Arsip Tag: sakura

Mengejar Sakura

Sudah sejak awal Maret diperkirakan bahwa bunga sakura, bunga kesayangan warga Jepang akan mekar di Tokyo sekitar tanggal 5 April. Berdasarkan perkiraan ini ada beberapa orang Indonesia yang merencanakan untuk datang ke Jepang dan menikmati keindahan bunga sakura awal April. TAPI ternyata mereka harus kecewa, karena sakuranya tidak sabar lagi menunggu untuk mekar sekitar tanggal 20-an Maret, yang berarti terlalu cepat 2 minggu dari perkiraannya.

Dan bagi warga Jepang, merupakan suatu keharusan untuk melihat keindahan sakura. Kata Gen tadi pagi, “Orang Jepang sebetulnya aneh juga, mereka menanam sakura. Berbunga tanpa daun sama sekali, setelah gugur bunganya baru daun keluar. Dan berbunganya paling lama hanya dua minggu, setelah itu…dauuuun semua. Belum lagi ulat bulunya. Jadi orang Jepang memelihara sakura hanya untuk 2 minggu dibanding ‘pengorbanan’ selama 50 minggu yang lain” hehehe iya juga sih. Tapi begitulah sifat orang Jepang. Memelihara untuk sesuatu yang dinantikan, kalau perlu dengan jiwa raganya. Dirawat terus sehingga mereka tahu akan datang masanya mereka bisa menikmati hasilnya. Sifat yang menganyom, membina, merawat ini yang perlu orang Indonesia pelajari. Tidak ada hasil maksimal tanpa kerja keras lama sebelumnya. Tidak ada yang instan, atau kalau pun ada, harus dipelihara supaya bisa rutin mendatangkan keuntungan. Kalau tidak mau merawat, bagaimana bisa menikmati hasil?

Ah, pembicaraanku menjadi berat. Pokoknya orang Jepang akan membuat waktu untuk melihat bunga sakura waktu berkembang. Kegiatan melihat sakura ini dinamakan HANAMI. Yang sebetulnya arti harafiahnya HANA = bunga MI =melihat. Melihat bunga. Jadi aku tanya pada Gen, kalau “melihat bunga”, mestinya kalau ada kegiatan melihat bunga momo (peach) atau bunga lainnya juga bisa dipakai dong? TIDAK BISA! Hanami adalah melihat sakura. TITIK! Segitunya cintanya masyarakat Jepang pada sakura. Dan yang namanya HANAMI sebetulnya bukan hanya melihat sambil jalan. Biasanya mereka akan menggelar tikar di bawah pohon sakura, lalu makan dan minum atau piknik di bawah pohon sakura. Tentu saja minum alkohol juga. Dan konon mereka akan senang sekali kalau kelopak bunga jatuh ke dalam minuman mereka, seakan membawa keberuntungan untuk tahun (fiskal) yang akan datang.

Sepanjang jalan Oizumigakuen dori. Kuambil dari sepeda.

Nah, sebagai orang setengah Jepang :D, tentu saja aku mencari kesempatan untuk HANAMI, dalam arti harafiah yaitu melihat sakura, bukan piknik di bawah sakura :D. Kalau melihat satu dua pohon di dekat rumah memang bisa dan ada, tapi melihat banyak pohon sakura di taman itu yang butuh jadwal. Kesempatan pertama adalah pada hari Minggu tanggal 24 Maret, waktu kami pergi nyekar ke makam keluarga di Yokohama. Di sana ada ada beberapa pohon sakura yang indah, dan di sebelahnya ada rumah tradisional Yokomiso. Dan yang paling aku suka di sana ada ladang Na no hana, hamparan bunga kuning yang aku sukai. Entah kenapa aku memang lebih suka bunga yang warnanya kuning daripada pink! hehehe.

Hanami sekaligus nyekar
Ladang Na no hana

Setelah di yokohama itu, aku janjian untuk pergi ke Taman Inokashira pada hari Senin tanggal 25, tapi batal karena hujan. Tapi pada tanggal 26 Marte itu, aku janjian dengan Sanchan, teman baruku di Tokyo untuk mengantar anak-anak kami menonton di Kichijoji. Ada film doraemon yang baru. Riku sudah cukup besar untuk aku berikan tanggung jawab menjaga Yuyu kun dan Kai, sehingga mama-mamanya bisa pergi ke Taman Inokashira untuk hanami. Jadi selama mereka menonton 1,5 jam itu kami berdua jalaaaaan terus mengelilingi Taman Inokashira!

