Arsip Tag: summer 2012

Personal Touch #3 dan #4

Berhubung ada yang pernah bertanya apa sih bedanya reuni dan kopdar? Aku mau menuliskan definisinya reuni yang saya kutip dari KBBI daring yaitu : re·u·ni /réuni/ n pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. Jadi reuni itu adalah kumpulan orang-orang yang pernah bersama (biasanya belajar bersama), kemudian bertemu kembali setelah berapa lama tidak bertemu. Sedangkan kopdar yang merupakan singkatan kopi darat (off air) adalah pertemuan di udara/darat dari kumpulan atau beberapa personil yang belum kenal secara nyata sebelumnya. Mereka berkenalan di dunia maya (atau fans dari siaran radio/TV) dan pertemuan secara fisik itulah yang disebut dengan kopi darat. Menurut jumlah pesertanya Reuni bisa disebut dengan reuni kecil atau reuni akbar. Tapi aku kok tidak pernah baca soal kopdar akbar ya? 😀 Adanya Pesta Blogger, yang konon namanya sudah berganti (lagi).

Reuni dengan mantan mahasiswa yang mengambil kuliah Bahasa Indonesia di Universitas S, bersama Sasaki Sensei

Nah kalau membaca definisi begitu maka aku juga jadi bingung sih ketika kemarin Sabtu (8 September) aku bertemu dengan mantan mahasiswa, murid bahasa Indonesiaku di Universitas S, yang sudah lulus 4 tahun yang lalu. Apakah pertemuan seperti ini bisa disebut sebagai reuni? Karena posisinya aku sebagai dosen dan mereka mahasiswaku kan? Biasanya Reuni adalah pertemuan antarmurid/mahasiswa….. tapi aku anggap saja itu reuni, karena aku punya prinsip: “Meskipun kedudukanku adalah pengajar, sebetulnya akupun belajar pada saat memberikan pelajaran/kuliah”. Dan senang sekali dengan kelas ini yang begitu kompak, selama kuliah dulu bahkan secara rutin juga bertemu (reuni) sesekali setelah lulus. Aku merasa bahagia mempunyai murid seperti mereka. Salah satu mahasiswanya, Tozu Arisa san, pernah kutulis di Kursi Roda dari Jepang

Tapi selama aku mudik ke Jakarta Agustus lalu, kalau dihitung aku jarang mengadakan kopdar secara rombongan (cuma satu kali yang di pasaraya itu saja ya). Karena itu aku membuat istilah baru, khusus untuk mudikku kali ini yaitu personal touch. Kopdar fisik yang lebih bersifat pribadi, dengan sentuhan pribadi, yang memungkinkan kami bercerita lebih banyak dan lebih dalam (emang laut hihihi).

Kalau personal touch #1 aku bertemu Reti Hatimungilku, dan personal touch #2 aku bertemu teman FB, Yeni Fransisca. Maka di personal touch #3 aku bertemu Nana Harmanto dan Broneo. Senang rasanya bisa bertemu mereka, yang waktu mama meninggalpun pada bulan Februari itu datang ke Jakarta. Tapi waktu itu tentu tidak bisa bicara lama-lama, sehingga waktu bertemu di Jakarta pas tanggal 17 Agustus itu aku bisa lebih santai untuk bercakap-cakap. Tema percakapan juga tidak jauh-jauh dari isi blog sih, terutama soal makanan yang beracun bagi tubuh setiap orang yang berbeda. Aku sebenarnya ingin sekali ke Tasik, tempat tinggal mereka, tapi karena bulan puasa/mendekati lebaran aku urungkan rencana itu. Semoga tahun-tahun mendatang/kesempatan mendatang aku bisa mampir ke sana, tentu jika broneo masih bertugas di sana.

Bertemu Nana dan Broneo, di Sency.

Personal touch #4ku adalah dengan Wita Fauzi. Sahabat Adik blogger yang sebetulnya sedang belajar di Rende, Italia (Tetangga jauhnya Roma). Kebetulan sekali dia juga sedang mudik ke Jakarta, namun karena sama-sama tidak punya pembantu, kami baru bisa bertemu tanggal 24 Agustus, sehari sebelum aku kembali ke  Jepang. Karena rumahnya lumayan dekat rumahku, dan sudah sering datang, kami tidak janji bertemu di luar. Kebetulan pas hari itu aku berjanji pada anak-anak untuk mengantar mereka ke kolam renang pagi-pagi, terakhir berenang sebelum kembali ke Tokyo. Dan Wita dengan tenangnya, “Gampang mbak, nanti aku nyusul ke kolam renang. Dekat rumah mtb kan?” Padahal aku yakin dia tidak bisa menemukan kolam yang berada terpencil begitu…eh ternyata sampai juga.. Memang kalau naik motor bisa aja ya cari-cari hehehe (EH tapi ini kurasa karena JIWA petualang si Wita aja yang tingkat tinggi. Wong dia bisa datang sendiri di rumahku di Nerima, Tokyo sana. SENDIRI! gokil bener deh!)

Bersama Wita di rumah… kameranya dibawa Gen ke TMII, jadi pakai BB deh hehehe

Sayang waktu dia sampai di kolam renang, kami sudah kembali ke rumah, jadi kami bertemu di rumah, dan melewatkan waktu tidak lebih dari 1 jam. Hanya bercerita-cerita soal Roma dna Italia, dan tentu tidak lupa untuk berfoto dong (namanya blogger tuh pasti harus narsis :D). Tapi ada satu yang begitu membuatku amat sangat terharu yaitu waktu dia menyerahkan oleh-oleh dari Roma. Sebuah ROSARIO….. Rosario (seperti tasbih untuk umat Islam, atau untuk umat Buddha) itu kami, umat katolik pakai untuk berdoa kepada Bunda Maria. Dan Rosario dari Roma, merupakan hadiah yang indah! Dan lebih indah dan bermakna untukku karena yang memberikan adalah seorang sahabat yang muslim. Aku sempat bertanya padanya, “Kamu tidak dilihat dengan aneh, seorang muslim berjilbab membeli rosario?” dijawab dengan tertawa…. dan …. satu lagi ucapannya di twitter waktu aku bilang “Ah aku juga mau coba kopi dari Italia” dia berkata, “Abis aku tidak berpikir kopi untuk kado untuk onesan (kakak perempuan)… cuma satu yang terpikir: Rosario”. Kopi dan rosario memang tidak bisa dibandingkan 🙂 Personal touch yang begitu mewah dan istimewa.

Ah Wita… terima kasih banyak… aku semakin yakin bahwa persahabatan kita melampaui kerangka agama atau pemikiran/dugaan lain yang mungkin dapat merusak persahabatan itu sendiri. Aku akan berdoa dengan caraku sendiri, semoga kamu kembali ke Rende dengan selamat, dan dapat meneruskan kuliahmu tanpa halangan. Dan siapa tahu setelah itu bisa belajar ke Jepang, atau London, negara impianmu yang lain. Kiranya persahabatan kita dapat abadi ya.

