Arsip Tag: SD

Penyambutan Murid Baru

Di Jepang, setiap awal tahun ajaran akan diadakan 始業式 shigyoushiki, upacara awal tahun ajaran yang diikuti oleh kelas 2 sampai kelas 6 SD. Sedangkan 入学式 nyuugakushiki, secara harafiah Upacara Masuk, tapi kalau di Indonesia lebih tepat diterjemahkan menjadi upacara penerimaan murid baru diadakan untuk kelas 1 baru. Pika-pika no ichinensei (kelas satu yang masih berkilau, aku pernah menulis tentang Riku yang kelas 1 SD di sini).

Kai bersiap berangkat ke upacara penerimaan murid baru

Satu hal yang aku sadari yaitu jika penekanan kata nyuugakushiki itu adalah upacara si anak MASUK ke sekolah, kalau di Indonesia itu penekanannya pada pihak sekolah yang MENERIMA/Menyambut datangnya murid baru. TAPI pada kenyataannya sepertinya upacara nyuugakushiki di Jepang, lebih “menyambut” murid baru, daripada hanya sekedar “Oh kamu sudah masuk SD ya?” saja. Hal itu terlihat dari susunan acara. Atau karena Riku adalah murid kelas 6 SD, aku tahu bahwa murid-murid kelas 6 yang dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan upacara nyuugakushiki ini.

Upacara Masuk ini berlangsung hari Senin tgl 7 April, tapi sudah sejak Jumat sebelumnya, murid SD mempersiapkan hall tempat pelaksanaan upacara dan mereka juga berlatih menyanyikan lagu kebangsaan 国歌 Kimigayo serta lagu sekolah mereka 校歌. Selain itu mereka juga bertugas menjadi penerima tamu dengan membagikan daftar kelas (kami baru tahu murid kelas 1 masuk kelas yang mana pada hari upacara), membantu murid-murid mengisi absen di kelas barunya serta memasangkan badge nama di jas mereka.

susunan acara upacara penerimaan murid baru

Sejak di pintu masuk itulah, murid-murid baru berpisah dengan orang tuanya. Mereka diantar masuk ke loker tempat penyimpanan sepatu dan ditunggui 先輩 sempai kakak kelasnya untuk mengganti sepatu dengan 上履き uwabaki, sepatu untuk di dalam ruangan. Lalu mereka diantar sampai ke kelasnya. Orang tua, dengan was-was apakah anaknya大丈夫 daijoubu (tidak apa-apa), menuju ke aula sambil melirik kelas satu yang dilewati. Ah, kakak kelas dan guru sudah di dalam kelas dan menyambut murid-murid baru yang tegang. Untung saja tidak ada yang menangis hehehe. Lain dengan upacara penyambutan murid TK yang riuh rendah dengan suara tangis. Well, saat itu mereka memang masih usia 3 tahun…sedangkan kalau SD kan sudah berusia 6 tahun (batas umur di Jepang untuk kelas 1 SD adalah GENAP 6 tahun terhitung tgl 2 April tahun tersebut).

Orang tua menempati tempat duduk yang sudah disediakan dalam hall dan menunggu upacara dimulai. Kebetulan aku duduk di samping satu pasang suami istri yang membawa dua anak, satu berusia sekitar 3 tahun dan satu lagi masih bayi. Hmmm ribut! anaknya yang usia 3 tahun itu tidak bisa diam dan ngoceh terus sambil naik turun kursi lipat. Beberapa kali dia hampir jatuh dari kursi. Sabar imelda….sabar 😀 Untung aku sudah merasakan betapa repotnya membesarkan dua anak, jadi bisa mengerti bahwa mereka tidak bisa menitipkan anak-anaknya yang masih kecil demi mengikuti upacara anak pertama mereka (I hope so…. karena jarang ada keluarga Jepang yang mempunyai lebih dari 2-3 anak). Tapi seharusnya anak kecil begitu duduk di antara ayah dan ibu, sehingga tidak mengganggu orang yang duduk di sebelah anak itu. Benar-benar aku khawatir kalau anak itu jatuh dari kursi dengan kepala duluan 🙁

Acara diawali dengan masuknya kepala sekolah, tamu-tamu kehormatan yang kemudian duduk di tempat khusus. Kemudian kami menyambut dengan tepuk tangan masuknya murid-murid baru yang masuk ke dalam hall dengan berbaris. Oh ya, aku perlu beritahu bahwa dalam upacara-upacara begini, jarang sekali terdengar tepuk tangan. Orang Jepang tidak biasa bertepuk tangan seusai seseorang mengucapkan pidato. Entah kalau sekolah lain, tapi aku jarang sekali mendengar tepuk tangan pada acara-acara sekolah. Lain ladang lain ilalang ~~~~

kepala sekolah menyambut murid kelas satu

Semua acara dimulai dengan 起立 kiritsu  礼 rei 着席 chakuseki, berdiri – hormat – duduk. Ah aku jadi ingat pendidikan di SMP-ku dulu yang mengadaptasi cara ini. Kamu harus selalu berdiri dan menghormati guru SETIAP ganti pelajaran, di awal dan akhir pelajaran. Entah apakah masih ada sekolah di Indonesia yang menerapkan seperti ini. Tapi di Jepang dalam semua acara resmi pasti akan terdengar “perintah-perintah” semacam ini.

Kepala sekolah memberikan pidato juga tidak bertele-tele, dan menyampaikan tiga hal penting yang harus diingat murid baru yaitu : memberi salam, mendengarkan pembicaraan orang lain baik guru maupun teman dan membuat teman sebanyak mungkin.

Satu-satunya acara “hiburan” adalah pementasan lagu oleh kelas 2. Mereka bernyanyi dan memainkan pianika, sambil menyambut “adik-adik” dan menyampaikan pesan-pesan seperti : “kalau ada yang tidak tahu, silakan tanya kami ya” dsb. Aku merasa cukup senang menyekolahkan anakku di SD Negeri ini. Memang tidak “sedisiplin” sekolahku dulu atau sekolahnya Gen juga, tapi cukuplah. Yang penting anak-anak merasa nyaman bersekolah.

