. Jadi deh pagi hari kedua aku membuat bubur dari beras sehingga makan waktu cukup lama. Untung ayamnya sudah aku bumbui dan masak dari rumah.

osechi…. hidangan tahun baru. Tahun ini aku beli yang sudah jadi supaya aku tidak perlu menghias lagi hehehe.

Makan malam hari kedua aku olah dari semua yang sisa. Ada ayam goreng, bihun goreng dan potato gratin. Dan baru kali ini aku merasa senang karena kami tidak membuang makanan. Semua yang diperkirakan pas, tidak kurang dan tidak berlebih. Biasanya karena takut kurang, makanan osechi yang aku sediakan terlalu banyak.

Baru hari ketiga kami pergi berjalan-jalan keluar rumah, dengan tujuan membeli baju untuk Riku yang akan pergi bermain ski dengan sekolahnya. Mumpung ada sale Tahun Baru! Tapi aku TIDAK PERNAH membeli fukubukuro, 福袋, kantong keberuntungan, kantong berisi barang yang tidak diketahui isinya dan harganya, tapi dijual dengan harga sama sekitar 5.000 yen sampai 10.000 yen. Padahal ada satu temanku yang dini hari tgl 1 Januari sudah berburu fukubukuro dan melaporkannya di message FB :v Salut untuk keteguhan dan kerajinannya. Aku tidak bisa bayangkan harus kedinginan mengantri. Dasar bukan tipe pembelanja sih 😀

Dan hari keempat sekarang ini, aku sedang di rumah kami sendiri, sendirian karena anak-anak dan papanya pergi menonton di bioskop. Anak-anak memang masih libur sampai tanggal 9, tapi papa Gen sudah harus bekerja besok, dan aku lusanya. Libur panjang sudah hampir selesai dan aku pun sudah mulai menyibukkan diri lagi dengan berbagai pekerjaan yang aku sisihkan selama libur Natal dan Tahun Baru.

Terima kasih untuk ucapan hari Natal dan Tahun Baru yang dikirimkan kepadaku dan semoga Tahun Baru 2017 membawa kebahagiaan bagi teman-teman semua ya.

Counting down 3 years to Tokyo Olympic!

8 Besar dari Nerima 2016

Melanjutkan kebiasaanku menuliskan 8 hal terbesar yang terjadi dalam keluargaku selama tahun yang akan berlalu, tahun 2016.

