Arsip Tag: TK

Latihan

Menjelang Natal dan akhir tahun, ada berbagai acara di sekolah Riku dan Kai. Kalau Riku sudah selesai tampil pada acara pertunjukan musik dengan menyanyi dan bermain ansamble suling (recorder), maka giliran Kai berlatih untuk tampil dalam acara “pentas seni akhir tahun” yang dinamakan otanoshimikai. Otanoshimi itu sendiri artinya yang dinanti-nanti, tidak langsung merefer kepada pentas seni. Jadi sebetulnya bisa acara apa saja. Meskipun akhirnya jatuh pada penampilan gerak dan lagu dari anak-anak usia 3-6 tahun di TK nya Kai.

Acara otanoshimikai ini bisa kami, para orang tua tonton nanti pada tanggal 1 Desember. Sayangnya Gen pada hari itu, meskipun hari Sabtu, harus bekerja, sehingga hanya aku dan Riku yang bisa menonton. Kai sudah berlatih sejak masuk bulan September dan kelasnya memainkan operetta “Bremen the Town Musicians” berdasarkan cerita dari Jacob Grimm. Lucu juga karena sebetulnya operetta ini juga dimainkan oleh Riku waktu dia masih TK Nenchusan 5 tahun yang lalu! Dan peran yang dibawakan Kai juga sama yaitu sebagai pencuri! 😀

Nah hari Rabu ini adalah hari latihan seperti general repetisi, latihan bersama di atas panggung. Jadi pemain operetta memakai kostum yang akan dipakai pada hari H, sekaligus mencoba kostumnya. Aku selalu salut pada TK ini, mereka mempunyai stock kostum yang sudah dipakai bertahun-tahun, jadi tinggal dipinjamkan pada anak-anak, diputer-puter, kalau perlu satu item dipakai beberapa kelas sekaligus, seperti gelang kertas emas, bulu-bulu penghias kaki dsb. Jadi ibu-ibu hanya perlu menyediakan baju dalam dan celana panjang/ burma (burma adalah celana pendek bagi perempuan supaya jika roknya terangkat tidak terlihat celana dalamnya). Untuk Kai aku hanya perlu menyediakan baju kaos hitam dan celana jeans saja. Jadi tidak perlu membeli baju baru. Kalau tidak punya juga bisa meminjam teman, sehingga pentas seni ini tidak perlu biaya tambahan. Pada latihan ini anak-anak juga  mendapat kesempatan melihat pertunjukkan dari kelas-kelas yang lain, bertindak sebagai tamu, berlatih bagaimana menghargai teman-teman yang sedang manggung. Karena pada hari H, mereka tidak bisa menonton disebabkan tempat yang kecil dan harus berganti baju segala.

Guru kelas memang menyiapkan segala hiasan sendirian, juga membagikan kostum masing-masing murid. Tapi untuk menggantikan dan mengurus anak-anak ini, tentu sulit dilakukan sendirian. Jadi senseinya meminta bantuan 5 orang ibu-ibu yang bisa datang pada 3 hari, yaitu hari latihan, hari H dan hari pemotretan yang dilakukan sesudah hari pertunjukan. Dan karena kebetulan pada 3 hari itu aku tidak mengajar, jadi aku sukarela bersedia membantu gurunya. Kapan lagi, karena biasanya pada acara-acara yang membutuhkan bantuan orangtua aku tidak pernah bisa, karena biasanya jatuh pada hari Kamis atau Jumat, hari yang merupakan hariku bekerja.

Jadi tadi pagi jam 8:45 aku ke TK bersama Kai, dan membantu gurunya, bersama 4 ibu lainnya, mengganti kostum murid-murid. Karena Kai mendapat peran pencuri, aku memakaikan kostum 6 orang murid yang menjadi pencuri. Untunglah kostum pencuri tidak ribet, hanya menggantikan baju sekolah mereka dengan blus hitam dan celana jeans. Hiasan yang dipakai juga cuma gelang emas (dari kertas) dan topi. Karena aku cepat selesai, aku sempat membantu seorang murid perempuan berganti kostum ayam. Dan disitu aku sadar! Ternyata baju perempuan itu ribet ya! Waktu ganti baju sekolah saja, si anak perempuan mengenakan baju lapis 3 (tentu karena musim dingin), stocking panjang dan kaus kaki. Lalu kostum ayamnya juga harus memakai baju putih lengan panjang, stocking putih, kaus kaki putih dan burma, lalu di atas roknya pakai renda-renda, belum lagi hiasan dada, sayap dsb aduuuh. Dasar ibu dari 2 anak laki sih, jadi aku sempat termangu-mangu, mana yang duluan dipakaikan. (Padahal dirinya sendiri juga pakai baju berlapis-lapis hehehe)

Murid-murid yang sudah selesai memakai kostum masing-masing duduk di depan televisi yang memutarkan video Tom and Jerry (di sini setiap kelas punya TV+video). Sambil menunggu teman yang lain, mereka duduk anteng. Oh ya dalam pertunjukan anak TK dan SD, tidak pernah aku lihat anak yang memakai makeup tebal-tebal seperti celepuk, seperti anak-anak Indonesia. Mereka tampil selalu dengan wajah biasa, karena toh ini pertunjukan dalam sekolah. Mungkin kalau pertunjukan di luar sekolah, tampil di panggung beneran mereka pakai makeup ya, tapi di sekolah tidak pernah! Bahkan bedak pun tidak. Sekali lagi aku mengagumi hal ini, karena aku benci melihat anak-anak kecil sudah di”cat” sedemikian rupa. Memang kebanyakan ibunya yang mau menge”cat” anak perempuannya supaya terlihat cantik, tapi aku tidak suka jeh… Mungkin karena itu Tuhan juga memberikan aku anak laki-laki ya 😀 Simple dan tidak perlu dandan 😀

Kai selalu dapat posisi di tengah sehingga memudahkan untuk dipotret. Lucky! Sekeliling Kai saya blur untuk menjaga privacy teman-temannya Kai.

Operetta Bremen no Ongakutai ini berakhir dengan sukses. Kai (5 tahun) yang awalnya tegang, malu-malu, bisa memainkan perannya dengan baik. Ah selalu menyenangkan melihat pertunjukan anak-anak balita ini. Kai masih ada kesempatan satu kali, tahun depan untuk tampil di atas panggung, dan biasanya semakin besar mereka, semakin bagus pula penjiwaannya.

Setelah pertunjukan kelasnya Kai selesai, 5 ibu ditambah 2 guru heboh karena harus mengganti baju anak-anak ini dari kostum menjadi baju sekolah. Dan ini semua dilakukan di tempat duduk penonton 😀 Untung anak TK, jadi belum malu untuk bertelanjang dada di depan orang-orang lain. Kami melepas semua atribut, mencopot baju-baju dan hiasan, lalu membawanya ke kelas yang terletak di lantai bawah. Di kelas, kami memisahkan semua baju dan hiasan menurut perannya, karena hari H masih jauh, tgl 1 Desember! Sambil melipat baju dan menghitung hiasan, aku bisa bayangkan betapa repotnya gurunya untuk mempersiapkannya lagi di hari H. Menjadi guru TK itu memang perlu energi yang banyak!

Setelah tanggal 1 Desember tinggal aku dan Riku yang masih ada latihan. Yaitu latihan drama Natal untuk Riku dan latihan koor Natal untuk aku. Koor natal yang aku ikuti untuk gereja orang Jepang di Kichijoji baru berlatih 1 kali, hari Minggu kemarin. Dan di situ aku sudah mulai tidak sreg, karena lagunya BUKAN lagu Christmas Carol… lagunya mendayu-dayu tipikal orang Jepang hahaha. Tapi harus aku akui kebanyakan orang Jepang itu pintar nyanyi (nada tinggi) dan pandai membaca not balok. Aku tak bisa membaca not balok, sehingga aku harus dengar dulu orang lain menyanyi :D, baru menirunya. Ah not angka itu memang memanjakan orang Indonesia! Berani tidak ya pendidikan di Indonesia menghapus not angka dan mengajarkan not balok ke semua jenjang pendidikan? 😀 (pemain piano/alat musik sih memang bisa baca not balok, tapi tidak semua orang Indonesia bisa main piano/alat musik kan?)

