Arsip Tag: uwabaki

Third Day

Hari ini adalah hari ke tiga Kai masuk TK. Sejak hari Senin, aku mengantar dia ke TK nya sekitar pukul 8:45 pagi. Sebetulnya kami diharapkan mengantarkan anak-anak antara pukul 8:30 -9: 30, dan menjemputnya kembali pukul 11:00. Pendek sekali ya? Tapi ini memang khusus untuk pemanasan bagi anak-anak. Kami juga harus mengantar anak-anak kami sampai di depan kelas, sebelumnya mengajari mereka untuk menukar sepatu dengan uwabaki (sepatu dalam).

Aku mengantar sendiri Kai ke TK, tapi sebetulnya kalau mau ada juga disediakan antar-jemput. Hampir semua TK menyediakan layanan antar-jemput dengan trayek tertentu. Tidak seperti di Indonesia kalau bus antar-jemput anak-anak biasanya berhenti di depan rumah masing-masing, kalau di sini biasanya dipoolkan di tempat yang mudah dijangkau dan tidak mengganggu lalu lintas. Jadi semisal jam penjemputan pukul 8:35 ya sebelum pukul 8:35 kami sudah harus menunggu di pool tsb. Aku tidak yakin anak-anakku bisa siap sebelum jam penjemputan, jadi lebih baik aku antar sendiri naik sepeda. Apalagi nanti jika aku sudah mulai mengajar, sesudah antar Kai, aku bisa langsung pergi ke stasiun naik sepeda. Biasanya biaya antar-jemput ini sekitar 5000 yen/bulan.

Hari pertama, Kai dengan penuh semangat pergi ke TK, karena aku menjanjikan akan bermain di halaman sekolah sesudah selesai sekolah. Meskipun kadang dia juga masih menyebutkan,
“Aku maunya sama mama”.
Aku selalu menjawab, “Iya tentu saja. Kan hari ini hanya main lilin, makan snack lalu mama jemput loh”.
“Tidak tidur siang?” (Kalau di penitipan kan pasti pakai acara tidur siang)
“Tidak!”….
Lalu dia tersenyum. Dan masuk kelasnya dengan gagah.

Sebelum berangkat ke TK, Senin lalu.... untung Kai tidak menangis

Naik sepeda dari rumahku ke TK hanya 5 menit. Jadi biasanya aku berangkat menjemput Kai pukul 11 teng juga masih keburu. Karena kami harus menjemput lagi di depan kelas. Proses penyerahan murid kepada guru memang untuk membiasakan anak-anak ini terhadap guru dan peraturan sekolah. Tapi kami hanya bisa begini selama 3 hari pertama. Mulai besok kami hanya boleh sampai pintu depan sekolah, tempat anak-anak ganti sepatu. Dan waktu belajar juga ditambah 30 menit, menjadi sampai pukul 11:30. Nanti mulai bulan Mei akan menjadi pukul 2 siang.

Kemarin ada rapat orang tua dan guru (PTA – Parent Teacher Association) pertama kalinya, untuk memilih wakil pengurus kelas yang bertugas membantu kelancaran kegiatan sekolah. Satu kelas 3 orang dan salah satunya akan menjadi penghubung dengan kelas yang lain. Hmmm, aku sih suka berorganisasi begini (sok sibuk hihih), tapi kupikir biarlah ibu-ibu yang lain. Aku cukup kaget waktu ikut rapat itu, duh hampir separuh ibu-ibunya menggendong bayi! Gawat nih, bisa-bisa ngga ada yang mau jadi wakil. Eh, ternyata ada juga kok yang bersedia mencalonkan diri, jadi aku bebas… asyik.

Waktu sedang diadakan rapat sekitar pukul 14:15 siang tiba-tiba beberapa HP ibu-ibu berbunyi khas. Peringatan dini gempa. Semua diam dan berdebar-debar menunggu datangnya gempa. Gurunya Kai bilang, tidak apa-apa, kalau ada apa-apa kita bisa lari ke halaman, tinggal buka pintu yang menghubungkan dengan halaman sekolah. Untung saja gempanya tidak besar, dan rapat dilanjutkan kembali.

