Arsip Tag: sate padang

Pasaraya dan Pak Djaelani

Rasanya kalau pulang kampung dan tidak bertemu teman-teman blogger yang sudah lama kenal memang tidak afdol ya. Maka dari itu, aku merencanakan pertemuan a.k.a kopdar blogger pada tanggal 10 Agustus yang lalu. Yang diundang sebetulnya siapa saja, tapi tentu saja teman-teman blogger yang dulu sudah pernah bertemu di Kopdar Pasaraya tahun 2011. Dan setelah berdiskusi dengan mas Necky, diputuskan untuk tetap memakai Food Court Pasaraya sebagai tempat berkumpul. Dengan pemikiran dekat dengan terminal bus sehingga bisa langsung pulang cepat. Segera kubuat undangannya via event di FB. Praktis ya dengan cara ini, namun tidak bisa diandalkan bagi yang jarang buka FB.

Meskipun aku tahu bahwa resiko membuat acara buka bersama di hari Jumat itu sebetulnya riskan sekali, karena biasanya masing-masing komunitas akan mengisi kegiatan di bulan puasa pada hari Jumat dan Sabtu. Tapi kupikir bukan jumlah pesertanya yang penting, tapi kebersamaannya. Dan benar saja, dengan kehadiran teman-teman ini acara bukber/kopdar blogger Jakarta bisa berlangsung dengan sukses. Aku memang datang yang pertama, maklumlah pengangguran. Kemudian Ibu Enny juga hadir, sehingga kami berdua punya cukup banyak waktu untuk berbincang berdua. Sekitar pukul 5 lewat Krismariana bergabung, dan kami mulai memesan minuman untuk buka (yang buka sih Cuma ibu Enny).

Nah waktu aku habis memesan ketoprak, dari jauh kulihat seorang gadis berjilbab sedang asyik dengan BB nya di tengah jalan orang lalu-lalang. Aku langsung mencari BB ku dalam tas, karena takut ada yang mencariku tapi tak terjawab dan bingung. Kami memang duduk di tempat yang terpisah dari keramaian, sehingga agak sulit untuk dicari. Dan, ternyata memang si gadis itu adalah Inon. Dia cukup modis, tapi itu karena aku tak tahu bahwa ada cerita heboh sebelum ke Pasaraya.

Dan aku juga kaget karena ternyata Mas NH yang tidak mengkonfirm kedatangannya, tiba-tiba muncul. Selanjutnya yang datang adalah Dhana dan temannya. Dhana pada saat itu bukan blogger tapi sebagai pembaca TE, tapi keesokan harinya dia resmi menjadi blogger karena sudah memberitahukan blognya kepadaku. Kalau sempat silakan main juga di sini. Dhana pernah menjadi perawat di Kumamoto, Jepang dan sudah kembali bertugas di RSCM. Satu lagi pembaca setia TE adalah Elizabeth Novianti, yang setiap tahun, pasti kami bertemu. Tahun lalu di kami berdua mencoba restoran Meradelima. Dan sebagai peserta terakhir datangnya (karena macet di busway) adalah Mas Necky.

 

Apa saja ya bahasan kita? Sudah banyak yang lupa, tapi yang kuingat kami membahas soal peraturan imigrasi bagi orang Indonesia. Semisal paspor yang masa berlakunya kurang dari 6 bulan, atau posisi anak-anak kelahiran ibu WNI dan ayah WNA (seperti Riku dan Kai), atau anak Indonesia yang lahir di Amerika yang harus mempunyai paspor Amerika (tidak bisa apply visa) dsb.

Enaknya bukber di Pasaraya ini, karena dibanding dengan restoran di mall lain, relatif lebih sepi. Makanannya juga beragam dan terjangkau jika tidak bisa dibilang lebih murah. Yang pasti ada sate padang Mak Syukurnya 😀 (Rp. 20.000 saja per porsi) yang begitu maknyus deh 😀 Aku pasti pesan sate padang ini kalau pergi ke Pasaraya. (duuuh sambil nulis aja jadi ngiler lagi deh hehehe, kapan bisa ke sana lagi ya….)