Taman Inokashira

Yang menakjubkan, waktu kami berjalan berkeliling begitu, tiba-tiba ada seorang wanita sebayaku yang menyapa. Ternyata sama-sama orang Indonesia dari Jakarta yang bersuami orang Jepang. Dia sendirian saja, sehingga kami bertiga sempat berfoto bersama. Senang juga bertemu teman baru.

Kami juga tidak lupa untuk berfoto di depan danau “legenda” Inokashira, tempat dimana kita bisa naik perahu menyusuri danau yang tepinya dirimbuni pohon sakura. Konon pasangan pacaran tidak boleh ke sini, karena setelah dari sini biasanya putus! Tapi aku tidak pernah percaya tabu-tabu seperti begitu sih.

danau legenda Taman Inokashira

Tapi kulihat pohon sakura yang tahun lalu rimbun, tahun ini tidak banyak bunganya. Kelihatannya banyak pohon yang sudah berdaun tanpa bunganya sempat mekar. Entah mungkin karena cuaca yang berganti-ganti sehingga tidak seperti biasanya. Setelah berkeliling satu taman, kami berjalan kembali ke bioskop untuk menjemput anak-anak dan makan all-you-can-eat di Shakeys Pizza.

Setelah tanggal 26 itu, pada tanggal 27 nya kami pergi ke rumah kakek neneknya Riku dan Kai di Yokohama. Kami mau mencoba naik jalur kereta baru yang menghubungkan stasiun dekat rumah kami, langsung sampai stasiun dekat rumah di yokohama, tanpa perlu ganti kereta. Kalau dulu kami paling sedikit harus satu kali ganti kereta, tapi sekarang tinggal duduk selama 54 menit dan turun! Praktis sekali. Kami pun menginap semalam di Yokohama, dan pagi harinya aku dan Kai sempat hanami di taman dekat rumah. Pohon sakura di sana juga bagus! Dan tidak ada orang lain, sehingga bisa menikmati sendiri.

 

Taman dekat rumah di Yokohama

Setelah itu kami konsentrasi untuk Jumat Agung dan Paskah. Setelah misa Paskah tanggal 31 Maret itulah, kami mau mencari makan siang, sehingga kami mengalir begitu saja ke arah Mitaka untuk mencari restoran. Eh tahu-tahu di daerah Chofu kami melihat seperti taman besar, dengan pohon-pohon Sakura yang rimbun. Sambil mencari namanya di Car Navigation kami, ternyata di situ ada Tokyo Metropolitan Jindai Botanical Garden. Kami putuskan untuk mencari parkir (untuk 3 jam sekitar 1000 yen) dan turun.

Taman Jindai

Ternyata harga karcis masuk di Taman Botani Jindai ini lebih mahal dari Taman Showa Kinen di Tachikawa (Kalau taman Inokashira gratis) , yaitu 500 yen untuk dewasa tapi gratis untuk anak-anak. Setelah masuk dan makan siang di restoran taman itu, kami mulai berjalan mengelilingi taman. Hari Minggu itu benar-benar dingin. Hujan pada pagi hari, tapi waktu kami di situ sekitar pukul 3 sudah tidak hujan. Memang bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan di taman. Tapi ada kok beberapa orang yang segila kami 😀 Dan kalau membandingkan jumlah pengunjung dengan luasnya taman, wah rasanya taman itu kosoooong sekali. Senang karena bisa berfoto tanpa terganggu dan mengganggu pengunjung lainnya.

Ada kumpulan pohon Sakura yang membuat permadani dengan kelopak bunga sakura karena banyak kelopak yang berguguran setiap tertiup angin. Anak-anak berlarian mengejar kelopak yang jatuh dan kami benar-benar menikmati kemewahan ini. Karena tidak berencana ke sini, aku tidak  membawa kamera DSLRnya, sehingga kamera Canonku kuberikan pada Gen, dan aku memakai iPhoneku.