Tapi karena khawatir juga tentang Riku, kupikir biarlah aku dan Kai mampir ke sekolahnya Riku (beda satu blok saja) supaya bisa pulang sama-sama. Di depan SD nya Riku itu ada taman kecil yang bernama Taman Tupai. Jadi kami berdua menunggu di taman itu, sambil Kai bermain luncuran.

Di situ aku bertemu beberapa anak yang sudah pulang lebih cepat. Dan lucunya aku diajak bicara oleh seorang anak perempuan yang manis tapi cerewet….hihihi. Lucu juga sih, rupanya begini rasanya kalau punya anak perempuan. Kai saja aku anggap sudah cerewet, tapi anak perempuan ini jauuuuh lebih cerewet, suka bicara. Semuanya dia ceritakan, dan aku menjadi pendengar yang baik 😀

Tapi selain si cewe ini, aku bisa melihat persiapan pulang anak SD. Sejak pasca gempa, mereka harus pulang berkelompok, supaya jika terjadi gempa, mereka bisa bergerak mengungsi bersama, dengan satu pemimpin. Kebijakan ini diambil oleh pihak sekolah sampai dengan tanggal 29 April nanti…. kecuali jika masih sering terjadi gempa susulan.

Yang aku rasa hebat juga pihak sekolah, selain sudah menentukan kelompok pulang sejak Riku kelas 1 SD, mereka juga memberikan petunjuk untuk membawa air minum, pelindung kepala dll. Bahkan nanti tgl 15 April aku akan ada rapat PTA untuk kelasnya Riku, dan mereka memikirkan kondisi anak-anak waktu kami sedang rapat. Jika tidak ada gempa-gempa begini memang biasanya anak-anak ditinggal di rumah saja. Tapi dengan banyaknya gempa susulan, sekolah juga khawatir jika terjadi apa-apa selama anak-anak sendirian di rumah. Jadi khusus untuk hari Jumat nanti, halaman sekolah akan dibuka sehingga anak-anak bisa bermain di halaman sekolah selama ibu-ibunya rapat.

Satu lagi yang kurasa hebat juga mereka memikirkan kemungkinan jika listrik mati dan anak-anak tidak bisa belajar di sekolah. Mereka memikirkan kemungkinannya untuk belajar di alam terbuka, yaitu di Taman Shakujii, taman yang luas di wilayah kami. Yang penting proses belajar harus terus berjalan, tidak gampang meliburkan 🙂

Tiga hari awal tahun ajaran baru April 2011- Maret 2012 sudah dimulai dengan lancar. Semoga anak-anakku bisa belajar dengan aman dan lancar, dan semoga gempa makin berkurang … AMIN.

Sakura dekat taman bermain di depan SD nya Riku, Taman Tupai.

 

 

Dousoukai a.k.a Re-Uni

Dousoukai adalah kegiatan reuni, pertemuan kembali dari mantan murid di sekolah yang sama. Ditulis dalam kanjinya : 同窓会 dou = sama, sou=jendela dan kai = pertemuan. Yang aku heran tidak memakai kata sekolah, tapi jendela. Melihat melalui jendela yang sama. Dousoukai dalam arti besar bisa Reuni Akbar, yang biasanya di sini dinamakan Home-coming day suatu sekolah/universitas. Tapi bisa juga berupa Kurasu-kai, reuni kelas dalam lingkup yang lebih kecil.

Nah hari Sabtu kemarin, anakku si Riku mengikuti Dousoukai pertamanya. Haduh…. reuni masa TK ceritanya hihihi. Aku ngebayanginya aja lucu banget. Pasti sih yang merencanakan itu orang tua murid/bekas gurunya. Sekitar 3 minggu sebelumnya aku mendapat telepon dari salah seorang orang tua murid. Masih pakai cara phone tree seperti yang pernah aku tulis di Hubungan dari hantu ke hantu. Dia menyebutkan hari dan tanggal, Sabtu 12 Juni 2010. Jam 1 sampai 3 siang. Membawa makanan kecil secukupnya + minuman dalam thermos, dan tidak lupa untuk membawa uwabaki (sepatu dalam ruangan). Boleh datang naik sepeda.

uwabaki paling sederhana dan paling murah. Riku punya di bagian depannya (karet) berwarna biru, dia yang minta...mau modis katanya hahaha. Dulu waktu TK sih putih semua, persis seperti ini.

