Ini Pasar atau Peternakan sih?

18 Agu

(Tulisan ini masih merupakan rangkaian Kopdar Summer 2010. Dan ternyata tulisan special, karena merupakan postingan yang ke 800. )

Memang begitu kami mendekati  tempat ini, kami disambut seekor sapi besar berwarna hijau (heran juga sapi kok hijau ya hihihi). Bahkan seorang bule yang kurasa Manager Toko kemudian berbicara pada pelayan, menyuruh memindahkan seekor anak sapi supaya Kai bisa naik di atasnya. Well mister, thank you very much for your hospitality! Sayangnya anakku malu-malu sehingga percuma aja si Om berusaha nyenengin anakku.

Hari itu tgl 3 Agustus, aku janjian dengan Mbak Tuti Nonka di Plaza Senayan. Sebetulnya sebelumnya aku pergi ke Ratu Plaza untuk membeli game Nintendo untuk Riku. Dia kehilangan 3 chips DS dari Jepang waktu ke TL, sehingga untuk mengobati rasa kecewanya aku pergi ke RatPlaz deh. Waktu sms-an dengan Mbak Tuti kupikir RatPlaz belakang-belakangan dengan Plaza Senayan, sehingga bisa jalan kaki tuh lewat belakangnya. Tapi, biasalah Riku mana mau ikut mamanya kopdar? Dia mending pulang ke rumah dan bermain dengan sepupu-sepupunya (dan bermain games). Jadi terpaksa deh aku antar Riku pulang dulu, dan kemudian dengan taxi yang sama kembali lagi ke PS.

Tak sengaja bertemu teman lama di Tokyo, yang sudah lama sekali tidak bertemu. Ketemunya kok bisa di Jakarta, di PS lagi....

Nah ada satu lagi kejadian waktu aku tiba di PS. Sambil nunggu aku dan Kai duduk di belakang lift menghadap jam. Kemudian aku melihat ke arah pintu masuk dan sekelebat melihat sosok belakang temanku yang di Jepang. “Haruko?” cukup keras aku memanggilnya. Dan waktu dia menoleh, aku tahu pasti aku tidak salah. Ya, dia adalah teman gereja di Tokyo, bertahun-tahun yang lalu. Haruko yang half japanese – bali menikah dengan teman kami segereja juga dan tinggal di Ibaraki sebelah barat Tokyo (kira-kira 3-4 jam dr Tokyo). Aku heran sekali kok kami bisa bertemu di sini, karena Haruko kan kampung halamannya Bali, bukan Jakarta. Guuzen 偶然. Pas kami berdua libur, kok bisa kami berada di tempat yang sama saat itu. Well ada pepatah dalam bahasa Jepang bahwa Tuhan juga suka bercanda. Dan ini mungkin candaannya Tuhan. Mempertemukan kami di Jakarta.

Tak lama, aku mendapat sms dari Mbak Tuti bahwa beliau sudah ada di pintu masuk PS. Pas aku mau cari ke pintu masuk, mendapat telepon bahwa beliau sudah di lantai satu. Cepat-cepat kami naik ke lantai satu, dan bertemu di sana. Setelah mbak Tuti menyelesaikan urusannya dengan salah satu toko, kami beranjak mencari restoran.

Mau ke food court kok rasanya tidak tenang. Sambil aku menggoda mbak Tuti yang belum pernah makan sushi, kami berjalan menuju bioskop PS. Nah, di situlah kami bertemu si sapi!

Ini sapi hijau yang dimaksud. Lalu sapi yang kecil itu dipindah ke kanan pintu masuk resto, dengan maksud spy Kai naiki...eeh dianya ngga mau

Restoran Marche ini khas dari Swiss yang dibuka bulan April 2009 di Plaza Senayan. Aku sudah pernah pergi ke restoran unik ini waktu dia masih berada di sebelah hotel Melia, Kuningan. Waktu itu Riku masih kecil sekitar 2 tahun, dan sangat senang naik becak yang diletakkan di tempat bermain anak-anak. Ah…. semoga aku bisa buka file dalam HD yang macet itu. (baca “Hati-hati Kehilangan” deh)

Begitu kami masuk restoran Marche PS ini, kami diberikan satu kertas untuk diberi stamp makanan yang kami pesan. Satu orang satu kertas, dan biarpun anak-anak tetap mendapatkan satu kertas itu. Kabarnya jika hilang maka pengunjung harus membayar 1.000.000 rupiah saja. Sistem BSS (Bayar Sendiri Sendiri) ini juga diterapkan di Urban Kitchen (dan mungkin resto lain yang aku tidak tahu) dan aku rasa sebuah sistem yang “demokratis” yang “egois”,  mendidik masing-masing bertanggung jawab atas pesanannya, dan bayar sendiri. Jika bill disatukan, untuk orang Indonesia ada kecenderungan untuk “traktir-mentraktir”, sedangkan dengan pemisahan bill semacam ini, kita hanya membayar apa yang kita makan saja. Meskipun tidak menutup kemungkinan jika saat pulang, semua kertas dikumpulkan dipoolkan ke satu orang yang jadi cukong. Tapi sistem ini bagus untuk mereka yang terburu-buru tidak bisa ikut sampai akhir acara, sehingga dia bisa keluar kapan saja dan tidak perlu meminta pihak restoran menutup bill.

Di pintu masuk juga terdapat paket kids meal, yang harganya cukup mahal (aku lupa berapa) tapi meal + kertas/crayon dan bola bersinar. Tadinya mau membelikan kids meal untuk Kai, tapi karena Kai sudah makan, aku membeli bolanya saja. Dan itu langsung dicatat di kertas bill-nya si Kai.

Kami mengelilingi restoran untuk mencari kursi yang enak. Dan kami masuk ke sebuah ruangan dengan sapi di jendela. Wah kesannya memang seperti makan di sebuah peternakan. Kai senang sekali. Jadi supaya tempat duduk kami tidak diambil orang lain, aku meninggalkan susu dan barang Kai di kandang itu. Kemudian kami melihat-lihat tempat lain.

Si sapi melongok dari jendela. Kami tadinya akan duduk di sebelah sapi ini tapi lalu pindah

Ternyata ada bilik bermain untuk anak-anak dan semacam cable car di suatu sudut, sehingga kami merasa lebih baik duduk di dekat bilik bermain itu. Jadi Mbak Tuti mengambil barang kami di tempat duduk semula (terima kasih ya Mbak) dan aku menduduki tempat baru. Saat itu seorang pelayan datang dan bertanya, “Ibu akan duduk di sini?” “Ya”…dan dia membalikkan sebuah papan di meja yang menunjukkan bahwa tempat itu sudah ditempati. Yaaah tahu gitu kan tidak usah taruh barang segala hihihi (ketahuan udiknya).

kai main di bilik bermain, tapi takut sendiri

Setelah duduk, tibalah waktunya kami memilih makanan. Nah, di sini kami bisa memilih berbagai jenis masakan yang disajikan di stall (ajungan) seperti di pasar. Ceritanya keliling pasar dan membeli makanan A di warung ini, dan minuman B di warung lain. Atau konsep Pujasera deh (Pusat Jajan Serba Ada), yataimura 屋台村 di Jepang. Rupanya kata Marche itu dalam bahasa Swiss adalah pasar. Nah kan…sekarang bisa mengerti mengapa aku menulis judul “Ini Pasar atau Peternakan sih?”. Karena memang restoran ini perpaduan dari Pasar dan Peternakan.

Makanan di sini memang European banget. Hmmm ada nasi ngga ya? Kok rasa-rasanya tidak ada nasi. Tidak cocok untuk perut jawa! Tapi cocok untukku karena sebetulnya aku tidak suka makan nasi :D. Maka ketika seorang teman mengajak makan di restoran Sunda aku menolak (Maaf ya Ye…). Biasanya kalau di restoran yang menu utama nasi, aku akan memilih sate ayam, gado-gado atau makanan lain yang bisa dimakan tanpa nasi. Perutku memang bukan perut jawa tapi perut eropa hahaha.

Makanan swiss memang banyak memakai kentang, sehingga menu seperti kirsch (pie kentang) menjadi menu utamanya. Dan yang membuat aku bangga di sini adalah kentang-kentang besar yang ditaruh di sana berasal dari DIENG! Sayang aku tidak foto (kabarnya di sini tidak boleh foto-foto, kata mbak Tuti…aku sendiri tidak baca sih). Mungkin takut konsepnya ditiru ya?

es krimnya Kai loh bukan aku. aku cuma ngabisin

Restoran Marche ini bekerjasama dengan Movenpick Restaurant. Juga nama movenpick adalah nama sebuah perusahaan ice cream swiss yang terkenal, sehingga bisa dipastikan es krimnya enak. Karena itu aku membelikan waffle ice cream untuk Kai, yang hampir 80% aku yang habiskan. Berlainan dengan Riku, Kai tidak begitu suka ice cream. Tidak pernah habis!

Sambil makan dan mengobrol, Kai bermain di gerbong cable car. Dan akhirnya tertidur setelah minum susu di situ. Terpaksa deh aku gendong dia pulang, waktu jam menunjukkan angka tiga. Karena Mbak Tuti harus kembali ke hotel, mengambil barang lalu ke bandara.

