Arsip Tag: sendai

Apa permohonanmu?

Hari ini adalah Festival Tanabata, keterangannya bisa dilihat di posting saya tahun lalu. Dan selalu setiap menjelang Tanabata ini, siapa saja, terutama anak-anak bisa menuliskan permohonannya di kertas yang diberi nama 短冊 tanzaku, untuk kemudian digantungkan di daun Sasa (seperti bambu halus). Jadi hari ini Riku dan Kai membawa pulang daun Sasa itu beserta permohonannya untuk ditaruh dan menjadi hiasan di rumah.

Permohonan Riku yang dia tulis sendiri adalah : “はやくはしれますように Hayaku Hashiremasuyouni Semoga bisa berlari cepat”. Sedangkan permohonan Kai, tentu saja saya yang tuliskan, “Semoga sehat selalu”.

Peringatan Tanabata yang terkenal di Jepang diadakan di Sendai, Tohoku (Jepang Utara). Bermacam hiasan tanabata yang besar-besar dapat ditemui di sana. Tahun 1994, saya pernah keliling Tohoku (Jepang Utara) untuk mengikuti 3 festival musim panas yang terkenal di Jepang, dan salah satunya adalah Tanabata ini.

Berfoto di Stasiun Sendai
Berfoto di Stasiun Sendai (jadul banget yak)

Ada satu lagu yang khusus dinyanyikan pada waktu tanabata yang berjudul “Tanabata sama”. Lagunya bisa dinikmati melalui clip dari Youtube.

1、ささの葉 さらさら  Sasa no ha sara sara
のきばにゆれる  nokiba ni yureru
お星さま きらきら ohoshisama kira-kira
金銀砂子(きんぎんすなご) kin gin sunago

2、五色(ごしき)の たんざく  goshiki no tanzaku
私が書いた  watashi ga kaita
お星さま きらきら  ohoshi sama kira-kira
空から見てる Sora kara miteru

So, di hari Tanabata ini, jika ditanya apa permohonan Anda? Anda akan menuliskan apa di Tanzaku itu? (Mungkin untuk tahun ini saya akan tulis, semoga pemilihan presiden RI esok hari bisa lancar dan aman)

40-PLAN

Masih oleh-oleh dari Sendai nih….. Meskipun hanya 2 hari 1 malam, dan dengan driving melelahkan — 6 jam menuju Sendai, dan 8 jam pulangnya — Saya enjoy sekali liburan kali ini… suatu kemewahan yang sudah lama tidak dirasakan. Ternyata fresh air, pemandangan yang lain dari biasa, bertemu dengan orang-orang yang kita sukai, sangat berarti dalam kehidupan kita. Hari kedua (tgl 14 Oct) kami bangun jam 8 pagi, dan jam 9 sudah siap to hit the road. So? mau sarapan apa? Daripada makan pagi yang ada di Hotel yang memang murah tapi belum tentu enak, kami telpon adiknya Gen, menanyakan restoran yang enak. Sambil tunggu balasan teleponnya, kami bersiap-siap dan menuju ke Kebun Binatang, kalau perlu kita buang waktu di sana…pikirnya. Tapi belum sampai di Kebun Binatang, kami mendapat telepon bahwa lebih baik kita pergi sarapan bersama. So, janji bertemu sekitar jam 10:30 – 11 :00 di lobby Hotel koyo Grande Hotel. Hotel yang terkenal di Sendai, meskipun belum tentu saya mau nginap di situ (waktu saya periksa di internet, ternyata hotel ini juga tidak mahal-mahal banget loh. Kalau untuk bisnisman cukup 4000-5000 yen untuk single room.. MURAH!….. tapi masalahnya ada kamar kosong atau tidak ya. Dan kebanyakan yang memakai hotel ini adalah pengantin baru, karena sekaligus membuat pesta nikah di sini)


Tujuan tempat sarapan kita ternyata terletak sekitar 5 menit berjalan kaki dari hotel tersebut, sebuah restoran dengan counter dengan 5 kursi dan sebuah sofa/kursi untuk 5 orang, meja kecil dan counter menghadap jendela untuk 2-3 orang. Kecil untuk ukuran orang Indonesia yang kaya akan space, tapi apik. Dan yang istimewa di sini adalah, menyediakan mainan/buku untuk pengunjung yang membawa anak-anak.  Yang melayani kami seorang ibu di belakang counter dan seorang remaja yang membawa piring-piring ke depan. Menu yang disediakan hanya satu macam untuk sarapan (s/d jam 11 siang) dan dua macam yaitu Kare atau something tergantung harinya. Dan ternyata Nasi Kare di sini terkenal sehingga jika datang jam 1:30 pasti sudah kehabisan makanan.