Begitu selesai dia menyampaikan pesannya, aku langsung minta maaf. Aku lupa siapa sesudahku dalam daftar phone tree jaman TK nya Riku. Wah itu daftar udah ngga tau ke mana deh. Mana kutahu bahwa masih akan dipakai setelah lulus TK? Untung dia bilang, ngga papa kok Miyashita san yang terakhir, semua sudah tahu (senengnya kalau begini, orang asing dikasih tugas sedikit hihihi). Ok aku bilang, Riku akan datang.

Jadi Sabtu pagi Riku sudah seperti cacing kepanasan. Dia juga ingin sekali bertemu dengan teman-teman lamanya. Karena dia belum ada makanan kecil, aku suruh dia membeli sendiri sekaligus membeli roti dan susu untuk kami makan pagi. Enak sekarang bisa meminta dia membelikan sesuatu. Dia juga sudah pintar berhitung soalnya. Menjelang jam 11 aku baru sadar bahwa uwabakinya cuma ada sebelah! Loh… kemana yang satunya? Mungkin jatuh atau mungkin ketinggalan di sekolah. Jadi Gen pergi dengan Riku untuk membeli uwabaki baru di toko sepatu. Huh ada-ada saja. Untung aku cepat sadar sehingga masih sempat membeli.

Dan… Riku pulang jam 3 dengan keringat. Rupanya sebagai pengisi acara, mereka bermain dochi ball. Dodge Ball, adalah permainan paling umum yang bisa dimainkan siapa saja, asalkan ada bola (volley). Aku tidak tahu apakah permainan ini ada di Indonesia atau tidak, tapi rasanya pantas deh diperkenalkan atau dimainkan di Indonesia. Salah satu permainan yang bisa dipakai untuk meramaikan acara-acara pertemuan. Sambil dia juga bercerita bahwa ada temannya yang sudah pindah ke Saitama dan khusus datang untuk bertemu mereka. So sweet… (Sayang anak-anak tidak boleh membawa kamera, jadi aku tidak bisa membayangkan acara mereka seperti apa)

Sekitar jam 6:30 giliran aku yang siap-siap dan pergi ke acara konshinkai 懇親会, pertemuan ramah-tamah dengan mantan seksi kegiatan anak PTA di sekolah Riku. Kalau seperti ini tidak bisa dikatakan reuni sih… Acaranya dekat stasiun rumahku, sehingga aku pergi naik sepeda. Anak-anak sama papanya jaga rumah.

cheese spreadnya dicampur mentai (telur ikan). lembut dan enak!

Aku baru pertama kali ke restoran/ tempat minum di Tsuboya ini. Tempatnya cukup nyaman dan …murah. Makanannya lumayan enak dengan paket all you can drink yang relatif murah dibandingkan restoran lainnya. Sambil makan-makan dan minum-minum, kami bercakap-cakap tentang macam-macam. Dan yang paling aku “pasang telinga” soal ijime atau bullying di sekolah, dan bagaimana mengatasinya. Ternyata yang cukup banyak menjadi masalah justru di kalangan anak perempuan, karena sejak dari kecil mereka sudah mempunyai “geng-geng”… entahlah… apa mungkin kebetulan saja orang tua murid yang datang kebanyakan anaknya perempuan. Kami berdelapan menikmati konshinkai ini sampai pukul 9:30, dan setelah 3 orang pulang, dan kami berlima melanjutkan ke tempat minum yang lain. Hashigo! (arti sebenarnya adalah tangga, tapi istilah ini dipakai untuk acara makan (minum) dengan berganti restoran/tempat minum … mungkin seperti clubbing deh — aku belum pernah clubbing jadi ngga tau juga hehehe). Dan….kami berlima pulang jam 1 pagi! Karena ada satu yang berjalan kaki, akhirnya kami menuntun sepeda dan berjalan bersama pulang (arah pulangnya sama semua). Duuuh ibu-ibu pulang pagi! (Jadi inget masa muda …tsah hihihi)

Di dalam resto yang kedua "Ron" ada penjual oden... hari ini dietku gatot deh...gagal total!