Silakan dipilih-pilih mbak.... Jangan lupa minta stampsnya ya. (Kainya udah lari kemana)

Ah…sambil berjalan ke kasir aku sudah merasa sedih, ditambah lagi waktu mau membayar diambil alih oleh Mbak Tuti. Aku tidak bisa berbuat banyak karena sambil menggendong Kai. Di depan kasir itulah aku jadi terharu dan mulai menangis. Mbak Tuti sudah datang dari jauh untuk bertemu denganku, masih traktir lagi… hiks, padahal waktu berada di Jakarta rasanya belum optimal dipakai untuk bercerita dan bermain bersama. Padahal aku juga tahu mbak Tuti sedang super sibuk, tapi mengkhususkan datang ke Jakarta tiga hari. Perasaan dekat itu keluar begitu saja dan membuatku terisak. Ingin memeluk Mbak Tuti erat-erat tapi sambil menggendong Kai. Ahhh Kai, kamu ngganggu aja sih. Tapi tanpa Kai sudah bisa dipastikan kami berdua dapat menjadi pusat perhatian di depan resto itu. Tidak ingin berpisah, tapi harus. (sambil menulis ini saja aku nangis lagi deh).

Kai tertidur di dalam compartment cable car... enak banget tidurnya

Memang seperti yang aku tulis di komentar posting mbak Tuti “The Amazing Three Days” bahwa Quality of Friendship tidak ditentukan oleh tatap muka dan pertemuan. Dilandasi keinginan baik tentu persahabatan ini tidak akan berakhir. Entah kenapa aku juga merasa kecocokan dan kedekatan yang “misterius” dengan Mbak Tuti. Yang tidak bisa ditanya apa alasan atau sebabnya. Karena interaksi kami berdua juga bisa dihitung dengan jari. Tapi that kind of feeling…. Mungkin seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama? or…. lebih ke soulmate? entahlah. Aku berharap persahabatan yang awalnya dimulai dari dunia maya ini dapat terus berlangsung, sembari kita masing-masing hidup dengan kegiatannya masing-masing. Meskipun “No news is good news”, kita bisa saling membaca dan berkomentar di TE dan TV, atau bahkan lewat blog teman-teman yang lain.

Mengulang kembali tulisanku di TV, aku mendoakan seluruh kegiatan teman-teman blogger selama bulan Ramadan ini. Khususnya untuk Mbak Tuti dalam penyelesaian disertasinya (bukan thesis). Kami menunggu dengan sabar sambil berdoa agar hasilnya baik adanya. Jaga kesehatan ya mbak…

Dan… mungkin kita bisa berdoa bersama juga supaya sahabat kita Ata-chan bisa membuka restoran dengan konsep peternakan di Kediri, sehingga nanti kita bisa sama-sama wisata kuliner ke sana ya…. (pisss Ata…. heheheh)

Soal kopdar ke Bali Desember 2010,aku sudah pasti tidak bisa datang mbak. Aku hanya bisa liburan bulan Agustus saja, mengikuti liburan musim panasnya Riku. So till summer next year ya….

Kopdar Summer 2010

17 Agu

Friends are kisses blown to us by angels.(Unknown)

Jika mau jujur baru kali ini aku merasa mandeg, stuck dalam menuliskan pengalamanku di Jakarta. Memang aku salah terlalu menundanya sehingga aku kehilangan momentum “rasa” dari peristiwa tersebut. Cukup bingung juga karena memang aku memutuskan untuk menulis urut berdasarkan kejadian. Dan ketika sampai pada “gilirannya”, aku terus memandangi monitor tanpa harus tahu memulainya bagaimana.

Jika Rumah Dunia penuh emosi keharuan karena aku bisa mewujudkan ide yang ada di kepalaku sudah lama sejak sebelum aku datang ke Jakarta, maka Kopdar tanggal 2 Agustus itu penuh dengan emosi keharuan lain karena bisa bertemu dengan sahabat-sahabat yang sudah kukenal lewat tulisan mereka. Dan terus terang acara kopdar tanggal 2 dan 3 adalah klimaks dari perjalanan mudikku tahun ini. Setelah itu aku merasakan anti klimaks meskipun tidak bisa dikatakan membosankan.

Para peserta kopdar blogger tanggal 2 Agustus ada yang sudah menuliskannya di blognya masing-masing sehingga mungkin pembaca TE juga bisa berkunjung ke sana untuk membacanya. Sementara aku menulisnya dengan urut.

Mbak Tuti Nonka dengan The Amazing Three Days nya,
Yessy Muchtar dengan Bukan Cuma Sebuah Pertemuan,
Ade Susanti dengan Blog yang terlupakan,
Lady Clara dengan Kopdar

Tanggal 2 Agustus, 2010. Setelah acara di Rumah Dunia selesai sekitar pukul 3 siang, kami berombongan cek in di hotel Le Dian, Serang. Kupikir supaya kami punya waktu untuk jalan-jalan melihat kota Serangnya sendiri, meskipun akhirnya tujuan ini tidak terlaksana…hehehe. Kami mengambil 3 kamar di sini, dan kamarku dan Ria sebagai base tempat ngobrol. Sebuah suite yang lumayan mewah dan affordable. Riku langsung bertanya padaku, “Mama… hotelnya bagus. Aku mau nginap sini 4 hari ya…..” Dasar penyuka hotel hahaha. Dia selalu minta untuk tinggal di Hotel. Dan kuakui ini gara-gara sebuah film seri di Disney Channel, Suite Life of Zack & Cody, kisah sepasang anak kembar yang tinggal di kamar suite hotel karena ibunya penyanyi di hotel itu.

Eka dan Adrian masih sempat mengobrol di sini, sebelum akhirnya mereka pulang ke Jakarta untuk mengikuti kebaktian. Sementara itu, Ria bertemu temannya di lobby hotel, KK, DM bersama Riku dan Kai berenang di kolam renang hotel, yang katanya Riku, “Hebat ma… Guede banget!”

Malam itu kamu makan makanan serba bebek. Sop Bebek, Sate Bebek, Bebek Goreng, Garang Asem (semacam sup kuah asem). Ternyata kuliner di Serang selain Bebek juga ada Sate Bandeng. Aku mendapat oleh-oleh Sate Bandeng dari KK dan waktu kumakan hmmm yummy loh. Sepertinya dicampur parutan kelapa sehingga gurih. Jika ada yang pernah makan Paria Kambu (masakan makassar untuk Paria yang diisi ikan/daging giling masak santan) nah Sate Bandeng itu mirip isinya Paria Kambu ini.

Pagi harinya, Win istri KK berpamitan karena harus mengajar. Dan setelah makan pagi pukul 9, kami juga berpamitan dengan KK untuk pulang ke Jakarta. Sedih juga melihat proses pamitan anak-anak dengan KK yang sudah sangat akrab selama 4 hari. Tapi kami harus buru-buru karena kami mempunyai jadwal lunch pukul 1 siang di Cafe Lokananta, Blok M.

Untung saja perjalanan ke Jakarta lancar. Kami bisa sampai di rumahku sebelum pukul 12 sehingga sempat menaruh barang, istirahat sebentar dan ganti baju, tak lupa pakai parfum tentunya hehehe. Lagipula aku bersyukur juga bisa sempat pulang ke rumah, karena ternyata di rumahku sudah menunggu seorang Oma yang sudah berusia 89 tahun yang ingin bertemu denganku. May God bless her…

Kami, yaitu aku dan Kai, Ria dan Daniel Mahendra sampai di Cafe Lokananta itu pukul  1 lewat sedikit (tepatnya 13:09 bukti sms hahaha). Di situ sudah menunggu Christina Paska a.k.a Mbak Puak dan Ade Susanti a.k.a Uni dede. Mbak Puak tadinya bilang akan datang jam 2 an…eeeh malahan bolos ngantor, jadi  sejak pukul 12:24 (bukti dari smsnya) sudah hadir di tempat (sambil nyuci-nyuci taksi ya? hihihi). Uni dede yang aku hanya kenal lewat blog dan FB, ternyata lain dengan image yang kudapat selama ini. Aku juga beranggapan Uni dede berbadan tinggi besar sehingga bisa masuk kelompok kami, de gembils…. Ehhhh kenyataannya tidak!

Kedua sahabatku Jumria Rahman dan Tuti Nonka yang datang dari jauh demi menemui aku dan melewatkan waktu panjang bersama. Rasanya kata terima kasih saja tidak cukup untuk keduanya. Please be my friend forever!

Kami berlima masih menunggu beberapa saat sambil memesan minum sebelum Ibu Cantik bergaun hijau Yessy Muchtar datang bergabung dengan kami. Tak lama juga hadir Mbak Tuti Nonka yang katanya sempat nyasar waktu mencari lokasi Cafe Lokananta ini. Maaf ya mbak, semestinya saya beri petanya.

formasi kloter pertama di 13:51 WIB 😀

Formasi kloter pertama kemudian dilengkapi dengan kehadiran Ekawati Soejono dan Reva Liani Pane. Khusus untuk Ekawati Sudjono  ini dia sudah membuka blog tapi belum mengaku sebagai blogger karena masih kosong isinya (dan ketika aku cek, ternyata sudah dia hapus hihihi). Dia adalah salah satu pengunjung rumahku di Nerima yang ceritanya bisa dibaca di sini. Nah, entah mungkin karena dia merasa bukan blogger tapi ikutan kopdar dan aku tahu pasti karena dia cinta padaku (uhuyyyy) , dia membawakan kami semua sebuah cake coklat dari Dapur Coklat bertuliskan, “Maju terus Indonesian Blogger”. Terima kasih banyak kuenya ya Eka.