Tambahan informasi:

Rosario memang banyak dijual sebagai souvenir di toko-toko rohani. Jika ada yang memakainya sebagai kalung, tentu tidak bisa dilarang, karena terbatas sebagai souvenir dan belum diberkati. Tapi sebelum rosario baru kami pakai untuk berdoa, kami akan meminta berkat dulu dari pastor. Rosario yang terlah diberkati akan kami jaga, dan jika putus atau rusak, biasanya kami kumpulkan dengan hormat. Dulu mama pernah bilang bahwa rosario yang rusak harus dibuang ke laut, tidak boleh buang ke tempat sampah. Ternyata waktu aku baca di sini, dikatakan harus dibakar atau dikubur. Tapi sampai sekarang rosario-rosarioku yang rusak masih kusimpan saja.

 

Coba-coba & Personal Touch #2

Aku suka anak-anak karena mereka punya 好奇心( rasa ingin tahu) dan polos, dan aku selalu berusaha memberikan jawaban yang sewajar-wajarnya. Kadang aku bingung menjawab pertanyaan Kai yang suka aneh-aneh. Seperti kemarin malam waktu aku membacakan dongeng みにくいあひるのこ ”The Ugly Duckling” karya H.C. Andersen yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Sudah dua hari ini aku dan Riku bergantian membaca buku untuk Kai, mulai jam 8 malam sampai jam 9 lalu tidur dalam usaha mengurangi nonton TV.

“Ada seekor induk bebek yang sedang mengerami (menghangatkan) telur-telurnya. Kraaakk…kraaak satu persatu mulai menetas”
“Kalau tidak dihangatkan bagaimana?”
“Ya tidak lahir bebeknya”
“Kalau didinginkan?”
“Apalagi, kedinginan kan jadi tidak lahir….”
“Kalau dimakan gimana?”
“Kalau mama makan Kai gimana?” Dan aku pura-pura gigit Kai…..

Dibanding Riku, Kai tidak begitu suka mencoba sesuatu yang baru. Makanan apalagi. Dia hanya mau makan apa yang dia suka, sehingga kadang harus aku bujuk-bujuk untuk mencoba sesuatu. Sedangkan Riku, apa juga dia mau coba, makanan tentu nomor satu, tapi kegiatan lain yang dia belum pernah lakukan, dia juga mau mencoba. Seperti melompat dari papan setinggi 2 meter di kolam renang atau yang terakhir dia coba di Indonesia adalah Ice Skating.

Kebetulan tanggal 16 Agustus itu, aku janjian bertemu dengan Yeni Fransisca di Mall Taman Anggrek. Sudah lama aku tak ke sini, jadi kupikir mau mengajak anak-anak juga. Dan kupikir mereka bisa bermain dengan anaknya Yeni. Eh ternyata Yeni tidak jadi membawa anaknya. Jadi kupikir ya aku kasih lihat saja Ice Rink, tempat bermain Ice Skate di dalam Mall tersebut. Riku langsung bersinar-sinar matanya. Aku tahu dia ingin mencoba. Tapi aku tidak bisa menemani, jadi aku minta instruktur saja sekalian. Karena dia tidak bawa jaket, ya terpaksa aku membelikan jaket anti air sekalian supaya bisa dipakai juga di Jepang. Dan dia siap untuk mencoba sesuatu lagi yang baru!

Riku pertama kali mencoba ice skating di Mall Taman Anggrek

Memang rasanya lucu juga orang Jepang mencoba ice skating pertama kali justru di Jakarta, di negara yang tidak mengalami 4 musim 😀 Alasan pertama sih sebetulnya : karena jauuuh lebih murah mencoba di Indonesia daripada di Jepang 😀 Selain dari aku tidak tahu tempat terdekat rumahku itu di mana adanya. Biasa kan kalau sudah kembali ke Tokyo, banyak tugas yang harus dilakukan sehingga tidak terpikir untuk mencoba sesuatu yang baru. Ingin aku mengajak anak-anak ke Bali dan mencoba snorkeling (aku juga belum pernah). Prinsipku, kita harus mencoba segala sesuatu, urusan suka, atau tidak bisanya adalah urusan ke dua. YANG PENTING COBA!

Yeni bersama Riku dan Kai di ruang tunggu Ice Rink. Kameraku terputar settingnya sehingga hasilnya jelek…. 🙁

Dan tentu saja Riku tidak bisa melanjutkan ice skatingnya. Karena konsentrasi di kaki yang harus menjaga keseimbangan, maka kakinya cepat capai, dan menyelesaikan pelajarannya sebelum waktunya berakhir. Tidak apa. Jangan paksa. Karena kalau dipaksa dia akan benci dan tidak mau mencoba lagi. Yang pasti dia bangga sekali bisa mencoba Ice Skating.

Setelah Riku selesai, kami makan bersama Yeni. Aku bisa berbincang-bincang dengan Yeni mengenai hal-hal yang sama-sama kami ketahui yaitu mengenai penulisan. Aku memang kenal Yeni di Facebook, tapi aku selalu kagum pada tulisannya baik di status atau notes yang begitu memukau. Biasanya aku hanya membubuhkan “like” saja, dan jarang meninggalkan komentar,   bahkan aku tak meninggalkan jejak sama sekali dalam sebuah notes mengenai perjalanan spiritualnya yang kubaca. Tapi aku jadi lebih mengerti pribadinya dari tulisannya.  Dan aku seringkali diingatkan oleh tulisannya, tulisan khas yang sering disebut tulisan motivasi. Dan senang sekali bisa mendapatkan personal touch dengan Yeni waktu mudikku kemarin. Semoga persahabatan kita bisa terus berlangsung ya Yen. Terima kasih sudah menemani Riku juga bermain Ice Skating. Dan semoga, suatu saat (dalam waktu dekat) aku bisa membaca bukumu atau paling tidak blogmu 😀 😉

 

Aku bersama Yeni di Mall Taman Anggrek. Photo by Riku. Kai mengintip dari belakangku.

 

Perlukah Reuni?

Kurasa ada yang berkata, “Tidak perlu, karena toh baru saja lulus…” atau “Tidak perlu karena membosankan. Pembicaraannya itu-itu saja.” “Perlu untuk bernostalgia, mengenang kembali masa kecil, masa sekolah yang menyenangkan.””Perlu karena menjaga silaturahmi, siapa tahu pekerjaannya di bidang yang sama, sejenis, sehingga bisa saling bantu, saling mendukung” tapi…. “Ogah ah reuni, aku ngga sesukses teman-teman lain yang kaya raya. Minder!”

Dan aku juga setuju ketika seorang teman, Mas Goenoeng Mulyo mengatakan, “Sesungguhnya, reuni ataupun halal bihalal diadakan yaitu diperuntukkan bagi kebaikan dan menyambung silaturahim, dan diharapkan pada saat itu, bagi yang telah berhasil dan berlimpah harta, akan membantu meringankan beban yang membutuhkan, bukannya menjadikan hal itu menjadi ajang pamer keberhasilan dengan jumawa tanpa mengindahkan perasaan orang lain. hal yang demikian ini diperuntukkan hanya bagi orang2 yang berfikir dan punya hati. Maka, celakalah orang2 yang tak berfikir dan tak punya hati……” Memang sepatutnyalah kita membantu orang apalagi teman lama yang kesusahan, jika kita mampu.