 

Akhirnya sekitar pukul 8:30 kami bubar, setelah berfoto bersama tentunya. Dan masalahnya adalah taxi saat itu amat sulit. Rupanya ada kecelakaan beruntun di Senayan, sehingga macetnya minta ampun. Kebetulan ada satu taxi aku naiki bersama Novi, supaya sesudah mengantarkan aku, bisa langsung ke rumahnya di Depok. Yang lucu setelah aku sampai di rumah, Novi mengirim BBM :
Novi: Mbaak taxinya bau ya… 😀
Aku: Makanya aku buka jendelanya hahaha
Novi : Ya, baunya keras d posisi mbak duduk. Krn pas angin ac nya. Posisiku tdk terlalu
AKU : Ya makanya jangan pindah 😀
Novi: Makanya aku pindah posisi lagi 😀

Aku sering menghadapi situasi seperti begini. Supir BB (bukan burung biru tapi bau badan) sehingga mabok deh rasanya. Biasanya aku buka sedikit jendelanya. Tapi pernah loh di Tokyo, aku naik taxi baru, mobilnya baru berbahan bakar listrik. Tapi kok bau ya? Kupikir tadinya karena bau plastik sehingga bau, tapi sepertinya BM alias bau mulut sang supir. Duh benar-benar sengsara deh, sehingga aku perlu mengalihkan pikiran sehingga tidak ‘tercium’. Untung jaraknya ‘hanya’ 20 menit, kalau lebih bisa pingsan aku 😀

 

Tuh kan tulisannya ngalor ngidul lagi. Tapi sebetulnya dari judul posting ini, aku belum menceritakan siapa itu Pak Djaelani kan?

OK, aku mau memperkenalkan supir bajaj ‘keluarga’ kami. Rupanya asisten rumah tangga kami sering memakai jasa pak Djaelani ini untuk antar jemput anak-anak (keponakanku = sepupu Riku dan Kai). Nah karena parno macet ke acara bukber di Pasaraya, kupikir lebih baik aku naik bajaj dari rumah, dan aku meminta asisten kami untuk memanggil bajaj. Sesudah bajaj sampai depan pintu rumah, aku naik dan sempat mengganti status di BB : “Perfume Chanel No 5, mobilnya bajaj orange”.

Seru juga naik bajaj, dan memang lebih bisa nyelip di kerumunan mobil-mobil. Tapi, aku heran mengapa dia tidak masuk ke jalan yang sebelah gereja Effatha.

“Pak, kok belok kiri…”
“Ngga boleh masuk situ. Nanti lewat sana”
Ya sudah kupikir mustinya dia tau dong… Dan dia ikut antri untuk ambil karcis parkir di pintu masuk yang depannya hotel Ambhara. Sambil antri dia berkata,
“Ibunya Sofie ya?”
Loh kok dia tahu?

“Bukan pak, saya tantenya….. “
“Kakaknya ibunya Sofie ya?”
“Iya, makanya gede…” sambil manyun hihihi

“Saya sering anter sofie. Dulu oma suka bilang sama saya… hati-hati bawa anak-anak… Kasian ya Oma…sepi sekarang”
………………. Dan aku terharu… amat terharu. Sekali lagi aku menemukan orang yang mengenal oma (mama). Dia terlihat tulus menyatakan kesepian tak ada oma. Aku harus menahan air mataku.

Tapi, dia tidak membawaku ke jalan sebelah kiri tempat Pasaraya berada.

“Loh mau ke mana pak?”
“Sana…”
“Udah pak sini aja. Nanti saya jalan”, dan aku keluar dari bajajnya dan membayar lebih + 2000 untuk masuk. “Titip anak-anak kalau antar ya….”
Dan aku harus berjalan melalui jalan rusak di depan Gramedia Blok M, yang sepi, sambil ketakutan juga, jangan sampai dijambret. Pak Djaelani, kalau tadi kamu belok kiri di sebelah Effatha, aku tidak perlu jalan jauh. Tapi dengan demikian aku kehilangan moment mengenang mama.

 

Sesaat sebelum turun aku tanya boleh ambil foto tidak 😀 Dan inilah fotonya. Ternyata si Opa (papaku) pun sampai punya no HP nya! Dan aku pernah sms padanya minta “dijemput” untuk pergi bukber daerah blok M ahhahahaa Canggih supir bajaj sekarang

Salah satu episode Perjalanan Hati 2012.