(Sssttt satu lagi tambahan: Syarat menjadi guru TK dan SD di Jepang adalah : SEMUA HARUS BISA BERMAIN PIANO. Gugurlah cita-citaku untuk mengambil sertifikat guru SD Jepang hihihi)

Manggung Pertama

Kalau minggu lalu Riku pertama kali bermain drama, maka hari ini Kai pertama kali manggung di TK! Judul acaranya adalah : Otanoshimi-kai お楽しみ会, ya semacam pentas seni yang diharapkan dapat menyenangkan yang menonton. Kegiatan ini selalu diadakan setiap bulan Desember setiap tahun. Penontonnya tentu saja ayah-ibu-kakak-adik + kakek-nenek. Untung tidak ada yang bawa satu kampung ke TKnya Kai hehehe.

Kelas Kai, Tulip dibagi menjadi 4 kelompok yang membawakan tarian yang berbeda. Kai sendiri masuk kelompok yang terdiri dari 10 orang dan tampil terakhir yang membawakan tarian : Ninja Taiso 1-2-3. Karena menggambarkan gerak-gerik Ninja, mereka memakai kostum ninja-ninjaan. Untuk membantu guru TK nya memakaikan kostum tarian, setiap kelompok diminta bantuan seorang ibu. Karena kelompok  Kai kebanyakan mempunyai bayi, jadi aku menawarkan diri untuk membantu.

Acaranya sendiri mulai jam 10 pagi, sedangkan aku dan Kai harus berada di kelasnya untuk ganti kostum pada pukul 8:50. Padahal hari ini hujan lebat dan dingin. Tidak bisa naik sepeda ke TK. Jadi aku minta tolong papa Gen untuk mengantarkan kami naik mobil dan diturunkan di depan TK. Papa Gen dan Riku akan datang tepat pukul 10. Kelas Tulip mendapatkan giliran pertama, tapi kami harus menonton acara keseluruhan sampai pukul 12.

Kai dengan baju ninjanya

Begitu sampai di kelas, kelas sudah penuh dengan  anak-anak dan  orang tua. Agak sulit untuk bergerak di dalam kelas, tapi rupanya gurunya ingin membiarkan orang tua melihat anak-anaknya berganti baju kostum. Paling tidak bisa membuat foto sebelum manggung. Bener deh namanya orang tua yang punya anak di TK itu, apalagi anak pertama, heboh dengan mengambil foto dan video. Perasaan dulu waktu Riku kami tidak gitu-gitu banget deh hihihi.

Nah, setelah berganti dengan kostum, orang tua dipersilakan ke aula tempat menonton tari-tarian. Sedangkan aku masih tinggal untuk memasangkan atribut-atribut lain, dan mengantar mereka ke belakang panggung. Bukan itu saja, aku harus membuka rompi 6 anak laki-laki karena akan dipakai oleh kelas selanjutnya. Lalu mengantar 10 anak ini ke kelas untuk ganti baju lagi dengan baju seragam. Hmmm lumayan sibuk, karena itu aku sendiri hampir tidak bisa menonton tarian Kai secara lengkap. Tapi aku pernah melihat waktu latihan, jadi urusan memotret aku serahkan pada Gen dan Riku saja.

Kai paling kanan

Senang juga bisa melihat anak-anak di belakang panggung. Sama sekali tidak terlihat muka-muka yang tegang. Mereka bahkan ikut bernyanyi waktu terdengar lagu tarian teman yang giliran sebelum mereka. Muka tegang tidak ada, apalagi yang nangis. Aku juga bangga pada Kai karena dia yang waktu latihan sempat nangis karena tidak mau berpisah dengan aku, tapi hari ini dia benar-benar menari sebisanya. Persiapan guru-guru TK ini memang hebat. Semua sudah dipersiapkan dengan seksama. Semua atribut diberi nama pemakai, sehingga tahu atribut siapa yang kurang. Dan mereka juga menggunakan kostum milik TK seminim mungkin sehingga orang tua sama sekali tidak perlu mengeluarkan uang untuk kostum manggung. Selain itu ada kardus berisi atribut cadangan jika terjadi “kecelakaan” seperti robek atau putus. Semua kemungkinan sudah dipikirkan. Hebat ah….

Oh ya perlu diketahui anak-anak semua NO MAKE UP!, tidak seperti di Indonesia banyak acara manggung anak-anak yang diberi make up sampai medok oleh orang tuanya. Drama waktu Riku pun selain kumis yang diperlukan, anak-anak yang manggung sama sekali no make up. Yang penting kan cerita/gerak dan gaya mereka BUKAN hiasannya. Dan ini aku setuju sekali.

Dengan acara manggung ini, selain belajar berani untuk tampil di depan umum sejak dini (Kai -4 th) , mereka juga belajar untuk menjaga keharmonisan gerakan dengan temannya, bertanggung jawab pada tugasnya, serta belajar tepat waktu. Sssstt meskipun tidak manggung, mamanya juga ikut belajar bersama anak-anak loh 😀

NB: Kalau teman-teman perhatikan, foto yang aku tampilkan di blog ini, jika memuat foto muka anak-anak Jepang, pasti aku blurkan wajahnya. Ini menyangkut hak privasi yang tidak boleh sembarangan memuat foto tanpa ijin orang yang bersangkutan. Jadi memang disengaja.

 

Bulan “O”

Bulan Oktober adalah bulan Olahraga! Untuk Jepang tentunya. Karena di bulan Oktober ini pada tanggal 10 (sekarang menjadi setiap hari Senin minggu kedua) adalah hari Olahraga. Tanggal 10 bulan 10 ini ditetapkan menjadi hari Olahraga dengan UU Mengenai Hari Libur Nasional, mulai tahun 1966. Setelah dua tahun sebelumnya pada tahun 1964 tanggal 10 Oktober Olimpiade Tokyo dimulai.

Menurut kabar burung, tanggal 10 Oktober itu dipilih karena hampir selalu cuaca cerah, bertahun-tahun. Tapi memang sekitar tanggal 10 biasanya cerah. Pada tanggal ini ada tempat-tempat olahraga yang memberikan diskon khusus atau malah menggratiskan harga tanda masuknya. Ada pula kelompok-kelompok yang menyelenggarakan pertandingan-pertandingan untuk memeriahkan Hari Olahraga ini. Tapi tidak ada satu sekolahpun yang mengadakan tepat di tanggal 10 Oktober, kecuali jika hari itu jatuh pada hari Sabtu.

Hari Olahraga di sekolah-sekolah (TK/SD) ditandai dengan diadakannya UNDOKAI 運動会 pertandingan olahraga yang lebih bersifat eksibisi dan permainan, bukan layaknya class meeting di Indonesia. Bukan mencari juara tapi kerjasama. Bayangkan satu sekolah SD dibagi dua kelompok merah dan putih saja. Dan tahun ini Riku termasuk kelompok Merah.

kiri atas : rebut galah... yang lain foto eksibisi tari oleh kelas 3

Beruntung hari Sabtu tanggal 1 Oktober, cuaca cerah. Dua tahun yang lalu hujan sehingga harus diundur pelaksanaannya. Tapi hari Sabtu itu dari pagi sudah terang benderang. Tadinya kupikir bakal dingin karena akhir-akhir ini memang suhu aneh, naik sampai 25 derajat tapi bisa turun sampai 15 derajat.