Kapan dong kuenya dipotong?

Kalau Reva, kami juga belum lama kenal lewat blog, tapi cukup sering menyapa lewat twitter dan YM, karena kami sama-sama lulusan sastra Jepang. Bedanya hanya dia lulusan UGM aku lulusan UI (yuhuuu dulu kita bersaing ya hihihi). Dan bacaan buku Jepangnya canggih banget, sastra awal Meiji loh. Kereeen.

Memotong kue dengan Samurai hihihi

Reti Hatimungil, yang sedang hamil juga hadir dalam acara kodpar kali ini. Aku mengenal Reti cukup lama, karena sebetulnya Reti termasuk dalam daftar kopdar di Omah Sendok satusetengah tahun lalu, tapi batal datang. Kami biasanya bersapa lewat FB, terutama soal makanan deh. Blognya Reti sendiri baru diperbarui setelah acara kopdar kami ini. Semoga bisa terus menuliskan pengalaman selama hamil ya Ret. Semangat!

Kami mendapatkan kehormatan dengan kehadiran seorang Lady bernama Lady Clara, yang baru tahun ini kami berkenalan dan saling memberikan komentar di blog. Padahal isi blog Lady Clara itu aku banget loh. Sejarah dan environment :D. Katanya kopdar ini adalah kopdar yang pertama untuknya, semoga kelakuan kami semua tidak memberikan imej yang menakutkan sehingga Lady Clara mau kopdar bersama blogger yang lain ya.

Cafe Lokananta tambah heboh, dan kursi harus ditambah lagi. Aku memang cuma memperkirakan 10 orang hadir 2 minggu sebelumnya waktu aku memesan tempat di sini (telepon langsung dari Tokyo loh hehehe). Jadi ketika jumlah yang hadir membengkak, pelayan Cafe harus menambah kursi supaya semua bisa duduk. Dan keramaian Cafe Lokananta dilengkapi kehadiran Eka Situmorang Sir dan Krismariana. Sayang sekali Eka tidak datang dengan seragam PNS nya, padahal aku ingin sekali berfoto dengan dia yang berseragam hihihi. Suatu waktu kita kopdar lagi ya, Aku ingin diapit Puak dengan seragam “supir Taksi”nya dan Eka seragam PNS nya hehehe.

Yang tidak "cantik" tapi manis....senyumnya hihihi. DM dan Pak Syafruddin. Terima kasih banyak buku-bukunya pak....

Oh ya, yang juga melengkapi keriuhan di Cafe Lokananta adalah kehadiran Pak Syafruddin Azhar dari Kaki Langit Kencana. Beliau membawakan buku-buku terbitan kaki langit yang akan menjadi PR buatku di Jepang. Terima kasih banyak pak. Juga kehadiran Wita a.k.a Eka Perwitasari yang pernah muncul di rumahku di Tokyo.

Baik yang baru pertama kali bertemu maupun yang sudah berkali-kali bertemu mempunyai cerita yang unik. Tapi satu hal yang bisa aku simpulkan dari pertemuan kami yaitu pertemuan kami secara fisik hanyalah perpanjangan dari pertemuan kami di internet. Sehingga rasanya tidak ada kekakuan dalam pembicaraan kami, dan semua bisa lebur dalam kehangatan berdasarkan persaudaraan. Ada beberapa orang yang mendadak tidak bisa hadir seperti IndahJuli dan Riris karena satu dan lain hal. Atau yang dari jauh-jauh hari sudah menyesal pasti tidak bisa datang seperti Ibu Enny Dyah.

bisa dibayangkan "ramenya" kan?

Sebetulnya pertemuan kami ini bisa dikatakan tidak direncanakan untuk menjadi kopdar Akbar. Awalnya hanya ingin mengumpulkan ibu-ibu blogger yang tidak bisa keluar malam (melirik ke Yessy dan Puak), tapi kemudian membengkak sampai ke luar Jakarta dengan kehadiran Mbak Tuti. Dan aku yakin (sok tau deh hihihi) kalau aku undang bapak-bapak jauh-jauh hari MUNGKIN mereka akan bisa bergabung dengan kami. Tapi merencanakan sesuatu yang “akbar” itu sulit. (Menjadi EO juga sulit ya bu Enny hehehe). Kendala waktu, tempat biasanya menjadi penghambat kelangsungan acara pertemuan seperti ini. Karena itu aku sangat berterima kasih pada mereka yang hadir pada kopdar tanggal 2 Agustus lalu.

Formasi lengkap yang datang KOPDAR sebelum bubar grak

Kopdar tanggal 2 kemudian dilengkapi dengan pertemuan kami dengan Afdhal yang sedang training di Hotel Mulia. Tadinya memang bermaksud bertemu Mas NH yang dipikirnya berada di Hotel tersebut. Tapi rupanya belum jodoh sehingga kami tidak bertemu malam itu. Baru dua hari sesudahnya ketika aku janjian “makan bakso” dengan Afdhal di Hotel Mulia, sempat bertemu sebentar dengan narablog terkenal yang mempopulerkan istilah “The Beauty of Blogging” TBoB.

kiri ke kanan DM, Kai, Ria, Mbak Tuti, aku, Afdhal, bertemu di Cafe Hotel Mulia tgl 2 Agst malam

Mas NH18, Afdhal, aku dan Kai 5 Agustus 2010. Kai selalu ikut kopdar loh hehehe

Seperti yang telah aku tuliskan di postingan sebelum-sebelum ini dan pada komentar di tulisan Mbak Tuti. I AM BLESSED,  aku beruntung dianugerahi teman-teman yang baik. Dunia blog bagiku sekarang memang merupakan dunia yang penting dalam kehidupanku. Dan aku  juga percaya sebuah quote dari Oliver Wendell Holmes yang isinya “Without wearing any mask we are conscious of, we have a special face for each friend“. Ada wajah kaku, ada wajah ramah dan lucu, wajah keibuan atau kekanakan, tergantung dari sifat kita dan kadar pertemanan kita. Special Face! Special Person… Ya semua mempunyai tempat khusus di dalam hati seorang Imelda. Terima kasih… terima kasih…. terima kasih….. Semoga kita bisa berjumpa lagi tahun depan, jika aku bisa pulang kampung lagi.

Sebagai penutup aku ingin menulis funny quote tentang friend yang cocok untuk blogger wanita (yang menempati porsi 90% kopdar kali ini).

Friends are like bras: close to your heart and there for support!!!”

Jadi jangan lupa digunakan ya “bras” nya hihihi…..


Recovery and TBoB

1 Jul

Ya akhirnya TE bisa pulih dan recover seperti semula. Tidak pakai recovery disc tapi berkat kebaikan Mas Astho, pemilik hostemple. Saya mulih kembali pakai hosting dari beliau, yang memang masa berlakunya masih ada. Jadi ceritanya sebelumnya  itu aku pindah ke server yang berada di Singapore, dengan harapan teman-teman dari Indonesia akan lebih mudah mengakses blog ini. Aku banyak menerima komplain dari teman-teman yang memakai salah satu provider, mengatakan sulit mengakses ke TE karena memang server Mas Astho ini berada di Amerika. Coba-coba pindah awal Juni, tapi eeeh bukannya lebih lancar, tapi kelancaran alias terlalu lancar yang akhirnya bermasalah dengan disuspendnya account aku. Setelah mengalami beberapa kali suspend, akhirnya aku buang semua plugin yang tidak perlu serta berhati-hati sekali dalam mempromosikan TE di social media yang lain. Nah, puncaknya waktu Senin pagi, mungkin semua warga Indonesia buka TE pas jam 9 pagi untuk blogwalking (hiperbola banget) , dan aku tulis di Twitter pada Vixxio, bahwa aku menulis tentang Vixxio di TE loh…. sehingga semua pengguna Twitter sedunia mengakses TE (lebay ngga sih?). Dan …… Jederrrrrrr…. aku diultimatum memakai 20% resources CPU si Singapore. Account suspended deh 🙁

Dan waktu itu aku yang sedang membuka dashboard kaget baca di Twitter, “Mbakkkk kok TE ngga bisa dibuka?”…. dan di Inbox FB, mas Nug menulis begini: “Mel aku tadi mau buka Blog mu kok gak bisa ya. Tulsiannya Account suspended. Hm…” Kubalas dengan menjelaskan dan disahut dengan: “Resiko jadi selebriti sepertinya mel.. Wkwkwkwk… Ya udah nikmatin aza.. :)” . Dan benar waktu aku refresh dashboardnya, aku ditolak. huhuhuhu…. Ngga boleh masuk rumah sendiri. Well, aku langsung tanya ke Mas Astho, dan sepakat mengadakan percobaan pindahin ke hostingnya kembali sambil memonitor, apakah aku akan di suspend oleh server Amerikanya…. So, Jika nanti sesudah posting ini ada kejadian suspended lagi, berarti bener aku sudah bisa jadi celebrity deh….  dan kudu punya server sendiri hahahaha.