Makanan Terlezat Sedunia

adalah RENDANG. Dan yang kedua adalah nasi goreng. (Ini menurut surveynya CNN loh) Kalau aku pribadi sih maunya SATE PADANG di nomor satu dan Rendang atau KETOPRAK di nomor dua hehehe. Soalnya Sate padang dan Rendang adalah menu pada kopdar terakhirku waktu mudik kemarin.

Tanggal 14 Agustus, Gen bergabung di Jakarta. Setelah 6 tahun tidak ke Jakarta, tahun ini aku paksakan satu minggu rencana ke Jakarta sudah sejak bulan Februari waktu aku memesan tiket. Tahun-tahun sebelumnya, dia tidak bisa menjanjikan libur karena selalu ada acara besar yang membutuhkan kehadirannya di tempat kerjanya. Tapi tahun ini, dengan resiko di-cancel, aku beli tiketnya.

Jadi tanggal 13 Agustus adalah hari terakhir aku bisa merencanakan kopdar, karena setelah itu sang Bunda Ratu (julukan dari Imoe loh) harus dipingit :D. Kopdar terakhir dan mungkin yang terheboh karena pesertanya dari macam-macam daerah. Tamu agung dari Pariaman : Imoe + 2 anak, dari Yogya : Uda Vizon, dari Serang : Koelit Ketjil dan kakak, dari Bandung : Catra + DM. Yang menjadi satu kesamaan mereka yaitu : urang Minang atau (pernah) calon urang Minang **perlu melirik siapakah ini?**. Plus Urang Sunda dan Japanis boys.

Berawal dari percakapan via internet dengan Imoe. Sudah lama kami ingin bertemu (ini merupakan kopdar pertama untuk kami), dan kebetulan dia ada acara di Bogor sehingga bisa “dipaksakan” untuk ke Jakarta setelah selesai. Nah, karena kebanyakan pesertanya dari daerah, aku cukup sulit memikirkan tempat pertemuan. Rasanya kalau bertemu sore hari, buka bersama di restoran, lalu bubar grak, rasanya gimana gitu. Kasihan juga sudah datang dari jauh. Kalaupun seandainya melewatkan waktu di karaoke dengan dugem bersama, mereka harus sahur juga. Apalagi Imoe dan Uda Vizon akan kembali ke Padang dan Yogya Minggu siang. Kan aku bisa ikut mengantar mereka dan sekaligus menjemput Gen yang mendarat jam 3 sorenya.

Pikir punya pikir, aku memang merasa paling enak mengadakan pertemuan di rumah, bisa lebih santai. Tapi aku tidak punya rumah di Jakarta. Rumah yang kutinggali bukan rumahku, tapi rumah orangtuaku, dan adikku sekeluarga juga tinggal di sini. Ah, ribet! Jadi aku mengambil satu kamar di The Belleza Suites, Permata Hijau, tidak jauh dari rumahku. Waktu mencari kamar di agoda.com, memang yang aku pilih haruslah kamar dengan kamar tamu, dan kebetulan aku pernah dengar tentang apartemen di Permata Hijau yang bisa disewa ini. Jadi, aku tentukan tempat berkumpul di Belleza sesudah jam cek in, jam 1 siang.

naik motor, main, berenang, bercanda melengkapi kopdar hari ini

Tapi Koelit Ketjil (KK) yang datang dari Serang kurang mengerti daerah Permata Hijau. Justru lebih mudah menemukan rumahku di kebayoran. Dan tentu saja Riku dan Kai senang bisa bertemu sama om nya yang pernah pergi bersama ke Tanjung Lesung tahun lalu. Apalagi KK datang bersama kakaknya naik sepeda motor. Anak-anak langsung mengklaim untuk naik sepeda motor keliling kompleks. Dan mereka inginnya naik sepeda motor ke Belleza.

Bagaimana Belleza? Hmmm pertama itu bukan hotel. Tidak menyediakan parkir untuk sepeda motor, sehingga KK dan KKK (Kakaknya KK) harus cari parkir motor di luar kompleks. Ah, diskriminasi ya? Begitu masuk lobbynya, memang ada ruang untuk duduk-duduk yang…sepi. Reception? Hanya satu orang wanita muda berjaga, dan tanpa tulisan “Reception”. Begitu aku serahkan print out pemesanan kamar, dia lalu menyerahkan kunci kamar no 10, di lantai 11. Jangan berharap banyak pada tempat ini, karena memang pada dasarnya gedung ini adalah apartemen yang disewakan. Mungkin bulanan. Yang pasti di depan elevator ada satpam, yang mengawasi gerak-gerik kita. Ya maklum juga sih, karena tempat ini terhubungkan dengan tempat belanja 24 hours dan restoran lainnya. Tamu bisa leluasa masuk keluar, jadi pengamanan memang diperlukan.