Setelah acara di hall, kami menuju kelas masing-masing dan mendengarkan perkenalan dari guru serta pengumuman-pengumuman. Kami juga membawa pulang banyak barang baru yang dibagikan. Ada satu kotak berisi peralatan menulis dan belajar (pensil, buku catatan, buku pelajaran, pensil warna, craypas), sedangkan dari kelurahan mendapatkan topi pelindung kepala yang bisa dipakai sebagai alas duduk serta buzzer keamanan untuk dipasang di ransel masing-masing. Ada happening seorang anak membunyikan buzzer itu dan orang tuanya sibuk mencari cara menyetopnya. Buzzer ini perlu jika anak-anak bertemu dengan orang iseng atau jahat dan merasa perlu bantuan, tinggal menarik tali buzzer sehingga alarm akan berbunyi kencang.

Kai dengan barang-barang yang mesti dibawa pulang

Semua barang-barang ini kami bawa pulang dan menjadi “pekerjaan rumah” baru untuk kami, karena kami harus menuliskan nama satu-per-satu pada barang-barang ini, termasuk pensil dan craypas.

Setelah selesai menuliskan nama pada semua barang, kami pergi makan siang dan bermobil ke Yokohama untuk bertemu dengan kakek-neneknya Kai karena sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Kebetulan Gen juga ambil cuti khusus untuk hari ini. DeMiyashita kemudian merayakan “hari bersejarah” bagi Kai yang masuk SD dengan makan malam bersama.

 

Selamat bersekolah ya Kai… 入学おめでとうございます。

 

Ransel

Aku sudah pernah menulis tentang ransel anak SD di : “Beban Berat Anak SD Jepang“, dan itu ternyata sudah 5 tahun yang lalu. Dulu aku menyesal tidak membeli ransel untuk Riku lebih cepat, sehingga sudah akhir Maret 2008 baru membeli ransel untuk Riku. Telat! karena sudah tinggal sedikit pilihannya, dan tinggal yang mahal-mahal 😀 Jadi kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama dan mulai mencari ransel bulan November ini.

Cuaca hari ini yang tidak menentu sejak pagi. Pelangi sore hari waktu hujan tiba-tiba di daerah kami

Kebetulan hari Senin ini merupakan Happy Sunday, hari libur pengganti hari Kebudayaan yang jatuh tanggal 3 November kemarin. Karena hari libur jatuh pada hari Minggu, maka Seninnya menjadi hari libur pengganti, furikae. Tapi cuaca hari ini tidak bagus, hujan dari pagi. Lagipula Riku baru pulang ke rumah jam 10:30 dari rumah mertua di Yokohama. Dia kemarin ‘kencan’ dengan omnya menonton pertandingan Rugby. Akhirnya kami berempat dara-dara, santai-santai di rumah sampai pukul 6 sore!

Tepat pukul 6 sore, kami keluar rumah, langit sudah gelap, tapi hujan sudah berhenti. Ambil baju di dry cleaning, lalu kami berempat pergi ke tukang pangkas! Ya, bukan salon, karena memang hanya untuk pangkas potong rambut saja. Biayanya cukup 1000 yen seorang 😀 murah kan? Tentu tanpa cuci blow segala.

berempat rambut baru 😀

Nah, kebetulan di lantai bawah pertokoan tempat potong rambut itu ada promo penjualan ransel anak SD. Memang tidak sebanyak department store terkenal hanya ada 3 deret rak. Kai dengan gaya sok taunya mencari ransel yang dia suka. Coba-coba, lalu dia teliti bentuk kancingnya, ringan dan besarnya, dan akhirnya dia menentukan pilihan. Aku dan Gen hanya melihat dari jauh, sedangkan Riku membantu Kai mencari ransel yang cocok untuk adiknya. Hmmm terasa sekali anak-anak sudah besar, sudah tahu apa yang mereka mau.

Jadi setelah Kai menentukan sebuah ransel berwarna hitam yang ringan dan cukup mahal :D, aku membawa ransel itu ke cashier untuk membayar. Lalu pegawai cashier itu bertanya padaku,
“Ibu mau membeli hari ini? Kalau beli besok ada tambahan potongan harga 5% loh”
“Wah, bisa dipending sampai besok?”
“Bisa, nanti saya kasih kertas pesanan untuk ambil besok. Besok toko buka sampai jam 11 malam, jadi silakan datang. Kalau tidak bisa besok (tgl 5) bisa juga tgl 7, tgl 15, 20 dan 25,jadi cukup banyak pilihan kok”
Lalu dia membuatkan catatan pesanan berikut jenis ransel, sehingga besok aku tinggal menyerahkan kertas itu dan bayar lebih murah 5%.

Terus terang aku heran, seheran-herannya. Orang Jepang itu bagaimana sih….. berpihak pada pembeli. Memang aku pernah mengalami seperti ini yaitu saran mengubah paket handphone, supaya aku cukup membayar 4000 yen daripada 25.000 yen. Ceritanya di sini. Tapi kali ini, bahwa si pegawai cashier sampai bertanya apa aku tidak mau tunda dulu supaya lebih untung ….. kan mengherankan. memang cukup besar angka yang harus kubayar, tapi servicenya itu loh. Semakin cinta sama penjual di Jepang 😀

Eh tapi kalau mau diingat, aku juga sering disarankan mengambil paket makanan di restoran yang kalau pesan satu set, lebih murah daripada pesan ala carte. Bisa beda sampai 500 yen loh. Dan mereka justru menawarkan yang lebih murah bagi pelanggan. Kurasa, di Indonesia sedapat mungkin menyarankan yang termahal deh…. atau aku salah? Pernahkah kamu disarankan untuk membeli sesuatu yang lebih murah?

