Penyambutan Murid Baru

13 Apr

Di Jepang, setiap awal tahun ajaran akan diadakan 始業式 shigyoushiki, upacara awal tahun ajaran yang diikuti oleh kelas 2 sampai kelas 6 SD. Sedangkan 入学式 nyuugakushiki, secara harafiah Upacara Masuk, tapi kalau di Indonesia lebih tepat diterjemahkan menjadi upacara penerimaan murid baru diadakan untuk kelas 1 baru. Pika-pika no ichinensei (kelas satu yang masih berkilau, aku pernah menulis tentang Riku yang kelas 1 SD di sini).

Kai bersiap berangkat ke upacara penerimaan murid baru

Satu hal yang aku sadari yaitu jika penekanan kata nyuugakushiki itu adalah upacara si anak MASUK ke sekolah, kalau di Indonesia itu penekanannya pada pihak sekolah yang MENERIMA/Menyambut datangnya murid baru. TAPI pada kenyataannya sepertinya upacara nyuugakushiki di Jepang, lebih “menyambut” murid baru, daripada hanya sekedar “Oh kamu sudah masuk SD ya?” saja. Hal itu terlihat dari susunan acara. Atau karena Riku adalah murid kelas 6 SD, aku tahu bahwa murid-murid kelas 6 yang dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan upacara nyuugakushiki ini.

Upacara Masuk ini berlangsung hari Senin tgl 7 April, tapi sudah sejak Jumat sebelumnya, murid SD mempersiapkan hall tempat pelaksanaan upacara dan mereka juga berlatih menyanyikan lagu kebangsaan 国歌 Kimigayo serta lagu sekolah mereka 校歌. Selain itu mereka juga bertugas menjadi penerima tamu dengan membagikan daftar kelas (kami baru tahu murid kelas 1 masuk kelas yang mana pada hari upacara), membantu murid-murid mengisi absen di kelas barunya serta memasangkan badge nama di jas mereka.

susunan acara upacara penerimaan murid baru

Sejak di pintu masuk itulah, murid-murid baru berpisah dengan orang tuanya. Mereka diantar masuk ke loker tempat penyimpanan sepatu dan ditunggui 先輩 sempai kakak kelasnya untuk mengganti sepatu dengan 上履き uwabaki, sepatu untuk di dalam ruangan. Lalu mereka diantar sampai ke kelasnya. Orang tua, dengan was-was apakah anaknya大丈夫 daijoubu (tidak apa-apa), menuju ke aula sambil melirik kelas satu yang dilewati. Ah, kakak kelas dan guru sudah di dalam kelas dan menyambut murid-murid baru yang tegang. Untung saja tidak ada yang menangis hehehe. Lain dengan upacara penyambutan murid TK yang riuh rendah dengan suara tangis. Well, saat itu mereka memang masih usia 3 tahun…sedangkan kalau SD kan sudah berusia 6 tahun (batas umur di Jepang untuk kelas 1 SD adalah GENAP 6 tahun terhitung tgl 2 April tahun tersebut).

Orang tua menempati tempat duduk yang sudah disediakan dalam hall dan menunggu upacara dimulai. Kebetulan aku duduk di samping satu pasang suami istri yang membawa dua anak, satu berusia sekitar 3 tahun dan satu lagi masih bayi. Hmmm ribut! anaknya yang usia 3 tahun itu tidak bisa diam dan ngoceh terus sambil naik turun kursi lipat. Beberapa kali dia hampir jatuh dari kursi. Sabar imelda….sabar 😀 Untung aku sudah merasakan betapa repotnya membesarkan dua anak, jadi bisa mengerti bahwa mereka tidak bisa menitipkan anak-anaknya yang masih kecil demi mengikuti upacara anak pertama mereka (I hope so…. karena jarang ada keluarga Jepang yang mempunyai lebih dari 2-3 anak). Tapi seharusnya anak kecil begitu duduk di antara ayah dan ibu, sehingga tidak mengganggu orang yang duduk di sebelah anak itu. Benar-benar aku khawatir kalau anak itu jatuh dari kursi dengan kepala duluan 🙁

