Pekan Baca 2021

9 Nov

Semestinya aku menulis ini pada tanggal 27 Oktober lalu, namun tidak sempat, dan hari ini harus disempatkan. Kenapa harus disempatkan? Karena hari ini tanggal 9 November adalah hari penutupannya 😀

Jadi, setiap tahun dari tanggal 27 Oktober sampai 9 November, di Jepang diadakan Pekan Baca 読書週間 dan tahun ini adalah pelaksanaan tahun yang ke-74 karena dimulai pada tahun 1947, segera setelah selesai perang dengan kondisi negara porak poranda.

Awalnya Pekan Baca Pertama ini diadakan hanya selama satu minggu dari tanggal 17 November sampai23 November 1947. Pekan Baca ini diadakan oleh penerbit, perusahaan penghubung, toko buku dan kemudian ditambah surat kabar dan media siar dengan slogannya, “Dengan kekuatan membaca, mari kita membentuk negara berbudaya yang damai”. Karena tanggapan yang begitu bagus, mulai tahun berikutnya Pekan Baca diadakan mulai tanggal 27 Oktober sampai 9 November dengan mengapit Hari Kebudayaan tanggal 3 November. Dan terus berlangsung setiap tahun sampai tahun ini yang ke 74. Ini pun menjadikan Jepang sebagai salah satu negara yang rakyatnya suka membaca, di antara negara-negara “pembaca”.

Memang sekarang media digital sudah berkembang sedemikian pesat yang sangat mengubah arus penyampaian informasi di seluruh dunia. Tetap pemakainya adalah manusia, dan yang memegang peranan penting dalam mendidik dan membuat kemanusiaan itu adalah buku, dan tidak berubah sampai kapanpun. Mari kita tetap memasukkan BUKU dalam gaya hidup kita dan dalam pembentukan kemanusiaan kita.

Dari poster yang dilombakan tema Pekan Baca ke-74 tahun ini adalah “Waktu menutup halaman terakhir, aku telah berubah” 最後の頁を閉じた 違う私がいた.  Entah mengapa, saya lebih suka kalimatnya tetap dalam bahasa Jepang, karena ada nuansa yang berbeda di situ, dibandingkan terjemahannya. Dan kata-kata ini menohok saya, membuat saya bertanya, adakah buku yang telah mengubah aku?

Pekan Baca 2021

Ini saya tanyakan pada kedua anakku, Riku dan Kai, yang memang pembaca buku. Kapan atau buku apa yang telah mengubahmu?

Senangnya mendapat jawaban yang pasti dari Kai,

“Aku mulai merasa berubah, setelah membaca buku “Monster Inc” yang sangat panjang untukku waktu itu (kelas 4 SD). Tapi setelah menyelesaikan buku itu, aku jadi percaya diri dan bisa membaca buku yang tebal. Sejak saat itu!” Monster Inc adalah buku yang dia pilih untuk dibaca pada Pekan Baca tahun itu.

Kalau Riku lain lagi jawabannya. Dia langsung membawa dua buku ini: Meditationes karya Marcus Aurelius 自省録 マルクス・アウレリウス yang dibaca waktu dia kelas 2 SMP, dan Mindset: The New Psychology of Success karya Carol S. Dweck, PhD tentu terjemahan bahasa Jepang dan dibaca waktu dia kelas 1 SMA. Saya memang pernah mendengar ceritanya tentang kedua buku ini, waktu saya menanyakan, “Kalau ada yang bertanya buku yang kamu sarankan untuk dibaca apa, kamu akan kasih judul apa? Dan jawabannya memang kedua buku ini. Rupanya kedua buku ini telah memberikan kesan yang begitu kuat pada Riku.

Memang sedih melihat kenyataan bahwa ada perubahan dalam 30 tahun ini, bahwa anak-anak hanya membaca sepertiga dari jumlah buku yang dibaca anak-anak Jepang 30 tahun yang lalu. (lihat tabel) . Secara rata-rata dari 10 buku, sekarang mereka hanya baca 3 buku per bulan. Ada beberapa tabel tambahan seperti waktu menonton TV yang juga berkurang. Waktu untuk baca buku dan menonton TV berubah menjadi waktu untuk memakai gawai, yang sayangnya gawai itu sedikit sekali peruntukkannya untuk sesuatu yang ilmiah. Pada saat melihat kenyataan bahwa anak-anak Jepang sekarang ini jarang membaca buku, saya masih beruntung anak-anakku masih membaca buku. Secara berkala, mereka pergi ke toko buku dan membeli buku apa saja yang disukai dari uang yang kuberikan. Meskipun kadang saya tidak mengerti apa latar belakang mereka memilih buku-buku itu.

“Mama, aku heran deh. Waktu itu aku lihat buku-bukunya Riku, dan ternyata ada buku yang aku beli tenryata dia juga punya! Senang ternyata ada juga minat kami berdua yang sama.”

“Mestinya sebelum beli kamu tanya dulu sama Riku, sudah punya buku ini atau tidak. Supaya tidak dobel!”

Papanya berkata, “Mana mau Riku MEMINJAMKAN bukunya?Sudah biasa itu di keluarga M”.

Jadi begitulah, pernah suatu ketika Riku, dan papanya membereskan lemari dan ketemu 4 buku yang berjudul sama. EMPAT! Rupanya 1 dibeli Riku, 1 dibeli papanya, dan dua itu dibeli kakeknya Riku hahaha (cetakan pertama dan cetakan terbaru).  Jadi bukan salah saya rumah tidak beres-beres, karena di mana-mana ada buku! Buku! Dan BUKUUUUU (bukan dengan nada marah, tapi nada pasrah hehehe)

Untuk menulis Pekan Baca ini, sebetulnya saya melakukan satu perubahan kecil dalam kebiasaan saya dua minggu terakhir. Yaitu saya berusaha membuat waktu untuk membaca. Dan meskipun bukunya, buku roman yang ringan, saya berhasil membaca tiga buku online dalam dua minggu! Rekor 😀 Itu berhasil karena saya menjadi anggota premium di Gramedia Online! Yeay. Karena tidak bisa baca di iphone (terlalu kecil), akhirnya saya instal kembali ipad Mini yang dulu dipakai Kai (dan saya buang! 😀 ceritanya panjang deh. Buang tapi lalu saya ambil dari tempat sampah dan simpan…sampai lupa keberadaannya selama 3 tahun sampai lupa passwordnya hihihi). Tapi sepertinya perlu ipad baru karena kapasitasnya Cuma 16GB nih. (sambil berharap ada Santa Claus yang mengerti wishlist saya :D)

Buku kertas maupun buku digital, sama saja. Karena yang penting isinya, kan?