Padang rumput di Taman Jindai

Apalagi di bagian tengah ada padang rumput yang mengundang orang untuk tiduran di situ.Diawali dengan Riku yang jatuh karena berkejaran dengan Kai, aku pikir kenapa tidak membuat foto dengan duduk di rumput. Lalu kami mencoba setting self-timer dan…click…. Ada dua foto kami sekeluarga dengan pose berbeda yang kami sukai. Sebetulnya mau foto-foto lebih banyak lagi, tapi Gen sudah kedinginan. Aku sih tidak karena memang aku pakai coat musim dingin yang tebal. Biasanya setelah akhir Maret, orang Jepang menyimpan winter coat mereka dan pakai spring coat. Aku ada sih spring coat tapi kok malas bongkar lemari untuk mencarinya. Dan untunglah aku memakai coat yang tebal, karena saat itu suhunya sekitar 6 derajat!

 

jenis sakura

Kami berjalan terus mengelilingi taman dan melihat bermacam tanaman juga selain sakura. Pada waktu yang bersamaan bunga pohon momo (peach) juga berbunga, dan bagi yang tidak biasa akan menyamakan bunga momo sebagai sakura, padahal beda!

jenis bunga momo

Sekitar pukul 5 sore, pihak Taman menyalakan lampu-lampu sampai jam 8, waktu taman ditutup. Sakura waktu malam disebut dengan Yozakura, juga indah… tapi aku jarang karena memang jarang keluar malam. Dan rasanya kok tidak seindah aslinya 😀 Tapi kami sempat berfoto dibawah siraman lampu di bawah Sakura sebelum pulang pada pukul 6 sore.

light up di Taman Jindai

Senang sekali bisa menikmati Sakura sekeluarga, karena biasanya Gen terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu santai, dan timingnya pas sekali. Tanpa rencana tapi bisa menemukan taman yang begitu bagus. Dan to tell the truth, Taman Inokashira memang cuma menang karena ada danaunya saja. Untuk kerimbunan sakura, taman Jindai ini tidak kalah!

Dan hari ini tanggal 3 April hujan terus sejak kemarin, apalagi disertai angin kencang! … Tampaknya bunga sakura sudah harus berpisah dengan sang pohon. Musim hanami sudah selesai 🙁

**********************************************************************************************************

Oh ya, hanya mau mengingatkan bahwa tanggal 1 April kemarin Blog TE ini berulang tahun ke 5 dan aku mengadakan giveaway yang bisa dibaca di sini detilnya. Kalau sempat ikut ya, masih lama sih penutupannya sampai tanggal 22 April … Terima kasih sebelumnya!

Four Seasons

Pernah dengar lagunya Vivaldi yang berjudul Four Seasons? Meskipun aku tidak hafal, aku kadang mendengar lagu-lagu dari Vivaldi ini, terutama Four Seasons -Spring-. Bagi orang Indonesia memang Four Seasons merupakan suatu konsep yang sulit dimengerti, karena Indonesia hanya mempunyai dua musim saja.

Bahasa Jepangnya Shunkashuutou  春夏秋冬, deretan kanji yang berarti musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Seorang nenek yang kutemui di taman pasca gempa mengatakan, “Meskipun ada macam-macam musibah di Jepang, aku merasa orang Jepang bisa tetap bersemangat karena ada 4 musim ini, shunkashuutou. ” Memang dengan adanya kugiri, atau periode yang dibuat oleh alam ini, manusia bisa sejenak berhenti, mengambil nafas untuk memasuki musim yang baru.

Kata Gen, "Orang-orang asing biasanya bingung kok bunga sakura bisa "nempel" di batang pohon ya?"

Kembali lagi ke huruf kanjinya Musim Semi adalah yang pertama disebut. Seperti lagu Vivaldi Four Season yang Spring, musim ini membawa keriangan, harapan baru dan semangat baru. Bunga-bunga dan daun baru bermunculan, hijau, kuning, putih, merah, merah muda menghiasi pandangan mata yang tadinya kusam ,putih, abu-abu di musim dingin.

Dan tentu saja yang dianggap mewakili musim semi adalah bunga Sakura. bunga yang dianggap sebagai bunga Jepang. Kabarnya di Jepang ada sekitar 200 jenis pohon/bunga sakura. Dan tentu saja warga Jepang menanti-nantikan kesempatan untuk melihat, menikmati bunga sakura yang disebut dengan HANAMI 花見 sampai memperhatikan ramalan cuaca di TV, karena biasanya akan diberitahukan kapan dan dimana bunga sakura mekar sepertiga, setengah atau sempurna (mankai 満開) .