Gedungnya memang terlihat mewah dari luar, tapi aku cukup kecewa dengan kamarnya. Masih baru tapi di bagian langit-langit sudah terlihat retak dan bekas bocoran. Belum lagi air yang tergenang di kamar mandi karena saluran pembuangan yang tidak bagus. Mau panggil “room service” hmmm tidak ada, dan jangan berharap ada yang bisa membetulkan. Sehingga kami harus sabar dengan kondisi yang ada. Tapi yang penting saat itu bagiku, aku mempunyai ruang tamu dan meja makan yang bisa dipakai untuk menjamu teman-temanku. Ada kitchen, dua piring, dua gelas, dua cangkir, tapi tak ada sendok, garpu….apalagi panci 😀 Jadi percuma saja ada kompor di sana. Mungkin semua yang tinggal di sini harus membawa panci sendiri ya? Ah, sebenarnya dengan harga yang sama, aku lebih suka tinggal di hotel yang lengkap dengan pelayanan.

Sambil menunggu teman-teman yang belum datang, aku mengajak anak-anak berenang di lantai 5. Ternyata semua kolamnya hanya 1 meter sehingga Riku bisa merenanginya. Tapi Kai hanya bisa di tempat anak-anak. Senang melihat mereka enjoy, meskipun hanya sebentar.

Tak lama Imoe, Catra dan anak-anak pengikut Imoe datang bergabung. Sambil ngantuk-ngantukan dan menonton tv kami menunggu DM, Uda Vizon dan …waktu buka (meskipun aku ngga puasa sih hehehe). Aku memang bingung menentukan menu. Inginnya membeli segala yang enak untuk dimakan bersama, tapi sekali lagi waktu dan tenaga yang menjadi penghalang. Dan kamu tahu dong kalau hari Sabtu bagaimana macetnya. Jadi aku cuma sempat “lari” membeli sate Mak Sukur dan Nasi Padang (tentu saja dengan Rendang sebagai pokoknya). Tahun depan harus menu yang lain nih….(mulai mikir dari sekarang)

"menyerbu" sate mak sukur, "melantai" dengan nasi padang. Tak lupa berpose bersama Jong Labar (dalam tupperware warna kuning itu tuh)

Dan satu lagi yang aku syukuri hari ini adalah “kehadiran” Nique dengan buatannya Jong Labar. Nique hanya menitipkan Jong Labar itu di receptionis dan langsung kabur lagi. Ya, mungkin dia merasa belum waktunya membuka kedoknya di depan sekian banyak blogger. Tapi terasa sekali “cinta”nya sekaligus keinginannya untuk bergabung bersama kami. Terima kasih banyak Nique.

Karena sudah pukul 9 malam aku harus pamit. Aku tanya pada Riku apakah dia mau menginap? “Boleh ma?” dia bertanya. Tentu saja boleh. Aku tahu dia akan senang sesekali berpisah semalam dengan ibu dan adiknya (yang cerewet). Untung saja Kai tidak minta nginap juga. Dia masih “Aku mau sama mama”s boy. Ah… anak laki-laki…aku harus siap sedikit demi sedikit melepaskan mereka untuk bertualang sendiri. Dengan meyakinkan ada makanan dan minuman untuk sahur, aku meninggalkan mereka.  Kopdar terakhirpun selesai, setelah aku melambaikan tangan pada Uda Vizon yang menuju bandara dengan supirku, serta pada DM yang pergi menuju acara meeting di Bintaro. Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, ada proses juga ditengahnya. Aku pun menutup pertemuan -pertemuanku dengan teman-teman masa lalu, dan teman-teman blogger dengan harapan bisa bertemu lagi, suatu waktu nanti.

Jadi? Sudah berapa blogger (+mantan blogger) yang kutemui selama mudik summer 2011  ini? Ayo tebak! Yang belum sempat aku temui perlu dicatat nih, supaya tahun depan kita bisa bertemu ya….