Acara dibuka dengan sambutan, parade tiap kelas dan senam pemanasan, serta tak lupa yel-yel semangat untuk kelompok merah dan putih. Riku hari ini tampil 3 kali yaitu pertandingan rebut galah, eksibisi gerak tari berdasarkan lagu dan lari 80 meter. Untuk rebut galah, kelompok merah kalah. Gerak tari…lumayan Riku pintar mengikuti gerak-gerak yang diajarkan gurunya… kalau mamanya yang disuruh pasti ngga bisa :D. Lari 80 meter dia urutan ke 4 dari 6 orang, mayan deh tidak nomor buntut 😀

Satu jenis pertandingan yang kurasa bagus untuk dicontoh. Menggendong satu temannya bertiga, lalu teman yang digendong berusaha mengambil topi yang dipakai pihak lawan. Misal dia dari kelompok putih dia mengambil topi kelompok merah, dan membalikan topinya. Seperti catur orang deh

Tapi hari itu Kai tidak sehat, agak demam sehingga lemas dan digendong papanya terus. Karena itu begitu Riku selesai menari, kami pulang ke rumah. Kami makan siang, dan aku menemani Kai di rumah, sementara Gen kembali ke sekolahnya Riku untuk menjadi volunteer satu jam dan menonton Riku berlari. Hasil keseluruhan kelompok Riku, kelompok Merah menang tipis dengan kelompok putih. Malamnya kami makan sushi di resto dekat rumah, sebagai penghargaan pada Riku yang sudah capek berlatih selama sebulanan. Karena tanggal 1 Oktober adalah hari Batik, tentu saja deMiyashita pakai batik ke resto sushi itu 😉

DeMiyashita on Batik's Day 1 Oktober 2011 ....

Tapi ternyata setelah itu demamnya Kai tidak sembuh-sembuh…. sampai akhirnya aku bawa dia ke dokter hari Selasa. Diberi obat antibiotik tidak mau diminum (selalu begini, meskipun sudah diusahakan dan dibujuk macam-macam). Ya sudah aku suruh tidur saja terus. Tapi dokter mengatakan kalau sampai hari Jumat masih demam, harus diperiksa laboratorium. Untung saja Rabu siang dia sudah sehat, sehingga hari Kamis dan Jumat aku bisa kerja dengan tenang. Tapi berarti dia hanya masuk 2 hari saja sebelum pelaksanaan Hari Olahraga di TK nya hari Sabtu tanggal 8 Oktober!

Dan tibalah hari Olahraga untuk Kai…udara cerah dan aku dari pagi sudah mempersiapkan bento, bekal untuk dimakan bersama. Believe me, Undokai di TK itu lebih meriah daripada SD. Kenapa? Karena yang hadir itu satu anak satu keluarga, minimum 4 orang, karena kakek nenek juga ikut. Doooh penuuuuh deh halaman sekolahnya. Waktu Riku 2 kali aku datang dan heran bin takjub melihat kakek-nenek itu bersemangat sekali ikut menonton anak-anak TK berlomba. Tapi ya lama-lama aku bisa mengerti antusiasme bapak-ibu-kakek-nenek terhadap undokai TK. Soalnya TK adalah kelompok masyarakat sosial pertama yang dihadiri sang anak. Bayangkan anak usia 3-4-5 tahun berlomba. PASTI lucu!

Sayangnya, Kai karena kurang latihan dan MANJA sama mamanya, dia MENANGIS terus sejak datang. Ya bisa mengerti kenapa dia nangis. Begitu masuk halaman sekolahnya, satu lapangan dipenuhi orang begitu banyak, dan dia harus duduk bersama  teman-teman sekelasnya di bangku khusus. Aku (baca: kami) juga salah tidak datang jauh lebih pagi sehingga dia ada waktu untuk adaptasi (well… untuk hal ini memang aku harus bisa terima bahwa tidak semua orang bisa bangun cepat dan siap cepat-cepat, dan pergi cepat-cepat **sambil memandang seseorang di sampingku** hihihi)

Undokai di TK nya Kai.. nangis terus, cuma tersenyum waktu makan bento bersama 😀

Jadi deh dia berdiri di belakangku terus dan tidak mau ikut acara-acara. Tapi untuk acara pertama, aku melarikan diri dari pandangannya dan dia digendong oleh guru OR laki-laki untuk berdefile di tengah lapangan…. ya satu halaman TK itu tentu saja bisa mendengar suara tangisannya yang begitu keras 😀 Malu….malu deh. Jadi waktu dia mau ikut tanding lari, meskipun ogah-ogahan ya aku puji terus menerus. Dia akhirnya juga cuma mau ikut acara menari dengan ibu (aku) dan pertandingan lari gendong dengan bapak. Ciri khas undokai di TK memang PASTI melibatkan orang tua (bapak/ibu) bersama anaknya dalam acara.

Kai akhirnya mau ikut bertanding krn bersama papanya. Setelah acara selesai semua murid mendapat hadiah yang sama.

Belum lagi ada acara pertandingan tarik tambang antar orang tua, dan lomba lari yang mengikutsertakan anak-guru-ibu-bapak…. kebersamaan, kerjasama, tertawa, gembira dan haru bercampur jadi satu dalam acara yang PASTI diadakan sekali setahun ini, menjelang tanggal 10 Oktober. Sayang sekali aku belum pernah mengalami atau mendengar acara seperti ini di Indonesia :). Kalau ada, kasih tahu ya 🙂

 

Masa sih?

Masih selalu terbayang di benakku, hari pertama Kai harus mengikuti kelas perpanjangan Usagi-gumi (kelas kelinci).

“Kai, mama hari ini kerja jadi kamu nanti ikut kelas Tulip (kelas regulernya sampai pukul 2) dan sesudah bel pulang, Sensei akan membawa kamu ke perpustakaan di lantai 2. Di situ ada kelas namanya Usagi-gumi (kelas perpanjangan dari pukul 2- sampai pukul 5) bersama Mika sensei. Nanti di situ kamu bisa main lego, membaca buku, dan ada makan sorenya. Nanti mama cepat-cepat pulang dari kerja, langsung jemput Kai di lantai dua ya.”

Dan hari itu dia dengan penuh “pengertian” masuk ke gerbang sekolah, ganti sepatu dengan sepatu dalam uwabaki, dan berjalan menuju ke kelasnya. TANPA MELIHAT PADAKU lagi, paling sedikit untuk melambai. Tapi aku melihat, dia seperti menyeka airmata kering 🙁 Justru tanpa raungan/tangisan  seperti itu membuatku ngenes. Dan benar juga, menurut laporan Mika sensei, Kai tidak menangis di hari pertama itu, tapi suatu kali dia juga sempat melihat Kai “mojok” dan seperti mengusap air mata….duuuh… Dilema ibu yang bekerja.

Kai abis sakit...kurus ya 😀

Dan hari ini pun, meskipun dia baru kemarin masuk sekolah karena sakit berkepanjangan, tanpa protes dia mengikuti kelas Tulip dan Usagi (dan dia tahu bahwa akan sampai pukul 5 sore) . Untunglah hari ini aku tak melihat dia “mengusap” air mata lagi, sehingga aku bisa cepat-cepat naik sepeda ke stasiun yang lumayan jauh dari rumahku.

Biasanya aku taruh kembali sepedaku di rumah, dan naik bus ke stasiun itu. Tapi hari ini kupikir aku coba untuk langsung naik sepeda ke stasiun itu. Jalan ke stasiun itu memang terkenal dengan tanjakannya, tapi untunglah aku masih bisa menggenjot sepeda pagi tadi (mungkin karena masih segar ya 😀 ) . Setelah mencari tempat parkir sepeda, aku cepat-cepat berjalan ke stasiun dan bisa naik kereta pukul 9:09 pagi. Wah rekor nih, aku bisa sampai di stasiun Takadanobaba sebelum pukul 9:30. Naik bus + jalan dan sampai di ruang dosen sebelum pukul 10 pagi. Asyik deh bisa membuat fotokopi bahan mengajar cukup banyak hari ini.

Nah waktu istirahat makan siang, aku makan bento di kelas sambil membuka email di HPku. Mengintip komentar teman-teman di TE dan aku melihat si Penganyam Kata mengirimkan aku satu link. Langsung kucoba buka dan berhasil! (HP ku bukan smart phone atau IPhone soalnya). Mau tahu linknya apa?