Sejarah randoseru ini sudah 100 tahun lebih, dimulai dari  Bakumatsu (akhir jaman Edo/ Tokugawa sekitar 1860-an) dengan dimulainya pemakaian tas punggung ala barat “Senou” oleh serdadu Jepang. Pada tahun 1885, sekolah Gakushuin (berdiri tahun 1877) melarang murid-murid diantar dengan becak/ mobil ke sekolah dan mewajibkan murid-murid memakai “Senou” untuk membawa peralatan sekolahnya. Karena dalam bahasa belanda “senou” ini disebut dengan “Ransel”, maka Jepang mengadaptasi nama ini dan menjadi terkenal dengan nama “RANDOSERU”. Tapi bentuk yang dulu lebih menyerupai Rugsack daripada bentuk kotak masif seperti sekarang. Baru tahun 1887 bentuk kotak itu muncul akibat pesanan khusus Perdana Menteri Ito Hirobumi untuk hadiah masuk SD Kaisar Jepang ke 123, Kaisar Taishou ( 1879-1926).

Meskipun demikian, ransel masih merupakan barang mewah untuk anak-anak kota saja. Anak-anak di pedesaan masih memakai Furoshiki (kain segi empat seperti syal) untuk membawa peralatan tulis mereka. Baru pada tahun 1955, ransel dipakai di seluruh negeri, dan merupakan barang mutlak untuk murid SD.

Perlukah Reuni?

Kurasa ada yang berkata, “Tidak perlu, karena toh baru saja lulus…” atau “Tidak perlu karena membosankan. Pembicaraannya itu-itu saja.” “Perlu untuk bernostalgia, mengenang kembali masa kecil, masa sekolah yang menyenangkan.””Perlu karena menjaga silaturahmi, siapa tahu pekerjaannya di bidang yang sama, sejenis, sehingga bisa saling bantu, saling mendukung” tapi…. “Ogah ah reuni, aku ngga sesukses teman-teman lain yang kaya raya. Minder!”

Dan aku juga setuju ketika seorang teman, Mas Goenoeng Mulyo mengatakan, “Sesungguhnya, reuni ataupun halal bihalal diadakan yaitu diperuntukkan bagi kebaikan dan menyambung silaturahim, dan diharapkan pada saat itu, bagi yang telah berhasil dan berlimpah harta, akan membantu meringankan beban yang membutuhkan, bukannya menjadikan hal itu menjadi ajang pamer keberhasilan dengan jumawa tanpa mengindahkan perasaan orang lain. hal yang demikian ini diperuntukkan hanya bagi orang2 yang berfikir dan punya hati. Maka, celakalah orang2 yang tak berfikir dan tak punya hati……” Memang sepatutnyalah kita membantu orang apalagi teman lama yang kesusahan, jika kita mampu.

Tahun ini aku hanya berhasil mengadakan reuni dengan teman-teman dari SD, SMP dan teman kuliah :D. Teman-teman masa usia 6 sampai 12 tahun, masih kecil rasanya, tapi ternyata ingatan kami masih jelas dan nyata. Kami masih bisa bercanda mengenai teman-teman dan guru-guru masa itu, padahal sudah lebih dari 30 tahun lamanya kami berpisah. Memang ada beberapa yang terus bersama sampai SMP, SMA, tapi kebanyakan berpencar kemana-mana. Kami senang sekali saat itu ada teman yang kebetulan mudik dari Qatar, Belgia, Melbourne dan Tokyo (aku) :D. Hampir semua dari 20 orang yang hadir aku kenal baik, cuma 3 orang yang tidak begitu kenal karena tidak pernah sekelas. Pulangnya aku diantar Pandu yang rumahnya cuma 500 meter dari rumahku. Dalam mobil kami sempat berbicara mengenai pendidikan di Jakarta sekarang yang semakin mahal. Dia punya tiga anak dan yang terkecil masih batita, wahhh kita berdua mengeluh… “Jalan masih panjang yaaa…..” Tapi…. tetap semangat!

Reuni SD di Cangkir Kafe, Panglima Polim. Sate Kambingnya di sini maknyuuuusss

Reuni teman SMP mungkin yang paling ramai, padahal pesertanya HANYA 8 orang cewek loh. Dan aku heran karena ternyata food courtnya PIM tidak sepenuh yang kami duga (hari biasa juga sih). Karena takut penuh, kami makan di Warung Bebek Batavia PIM 2 yang berada di dekat food court. Masakannya enak, karena aku sebetulnya jarang makan bebek. Bebek Kremesnya maknyus 😀 Entah ya, mungkin terasa enak karena teman-temannya enak ya? 😀 Aduuuh tante-tante ini memang rame! Dan aku senang sekali bisa bertemu teman yang bermukim di Canada. Kebetulan dia mudik juga, jadi aku memang lebih menyesuaikan dengan jadwal dia.

obatarians? reuni SMP di warung bebek Batavia PIM2

Kalau reuni teman mahasiswa secara resmi memang jarang kami lakukan. Pernah kami lakukan secara besar-besaran (menyewa tempat di hotel dengan acara pemutaran slide dan perkenalan anggota keluarga masing-masing) pada tahun 2006. Waktu itu kami memperingati 20 tahun pertemanan sejak masuk universitas, juga waktu memperingati 25 tahunnya tahun lalu kami peringati sederhana di Telaga Sampireun tahun lalu. Kali ini kami berbuka puasa dengan 10 orang saja (hampir setengahnya, karena angkatan sastra Jepang tahun 1986 hanya 23 orang :D) . Karena banyak yang bekerja di daerah Thamrin, atau rumahnya jauh-jauh, aku memilih Grand Indonesia sebagai tempat berkumpul. Oleh temanku yang bekerja di Wisma Nusantara disarankan pesan tempat di lekko. Tapi karena bulan puasa, kebanyakan restoran tidak mau menerima pesanan tempat. Jadi harus ada yang pergi lebih pagi untuk ngetek tempat. Jadilah aku ke sana pukul 4, supaya aku tidak kena macet juga sih. Aku sempat mampir ke gramedia juga untuk membeli buku-buku. Dan… baru tahu begitu sampai bahwa restoran itu adalah restoran Iga Peyet… hihihi. Aku biasanya jarang makan nasi di luar (Iga kan pasti pakai nasi) apalagi makan malam, tapi lumayan lah rasanya.