Sudah baca buku apa?

Narablog vs Teddy Bears

28 Okt

Hari ini sebetulnya harus menulis, jika masih menganggap diri sebagai narablog. Tetapi apa daya waktu tidak memungkinkan.

Sebetulnya rindu juga menulis jurnal harian di sini. Lebih banyak menulis tentang Jepang di blog satunya.

Lalu mengapa judulnya Narablog vs Teddy Bears?

Hanya ingin menghubungkan bahwa hari ini adalah hari blogger nasional, tapi di belahan dunia lain adalah hari Teddy Bear. Dan baru tahu bahwa Teddy Bear itu berawal dari cerita President Theodore (Teddy) Roosevelt yang menolak menembak seekor beruang kecil yang sengaja ditangkap untuk kemudian ditembak dalam suatu perburuan bulan November 1902. Kartunis kemudian menciptakan “Teddy” yang takut beruang, tetapi akhirnya komik tentang Teddy Bears malahan populer dan tahun 1906 terciptalah boneka beruang lucu yang menjadi teman anak-anak di seluruh dunia.

Blog memang sudah mulai pudar masa jayanya, tapi semoga masih tetap eksis karena blog merupakan salah satu wadah untuk menorehkan sejarah melalui tulisan.

Semoga TE juga tetap eksis 😀

Cerita Kelas : Tiga Mahasiswa

2 Mei

Setelah satu tahun mengadakan kuliah daring/online, akhirnya semester ini tiga sekolah/universitas tempatku mengajar mengadakan kuliah tatap muka. Karena sudah lama tidak pergi ke kampus, satu hari terasa sangat melelahkan. Apalagi ada satu universitas yang jaraknya HANYA 60 km dari rumah dan makan waktu 2 jam naik kereta. Daaaan… aku ke sana setiap hari Jumat (akhir minggu gitu loh :D).

Satu lagi yang membuatku sangat lelah setiap hari Jumat itu karena aku harus membawa laptop ke kampus. Tidak seperti sekolah lainnya, di universitas ini tidak tersedia laptop di ruang kelas. Ngerti sih, karena jumlah kelasnya banyak sekali, jadi tidak bisa menyediakan untuk setiap kelas. Kalau mau pakai komputer harus “ambil dan kembalikan” ke Information Center yang cukup jauh juga letaknya. Mendokusai めんどくさい merepotkan! Jadi aku terpaksa deh bawa laptop.

Kenapa perlu laptop? Karena sistem di universitas ini, memberlakukan kelas tatap muka untuk mahasiswa tingkat 1, dan kelas online untuk tingkat 2 ke atas. Jadi jam ke-2 aku harus online dari kampus dan jam ke-3 tatap muka. Tidak mungkin aku online dari rumah kemudian ke kampus yang letaknya 2 jam perjalanan, kan?

Nah, untuk mengadakan kelas online, aku ke kelas yang sudah ditentukan. Untung saja wifi di universitas ini kencang :D. Daaan, minggu lalu waktu online dari kelas, ternyata ada dua mahasiswa yang juga online dari kelas yang sama. Karena mereka ada kelas tatap muka setelah jam pelajaranku. Jadi hybrid deh. Aku sendiri tidak suka kelas hybrid karena perlu konsentrasi ke dua tempat, laptop dan kelas. Saiaku 最悪 kata orang Jepang. Menyebalkan sekali.

Jika kamu online bersamaan dari satu tempat, maka jika berbicara di Zoom, yang lain harus mematikan pelantang (mic) nya karena akan bergaung. Bahkan ada kalanya kamu harus mematikan volume suara, supaya gaungnya tidak mengganggu. Kalau aku mengadakan webinar dengan dua laptop pun demikian. Hanya satu laptop saja yang dinyalakan suaranya, yang satunya hanya berfungsi sebagai pemantau keseluruhan (baca chat, atau meyakinkan bahwa berbagi layar sudah terlihat) saja.

Ada kejadian yang menarik setelah aku mengadakan kelas online minggu lalu. Salah satu dari dua mahasiswa yang berada di kelasku, datang kepadaku dan bertanya, (aku sebut Mahasiswa ke-1 deh)

“Sensei, bagaimana caranya supaya saya bisa hafal kata-kata bahasa Indonesia. Ini tahun kedua saya (kelas menengah) tapi saya belum hafal banyak kata-kata”.

Tentu kujawab macam-macam, dan yang penting dia harus menyukai dulu baru semuanya bisa maju. Lucunya dia tidak beranjak setelah aku selesai bicara, padahal aku sudah mau makan siang dengan onigiri yang kubawa. Kelihatan sekali dia mau bicara. Jadi sambil makan, kutanya dia tinggal di mana, asalnya dari mana dan lain-lain. Rupanya dia dari Shizuoka dan kost dekat kampus. Yang menarik, temannya (yang diam saja) ternyata berasal dari SMA yang sama, masuk fakultas yang sama tapi kost berbeda tempat. Aku kemudian tanya, kamu tidak beli bento/makan siang (sembari mengusir halus sih :D). Eh dia berkata, tidak sempat beli dan malas beli. Sepertinya dia lebih mau berbicara denganku daripada pergi beli. Di situ dia berkata,

“Sensei tahu, saya kemarin malam kerja di konbini dari jam 11 malam sampai jam 6 pagi tadi. Jadi saya juga sudah malas melihat makanan yang dibeli dari konbini”

“Tapi kamu harus makan, kan?”