Kelas Satu Berseri

Pika-pika no ichinensei. ぴかぴかの一年生。Pika-pika adalah mengkilap, dan ichinensei adalah kelas satu. Ucapan ini mengacu pada anak berusia 6 tahun yang masuk Sekolah Dasar.  Hei, memang kalau masih baru pasti bersih mengkilap kan? Karena itu juga aku tidak menghalangi keinginan Gen untuk membelikan semua yang baru untuk Riku, meskipun mungkin sudah ada barang-barang yang dicari, yang sudah bekas dipakai. Gen bilang bahwa kelas satu itu ingin diawali dengan barang baru, semangat baru, yang pastinya rasanya lain jika kita sebagai orang tua memberikan yang bekas. OK saja, selama kita masih bisa membelikannya. Sehingga akupun  sebetulnya sudah siap juga seandainya Gen mau membelikan meja belajar yang baru! (entah kenapa di Jepang, masuk SD = ransel dan meja belajar + jas)  Gampang deh soal tempat, kalau perlu ada perabot yang dibuang juga tidak apa.  Tapi akhirnya dia sendiri yang membatalkan keinginan membelikan meja belajar.

Tibalah tanggal 6 April yang dinanti. Jam 4 pagi aku sudah terbangun dan menyiapkan tasnya Kai untuk ke penitipan. Tentu saja semua barang yang dibawa ke penitipan harus diberi nama semua. Huh, kadang aku bosaaan banget deh dengan ketentuan begini.

Semua bangun sebelum jam 7 pagi. Tumben! Aku siapkan sarapan cepat-cepat dan bersiap untuk mengantarkan Kai ke penitipan jam 8 pagi. Ya, hari ini aku menitipkan Kai, supaya aku bisa konsentrasi untuk acaranya Riku saja. Dan setelah menurunkan Kai di penitipan aku mampir ke ATM terdekat, dan saat itulah aku melihat si TukTuk yang pernah aku ceritakan. Rupanya pemiliknya tinggal di sekitar stasiun. Cepat-cepat aku ambil kamera dan mencuri foto dari samping.

Buru-buru aku kembali ke rumah, dan ganti baju dandan, dan pukul 9 teng kita berjalan dari rumah menuju ke SDnya yang terletak 15 menit jalan kaki. Acaranya sendiri dimulai pukul 9:30. Di depan sekolah ada sebuah taman dan sakura menghiasi taman dan jalanan di sekitarnya. Ah sakura ini memang melengkapi kegembiraan dan memberi keindahan tersendiri dalam memulai sesuatu yang penting. Apalagi hari ini samat hangat, dengan suhu sekitar 20 derajat. Dari jauh kami bisa melihat antrian orang tua di depan gerbang, yang menunggu giliran untuk bisa berfoto di depan papan bertuliskan “Upacara Penerimaan Murid Baru” Nyuugakushiki 入学式。Tapi aku bilang itu belakangan saja.

(antri masuk di depan halaman sekolah – pakai uwabaki sepatu dalam yang diberi nama dan kelas)

Begitu masuk ke kompleks sekolah, kami disambut oleh murid kelas 6 SD tersebut yang membagikan lembaran kertas yang berisi pembagian kelas. Ada 99 murid baru yang dibagi menjadi 3 kelas. (Jumlah ini sedikit menurut Gen, tapi banyak menurut aku mengingat semakin sedikit jumlah anak di Jepang) Dan Riku masuk ke kelas I – 2. Sedihnya tidak ada temannya laki-laki yang dari kelas TK yang sama. Jadi dia benar-benar harus membuat teman baru di sini. Gen bilang, bagus dong…awal baru teman baru.