Judulnya : Siswa Siswi Jepang Paling Sopan di Dunia. Haiyah….. Memangnya segitu sopan ya? Aku tak mengetahui standar apa yang dipakai oleh pelaksana survey OECD, atau bahkan mungkin aku harus merasa khawatir dengan tindakan siswa negara lain yang tidak sopan? Aku tak tahu. Dan aku tak mau menjadi komentator soal itu.

Tapi memang kalau ditanyakan soal “Apakah ada tawuran antar sekolah?” Jawabnya pasti BIG NO!  Apakah siswa-siswi tidak saling berkelahi di dalam  sekolah? Nah itu aku tidak bisa jawab. Mungkin bukan berkelahi secara pukul-pukulan, tapi “berperang batin”. Buktinya masih ada kok kasus bullying, ijime, yang menyebabkan beberapa murid yang menerima perlakuan tekanan dari teman-temannya itu sampai bunuh diri. Masih ada. Dan biasanya terkuak setelah terjadi kasus bunuh diri di kalangan SD dan SMP. (Aku belum pernah mendengar kasus bunuh diri di SMA, entah apakah itu tidak mencuat di permukaan atau ntah apakah siswa SMA lebih kuat terhadap tekanan dibandingkan siswa SD dan SMP.

Tapi waktu aku ceritakan pada Gen soal hasil survey “Eh masa siswa Jepang itu paling sopan sedunia loh!” Dia berkata, “Mungkin ya kalau dilihat dari keberhasilan mengadakan Ujian Masuk Universitas Serentak. Itu kan diikuti 500.000 calon mahasiswa setiap tahunnya. Meskipun ada kasus penangkapan “kecurangan” ujian, tapi jumlahnya kecil sekali kan? ”
Yang kujawab, mungkin siswa-siswi Jepang itu kurang “mahir” menyontek yah 😀 (dan dijawab Gen mungkin juga karena polisi Jepang sangat ketat hihihi)

OK, memang secara umum siswa-siswi Jepang sopan-sopan. Mereka bersusah payah mengikuti bimbingan belajar untuk mengikuti ujian masuk universitas. Tak jarang mereka harus menjadi rounin (status pengangguran) setahun dua tahun untuk bisa masuk ke universitas idaman. Jalan masuk ke universitas itu berat bung! Tapi begitu bisa masuk universitas, 4 tahun di dalamnya Anda bisa menikmati kehidupan mahasiswa yang meriah. Asal mengikuti kuliah dan mengumpulkan tugas, sks bisa didapat. Jarang ada dosen killer yang menjatuhkan mahasiswa dengan tidak memberikan sks, jika absensi penuh. Di beberapa universitas ada yang menerapkan nilai 50 masih lulus. Sehingga dosen yang mau menjatuhkan diharapkan memberi nilai 49! (Dan jarang ada dosen yang mau membuat perkara). Ada universitas yang memberikan nilai A+ bagi mahasiswa yang mendapatkan nilai di atas 90. Prinsipnya: Masuk universitas sulit, tapi keluar (lulus)nya mudah. Banyak fakultas juga yang tidak memberikan syarat skripsi sebagai tanda kelulusan, kecuali mau melanjutkan ke S2.

Pasar buku bekas di dalam universitas W hari ini. Selama mengajar di sini 12 th baru kali ini lihat diadakan di dalam kampus.

Dan yang pasti aku pernah menjadi mahasiswa di universitas Jepang, dan terpana karena mahasiswa bisa tidur di kelas, sambil ngorok lagi 😀 . Selain itu mahasiswa juga ribut mengobrol sendiri dalam kuliah. Di kelas bahasa Indonesiaku? Aku biasanya sengaja menunjuk mahasiswa yang ngantuk untuk menjawab pertanyaan. Meskipun tidak bisa dipungkiri, aku pernah membiarkan satu-dua mahasiswa mendengkur di kelas. Biasanya mahasiswa itu pengikut extra kurikuler olahraga tertentu yang menjadi wakil universitas untuk bertanding di luar. Jadi biasanya aku juga sudah waspada terhadap mahasiswa seperti itu, dan sudah pasti aku ancam mereka harus menyerahkan tugas jika mau mendapat nilai 50 😀 (buat mereka yang penting lulus).

Jadi begitulah ceritaku sehubungan dengan link yang diberikan Danny. Tapi yang pasti tadi di kelasku, aku agak kesal karena ada 2 pasang mahasiswa yang cekakak cekikik dalam pelajaran mungkin karena menemukan kata lucu. Well, menghandle kelas dengan 35 mahasiswa memang sulit.

Tapi kekesalanku hari ini terobati waktu aku menjemput Kai di kelas Usaginya, dan dia langsung berlari menghambur, memelukku dengan senyum. Dan waktu kutanya, “Kamu menangis? ”
“TIDAK” jawabnya. Dan ditambah, “Maaf ma, aku sisakan makanan di bentonya.”
“Kenapa?”
“Aku kan tidak suka telur (puyuh)”
“Oh … ya sudah nanti tidak usah bawa telur puyuh lagi ya. Biar kakak Riku makan, dia suka sekali”

So how was your Thursday?

Bunga Ajisai (hydrangea) pertanda musim hujan mulai kuncup

 

 

Home Visit

Kunjungan ke rumah. Bahasa Jepangnya Katei Houmon 家庭訪問。 Oleh siapa? Ya tentu oleh Guru wali kelasnya, abis siapa lagi yah hehehe. Jadi di TK atau SD tertentu di Jepang masih ada sekolah yang memberlakukan Katei Houmon ini. Biasanya dilakukan sampai dengan akhir April, dengan perjanjian sebelumnya akan mengunjungi hari apa dan jam berapa. Waktunya hanya 5-10 menit saja.

Tujuan home visit ini untuk:
1. Mengetahui letak rumah murid sebenarnya.
2. Mengetahui (membaca) kondisi rumah tangga si murid.
3. Mengetahui (membaca) apakah ada permasalahan dalam keluarga si murid.
4. Menyampaikan perkembangan murid kepada orang tua.
5. Menjawab keraguan orang tua murid tentang perkembangan kelas dan tujuan pengajaran masing-masing tingkat kelas.
6. Mengecek keselamatan rute perjalanan ke sekolah.

Jadi barusan nih jam 13:40-13:50 gurunya Kai dua orang datang ke rumahku. Natsuko sensei (guru utama) dan Yachiyo sensei (guru pembantu) . Yang lucunya Natsuko sensei ini sebetulnya tahun lalu tinggal (orang tuanya) tinggal di lantai 2 apartemenku, jadi sebelum Kai masuk TK itu sudah sering bersapa-sapa terutama di parkiran sepeda. Tapi waktu itu aku tidak tahu namanya jadi cuma hafal muka saja. Jadi tadi waktu Natsuko sensei datang, dia langsung berkata, “Miyashita san, saya kan dulu di lantai 2 tinggalnya”….

Lalu Natsuko sensei menyampaikan perkembangan Kai selama bersekolah 2 minggu di TK. Ternyata Kai amat detil jika melakukan pewarnaan atau gunting menggunting. Sangat berkonsentrasi dan detil sekali dibanding dengan teman-temannya. Sampai Natsuko sensei bertanya apakah di rumah Kai sering melakukan prakarya? Hmmm sebetulnya sih tidak, tapi di tempat penitipan memang diajarkan membuat macam-macam, dan Kai sejak kecil belum 2 tahun sudah bisa menggambar mata, hidung, mulut pada tempatnya. Pewarnaan memang lebih rapih, berusaha tidak keluar garis (lain dengan Riku yang lebih bebas berkreasi). Dari situ saja kelihatan ya sifat-sifat masing-masing.

Selama 2 minggu sekolah, baru kemarin Kai menangis waktu aku tinggal di pintu masuk sekolah (sampai diantar masuk kelas oleh ibu kepseknya). Kupikir dia baru “sadar” akan kerutinan yang harus dia jalankan. Tapi tadi pagi tidak menangis, meskipun memang setiap hari sebelum berangkat ke TK dia akan mengatakan, “Aku kangen mama”. Kai lebih bisa dibujuk untuk tetap ke TK, dengan menjanjikan main ke taman atau pergi belanja sama-sama, atau bermain game “hidden object” di komputerku.