Kemudian temannya, rupanya membawa dua onigiri dan satu roti (yang dia beli dari konbini sih) dan menawarkan untuk makan salah satu. Si mahasiswa ke-1 kemudian mengambil satu onigiri dan makan. Dan setelah makan dia ambil dompetnya dan membayar seharga 1 onigiri.

Melihat itu, aku trenyuh juga. Dua mahasiswa yang jauh dari keluarga, harus cari makan sendiri, tapi juga tidak mau bergantung pada kebaikan orang lain. Dia bayar ke temannya, karena tahu bahwa temannya juga sama-sama kost dan perlu uang. (dan kemudian aku teringat pada anak sulungku yang seumuran dengan mereka, yang masih bisa berbahagia karena tinggal dengan orang tua). Minggu depan aku mau bawa makanan lebih ah….

Karena judulnya 3 mahasiswa, aku masih harus bercerita tentang mahasiswa ke 2 dan ke 3. Mahasiswa ke-2 ini tiba-tiba datang di kelas tatap muka jam pelajaran ke-3, hari Jumat kemarin. Waktu itu aku dan mahasiswa lainnya sedang makan siang sebelum kuliah dimulai. Aku sedang mengunyah kentang goreng waktu dia datang.

“Sensei, konnichiwa. Sensei suka kentang?”
“Ya, suka. kamu sudah makan siang?”
“Sudah, tadi beli di konbini. Onigiri dan roti.”
“Bisa kenyang? Bento yang dijual di universitas itu mengenyangkan loh. Cuma 350. Kalau beli di konbini berapa?”
“380 yen”
“Nah kan, dari pada onigiri dan roti, lebih baik makan nasi dan sayur meskipun sedikit. Tapi kalau untuk saya kebanyakan, tidak bisa habis”

Yang lucu lagi, ternyata si mahasiswa ke-2 ini BUKAN mahasiswaku. Dia mengambil bahasa Cina yang kelasnya di depan kelasku. Kebetulan dia masuk kelasku untuk bertemu temannya yang mengambil kelas bahasa Indonesia. Aneh, kan? KOK dia mau berbicara dengan aku yang BUKAN senseinya? Kelihatan sekali dia mau bicara macam-macam, jadi aku tanya dia tinggal di mana dsb. Ternyata dia tinggal di kota sebelah rumahku, jadi butuh 2 jam juga ke kampus. Enaknya aku ada kereta cepat, sedangkan dari rumahnya tidak ada. Sebagai penutup, aku berkata,

“Minggu depan kalau mau ngobrol lagi, bawa saja makananmu ke kelas ini dan kita makan sama-sama”

Dua mahasiswa baru yang … kesepian. Mereka baru saja jadi mahasiswa (tingkat satu) dan karena pandemi lebih banyak kuliah yang online dan juga bermasker. Bagaimana kamu bisa akrab atau mencari teman baru padahal kamu tidak tahu mukanya? Muri 無理, imposible apalagi orang Jepang memang sulit untuk menjadi akrab.

Cerita tentang mahasiswa yang ke-3, hanya berselang 5 menit dari mahasiswa ke-2. Tiba-tiba ada pemuda masuk ke kelasku dan berkata,

“Ah, untung keburu! Sensei ohisashiburi お久しぶり (long time no see) “

Aku heran … dan waktu melihat mukanya (yang setengah tertutup masker) langsung ingat. Dia mantan mahasiswaku yang pernah mengambil kuliahku. Langsung saya bertanya, kamu sekarang tingkat berapa?

“Sensei, saya sudah lulus kemarin. Mulai Mei saya ada training di perusahaan baru yang kantornya dekat sini. Hari ini saya pergi ke kantor itu dan mampir ke kelas sensei. Untung pas waktunya”

Jadi, dia waza waza わざわざ dengan sengaja datang untuk menyapaku hari ini. SENANG SEKALI. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mahasiswa yang masih mengingat dosennya, meskipun dia sudah lulus. Dan aku ingat, dia memang mengambil kelasku 3 tahun dan pernah hadir dalam acara RBI di kedutaan. Setelah bertukar id LINE, dia pun pulang dan aku harus memulai kuliahku. Mahasiswa ke-3 ini memang sudah mantan mahasiswa, tapi di mataku dia tetap mahasiswa. Ada apa ini, kok aku menjadi tempat curhat mahasiswa-mahasiswa ini, ya? Tapi aku senang, karena berarti aku dipercaya untuk menjadi “teman” mereka, bukan hanya sebagai guru mereka.

Sedang menunggu apakah ada mahasiswi yang akan mendekatiku? 😀

Tulisan yang panjang, tapi aku memang ingin meninggalkan cerita ini dalam TE. Terutama pada hari Pendidikan tanggal 2 Mei ini. Pendidikan penting, tapi pendidikan akhlak dan keseimbangan mental sangat perlu, terutama di masa pandemi ini.

Selamat Hari Pendidikan.

Remember Me

24 Apr

Remember me, though I have to say goodbye
Remember me; don’t let it make you cry
For even if I’m far away, I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me, though I have to travel far
Remember me, each time you hear a sad guitar
Know that I’m with you the only way that I can be
Until you’re in my arms again, remember me…..

Lagu remember me adalah theme song dari film Coco (Disney) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang menjadi Remember Me リメンバーミー. Aku teringat kembali lagu ini kemarin malam.

Kemarin malam, aku mengikuti zoom doa rosario bersama teman-teman masa SMA untuk mendoakan suami salah satu teman yang meninggal 2 hari yang lalu. Ini merupakan kali ke 3 kami berkumpul untuk mendoakan teman/keluarga teman waktu SMA. Dua untuk mohon kesembuhan dan satu untuk kematian. Aku merasa kedekatan seperti ini sangat menghibur. Berkumpul secara virtual untuk berdoa dan mendoakan….. meskipun rasanya sedih kalau kami berkumpul kok hanya untuk yang sedih-sedih saja, dibandingkan untuk yang gembira. Tapi, hei…. justru di saat sedih kita butuh dikuatkan, bukan?