Tahun ini aku hanya berhasil mengadakan reuni dengan teman-teman dari SD, SMP dan teman kuliah :D. Teman-teman masa usia 6 sampai 12 tahun, masih kecil rasanya, tapi ternyata ingatan kami masih jelas dan nyata. Kami masih bisa bercanda mengenai teman-teman dan guru-guru masa itu, padahal sudah lebih dari 30 tahun lamanya kami berpisah. Memang ada beberapa yang terus bersama sampai SMP, SMA, tapi kebanyakan berpencar kemana-mana. Kami senang sekali saat itu ada teman yang kebetulan mudik dari Qatar, Belgia, Melbourne dan Tokyo (aku) :D. Hampir semua dari 20 orang yang hadir aku kenal baik, cuma 3 orang yang tidak begitu kenal karena tidak pernah sekelas. Pulangnya aku diantar Pandu yang rumahnya cuma 500 meter dari rumahku. Dalam mobil kami sempat berbicara mengenai pendidikan di Jakarta sekarang yang semakin mahal. Dia punya tiga anak dan yang terkecil masih batita, wahhh kita berdua mengeluh… “Jalan masih panjang yaaa…..” Tapi…. tetap semangat!

Reuni SD di Cangkir Kafe, Panglima Polim. Sate Kambingnya di sini maknyuuuusss

Reuni teman SMP mungkin yang paling ramai, padahal pesertanya HANYA 8 orang cewek loh. Dan aku heran karena ternyata food courtnya PIM tidak sepenuh yang kami duga (hari biasa juga sih). Karena takut penuh, kami makan di Warung Bebek Batavia PIM 2 yang berada di dekat food court. Masakannya enak, karena aku sebetulnya jarang makan bebek. Bebek Kremesnya maknyus 😀 Entah ya, mungkin terasa enak karena teman-temannya enak ya? 😀 Aduuuh tante-tante ini memang rame! Dan aku senang sekali bisa bertemu teman yang bermukim di Canada. Kebetulan dia mudik juga, jadi aku memang lebih menyesuaikan dengan jadwal dia.

obatarians? reuni SMP di warung bebek Batavia PIM2

Kalau reuni teman mahasiswa secara resmi memang jarang kami lakukan. Pernah kami lakukan secara besar-besaran (menyewa tempat di hotel dengan acara pemutaran slide dan perkenalan anggota keluarga masing-masing) pada tahun 2006. Waktu itu kami memperingati 20 tahun pertemanan sejak masuk universitas, juga waktu memperingati 25 tahunnya tahun lalu kami peringati sederhana di Telaga Sampireun tahun lalu. Kali ini kami berbuka puasa dengan 10 orang saja (hampir setengahnya, karena angkatan sastra Jepang tahun 1986 hanya 23 orang :D) . Karena banyak yang bekerja di daerah Thamrin, atau rumahnya jauh-jauh, aku memilih Grand Indonesia sebagai tempat berkumpul. Oleh temanku yang bekerja di Wisma Nusantara disarankan pesan tempat di lekko. Tapi karena bulan puasa, kebanyakan restoran tidak mau menerima pesanan tempat. Jadi harus ada yang pergi lebih pagi untuk ngetek tempat. Jadilah aku ke sana pukul 4, supaya aku tidak kena macet juga sih. Aku sempat mampir ke gramedia juga untuk membeli buku-buku. Dan… baru tahu begitu sampai bahwa restoran itu adalah restoran Iga Peyet… hihihi. Aku biasanya jarang makan nasi di luar (Iga kan pasti pakai nasi) apalagi makan malam, tapi lumayan lah rasanya.

Teman-teman satu angkatan di sastra Jepang UI

Oh ya, kami bubar dari tempat itu pukul 8:30, tapi kok rasanya masih pagi ya. Jadi aku mengajak beberapa teman untuk hashigo (arti : anak tangga, pergi ke restoran lain) dan mau mencoba Magnum Cafe… dooooh ternyata harus antre ya 😀 Tidak jadi deh, soalnya status kami semua adalah ibu-ibu yang harus cepat pulang juga. Jadi berpisahlah kami di lobby GI dengan janji: buat reuni di Tokyo tahun depan (kalau bisa hahaha).

bagus juga GI untuk berfoto bersama ya? 😀

Ah, reuni itu memang menyenangkan. Banyak berita yang bisa dikejar, diketahui bersama. Asal kita membuang rasa iri kita, tentu saja kita bisa menikmati reuni, yang biasanya memang diadakan sekali setahun atau dalam waktu (angka) khusus. Topik yang sebetulnya paling menakutkan kami tapi harus diterima adalah “Sudah adakah teman kita yang menghadap Tuhan?” 🙁

So, kapan kalian reuni terakhir? Aku memang berusaha untuk bertemu dengan teman-teman, dan kadang memaksa teman-teman yang mau untuk mengadakan kumpul-kumpul saja, jika tidak bisa bereuni. Silaturahmi itu penting loh! Jangan menghubungi teman HANYA WAKTU PERLU saja 😉

 

Kopdar Keluarga #2

Lanjutan Kopdar Keluarga #1

Tadinya aku tidak mau memberikan judul yang sama dengan tulisan sebelumnya. Tapi ternyata banyak faktor yang mendukung untuk menempelkan kata ‘keluarga’ dalam tulisanku ini.

Setelah sempat nyasar untuk mencari alamat Dago Giri 90, kami hampir putus asa dan berniat untuk putar balik jalan yang telah kami daki cukup lama. Masalahnya nomor-nomor di situ tidak berurutan sama sekali. Tapi karena aku pernah melihat fotonya, aku tahu pasti bahwa perlu ketinggian yang cukup tinggi untuk mencapai tempat itu. Nah pas kami bermaksud untuk masuk sebuah jalan kecil untuk memutar itulah, aku melihat tulisan Dago Giri 90. Loh itu yang kami cari. Jadi kami menyusuri jalan kecil masuk ke perumahan. Ada sekitar 3 rumah di situ, dan kami menanyakan pada seorang kakek yang sedang menyusuri jalan yang sama.

“Pak ini menuju Warung Sitinggil?”
“Wah ngga tau… tapi dulu kalau tidak salah namanya Itempoeti tuh…”
“Oh ok pak…. benar kok”

Memang pemilik Warung Sitinggil yang akan kami tuju adalah Mahendra Itempoeti, seorang blogger juga. Aku ingin sekali berkunjung ke sini waktu melihat foto-fotonya pada saat launch buku “Perjalanan ke Atap Dunia” nya Daniel Mahendra. Karenanya aku sempat-sempatkan untuk mengunjungi warung ini pada mudik tahun ini.

Eh tahu-tahunya Warung ini adalah milik Sekar Utami, temanku di FB, yang istrinya Mahendra Itempoeti. Dan ternyata juga Sekar Utami adalah sepupu dari sahabatku Chandrakirti, yang sudah berteman sejak SD sampai SMA, bahkan sama-sama masuk Sastra (Dia sastra Inggris, aku sastra Jepang sih). Jadilah terasa lebih akrab dengan Mbak Ami. Eh ternyata juga waktu aku sudah ‘mendarat’ di warungnya, bertemu seorang pemuda. Mbak Ami bilang, “Itu adiknya Chandra loh…” Dan waktu si Mas Didit ini melihatku, “Novita ya?” Rupanya Didit ini sekelas dengan adikku di SMP. Loh…satu keluarga bisa satu almamater gitu :D. Ah, dunia memang kecil!

