Galaxy Express dan buku

29 Mei

Apa hubungannya Galaxy Express dengan Twilight Express? Twilight Express adalah jalur kereta pada kenyataan yang bisa kita naiki, dan berlari di atas rel di dunia ini. Sedangkan Galaxy Express ini adalah jalur kereta fantasi yang “terbang” di galaxy, yang tentunya hanya ada di dunia animation.

Bahasa Jepangnya adalah Ginga Tetsudo 999, 銀河鉄道999 sebuah anime atau film kartun mengenai perjalanan fantasi di galaxi andromeda untuk mencari badan mesin abadi. Cerita lengkapnya bisa dibaca di wikipedia sini, soalnya saya sendiri tidak mengikuti anime ini. Tapi yang saya tahu adalah bahwa Matsumoto Reiji, si pengarang anime ini tinggal di daerah rumah saya. Sehingga jalur kereta yang menuju stasiun rumah saya dan eki (stasiunnya) sendiri sering dihias dengan lukisan dan karakter dari Galaxy Express ini. Kebetulan Riku dan papanya hari Minggu lalu pergi ke Ikebukuro dan sempat berpotret dengan kereta yang dilukis dengan karakter Galaxy Express.

 

 Hari Minggu kemarin adalah hari kencannya Riku dengan papanya. Seperti biasa saya dan Kai tinggal di rumah, karena Kai sedang tidak begitu sehat alias batuk-batuk. Apalagi sejak virus Flu babi sudah mulai menyebar di Tokyo, sedapat mungkin menghindari tempat-tempat yang penuh kerumunan orang. (Dan sebetulnya hari Seninnya Riku sempat demam dan saya bawa ke dokter. Ternyata kena bakteri di tonsil – amandel- nya sehingga harus minum antibiotik selama 10 hari).

Tujuan mereka pergi ke Ikebukuro adalah pergi ke sebuah toko buku besar di sana.  Riku ingin sekali membeli ZUKAN 図鑑 picture ensiklopedia yang berisi gambar burung dan binatang. Biasanya kalau kami sudah tahu judul bukunya, kami memesan lewat amazon.co.jp dan buku akan diantar keesokan harinya. Tapi Gen lebih suka pergi dan melihat sendiri di toko buku bersama Riku. Memang lebih asyik pergi ke toko buku langsung, tapi dengan resiko (BESAR)  “tergoda” membeli juga buku yang lain, bukan? Seperti Mang Kumlod yang berencana beli satu buku “Black Swan” di gramed gara-gara ada 30% diskon dan berdoa semoga tidak tergoda beli yang lain…. hehehhe.

capek berjalan di toko buku
capek berjalan di toko buku

Sebetulnya Riku sendiri punya gift-card “BUKU” seharga kira-kira 5000 yen, hadiah waktu dia masuk SD. Sehingga tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membayar buku. Tapi waktu dia memasuki toko buku, seperti mamanya (cihuy) matanya jatuh pada buku yang mahal (mata mahal katanya). Picture encyclopedia itu seharga 1900 yen satu, sehingga kalau beli 3 jenis sudah melebihi anggaran. Lagipula isinya lengkap sekali untuk mahasiswa pun bisa. Untuk Riku tidak perlu sebagus itu, karena pasti akan cepat rusak…. maklum anak-anak. Jadi papanya mengajak mencari yang lain. Terbelilah 3 buku, dan 2 picture book pilihan Riku dan Papanya. Tapi untung mereka masih ingat mamanya yang kesepian di rumah, dan sebetulnya punya “wishlist” picture book yang “Skeleton Hiccups” itu. Jadi, dibelikan deh ….asyiiiikk…

Langsung mengambil crayon dan mulai menggambar
Langsung mengambil crayon dan mulai menggambar

Sesudah sampai di rumah Riku langsung membuka picture encyclopedia mininya dan mulailah dia menggambar. Memang tujuan dia membeli buku itu untuk dijadikan contoh menggambar. Lihat tampangnya sudah seperti artis kan?

Dan mamanya Riku langsung membaca Picture Book yang berjudul “Tengkorak Cegukan” shakkuri gaikotsu しゃっくりがいこつitu dalam 3 menit hahahaha. Memang lucu sih. Bayangin saja kalau tengkorak yang cegukan mau menghentikan cegukannya? Kalau manusia menghentikan cegukan bagaimana? Di sana disarankan minum air, atau makan gula, atau menekan sudut mata…. jadi bayangkan saja jika tengkorak yang berbuat begitu. Ya tidak bisa kan? Jalan keluar terakhir adalah membuatnya terkejut. Dan akhirnya memang si Tengkorak bisa terkejut dengan…… melihat mukanya sendiri di cermin. hahahaha….. Nonsense!!!!!

panen buku
"panen" buku

Tapi untuk anak-anak justru cerita nonsense itu yang disukai/digemari. Ternyata Picture Book lain yang dibeli juga cerita nonsense. Yang pertama adalah Suteki na sannin gumi すてきな三人ぐみ “The Three Robbers” karangan Tomi Ungerer. Tentang 3 orang perampok bermantel dan bertopi hitam yang mengumpulkan harta hasil rampokan tapi tidak tahu untuk apa. Mereka terbuka matanya karena ditanya oleh seorang anak perempuan yang mereka culik, “Untuk apa harta sebanyak ini”. Jadi mereka bertiga dan si anak perempuan membagi-bagikan harta itu kepada orang miskin dan sisanya dibelikan sebuah kastil. Mereka tinggal di sana, dan banyak anak yatim piatu yang dititipkan di sana, sehingga akhirnya setelah bertahun-tahun daerah sekeliling kastil itu menjadi sebuah desa yang bertopi dan mantel merah untuk menghormati 3 perampok itu.

Satu lagi Picture Book karangan orang Jepang berjudul Kyabetsu kun キャベツくん (Si Kubis). Cerita diawali dengan Babi yang ingin makan si Kubis. Tapi Kubis berkata, “Kamu jangan makan saya nanti kamu jadi Kubis”, dan di awan tergambarlah Babi yang bertranformasi menjadi kubis. Percakapan dilanjutkan dengan bermacam-macam binatang, sehingga Babi menjadi takut melihat gambar di awan itu. Tapi Si Kubis baik hati sehingga akhirnya mengajak Babi yang lapar itu pergi ke restoran.

Nonsense…. tapi penuh imajinasi. Dan bukankah anak-anak perlu imajinasi sehingga bisa menjadi orang dewasa yang bercita-cita?

Tidak henti-hentinya saya juga mengajak orang tua untuk membacakan buku cerita pada anak-anaknya yang belum bisa membaca. Dan memang hobi keluarga kami mengumpulkan Picture Book. Kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak balita.

Saya mau mengutip pernyataan dari Pak Eka Budianta, sempai (senior) saya di Sastra Jepang UI, yang beliau muat di FB:

Eka Budianta: Mengherankan. Kegemaran membaca berbanding lurus dengan kemakmuran bangsa. Begitu juga kesadaran lingkungannya. Semakin suka membaca, semakin cinta lingkungan, semakin makmur masyarakat. Jadi bukan kaya dulu baru membaca dan cinta lingkungan. Justru dengan rajin membaca dan mencintai lingkungan, suatu bangsa bisa belajar untuk hidup cerdas, makmur dan berkelanjutan.

Mari mbaca yuuuk