Sebetulnya berbarengan dengan “sakit” nya TE, anakku Kai juga sakit. Demam dan batuk hebat! Tiga hari demam membuat dia lemas dan tidur terus. Jadi waktu hari Selasa tgl 22 Juni itu, dia memang agak demam, binetsu bahasa Jepangnya, 37,2 derajat. Padahal batas orang dikatakan demam adalah 37,5. Jika sudah 37,5 maka kami tidak bisa menitipkan anak-anak ke hoikuen, penitipan. Batuk juga cukup parah, sehingga aku menelepon gurunya dan mengatakan bahwa hari itu aku akan mengantar Kai ke RS dulu dan meliburkan penitipan. Oleh dokter diberi obat seabrek.

Mukanya Kai waktu sakit.... hiks...kasihan yah .

Dia bermain dengan kakaknya Selasa malam itu, dan tentu saja berantakanlah rumahku. Sambil marah-marah aku suruh mereka membereskan mainannya. Tak lama lagi Kai mulai lemas dan mengajak tidur. Berbaring di sebelah dia, aku raba demam tinggi! 38 derajat lebih. Mukanya melasss sekali, sehingga aku berkata, “Kai maaf ya tadi mama marah-marah. Gomennasai” Dan dia jawab dengan ” go…men… na…sai………”. Nangis deh aku…hiks.

Setelah lewat 3 hari akhirnya dia bisa lumayan sehat meskipun batuknya tetap parah. Dan puncaknya hari Senin, Kai tidak bangun sejak tidur malamnya, sampai jam 3 siang! Wadow … bener-bener hibernasi. Tapi berkat istirahat itu dia sudah bisa ke penitipan esoknya.

Nah setelah TE dan Kai sembuh, malah akunya malas nulis. Biasa kan, kalau nafsu dipending, pas sikon memungkinkan …udah ngga nafsu lagi. (Nafsunya nafsu MENULIS loh!)  Padahal banyak sekali yang mau aku ceritakan. Jadi untuk mengawali tulisan di awal Juli ini, aku mau menulis tentang TBoB. Ini singkatan dari The Beauty of Blogging, trade marknya mas NH18, yang baru saja (blognya) nangkring di Indonesian Matters. Hebring ya! Ungkapan itu selalu dia ucapkan dalam laporan-laporan kopdar antar blogger sehingga akhirnya kami juga akhirnya sering memakai istilah ini.

Well menurutku sebetulnya TBoB ini bisa dibagi dua, yaitu bertemu teman-teman dalam satu blog secara “maya” , pertemuan tidak berupa fisik, tapi mungkin suatu saat pernah atau akan bertemu fisik. Misalnya di blog TE si A bisa bertemu si B, yang ternyata teman lama, atau kakak kelas, atau bahkan ternyata ada unsur saudara, seperti saya dengan Ria yang pernah kutulis di sini. Lalu, baru-baru ini aku kedatangan tamu di TE kakak kelas di SMA, Retty yang ternyata temannya Krismariana dan Diajeng. Sampai-sampai Mbak Retty (cihuy …kita ngga pernah mbak-mbak-an sebetulnya) merasa perlu menuliskan pertemuan kami di sini.  Silakan teman-teman bertandang juga ke sana, meskipun blognya berbahasa Inggris, komentar boleh pakai bahasa Indonesia kok, ya kan Ret hihihi. Biasanya udah keder dulu sih kalau baca blog berbahasa Inggris.

Nah TBoB yang kedua adalah pertemuan berupa fisik, alias kopdar. Dan tanggal 26 Juni lalu, aku kedatangan seorang tamu blogger di rumah. Yang lucunya aku mengenal Narpen ini awalnya dari Ibu Enny, yang adalah ibunya Narpen dan blogger kondang. Aku bertemu ibu Enny pertama kali bulan November th 2008, yang laporannya ada di sini. Memang pertemuan aku dan Narpen merupakan yang kedua kalinya Yang pertama buru-buru di rumah Jakarta) , tapi sejak Narpen belajar di Jepang, pertama kalinya kami bertemu dalam suasana santai.

siap makan malam!

Riku awalnya ribut terus tanya-tanya siapa yang mau datang, karena aku butuh waktu seminggu untuk membereskan kamar yang tadinya sudah menjadi gudang. “Mama, yang datang orang Indonesia? Laki-laki atau perempuan?” …. Dan Riku dan Kai juga yang membukakan pintu di pagi hari kala Narpen mengebel pintu rumahku. Kali ini Kai lebih lihai, dia yang memonopoli Narpen untuk menemani dia bermain.

Jadi deh Kai mendaulat Narpen untuk bermain Lego

Khusus untuk Narpen aku buat bakso dan ayam bakar bumbu rujak. Pesan ayam dan daging halal di Bumbu-ya, dan kali ini daging gilingnya pas cocok untuk dibuat bakso. Sukses deh!

Sayang sekali Narpen hanya menginap satu malam, karena esoknya dia ada janji dengan temannya.  Blog Narpen sudah pernah kuperkenalkan di artikel DPR yang Di Bawah Pohon Rindang.

Jadi, mari kita kembangkan TBoB di lingkungan kita ya …tsah!

Rikunya tidak begitu kelihatan. Bersiap santap malam

NB:

Kalau ada yang mau resep baksonya:

Daging giling 1 kg
Tepung Kanji (Katakuriko/corn starch) 200 gr
Bawang putih sesukanya, tapi aku pakai 4 siung besar
Kemiri disangrai dulu, seadanya
Ketumbar sedikit
Lada 1 sdt
Garam 3 sdt

Bumbu digiling dan masukkan pada daging giling yang dihaluskan memakai Food Processor. Tanpa Food Processor daging sulit halus. Kalau sudah tercampur semua baru dimasukkan tepung kanji dan campur pakai tangan. Bentuk bulat-bulat dan rebus dalam air mendidih. Jadi deh.

Indahnya Blogging

26 Apr

(Ini adalah tulisan kedua untuk hari ini, setelah Like THIS)

OK…OK…. aku nanti akan membayar royalti ke mas NH18, karena istilah “The Beauty of Blogging” itu milik dia, dan supaya tidak sama persis aku terjemahkan ke bahasa Indonesia. Indahnya bercinta blogging!

Sejak aku menulis blog di domain ini bulan Maret 2008, aku mendapatkan banyak sekali teman blogger yang ditandai dengan saling mengunjungi blog masing-masing. Melalui komentar dan akhirnya kopdar (kopi darat atau bertemu muka langsung) kita dapat terus menjaga silaturahmi dan persahabatan di antara blogger. Meskipun aku tidak termasuk komunitas blog tertentu, aku merasa aku mempunyai kumpulan teman tersendiri. Dan nama-nama mereka bisa Anda lihat di antara di daftar top commentator, list sahabat TE dan beberapa postingan tentang mereka.

Nah, kali ini aku ingin menuliskan khusus tentang pertemanan yang diawali dari blog TE ini dengan mereka yang bukan blogger.Tanggal 11 Maret yang lalu, Witha Kutsuki datang ke apartemenku di Tokyo. Ini memang merupakan pertemuan kami yang ke dua. Tapi Witha memang membawa “titipan khusus” dari Jakarta, yaitu hadiah ulang tahun untuk Riku yang berulang tahun tgl 25 Februari. Riku  mendapat hadiah buku cerita berbahasa Indonesia, “Tidurlah Beruang” dari Wita (Eka Perwitasari),nah namanya sama Witha dan Wita makanya aku suka bilang si kembar…. Padahal mereka berdua tuh ketemunya gara-gara aku yang ngenalin loh. Wita sendiri sudah pernah datang ke rumahku tgl 24 Maret 2009, wah setahun lalu!

Sayang sekali aku dalam keadaan tidak enak badan, sehingga waktu itu hanya bisa menjamu dengan membuat mie bakso. Menurutku kurang enak, tapi ternyata bakso yang kubuat itu akhirnya aku sendirian yang habisin selama 3 hari. Enak kan kalau sakit makan bakso (Dan Witha ngaku bahwa tadinya dia mau minta bawa pulang…tapi sungkan… yah sayang banget deh). Sejak hari itu, aku belum bikin bakso lagi nih! Sepertinya musti ada yang datang main ke rumahku lagi baru aku masakin hehehe.

Riku senang sekali menerima hadiah dari kedua wita, apalagi aku juga dimanjakan mereka dengan hadiah syal dan dompet dari Wita, serta anting-anting garnet dari Witha. Katanya ini hadiah ulang tahun yang tertunda (ulang tahunnya udah lewat lama banget padahal) Tapi aku sangat senang atas perhatian kedua Witha ini. Really appreciate! Doumo arigatou….

Dan Hari minggu kemarin, aku bertemu dengan seorang pembaca TE yang sudah menjadi sahabat FB ku juga. Theresia Ani namanya, dan dia sedang melanjutkan penelitian bidang pertanian di Universitas Ibaraki. Seperti biasa, kami mengisi hari libur kami dengan berjalan-jalan yang murah meriah. Kali ini kami menuju sebuah danau di prefektur Ibaraki, yang bernama Kasumigaura. Menurut Gen danau ini danau nomor dua terbesar di Jepang, setelah danau Biwa, di prefektur Shiga. Dan tempat ini dekat dengan tempat tinggal  Ani. Jadi waktu masih di highway aku menelepon Ani menanyakan kemungkinan bisa bertemu. Dan kebetulan dia memang sedang akan pergi ke danau itu bersama teman-temannya naik sepeda! Wahhh asyik banget membayangkan bisa naik sepeda 20 menit ke tempat yang indah dan luas itu.

berdua Ani di taman Tulip danau Kasumigaura, Ibaraki (lupa deh sama anak-anak...hehehe)

Tentu saja kami berfoto-foto deh begitu bertemu. Selain kami memang baru pertama kali bertemu, pemandangan taman Tulip dengan Kincir Anginnya memanggil kami untuk mengeluarkan bakat narsis kami. Untung Ani datang bersama suami dan temannya Dewi, jadi anak-anak bermain bersama mbak Dewi deh.Kami bertemu tidak lebih dari setengah jam, tapi sudah cukup untuk bertukar berita terutama tentang gereja katolik di daerah Ibaraki (Ooarai).