Tak lama setelah kami sampai di sini, Ata-chan dan Uda Vizon pun hadir. Keduanya bermobil dari Yogya semalam sebelumnya ke Bandung dengan tujuan memberikan kejutan juga pada Daniel. Senang sekali rasanya kedua tamu dari jauh bisa bergabung bersama di Bandung, di Warung Sitinggil. Pertemuanku dengan Ata-chan baru pertama kali, padahal kami sudah lama kenal lewat blog, sejak tahun 2008! Daniel dan Didien pun juga bergabung bersama. Didien yang temannya Ata-chan juga kukenal sudah lama, sejak awal-awal nge-blog. Dia baru menulis lagi setelah lama hiatus. Dan gongnya adalah kehadiran pak Hendra Grandis, yang aku sama sekali tidak tahu bahwa pak Grandis berencana akan datang. “Saya tidak mau janji dulu, takut tidak bisa memenuhi janji”, jadi aku cukup kaget melihat pak Grandis datang. Apalagi aku biasanya bertemu pak Grandis di kampus ITB, bersama pak Nanang Puspito, yang siangnya aku temui di Kartika Sari 😀

Oh ya, pak Grandis mengajak seorang putrinya bersama, dan dijemput juga oleh putrinya yang lain setelah buka…. Jadi pantas kan, jika aku katakan bahwa kopdar di Warung Sitinggil ini juga kopdar Keluarga? Kopdar Keluarga, bertempat di warung keluarga blogger, dengan suasana kekeluargaan sekali, seakan kami sudah biasa dan sering berkumpul bersama. Memang kalau dihitung waktu kami ‘bersama’ dalam dunia maya sebagai blogger, termasuk kategori blogger ‘tua’ :D.

Sebelum buka bersama kami sempat berfoto-foto bersama di lapangan luas yang membatasi kami dengan lembah, dan di kejauhan terlihat kota Bandung. Enaknya mempunyai lapangan luas yang bisa dipakai berlari-lari oleh Kai dan dia juga ‘menyapa’ anjing milik tuan rumah, yang tentu saja disambut dengan salakan.

Kami kemudian menyudahi acara berfoto untuk berbuka dengan es buah yang disediakan Mbak Ami. Sambil ngobrol, kami lanjutkan dengan makan malam, menu nasi bakar, ayam panggang dan goreng, serta lalapan. Makan dengan hidangan yang lezat dan pemandangan malam yang indah, bersama teman-teman …. dan udara mulai menjadi sejuk…. yummy sekali. Konon di sini waktu malam bisa mencapai 15 derajat!

Karena kami harus kembali ke Jakarta malam itu juga, dan ternyata Ata-chan masih mau cari kaos bola jadi kami bubar pukul 8 malam, sambil membawa bekal buku “Perjalanan ke Atap Dunia” menuju tempat tujuan masing-masing dan mengakhiri Kopdar Keluarga di Bandung.

Mungkinkah Kopdar Keluarga bisa dilaksanakan kembali tahun depan? Semoga……

 

 

Kopdar Keluarga #1

Bagaimana jika blogger beserta keluarga masing-masing bertemu dalam sebuah kopdar? Tentu seru dan ramai ya. Nah, tanggal 13 Agustus itu aku mengadakan kopdar emak-emak beserta anak-anak mereka di Bandung Coret.

Tahu kan Bandung Coret itu di mana? Ya, Bandung Coret itu adalah julukan tempat-tempat yang termasuk Kabupaten Bandung, tapi entah berapa km jaraknya dari pusat kota Bandung yang biasa Anda kenal :D. Pinggiran gitu ….. Jahat ya 😀

Pagi itu tanggal 13 Agustus, Senin pagi, aku berangkat dari rumah pukul 7:30 bersama Riku, Kai dan Krismariana. Sebetulnya mobilnya sudah siap dari jam 7, tapi biasalah ibu-ibu selalu ada saja yang mau dibawa. (Padahal tetap saja ada yang lupa). Kami langsung masuk tol dalam kota untuk kemudian menuju Bandung. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kemacetan Jakarta, dari arus balik/berlawanan. Mereka yang mau masuk ke Jakarta tapi terhenti di tol karena macet. Aduuuh benar-benar seperti parkiran di Disneyland Chiba sana yang gedeeee banget. Ini tol atau parkiran sih. Sama Bang Raja yang nyetirin mobil, kami berdiskusi, berapa banyak kerugian negara dengan kemacetan seperti itu. Rugi tenaga, rugi energi listrik dsb dsb dsb. Kalau cuma sekali-sekali sih masih mending, tapi katanya kemacetan seperti itu sudah lazim 🙁

 

duh, sampai pakai satu jalur lawannya? Tidak pernah lihat kejadian seperti ini di Jepang. Di sini juga suka macet di tol kalau musim liburan, tapi tetap jalan meski 10 km/jam. Jarang sampai terhenti total

Kami turun di pintu tol StoneFruit a.k.a Buah Batu, dan langsung mengikuti pesan dari GPS hidup, Jeng Nchie. Karena ini kali yang ke dua untukku melewati daerah itu, jadi sudah familier. GPSnya juga canggih sih 😀 Dan kali ini kami langsung masuk rumahnya Nchie. Katanya alasannya tahun lalu aku sudah ke rumahnya Bibi Erry, jadi giliran. Kami di sambut di depan pagar oleh kedua blogger bersahabat itu (katanya mereka bersahabat jauh sebelum mulai menulis loh). Dan setelah itu Diandra bergabung.

Lima blogger bertemu di Bandung Coret

Senang sekali bisa kopdar dengan tiga ibu empunya Bandung Coret dengan satu pasukan anak-anaknya. Tentu saja bapak-bapaknya tidak ada karena sedang gawe, tapi tanpa bapak-bapakpun aku tetap menamakan kopdar ini sebagai Kopdar Keluarga. Serunya pas berfoto bersama, karena aku lupa membawa tripod (kan ada yang lupa :D) jadi mesti ada salah satu yang tekan tombol deh. Udah gitu, kopdarnya di Bandung Coret tidak ada satu jam, karena ternyata aku ditunggu di Restoran Kartika Sari oleh petinggi ITB dan salah satu Bank, mantan teman-teman segereja di Meguro Tokyo. Maaf sudah membuat mas-mas  ini menunggu.

Blogger ibu-ibu dengan anak-anaknya di Bandung Coret

Riku dan Kai senang sekali di Restoran Kartika Sari itu karena ada tempat bermainnya. Jadi deh aku biarkan mereka bermain satu jam, sementara aku dan Kris makan siang di situ. Kami baru keluar tempat itu pukul 4:3o padahal aku merencanakan sudah berada di tempat selanjutnya pukul 4. Waktu kuhubungi orang yang ingin kutemui, ternyata mereka baru saja keluar dari restoran Kartika Sari dan sedang berbelanja di tempat lain. Waduh, padahal kami berada di satu tempat yang sama, kok bisa tidak ketemu. Memang sih restorannya di bagian belakang, dan bagian depannya ada penjualan oleh-oleh khas Bandung. Rupanya kami memang ditakdirkan untuk bertemunya di tempat yang telah ditentukan. Dan ternyata Kopdar Keluarga Bandung berlanjut di tempat berikutnya….

bersambung

 

Bertemu teman-teman mantan Meguro-kyokai di Kartika Sari. Mas Nanang dan Mas Bambang.