Begitu mendaftar dan mendapatkan tanda nama yang disematkan oleh sempai (kakak kelasnya) , kami bersama Riku menuju ke kelasnya. Di sana juga sudah menunggu sempai yang lain, yang membantu adik-adiknya menaruh tas ransel dan menunjukkan tempat duduknya. Hmmm sistem sempai membantu adik kelasnya ini juga bagus kalau menurut saya. Menjadikan lebih akrab. Saya tanya pada Gen apakah dulu juga ada sistem seperti ini, dan katanya hampir di semua sekolah menerapkan sistem “mentoring” seperti ini. (Jadi ingat waktu aku masuk ke Yokohama univ juga ada mentor yang membantu … hmmm siapa ya? kok lupa sih. Ohh… kayaknya Kimiyo dan Kayoko deh, mentoringnya malah ngajak jalan-jalan ke Kamakura hahaha)

(sempai membantu murid baru–kohai— memasuki kelas – Riku bersama teman sebangkunya)

Sementara Riku dan teman-temannya menunggu di kelas, kami para orangtua menuju ke sport hall untuk mengikuti upacara murid baru. Sport Hall dihias dengan tulisan omedetou (Selamat) di panggung dan slogan Mirai to yume e tsukisusume (menyongsong mimpi dan masa depan) menghadap panggung. Di sekeliling hall ditutup dengan kain bergaris merah putih, tanda selamatan oiwai. (Kalau duka maka kain bergaris hitam putih). Kebetulan aku duduk di tempat yang strategis sehingga bisa memotret waktu defile murid-murid baru masuk menurut kelasnya. Mereka masuk berpasangan dengan teman sebangkunya. Dan yang mengherankan aku pasangannya laki-laki perempuan bergandengan tangan. Rupanya di Jepang tempat duduk di SD pasti berpasangan laki-laki perempuan.(wahhh jadi inget waktu SMP aku sebelahan sama Gatot –si tukang nyontek — ups sorry tot… jangan marah yaaa hehehe – kapan lagi nama loe aku tulis di sini kan)

(masuk sporthall bersama teman-teman sekelas – liat tuh… Riku mencari-cari mamapapanya di antara pengunjung duuuh duduk yang manis nape?)

Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Sekolah SD, kemudian perkenalan wali kelas dari ketiga kelas satu. Eh sebelum pidato dari Kepsek, kami menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. (terus terang aku ngga bisa nyanyinya dan pas udah tengah-tengah baru ngeh sadar bahwa itu adalah lagu kebangsaan) Baru di situ aku juga sadar bahwa SD ini adalah SD Negeri yang didirikan oleh pemerintah daerah.

Setelah perkenalan wali kelas, ada perkenalan seluruh staf guru dan pegawai TU. Penyerahan hadiah dari pemerintah/ pemerintah daerah yang diserahkan oleh Kepala Sekolah kepada salah satu wakil murid baru. Hadiah itu berupa pelindung kepala waktu gempa, cover penutup ransel berwarna kuning, buku pelajaran dan buku tulis. Dari kepolisian diberikan hadiah buzzer, alat pencegah kejahatan berupa alarm yang cukup keras untuk digunakan jika bertemu dengan orang yang mencurigakan/ bermaksud jahat. (Sampai di rumah sempat coba, dan suaranya rek…kenceng banget)

Penyampaian ucapan selamat dari tamu agung (dari kelurahan, kepsek SMP negeri terdekat, kepsek TK di lingkungan sekitar termasuk dari TK nya Riku, serta pengurus PTA. Selain itu juga dibacakan telegram indah yang diterima yang berisi ucapan selamat. Setelah upacata selesai, ada pertunjukan dari murid kelas 2 SD, berupa puisi/ wejangan dari kakak kelas serta permainan pianica. Hebat! aku terharu juga melihat usaha mereka. Anak-anak kelas 2 ini kan tahun lalu juga murid 1 SD. Berarti kelak tahun depan, Riku juga aan mengucapkan selamat datang lagi bagi juniornya, murid SD yang baru.