Menurut Natsuko sensei, selama ini Kai juga hanya menangis satu kali di dalam kelas, yaitu waktu Kai bingung harus bagaimana setelah melakukan satu tugas. Kai memang suka sebel kalau dirinya tidak bisa sesuatu, jadi itu kupikir nangis desperate nangis kesal (persis Riku dan mamanya hahaha)

Sebelum pulang, ke dua guru ini aku suguhi pisang goreng dan teh melati. Dulu waktu Riku aku tidak menyuguhi apa-apa, tapi kali ini kupikir, aku sudah biasa menghadapi guru-guru itu dan kebetulan ada waktu jadi aku goreng pisang saja. Pisang goreng itu pasti cocok deh untuk lidah orang Jepang. Mudah (dan murah) juga membuatnya kan?

Sepuluh menit itu cepat sekali berlalu, tapi untuk sepuluh menit itu aku sudah susah payah hampir 2 minggu untuk membereskan rumah hihihi (hiperbolis). Soalnya pas pergantian musim jadi barang-barang musim dingin seperti heater dan baju-baju harus disimpan, belum lagi mainannya anak-anak yang tiap hari berserakan di lantai. Lumayan deh sekarang rumahku(baca kandang kelinci)  sudah bisa menerima tamu nih. Siapa yang mau datang? Mumpung masih bersih dan aku belum ngajar hihihihi.

Gambat Kai dengan cat air pertama kali, judulnya "Sakura" katanya.

 

 

 

Third Day

Hari ini adalah hari ke tiga Kai masuk TK. Sejak hari Senin, aku mengantar dia ke TK nya sekitar pukul 8:45 pagi. Sebetulnya kami diharapkan mengantarkan anak-anak antara pukul 8:30 -9: 30, dan menjemputnya kembali pukul 11:00. Pendek sekali ya? Tapi ini memang khusus untuk pemanasan bagi anak-anak. Kami juga harus mengantar anak-anak kami sampai di depan kelas, sebelumnya mengajari mereka untuk menukar sepatu dengan uwabaki (sepatu dalam).

Aku mengantar sendiri Kai ke TK, tapi sebetulnya kalau mau ada juga disediakan antar-jemput. Hampir semua TK menyediakan layanan antar-jemput dengan trayek tertentu. Tidak seperti di Indonesia kalau bus antar-jemput anak-anak biasanya berhenti di depan rumah masing-masing, kalau di sini biasanya dipoolkan di tempat yang mudah dijangkau dan tidak mengganggu lalu lintas. Jadi semisal jam penjemputan pukul 8:35 ya sebelum pukul 8:35 kami sudah harus menunggu di pool tsb. Aku tidak yakin anak-anakku bisa siap sebelum jam penjemputan, jadi lebih baik aku antar sendiri naik sepeda. Apalagi nanti jika aku sudah mulai mengajar, sesudah antar Kai, aku bisa langsung pergi ke stasiun naik sepeda. Biasanya biaya antar-jemput ini sekitar 5000 yen/bulan.

Hari pertama, Kai dengan penuh semangat pergi ke TK, karena aku menjanjikan akan bermain di halaman sekolah sesudah selesai sekolah. Meskipun kadang dia juga masih menyebutkan,
“Aku maunya sama mama”.
Aku selalu menjawab, “Iya tentu saja. Kan hari ini hanya main lilin, makan snack lalu mama jemput loh”.
“Tidak tidur siang?” (Kalau di penitipan kan pasti pakai acara tidur siang)
“Tidak!”….
Lalu dia tersenyum. Dan masuk kelasnya dengan gagah.

Sebelum berangkat ke TK, Senin lalu.... untung Kai tidak menangis

Naik sepeda dari rumahku ke TK hanya 5 menit. Jadi biasanya aku berangkat menjemput Kai pukul 11 teng juga masih keburu. Karena kami harus menjemput lagi di depan kelas. Proses penyerahan murid kepada guru memang untuk membiasakan anak-anak ini terhadap guru dan peraturan sekolah. Tapi kami hanya bisa begini selama 3 hari pertama. Mulai besok kami hanya boleh sampai pintu depan sekolah, tempat anak-anak ganti sepatu. Dan waktu belajar juga ditambah 30 menit, menjadi sampai pukul 11:30. Nanti mulai bulan Mei akan menjadi pukul 2 siang.

Kemarin ada rapat orang tua dan guru (PTA – Parent Teacher Association) pertama kalinya, untuk memilih wakil pengurus kelas yang bertugas membantu kelancaran kegiatan sekolah. Satu kelas 3 orang dan salah satunya akan menjadi penghubung dengan kelas yang lain. Hmmm, aku sih suka berorganisasi begini (sok sibuk hihih), tapi kupikir biarlah ibu-ibu yang lain. Aku cukup kaget waktu ikut rapat itu, duh hampir separuh ibu-ibunya menggendong bayi! Gawat nih, bisa-bisa ngga ada yang mau jadi wakil. Eh, ternyata ada juga kok yang bersedia mencalonkan diri, jadi aku bebas… asyik.

Waktu sedang diadakan rapat sekitar pukul 14:15 siang tiba-tiba beberapa HP ibu-ibu berbunyi khas. Peringatan dini gempa. Semua diam dan berdebar-debar menunggu datangnya gempa. Gurunya Kai bilang, tidak apa-apa, kalau ada apa-apa kita bisa lari ke halaman, tinggal buka pintu yang menghubungkan dengan halaman sekolah. Untung saja gempanya tidak besar, dan rapat dilanjutkan kembali.

Tapi karena khawatir juga tentang Riku, kupikir biarlah aku dan Kai mampir ke sekolahnya Riku (beda satu blok saja) supaya bisa pulang sama-sama. Di depan SD nya Riku itu ada taman kecil yang bernama Taman Tupai. Jadi kami berdua menunggu di taman itu, sambil Kai bermain luncuran.

Di situ aku bertemu beberapa anak yang sudah pulang lebih cepat. Dan lucunya aku diajak bicara oleh seorang anak perempuan yang manis tapi cerewet….hihihi. Lucu juga sih, rupanya begini rasanya kalau punya anak perempuan. Kai saja aku anggap sudah cerewet, tapi anak perempuan ini jauuuuh lebih cerewet, suka bicara. Semuanya dia ceritakan, dan aku menjadi pendengar yang baik 😀

Tapi selain si cewe ini, aku bisa melihat persiapan pulang anak SD. Sejak pasca gempa, mereka harus pulang berkelompok, supaya jika terjadi gempa, mereka bisa bergerak mengungsi bersama, dengan satu pemimpin. Kebijakan ini diambil oleh pihak sekolah sampai dengan tanggal 29 April nanti…. kecuali jika masih sering terjadi gempa susulan.

Yang aku rasa hebat juga pihak sekolah, selain sudah menentukan kelompok pulang sejak Riku kelas 1 SD, mereka juga memberikan petunjuk untuk membawa air minum, pelindung kepala dll. Bahkan nanti tgl 15 April aku akan ada rapat PTA untuk kelasnya Riku, dan mereka memikirkan kondisi anak-anak waktu kami sedang rapat. Jika tidak ada gempa-gempa begini memang biasanya anak-anak ditinggal di rumah saja. Tapi dengan banyaknya gempa susulan, sekolah juga khawatir jika terjadi apa-apa selama anak-anak sendirian di rumah. Jadi khusus untuk hari Jumat nanti, halaman sekolah akan dibuka sehingga anak-anak bisa bermain di halaman sekolah selama ibu-ibunya rapat.