Personal Touch #1

Karena sesungguhnya pertemuan dua hati tidak dibatasi oleh tempat, waktu dan kwantitasnya. Tapi oleh keinginan dan pengertian dari kedua belah pihak. (IEVCM)

Setelah mengadakan kopdar pada tanggal 10 Agustus di Pasaraya Blok M, keesokan harinya aku bertemu dengan dua orang blogger. Yang satu belum mantan (semoga) meskipun sedang hiatus cukup lama, sedangkan yang satunya blogger aktif penulis masalah sosial yang memang cukup vokal menurutku. Vokal dalam arti semua pemikirannya ditumpahkan dalam blog, yang mungkin bagi sebagian orang akan dicap sebagai radikal. Tapi aku pribadi lebih banyak setujunya, meskipun aku mungkin tidak bisa menulis seperti dia.

Si “vokal” satu ini adalah Pito. Cukup lama aku mengenalnya, dan setiap aku pulkam kami juga cukup sering bertemu. Terakhir (mungkin tahun lalu) dia datang ke rumahku pas aku sedang packing untuk pulang. Dan dia ikut membantuku packing menghadapi koper-koper yang perlu diisi. Dengan dia, selalu bebas, dalam arti jika pas waktunya, “Nte.. aku ke rumah ya…” “OK…” atau aku akan mengajak dia bersama-sama bertemu temanku jika aku sudah ada janji sebelumnya. Dan dia akan dengan “anteng”nya duduk bersama kami, tidak pernah merasa kikuk. Malah sebaliknya aku sering dibantu menangani anak-anak. Kadang aku suka heran, Pito ini bisa menjadi baby sitter yang baik :D, bahkan baik sekali.

Hari itu aku janji bertemu dengan Reti dan Moza di Senayan City. Reti sulit mengikuti acara yang diadakan pada sore/malam hari karena harus keluar dengan Moza berdua saja. Tahun lalu, dia datang bersama om-nya ke acara kopdar Pasaraya. Tapi Om-nya yang sudah akrab juga dengan kami sudah meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi yang menemani Reti bepergian. Aku tahu betapa shock dan kehilangannya Reti ketika om nya meninggal. Apalagi sebulan setelah itu bapaknya di Surabaya juga kena stroke. Untunglah sekarang bapaknya sudah mengalami kemajuan dalam rehabilitasinya.

Aku sebenarnya merasa bersalah, meminta Reti dan Moza yang mendatangiku ke Senayan City. ‘Secara’ aku hanya butuh waktu 5 menit sampai di Sency, padahal Reti membutuhkan waktu 1,5 jam menembus kemacetan dari Bekasi ke Sency. Seharusnya aku yang mendatangi dia, tapi aku ‘buta’ sama sekali daerah Bekasi. Kelapa Gading saja aku tidak tahu 🙁 Dan Sabtu itu aku tidak ada supir yang bisa diandalkan untuk mencari alamat karena papa juga ada acara di gereja. Peringatan ulang tahun paroki kami yang ke 60, sehingga papa yang termasuk dalam Dewan Paroki harus ikut sibuk wara-wiri. Benar-benar aku menyesal tidak memilih tempat yang lebih dekat dengan kediamannya. Sebetulnya tempat mana sih yang asyik buat ketemu, yang di tengah-tengahnya Kebayoran dan Bekasi (Barat)?  Ada usul tidak? Untuk lain kali 😀

Tapi, sesuai dengan judul postinganku, dengan bertemu hanya sendiri atau berdua, terasa lebih akrab. Ada personal touch, ada ikatan batin yang lebih dekat, meskipun waktunya tidak sampai berjam-jam. Kami bisa bicara dari hati ke hati, sambil menikmati makanan, apalagi Pito membawa Moza jalan-jalan ke luar menonton TV sebesar kamarku di Jepang 😀 sambil lesehan 😀 Untung aku tidak ada di situ, jadi tidak bisa ambil foto ketika Pito dan Moza lesehan berdua 😀 Dan waktu yang mereka berikan padaku dan Reti cukup lama, sehingga kami benar-benar bisa bercerita tentang macam-macam. Yang pasti aku kagum pada keputusan Reti untuk membesarkan anaknya sendiri, tanpa pembantu dan baby sitter. Hebat! Memang konsekuensinya, kami tidak banyak bisa melihat update status di FB atau di blognya. Tapi itu tak mengapa, semuanya kan tergantung prioritasnya. Dan Reti lebih memprioritaskan keluarga terutama Moza. Aku angkat topi untuknya, karena tidak banyak yang bisa dan mau. Aku dukung dari jauh ya Reti dan Pito! Terima kasih untuk waktu dan kesediaan untuk bertemu, penuh dengan sentuhan pribadi yang mewarnai liburanku kali ini.

 

Reti-Aku dan Moza. Pito yang ambil fotonya, dengan BB. Karena aku dan Reti lupa bawa kamera 😀

 

 

Pasaraya dan Pak Djaelani

Rasanya kalau pulang kampung dan tidak bertemu teman-teman blogger yang sudah lama kenal memang tidak afdol ya. Maka dari itu, aku merencanakan pertemuan a.k.a kopdar blogger pada tanggal 10 Agustus yang lalu. Yang diundang sebetulnya siapa saja, tapi tentu saja teman-teman blogger yang dulu sudah pernah bertemu di Kopdar Pasaraya tahun 2011. Dan setelah berdiskusi dengan mas Necky, diputuskan untuk tetap memakai Food Court Pasaraya sebagai tempat berkumpul. Dengan pemikiran dekat dengan terminal bus sehingga bisa langsung pulang cepat. Segera kubuat undangannya via event di FB. Praktis ya dengan cara ini, namun tidak bisa diandalkan bagi yang jarang buka FB.

Meskipun aku tahu bahwa resiko membuat acara buka bersama di hari Jumat itu sebetulnya riskan sekali, karena biasanya masing-masing komunitas akan mengisi kegiatan di bulan puasa pada hari Jumat dan Sabtu. Tapi kupikir bukan jumlah pesertanya yang penting, tapi kebersamaannya. Dan benar saja, dengan kehadiran teman-teman ini acara bukber/kopdar blogger Jakarta bisa berlangsung dengan sukses. Aku memang datang yang pertama, maklumlah pengangguran. Kemudian Ibu Enny juga hadir, sehingga kami berdua punya cukup banyak waktu untuk berbincang berdua. Sekitar pukul 5 lewat Krismariana bergabung, dan kami mulai memesan minuman untuk buka (yang buka sih Cuma ibu Enny).

Nah waktu aku habis memesan ketoprak, dari jauh kulihat seorang gadis berjilbab sedang asyik dengan BB nya di tengah jalan orang lalu-lalang. Aku langsung mencari BB ku dalam tas, karena takut ada yang mencariku tapi tak terjawab dan bingung. Kami memang duduk di tempat yang terpisah dari keramaian, sehingga agak sulit untuk dicari. Dan, ternyata memang si gadis itu adalah Inon. Dia cukup modis, tapi itu karena aku tak tahu bahwa ada cerita heboh sebelum ke Pasaraya.