Teman-teman satu angkatan di sastra Jepang UI

Oh ya, kami bubar dari tempat itu pukul 8:30, tapi kok rasanya masih pagi ya. Jadi aku mengajak beberapa teman untuk hashigo (arti : anak tangga, pergi ke restoran lain) dan mau mencoba Magnum Cafe… dooooh ternyata harus antre ya 😀 Tidak jadi deh, soalnya status kami semua adalah ibu-ibu yang harus cepat pulang juga. Jadi berpisahlah kami di lobby GI dengan janji: buat reuni di Tokyo tahun depan (kalau bisa hahaha).

bagus juga GI untuk berfoto bersama ya? 😀

Ah, reuni itu memang menyenangkan. Banyak berita yang bisa dikejar, diketahui bersama. Asal kita membuang rasa iri kita, tentu saja kita bisa menikmati reuni, yang biasanya memang diadakan sekali setahun atau dalam waktu (angka) khusus. Topik yang sebetulnya paling menakutkan kami tapi harus diterima adalah “Sudah adakah teman kita yang menghadap Tuhan?” 🙁

So, kapan kalian reuni terakhir? Aku memang berusaha untuk bertemu dengan teman-teman, dan kadang memaksa teman-teman yang mau untuk mengadakan kumpul-kumpul saja, jika tidak bisa bereuni. Silaturahmi itu penting loh! Jangan menghubungi teman HANYA WAKTU PERLU saja 😉

 

Cita-cita Anak dan Orang Tua

Ya, saya ingin menegaskan kembali bahwa memang tahun ajaran baru di Jepang itu dimulai bulan April, bukan Januari, Juli atau September. Alasannya?

Memang di Amerika dan Eropa, juga China tahun ajaran baru mulai  bulan September, sedangkan Korea bulan Maret. Kenapa musti dimulai April sih? Sebetulnya yang paling bisa dikatakan sebagai alasan yang tepat adalah bahwa karena bulan April merupakan awal tahun fiskal, sehingga semua anggaran bisa dimulai bersamaan. Lucunya awal tahun fiskal di Jepang yang April itu meniru Inggris tapi Inggris sendiri tidak menyamakan awal tahun fiskal dengan tahun ajaran 😀

Selain alasan bersamaan dengan tahun fiskal, ada juga alasan-alasan “sekunder” seperti kalau bulan April, awal musim semi ditandai dengan mekarnya bunga Sakura. Setiap upacara masuk sekolah/universitas pasti ada latar belakang bunga sakura. Secara psikologis, keindahan bunga ini memberikan semangat untuk memulai sesuatu yang baru. Musim semi juga berarti bertambah hangat, sehingga tidak perlu “berdingin-dingin” waktu belajar. Meskipun sekarang semua sekolah dilengkapi dengan AC dan Heater, rasanya akan lebih enak belajar jika udara itu “pas”, tidak dingin dan tidak panas. Jadi, tahun ajaran di Jepang itu dimulai April sampai Juli, kemudian sekitar 20 Juli masuk libur musim panas. Kemudian mulai lagi September sampai Februari/Maret, dengan libur pergantian tahun dan libur “kenaikan kelas” di bulan Maret. Jadi memang libur yang terpanjang itu waktu summer, musim panas yang sampai 1 bulan lebih. (Dan karena itu pula aku cuma bisa mudik pada musim panas ini. Sayang kan kalau mudiknya harus cepat-cepat.)

Nah, kemarin di tulisan “Langkah Baru“, aku menceritakan soal upacara awal tahun ajaran baru di TK. Karena Kai sudah tahun kedua di TK, kami datang ke TK dari pukul 8:40 sampai 9:40. Ya, kira-kira satu jam saja. Waktu meninggalkan TK, kami berselisipan dengan orang tua dan murid TK baru yang akan memulai TK pada tahun ini. TK Nensho (tahun pertama – usia 3 tahun). Mereka akan mengikuti upacara penerimaan murid baru yang dimulai pukul 10:30. Biasanya satu anak diantar oleh bapak dan ibunya (kecuali Ibu Imelda Miyashita dulu mengantar Riku dan Kai sendirian karena papanya juga sibuk dengan acara di universitasnya hehehe). Si Bapak tentu saja berjas, dan si Ibu juga dandan abiz, membawa kamera dan handycam untuk meliput upacara. Ya, pada hari ini mereka pertama kali melepas anaknya ke “masyarakat”.

Hebohnya orang tua yang mengantar anaknya pertama kali ke TK, tidak sama dengan waktu mengantar anaknya masuk SD, KECUALI jika anaknya tidak mengikuti pendidikan di TK, langsung masuk SD. Tapi pengamatanku ini juga mungkin karena SDnya Riku itu SD Negeri, jadi tidak terlampau “heboh”. Bagaimanapun juga memang ada kebanggaan tersendiri waktu mengantar anak kita mengikuti upacara masuk SD, sistem pendidikan formal yang memang wajib diikuti (sampai SMP). Nah, murid SD kelas 1 ini sering disebut dengan “pika-pika ichinensei” (Kelas 1 yang berkilau) dan tentu saja banyak diliput oleh media massa.

Pohon sakura di dekat SD nya Riku

Salah satu pertanyaan media massa itu biasanya, “Apa cita-citamu?”. Nah, jika pertanyaan ini diajukan pada anak-anak Indonesia, biasanya akan mengatakan : mau jadi dokter atau insinyur kan? Tapi ternyata di Jepang anak-anak lelaki itu nomor satu ingin menjadi “Atlit” dan yang perempuan ingin menjadi “tukang roti/kue”. Hmmm memang atlit profesional pendapatannya besar jeh. Aku memang juga sudah pernah menulis di posting Nak, kalau besar mau jadi apa?, dan meskipun angket itu dilakukan oleh perusahaan yang berbeda dengan responden berbeda, ternyata jawabannya sama!

Dan survey yang diadakan perusahaan ransel yang sudah diadakan sejak 1999, selama 14 tahun itu, cita-cita anak laki-laki itu tidak berubah untuk 3 besar, yaitu  menjadi Atlit, Polisi dan Supir. Hanya untuk perempuan 3 besarnya berubah urutan saja, tapi tetap mereka ingin menjadi pembuat roti/kue, artis dan florist. Membumi sekali kan?