Satu lagi yang kurasa hebat juga mereka memikirkan kemungkinan jika listrik mati dan anak-anak tidak bisa belajar di sekolah. Mereka memikirkan kemungkinannya untuk belajar di alam terbuka, yaitu di Taman Shakujii, taman yang luas di wilayah kami. Yang penting proses belajar harus terus berjalan, tidak gampang meliburkan 🙂

Tiga hari awal tahun ajaran baru April 2011- Maret 2012 sudah dimulai dengan lancar. Semoga anak-anakku bisa belajar dengan aman dan lancar, dan semoga gempa makin berkurang … AMIN.

Sakura dekat taman bermain di depan SD nya Riku, Taman Tupai.

 

 

KAI, TK, dan ML

Tak terasa Kai sudah makin besar, sudah 3 tahun 4 bulan. Terkadang aku melupakan umur sebenarnya karena bahasanya yang seperti anak gede. Yang aku ingat, dia sudah lama bisa pakai kata “Kai kanashii… (Kai sedih)” jika dia mau merayu mamanya untuk tidak menitipkan dia atau “menelantarkan” dia. Tapi tentu saja dia juga langsung berkata “Kai ureshii… (Kai senang)” setiap aku membelikan kesukaan dia, atau waktu Rabu minggu lalu aku pergi kencan dengan dia.

Kencan? Ya, deeto (date) bahasa Jepangnya. Dia sendiri yang ajak aku, “Mama hari ini kita deeto yuuk!”. Hahaha, aku ingin tertawa. Tapi waktu aku cerita pada Gen, dia agak marah, “Pasti dia meniru dari film di Disney Chanel deh”… (hmmm memang sih). Tapi yang pasti dia tidak meniru, waktu malamnya, sebelum tidur dia memeluk aku dan berkata, “Mama Kai hari ini ureshii, senang bisa deeto sama mama”.

Tanggal 1 November ini, Kai mengikuti interview masuk sebuah TK swasta. Semua TK atau Youchien di Jepang memang swasta sih, karena TK tidak diwajibkan. Hanya yang mau saja. Sebetulnya untuk aku yang bekerja akan lebih enak jika tetap menitipkan di penitipan (Hoikuen) sampai dengan usia sekolah 6 tahun. Karena waktunya lebih flexible, dari jam 7 pagi sampai 8 malam, bisa pilih mau course berapa jam atau berapa hari seminggu, juga pada hari Sabtu (Memang bayarnya juga beda-beda). Tapi kalau aku masukkan di TK, biasanya mulai jam 9 sampai sekitar jam 2, dengan hari libur atau hari pendek seminggu sekali dan hari Sabtu tentu libur.

Kai dengan baju setelan peninggalan papanya setelah selesai interview di TK.

TK di Jepang terbagi menjadi 3 , TK 3 tahun yang menerima anak mulai usia 3 tahun (Nensho) , TK 2 tahun yang menerima anak usia 4 tahun (Nenchu), dan TK 1 tahun yang menerima anak usia 5 tahun (Nencho). Tapi biasanya jika mau masuk TK kebanyakan mulai dari usia 3 tahun. Jarang atau sedikit TK yang menerima hanya 2 apalagi 1 tahun. Riku dulu mulai masuk TK usia 4 tahun, dan beruntung diterima karena masih ada tempat. Tapi tentu saja masuk sebagai Nenchu perlu keberanian tersendiri, karena biasanya murid-murid yang lain sudah terbiasa “sekolah”. Sekarang Kai mendaftar di TK yang sama dengan Riku, mulai Nensho.

Interview anak TK itu bagaimana? Tadi pagi dimulai pukul 8 kami sudah bisa mendaftar dan ikut interview. Aku dan Kai datang pukul 8:30 karena memang hujan dan pengalaman dulu dengan Riku, tidak perlu cepat-cepat datang karena pasti semua dilayani. Santai saja. Ah, ternyata pengalaman 4 tahun lalu dengan tahun ini memang berbeda. Bedanya langsung terlihat dengan jumlah pendaftar. Paling hanya setengahnya dari 4 tahun lalu. Aku tidak tahu apakah kapasitas jumlah murid yang 135 orang itu bisa terpenuhi atau tidak. Jumlah anak terasa sekali semakin sedikit……

Di pintu gerbang sekolah, kami mengganti sepatu dengan sepatu dalam atau uwabaki untuk Kai dan slipper untukku. Kami langsung disuruh ke lantai 2 untuk menyerahkan formulir pendaftaran dan membayar 3000 yen. Kai mendapat nomor 60.

Setelah itu kami diantar ke ruang tunggu untuk mengikuti 2 kali test. Test pertama tentang reaksi anak-anak untuk bergerak mengikuti perintah. Satu kali test dijalankan 5 anak. Wah di sini Kai tidak mau lepas dari aku, sehingga sensei menyuruh aku ikut masuk ke dalam kelas (sementara orang tua yang lain menunggu di luar). Di kelas itu ditanya nama dan diberi petunjuk untuk naik undakan, menepuk tamburin, lalu melompat dalam lingkaran yang ada di lantai. Untung saja Kai bisa melaksanakan perintah guru dengan baik, sementara aku bersembunyi di balik piano.

Setelah itu Kai dan aku menuju ruangan lain untuk mengikuti test pribadi. Kebetulan yang mengetest kami adalah wakil kepala sekolah yang amat mengenal aku. Jadi dia santai menanyakan nama dan usia Kai. Lalu di atas meja ada bentuk bulat, segitiga dan empat persegi dengan warna berbeda, merah, kuning dan hijau. (duh aku lupa mengajarkan pada Kai….hiks padahal dulu Riku juga begitu). Eh ternyata Kai dapat menjawab semua warna dan nama bentuk dengan sempurna (aku musti terima kasih pada guru di penitipan nih hehehe).  Waktu disuruh menyusun rumah dari bentuk yang ada, dia juga bisa. Syukurlah.

Kepadaku si ibu wakepsek hanya menanyakan apakah ada alergi atau tidak. Dan tidak lupa dia katakan, “Tidak usah tunggu telepon, sudah pasti kok.” Wow, mentang-mentang aku sudah dikenal di situ, langsung diberi tahu bahwa Kai diterima. Karena sesungguhnya kami setelah interview ini, harus menunggu telepon di rumah. Yang tidak lulus akan ditelepon. Tapi wakepseknya sudah meyakinkan saja.

Karena sampai dengan jam 1 siang (perjanjiannya telepon s/d jam 1 siang) tidak ada telepon, Aku dan Kai kemudian kembali ke TK pukul 1:30 untuk mengurus pendaftaran masuk. Nah kalau s/d jam 2:30 kami tidak datang ke TK, berarti kami mengundurkan diri. Waktu mengurus pendaftaran ini, kami harus membayar 80.000 yen sebagai uang pangkal (yang setengahnya nanti akan dikembalikan oleh pemerintah daerah melalui tunjangan khusus).

Selain uang pangkal kami juga mengisi formulir pesanan baju seragam dan peralatan sekolah. Karena TK swasta, maka semua memakai seragam (SD Negeri semua baju bebas). Untung baju-baju Riku yang dulu masih aku simpan dengan baik, sehingga aku tidak perlu membeli lagi. Sebetulnya agak ragu juga sih, karena Riku masuk kelas Nenchu dan Riku berbadan besar, tidak seperti Kai yang kecil. Tapi teman-temanku bilang, “Ah biar saja, disom aja sedikit, biar kegedean sedikit. Ngapain beli baru lagi”. Dan wakepsek juga dengan sengaja datang ke aku dan bilang, “Kamu kan ngga usah beli seragam, pakai punya Riku saja….” hihihi. Jadi untuk peralatan sekolah, aku cukup menyiapkan 5100 yen, padahal kalau beli baru semuanya seharga 40.000 yen. Horreeee.

Yah, si koala bulan April mendatang akan menjadi anak TK, yang cukup sibuk dengan segala macam acara per bulan. Tapi aku yakin Kai akan lebih suka di TK daripada di penitipan.