Dan aku juga kaget karena ternyata Mas NH yang tidak mengkonfirm kedatangannya, tiba-tiba muncul. Selanjutnya yang datang adalah Dhana dan temannya. Dhana pada saat itu bukan blogger tapi sebagai pembaca TE, tapi keesokan harinya dia resmi menjadi blogger karena sudah memberitahukan blognya kepadaku. Kalau sempat silakan main juga di sini. Dhana pernah menjadi perawat di Kumamoto, Jepang dan sudah kembali bertugas di RSCM. Satu lagi pembaca setia TE adalah Elizabeth Novianti, yang setiap tahun, pasti kami bertemu. Tahun lalu di kami berdua mencoba restoran Meradelima. Dan sebagai peserta terakhir datangnya (karena macet di busway) adalah Mas Necky.

 

Apa saja ya bahasan kita? Sudah banyak yang lupa, tapi yang kuingat kami membahas soal peraturan imigrasi bagi orang Indonesia. Semisal paspor yang masa berlakunya kurang dari 6 bulan, atau posisi anak-anak kelahiran ibu WNI dan ayah WNA (seperti Riku dan Kai), atau anak Indonesia yang lahir di Amerika yang harus mempunyai paspor Amerika (tidak bisa apply visa) dsb.

Enaknya bukber di Pasaraya ini, karena dibanding dengan restoran di mall lain, relatif lebih sepi. Makanannya juga beragam dan terjangkau jika tidak bisa dibilang lebih murah. Yang pasti ada sate padang Mak Syukurnya 😀 (Rp. 20.000 saja per porsi) yang begitu maknyus deh 😀 Aku pasti pesan sate padang ini kalau pergi ke Pasaraya. (duuuh sambil nulis aja jadi ngiler lagi deh hehehe, kapan bisa ke sana lagi ya….)

 

Akhirnya sekitar pukul 8:30 kami bubar, setelah berfoto bersama tentunya. Dan masalahnya adalah taxi saat itu amat sulit. Rupanya ada kecelakaan beruntun di Senayan, sehingga macetnya minta ampun. Kebetulan ada satu taxi aku naiki bersama Novi, supaya sesudah mengantarkan aku, bisa langsung ke rumahnya di Depok. Yang lucu setelah aku sampai di rumah, Novi mengirim BBM :
Novi: Mbaak taxinya bau ya… 😀
Aku: Makanya aku buka jendelanya hahaha
Novi : Ya, baunya keras d posisi mbak duduk. Krn pas angin ac nya. Posisiku tdk terlalu
AKU : Ya makanya jangan pindah 😀
Novi: Makanya aku pindah posisi lagi 😀

Aku sering menghadapi situasi seperti begini. Supir BB (bukan burung biru tapi bau badan) sehingga mabok deh rasanya. Biasanya aku buka sedikit jendelanya. Tapi pernah loh di Tokyo, aku naik taxi baru, mobilnya baru berbahan bakar listrik. Tapi kok bau ya? Kupikir tadinya karena bau plastik sehingga bau, tapi sepertinya BM alias bau mulut sang supir. Duh benar-benar sengsara deh, sehingga aku perlu mengalihkan pikiran sehingga tidak ‘tercium’. Untung jaraknya ‘hanya’ 20 menit, kalau lebih bisa pingsan aku 😀

 

Tuh kan tulisannya ngalor ngidul lagi. Tapi sebetulnya dari judul posting ini, aku belum menceritakan siapa itu Pak Djaelani kan?

OK, aku mau memperkenalkan supir bajaj ‘keluarga’ kami. Rupanya asisten rumah tangga kami sering memakai jasa pak Djaelani ini untuk antar jemput anak-anak (keponakanku = sepupu Riku dan Kai). Nah karena parno macet ke acara bukber di Pasaraya, kupikir lebih baik aku naik bajaj dari rumah, dan aku meminta asisten kami untuk memanggil bajaj. Sesudah bajaj sampai depan pintu rumah, aku naik dan sempat mengganti status di BB : “Perfume Chanel No 5, mobilnya bajaj orange”.

Seru juga naik bajaj, dan memang lebih bisa nyelip di kerumunan mobil-mobil. Tapi, aku heran mengapa dia tidak masuk ke jalan yang sebelah gereja Effatha.

“Pak, kok belok kiri…”
“Ngga boleh masuk situ. Nanti lewat sana”
Ya sudah kupikir mustinya dia tau dong… Dan dia ikut antri untuk ambil karcis parkir di pintu masuk yang depannya hotel Ambhara. Sambil antri dia berkata,
“Ibunya Sofie ya?”
Loh kok dia tahu?

“Bukan pak, saya tantenya….. “
“Kakaknya ibunya Sofie ya?”
“Iya, makanya gede…” sambil manyun hihihi

“Saya sering anter sofie. Dulu oma suka bilang sama saya… hati-hati bawa anak-anak… Kasian ya Oma…sepi sekarang”
………………. Dan aku terharu… amat terharu. Sekali lagi aku menemukan orang yang mengenal oma (mama). Dia terlihat tulus menyatakan kesepian tak ada oma. Aku harus menahan air mataku.

Tapi, dia tidak membawaku ke jalan sebelah kiri tempat Pasaraya berada.

“Loh mau ke mana pak?”
“Sana…”
“Udah pak sini aja. Nanti saya jalan”, dan aku keluar dari bajajnya dan membayar lebih + 2000 untuk masuk. “Titip anak-anak kalau antar ya….”
Dan aku harus berjalan melalui jalan rusak di depan Gramedia Blok M, yang sepi, sambil ketakutan juga, jangan sampai dijambret. Pak Djaelani, kalau tadi kamu belok kiri di sebelah Effatha, aku tidak perlu jalan jauh. Tapi dengan demikian aku kehilangan moment mengenang mama.

 

Sesaat sebelum turun aku tanya boleh ambil foto tidak 😀 Dan inilah fotonya. Ternyata si Opa (papaku) pun sampai punya no HP nya! Dan aku pernah sms padanya minta “dijemput” untuk pergi bukber daerah blok M ahhahahaa Canggih supir bajaj sekarang

Salah satu episode Perjalanan Hati 2012.

Family Outing

Sudah lama keluarga inti kami (coutriers) tidak mengadakan acara pergi bersama. Tentu saja sejak kami tercerai-berai tempat tinggalnya, kami sulit untuk bisa berkumpul dan bepergian bersama. Bepergian dalam arti bertamasya, berlibur. Aku selalu ingin mengajak mama pergi, waktu mama masih hidup, paling sedikit ke Yogyakarta dan menengok makam ibunya. Tapi kata mama, “Ah makam itu juga sudah tidak ada, sudah tidak tahu ada di mana.” Dan karena masalah kesehatan mamapun, aku tidak pernah bisa mengajak mama pergi. Terakhir kami (Papa, Mama dan 3 putri + keluarga masing-masing) pergi bersama adalah waktu kami mengadakan perjalanan ke Eropa melalui Natal dan Tahun Baru tahun 2002.