(pertunjukan musik dan pesan dari kelas 2 – suasana kelas Riku dengan walikelas —tannin–nya)

Selesai acara ini, maka murid-murid kelas 1 kembali ke kelasnya untuk mendengarkan pesan dari guru, sambil menunggu giliran untuk berfoto bersama.  Walikelas (tannin 担任) Riku di kelas 1-2 itu bernama Chiaki Sensei. Cantik, dan ….kelihatan galak. Aku heran deh semua guru awal Riku (baru 2 kali sih) cantik tapi galak hehhehe. Apakah karena mamanya juga guru dosen yang cantik tapi galak? cihuuuy (ehhh aku ngga galak kan? ne Melati san). Sambil membawa semua barang-barang yang dibagikan di sekolah, anak-anak berbaris menuju pintu untuk bersalaman dengan gurunya dan pulang. Hmmm di sini terlihat ya, perbedaan dari pendekatan guru TK dan SD. Di TK, guru memeluk muridnya, sedangkan di sini guru sudah mengajarkan budaya salam yang menunjukkan juga bahwa si anak sudah mulai memasuki masyarakat yang formal, bukan anak kecil yang suka main-main lagi.

Sebelum pulang aku juga sempat berbicara dengan gurunya, meminta maaf aku tidak bisa datang pertemuan PTA jika diadakan pada hari Jumat. Padahal aku ingin sekali loh ikut aktif di PTA …..

(di depan papan “Nyuugakushiki”)

Keluar gedung sekolah, langsung antri untuk berfoto di depan papan Upacara Penerimaan Murid Baru, juga tak lupa berfoto di bawah naungan pohon sakura di taman depan sekolah.

Masih dalam rangka “selamatan” Riku memilih makan siang di restoran sushi. (Mang Kumlod, Yug, Japs dan Lia, liat deh sushi dengan topping telur ikan salmon, Ikura. Ini yang saya bilang seperti levertran) Dan papa-mama menutup hari “bersejarah” dalam hidup berkeluarga dengan KAMPAI! ting

(Riku makan tobiko, telur ikan terbang – set menu dengan hotaru ika, cumi-cumi – ikura, telur ikan salmon)

Missile and Fireworks

Hari Sabtu (4 April) kemarin, warga Jepang terutama di daerah Tohoku (Akita) waswas. Karena menurut rencana, pada tengah hari Korea Utara akan meluncurkan satelit, namun diduga itu adalah missile. Bagaimana jika missile itu “nyasar” ke Jepang?  Jadi perhatian orang Jepang (mustinya) pada berita di televisi. Jika orang Jepang yang lain tidak demikian, berarti hanya suami saya saja yang khwatir. Tapi karena hari Sabtu kebetulan mendapat libur, jadi hari libur itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dan Riku menagih papanya untuk mengajak dia bermain sepeda.

“Sebentar Riku, ini papa tunggu berita penting di televisi. Mau ada missile yang diluncurkan.”
“Papa, apa beda missile dan Kembang Api?”
“Missile itu digunakan untuk membunuh orang”
“Kalau sama-sama diluncurkan, daripada missile kan lebih baik kembang api. Missile membunuh orang sedangkan kembang api justru menggembirakan orang-orang”
“Benar Riku. Pintar” kata papanya, lalu aku menimpali, “Makanya Riku cepat-cepat bisa menulis, dan tulis surat ke pemerintah, Jangan meluncurkan missile, luncurkan kembang api saja. Siapa tahu berhasil, jadi missile nya tidak jadi”
unn (ok)”

Meskipun tidak jadi hari sabtu, akhirnya jadi juga Korea Utara meluncurkan missilenya tengah hari di hari minggu (5 April) yang cerah ini. Untung saja missile jatuh ke lautan pasifik, menyeberangi kepulauan Jepang. Kalau nyasar, kan bisa gawat tuh. Meskipun pasukan bela diri Jepang sudah berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.