Setelah Ani, suami dan mbak Dewi kembali ke tempat teman-temannya, kami melihat ke dalam sebuah rumah yang dijadikan semacam museum kecil, dengan informasi mengenai Danau Kasumigaura. Kupu-kupu, burung, ikan-ikan yang hidup di sana. Kata Gen danau ini juga sama dengan Danau Biwa, adalah danau yang kotor sekali dulunya. Kemudian dengan program lingkungan hidup menjadi bersih seperti sekarang ini.

depan Kincir Angin di taman tulips Kasumigaura

Karena mendengar dari Ani, bahwa rumah Ekawati Sudjono hanya 12 km dari danau itu, Gen menawarkan aku untuk bertemu Eka. Langsung aku telepon Eka, dan kami akan menjemputnya di asramanya di kompleks Universitas Tsukuba. Jadi deh kami rendezvous di sebuah restoran di Tsukuba Center (pertemuan dengan Eka adalah yang kedua kali, pertama di rumahku) . Ternyata jika naik mobil dan highway, jarak antara apartemenku dengan Ibaraki/Tsukuba dapat ditempuh hanya satu setengah jam. Hmmm jadi ingin pergi drive ke daerah lainnya deh.

bertemu Eka di Tsukuba Center

Cerita pertemuan dengan Witha, Ani dan Eka di Tokyo ingin kututup dengan sebuah tanda persahabatan lagi dari seorang pembaca TE, yaitu Henny Rupita (Henny menulis blog di Multiply). Memang bukan pertemuan secara fisik, tapi Henny mengirimkan makanan kesukaanku melalui pos! Katanya, dia ubek-ubek page about me dan menemukan bahwa aku menyukai yang serba kanji. Jadi dia mengirimkan TEKWAN kering (+buku batik) . Terima kasih banyak ya Henny, aku sudah menikmati tekwan itu sendirian, biasanya dini hari sambil menulis postingan.

tekwan ini berhasil mengurangi rasa homesick yang akhir-akhir ini mendatangiku

Aku sedang menikmati indahnya persahabatan melalui blogging. Terima kasih banyak teman-teman. Dan semoga aku diberi kesempatan mudik musim panas ini, dan bisa bertemu di Jakarta.

Kopdar atau Jumpa Fans?

20 Jan

Sebetulnya apa artinya kopdar sih? Kopi Darat, atau bahasa Inggrisnya Off Air. Suatu ajang pertemuan dengan sesama teman dalam suatu komunitas. Bisa jadi sesama pendengar acara Radio, atau TV, atau yang pasti sekarang adalah sesama pembaca blog. Tapi seringnya kopdar itu antar blogger, jarang kudengar pertemuan antara penulis dan pembaca bloggernya. Nah, aku tidak tahu deh apakah yang terakhir ini termasuk dengan Jumpa Fans hehehe.

Ekawati Sudjono, muncul di depan pintu apartemenku

Apapun namanya, yang pasti mulai tanggal 15 sampai 17 malam, aku kedatangan tamu di kandang kelinciku (usagi goya, sebutanku untuk apartemenku yang kecil). Kebetulan Gen tidak ada di rumah karena menginap di universitasnya yang dipakai untuk ujian sipenmaru Jepang. “Tante Eka” demikian Riku dan Kai memanggilnya, akhirnya sampai juga di pintu apartemenku jumat lalu, setelah mengikuti panduan naik kereta, bus dan jalan kaki. Ekawati Sudjono  merupakan orang kedua yang datang langsung ke rumah setelah Ekaperwitasari alias Wita yang pernah kutulis di “Ratu Kopdar?”.  (Heran deh di sekelilingku sekarang byk banget yang namanya Eka… helloooo EKA PNS hahhaha, apa kabar penatarannya)

Rumahku memang tidak begitu sulit dicapai, tapi harus ganti kereta beberapa kali dan naik bus. Biasanya orang asing takut untuk naik bus sendiri di Tokyo, karena memang tiap daerah cara membayarnya agak lain. (Silakan baca juga tulisan Hilda tentang naik bus di Jepang). Kalau dalam Tokyo biasanya 200-210 yen tarif tetap untuk berbagai jarak, dan membayar waktu naik.

bertiga dengan kue yang dibawa khusus dari Tsukuba

Berhubung aku bingung mau masak apa, jadi untuk hari jumat mulai jam 3 an, kita makan onabe, rebus-rebusan ayam, ikan, kerang dan sayuran. Malam juga masih sama. Aku malessss banget masak jumat itu.Tapi karena Eka bawa kue buatan temannya, jadi malam itu kita ada desert yang enak.

Kesempatan juga ada Eka, jadi aku minta dia untuk memotret aku dengan baju yang kuterima dari ketiga sahabat blogger. Biar bagaimanapun, difoto orang lain hasilnya akan lebih bagus daripada foto sendiri. hihihi…

Dan untuk menebus rasa bersalahku dalam penyambutan Eka hari sebelumnya, sabtunya aku masak deh. Ayam Bakar Padang plus balado terong. Asyik banget makan berdua pake tangan, serasa di Salero Bagindo deh. Sayang kurang pedas, karena aku masukkan cabenya terakhir, setelah ambil ayam tanpa cabe untuk anak-anak. Dan aku kaget ternyata Kai makan banyaaaak sekali, nasi dan ayam “gule”.

Kalau begini kan bisa makan pakai tangan, ngga usah pakai sumpit... sayang kurang pedas

Tadinya kami mau jalan-jalan sekitar rumah, tapi karena aku sakit kepala, jadi malas deh…. santai-santai aja di rumah, sampai hari berganti tanggal.  Tadinya ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Eka persis pergantian ke tanggal 17, tapi ternyata aku ketiduran bersama anak-anak dan baru bangun sekitar jam 5:30 pagi.

Aku tidak bisa siapkan kado apa-apa untuk Eka, karena aku sama sekali tidak tahu apa kesukaan dia. Terus terang aku juga baru kenal Eka. Gara-gara dia minta add di FB, tapi dengan pesan begini:  “Hi kk imelda… boleh kenal kah? eka salah satu peserta teacher training-nya monbukagakusho 2009 yg lagi belajar di university of tsukuba =) eka tahu blog kk imelda dari orang tua murid lho karena anaknya juga lagi belajar di ibaraki…eka tinggal di jakarta dan dulu anak sma 70 heheeh ga jauh dari tempat tinggal k imelda =p sebelum berangkat bulan oktober kemaren, sering bgt buka blog k imel =) di confirm yaaaaa.” Siapa yang tidak akan confirm kalau dapat “opening” semanis ini bukan? (heheheh makanya kalau mau add saya di FB, musti kasih alasan hihihi). Tapi setelah jadi friend di FB, baru tahun ternyata Ms Eka ini guru bahasa Inggris keponakanku… what a small world.

Tapi you know, lahir di bulan januari beda 3 hari, sedikit banyak tahu deh sifat-sifat yang dimiliki, yang memiliki persamaan. Jadilah waktu yang dilewatkan bersama kita bercerita tentang ciri-ciri “seorang capricorn sejati” hihihi.

Ini loh yang namanya tumpeng anak-anak..... 😀

Kebetulan rasa ingin masakku hari minggu itu timbul, sehingga waktu dengan berderai air mata Eka cerita bahwa kalau ulang tahun biasanya ibunya membuatkan nasi kuning, aku bilang padanya, “kenapa ngga bilang-bilang? ” Dan dengan lembutnya dia berkata, “Aku ngga mau repotin orang lain kak”…. hihihihi khas nya capricorn.

Happy Birthday sweet seventeen untuk Eka

Jadi deh hari Minggu aku nguprek isi dapur, kira-kira apa saja yang bisa dipersiapkan untuk nasi kuning. Tentu saja bumbu instant… dan jangan sangka bumbu instant tidak bisa enak loh. Yang penting kata Eka, “Masak dari hati”… itu yang menentukan makanan itu enak atau tidak. Eh tapi baru kali ini juga aku lahap makan nasi kuning buatanku (aku biasanya tidak suka makan masakan sendiri) …. kayaknya sih karena ada sambal….

Kai mau bantu.. kalau Riku sih sudah biasa... heboh deh

Demikian pula dengan kue tart Black Forrestnya. Bener-bener darurat karena aku lupa menyiapkan stock bubuk coklat. Jadilah bungkusan cocoa untuk minuman yang dipakai. Biasanya dalam sachet cocoa untuk minuman sudah ada susu/krimnya, jadi warna kuenya tidak bisa coklat tua deh. Tapi sekali lagi yang penting kan rasanya ya Eka….