Tapi karena Jepang baru kena musibah, memang diimbau agar tidak membuat pesta-pesta sambil hanami. Biasanya memang hanami selalu disertai dengan pesta makan dan minum alkohol di bawah pohon sakura. Konon jika kelopak sakura jatuh ke dalam gelas-gelas maka akan beruntung sepanjang tahun. Yah, apa saja dibuat “alasan” untuk bisa menikmati keindahan yang diberikan alam ini. Akibat imbauan ini, banyak tempat-tempat yang biasanya ramai oleh kedatangan warga Tokyo menjadi lebih sepi dari biasanya. Bukan lebih sepi, malah….sepi.

De Miyashita tidak punya kebiasaan untuk hanami dalam arti “piknik” di bawah pohon sakura. Biasanya kami hanya berjalan di bawah pohon, berfoto atau bahkan kadang hanya melihat dari mobil yang berjalan. Nah, hari Minggu lalu (tanggal 10 April 2011), kami menemani papa Gen ke kantornya di Saitama. Sebelumnya mengambil buku dulu di perpustakaan yang bersebelahan dengan Taman Shakujii. Waaah sepanjang jalan dipenuhi dengan orang-orang yang berjalan atau naik sepeda. Belum pernah kami melihat orang sebanyak ini tumpah ruah di Taman Shakujii.

Setelah mengambil buku perpustakaan pesanan Riku, kami menuju Saitama. Gen perlu ke kantor selama 2 jam-an, jadi aku pikir lebih baik dia yang membawa mobil, kami diturunkan di Saiboku Farm. Saiboku Farm ini cukup luas untuk ditelusuri dan bisa untuk menghabiskan waktu 2 jam.

Begitu sampai di Saiboku Farm ini jam sudah menunjukkan pukul 4. Hmmm aku, Riku dan Kai langsung lari ke lapangan golf di bagian belakang. Dulu waktu kami ke sini pernah membaca bahwa ada paket golf untuk anak-anak, wanpaku 400 yen per anak.  Riku ingin sekali bermain golf (huh gaya deh ini anak), jadi aku tanya apa masih bisa bermain wanpaku itu. Sebetulnya sudah ditutup pukul 3:30, tapi untuk kami diperbolehkan bermain. Jadilah Riku dan Kai bermain “golf-golf-an” menyelesaikan 8 hole (4 par x 2 ).

gaya deh!

Terus terang aku belum pernah main golf, tidak tahu juga istilah-istilah golf dan tidak minat 😀 Jadilah Riku dan Kai bermain seenak mereka. Sehingga boleh dikatakan mereka bermain “bola sodok, bola gelinding dan bola base (baseball)” hahaha. Tidak ada golf-golf an sama sekali deh. Yang penting bolanya masuk lubang 😀

Tapi lapangan golf wanpaku ini dikelilingi pemandangan yang bagus, dengan satu pohon sakura yang megah. Jadilah aku fotografer memotret anak-anak dan pemandangan.

Bermain di jungle gym. Kai takut-takut sehingga perlu dibantu Riku

Setelah puas bermain di lapangan golf, kami bermain sebentar di jungle gym di taman dekat parkiran. Di sini juga ada 3 babi gemuk yang di “pamerkan” untuk anak-anak. Wih ndut bener deh tuh babi-babi. Jadi ingat cerita 3 babi dan serigala deh 😀

kolam ikan KOI dengan shidarezakura

Karena mulai lapar, kami mencari snack di kedai-kedai yang ada di sekitar Saiboku Farm dan Onsen (Pemandian air panas) Maki no yu. Sebetulnya Riku ingin sekali masuk berendam di hot spring, tapi karena aku sedang berhalangan terpaksa tidak bisa lagi deh. (Waktu pertama kali ke sini juga tidak bisa karena tidak janjian dengan Gen).

Acara “hanami” hari ini akhirnya ditutup dengan makan malam setelah Gen bergabung dengan kami. Barbekyu untuk merayakan Riku naik kelas 3 SD dan Kai masuk TK.