Akhir-akhir ini emang Riku sering membuat kami tercengang dengan kemampuannya berbicara dan menyusun kalimat. Suatu waktu dia mengatakan, “Hopping machine”. Sampai Gen tanya, memangnya hopping itu apa? Dan dia peragakan. Lalu aku bilang, “hopping sama dengan jump ya”…. (tapi terus aku pikir lagi, sebetulnya lain, hopping itu kan berkali-kali seperti membal, tapi jump cuma satu kali dari tempat datar atau tinggi ke tempat rendah… emang bener maksudnya dia hopping ya hopping, ngga bisa diganti jump). Doooh mama… Tapi memang secara tidak sadar Riku juga banyak belajar banyak bahasa Inggris dari televisi juga. Karena meskipun televisi berbahasa Jepang, sekarang banyak sekali kata-kata bahasa Inggris yang dipakai begitu saja, dengan lafal Japlish. Nanti tinggal mensortir yang mana kata-kata asli bahasa Jepang, dan yang mana bahasa Inggris.

Sambil mengganti-ganti channel TV, Gen menonton sebuah acara tentang seorang ayah yang pergi bersama-sama anaknya melakukan suatu pekerjaan bersama. Then Riku langsung berkata, “Papa, buat apa sih lihat TV tentang keluarga lain? bukannya kita mau ke dry cleaning sambil latihan naik sepeda?” HAHAHAHA Kena loe!! Asal tahu aja anakmu itu kritis! Wong dia tanya begini,

“Apa itu “Bakumatsu”?”, dan dijawab
“Berakhirnya jaman Edo”.
Aku tanya “Riku tahu jaman Edo itu apa?”
“Jaman yang ada Shogun nya. Shogun itu sekarang ngga ada?”
“Ngga ada Riku. Shogun sekarang diganti dengan Perdana Menteri”
“Daitouryo? (Presiden?)”
“Jepang ngga punya Presiden. Adanya Kaisar dan Perdana Menteri. Nanti Riku belajar kok di sekolah”

Pengetahuan dia tentang jaman Edo, pasti berasal dari anime, Battosai “Rourunin Kenshin”. Pengetahuan dia tentang Presiden Amerika Washington, pasti berasal dari “Corry in teh White House” nya Disney. Jadi? Apakah TV tidak berguna? apakah bagus melarang pemakaian TV pada anak Balita? Hmmm I don’t think so. Sebagai orang asing, sepintar-pintarnya aku berbahasa Jepang, tidak akan bisa menjadi orang Jepang. Pasti ada lafal bahasa Jepangku yang aneh, dan dia bisa pelajari di televisi. Asal kita pinter-pinter aja milih acara TV nya. Setiap papanya mengganti channel ke Siaran Berita, dia sering  masuk kamar tidak mau menonton. Dia bilang begini, “Papa, aku ngga suka siaran berita, isinya kebakaran, pembunuhan, perang…. Aku jadi takut dan sedih” Hhhhhhh memang benar sih!

Akhirnya, Gen dan Riku pergi juga ke dry cleaning sambil berlatih naik sepeda. Dan setelah itu seharian kami melengkapi peralatan sekolah Riku, memberi nama di semua barang-barangnya sambil mengecek apa saja yang belum ada. Membeli sepatu, sepatu boot untuk hujan dan Uwabaki sepatu dalam, dan terakhir mereka berdua saja pergi memotong rambut. Yosh! Semua sudah siap untuk menghadapi Upacara Penerimaan Murid Baru Nyuugakushiki 入学式, besok hari Senin tgl 6 April 2009. Hari penting untuk Riku memasuki dunia sekolah, Sekolah Dasar.

tas kai1

“Aku juga mau ke sekolah pake ransel…. “kata Kai(tunggu 2 tahun lagi nak, baru bisa masuk TK)

Kaki Telanjang atau Telanjang Kaki?