 

Family’s Journey to Germany 2002

Aku juga sebetulnya sudah merencanakan mengadakan perjalanan ke Yogya pada liburan musim panas ini, yang terpaksa kami batalkan karena mama menghadap Bapa bulan Februari lalu. Rencananya keluarga Gen dan papa-mamanya akan berlibur ke Yogya dan sepulang dari sana, mampir Jakarta, memperingati ulang tahun pernikahan ke 45 bagi Miyashita dan Coutrier. Namun tidak bisa kami laksanakan sesuai rencana. Sekali lagi kami diingatkan bahwa manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.

Nah, pada tanggal 4-5 Agustus lalu, Papa, aku + anak-anak serta adikku Novi + keluarga, total 9 orang mengadakan outing (cukup) mendadak ke Cisarua. Rencananya Sabtu pagi-pagi kami menuju ke Taman Safari bersama Kimiyo karena dia mau mengajak anaknya ke sana, lalu bermain bersama. Sementara Kimiyo kembali ke Jakarta karena sudah ada rencana untuk hari Minggunya kami tetap di Cisarua dan menginap di hotel dekat Taman Safari yang bernama Hotel Seruni. Chris, suami Novi sering menginap di situ jika ada seminar-seminar kantornya, dan terkesan dengan besarnya hotel itu. Tapi sekali lagi manusia hanya bisa berencana, karena ternyata Ao-kun, anak Kimiyo demam sehingga terpaksa agenda ke Taman Safari dibatalkan. Kami sendiri karena sudah sering ke Taman Safari, tetap pergi ke Cisarua, tapi langsung ke hotelnya saja, dan santai di hotelnya.

 

Bermain di Cimory yang puanas terik!

HADUUUH hebohnya 9 orang mau pergi semalam aja. Aku geleng-geleng kepala lihat persiapan adikku, selimut, baju tebal, cup noodle, snack segala oreo keripik singkong dkk, susu kotak, baju ganti, dsb dsb, persis orang mau pindahan. Aku di Jepang kalau pergi semalam, paling Cuma bawa baju ganti atasan + daleman (kecuali Kai ya), semua cukup satu tas ransel yang bisa digeret. Karena makanan, minuman dsb gampang bisa beli di perjalanan, serta di hotel pasti disediakan amenities + yukata untuk tidur (jadi tidak usah bawa baju tidur). Makanya aku tertawa melihat bagasi mobil Kijang kami penuuuh sesak dengan bawaan kami.

Kami berangkat pukul 9 an, santai, karena tidak berencana ke Taman Safari. Jalanan tidak macet, lancar jaya, sesekali macet setelah keluar pintu tol karena dekat pasar. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 12, dan kami lapar! Jadi kami bertujuan ke Cimory untuk makan siang. BUT, waktu kami sampai di sana, tertulis : “Restoran buka jam 4, Toko buka”. Kami tetap mampir, pikirnya biar anak-anak bermain. TAPI panas teriiiik. Dalam keadaan lapar dan panas, semua menjadi koro-koro (bahasa Makassar berarti kesal). Jadi kami cepat naik mobil lagi dan bermaksud mencari restoran lain, apa saja yang buka.

Hotel seruni yang kami inapi semalam. Bagus tapi…. menurutku terlalu “rame” hiasannya. Hmmm perpaduan Bali dan Perancis gimana gituuuu

TAPI TERNYATA SAUDARA-SAUDARA (terutama yang kristen), jangan berpergian tanpa makan siang di bulan puasa ke arah Puncak deh! TIDAK ADA YANG BUKA! Baik resto, kentucky, mac donald di sepanjang jalan ke Cisarua itu. Kami tidak naik sampai ke Puncak Passnya sih karena langsung berbelok masuk ke arah Taman Safari. Cukup kesal aku melihat keadaan ini, karena aku pikir, bagaimana jika aku membawa turis asing saat itu? Untung saja Kimiyo tidak jadi ikut. Seharusnya ormas yang melarang pembukaan (kabarnya resto ini takut disweeping ormas tertentu) berpikir dong bahwa arah situ merupakan tujuan wisata juga. Bagaimana mau memajukan pariwisata kalau begini. Tapi sudahlah, aku hanya bisa cuap-cuap lewat status BB, yang ditanggapi teman baikku, Ika. Dia sampai menulis, “Udah mel, kamu ke Indomart, beli cup noodle apa kek, buat anak-anak supaya jangan kelaparan”. Kujawab, “Aku tidak mau makan cup noodle waktu tamasya! Maunya makan enak kok.” Dan dijawab, “WELCOME TO INDONESIA MEL!” hahahaha. Ika, ika, i will miss you when I’m back to Japan. Semoga…semoga BB ku masih bisa dipakai di Jepang 😀 sehingga kita berdua bisa “mendiskusikan” Indonesia KITA!

JADI, aku harus mencabut tawaku tadi yang menertawakan persiapan adikku membawa cup noodle segala kan?

Sebagai solusi, kami langsung saja pergi ke Hotel Seruni, untuk cek in. DAN, kabar gembira! Restoran BUKA 24 jam!!! Muachh deh pengen aku cium tuh orang-orang hotel semua 😀 Jadi, satu alternatif bagi wisatawan non muslim, kalau mencari lunch di bulan puasa, PERGILAH KE HOTEL!

interior dan pemandangan dari kamarku yang di lantai 3

Jadi deh bersembilan masuk restoran yang amat luas, dan pesan makanan. KALAP 😀 Makanannya cukup enak loh. Ada Nasi Bali, Chicken Cordon Blue, Gado-gado dan spaghetti. Sayangnya spaghetti meat sauce pesanan Riku lamaaaa sekali baru datang, padahal spaghetti carbonaranya yang pertama datang 😀 Kasihan Riku musti menunggu lama…. “Dagingnya masih dibeli di pasar, dipotong, digiling, dibuat saus… jadinya lama Riku” 😀 Setelah makan, kami masuk kamar, dan anak-anak pergi berenang.

Boleh dikatakan kami hanya menghabiskan waktu di kamar dan di kolam renang. Tapi aku sempat beberapa kali di tengah malam keluar ke Restoran dan menggunakan internet (wifi) di sana. Soalnya di kamar tidak ada wifinya. Aku sempat mengirimkan nilai mahasiswa dan update posting TE dari sana.

berenang dan menikmati pemandangan alam. opa juga enjoy tuh

Minggunya kami keluar Hotel itu pukul 2 siang menuju Jakarta. Masih berharap Cimory buka karena mendengar desas-desus buka, tapi ternyata tidak buka. Kami langsung menuju Jakarta melewati jalan yang lancar jaya. Bulan Puasa memang surga di jalanan ke/dari Puncak…sepiiiiii. Tapi ya itu dia, jangan berharap dapat makan 😀

Kami sampai di Kebayoran Baru pukul 3 siang, dan masuk restoran Mandala di dekat pasar Santa. Aku baru pertama kali masuk restoran ini. Sebuah restoran yang kecil, khas chinese, tapi begitu ramai. Waktu kami datang, kami masih harus berdiri nunggu giliran meja kosong. Kami tetap tunggu sampai ada meja kosong, dan penantian kami terbalaskan oleh masakan yang enak-enak. Seperti kata Dodo, temanku, Sup Tahu Seafoodnya nomor satu!