  1. Mulai dari Kai dulu ya…. Kai menerima komuni pertama pada tgl 3 April 2016. Dengan demikian dia sudah bisa ikut maju ke depan bersama kami waktu penerimaan komuni pada setiap misa. Kai dalam tahun ini pertama kali pergi summer camp tanpa diriku, hanya berdua saja dengan papanya ke daerah selatan Jepang, Miyazaki untuk menangkap kupu-kupu bersama seorang kameraman terkenal Jepang Imamori Mitsuhiko. Beliau terkenal dengan konsep Satoyama, yang menemukan habitat asli Jepang terutama melalui serangga/kupu-kupu. Sejak saat itu dia hafal nama jenis kupu-kupu dan berminat terhadap buku mengenai kupu-kupu terutama hasil karya Imamori sensei.
  2. Riku di kelas 2 SMP menunjukkan ketekunan belajar yang lebih bertanggung jawab. Selain tetap melakukan latihan badminton (aku salut dia masih bisa teruskan dengan rajin) dengan mnegikuti beberapa pertandingan, juga belajar ekstra di bimbel. Tahun depan dia naik kelas 3 dan harus mengikuti ujian masuk SMA, yang dinamakan jukensei 受験生. Tahun yang berat untuknya (dan untuk diriku juga) . Semoga dia bisa mendapatkan SMA yang diinginkan pada bulan April 2018.
  3. Gen dipromosikan jabatan yang lebih tinggi tapi stress pekerjaan lebih berat (gaji sih tidak naik 😀 ) . Untung saja kami masih bisa mencuri waktu untuk liburan bersama. Kami berempat sempat berlibur 2 malam bulan Agustus di Nagano, di rumah mantan muridku, Ichijima san. Sudah lama memang, Ichijima san mengajakku untuk mengunjunginya, tapi baru bisa terlaksana musim panas, sepulangnya aku dari Jakarta dan Kai/Gen dari Miyazaki. Tiba-tiba saja kami pikir ingin pergi menginap di pegunungan dan aku langsung menguhubungi Ichijima san. Langsung di OK-kan! Jalan-jalan berempat satu keluarga kemudian baru bisa dilakukan lagi setelah masuk bulan Desember, yaitu ke Hakone untuk mengunjungi Museum Little Prince. Memang kami sudah pernah pergi ke sana, tapi ingin kembali ke sana karena Riku mulai membaca bukunya! Selain ke Museum Little Prince, kami juga pergi ke Museum Kristal di Hakone. “Garasu no mori hakubutsukan”.
  4. Yang terbesar dari diriku sendiri, adalah menerima tanggung jawab besar sebagai wakil ketua KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia). Dulu sekali aku memang pernah menjadi sekretaris bertahun-tahun. Tapi sejak menikah dan punya anak, aku cuti. Baru tahun ini aku bersedia untuk aktif kembali dan kegiatan dimulai dengan acara seminar “Kiprah warga Indonesia di Jepang” yang menampilkan Rustono Tempeh dan Pdt Efra. Lalu acara Natal Bersama yang diselenggarakan tanggal 17 Desember 2016 (belum kutulis laporannya ya hehehe), dan mendatangkan penyanyi rohani Nikita. Kegiatan KMKI ini otomatis menyita waktuku terutama pada bulan Desember dan untuk itu aku bersyukur bahwa kedua anakku bisa mengerti kalau mamanya kadang tidak bisa menyiapkan makan malam buatan sendiri (terpaksa beli jadi) atau bahkan sama sekali tidak ada waktu membeli. Kalau begitu, Riku yang membeli atau menyediakan makanan untuk adiknya. Kadang kulihat Kai meninggalkan panci bekas memasak nasi goreng ala dia. Setelah acara selesai, Kai memelukku dan kami tidur bersebelahan 😀 Kangen dia pada mamanya 😀
  5. Di keluarga besar Coutrier, menyambut anggota baru yaitu Tante Hermina (Tina) sebagai istri baru papa (opa). Senang sekali papa sudah menemukan teman hidup dan bisa mengurangi kesepiannya selama ini dengan kegiatan bersama tante Tina di gereja dan kegiatan lainnya.  Acara pernikahan dilakukan tgl 30 April dan kami juga bisa bertemu anak tante yang tinggal di USA pada liburan musim panas. Ya, kami tahun ini pulang kampung 2 kali dengan jangka waktu tinggal yang tidak lebih dari 10 hari. Untuk tahun depan mungkin sulit bagi kami untuk mudik ke Jakarta karena Riku menghadapi ujian, tapi semoga aku bisa “curi” waktu ya.
  6. Di keluarga Gen, kami harus menerima kenyataan bahwa ibunya harus menjalani perawatan khusus karena mulai terlihat gejala dimentia. Karena itu dua kali seminggu, dijemput untuk rehabilitasi. Karena itu pula, aku mengusahakan untuk mampir ke rumah mertua setiap Jumat, setelah mengajar di dekat Yokohama untuk makan malam bersama. Paling sedikit bisa ngobrol. Siapa saja, entah Gen dan Kai, atau Gen saja, setiap ada waktu kosong pasti pergi ke rumah mertua…. Ini juga yang membuat waktu luang kami tidak bisa lagi kami gunakan untuk mengumpulkan cap kastil. Memang yang paling baik adalah jika kami bisa tinggal bersama, namun untuk itu perlu persiapan dari semua pihak yang cukup makan waktu.
  7. Untuk hobi, keluarga kami memang tipe “pembaca” jadi tidak heran kalau rumah kami berantakan dengan buku (alasan hehehe). Kai pertama kali bisa menyelesaikan buku novel sebanyak 3 buku, yang untuk ukuran umur dia cukup sulit. Selain itu dia mulai membaca serial TinTin karena aku yang kenalkan 😀 Riku? Mulai bulan April sampai hari ini menyelesaikan  12.000 halaman 35 buku novel. Papa Gen tidak pernah menghitung jumlah buku, tapi yang pasti dia menonton 2 film Indonesia “Filosofi Kopi” dan ”Laut Bercermin” mengalahkan aku 😀 (Aku memang tidak suka menonton sih). Setiap mau nonton film, pasti aku pass, tidak mau ikut sehingga Gen pergi dengan anak-anak saja. KECUALI film Kimi no Na (Your Name), ini kami pergi bersama. Film anime yang bagus menurutku. Untuk hobiku yang satu lagi, yaitu memotret, tahun ini aku bisa puas pergi memotret bunga sakura pada musim semi dan maple pada musim gugur. Untuk hobi masak, aku masih sesekali membuat black forest, rendang atau kemarin membuatkan ayam woku untuk adikku Titin. O ya, aku juga sudah berhasil membuat kue mocca tart sesuai resep mama. Sudah lama ingin mencoba buat butter creamnya, tapi baru kemarin berhasil meluangkan waktu.
  8. Dalam pekerjaanku, tanggung jawabku masih sama seperti tahun lalu. Tahun depan juga masih sama, tapi dengan satu tanggung jawab tambahan lagi di PTA. Kalau tahun lalu sudah menjadi seksi publikasi, tahun depan aku akan menjadi SEKRETARIS PTA sekolah SMP nya Riku! Duh! Ini terpaksa, karena aku kena lotre dan di antara tugas-tugas yang ada, yang masih sesuai dengan kemampuanku (komputer) aku menerima menjadi sekretaris saja hehehe. Nah loh deh dong! Kebayang deh tahun depan tambah sibuk 😀 Tapi cuma satu harapanku dengan melaksanakan tugas ini, yaitu bisa duduk di depan pada acara wisuda Riku di SMP (hanya petugas inti yang duduk di deretan depan) hehehe.

Tahun 2017, semakin sibuk, anak-anak semakin dewasa, sayanya sendiri semakin tua, semakin lambat bergerak. Tapi kupikir, badan dan pikiran manusia itu butuh stimulus, butuh energi dari dalam dan luar, tapi juga butuh dukungan, butuh pengakuan. Semoga aku masih bisa menjalankan tugas-tugasku sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anak, sebagai umat, sebagai dosen, sebagai anggota masyarakat dan sebagai blogger 😀

Tulisan pertama dalam bulan Desember yang juga merupakan tulisan terakhir! Semoga tahun depan besok sudah bisa memulai menulis lagi dengan aktif 😀

Selamat menutup tahun 2016 dan selamat menyambut tahun baru 2017, tahun AYAM!

Tulisan serupa dari tahun-tahun yang lalu:

8 Besar dari Nerima

8 Besar dari Nerima (edisi 2011)

8 Besar dari Nerima (2012)

8 Besar dari Nerima (2013)

8 Besar dari Nerima 2014

 

 8 Besar dari Nerima : 2015