Yang ulang tahun dengan yang buat kue

Dan sebetulnya selain hasil karya masakanku berhasil diicipi oleh Eka, ada juga hasil kerja tanganku yang lain, yang sayang sekali tidak bisa dipameri di sini. Ya, kata Eka sih sudah sekelas Jonny Andrean hihihi. (Siapa korban berikutnya ya? hihihi)

Well, liburan sudah berakhir, sayang sekali aku tidak bisa mengajak Eka jalan-jalan di Tokyo karena mobil dibawa Gen. Tapi selalu ada lain kali ya Ka…. Ayo, siapa lagi orang Indonesia yang berani datang sampai di depan rumah saya sendiri? Saya tunggu loh 😉 Untuk Eka yang baru tinggal di Jepang 3  bulan (sejak Oktober 2009) ini, selamat melanjutkan pelajarannya, semoga betah dan bisa diterima ke program master…. terima kasih juga untuk kedatangannya bisa membawa suasana Indonesia di rumah, dan menemani saya bersama dua krucil yang suka bertengkar 🙂

Kai yang selalu ngotot mau memotret

Sttt, aku lagi ngeracunin Ekawati Sudjono ini untuk jadi blogger. Di sini nih alamat URLnya dia… http://asakiri.wordpress.com/

Kopdar Fesbuker

4 Nov

Hihihi, biasanya kalau kopdar pasti chatters atau bloggers atau insan radio/TV ya? Semuanya akrab lewat jaringan udara, jaringan televisi, atau jaringan internet. Jadi sebetulnya anggota segala macam SNS (Social Networking Site) macam fesbukers, plurkers, twitters, kalau bertemu di real namanya juga kopdar dong ya?

Hari Jumat yang lalu aku libur mengajar, karena di Universitas sedang persiapan Festival Universitas (semacam bazaar). Jadi  aku bisa bertemu Whita, yang juga tinggal di Tokyo. Kami berkenalan lewat TE (tapi Whita tidak punya blog sendiri, sehingga tidak masuk kategori blogger) kemudian menjadi teman di Fesbuk.  Nah, waktu aku menulis bahwa aku sedang di KBRI bersama adik saya memperpanjang pasport, dia mengatakan…. tahu begitu kan bisa pergi sama-sama. Kebetulan aku bermaksud akan mengambil paspor adik yang sudah jadi pada hari Jumat, sehingga aku menghubungi dia. “Ayo sama-sama ke KBRI besok!”

Kami bertemu di Stasiun Meguro pukul 10 lewat. Langsung saling mengenali, selain sudah tahu muka lewat foto, satu “identitas” yang langsung tertangkap adalah…kami berdua memakai scarf batik! (Hidup Batik Indonesia! ayooo jangan melempem  pake batiknya. Tapi terus terang aku cuma punya scarfs)

selalu berfoto di mana saja, termasuk waktu nunggu di Imigrasi KBRI
selalu berfoto di mana saja, termasuk waktu nunggu di Imigrasi KBRI

Perjalanan rute kami sama dengan waktu aku mengantar adik, ke foto studio, lalu ke KBRI. Itu mah sudah tidak usah diceritakan lagi. Tapi aku ingin ceritakan acara kami sesudah itu. LUNCH! (ngga jauh-jauh dari makanan hihihi).

“Mau makan apa? ”
“Apa saja”
Cuma kali ini aku yang tidak punya banyak waktu karena aku harus berada di rumah jam 2:30 siang, karena Riku pulang jam segitu. Jadi kami memilih pergi ke restoran Sushi “berputar”, Kaiten Sushi. Tentu saja kami memilih resto ini karena cepat, enak, dan bisa makan sedikit. Sama sistemnya seperti restoran Padang, hanya membayar apa yang dimakan saja.

Begitu masuk restoran kami dipersilahkan duduk di salah satu pojok sebuah counter yang besar. Di depan kami terdapat ban berjalan yang mengantarkan piring-piring kecil berisi berbagai macam sushi, nasi kepal dengan potongan ikan mentah, setengah matang (aburi) dan matang (seperti udang rebus). Kami tinggal mengambil piring yang kami mau dan makan. Tapi waktu mengambil piring, biasanya kami melihat corak/warna piringnya, dan melihat ke dinding resto yang memasang jens piring beserta harganya. Harganya bermacam-macam dari 160 yen, 200-an, 300-an, 400-an dan termahal 500-an.

Ikan Buntal Goreng
Ikan Buntal Goreng

Ada beberapa yang “aneh” yang kami makan (baru makan pertama kali)  termasuk di antaranya Ikan Buntal Goreng (Ikan Fugu yang beracun itu loh), pernah saya tulis di sini. Sambil makan kami sibuk memotret dan mengirim ke handphone masing-masing.

Nah, yang menarik adalah waktu akan membayar. Biasanya di resto sushi berputar yang lain, kami menumpukkan piring sesuai dengan warnanya, misalnya merah (160-an) , hijau (200-an) dst. Si petugas resto akan mencatat warna masing-masing serta menjumlahkannya dalam kertas, dan kami bawa kertas itu ke kasir untuk membayar.

pakai alat scanner yang ditaruh di atas tumpukan piring
pakai alat scanner yang ditaruh di atas tumpukan piring

Tapi ternyata, resto sushi yang ini amat  canggih . Kita cukup menumpuk piringnya tak beraturan. Si pelayan membawa alat scanner sebesar remote control, lalu diarahkan ke atas piring teratas. Pit pit… lalu kami diberi sebuah alat mirip kalkulator kecil tanpa angka/tombol apa-apa. Wahhh bukan kertas pula! Jadi ingat beeper (yang berfungsi memanggil jika makanan sudah jadi) yang ditulis oleh Pak Oemar di sini.

Tertulis Piring ini tidak boleh dimasukkan microwave
Tertulis "Piring ini tidak boleh dimasukkan microwave"

Alat itu rupanya merekam harga yang tercantum di chips di piring yang kita makan. Begitu kita menyerahkannya pada kasir. Alat itu didekatkan pada suatu reader, dan keluar harga yang kita mesti bayar di display mesin kassa. Canggih! Tanpa kertas…

Membawa alat kecil seperti kalkulator ke kasir (plus uang tentu saja hihihi)
Membawa alat kecil seperti kalkulator ke kasir (plus uang tentu saja hihihi)

Kami berdua terheran-heran …sempat aku tanya sih tentang cara kerja alat pembaca chips di piring itu. Tapi karena restoran itu mulai sibuk dengan tamu-tamu yang mau lunch, terpaksa aku tidak bisa memotret alat reader itu dengan detil.

scanner yang dipakai di kantong belakang pelayan
scanner yang dipakai di kantong belakang pelayan

Akhirnya kami menutup cara kopdar hari itu dengan minum kopi di Tully’s Coffee (saingannya Starbuck) dengan saran aku Hazelnut Cappucino… yummy. Waktu masih kerja sebagai DJ di Radio, ada gerai Tully’s dekat studio, sehingga hampir setiap aku rekaman, pasti mampir situ. Adicted banget sampai beli Hazelnut siropnya untuk dicampur setiap minum kopi. Jadi gemuk deh…kan gula itu hihihi.

Kami berpisah di peron Yamanote line, dengan janji akan buat pesta bakso di rumah. Nanti cari waktu ya Whit…atau natalan juga bisa…cihuy.. (kayaknya masih lama deh tuh hihihi)

KoPdAr di Tokyo Tower

14 Sep

Siapa sangka saya bisa naik Tokyo Tower bersama teman Indonesia saya, setelah 17 tahun saya tinggal di Jepang? Ya, saya memang belum pernah naik Tokyo Tower. Waktu ibu saya datang ke sini, kami pernah sampai bawahnya saja, dan membatalkan rencana karena harus antri 3 jam, untuk bisa masuk. Jangan sekali-kali coba pergi pas akhir minggu deh. Dan akhirnya saya bisa berada di 150 meter di atas tanah hari Jumat lalu tanggal 12 September 2009.

Saya sangat antusias ketika Mbak Cindy sejak July lalu mengirim email soal kemungkinan kedatangan ke Jepang. Jarang-jarang kan ada teman blogger yang datang ke Tokyo. Kemudian Mas Nugroho mengirim email bahwa tanggal 11 September dia dan Mbak Cindy akan datang, dan kalau bisa bertemu tanggal 12 atau 13, dengan tujuan satu… KOPDAR dong deh sih!

Tokyo Dome Hotel, sebuah hotel yang bersebelahan dengan Taman Ria Korakuen dan tokyo Dome Hall, tempat permainan baseball. Benar-benar dikelilingi amusement center.
Tokyo Dome Hotel, sebuah hotel yang bersebelahan dengan "Taman Ria" Korakuen dan Tokyo Dome Hall, lapangan permainan baseball. Benar-benar dikelilingi amusement center.