 

Restoran yang sudah ada sejak aku kecil, namun aku baru pertama kalinya ke sini. Biasanya ke restoran saudaranya (Mandala Baru) di Mayestik. Sup Tahunya memang enak.

Akhir pekan dengan family outing yang singkat, tapi padat dengan pengalaman.

Perjalanan Hati

Sudah pernah baca buku “Perjalanan Ke Atap Dunia”nya Daniel Mahendra? Buat yang pernah bermimpi melanglang buana kurasa buku ini patut dibaca. Aku sendiri baru saja mendapatkan buku ini beserta tandatangan pengarangnya, meskipun aku sudah baca catatan perjalanannya ke Tibet waktu dituliskan di blognya, setahun yang lalu.

Dalam percakapanku dengan Danny, aku mengatakan, “Aku bukan backpacker, meskipun aku suka berwisata. Tapi ternyata aku TIDAK mencari keindahan suatu daerah/kota, karena jika aku bepergian aku lebih mencari orang-orang yang kukenal. Aku akan berusaha pergi ke suatu tempat yang baru jika aku kenal seseorang yang tinggal di situ. Untuk menemuinya, dan keindahan tempat di situ (wisatanya dan pertemuan dengan orang lain lagi) hanya menjadi sebuah bonus. Aku jarang bahkan tidak pernah menentukan tujuan kepergianku tanpa ada pertemuan dengan seseorang. Entah itu Amsterdam, New York, Manchester, dll semua pasti ada temanku atau saudaraku di sana. Perjalananku adalah perjalanan hati.” Aku ingin sekali pergi ke Surabaya menemui teman SMP Gatot dan teman SMA ku Nana, atau ke Tasik menemui Nana Harmanto dan BroNeo, atau ke tempat-tempat lain dimana ada temanku di sana. Sayangnya waktu yang kupunya (dan dana tentunya) tidak mendukung, sehingga perlu dibuat daftar yang cukup panjang.

Namun salah satu tujuan setiap aku mudik, berhasil aku laksanakan pada tanggal 3 Agustus yang lalu, yaitu ke Rumah Dunia. Kebetulan sekali ada acara bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia” karya Daniel Mahendra yang dibedah Yudi Kudaliar Febrianto yang merupakan rangkaian acara Nyenyore, program “ngabuburit” ala Rumah Dunia. Sebetulnya aku ingin mengikuti acara Kado Lebaran untuk anak-anak pada tanggal 5 nya, tapi karena aku sudah ada rencana lain, kupikir aku majukan saja rencana pergi ke Rumah Dunia nya pada tanggal 3 Agustus itu. Lagipula selama aku kenal Danny, aku belum pernah datang pada acara launching atau bedah buku karyanya (Epitaph dan Perjalanan ke Atap Dunia” ). Oleh Yudi dikatakan buku PKAD ini sebagai RACUN! Mau mengetahui sebabnya silakan baca ulasan Yudi di sini.

Aku mengikuti acara ini sampai sekitar pukul 5 (dimulai pukul 4 lewat), sambil kemudian aku bersama mbak Tias Tatanka (istri Gol A Gong) mempersiapkan es teler dan makanan kecil untuk acara berbuka. Meskipun demikian aku sempat mendengar “malu-malu”nya Danny ketika mengatakan, “PKAD ini menurut saya memberikan kebahagian yang begitu besar, karena selain dibukukan dalam jangka waktu setahun setelah perjalanan, buku PKAD juga yang memberikan seorang calon istri kepada saya”. Ya, akhirnya seorang Daniel Mahendra, mengumumkan bahwa dia akan mengakhiri masa lajangnya. Siapa calonnya? Tunggu saja press release DM karena bukan wewenangku untuk memperkenalkan siapa calonnya, yang pasti inisialnya adalah LS. 😀

Aku selalu senang melihat kegiatan Mbak Tias dan Mas Gong dalam menjalankan gempa literasi dengan berbagai kegiatan di Rumah Dunia. Kadang jika membaca kegiatan mereka berdua yang tak ada hentinya, aku merasa capek sendiri, dan berdoa semoga keduanya tetap diberikan kesehatan dan energi yang melimpah oleh Yang Mahakuasa. Kali itu aku juga sempat mengobrol dengan ibunda Mas Gong, yang kami panggil Nenek, seorang perempuan bersahaja yang melahirkan penulis novel terkenal. Dalam pembicaraan seperti begitu, aku sering harus menjelaskan kehidupanku di Jepang, yang bagi yang mendengar seakan “hebat” tapi menurutku biasa saja. Selalu ada sisi positif dan sisi negatif, di mana saja kita berada dan tinggal.

Sore yang tidak terlalu panas jika tidak bisa dikatakan sejuk, berubah menjadi malam yang pekat. Satu hal yang mungkin perlu diketahui teman-teman Rumah Dunia dibangun secara gotong royong dan sukarela sehingga tempatnya benar-benar berada dalam lingkungan pemukiman, dan tidak mempunyai listrik jalanan yang memadai. Hal itu terasa sekali waktu kami ingin berfoto bersama di depan panggung Balai Belajar Bersama yang tanpa pencahayaan. Untung aku cepat meminta supirku untuk memutar mobil dan membantu penerangan ke arah balai sehingga masih bisa membuat foto seperti ini. (Foto courtesy of Yudi  Febrianto)

Satu-satunya foto yang membuktikan bahwa aku pergi ke RD tanggal 3 Agustus itu 😀

Karena makan malam yang berupa gojlengan akan disajikan pukul 8:30, padahal aku masih harus pulang ke Jakarta, maka aku mohon pamit. Tapi sebelum itu sempat mengikuti acara tiup lilin ulang tahun Mbak Tias yang bintangnya sama dengan suaminya yang akan berulang tahun tanggal 15 Agustus mendatang. Ah ternyata banyak sekali teman-teman akrabku yang berbintang Leo!

Tetapi karena merasa belum puas mengobrol, Koelit Ketjil (KK) mengajak ngopi bersama. Berdelapan termasuk aku dan Mas Gong beranjak menuju kedai kopi di depan kepolisian Serang. Kedai kopi yang cukup lengkap menyediakan berbagai macam kopi, bukan hanya “nama” asing dengan pilihan kopi yang kurang maknyus. Aku dan KK memilih kopi Lanang Aceh sebagai pilihan kami, sementara Mas Gong yang bukan penikmat kopi memilih Hot Chocolate. Ternyata tepat sekali pilihanku, kopi Aceh memang maknyus sekali. Setelah ngalor ngidul bicara soal pendidikan luar sekolah di Jepang sampai pada wejangan untuk calon pengantin baru, kami berjabat tangan perpisahan pukul 8:15. Akupun kembali ke Jakarta menembus jalan tol yang masih padat terutama oleh truk-truk dan kendaraan berat lainnya dalam pekatnya malam. Namun kutahu hatiku tidak pekat, karena selalu ada cahaya-cahaya harapan bagi negeriku tercinta. Cahaya yang dipancarkan sahabat-sahabat yang berusaha membangun dunia melalui literasi dan buku. Kudoakan Rumah Dunia akan tetap terus berdiri dan menjadi contoh bagi Taman Baca lainnya. Banzai!

 

Peserta sesi lanjutan acara Nyenyore di Kedai Kopi