Kopdar Belleza

 

Bisa baca laporan kopdar Belleza di sini juga:

http://hardivizon.com/2011/08/18/the-bellezza/

http://imoe.wordpress.com/2011/08/20/kopdar-dengan-sang-bunda-ratu/

 

Ngidam yang Terpuaskan

Selama aku mengandung Riku dan Kai, tidak pernah “ngidam” dalam arti ingin makanan tertentu. Sama sekali tidak ada, mungkin karena “mabok”nya lebih parah. Mabok muntah-muntahnya berlangsung sampai hari melahirkan, tapi tidak pengaruh dengan kenaikan berat badan loh (maksudnya BBnya naik wajar saja, 1 bulan 1 kg).

Tapi setelah melahirkan Kai, rasa rindu pada tanah air, homesick yang amat sangat bisa menyebabkan aku “ngidam” masakan tertentu. Apalagi saat-saat vakum setelah mudik (September) , sampai sekitar Maret/April kala aku belum bisa menentukan punya budget tidak untuk mudik waktu summer vacationnya. Bulan Desember – Januari kemarin aku banyak mencoba membuat risoles, kroket, lumpia semarang, jajanan Indonesia karena homesick. Apalagi puncaknya waktu Kai makan ikan asin terakhirku pas aku mau makan bubur manado…. huhuhuhu, pengen nangis rasanya tapi apa boleh buat. Apalagi Kai bilang, “Enak loh ikan ini”

Kai "mencuri" ikan asinkuuuuu

Nah, sahabatku di Tokyo, Whita rupanya juga tukang masak. Dia pernah upload foto batagor dan sate padang di FB nya. Dan tentu saja aku berteriak… “MAUUUUUU!”. Jadi kemarin tgl 23 Februari, aku bertandang ke rumahnya untuk menagih janjinya 😀 (Padahal ceritanya ngumpul untuk merayakan HUT Whita tgl 8 Februari yang lalu).

pertemuan kedua di tahun 2011

Aku datang bersama Kai dan begitu dipersilahkan makan, langsung deh ngga malu-malu lagi ambil nasi + Rendang + Sate Padang dan Gulai Kepala Ikan. Tentu saja makan pakai tangan duongggg… Tuh kan saking serunya menceritakan makanan, sampai lupa bahwa selain mengundang aku,  Jeng Whita juga mengundang Ekawati Sudjono yang tinggal nun jauh di Tsukuba. Ini pertemuan kami ke dua tahun 2011, sesudah pertemuan waktu aku ulang tahun.

obat untuk yang ngidam

Bisa bayangkan kan? Jika kita ingiiiin sekali sesuatu dan terpenuhi. Rasanya puaaaassss banget kan? Aku tidak pernah berharap bisa makan sate Padang di Tokyo. Satu-satunya masakan yang aku suka dan belum coba buat ya Sate Padang ini. Membayangi buatnya aja males gitu hehhee. Nanti aku berguru pada Whita deh, biar setiap kali “ngidam” Sate Padang bisa langsung makan. (But u know, dimasakin itu sensasinya lain dengan masak sendiri :D)

Monyong semua untuk blow the candles....

Karena aku harus pulang paling lambat jam 3, aku hanya punya waktu 2 jam di rumah Whita. Begitulah kalau emak-emak, ngga bisa santai-santai musti pikir anak pulang jam berapa dsb dsb. Itupun Riku pulang sekolah jam 2:30, sehingga dia menunggu di rumah sendirian cukup lama karena perjalanan dari rumahku ke rumah Witha makan waktu 1, 5 jam.

Terima kasih untuk undangannya ya Whit. Bener deh ngidamnya terpuaskan. Dan waktu makan di rumah Whita itu aku merasa yakin bahwa memang makanan yang selalu aku kangeni adalah Sate Padang 🙂 🙂 🙂

Sky Tree maskot Tokyo sebagai Tower tertinggi dunia yang masih dibangun terlihat dari beranda apartemen Whita

 

Jam berapa sekarang?

Apakah kamu-kamu bisa langsung menjawabnya? Pasti harus melihat jam tangan atau jam di HP dulu untuk bisa menjawabnya bukan?