Lalu apa hubungannya Kai dengan ML seperti yang tertulis di judul di atas? Well, sebetulnya aku harus berterima kasih pada Mac Donalds dan Mario Bross. Karena bentuk huruf M pada Mac dan topinya Mario, Kai sudah bisa membaca huruf M. Lalu L nya dari Luigi, temannya Mario. Di topi Luigi itu ada huruf L, sehingga pernah suatu waktu aku sedang menyetir malam hari pulang mengajar. Lalu Kai bilang, “Ma, ada Luigi di situ”, pas aku cari ternyata ada tulisan LUCAS kecil di papan pinggir jalan. Wah cepet banget matanya Kai. Tapi memang dia sudah bisa membedakan huruf itu bahasa Inggris (alfabet) atau angka 123, atau bahasa Jepang. Dan dari alfabet yang paling Kai hafal adalah ML deh….. 😀

The Princess and The Frog

The Princess and The Frog

Kemarin malam Kai memintaku untuk membacakan cerita “The Princess and The Frog” dari Disney yang diterjemahkan menjadi “Purinsesu to Mahou no kisu” プリンセスと魔法のキス sebelum tidur. Di sebelahku Riku sudah terlebih dahulu tidur. Anak itu paling mudah untuk tidur, begitu kepala menyentuh bantal… ZzzZZzz deh. Jadi aku mendongengkan Kai. Di situ aku tanya pada Kai,
“Kai tahu princess  artinya apa?”
“Ngga tau”
“Princess itu anak perempuan dari Raja (Oosama – ini dia sudah tahu).
Kalau anak laki-laki itu disebut Prince. Untuk Mama, Kai adalah Prince”
“Ihhh ngga mau…”
“Kenapa ngga mau? Riku juga prince. Jadi mama punya dua prince”
“eeeeee?? Riku prince?”
“Iya, Kai juga prince. Mau?”
” un (ya)”
” Kai prince…”
“Mama princess…” Duh aku kaget sekali… kok dia langsung tahu penggunaan kata princess.
“Waaah mama princess? Makasih Kai” Lalu aku cium Kai.
dan tahu reaksi dia? “Kero kero…(suara kodok)” … Ya ampun dia tahu bahwa prince itu menjadi kodok.

Saking gembiranya aku juga bilang pada Kai, “Mama princess cium prince jadi mama kodok yaaa (dalam cerita ini si prince tidak berubah menjadi manusia, malahan si princessnya jadi kodok juga)”
“kero-kero….Hahaha…” kami berdua tertawa…
Dan tadi pagi dia meloncat-loncat seperti kodok waktu aku panggil dia Kai prince.

Ada banyak kejadian yang menunjukkan Kai tiba saatnya untuk mengekspresikan semua yang dia tahu, semua yang selama ini dia lihat tapi belum bisa keluar dalam bentuk kata-kata. Dan aku berusaha menikmati perubahan ini.

Dan hari ini kedua prince ku pergi ke “sekolah”. Riku memulai hari pertamanya sebagai murid kelas dua SD. Dan dalam upacara penerimaan murid baru (kelas 1), dia harus mengucapkan kata sambutan pertama sebagai wakil kelas dua. Pendek memang, hanya mengucapkan “Adik-adik kelas satu…” kemudian akan dilanjutkan oleh murid lain. Tapi sebagai pemula, dia harus berbicara dengan lantang, supaya keseluruhannya dapat berjalan dengan baik.

Tadi dia pulang dan mengatakan bahwa dia dipuji oleh gurunya, karena berhasil berbicara dengan suara lantang.
“Tadi grogi?”
“Sedikit sih… tapi ngga papa tuh” (sasuga mama no ko – anak mama sih, jadi tidak grogian hehehe)

Selain memberikan sambutan kepada kelas satu, murid-murid kelas dua juga mempertunjukkan permainan harmonika sebagai penyambutan kepada kelas satu. Aku jadi teringat peristiwa satu tahun yang lalu. Saat itu Riku yang menjadi murid kelas satu, dan disambut oleh kakak kelasnya. Tadi juga waktu aku mengantar Kai ke penitipan sempat melihat ibu-ibu bersama anak-anak mereka yang baru masuk SD memakai kimono atau jas. Wah, satu tahun sudah berlalu sejak saat itu, dan Riku sekarang sudah kelas dua. Sudah menjadi kakak kelas, yang juga diberikan tanggung jawab untuk membimbing adik-adik kelasnya. (Aku senang dengan sistem SD di sini yang memberlakukan sistem mentoring, membimbing adik kelas sehingga mereka menjadi bertanggung jawab.)

Kai juga sudah menjadi “kakak kelas” , meskipun dia baru 2,5 tahun. Sebelumnya di penitipan (hoikuen– 保育園)dia masuk kelompok usagi (kelinci) yang diperuntukkan bagi anak-anak berumur 1-2 tahun. (Di bawahnya ada kelas hiyoko (anak ayam) yang diperuntukkan bagi anak berusia di bawah 1 tahun. Mulai tanggal 1 April Kai menjadi anggota kelompok zoo (gajah) yaitu untuk anak berusia 3 tahun ke atas (sampai dengan sebelum 6 tahun, usia masuk SD). Banyak orang tua yang keduanya bekerja, tidak memasukkan anak-anak mereka ke TK, karena jam belajar TK hanya sampai jam 2 atau kalaupun ada perpanjangan hanya sampai jam 5. Sedangkan kalau di penitipan bisa sampai jam 8 malam. Dulu akupun sebetulnya ingin agar Riku tetap di penitipan sampai usia SD, supaya aku bisa bekerja terus. Tapi karena Gen ingin anak-anaknya mengecap pendidikan di TK, jadi aku yang mengalah dan berhenti kerja malam (yang sebetulnya lebih banyak pekerjaan  mengajar di malam hari, hampir setiap hari biasa), dan memasukkan Riku ke TK waktu dia berusia 4 tahun.

TK di Jepang terdiri dari 3 tingkat, kelas nenshou 年少, anak berusia 3 tahun, kelas nenchuu 年中 mereka berusia 4 tahun dan nenchou 年長 yang berusia 5 tahun. Jadi Riku masuk dari pertengahan, di kelas nenchuu. Sedangkan Kai kami ingin memasukkan dia sejak dari nenshou, bulan April tahun depan. Memang lain ya mendidik anak kedua dengan anak pertama. Kelihatannya anak kedua lebih cepat pintar dan cepat beradaptasi, karena mengamati dan meniru kakaknya. Tadi pagi juga begitu aku bilang bahwa Kakak Riku sudah pergi ke sekolah, Kai juga ditunggu sensei… dia mau pergi ke penitipan meskipun dengan enggan. Jangan kalau dia tahu Riku ada di rumah, pasti tidak mau pergi dari rumah.

Well, mulai hari ini kesibukan di rumah kami pun mulai, meskipun aku sendiri baru mulai mengajar tanggal 16 April nanti. Itu sebagai Mama sensei… tapi “Mama Princess” nya Kai kerjanya sebagai upik abu setiap hari 24/7, tanpa libur. (Eh tapi mulai hari ini aku bisa bernafas lega sedikit waktu membersihkan rumah tidak ada dua unyil yang mengganggu. Dan bisa konsentrasi nulis deh seperti hari ini)

Princess and her prince

Musim Wisuda

Yah di Jepang mulai tanggal 15 an Maret sampai akhir Maret (paling lambat sih 26 an) adalah musim wisuda. Di mana-mana terlihat sosok berhakama (kimono khusus) atau kimono biasa….atau paling tidak setelan jas. Musim Wisuda tiba. Dan yang wisuda bukan hanya Mahasiswa saja, tapi semua jenjang sekolah, mulai dari TK sampai S3. Makanya saya bilang TK adalah S minus 3, kalau hitung mundur SMA = S 0, SMP – S-1, SD=S-2, jadi deh TK S-3. hehehe

Hari ini adalah hari Wisuda untuk universitasnya Gen, yang dilakukan di sebuah hotel ternama di Tokyo. Jadi dia harus pakai baju formal, and formal means HITAM. Dengan dasi putih kalau pria. Mudah-mudahan nanti dia pulang membawa bingkisan nasi merah kesukaan nya (kalau di Indonesia, selamatan pakai nasi kuning, kalau di Jepang nasi merah).