Kembali berbicara mengenai film Remember Me. Aku memang sudah lama tahu tentang film itu yang dikeluarkan tahun 2017. Tapi entah mengapa, aku malas menonton. Memang dari sononya, aku malas menonton film (atau video clip). Menurutku menonton film itu buang waktu karena harus terpaku di depan monitor/tv 😀 Segitunya aku tak punya waktu ya? hehehe. Tapi kalau Gen atau anak-anak pasang film tentu aku sering terhanyut menonton juga. Kalau tidak mau terganggu, biasanya aku pasang headset dan terus konsentrasi mengetik saja. Jadi kalau mau dikatakan tidak suka menonton, ya tidak juga.

Nah, aku mendapat kesempatan menonton di dalam pesawat, dalam perjalanan (entah pergi atau pulangnya) ke Eropa musim panas tahun 2019. Perjalanan berjam-jam itu memang membosankan, makanya biasanya aku bawa laptop untuk kerja 😀 Tapi kali ini aku tidak buka laptop di perjalanan tapi sengaja menonton film. Untung di pesawat KLM itu film-filmnya cukup menarik. Yang kuingat aku menonton 3 film: Tonde Saitama翔んで埼玉, Garden of Words 言の葉の庭 dan Coco リメンバーミー. Ketiga film ini cukup menarik tapi yang paling meninggalkan kesan adalah Coco.

Kenapa? Ya karena dalam satu penerbangan itu aku menonton Coco sampai 3 kali 😀 Tentu sambil mewek… hihihi. Apalagi dalam ceritanya ada nama Imeldanya hahaha. Mama Imelda Rivera.

Mama Imelda

Menonton film itu, aku merasa bahwa kebiasaan untuk mendoakan dan menghormati leluhur itu sangat baik. Dan dalam semua agama yang kutahu, memang mengajarkan untuk menghormati leluhur. Aku jadi teringat kotbah seorang pastor dalam misa. Ada seorang lansia pria yang ingin dibaptis secara katolik. Waktu ditanya mengapa dia mau dibaptis, dia mengatakan, “Pastor saya ingin didoakan setelah saya meninggal nanti. Saya melihat orang katolik dalam misa pasti mendoakan mereka yang sudah mati, jadi saya juga ingin didoakan.” Suatu keinginan yang sederhana, tapi mengena kan?

Dan kemarin malam dalam doa virtual, kami juga mendoakan orang tua-orang tua kami yang sudah meninggal dunia. Termasuk mama…. How are you ma…. <3

Oh ya, persis minggu lalu aku juga bermimpi mengadakan pesta di Jakarta yang dihadiri saudara-saudara dekat seperti biasanya. Dan aku memeluk seorang oom, kakak mama Oom Lody yang sudah meninggal. Erat sekali sampai waktu bangun aku masih merasakan kehangatan pelukannya. Rupanya kerinduan untuk bertemu saudara-saudara semua sudah mencapai puncaknya ya?

Rindu itu pasti. Jenuh pun manusiawi. Tapi ingat, Tuhan tidak akan meninggalkanmu sendirian. Peluk dan doa untuk semua yang sedang kesepian.

Hand Gel

14 Feb
ハンドジェル アルコール洗浄タイプ 500ml 2本セット

Sejak tahun lalu, awal pandemi dinyatakan, barang ini dicari-cari. Sempat menghilang tapi sekarang sih sudah banyak tersedia di mana-mana. Jel untuk sanitasi tangan. Beruntung di Jepang, hampir di setiap toko, atau sekolah pasti disediakan hand gel ini. Aku pun rajin memakai setiap melihat keberadaannya. Kalau di rumah sih cukup dengan cuci tangan.

Aku mau cerita saja sedikit tentang hand gel yang membuatku sedih dan menangis hari ini. Entah kenapa aku kok cengeng sekali tadi.

Begini, pagi ini aku mengikuti misa online berbahasa Jepang. Biasanya berbahasa Indonesia, sehingga tidak begitu aku perhatikan apakah ada pengumuman ini. Yang pasti aku memang melihat pastor akan memakai hand gel pada awal misa dan sebelum membagikan komuni untuk yang hadir di kapel/gereja tersebut. Untuk kami yang online, kalau misa di Indonesia pasti ditayangkan lagu Komuni Batin, yang amat menyentuh juga (sering nangis juga sih sambil menyanyikannya).

Nah, tadi pagi ini, misa di katedral Tokyo. Saya memperhatikan bahwa misdinar memakai hand gel sebelum komuni. Pastor dan diakon juga memakai hand gel. Ini memang S.O.P nya begitu. Namun yang membuat aku terharu itu justru pengumuman dari lektornya.

“Dalam pembagian komuni, umat tetap berada di tempat. Pastor yang akan menuju Anda. Harap memakai hand gel yang disemprotkan oleh misdinar, dan selama menunggu hostia, jangan menyentuh apa-apa”.

Duuuh, terus terang aku baru pertama dengar pengumuman itu. Dan aku merasa sebal sekali. Kan pastor sudah pakai gel? Kenapa umatpun sampai harus pakai gel lagi persis sebelum menerima hostia. Hostia kan bukan metal yang bisa tertempel virus, dan tidak menularkan? Kesal karena situasi ini jarang aku alami. Karena aku tahu, kita harus menerima kondisi dalam New Normal ini. Dan ya, aku memang tidak bisa ke gereja tatap muka karena pilihan sendiri, karena mengurangi interaksi dengan orang lain setidaknya sampai akhir bulan Februari. Selepas itu, aku ingin kembali misa offline.