Tapi cita-cita anak-anak tidaklah selalu sama dengan keinginan orang tua. Ternyata orang tua Jepang paling ingin menjadikan anak-anaknya sebagai : 1. Pegawai Negeri, 2. Atlit dan 3. Dokter…. untuk anak laki-laki 3 jenis pekerjaan ini juga tidak berubah selama 21 tahun. Sedangkan untuk anak perempuan, orang tua paling menginginkan anaknya menjadi perawat (nomor 1). Dan lucunya pekerjaan yang berhubungan dengan medis seperti farmasi, dokter dan medis lainnya menjadi lebih populer di kalangan orang tua. Hmmm, pegawai negeri ya…. mungkin sama saja dengan orang tua Indonesia ya? Bagaimana kamu? 😀

Tapi sebetulnya yang bercita-cita seharusnya memang si anak ya? Dan tentu bisa berganti-ganti sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Orang tua hanya bisa mengarahkan saja, meskipun berkeinginan yang didasari pengamatan mendalam. Cita-cita Riku sekarang apa ya? Dulu dia pernah mau menjadi Pelukis, mungkin sekarang mau bekerja di Lego Corp hahaha. (Barusan Riku pulang, dan aku tanya dia kalau besar mau jadi apa? Dijawab: Cameraman! hahaha)

sumber data dari  http://juken.oricon.co.jp/2009661/full/#rk

 

Cita-cita anak-anak Jepang: LAKI-LAKI : Atlit, Polisi, Supir, Karakter TV/anime, Pemadam Kebakaran, Tukang, Koki, Pembuat roti/kue, Peneliti/Ilmuwan, Wiraswasta. PEREMPUAN: Pembuat roti/kue, Artis, florist, Guru PAUD, Perawat, Salon, Pet shop/trimmer, Toko ice cream, dokter, guru.

 

 

Keinginan orang tua terhadap anaknya. LAKI-LAKI : Pegawai negeri, atlit, dokter pegawai kantor, pemadam kebakaran, tukang, peneliti, farmasi, arsitek/sipil, polisi. PEREMPUAN: Perawat, pegawai negeri, farmasi, guru PAUD, Pembuat roti/kue, dokter, medis, guru, pramugari, artis.

Karantina dan Ketakutan

Musim dingin tahun ini rupanya memang dingin sekali. Kemarin aku mendengar dari muridku bahwa ada temannya dari Sapporo mengatakan bahwa Tokyo dingin! Padahal semestinya Sapporo jauuuh lebih dingin dari Tokyo, karena letaknya lebih di utara Jepang. Tapi aku mesti bersyukur bahwa Tokyo tidak seperti tempat-tempat di daerah pesisir Laut Jepang yang bersalju sampai 2, 5 meter! Atau kalau membaca status teman-temanku di Belanda yang menggerutu karena di sana minus 6 derajat saja.

Karena dingin dan kering, virus influenza mudah menjalar ke mana-mana. Dan akibatnya tadi waktu pulang sekolah, Riku menyerahkan surat pemberitahuan bahwa kelas dia, kelas 3-2 ditutup mulai besok sampai hari Minggu 学級閉鎖. Dikarantinakan karena ada 5 murid yang positif mengidap influenza. Tindakan pengliburan kelas ini biasa dilakukan pihak sekolah untuk mencegah mewabahnya penyakit menular kepada seluruh warga. Bahkan jika banyak kelas yang diliburkan, bisa jadi satu sekolah akan diliburkan 学校閉鎖.

Aduuuh langsung terbayang aku harus mengurus dua anak yang kerjanya bertengkar, menonton film terus (berarti aku tidak bisa konsentrasi menulis) dan menyiapkan makan untuk mereka. Bayangin 4 hari! huhuhuhu. Nah…. masalah pertama sudah timbul tadi sore. Aku mau pergi ke supermarket untuk mengambil air minum, tapi tidak dibolehi oleh Riku! Untung aku sudah prepare bahan masakan daging-dagingan untuk 4 hari-an, dan masih bisa beli online.

Ya, terus terang, anak-anakku sekarang menjadi penakut! Padahal sebelumnya sudah bisa aku tinggal sendiri, tapi sekarang tidak bisa! Mulai sekitar 10 hari lalu, ketika di berita televisi mulai disiarkan : “Gempa bumi dasyat tepat di bawah Tokyo akan terjadi dalam EMPAT tahun ini dengan kemungkinan 70%”… Hiiii ngeri. Tadinya kemungkinan 70% itu dalam jangka waktu 30 tahun, sekarang menciut jadi 4 tahun. Jelas anak-anak yang mendengar ini jadi ngeri. Mereka sama sekali tidak mau tidur sendiri, atau kalau mereka sedang di kamar makan, dan tiba-tiba sadar aku tidak ada, akan berteriak, “Mamaaaaa…” Dan tentu saja aku harus langsung menjawab. Pernah aku mau mandi, tidak bisa karena Kai terus ngintil (ngikut) aku. Kalau dalam keadaan biasa, aku sering mandi bersama anak-anak, tapi kalau sedang kedatangan “tamu bulanan” tentu saja tidak bisa. Terpaksa aku tidak mandi!

Prediksi gempa akan terjadi dalam 4 tahun juga membuat kami was-was. Aku langsung memeriksa persediaan nasi jadi untuk darurat, air mineral, alumunium sheet untuk menghangatkan badan, lampu senter dan persediaan batere, kairo, dll. Dan ini juga alasan kami untuk tetap tidur bersama, berempat dalam satu kamar. Setidaknya sampai 4 tahun ke depan.

Yah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 4 tahun ke depan. Yang pasti untuk 4 hari ke depan, aku harus lebih kuat dari biasanya 😀  Sepertinya TE tahun ini akan  dipenuhi angka 4 deh hehehe.

Bulan “O”

Bulan Oktober adalah bulan Olahraga! Untuk Jepang tentunya. Karena di bulan Oktober ini pada tanggal 10 (sekarang menjadi setiap hari Senin minggu kedua) adalah hari Olahraga. Tanggal 10 bulan 10 ini ditetapkan menjadi hari Olahraga dengan UU Mengenai Hari Libur Nasional, mulai tahun 1966. Setelah dua tahun sebelumnya pada tahun 1964 tanggal 10 Oktober Olimpiade Tokyo dimulai.