Asyik kan kita banggain bisa kopdar di TOKYO! Padahal waktu aku di Jakarta emang mas Nug lagi super sibuk, sehingga tidak bisa ketemu untuk menyusun planning kedatangan ke Tokyo. Dan yang mengherankan sekali, sesampai di Bandara Internasional Narita, Tokyo, ternyata no HP nya mas Nug masih bisa dipakai untuk menerima dan mengirim sms, which is dulu telepon GSM tidak bisa sama sekali dipakai di Jepang. Wah hebat! (Memang ada biaya roaming, tapi bisa!) Ternyata memang Softbank (dulu vodafone) sudah memperluas jaringan deh. Jadi tidak sulit untuk aku berhubungan dengan mas Nug, dan mengetahui posisi mereka bertiga di mana (Mas Nug, Mbak Cindy dan temannya Mbak Cindy, Mas Adi)

Aku memang memilih untuk bertemu mereka begitu mereka mendarat hari Jumat tanggal 11, karena berarti aku punya waktu untuk pergi sendiri, tanpa harus mengajak kedua buntutku. Susah euy ke dalam kota bawa anak-anak, apalagi pasti tidak bisa konsentrasi untuk bersenang-senang dong. Karena perhitungan perjalanan bus dari Narita sampai di hotel jam 12, maka aku langsung ke Tokyo Dome Hotel, dan sampai di sana pukul 12:30.

Dan begitu saya bertemu Mas Nug (Mbak Cindy dan Mas Adinya lagi ngurusin kerjaan) langsung deh mas Nug bilang, “Ayo foto …manas-manasin Lala dan Ria yuuk”. Jadilah aku foto pakai HP dan langsung upload ke FB …sayangnya karena dari ponsel tidak bisa men-tag siapa-siapa, sehingga dua orang yang dimaksud baru tahunya setelah malamnya.

foto yang berhasil membuat ngiri bloggers di FB
foto yang berhasil membuat ngiri bloggers di FB

Karena aku  ada waktu sampai 4:00 sore, aku menawarkan mengantar Mas Nug ke Asakusa (kuil di Tokyo) atau tempat wisata lainnya.  Tapi sambil memutuskan akan pergi kemana, kami melihat-lihat paket tour dalam kota yang akan dipilih untuk rombongan melewatkan hari di Tokyo. Dan saat itu Mbak Cindy bergabung dengan kami. Katanya dia dan Mas Adi punya waktu sampai jam 5. Wow! Jadilah kami berempat naik taxi (yang lebih efisien daripada naik kereta karena jumlah orangnya) dan menuju ke Tokyo Tower.

Dalam taxi, sang fotografer Mas Nug tidak henti mengambil foto. Saya juga ikut-ikutan, dan waktu melewati Imperial Palace, ada taman pinus di depannya yang cukup luas. Kami juga banyak melihat orang-orang yang tiduran di bawah pohon. Mungkin asalkan tidak mengganggu kepentingan umum, maka keberadaan mereka di”cuek”in polisi Jepang.

Sampai di Tokyo Tower, kami membeli karcis untuk Naik Tower sampai 150 meter di atas permukaan tanah. Untuk sampai ke observatory itu kami naik lift. Dan memang karena hari biasa, pengunjung tidak banyak. Tapi…. memang melihat pemandangan kota itu paling bagus malam hari ya. Kalau siang hari kurang…. hmm… romantis.

Yang lucu, di dalam observatory itu terdapat sebuah kuil kecil, yang mungkin diperuntukkan untuk pelindung Tokyo Tower. Sedangkan di luar,  kami bisa melihat pemandangan Rainbow Bridge di kejauhan, dan yang lebih dekat sebuah kuil yang asri dengan kompleks pemakamannya. Saat itu aku ditanya, “Kok pemakamannya kecil?” Ya, karena yang dimakamkan di situ kan sudah berbentuk abu dalam guci.

Sebetulnya kami bisa naik lagi sampai ke level 250 meter di atas tanah (tentu saja dengan membayar karcis lagi), tapi waktu itu kami harus menunggu 20 menit jika mau ke atas. Oh NO! waktu kami tidak banyak, jadi kami membatalkan rencana naik ke lebih atas lagi. Apalagi Mas Nug rencananya akan datang lagi sendirian pada malam hari. Jadi kami bergerak turun.

Ternyata untuk turun lewat lift, kami perlu menuruni tangga dulu, dan bertemu lagi semacam observatory yang sama. Yang bagusnya di lantai ini, ada satu lantai kaca berukuran 50×50 cm yang memungkinkan kita melihat ke bawah. Saya yang penakut dan phobia ketinggian, jelas-jelas tidak mau berdiri di situ. Tapi waktu kami berjalan berapa langkah lagi, kami menemukan jendela yang lebih besar, 1 meterx60 cm. Wah, langsung kami bereksperimen di situ.

Mas Adinya jadi Spiderman
Mas Adinya jadi Spiderman

Empat orang Indonesia tidak malu-malu untuk jongkok, nungging, nyelosor, entah apa deh sebutannya, yang penting bisa narsis, berfoto-foto di dalam Tokyo Tower. (Aku juga sempet gemetar juga sih, lihat saja pegangannya kuat banget hihihi)

Setelah kami turun dan mengelilingi toko souvenir, kami keluar ke pelataran dan menemukan sudut bagus untuk mengambil foto. Tapi… mengambil fotonya harus sambil nungging hihihi. Jadi yang nungging sibuk mengambil foto yang berdiri, dan yang berdiri, sibuk mengambil foto yang sedang nungging.

pose yang masih "agak" sopan

Well, waktu yang menyenangkan memang selalu terasa pendek. Tapi senang rasanya saya bisa bertemu sesama blogger di Tokyo meskipun cuma sebentar.  Mbak Cindy dan Mas Adi harus melanjutkan kerjaannya, saya juga harus pulang menjemput anak-anak, Mas Nug harus ke kamar dan me”manas-manasin” blogers dengan foto-foto di FB.

So? Kapan giliran Anda datang ke Tokyo? Kasih tahu jauh hari ya, karena jadwal orang Jepang itu padat loh hihihi.

Batak Batak Batak !!!

12 Agu

Semua orang tahu (aku ragu apakah Malaikat Tahu, karena malaikat tidak bersuku) bahwa

orang Batak itu ceplas-ceplos, rame,  suara keras, tukang nyanyi, kalau tertawa tidak ditahan-tahan dan seribu cirikhas lain, yang begitu “terlihat” dalam pergaulan orang Indonesia. Tapi aku memang cocok dengan sifat mereka yang to the point itu.

Di antara blogger yang sering mengunjungi Twilight Express, adalah seorang batak. Meskipun katanya dia bukan 100% batak, tapi sifatnya… mmmm… mbatak banget lah. Aku mulai dekat dengannya sejak Juni akhir, sering berbincang-bincang di chat Yahoo Messenger.

Nah, hari minggu lalu tgl 9 Agustus, Eka Situmorang Sir itu yang mengundangku untuk kopdar. Karena tadinya ada beberapa orang yang “jauh” akan datang ke Jakarta, seperti Muzda yang tinggal di Jogja dan Afdhal yang biasanya tinggal di hutan Kalimantan. Kami juga sebetulnya mengharapkan Ria bisa datang dari Duri, tapi akhirnya peserta acara Kopdar Minggu itu hanya dihadiri oleh Frozzy, Mangkum, Pito, aku dan tentu saja pasangan Eka dan Adrian.

Sebelum acara mulai jam 1 itu, opa oma dan cucu-cucu (6 orang cucu!) ikutan makan di Omah Sendok. Ada sebuah scene menarik, yaitu aku melihat Riku berdansa dengan Sophie. Dia tidak malu-malu waktu aku lihat, sehingga aku langsung ambil beberapa foto.

Sesudah Mangkum, dan Eka+ Adrian hadir, rombongan keluargaku pulang, dan meninggalkan si KOALA Kai saja yang jelas-jelas tidak bisa berpisah dengan aku.

Host kopdar Minggu itu Eka, ingin berbagi kegembiraannya dalam peringatan 1 tahun pernikahan mereka. Sekaligus dia ingin mengadakan launching blognya yang sudah mempunyai domain sendiri, http://ceritaeka.com. Silakan main main ke CE, sodaranya TE… hihihi…. Jadilah kami makan cheese cake lezat yang dibawa Eka hari itu sebagai dessert.Yummy.

Sambil ngobrol ngalor ngidul, ntah kenapa Eka mulai memanggil Afdhal dengan “Panjaitan”. Alasannya? “iya mbak dia cocok dipanggil Panjaitan, lihat aja tuh jarinya terjahit pada handphone Blackberrynya. Jari terjahit, tidak bisa lepas gitu”. Nah Afdhal resmi menjadi Afdhal Panjaitan deh.

Lalu mulai kami memikirkan nama marga Batak yang cocok (lebih cenderung kecocokan bunyi daripada arti sih) untuk kami masing-masing. Pito menjadi Pito Naibaho (mantap memang pengucapannya), lalu si Frozzy menjadi Frozzy Purba. Sedangkan aku memilih Siagian saja, menjadi Imelda Siagian. Alasannya sederhana… semua Siagian yang kukenal orang baik! Jadi kalau disuruh memilih tentu saja aku pilih yang baik dong. (Kami tidak boleh memilih nama “pasaran” yang sudah banyak dan umum). Baru tahu  bahwa Lia, teman blogger juga berasal dari marga Siagian.

Yang sulit adalah Mangkum, sulit menemukan nama yang cocok. Sehingga akhirnya Eka menetapkan Mangkum Manulang. (cocok deh soalnya Mangkum kurus hihihi). Resmilah kami ditahbiskan menjadi warga BATAK. Well, ini kan cuma main-main saja.

