Keriput ceria atau keriput duka

31 Okt

Pernah lihat anjing bulldog ? (sorry ya Yeye, bukan maksudku menjelekkan si Poki). Tahukah kamu kapan anjing bulldog itu tersenyum/tertawa? Perasaan melihat mukanya saja, kita menyangka anjing itu bawaannya sedih selalu. Meskipun bagi pemiliknya bisa melihat kapan dia tertawa atau biasa saja.

Memang manusia tidak bisa dibandingkan dengan anjing. Tapi aku pernah melihat seorang bayi yang…. entah bagaimana dengan bibirnya, bayi itu terlihat muram terus, tak pernah tersenyum atau tertawa. Suram! (Aku tidak akan memuat fotonya, karena kebetulan anak temanku). Bayangkan jika si bayi terus begitu terus sampai tua, rasanya kita tertular kesuramannya sepanjang masa, bukan?

Jumat lalu, seperti biasa aku mengajar di Universitas Senshu. Karena aku melaksanakan test kecil di akhir pelajaran, aku bisa menyelesaikan kuliah 15 menit lebih dahulu dari waktunya, sehingga aku bisa mengejar bus karyawan pukul 14:23. (Jika tidak maka aku harus naik yang 14:35).

Pas sampai di bawah, di depan pintu gerbang gedung baru, aku bertemu dengan dosen bahasa Spanyol, yang boleh dikatakan karibku di sini. Cuma kadang-kadang aku malas bertemu dia, karena sudah bisa dipastikan seluruh perjalanan pulangku akan dipakai untuk berbicara, dan dalam BAHASA INGGRIS. Well, bagus juga lah supaya aku bisa berlatih terus hihihi.

Wanita ini berasal dari Columbia, cantik,  langsing, tomboy dan selalu bercelana panjang untuk mengajar, dan …tas ransel. Cocoklah kita (sama-sama pakai ransel hihihi, bukan cantik dan langsingnya). Tapi kemarin itu ada yang janggal, yaitu dia memakai tas seret (beroda).

Begitu bus datang, kami naik dan kami duduk terpisah, karena tempat duduk untuk berdua di bagian depan, ditempati dosen lain. Lalu dia bertanya kabar anak-anak and so on. Dia memang tidak (mau) punya anak tapi sering menanyakan kabar anak-anakku. Sesampai di stasiun, dia berkata bahwa dia harus naik lift (bukan tangga), dan dia ajak aku bersamanya. Dan baru saat itu dia bercerita tentang keadaannya.

Seminggu yang lalu, dia jatuh di sebuah stasiun. Tidak biasanya hari itu dia begitu bergegas untuk bisa naik kereta, padahal hari masih pukul 6 pagi. Masih sedikit orang yang naik kereta. Waktu dia berlari turun dari tangga, dia “salah langkah” kaki kanannya sehingga dia jatuh di peron (untung bukan di rel kereta. Dia jatuh sedemikian keras, sampai dia sendiri tahu, ini jatuh yang fatal. Dia tidak berani buka mata, takut panik. Untuk beberapa saat dia meng-scan tubuhnya (aku tak tahu apakah kita orang biasa bisa melakukannya, tapi jika kita berada dalam kondisi kritis dan bisa mengendalikan diri kita, maka kita bisa “melihat” kondisi tubuh mulai dari kaki sampai kepala. Hal ini pernah aku alami antara tidak sadar dan sadar sesudah anastesi caesar).  Dan dia mendapatkan hasil bahwa badannya OK saja, tidak ada kerusakan luar.

Yang lucunya, karena masih pagi, tidak ada orang yang ada untuk membantunya. Seorang petugas stasiun datang mendekat, tapi dia tidak mau dekat-dekat. Dia hanya bertanya,”Ibu, Anda tidak apa-apa?” Dan dijawabnya, “tolong bantu saya berdiri”. Dan si petugas tidak mau. (Hal ini sering terjadi di Jepang, karena jangan melakukan tindakan gegabah dengan langsung mengangkat atau mendirikan orang yang jatuh, karena ada kemungkinan bisa memperparah lukanya. Itulah prosedurnya! Yang boleh mengangkat atau membantu orang sakit hanya paramedis).