Menurut kabar burung, tanggal 10 Oktober itu dipilih karena hampir selalu cuaca cerah, bertahun-tahun. Tapi memang sekitar tanggal 10 biasanya cerah. Pada tanggal ini ada tempat-tempat olahraga yang memberikan diskon khusus atau malah menggratiskan harga tanda masuknya. Ada pula kelompok-kelompok yang menyelenggarakan pertandingan-pertandingan untuk memeriahkan Hari Olahraga ini. Tapi tidak ada satu sekolahpun yang mengadakan tepat di tanggal 10 Oktober, kecuali jika hari itu jatuh pada hari Sabtu.

Hari Olahraga di sekolah-sekolah (TK/SD) ditandai dengan diadakannya UNDOKAI 運動会 pertandingan olahraga yang lebih bersifat eksibisi dan permainan, bukan layaknya class meeting di Indonesia. Bukan mencari juara tapi kerjasama. Bayangkan satu sekolah SD dibagi dua kelompok merah dan putih saja. Dan tahun ini Riku termasuk kelompok Merah.

kiri atas : rebut galah... yang lain foto eksibisi tari oleh kelas 3

Beruntung hari Sabtu tanggal 1 Oktober, cuaca cerah. Dua tahun yang lalu hujan sehingga harus diundur pelaksanaannya. Tapi hari Sabtu itu dari pagi sudah terang benderang. Tadinya kupikir bakal dingin karena akhir-akhir ini memang suhu aneh, naik sampai 25 derajat tapi bisa turun sampai 15 derajat.

Acara dibuka dengan sambutan, parade tiap kelas dan senam pemanasan, serta tak lupa yel-yel semangat untuk kelompok merah dan putih. Riku hari ini tampil 3 kali yaitu pertandingan rebut galah, eksibisi gerak tari berdasarkan lagu dan lari 80 meter. Untuk rebut galah, kelompok merah kalah. Gerak tari…lumayan Riku pintar mengikuti gerak-gerak yang diajarkan gurunya… kalau mamanya yang disuruh pasti ngga bisa :D. Lari 80 meter dia urutan ke 4 dari 6 orang, mayan deh tidak nomor buntut 😀

Satu jenis pertandingan yang kurasa bagus untuk dicontoh. Menggendong satu temannya bertiga, lalu teman yang digendong berusaha mengambil topi yang dipakai pihak lawan. Misal dia dari kelompok putih dia mengambil topi kelompok merah, dan membalikan topinya. Seperti catur orang deh

Tapi hari itu Kai tidak sehat, agak demam sehingga lemas dan digendong papanya terus. Karena itu begitu Riku selesai menari, kami pulang ke rumah. Kami makan siang, dan aku menemani Kai di rumah, sementara Gen kembali ke sekolahnya Riku untuk menjadi volunteer satu jam dan menonton Riku berlari. Hasil keseluruhan kelompok Riku, kelompok Merah menang tipis dengan kelompok putih. Malamnya kami makan sushi di resto dekat rumah, sebagai penghargaan pada Riku yang sudah capek berlatih selama sebulanan. Karena tanggal 1 Oktober adalah hari Batik, tentu saja deMiyashita pakai batik ke resto sushi itu 😉

DeMiyashita on Batik's Day 1 Oktober 2011 ....

Tapi ternyata setelah itu demamnya Kai tidak sembuh-sembuh…. sampai akhirnya aku bawa dia ke dokter hari Selasa. Diberi obat antibiotik tidak mau diminum (selalu begini, meskipun sudah diusahakan dan dibujuk macam-macam). Ya sudah aku suruh tidur saja terus. Tapi dokter mengatakan kalau sampai hari Jumat masih demam, harus diperiksa laboratorium. Untung saja Rabu siang dia sudah sehat, sehingga hari Kamis dan Jumat aku bisa kerja dengan tenang. Tapi berarti dia hanya masuk 2 hari saja sebelum pelaksanaan Hari Olahraga di TK nya hari Sabtu tanggal 8 Oktober!

Dan tibalah hari Olahraga untuk Kai…udara cerah dan aku dari pagi sudah mempersiapkan bento, bekal untuk dimakan bersama. Believe me, Undokai di TK itu lebih meriah daripada SD. Kenapa? Karena yang hadir itu satu anak satu keluarga, minimum 4 orang, karena kakek nenek juga ikut. Doooh penuuuuh deh halaman sekolahnya. Waktu Riku 2 kali aku datang dan heran bin takjub melihat kakek-nenek itu bersemangat sekali ikut menonton anak-anak TK berlomba. Tapi ya lama-lama aku bisa mengerti antusiasme bapak-ibu-kakek-nenek terhadap undokai TK. Soalnya TK adalah kelompok masyarakat sosial pertama yang dihadiri sang anak. Bayangkan anak usia 3-4-5 tahun berlomba. PASTI lucu!

Sayangnya, Kai karena kurang latihan dan MANJA sama mamanya, dia MENANGIS terus sejak datang. Ya bisa mengerti kenapa dia nangis. Begitu masuk halaman sekolahnya, satu lapangan dipenuhi orang begitu banyak, dan dia harus duduk bersama  teman-teman sekelasnya di bangku khusus. Aku (baca: kami) juga salah tidak datang jauh lebih pagi sehingga dia ada waktu untuk adaptasi (well… untuk hal ini memang aku harus bisa terima bahwa tidak semua orang bisa bangun cepat dan siap cepat-cepat, dan pergi cepat-cepat **sambil memandang seseorang di sampingku** hihihi)

Undokai di TK nya Kai.. nangis terus, cuma tersenyum waktu makan bento bersama 😀

Jadi deh dia berdiri di belakangku terus dan tidak mau ikut acara-acara. Tapi untuk acara pertama, aku melarikan diri dari pandangannya dan dia digendong oleh guru OR laki-laki untuk berdefile di tengah lapangan…. ya satu halaman TK itu tentu saja bisa mendengar suara tangisannya yang begitu keras 😀 Malu….malu deh. Jadi waktu dia mau ikut tanding lari, meskipun ogah-ogahan ya aku puji terus menerus. Dia akhirnya juga cuma mau ikut acara menari dengan ibu (aku) dan pertandingan lari gendong dengan bapak. Ciri khas undokai di TK memang PASTI melibatkan orang tua (bapak/ibu) bersama anaknya dalam acara.