Nah, pada hari ke 26 aku di Jakarta ini, aku tertawa getir. Yaitu ketika aku berada di sebuah restoran sushi di Senayan City. Om ku yang puasa menunggu jam buka, dan mengatakan bahwa paling aman jika jam sudah menunjukkan pukul 6 tepat. Dan kemudian aku jawab : “Sekarang sudah pukul 6″, tapi disanggah papaku…” Belum masih 6 menit lagi!”. Lohhhhh berarti jamku itu kecepatan 6 menit dong? Memang aku selalu heran karena jam di komputerku tidak sama dengan jam di HP Jakartaku. Tapi selalu kupikir jam di HP lah yang benar. Hmmmm TERNYATAAAAAAAA….. aku selama ini TIDAK PERNAH TERLAMBAT!!!! horeeeee…………..

Aku selalu berusaha menepati janji. Aku akan merasa tidak enak jika harus membuat orang lain menunggu. Untuk ini mungkin aku sudah menjadi orang Jepang…..

Seorang teman SMP ku Ika, mengajakku makan siang bersama sebelum bulan Ramadan mulai. Hari Jumat tanggal 6 Agustus, pagi hari dengan bertukar sms.
Ika : “Mel… ternyta hr ini ank gw hrs dijmpt tepat wkt. Ntar lunch di Pisa Cafe di Mahakam ya biar dket ma sekolh ank gw”
Aku : “OK ka. Mau dicepetin juga GPP kok”
Ika : ” Paginya hrs belanja dulu jd bs nya j 11. Tepat ya say”
“Kita kan aliran jepun jd udh biasa on time”
Aku: “Hahaha okay. C U @pisa cafe mahakam jam 11 ya”

Jadi jam 10:30 aku sudah mempersiapkan Riku dan Kai untuk pergi. Biasalah heboh pergi dengan anak-anak kan. Jam 10:45 bingung mau pergi naik taxi sendiri atau minta diantar opa yang akan menjemput cucu. Andy adikku sudah melihat aku senewen lalu berkata: “Sini mahakam cuma 8 menit kok mel”. Well, cepat-cepat naik mobil dan kami diturunkan opa tepat di depan Pisa Cafe. Begitu turun mobil aku melihat jam di HP (yang jamnya kecepatan 6 menit ituuuu)… yaaah jam 11:03 . Aku terlambat deh.

Tapi aku disambut dengan senyum lebar sang pelayan. Tentu saja karena kami adalah tamu pertama mereka. Loh… rupanya Ika belum sampai.

Ya sudah, karena anak-anak sudah lapar, aku memesan makanan saja dulu. Baru kulihat ada sms jam 10:50 darinya, “Mel, gomen telat kyknya macet”, dan kubalas, “No problem. Aku sudah pesen makanan soalnya anakku kelaparan”.

calzone yang merupakan favoritku di pisa cafe

Aku sudah beberapa kali ke restoran Pisa ini yang terkenal dengan es krimnya. Dan biasanya aku pesan Calzone, sebuah pizza tertutup seperti sebuah pastel raksasa. Rasanya yummy, dan disukai Riku dan Kai.

Bersama Ika, teman di SMP setelah 27 tahun....

Akhirnya Ika datang setelah 20 menitan, dan kami langsung bercerita banyak. Catch up berita selama 27 tahun tak berjumpa. Terakhir bertemu waktu SMP, karena dia kemudian masuk LPK Tarakanita, sedangkan aku ke SMA Tarakanita. Pukul 1:30 aku pamit karena aku punya janji bertemu seseorang di Senayan City pukul 2:00. Tapi aku masih ragu apakah aku akan mengajak anak-anak atau tidak, jadi aku mau naik bajaj pulang dulu ke rumah.