Kami 4 dewasa dan Riku, Kai, dan Nobu memesan menu sarapan yang terdiri dari onigiri dari beras campur (putih dan merah) kische dan salad. Tapi….. kami juga ingin makan Kare, sehingga kami bungkus saja onigirinya kemudian begitu jam menunjukkan pukul 11, kami pesan Kare. Hmmm saya tidak begitu suka Kare, tapi kare dari restoran ini enak. Oishii gohan おいしいご飯, nakayoku kyoudai 仲良く兄弟, kaitekina fun-iki 快適な雰囲気・・・最高 (makanan yang enak, persaudaraan yang akrab dan suasana yang menunjang…. nothing to complain.

Restoran ini bernama 40-plan. Nama yang aneh… tapi begitu kami tanyakan… Ryoko menjawab  bahwa itu adalah tekad mereka (si pembuat restoran) yang ingin mewujudkan impian dengan membuat restoran sebelum mereka menjelang  berumur 40 tahun. Wow…. Saya sudah 40 tahun, tapi apakah rencanaku sebelum ini? atau adakah rencanaku misalnya nanti menjelang 45 atau 50 atau 70 tahun (kalau masih hidup). Fffff berat… dalam…. dan terus terang saya tidak punya rencana yang konkrit. Que sera sera….

Riku berkata,"Papa dan Om Taku bajunya sama belang-belang ya... Anak Kembar sih"

Nobu-kun

Kali ini trip ke Sendai memang begitu tergesa-gesa. Lebih dari 6 bulan berselang (Trip to Sendai) waktu kami pertama kali bermobil mengunjungi  kota tempat adiknya Gen bermukim yang terletak di  Jepang Utara. Sampai saat keberangkatan, banyak masalah yang timbul. Masalah mobil yang jendelanya tidak bisa menutup, karena rotornya rusak. Kemudian hari Olahraganya Riku yang ditunda menjadi hari Minggu, menyebabkan kita baru bisa berangkat jam 2 siang…paling cepat. Tapi masalah yang terpenting adalah penginapan. Karena tanggal 13 (Senin) merupakan hari libur dan hari TAIAN (Hari baik menurut kalender Jepang, sehingga banyak diadakan upacara-upacara pernikahan, 3-5-7 dll)Jadi semua hotel penuh. Lagipula kita tidak bisa memperkirakan kita akan sampai di sana jam berapa. Mau menginap di rumah adik ipar juga akan mengganggu ritme sang bayi yang menjadi primadona kali ini. Jadi kami putuskan untuk pergi hari Senin dini hari pukul 4 pagi, sehingga bisa sampai pada waktunya yaitu jam 11 siang di Kuil Shinto, Tsutsujigaoka Tenmanggu.

Tanggal 13 Oktober bukanlah hari sial untuk orang Jepang (kalau dilihat dari angka), yang penting adalah hari TAIAN dilihat dari nama kalender, seperti kalender jawa yang  5 hari itu. Hari itu, pertama kalinya keponakan saya, sepupu Riku dan Kai, akan “berkunjung” ke Kuil Shinto. Sebuah upacara yang dinamakan Omiyamairi お宮参り. Biasanya bayi berkunjung ke Kuil ini pada waktu berumur 100 hari, tapi Nobu-kun ini sudah berusia 4 bulan. Tidak apalah daripada tidak sama sekali. Untuk saya ini merupakan pertama kalinya  mengikuti upacara Omiyamairi yang “asli”, karena Riku pergi ke Kuil hanya lewat depannya saja, demikian juga dengan Kai. Tapi karena altar Kuil Shinto itu suci, kami tidak bisa membuat foto. Dan sebetulnya tidak ada yang “penting” untuk difoto. Pendeta Shinto hanya berdoa dengan memakai semacam tongkat berumbai kertas putih, dan memberikan berkatnya ke Bayi yang digendong oleh ibu dari keluarga Miyashita (ibu mertua saya). Nothing to do…hanya mendengar saja.