Dan ya, mungkin tidak lama lagi, manusia harus memakai baju astronot ke mana-mana seperti cerita-cerita science fiction itu? Jangan sampai deh 🙁

*galau di hari Minggu*

8 Besar dari Sayama

13 Jan

Tiga belas hari sudah berlalu sejak kita memasuki tahun 2021. Tahun 2020 kurang memuaskan bagi sebagian orang, atau bahkan menjadi tahun yang sial bagi dunia. Tetapi dari “kesialan” itu, aku mau menulis tentang 8 besar yang terjadi pada keluargaku pada tahun 2020 sebagai bahan refleksi dan melanjutkan kebiasaan yang sudah dimulai sejak tahun 2010.

  1. Si Bontot, Kai 13tahun. Lulus SD tanpa ada acara wisuda, tapi untung ada acara penerimaan murid baru di SMP dan saya hadiri. Untuk ke sekolah barunya dia harus berjalan 20 menit dari rumah, karena memang rumah kami pinggiran dari rayon sekolahnya. Yang dari wilayah kami (SDnya sama) hanya 3 orang. Tapi untungnya dimasukkan dalam satu kelas yang sama.
    Wali kelasnya guru OR. Sudah dua kali aku bertemu dalam acara mendan 三者面談, dan selalu berpikir, “Pak, beli jas gedean dikit dong” hehehehe. Abis jasnya mededet gitu 😀 (Bahasa apa lagi mededet :D)

    Bagi Kai, tahun ini merupakan tahun menyebalkan. Karena kami memasukkan dia ke sebuah bimbel yang agak jauh dari rumah (harus naik sepeda). Konon bimbel ini terbagus di daerah kami. Kecil, bukan chain seperti KUMON. Dan dia mengikuti kelas Bahasa Inggris dan Matematika. Ini wajib bagi semua murid bimbel. Bukan bahasa Jepang, karena biasanya Bahasa Jepang sudah aman… Dan untuk Kai disarankan untuk mengikuti kelas “Baca Cepat” 速読. Tentu Kai malas-malasan. Tapi di luar dugaan dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan dinaikkan satu tingkat di atasnya. Bimbel ini khas memang, membuat peringkat murid yang berdampak pada posisi tempat duduk. Ranking satu pasti duduk paling depan, dan yang terjauh dari guru berarti nilainya terburuk dalam kelas itu. Kata kepala Jukunya, “Anak-anak harus dilatih untuk bersaing, kalau tidak dia tidak akan belajar!”…. Hmmm aku sih setuju saja, karena aku tahu anakku bisa. Dan pengalaman si sulung, dia baru mau belajar serius setelah masuk SMA. Sayang waktunya. Coba dari SD dia sudah punya perasaan bersaing, pasti hasilnya jauuuh lebih bagus dari sekarang.

    But anyway, kita tidak akan tahu kalau belum dijalankan, kan. Dan setiap anak itu berbeda. Bulan Desember Kai mendapat level 4 untuk Baca Cepat, suatu prestasi yang katanya sulit dicapai orang yang baru ikut kursus setengah tahun. Anak-anakku mah semua tukang baca, jadi no problem lah. Masalahnya hanya di bahasa Inggris 😀 Emang japanis banget deh anak-anakku. Untuk rapor skeolah juga tidak bermasalah. Dan dibandingkan dengan kondisi waktu dia SD, di SMP dia banyak teman dan kata gurunya termasuk anak yang bisa memimpin. Jadi gurunya ingin dia mencalonkan untuk menjadi pengurus OSIS (anaknya sih ogah 😀 )
  2. Si Sulung, Riku, 17. Well, sulungku ini diam-diam menghanyutkan. Yang pasti aku tidak menyangka dia itu tukang belajar :D. Tukang Buku iya, tapi belajar? Dari SD, SMP dia selalu santai. Tidak ada perasaan untuk menjadi nomor satu di kelas. Tapi ternyata aku salah. Begitu kelas 1 SMA, dia sudah punya rencana. Dia yang mengajukan proposal untuk pergi ke luar negeri kelas 2 sehingga dia punya “cambuk” untuk belajar bahasa Inggris. Dan ya, aku dan dia, berdua saja akhirnya tahun lalu bisa ke London selama 2 minggu.

    Apakah bahasa Inggrisnya canggih? Tidak! cukup saja. Tapi dia berusaha dan menunjukkan hasil. Masih kurang beberapa point untuk bisa lulus tingkat pre-1. Tapi tak apa. Karena dia punya bakat bukan ke bahasa Inggris, tapi bahasa Jepang. Kokugonya nomor 1 di sekolahnya, dan bahkan dalam ujian-ujian tryout masuk universitas, dia bisa sampai ranking 18 dari 17.000-an peserta! Bangga sekali, dan dia juga akhirnya mengetahui bahwa kalau dia belajar, dia sungguh-sungguh pasti bisa mencapainya. Sudah sejak kelas 2 awal dia mempersiapkan diri untuk masuk universitas pilihannya. Sulit, tapi kalau tidak berusaha ya terpaksa hanya bisa memilih universitas level menengah. (Universitas di Jepang tentu ada peringkatnya, nanti saya akan tulis juga mengenai itu). Sebentar lagi dia akan ujian masuk universitas, dan semoga hasilnya memuaskan dan dia bisa masuk ke universitas pilihannya.

    Selain pelajaran, dia lagi suka masak spagheti. Awal tahun dia minta aku masak nasi dari genmai (beras yang masih coklat/bukan beras putih) dan dada ayam. Ceritanya dia mau kontrol kalorinya. Eh pertengahan tahun dia getol masakan italia, dan bisa 2 dari 3 kali makan sehari itu spagheti beraneka rasa :D. Yang paling sering masak spaghetti mackerel… hiiii aku sih kurang suka karena amis. Tapi lumayan juga kalau aku malas masak, dia yang masak deh sekarang.
  3. Si Emak, alias saya 😀 Sejak dinyatakan sebagai pandemi, tetap mengajar bahasa Indonesia dengan online, dan saya sendiri merasa saya Ratu Zoom :D. Sejak Februari sudah membeli akun Zoom dan sangat mengandalkan si Z untuk melakukan pembelajaran. Untuk mengajar tentu saja, bahkan di organisasi APPBIPA, kami bahkan membuat beberapa pelatihan bagi guru-guru bahasa Indonesia mengenai pemakaian aplikasi-aplikasi yang bisa dipakai untuk PJJ (Pengajaran Jarak Jauh).