Riku dan Kai yang suka naik bajaj

Dan…. Kai berteriak gembira, “Bajaj da…bajaj da… sugoi ne”. Senang sekali Kai dan Riku naik bajaj…. yang pertama dan terakhir untuk Kai, sedangkan untuk Riku, dia sering ikut asisten RT yang harus menjemput sepupu-sepupunya naik bajaj. Kai? Tidak pernah mau berpisah dariku 😀

Tapi hari Jumat itu memang hari yang sial. Karena setelah kami sampai rumah, aku menghubungi temanku itu, ternyata dia baru berangkat dari depok naik taksi. Jadi aku bilang padanya, tolong sms aku deh kalau sudah dekat-dekat senayan. Dari rumah ke sency paling lama 10 menit. Dan…. karena hujan, disertai macet di mana-mana, kamu tahu aku bertemu dia di sency jam berapa? Jam 4 sodara-sodara. Selama2,5 jam dia terkatung-katung dalam taksi. Kasihan sekali. Karena itu aku memang tidak ada perasaan sebal jika harus menunggu teman yang terlambat (Juga waktu menunggu Ika 20 menit itu… karena aku sudah sampai duluan kan bisa makan atau minum duluan, sementara yang ditunggu pasti sedang panik di jalan) . Ya Jakarta gitu loh. Semuanya tidak bisa diprediksi.

Nah, kejadian yang hampir serupa terjadi keesokan harinya. Tanggal 7 Agustus. Ceritanya  kami akan mengadakan kopdar+reuni. Karena anggotanya adalah Retty N Hakim yang blogger dan kakak kelas di SMA (mungkin sekelas dengan adiknya mas NH nih 😉 hehehe) , Diajeng yang sekelas denganku di SMA (eh kita sekelas ngga ya?) . Tapi yang pasti kami bertiga adalah anggota ekskul Science Club di SMA. Foto kami bertiga waktu masih culun ada di page about me tuh. Secara tidak sengaja Retty menemukan blogku ini persis sebelum aku pulkam, jadi merasa wajib bertemu. Kopdar+ Reuni!Dan yang menghubungkan kami juga adalah Krismariana, karena Kris mengenal Retty duluan di internet. Dari Blogroll Kris, dan masukan dari Diajeng akhirnya Retty bisa “menemukan”ku. Well dunia (internet) memang kecil!

Diajeng yang mengatur waktu pertemuan kami, Sabtu tgl 7 itu di PIM2. Katanya: “…jam 10 kalau bs sdh tiba disana yaa, maklum hr sabtu kan acaranya padat merayap…”.

Karena Krismariana belum pernah ke PIM, padahal sudah sering ke rumahku, jadinya mampir dulu ke rumahku, dan kami bersama-sama naik taxi ke sana. Kali ini hanya Kai yang ikut. Perkiraanku dari rumahku sampai PIM butuh waktu kira-kira 30 menit. Ternyata kami sampai dalam waktu 20 menit. Jadi deh kami bengong 10 menit di PIM, karena semua toko, eskalator dan lift buka jam 10 teng! Sementara Kai dan Kris jalan-jalan di depan toko yang belum buka di lantai 1, aku sempat menghubungi teman-teman lewat sms dan telepon.

Menu makan pagi+siang hari itu. Sate padang.... yang tidak bisa aku buat sendiri.

Begitu lift dibuka, kami langsung pergi ke lantai atas, ke food courtnya. Ya, aku ingat aku pernah juga janjian dengan teman di sini. Karena masih pagi, kami adalah tamu yang pertama sehingga bisa memilih tempat yang enak. Tentu saja sambil menunggu kehadiran Diajeng dan Retty, aku membeli makanan duluan. Karena aku juga belum sarapan, jadilah Sate Padang dan es campur ntah apa namanya jadi menuku hari itu. Sate Padang bener-bener menjadi menuku waktu mudik, karena paling sering aku makan.

Kami berempat berbicara ngalor ngidul, tentang blog, tentang sekolah dulu, tentang pendidikan anak-anak sekarang… macam-macam deh (sampai aku sudah lupa kita bicara apa ya? hehehe) . Yang pasti blog kami memang harus menjadi blog informatif bagi yang membaca ya? (eh semua berpikir yang sama kan hehehe). Keep on bloggin girls eh ladies!

Kopdar reuni hari itu, Kris + Diajeng + Retty dan aku+ Kai

Jadi aku mau kembalikan lagi ke topik semula, bahwa aku senang, selama mudik aku bisa tetap menjaga kejepanganku dengan selalu tepat waktu hahaha. Sebetulnya ada satu lagi cerita tentang waktu ini, tapi karena ceritanya panjang, aku tulis di posting terpisah.

So … jam berapa sekarang? (Aku publish ini pukul 2:47 pagi, karena tidak bisa tidur karena berisik!! Siapa yang berisik? Nanti aku bisikin deh 😉 )