Kai akhirnya mau ikut bertanding krn bersama papanya. Setelah acara selesai semua murid mendapat hadiah yang sama.

Belum lagi ada acara pertandingan tarik tambang antar orang tua, dan lomba lari yang mengikutsertakan anak-guru-ibu-bapak…. kebersamaan, kerjasama, tertawa, gembira dan haru bercampur jadi satu dalam acara yang PASTI diadakan sekali setahun ini, menjelang tanggal 10 Oktober. Sayang sekali aku belum pernah mengalami atau mendengar acara seperti ini di Indonesia :). Kalau ada, kasih tahu ya 🙂

 

Ondoku

Aku ingin menulis pendek saja, yaitu mengenai ondoku 音読. Bagi yang mempunyai anak SD yang bersekolah di SD Jepang pasti mengetahui ondoku ini. On adalah suara, doku adalah membaca. Membaca sambil bersuara, bukan dalam hati. Ini adalah satu usaha dalam pelajaran bahasa Jepang kokugo 国語, untuk membuat anak-anak sejak kelas 1 SD mengenal huruf, lancar membaca dan menulis.

Awalnya semua dalam hiragana, lalu perlahan diajarkan kanji dan katakana. Ceritanya juga cukup menarik, disesuaikan dengan musimnya. Jika musim semi maka bercerita tentang wakaba daun muda, bunga-bunga sedangkan waktu musim panas bercerita tentang tanpopo, sejenis bunga yang menyebar serbuknya di musim panas.

Setiap anak mempunyai satu helai kartu Ondoku, yang berisi hari itu membaca judul apa, bagaimana  kecepatannya dan ketegasan, serta perasaan waktu membaca itu. Siapa yang menilai? Nah itu dia, yang menilai adalah orang tuanya, dalam hal ini tentu ibunya.

Wah, aku paling tidak suka mengejar-ngejar anak (murid) untuk membuat PR. Karena dulu waktu aku kecil, bahkan sejak SD, aku tidak pernah disuruh membuat PR. Sepulang sekolah (SD) aku langsung membuat PR tanpa disuruh, dan pasti pukul 8 malam sudah tidur. Untuk keesokan harinya bangun pukul 5 pagi. Jadi menurutku PR adalah suatu rutinitas yang wajar dilaksanakan, dan aku berharap anak-anakku juga begitu…..

Untunglah Riku tidak sulit untuk membuat PR, tapi untuk Ondoku ini dia agak malas. Karena biasanya jika disuruh ondoku (dan itu hampir setiap hari) sewajarnya mencoba membaca berkali-kali. Tapi itu juga berarti mamanya juga harus mendengarkan berkali-kali…. hmmm…. payah ya 😀 Biasanya Riku hanya membaca satu kali saja. (Terus terang awal-awal kelas 1 aku tidak perhatikan apa yang dia baca. Dan kadang aku berpikir, untung sekali aku bisa bahasa Jepang ya 😀 )

Kartu "Membaca" dengan judul, kecepatan, ketegasan dan perasaan, kemudian tanda-tangan ortu dan sensei

Dan aku harus bisa menentukan akan menilai bagaimana, segitiga = kurang, bulat= bagus dan kembang = bagus sekali. Penilaian yang sulit :D. Tapi jika Riku bisa membaca dengan bagus, otomatis dia juga bisa menghafal isinya. Dan itu menguntungkan dia, jika ada “ulangan” dia bisa mendapat nilai bagus. (Lucunya di sini tidak diberitahu kapan ada ulangan, kecuali di akhir-akhir semester…. jadi diharapkan belajar harian deh)

Dan karena PR Ondoku ini hampir ada setiap hari, berarti mamanya juga harus menilainya setiap hari. Anak dan ibu sama-sama mengerjakan PR. Ondoku hari ini? Tentu sudah dong.

Pembaca TE sudah menyelesaikan PR hari ini belum? (aduuh aku ada PR dengan deadline  s/d tgl 15 Mei nih…. hihihi)

Peringatan : perhatikan cara membaca, dengan sikap yang baik, mulut dibuka, kapan penekanan keras-lemahnya dll. Selain itu warna kartu akan berubah sesuai dnegan banyaknya lembar yang terkumpul. Wah... Riku jangan malu-maluin mamanya yang pernah kerja di Radio dong 😀

Home Visit

Kunjungan ke rumah. Bahasa Jepangnya Katei Houmon 家庭訪問。 Oleh siapa? Ya tentu oleh Guru wali kelasnya, abis siapa lagi yah hehehe. Jadi di TK atau SD tertentu di Jepang masih ada sekolah yang memberlakukan Katei Houmon ini. Biasanya dilakukan sampai dengan akhir April, dengan perjanjian sebelumnya akan mengunjungi hari apa dan jam berapa. Waktunya hanya 5-10 menit saja.

Tujuan home visit ini untuk:
1. Mengetahui letak rumah murid sebenarnya.
2. Mengetahui (membaca) kondisi rumah tangga si murid.
3. Mengetahui (membaca) apakah ada permasalahan dalam keluarga si murid.
4. Menyampaikan perkembangan murid kepada orang tua.
5. Menjawab keraguan orang tua murid tentang perkembangan kelas dan tujuan pengajaran masing-masing tingkat kelas.
6. Mengecek keselamatan rute perjalanan ke sekolah.

Jadi barusan nih jam 13:40-13:50 gurunya Kai dua orang datang ke rumahku. Natsuko sensei (guru utama) dan Yachiyo sensei (guru pembantu) . Yang lucunya Natsuko sensei ini sebetulnya tahun lalu tinggal (orang tuanya) tinggal di lantai 2 apartemenku, jadi sebelum Kai masuk TK itu sudah sering bersapa-sapa terutama di parkiran sepeda. Tapi waktu itu aku tidak tahu namanya jadi cuma hafal muka saja. Jadi tadi waktu Natsuko sensei datang, dia langsung berkata, “Miyashita san, saya kan dulu di lantai 2 tinggalnya”….