Sepintas artinya sama…memang sama-sama merujuk pada kaki yang tidak beralas. Namun jika melihat penjelasan berdasarkan jenis kata (tata bahasanya), Kaki telanjang itu adalah frase nomina (bisa disisipi kata -yang- ) dan mengacu pada keadaan/kondisi kaki tak beralas. Mungkin karena dia tidak punya, hilang, atau kondisi lain. Tapi telanjang kaki (bertelanjang kaki) adalah frase verba yang mengandung unsur kesengajaan untuk tidak beralas kaki. (Sekali lagi ini hanya pemikiran saya —yang bukan ahli linguistik juga— sehingga mungkin ada yang tidak setuju).

Nah, saya suka sekali bertelanjang kaki. Malas rasanya kalau kaki harus dibungkus oleh kaus kaki dan sepatu.  Jadi kalau di rumah (apalagi di Indonesia) saya selalu bertelanjang kaki. Padahal orang Jepang mempunyai kebiasaan melepas alas kaki di Genkan (pintu masuk) kemudian menggantinya dengan slipper (sandal rumah) . Kemana-mana dalam rumah pakai slipper. Kalau mau ke WC, maka tanggalkan slipper di luar pintu, kemudian pakai slipper khusus untuk WC, yang biasanya terbuat dari plastik. Or, kalau tidak mau pakai slipper, pasti pakai kaus kaki. Hanya di musim panas saja, wanita boleh tidak berkaus-kaki/stocking. Itupun kalau harus bertamu ke rumah orang lain, diharapkan memakai stocking tipis/pendek. Jadi sayapun akan mematuhi peraturan tersebut. (meskipun kadang kalau saya mengajar masih sering membuka sepatu… apalagi kalau kelasnya berkarpet uuuhhh enakan tanpa sepatu  kan(pakai stocking sih)? —-JANGAN DICONTOH!!!)

Ada satu foto yang ingin saya pasang di sini. Yaitu pintu masuk TK nya Riku. Di situ ada rak berkotak-kotak seperti loker, yang isinya sepatu. Pagi hari waktu datang, murid akan menanggalkan sepatunya (yang berdebu/berpasir/bertanah/basah) itu, taruh dalam raknya yang sudah ada nama murid. Lalu memakai sepatu “DALAM” namanya Uwabaki, yang biasanya berwarna putih, seperti sepatu balet/senam/gym. Sepatu Dalam ini tentu saja bersih, dan dipakai untuk kemana-mana di dalam lingkungan sekolah yang berlantai. Kalau sampai harus keluar sekolah dan menginjak tanah, maka harus mengambil sepatu “LUAR” tadi.

Saya pikir pertamanya, alangkah repotnya! Tapi itu adalah kebiasaan orang Jepang untuk mengganti sepatu dengan slipper di rumah, dan di sekolah diganti dengan sepatu (bisa bayangkan kalau pakai slipper di sekolah? pasti itu sandal sudah kemana-mana dipakai main tendang-tendangan, nemplok muka orang… chaos) Untuk kelangsungan kebiasaan yang ada di rumah itu bagus sekali. Dan setelah saya pikir-pikir, bagus pula untuk KEBERSIHAN. Tidak perlu mengepel kelas yang bertanah kalau becek, tidak perlu sering-sering menyapu, karena otomatis kondisi lantainya bersih dari debu (meskipun pasti ada yang membersihkan sekolah sekali sehari). Dan karena sepatu “Dalam” itu berwarna putih dengan model yang hampir sama, maka tidak ada anak yang sempat memamerkan merek sepatu yang dipakainya, dengan warna-warni mentereng, atau kelap-kelip lampu, atau bahkan ada yang memakai roda di bagian solnya. SERAGAM semua. (Ya saya tahu ada sekolah swasta di Indonesia yang mewajibkan sepatu hitam, seragam…. tapi kalau pikir masalah kebersihan masih lebih baik cara Jepang ini, dengan membedakan sepatu luar dan sepatu dalam).

Yang saya tahu, di SD juga pakai sistem Uwabaki (sepatu dalam) ini, karena waktu saya pergi ke calon  SDnya Riku, saya melihatnya. SMP dan  SMA pun masih memakai sistem ini. Suatu kebiasaan yang mungkin bagus untuk ditiru di masa datang (100 tahun lagi kali) , meskipun banyak kendalanya.