Karena ini merupakan kesempatan langka juga bagi keluarga Miyashita untuk berkumpul dengan lengkap dan berkimono (saya tidak loh…hanya pakai kebaya yang paliiiiing sederhana warnanya karena jika tidak saya jadi menonjol sendiri kan? sedangkan yang punya hajat adalah adiknya Gen), kami berfoto bersama di photo studio yang terletak di dekat Kuil itu. Aduuuuuh sulitnya mengatur 3 anak yang keras kepala. Si Bayi , Nobu, tidur…. Si Riku tidak mau diatur (keras kepala) jadi pasang wajah angker terus… sedangkan Kai awalnya senyum-senyum terus, tapi karena diulang-ulang terus, menjadi capek, tidak mau menghadap ke kamera….. huhuhuhuhu… mau nangis tuh si kameramannya. Yah mudah-mudahan nanti hasilnya bagus.

Setelah photo session selesai, kita janjian bertemu di sebuah restoran yang terletak di depan Stasiun Sendai, bernama HANA. Di sini ada lagi satu upacara untuk bayi, yaitu Okuizome (makan pertama sebagai manusia) . Kalau Kai dulu dibuat di rumah, tapi untuk praktisnya maka acara untuk Nobu diadakan di Restoran ini. Dan kali ini mengikuti aturan yang sesungguhnya yaitu dimulai dengan urutan Ikan Thai, nasi, sup, lauk, nasi, sup, lauk, dst dst… semuanya ada artinya (Kalau saya mah semua sama aja jadi ngga pake aturan deh hihihi). Restoran Hana ini cukup bagus suasananya, sayang tidak ada di dekat rumah saya di Tokyo. Sesudah itu kita bersama-sama pulang ke rumah adik ipar yang baru mereka tempati selama 1 bulan. Waaah apartemen baru, masih kinclong dan Barrier Free (bebas rintangan bagi manula). Pemandangan malam indah karena bisa melihat shinkasen yang sedang lewat.

Sekitar jam 9 malam baru kita pergi ke hotel yang saya pesan lewat internet dengan harga muraaaaaah banget. Cocok loh untuk backpacker padahal waktu saya masuk ke hotel itu lumayan bersih dan luas. seperti apartemen dengan 3 kamar (2 kamar masing-masing 2 bed, dan 1 kamar dengan 2 futon) hmmm cocok untuk gashuku juga nih. Cuman memang semua hotel di Jepang pembayarannya berdasarkan jumlah kepala, bukan satu kamar sekian. Jika anggota keluarga banyak maka akan menjadi mahal. Kecuali hotel chain internasional, hampir tidak ada hotel yang hanya menyediakan satu kamar satu malam seharga sekian yen.

Silakan pakai saya!!

Sebelum tulis laporan trip to sendai, saya mau posting ini ah yang ringan-ringan dulu …. “Silakan pakai saya”…. saya ada di depan pintu masuk sebuah Hotel besar di Sendai bernama Koyo Grande Hotel. Kami sendiri sih tidak menginap di situ karena muahaaall.(Dan actually Gen ngga suka pada komposisi benda-benda seni yang ada di sana… kesannya kok malah jadi kampungan …katanya hihihi)  Yah kalo mau ngebayangi, tinggal dalam museum deh hehhehe.

Nah, si saya ini adalah

Alat Semir Sepatu otomatis.

Taruhlah kaki Anda di bawah bulu-bulu itu. Sepatu hitam di bulu hitam, dan sepatu coklat di bulu coklat. Tekan tombol “ON” dan goyangkan kaki Anda. Di jamin mengkilap deh….. Tapi tentu saja yang bisa pakai alat ini cuman yang bersepatu kulit. Kalau sepatu kets, sandal jepit dan sepatu sandal (hiiiii geli lah) apalagi safety shoes ( ada yang merasa ngga ya ) ya ngga bisa deh hihii.

Harga sekali pakai? GRATIS…. kapan saja bisa, sehari berapa kali juga OK…. cuman musti hati-hati nanti sepatunya bolong loh….

So? Semua di Jepang serba otomatis…tapi saya lebih senang yang tidka otomatis sebetulnya. Apalagi kalau ada seorang anak yang menawarkan untuk membersihkan sepatu kita…. mesipun masih bersih silakan dik. (meskipun dengan tidak tega, tapi kalau pikir dengan uang yang kita beri dia bisa membeli buku? harus ditega-tegain.