    TAPI saya juga belajar banyak dalam masa Pandemi ini, dan berbayar! Karena lain rasanya jika mengikuti kursus gratis dan berbayar. Beda mutu, beda konsentrasi juga. Paling sedikit ada 15 kursus yang aku ikuti. Ada beberapa hal yang aku perhatikan dalam mengikuti webinar atau kursus dari Indonesia. ① Jarang yang tepat waktu mulai, apalagi pesertanya sudah hadir sebelum acara. Aku sendiri selalu biasakan hadir 15-10 menit sebelum acara mulai. ② Baru acara dimulai, sudah tanya “Absensinya mana?” “Kapan dapat sertifikatnya?”, “Nanti bisa dapat bahannya tidak?”… dooohhh masih di awal loh? Tujuannya CUMA untuk kumpulin sertifikat ya? Pasti dong setelah absensi, keluar dan nunggu bahan dan sertifikat saja. Ilmunya? Ah ngga perlu. Sedih deh pada kondisi begitu. Kadang bahkan aku curiga, mereka itu alasan tidak pakai video camera itu pasti karena sambil dengan kerjaan lain, bukan karena koneksi. Kasihan pada yang memang benar-benar mau belajar tapi tidak bisa 🙁
  4. Online dan Offline atau hybrid. Untuk online, aku pikir memang cara yang tepat dalam masa seperti sekarang, daripada mengambil resiko tertular corona. Tapi ada beberapa kali aku harus offline, pergi ke tempat kerjaan, atau untuk bertemu dengan pihak lain. Takut? Ah, asal sudah jalankan tindakan preventif kurasa tidak apa-apa. TAPI aku punya kebiasaan untuk memegang handrail, pegangan di tangga waktu turun, karena takut jatuh setelah lututku bermasalah. Nah, untuk itu aku perlu membawa hand gel selalu, atau waktu musim dingin, aku pegang pakai lengan baju supaya tidak langsung kena tangan.

    Ada sekolah yang mengadakan kelas hybrid, dan aku sama sekali tidak setuju. Lebih baik offline 100 persen atau online 100%. Susah bagi guru untuk memecah konsentrasi mengajar ke online dan offline sekaligus. Khusus untuk pelajaranku, mengarang dan membaca, memang sebetulnya lebih enak kalau dilakukan secara online saja. Tapi karena kebijakan sekolah seperti itu, ya mau tidak mau harus dijalani. Pemecahannya, saya hanya konsentrasi pada anak-anak yang berada di kelas. Untuk anak-anak yang online, saya suruh kerjakan tugas saja. Sebetulnya sekolah membagi dua shift kedatangan mahasiswa ke kelas, menjadi grup A dan B yang secara bergantian datang ke sekolah. Tapi pada kenyataannya yang datang yang itu-itu saja, dan ada 2 anak yang sama sekali tidak pernah datang, dan saya tahu dia juga hanya masuk zoom, tapi tidak mendengarkan kuliah. Hasilnya, satu masih mau berusaha ikut ujian dan saya berikan waktu khusus, tapi yang satunya sama sekali tidak menyerahkan tugas, sampai terpaksa aku buat ujian susulan. Sepertinya sih dia tidak akan aku beri sks :D. Masa bodo deh. Tidak ada usaha sih.

    Tapi sepertinya untuk beberapa saat ke depan, saya harus lebih beradaptasi dengan kelas hybrid. Karena sistem ini yang akan dikembangkan di beberapa universitas untuk tahun ajar 2021.
  5. Hasil tahun 2020? Sampai memasuki bulan Desember 2020, belum ada hasil yang terlihat secara nyata, tapi berkat usulan dari Bapak Atdikbud yang baru, saya bersama teman-teman dari APPBIPA Jepang berhasil mencetak buku pengayaan untuk kelas menengah, lengkap dengan pertanyaan (dan jawaban) serta audio. Buku ini bisa diunduh dari website, meskipun audionya masih dalam garapan. Sulit mendapat waktu yang tenang untuk merekam tanpa gangguan.

    Selain buku, hal yang kecil, saya bisa membuat beberapa presentasi untuk Rumah Budaya Indonesia termasuk tentang sastra Indonesia, untuk pengajaran bahasa Indonesia, dan yang terakhir tentang literasi di Jepang. Berkat sebuah undangan untuk mengajar tentang literasi di Jepang, membuatku teringat akan sebuah rencana yang belum sempat direalisasikan. Semoga tahun 2021 bisa terlaksana.
  6. Silaturahmi. Hubungan antar manusia di masa pandemi tercabik-cabik, karena kesempatan untuk bertemu jadi berkurang. Saya bersyukur akhir Januari 2020 sempat lari ke Jakarta selama 10 hari, sendirian, semi keluarga. Ya, adik saya harus masuk RS untuk operasi besar, dan tanpa pikir panjang, saya meninggalkan rumah 10 hari kepada 3 boys. Begitu mendengar kabar, lusanya langsung berangkat, tanpa memberitahu siapa-siapa, hanya orang terdekat saja. Selama di Jakarta waktu itu pun tidak update apa-apa, dan hanya bertemu dengan teman penting saja karena 80% waktu dipakai di RS. Saat seperti itu saya bersyukur mempunyai orang tua yang mengajarkan persaudaraan di atas segala. Memang ada friksi antar saudara dan tidak bisa dihindarkan. Tapi saat salah satu ada yang susah, kami bisa berkumpul, dan berdoa bersama sehingga saat kritis bisa terlewati.