Acara diawali dengan masuknya kepala sekolah, tamu-tamu kehormatan yang kemudian duduk di tempat khusus. Kemudian kami menyambut dengan tepuk tangan masuknya murid-murid baru yang masuk ke dalam hall dengan berbaris. Oh ya, aku perlu beritahu bahwa dalam upacara-upacara begini, jarang sekali terdengar tepuk tangan. Orang Jepang tidak biasa bertepuk tangan seusai seseorang mengucapkan pidato. Entah kalau sekolah lain, tapi aku jarang sekali mendengar tepuk tangan pada acara-acara sekolah. Lain ladang lain ilalang ~~~~

kepala sekolah menyambut murid kelas satu

Semua acara dimulai dengan 起立 kiritsu  礼 rei 着席 chakuseki, berdiri – hormat – duduk. Ah aku jadi ingat pendidikan di SMP-ku dulu yang mengadaptasi cara ini. Kamu harus selalu berdiri dan menghormati guru SETIAP ganti pelajaran, di awal dan akhir pelajaran. Entah apakah masih ada sekolah di Indonesia yang menerapkan seperti ini. Tapi di Jepang dalam semua acara resmi pasti akan terdengar “perintah-perintah” semacam ini.

Kepala sekolah memberikan pidato juga tidak bertele-tele, dan menyampaikan tiga hal penting yang harus diingat murid baru yaitu : memberi salam, mendengarkan pembicaraan orang lain baik guru maupun teman dan membuat teman sebanyak mungkin.

Satu-satunya acara “hiburan” adalah pementasan lagu oleh kelas 2. Mereka bernyanyi dan memainkan pianika, sambil menyambut “adik-adik” dan menyampaikan pesan-pesan seperti : “kalau ada yang tidak tahu, silakan tanya kami ya” dsb. Aku merasa cukup senang menyekolahkan anakku di SD Negeri ini. Memang tidak “sedisiplin” sekolahku dulu atau sekolahnya Gen juga, tapi cukuplah. Yang penting anak-anak merasa nyaman bersekolah.

Setelah acara di hall, kami menuju kelas masing-masing dan mendengarkan perkenalan dari guru serta pengumuman-pengumuman. Kami juga membawa pulang banyak barang baru yang dibagikan. Ada satu kotak berisi peralatan menulis dan belajar (pensil, buku catatan, buku pelajaran, pensil warna, craypas), sedangkan dari kelurahan mendapatkan topi pelindung kepala yang bisa dipakai sebagai alas duduk serta buzzer keamanan untuk dipasang di ransel masing-masing. Ada happening seorang anak membunyikan buzzer itu dan orang tuanya sibuk mencari cara menyetopnya. Buzzer ini perlu jika anak-anak bertemu dengan orang iseng atau jahat dan merasa perlu bantuan, tinggal menarik tali buzzer sehingga alarm akan berbunyi kencang.

Kai dengan barang-barang yang mesti dibawa pulang

Semua barang-barang ini kami bawa pulang dan menjadi “pekerjaan rumah” baru untuk kami, karena kami harus menuliskan nama satu-per-satu pada barang-barang ini, termasuk pensil dan craypas.

Setelah selesai menuliskan nama pada semua barang, kami pergi makan siang dan bermobil ke Yokohama untuk bertemu dengan kakek-neneknya Kai karena sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Kebetulan Gen juga ambil cuti khusus untuk hari ini. DeMiyashita kemudian merayakan “hari bersejarah” bagi Kai yang masuk SD dengan makan malam bersama.

 

Selamat bersekolah ya Kai… 入学おめでとうございます。

 

Kelas Satu Berseri

8 Apr

Pika-pika no ichinensei. ぴかぴかの一年生。Pika-pika adalah mengkilap, dan ichinensei adalah kelas satu. Ucapan ini mengacu pada anak berusia 6 tahun yang masuk Sekolah Dasar.  Hei, memang kalau masih baru pasti bersih mengkilap kan? Karena itu juga aku tidak menghalangi keinginan Gen untuk membelikan semua yang baru untuk Riku, meskipun mungkin sudah ada barang-barang yang dicari, yang sudah bekas dipakai. Gen bilang bahwa kelas satu itu ingin diawali dengan barang baru, semangat baru, yang pastinya rasanya lain jika kita sebagai orang tua memberikan yang bekas. OK saja, selama kita masih bisa membelikannya. Sehingga akupun  sebetulnya sudah siap juga seandainya Gen mau membelikan meja belajar yang baru! (entah kenapa di Jepang, masuk SD = ransel dan meja belajar + jas)  Gampang deh soal tempat, kalau perlu ada perabot yang dibuang juga tidak apa.  Tapi akhirnya dia sendiri yang membatalkan keinginan membelikan meja belajar.