Lalu Natsuko sensei menyampaikan perkembangan Kai selama bersekolah 2 minggu di TK. Ternyata Kai amat detil jika melakukan pewarnaan atau gunting menggunting. Sangat berkonsentrasi dan detil sekali dibanding dengan teman-temannya. Sampai Natsuko sensei bertanya apakah di rumah Kai sering melakukan prakarya? Hmmm sebetulnya sih tidak, tapi di tempat penitipan memang diajarkan membuat macam-macam, dan Kai sejak kecil belum 2 tahun sudah bisa menggambar mata, hidung, mulut pada tempatnya. Pewarnaan memang lebih rapih, berusaha tidak keluar garis (lain dengan Riku yang lebih bebas berkreasi). Dari situ saja kelihatan ya sifat-sifat masing-masing.

Selama 2 minggu sekolah, baru kemarin Kai menangis waktu aku tinggal di pintu masuk sekolah (sampai diantar masuk kelas oleh ibu kepseknya). Kupikir dia baru “sadar” akan kerutinan yang harus dia jalankan. Tapi tadi pagi tidak menangis, meskipun memang setiap hari sebelum berangkat ke TK dia akan mengatakan, “Aku kangen mama”. Kai lebih bisa dibujuk untuk tetap ke TK, dengan menjanjikan main ke taman atau pergi belanja sama-sama, atau bermain game “hidden object” di komputerku.

Menurut Natsuko sensei, selama ini Kai juga hanya menangis satu kali di dalam kelas, yaitu waktu Kai bingung harus bagaimana setelah melakukan satu tugas. Kai memang suka sebel kalau dirinya tidak bisa sesuatu, jadi itu kupikir nangis desperate nangis kesal (persis Riku dan mamanya hahaha)

Sebelum pulang, ke dua guru ini aku suguhi pisang goreng dan teh melati. Dulu waktu Riku aku tidak menyuguhi apa-apa, tapi kali ini kupikir, aku sudah biasa menghadapi guru-guru itu dan kebetulan ada waktu jadi aku goreng pisang saja. Pisang goreng itu pasti cocok deh untuk lidah orang Jepang. Mudah (dan murah) juga membuatnya kan?

Sepuluh menit itu cepat sekali berlalu, tapi untuk sepuluh menit itu aku sudah susah payah hampir 2 minggu untuk membereskan rumah hihihi (hiperbolis). Soalnya pas pergantian musim jadi barang-barang musim dingin seperti heater dan baju-baju harus disimpan, belum lagi mainannya anak-anak yang tiap hari berserakan di lantai. Lumayan deh sekarang rumahku(baca kandang kelinci)  sudah bisa menerima tamu nih. Siapa yang mau datang? Mumpung masih bersih dan aku belum ngajar hihihihi.

Gambat Kai dengan cat air pertama kali, judulnya "Sakura" katanya.

 

 

 

Musik oh musik

Well, aku suka musik. Saya aku menyanyi, tapi tidak bermain musik. (Alat) Musik lebih enak untuk didengar, daripada dimainkan oleh AKU hehehe. Meskipun waktu SD pernah menjadi anggota  grup Angklung, dan sering “manggung” juga, tapi alat musik selain angklung sepertinya ogah berkawan denganku. Tapi itu juga karena tidak ada “pemaksaan” di SD ku waktu itu untuk bisa menguasai alat musik, minimal suling/pianika (yang setelah angkatan adikku sepertinya menjadi wajib, tapi ngga tau juga kalau sekarang).

SD di Jepang biasanya mewajibkan muridnya untuk bisa bermain alat musik, minimal pianika. Namanya di sini adalah Kenban Harmonika. Dan sekolah Riku meskipun negeri, sangat menitikberatkan pelajaran musik di sekolahnya. Menurut desas desus, daripada pertandingan olahraga, pihak sekolah lebih mementingkan pertunjukan musik, yang biasanya dijadwal pada akhir November/awal Desember dalam kalender kegiatan SD.

Riku kelihatannya tidak berbakat memainkan alat musik (abis bapak-ibunya juga kagak bisa hihihi), sampai terpaksa aku minta pelatih khusus, adikku Tina, datang untuk melatih. Itu juga cuma sebentar. Dan perlu satu kali aku menggembleng dia satu lagu yang akan dimainkan di pertunjukan. Terus terang aku memang tidak bisa membaca not balok, tapi soal ketukan, satu setengah atau seperempat ya bisa dong. Jadilah Imelda guru pianika ketukan sambil nyanyikan lagunya supaya Riku menangkap lagu yang dia mainkan.

Hasilnya, Sabtu tanggal 5 kemarin, seluruh kelas dari kelas 1 sampai 6 SDnya Riku mengadakan pertunjukan musik, Ongakukai 音楽会。 Semestinya minggu lalu, tapi karena ada kelas yang diliburkan karena influenza, jadi ditunda seminggu. Mulai jam 9:15 pagi, dan aku terpaksa tidak ikut menonton karena aku sakit kepala berat. Daripada aku kena atau menyebarkan flu, lebih baik aku di rumah dengan Kai. Dan memang semua penonton diwajibkan memakasi masker untuk mencegah penularan penyakit.

Kelas satu tampil pertama, dan dengan bangganya (mustinya) si Gen mengambil foto anak sulungnya bermain pianika. Ada juga videonya, dan kalau aku lihat sih, Riku selalu terlmat satu ketukan hahaha (tapi mungkin juga akibat pengambilan video yang biasa duluan suara daripada gerakan). Anyhow, Riku sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dan papanya juga pulang ke rumah membawa foto dan video Riku dengan bangga. Dan …. katanya pertunjukan kelas 5 dan 6 sangat bagus. Katanya, “Mungkin kita harus memasukkan Riku ke Yamaha, atau kelas musik supaya tidak ketinggalan”. Hmmmm… To tell the truth aku malas menyuruh anak-anak les ini itu, karena aku dulu waktu kecil tidak pernah juga dipaksa les ini itu oleh orangtuaku. Kecuali Riku memang mau, lain persoalan.