    Kita tidak tahu apa yang ada di depan sana. Kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Karena itu saya juga sekarang lebih mengikuti insting, jika ingin mengirim sesuatu kepada seseorang, langsung dilaksanakan. Kalau terpikir tentang seseorang, langsung saya hubungi. Jangan sampai terlambat. Ada seorang teman dari SD sampai SMA yang tiba-tiba meninggal, padahal paginya masih bicara akan pindahan rumah hari itu. Eh, ternyata pindah rumahnya di alam lain. Sedih, dan karena dia single mother, kami berinisiatif membuat peringatan 3 hari, 7 hari, 100 harinya secara daring.

    Dan saya bersyukur mempunyai papa yang kuat, dalam arti tidak “merengek” untuk bertemu, kangen dsb. Malah papa yang cerewet mengingatkan kami untuk prokes, jangan sampai tertular. Papamu malah tetap pakai masker di rumah, kalau berbicara dengan adik yang berkunjung. Tidak ada pelukan atau dekat-dekatan deh. Bayangkan jika papa yang merengek? Anak-anak kan sulit untuk tidak mengabulkan permohonan orang tua. Ah, papaku memang ketjeh! 😀
  7. Dua puluh delapan tahun tinggal di Jepang, dan sudah membeli 8 laptop 😀 Bener deh, tanpa laptop, saya tidak bisa bekerja. Dan saya masih ingat komputer pertama yang saya beli dengan uang sendiri, adalah IBM ukuran B5, dengan Windows 3.1 . Saat itu harganya 250.000 yen! Karena saat itu masih sedikit laptop ukuran kecil (tapi tebal, dan memang masih berat). Saya beli karena perlu untuk menulis thesis. Tidak bisa kalau memakai wapro saja.

    Waktu mulai pekerjaan membuat kamus saya mengganti komputer Sony-Viao yang berukuran A4 dengan Lenovo Yoga. B5, tipis, canggih, bisa dilipat sebagai tab, bisa touch screen juga. Karena ringan bisa dibawa kemana-mana, sehingga bisa mengerjakan kamus di mana-mana, ceritanya. Komputer Yoga ini juga yang selalu saya bawa dalam acara RBI di kedutaan, untuk disambungkan dengan in focus, untuk presentasi. Sudah banyak jasanya.

    Tapi, semenjak harus dipakai untuk Zoom, terasa sekali leletnya. Terutama jika saya harus share video atau presentasi yang banyak menyedot memorinya. Berkali-kali harus distart supaya tidak macet. Virtual Background? Tentu tidak bisa. Sampai saya membeli kain hijau untuk dipasang sebagai latar belakang. Nah, hingga suatu kali ketika sedang zoom untuk acara ulang tahun saudara, komputerku mati. blek! gitu saja. Untung masih bisa nyala, dan saya mulai siap-siap migrate, menyimpan semua file dalam HD dan cloud.

    Karena mata juga semakin memburuk, akhirnya bulan November saya membeli komputer baru. Dan terbawa nostalgia dengan komputer pertama, saya membeli IBM Think Pad, ukuran A4, dengan RAM 16GB. Harganya memang dobel dari komputer biasanya, hampir sama dengan komputer pertama. Tapi untuk zoom asik punya 😀 Virtual background tokcer, dan yang heran, bisa memuat 49 orang dalam galery view di Zoom. Jadi sering bisa memotret seluruh peserta karena biasanya komputer dulu hanya bisa 25 orang. Satu saja kekurangannya: tidak ada Power Point 😀 Ternyata waktu aku minta pasang option Office, hanya ada Word, Excel dan Acces saja 😀 Setiap mau beli PP baru yang terpisah, diarahkan untuk ikut Office 365. OGAH! mahal atuh :D. Penyelesaiannya: pakai Google Slide saja. yeay. murmer.
  8. Rencana tahun 2021? Lebih banyak menulis dan mewujudkan ide-ide yang ada di kepala. Mumpung masih bisa berpikir dan masih bisa bergerak, karena tanpa disadari umur akan bertambah terus. Tidak ada waktu untuk bersedih, atau stress. Harus memikirkan apa yang bisa dikerjakan dalam segala keterbatasan, supaya bisa survive. Dan semoga tahun 2021 bisa bertemu papa lagi di Jakarta.

Ditulis tanggal 13 Januari 2021 pukul 23:13

love this picture taken by Gen <3

Kecelakaan Lalin

4 Jan

Yomiuri Shimbun

Kepolisian Jepang pada tanggal 4 Januari 2021 mengumumkan bahwa jumlah korban meninggal akibat kecelakaan tahun lalu sebanyak 2839 orang menurun 376 orang dari 3215 pada tahun sebelumnya, dan itu berarti turun 11,7%. Ini berarti sejak 1948 pertama kali turun sampai di bawah angka 3000.  Selain dari tindakan pencegahan yang dilakukan kepolisian daerah, diperkirakan penurunan ini juga terjadi karena tidak banyak orang yang keluar rumah dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona.

Akan tetapi jumlah kematian di Tokyo meningkat 22 orang menjadi 155 orang dan angka ini adalah angka terburuk se-Jepang setelah 53 tahun berlalu. Kecelakaan akibat mengendarai sepeda motor meningkat 12 orang, menjadi 40 orang tewas. Ini dipengaruhi karena peningkatan orang yang mengendarai sepeda motor untuk menghindari kerumunan orang di kereta/bus. Kalau dilihat sejarahnya, angka kematian karena lalu lintas terburuk terjadi pada tahun 1970 dengan jumlah 16765 orang, setelah itu mulai tahun 1996 menurun di bawah angka 10.000 dan terus menurun sampai sekarang.

Dalam Kenangan dan Doa

29 Okt

Kemarin dulu di WAG keluarga, adik saya bertanya, “Mel, tolong kasih tahu nama- nama saudara yang sudah meninggal dan mau kita doakan. Karena aku akan buat daftarnya untuk diberikan dalam misa nanti. Nama mama sudah pasti aku tahu, tapi banyak saudara yang lain, aku banyak tidak tahu nama benarnya siapa”. Lalu kami membuat daftar nama-nama saudara-saudara kami, dengan nama benarnya.