Tapi, hari gini, predikat blogger tampaknya harus diembel-embeli dengan kata “narsis”, sehingga pergilah kami “de niue batakers” meninggalkan Kai yang sedang tidur dijaga Adrian, pergi ke halaman belakang Omah Sendok, tempat kopdar kali ini. Di bagian belakang ada sebuah kolam renang yang dikelilingi tempat makan juga. Tapi hari ini ada beruntun acara reuni sejak pagi, sehingga tempat itu dipenuhi tamu dan petugas. Kami memakai waktu pergantian tamu dengan berfoto di lorong jalan masuk, dan tidak berfoto di dekat kolam renang (sudah ada segala macam spanduk soalnya).

Bergayalah kami dengan segala pose, sehingga terpaksa aku pun yang tidak biasa berpose ikut dengan “arus”. Memang batak-batak “jadian” ini rame dan tidak tahu malu! Puncak kegilaan kami adalah, dengan keisengan Pito menegur seorang tamu yang sedang lewat. Pertama yang menjadi korban adalah pak “Rizal”. Karena menghalangi jalan, Pito berkata, “Maaf ya pak Rizal”. Pak rizal hanya tersenyum melengos dan berlalu. Loh … kok kamu tahu namanya Rizal? ….Rupanya karena acara reuni, semua peserta memakai kertas bertuliskan nama di dadanya. Tertawalah kami, sambil pak Rizal menjauhi kami seraya menanggalkan stiker di dadanya.

Tapi, itu masih tidak seberapa. Karena seorang ibu “Ika” menjadi korban ke dua Pito.
“Selamat sore bu Ika….”
Ika itu memandangi Pito dengan senyum lebar dan heran, dan berkata….
“eh kamu siapa…kok aku lupa ya?”
Dia pikir Pito adalah teman seangkatannya yang ikut reuni. Dengan santai Pito menjawab,
“Ngga kok mbak, saya cuma tamu biasa” …..
“Kok tahu nama saya?”
“Lah itu ada tertulis di stiker itu”….. #$(&)'()(=~)~= ….
Aku tidak berani memandang wajah Mbak Ika itu…pasti “mpet” mau marah, caci maki, malu bercampur jadi satu. Dan kami “cuma” bisa tertawa tergeli-geli melihat tingkahnya Pito, si pelawak satu itu.

Kembali ke ruangan dalam, tak berapa lama Kai terbangun dan mulai rewel. It’s time to go home then. Setiap perjumpaan ada perpisahan… memang…

Tapi selama kita hidup, perjumpaan itu akan selalu dikenang dan terpateri dalam ingatan. Sebuah tanda bahwa kita hidup tak bisa sendiri. Dan aku bahagia menemukan kawan-kawan baru di dunia maya yang menjadi nyata. Terlepas apa sukunya, apa kebiasaannya, apa latar belakang pendidikannya, apa agamanya…. tapi kami saling menghargai dan punya niat untuk bersahabat. Sampai teman akrab kami di jaringan blog yang tidak bisa hadir, menyatakan dirinya juga sebagai anggota “de nieu batakers” dan memilih sendiri nama marganya menjadi VIZON HUTABARAT. Uda Vizon … dengan ini dinyatakan resmi sebagai anggota “de nieu batakers” loh.

Terimakasih untuk hari minggu yang berkesan, brothers and sisters.

(Kai memandang senja dari dalam taxi)

Cerita hari minggu ini juga bisa dibaca di sini (lebih lengkap foto narsisnya)

Pertemuan-pertemuan

4 Agu

Setiap kali aku pulang kampung, pasti ditanya, “Sudah buat jadwal untuk kopdar?”, “Apakah akan membuat baksos lagi seperti waktu itu?”, atau “selain di Jakarta akan ke mana saja?”

Well, kali ini aku lebih egois. Karena aku mau menikmati waktu berhargaku dengan anak-anak dan keluarga, sehingga sampai dengan berangkat dari Tokyo, aku tidak memberitahukan kedatanganku kepada teman-teman blogger. Waktu liburan kali ini memang berharga, karena aku baru akan bisa pulang kampung lagi secepatnya pada liburan musim panas tahun depan. Karena Riku sudah mulai bersekolah, dan liburan panjangnya hanya pada akhir juli/agustus. Well, hanya satu tahun sekali !! Dan itu cukup membuatku panik. (dan sedih tentunya)

Meskipun aku tidak merencanakan kopdar, sampai dengan 2 minggu di Jakarta, aku sudah bertemu beberapa blogger. Yang terawal adalah pertemuan dengan Endayori minus DM. Aku bertemu dengan Ibu Enny dan Yoga secara mendadak di Tamani Cafe, jl. Melawai, Sabtu 25 Juli lalu. Mendadak, karena sebetulnya hari itu aku merencanakan kopdar dengan tamu dari jauh si Imoe, yang kebetulan berada di Jakarta eh Bogor deng untuk seminar Hari Anak. Eeee dianya membatalkan “janji”  karena harus kembali ke Padang begitu selesai seminarnya. Jadi, kosong deh Weekend pertama di Jakarta. (sejak kapan Imelda kosong weekend? jieeee)

Sabtu pagi Yoga dengan suaranya yang serak (tapi indah) meneleponku, dan langsung kami mengatur pertemuan makan siang bersama. Dan kebetulan ibu Enny juga bisa, jadi berkencanlah kami ditemani Kai yang masih belum mau lepas dariku (benar-benar seperti anak Koala yang nempeeeeel terus).

Makan… (hmmm makanannya berat ya di Tamani Cafe itu)…ngobrol ngalor ngidul, ditemani hujan deras yang membasahi kaca cafe.. Cukup lama hujan turun sehingga kami memutuskan untuk pindah ke Karaoke (Inul Vista) yang ada di atas Tamani Cafe itu (memang sebetulnya sudah direncanakan begitu sih hihihi).

Pertama masuk ke “kamar” ditanya, mau berapa jam? “Satu jam saja” (kok kayak judul lagu ya?) weleh…meskipun yang nyanyi cuma berdua, aku dan yoga… akhirnya nambah juga. Mana ada karaoke se jam ya hihihi. Dan pertama kali dengar suara Yoga nyanyi, amboi…deh (Yang mau dengar kudu ajak karaoke, bareng aku tapi! hehehe)

Kopdar dengan blogger yang kedua di liburan kali ini terjadi tanggal 28 Juli. Yaitu dengan Bro Neo, Nana Harmanto, Krismariana dan Oni Suryaman. Bertempat di sebuah Resto Jepang di FX. Tapi karena Kai rewel, dan Riku juga minta diantarkan ke playland yang terletak di lantai 6, jadi aku sibuk bolak balik yang menyebabkan waktu ngobrolnya berkurang deh.

Imelda, Kai, Kris, Oni, Bro Neo, Nana, Riku (conan)

Meskipun akhirnya bisa santai juga di lantai 2 FX, dengan minum kopi dan makan es krim lezat (waduh aku kok lupa rasanya ya? caramel + ferrero rochard?). Akhirnya jam 10 malam, pulang deh naik taxi ke rumah sambil menggendong Kai yang ketiduran. (aduh aku pas nulis ini, baca cerita kopdar ini yang ditulis nana di sini …jadi ngakak terus deh)

Nah, keesokan harinya, tgl 29 Juli jam 2-5  aku janjian bertemu dengan the famous (and NARSIS) bloggers….. bukan GIRLS lagi tapi LADIES! Yaitu Ibu Yessy Muchtar, Mbak Puak dan EKA Situmorang-Sir. Udah gitu ngumpulnya di tempat makan berkalori tinggi… ES KRIM, yaitu Gelato Bar!

Ada cerita lucu juga tentang penentuan tempat Gelato Bar. Cari-cari di website, Gelato Bar terletak di Arcadia. Dan karena jamnya jam 2, aku pikir tidak usah reserve tempat. Pada hari H, langsung naik taxi bersama Riku dan Kai ke Arcadia…. untung aku tanya dulu pada petugas Vallet Parkingnya, bener ngga Gelato Bar ada di situ atau tidak. Ternyata… SUDAH PINDAH!!. Waaah kejadian kedua yang menimpaku, karena sebetulnya kemarinnya waktu kopdar dengan Bro Neo, kita mau makan di Kuishimbou FX… dianya Renovasi tanpa pemberitahuan (gitu deh kalo tidak reserve tempat!). Jadi pelajarannya: Jangan percaya website tempat-tempat di Indonesia, karena mereka jarang sekali meng-update websitenya. Telpon!!!!

riku diapit tante-tante narsis

Karena aku yang sampai duluan, langsung kasih tahu yang lain, bahwa kita musti pindah ke Senayan City untuk ke Gelato Barnya. (di Arcadia ngga ada yang enak sih). Begitu aku sampai di Senayan City, Mbak Puak datang bergabung dengan anaknya FLO, yang bener manissss sekali (terutama kalau mau difoto, pasti nurun dari ibunya tuh). Sesudah itu Yessy dan Eka… maka lengkaplah kita. Sudah pasti ceprat-cepret sana sini duong… abis tante-tante ini narsis semua.

Sayang sekali aku harus pulang jam 5, karena sudah janji dan mau ada kumpul-kumpul di rumah, untuk ultahnya opanya Riku. Jadi jam 5:30 bubar deh semua. Dan malam itu aku tidak bisa makan malam lagi, kekenyangan makan es krim!

Kopdar memang selalu menyenangkan…