Akhirnya si dosen itu bangun dengan tenaga sendiri, dan meskipun merasa sakit lebam di dada/sisi badan bagian kanan, dia tetap naik kereta menuju tempat kerjanya. “Aku sampai di kampus, lalu pergi ke WC dan buka bajuku semua. Wow, aku harus mengucapkan terima kasih pada petugas stasiun itu. Lantainya benar-benar bersih, sehingga bajuku sama sekali tidak ada titik noda. Padahal aku pakai shirt putih! Dan waktu kulihat badanku juga sama sekali tidak ada “biru-biru” di sisi yang sakit. Semua perfect! TAPI sakit!”.

Selesai mengajar, dia langsung pergi ke dokter untuk memeriksa badannya. Discan dan dokter berkata: “Apa benar kamu jatuh? Sama sekali tidak ada bekasnya.” Dan dokter memberikannya obat pain-killer saja.

Sekembalinya di rumah dia tetap merasa aneh. Sehingga dia kembali mengadakan “scan” pada dirinya. Kali ini dia bisa menemukan titik sakitnya yaitu di daerah rusuk bagian tengah. Jadi, esok harinya dia pergi lagi ke dokter dan minta periksa dengan detil bagian rusuk tengahnya. Dokter berkata, “Ah itu cuma perasaan kamu saja. Tidak ada yang aneh kok. Tapi OK, mari kita lihat hasil rontgennya”.

Ta… raaaaa….. (sound effect  untuk sesuatu hasil magic). TERNYATA dari hasil rontgen diketahui bahwa tulang rusuk ketiga PATAH di tengahnya. Terlihat ada space yang cukup besar di rusuk itu. Dan karena luka dalam, dokter tidak bisa melakukan sesuatu selain menunggu kesembuhan secara alami. Meskipun bisa dibantu dengan bebat, tapi seringkali bebat itu membuat si penderita susah nafas.

Karena itulah dia memakai tas seret karena tidak mau membebani punggung dan rusuknya. Memang aku sempat membantu membawakan tasnya (yang ringan) waktu kami turun tangga menuju peron, tapi secara keseluruhan penampilannya sama sekali BIASA. Dokter yang merawatnya berkata, “Bagaimana bisa kamu TAHU rusukmu patah! Dan yang lebih heran bagaimana bisa kamu menahan sakit yang sudah pasti AMAT SANGAT SAKIT dna masih bisa tertawa-tawa bercanda dengan saya?”.

Lalu si dosen berkata, “Well dokter. Memang sakit. tapi masih bisa ditahan. Mengapa saya musti menangis kesakitan? You know dokter, Manusia pasti akan menjadi tua dan keriputan. Tapi saya pilih menjadi keriput dengan suka hati tanpa sedih dan tangisan. Toh hasilnya sama: Keriput. Jadi… beginilah saya, masih bisa tertawa-tawa dalam sakit.” Dan semua staf universitas juga heran ketika diberitahu hasil “rusuk patah” karena sama sekali tidak terlihat dari luar.

Aku sendiri tidak tahu seberapa sakitnya. Aku juga tidak tahu apakah aku dapat bersikap seperti dia jika mendapat kejadian yang sama. Tapi yang pasti aku setuju sekali bahwa aku ingin menjadi keriput dengan suka cita.

“Tuhan mengingatkan kamu untuk slow down….jangan cepat-cepat dalam hidup ini. Dan ingat umurmu” kataku
“Ya, aku juga tahu. Aku selalu berprinsip tidak mau berlari mengejar kereta. Tapi entah saat itu aku seperti diajak berlari. Memang Tuhan mau mengingatkan aku dengan kejadian ini ya.” katanya.
“Dalam budaya Jawa, kami selalu punya kata “untung”, untung kamu cuma patah rusuk, tidak patah kaki atau keseleo atau yang lainnya.”
“Aku rasa filosofi itu yang terbaik. Kita harus selalu melihat segi positif dalam semua kejadian”

slow down – scanning – think positive – always be grateful….
and KEEP SMILING…..

.

.

Have a good SUN-day everyone.