Nama benar? Ya, nama aslinya, karena biasanya orang memanggil saudara-saudaranya dengan nama panggilan, kan? Aku ingat kami waktu kecil selalu memanggil opa-oma kami dengan opa-oma Bogor dan opa-oma Makassar. Baru setelah besar mengetahui nama mereka yang asli. Ada lagi yang nama singkatan misalnya Oma Poel itu nama aslinya Pauline. Tapi yang asyik sepupu kami yang bernama Uud, nama aslinya Barend. Jauuuh banget kan?

Sambil menuliskan nama-nama mereka, kami mengenangkan mereka dan nanti pada misa hari Minggu akan mendoakan mereka. Kami bisa mendoakan saudara atau teman agama apapun dalam kesempatan itu. Saya senang agama kami mempunyai kebiasaan seperti itu, meskipun tentu setiap hari kami bisa berdoa untuk yang sudah mendahului kami. Saya teringat juga pada kotbah seorang pastor, yang mengatakan bahwa ada seorang Jepang laki-laki yang sudah tua mau belajar katekismus dan mau dibaptis menjadi katolik. Ketika ditanya kenapa mau masuk katolik, dia menjawab, “Saya senang mendengar dalam setiap misa, pastor dan umat mendoakan semua yang sudah meninggal. Saya juga mau didoakan jika saya mati kelak”. As simple as that, tapi itu adalah keinginannya yang murni.

Sembari menulis daftar nama itu, aku memasukkan nama teman dari SD yang baru meninggal. Juga teringat dengan teman-teman yang kehilangan pasangan hidupnya dalam masa pandemi ini. Bahkan teringat pada teman yang menceritakan soal temannya yang meninggal. Semoga mereka semua beristirahat dalam damai.

Pesta Halloween memang lebih dikenal dalam masyarakat, sama seperti pesta valentine. Tapi justru yang penting malahan pesta peringatan Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan peringatan semua arwah orang beriman pada tanggal 2 Novembernya.

Halloween merupakan malam sebelum hari suci Kristen Hari Para Kudus (All Hallows’ Day), yang juga disebut Hari Semua Orang Kudus (All Saints’) atau Hallowmas, tanggal 1 November dan Hari Semua Jiwa (All Souls’ Day) tanggal 2 November, sehingga tanggal 31 Oktober yang merupakan hari libur di beberapa negara ini secara lengkap dinamakan Malam Para Kudus (All Hallows’ Eve, yaitu malam sebelum All Hallows’ Day). (wikipedia)

Oktober sudah hampir habis, dan kami di sini bersiap-siap untuk menikmati perubahan warna daun-daun sebelum akhirnya semuanya luruh dan meranggas.

Aku Anak Singkong & Keju :D

27 Okt

Diih, maksa 😀 Dalam lagunya mesti pilih kok, kalau anak keju, sukanya yang serba luar negeri. Sedangkan yang suka singkong, itu sukanya yang dalam negeri. Nah kalau yang tinggal di luar negeri tapi sukanya barang dalam negeri, bagaimana dong?

Tidak usah sampai zaman dulu waktu baru pertama datang ke Jepang deh, kira-kira 5 tahun lalu saja, kalau kami mau makan masakan Indonesia ya harus pergi ke restoran Indonesia yang ada. Dan di restoran Indonesia di Tokyo, belum ada yang bisa menyediakan pempek atau bakso bahkan singkong rebus.

Sejak pandemi Covid ini, baru aku getol belanja bahan-bahan masakan Indonesia secara online. Juga memesan masakan Indonesia home industry yang dibekukan dan dikirim ke rumah. Kadang mahalan ongkos kirimnya, jadi biasanya aku gabung dengan dua teman yang sering ke rumahku, mencoba masakan-masakan Indonesia yang bermacam-macam. Supaya tidak rugi ongkirnya, dan bisa menilai rasa masakan itu bersama. Ada beberapa yang sudah diulang pesan, dan itu berarti enak (menurutku ya). Aku punya langganan bakso dan pempek, dan selalu stock di freezer. Pokoknya sekarang jauuuh lebih enak dari dulu deh, kalau soal makanan.

Nah, selama ini yang jual singkong cuma dua tempat. Singkongnya itu sudah direbus dulu, baru dibekukan. Harganya lumayan mahal menurutku sih. Tapi kalau emang lagi ingin, mahal juga dibeli, kan? Kebetulan aku punya teman di Niigata, yang rupanya mempunyai lahan cukup besar dan sekitar bulan Agustus membuka p.o. pemesanan siapa yang mau singkong mentah. Dia sudah bilang sih sekitar bulan Oktober. Langsung dong aku beli 10 kg sekaligus, karena tidak tahu kapan lagi bisa panen kan? Jepang gitu loh, negara 4 musim, sehingga untuk tanaman tropis hanya bisa tumbuh selama musim panas saja. Terbayang dong buat combro, lemet, getuk dsb dsb. Ehhh tapi begitu barangnya datang kemarin, langsung potong satu batang yang panjangnya kira-kira 60cm itu, dan langsung goreng begitu saja. Yummy!

Aku suka keju, tapi aku juga suka singkong. Tapi aku tidak suka singkong keju (nama kue) hehehe. Kalau dalam lagu sih memang kesannya keju mahal, singkong murah. Tapi di sini… terus terang mahalan singkong dari keju loh.

Besok mau rebus singkong dan makan dengan mentega gula pasir ah, seperti zaman dulu makan bareng dengan mama.

Biar deh dibilang Anak Singkong 😀 soalnya emang aku masih anak Indonesia, kan? Dan aku juga blogger Indonesia loh, karena masih sesekali menulis blog 😀 Selamat Hari Blogger Nasional 27 Oktober 2020 ya…