Tibalah tanggal 6 April yang dinanti. Jam 4 pagi aku sudah terbangun dan menyiapkan tasnya Kai untuk ke penitipan. Tentu saja semua barang yang dibawa ke penitipan harus diberi nama semua. Huh, kadang aku bosaaan banget deh dengan ketentuan begini.

Semua bangun sebelum jam 7 pagi. Tumben! Aku siapkan sarapan cepat-cepat dan bersiap untuk mengantarkan Kai ke penitipan jam 8 pagi. Ya, hari ini aku menitipkan Kai, supaya aku bisa konsentrasi untuk acaranya Riku saja. Dan setelah menurunkan Kai di penitipan aku mampir ke ATM terdekat, dan saat itulah aku melihat si TukTuk yang pernah aku ceritakan. Rupanya pemiliknya tinggal di sekitar stasiun. Cepat-cepat aku ambil kamera dan mencuri foto dari samping.

Buru-buru aku kembali ke rumah, dan ganti baju dandan, dan pukul 9 teng kita berjalan dari rumah menuju ke SDnya yang terletak 15 menit jalan kaki. Acaranya sendiri dimulai pukul 9:30. Di depan sekolah ada sebuah taman dan sakura menghiasi taman dan jalanan di sekitarnya. Ah sakura ini memang melengkapi kegembiraan dan memberi keindahan tersendiri dalam memulai sesuatu yang penting. Apalagi hari ini samat hangat, dengan suhu sekitar 20 derajat. Dari jauh kami bisa melihat antrian orang tua di depan gerbang, yang menunggu giliran untuk bisa berfoto di depan papan bertuliskan “Upacara Penerimaan Murid Baru” Nyuugakushiki 入学式。Tapi aku bilang itu belakangan saja.

(antri masuk di depan halaman sekolah – pakai uwabaki sepatu dalam yang diberi nama dan kelas)

Begitu masuk ke kompleks sekolah, kami disambut oleh murid kelas 6 SD tersebut yang membagikan lembaran kertas yang berisi pembagian kelas. Ada 99 murid baru yang dibagi menjadi 3 kelas. (Jumlah ini sedikit menurut Gen, tapi banyak menurut aku mengingat semakin sedikit jumlah anak di Jepang) Dan Riku masuk ke kelas I – 2. Sedihnya tidak ada temannya laki-laki yang dari kelas TK yang sama. Jadi dia benar-benar harus membuat teman baru di sini. Gen bilang, bagus dong…awal baru teman baru.

Begitu mendaftar dan mendapatkan tanda nama yang disematkan oleh sempai (kakak kelasnya) , kami bersama Riku menuju ke kelasnya. Di sana juga sudah menunggu sempai yang lain, yang membantu adik-adiknya menaruh tas ransel dan menunjukkan tempat duduknya. Hmmm sistem sempai membantu adik kelasnya ini juga bagus kalau menurut saya. Menjadikan lebih akrab. Saya tanya pada Gen apakah dulu juga ada sistem seperti ini, dan katanya hampir di semua sekolah menerapkan sistem “mentoring” seperti ini. (Jadi ingat waktu aku masuk ke Yokohama univ juga ada mentor yang membantu … hmmm siapa ya? kok lupa sih. Ohh… kayaknya Kimiyo dan Kayoko deh, mentoringnya malah ngajak jalan-jalan ke Kamakura hahaha)

(sempai membantu murid baru–kohai— memasuki kelas – Riku bersama teman sebangkunya)

Sementara Riku dan teman-temannya menunggu di kelas, kami para orangtua menuju ke sport hall untuk mengikuti upacara murid baru. Sport Hall dihias dengan tulisan omedetou (Selamat) di panggung dan slogan Mirai to yume e tsukisusume (menyongsong mimpi dan masa depan) menghadap panggung. Di sekeliling hall ditutup dengan kain bergaris merah putih, tanda selamatan oiwai. (Kalau duka maka kain bergaris hitam putih). Kebetulan aku duduk di tempat yang strategis sehingga bisa memotret waktu defile murid-murid baru masuk menurut kelasnya. Mereka masuk berpasangan dengan teman sebangkunya. Dan yang mengherankan aku pasangannya laki-laki perempuan bergandengan tangan. Rupanya di Jepang tempat duduk di SD pasti berpasangan laki-laki perempuan.(wahhh jadi inget waktu SMP aku sebelahan sama Gatot –si tukang nyontek — ups sorry tot… jangan marah yaaa hehehe – kapan lagi nama loe aku tulis di sini kan)

(masuk sporthall bersama teman-teman sekelas – liat tuh… Riku mencari-cari mamapapanya di antara pengunjung duuuh duduk yang manis nape?)

Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Sekolah SD, kemudian perkenalan wali kelas dari ketiga kelas satu. Eh sebelum pidato dari Kepsek, kami menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. (terus terang aku ngga bisa nyanyinya dan pas udah tengah-tengah baru ngeh sadar bahwa itu adalah lagu kebangsaan) Baru di situ aku juga sadar bahwa SD ini adalah SD Negeri yang didirikan oleh pemerintah daerah.

Setelah perkenalan wali kelas, ada perkenalan seluruh staf guru dan pegawai TU. Penyerahan hadiah dari pemerintah/ pemerintah daerah yang diserahkan oleh Kepala Sekolah kepada salah satu wakil murid baru. Hadiah itu berupa pelindung kepala waktu gempa, cover penutup ransel berwarna kuning, buku pelajaran dan buku tulis. Dari kepolisian diberikan hadiah buzzer, alat pencegah kejahatan berupa alarm yang cukup keras untuk digunakan jika bertemu dengan orang yang mencurigakan/ bermaksud jahat. (Sampai di rumah sempat coba, dan suaranya rek…kenceng banget)

Penyampaian ucapan selamat dari tamu agung (dari kelurahan, kepsek SMP negeri terdekat, kepsek TK di lingkungan sekitar termasuk dari TK nya Riku, serta pengurus PTA. Selain itu juga dibacakan telegram indah yang diterima yang berisi ucapan selamat. Setelah upacata selesai, ada pertunjukan dari murid kelas 2 SD, berupa puisi/ wejangan dari kakak kelas serta permainan pianica. Hebat! aku terharu juga melihat usaha mereka. Anak-anak kelas 2 ini kan tahun lalu juga murid 1 SD. Berarti kelak tahun depan, Riku juga aan mengucapkan selamat datang lagi bagi juniornya, murid SD yang baru.

(pertunjukan musik dan pesan dari kelas 2 – suasana kelas Riku dengan walikelas —tannin–nya)

Selesai acara ini, maka murid-murid kelas 1 kembali ke kelasnya untuk mendengarkan pesan dari guru, sambil menunggu giliran untuk berfoto bersama.  Walikelas (tannin 担任) Riku di kelas 1-2 itu bernama Chiaki Sensei. Cantik, dan ….kelihatan galak. Aku heran deh semua guru awal Riku (baru 2 kali sih) cantik tapi galak hehhehe. Apakah karena mamanya juga guru dosen yang cantik tapi galak? cihuuuy (ehhh aku ngga galak kan? ne Melati san). Sambil membawa semua barang-barang yang dibagikan di sekolah, anak-anak berbaris menuju pintu untuk bersalaman dengan gurunya dan pulang. Hmmm di sini terlihat ya, perbedaan dari pendekatan guru TK dan SD. Di TK, guru memeluk muridnya, sedangkan di sini guru sudah mengajarkan budaya salam yang menunjukkan juga bahwa si anak sudah mulai memasuki masyarakat yang formal, bukan anak kecil yang suka main-main lagi.

Sebelum pulang aku juga sempat berbicara dengan gurunya, meminta maaf aku tidak bisa datang pertemuan PTA jika diadakan pada hari Jumat. Padahal aku ingin sekali loh ikut aktif di PTA …..

(di depan papan “Nyuugakushiki”)

Keluar gedung sekolah, langsung antri untuk berfoto di depan papan Upacara Penerimaan Murid Baru, juga tak lupa berfoto di bawah naungan pohon sakura di taman depan sekolah.

Masih dalam rangka “selamatan” Riku memilih makan siang di restoran sushi. (Mang Kumlod, Yug, Japs dan Lia, liat deh sushi dengan topping telur ikan salmon, Ikura. Ini yang saya bilang seperti levertran) Dan papa-mama menutup hari “bersejarah” dalam hidup berkeluarga dengan KAMPAI! ting

(Riku makan tobiko, telur ikan terbang – set menu dengan hotaru ika, cumi-cumi – ikura, telur ikan salmon)