Nah, hari ini juga merupakan hari Wisudanya Riku. Coba seandainya hari ini tidak bersamaan dengan tempat kerjanya Gen, pasti Gen juga mau ambil cuti dan ikut dalam acara wisuda Riku. Susah memang untuk orang tua yang bekerja di dunia pendidikan juga. (Aku juga begitu, waktu upacara masuk sekolah Riku terpaksa tidak datang ke Universitas untuk acara yang sama)

Jam 9 aku antar Kai ke Himawari, tempat penitipannya. Kali ini yang menyambut adalah guru yang dia kenal, sehingga dia langsung memeluk guru itu. Duh aku senang melihatnya, daripada mendengar dia menangis waktu ditinggal kan, lebih baik melihat bahwa dia tinggal di situ dengan senang. Tadinya aku pikir masih bisa mampir ke rumah dulu sebelum ke TK yang acaranya jam 9:40. Tapi pikir-punya-pikir mendingan langsung saja, toh aku dan Riku sudah siap semuanya. Lebih cepat sampai lebih baik.

Untung saja, karena waktu kami datang, sudah melihat antrian orang yang akan masuk ke dalam gedung TK. Jadi kami ikut antri. eh tahu-tahunya bukan untuk masuk, tapi untuk mengambil foto di depan papan bertuliskan “卒園式” Wisuda TK. Tapi karena kami sudha harus mulai masuk ke kelas, aku tidak jadi ikut antri dan foto saja dari kejauhan. Selama acara aku berdiri dekat Ibu asal Taiwan, yang anaknya juga termasuk teman akrabnya Riku. Jadi kita gantian motret…simbiosis mutualisma deh. Begitulah kalau datang tanpa pasangan (ceritanya agak ngiri dengan anak-anak lain yang papanya juga bisa datang di acara wisuda!)

Di dalam kelas, bertemu dengan gurunya yang cantik. Ah sejak pertama kali aku datang ke TK ini, sudah melihat sensei ini. Tak tahunya dia jadi gurunya Riku di kelas atas (nenchou). Dia memakai Hakama, kimono khusus yang biasanya dipakai untuk upacara wisuda). Selain absen, mempersiapkan anak-anak untuk berbaris ke dalam Aula, tepat upacara. Sementara itu orang tua bisa melihat pameran foto di dalam kelas, yang salah satunya adalah foto anak-anak dengan parasut.

Pukul 10, orang tua menuju ke Aula, yang ternyata sudah dipenuhi oleh orang tua bahkan kakek-nenek atau adik-adik si wisudawan. Banyak yang harus berdiri. Meskipun aku dapat tempat duduk, akhirnya aku berdiri di sebelah ibu Taiwan dan dengan leluasa bisa memotret jalannya upacara. Di kejauhan aku melihat bapaknya Agus, yang berasal dari Bali datang dengan memakai baju balinya. Katanya sih ibunya mau pakai kebaya, tapi aku tidak melihat sosoknya sama sekali. Dia memang pernah mengajak aku datang ke acara ini pakai kebaya. Tapi ngga ah… kebayang ngga sih naik sepeda pake kebaya hahahha.

Yang bener-bener membuat aku khawatir adalah waktu upacara penyerahan ijazah dari kepala sekolah. Aku lupa menanyakan apakah Riku sudha tahu caranya. Karena Riku libur  1bulan, sia tidak ikut latihan. Hmmmm dan bener juga, dia maju dengan slebor deh…. hiks…malu aku. Awas nanti kalau lulusan SD aku ajarin kamu harus ojiki (membungkuk ala Jepang) yang baik dan benar!

Setelah penyerahan ijazah untuk 128 murid, dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan untuk yang “100% tidak pernah absen” dan “Hanya 3 kali saja absen”…. Yang pasti Riku tidak akan bisa dapat piagam begituan…wong banyak mbolosnya hehehe (dan mamanya juga sebagian bertanggung jawab, karena memboloskan dia waktu liburan ke Jakarta)

Ada satu acara yang menarik, penyerahan piagam penghargaan untuk pegawai/guru yang mencapai bekerja dalam jumlah tahun-tahun tertentu. Ternyata bukan 50 tahun tapi 45 tahun bekerja di TK itu, seperti yang kemarin aku dengar. Ada dua orang, yaitu kepala sekolahnya sendiri, dan wakil kepala sekolah. Si Ibu Wakil ini benar-benar hebat juga. Aku selalu kagum sama dia. Tenaganya itu loh. Dia selalu ada di garis terdepan di sekolah itu. Dan dia juga sering berdiri di depan gerbang TK, hampir setiap pagi untuk menyambut anak-anak….dan hafal nama semua anak!!!.

Acara wisuda akhirnya ditutup dengan lagu-lagu khusus wisuda, dan salah satu yang aku bisa nyanyikan adalah “Omoide no Album” (Album Kenangan)…. Kalau dinyanyikan dengan penghayatan oleh orang yang biasa tinggal di Jepang, maka pasti terharu. Bagi yang tidak pernah merasakan 4 musim, tentu saja lagu ini tidak ada artinya.

Begini Liriknya:

(1) Ingatlah kembali waktu kapan itu
semua peristiwa yang terjadi
Baik yang menyenangkan atau yang lucu
sampai kapanpun tidak akan dilupakan

(2) Ingatlah kembali waktu musim semi
semua peristiwa yang terjadi
bermain di lapangan yang hangat
Bunga yang cantik bermekaran

(3) Ingatlah kembali waktu musim panas
Semua peristiwa yang terjadi
Memakai topi jerami dan semua telanjang
melihat kapal dan gunung pasir

(4) Ingatlah kembali waktu musim gugur
Semua peristiwa yang terjadi
tumpukan donguri (semacam biji melinjo) dan hiking
Daun marah pun beterbangan

(5) Ingatlah kembali waktu musim dingin
Semua peristiwa yang terjadi
menghias pohon pinus Merry Christmas
Santa klaus pun tertawa

(6) Ingatlah kembali musim dingin
Semua peristiwa yang terjadi
Hari bersalju yang dingin di dalam kamar yang hangat
Mendengarkan cerita yang menghangatkan tubuh

(7)Ingatlah kembali selama satu tahun
Semua peristiwa yang terjadi
saat ini bunga peach bermekaran
sebentar lagi semua akan menjadi kelas satu (SD)

terjemahan oleh Imelda Coutrier

(1) いつのことだか 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
嬉しかったこと 面白(オモシロ)かったこと
いつになっても 忘れない

(2) 春のことです 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
ポカポカお庭で 仲良く遊んだ
きれいな花も 咲いていた

(3) 夏のことです 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
麦藁(ムギワラ)帽子で みんな裸んぼ
お船も見たよ 砂山も

(4) 秋のことです 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
どんぐり山の ハイキング ラララ
赤い葉っぱも 飛んでいた

(5) 冬のことです 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
樅(モミ)の木飾って メリークリスマス
サンタのおじいさん 笑ってた

(6) 冬のことです 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
寒い雪の日 暖(アッタ)かい部屋で
楽しい話 聞きました

(7) 一年中(ヂュウ)を 思い出してごらん
あんなこと こんなこと あったでしょう
桃のお花も きれいに咲いて
もうすぐみんなは 一年生

Semua murid kembali ke kelas masing-masing dan di kelas mereka kembali menerima ijazah langsung dari gurunya. Dan terakhir, terakhir kali mereka mendapat permen vitamin seperti hari-hari biasa. Permen yang terakhir dari guru TK mereka. Sambil memeluk gurunya, apakah mereka rasakan manisnya permen itu juga akan segera habis? Entahlah. Yang pasti sebagai anak SD, mereka membawa harapan besar orang tua, masyarakat dan sekolahnya. BERAT!

Selamat mengakhiri masa Balita anakku! Masa bermain sudah selesai….

Mari kita belajar sama-sama, di negeri yang kaku ini.

(bersama kepala sekolah  —  dengan guru kelas sore — bersama semua guru)