Kai sudah tambah pandai memakai sumpit

 

Taman Ria

Tahu Taman Ria kan? Bukan tamannya si Ria sih…. Dulu di Jakarta aku tinggal dekat dengan Taman Ria Senayan, tapi sekalipun aku belum pernah bermain ke sana. Aku justru pergi ke sana, ke sebuah cafe yang saya lupa apa namanya, sekitar 5 tahun yang lalu. Aku juga tidak perhatikan apakah tempat itu sekarang masih menjadi tempat bermain dan rekreasi untuk anak-anak atau tidak.

kalau musim panas mau ke water park ini

Hari Kamis tgl 1 April yang lalu aku pergi ke “Taman Ria” dekat rumahku di Nerima. Tidak sampai 30 menit naik kereta (termasuk ganti kereta), aku dan Riku sudah sampai di TOSHIMAEN amusement park. Sengaja aku tidak mengajak Kai, karena sudah tahu dia pasti tidak boleh ikut bermain di wahana yang ada. Dia pasti akan berteriak-teriak “tidak adil” dan gigit jari melihat kakaknya saja yang bermain. Dan amat sangat sulit mengendalikan dia di tengah keramaian. Jadi hari itu hari kencan (lagi) untuk Riku bersama mamanya.

senang lihat senyumnya

Begitu turun di stasiun Toshima-en, kami disambut oleh pohon sakura yang bermekaran. Amat indah. Pengunjung taman rekreasi tidak begitu banyak sehingga tidak perlu lama antri untuk naik wahana. Dan kebanyakan adalah ibu-ibu bersama anak-anak mereka. Banyak pula yang berkelompok. Satu grup anak sekitar 8-10 orang, dan 2 ibu yang bertindak sebagai “pendamping” jadi hanya 2 ibu ini saja yang ikut naik “wahana”. Hmmm aku melihat ini sambil berpikir… khas orang Jepang, penuh perhitungan ngga mau “rugi” . Misalnya dalam kelompok itu ada 4-5 ibu, mereka membeli karcis bermain untuk anak-anak seharga 2.900 yen, mereka hanya membeli karcis dewasa seharga 3.900 yen untuk 2 orang yang nantinya dibagi pembayarannya sehingga tidak perlu membeli masing-masing. Karcis dipakai untuk mereka yang menemani anak-anak naik wahana. Toh di karcis itu tidak tercantum nama. Pintar (dan tidak curang karena toh membayar a.k.a tidak gratis). Soalnya aku merasa rugi banget membeli karcis dewasa 3.900 yen padahal aku tidak naik wahana (paling hanya terpakai 2 kali). Aku kebanyakan menunggu di luar sambil memotret Riku, yang memang sudah berani untuk naik sendiri (kecuali jetcoaster yang besar).

meski cuma 5 meter, kalau di naik-turunkan pasti juga mual. aku sih ogah...

Untung begitu kami masuk, Riku langsung mencoba beberapa wahana yang berada di luar, karena mulai pukul 2 siang angin kencang mulai bertiup dan beberapa wahana ditutup. Betapa senangnya aku melihat mukanya yang antusias dan happy begitu. Dia sendiri yang menentukan mau naik apa, dan mamanya cuma ikutin dari belakang (dan keluarin duit lagi karena ada beberapa permainan tidak termasuk dalam karcis terusan) . Seperti wahana bermain dengan  binatang, perlu membayar 500 yen terpisah. Karena kami tinggal di apartemen tidak bisa memelihara binatang, sehingga kesempatan berinteraksi dengan binatang sangat sedikit. Mungkin kalau binatang kecil seperti hampster dan burung parkit bisa saja kami pelihara, tapi…. aku yang tidak mau, karena BAU! hihihi (Jadi ingat ada teman aku yang anaknya pelihara kumbang kelapa, ular dan KALAJENGKING… anak perempuan lagi hhihihihi)

Riku memegang hiyoko atau anak ayam

Yang disayangkan Riku belum bisa naik gokart, karena tingginya belum 130 cm. Di sini petugas ketat sekali mengukur tinggi badan anak-anak. Meskipun kurang cuma 1 cm, tidak diperbolehkan. Terpaksa harus puas naik yang lain. (Untung juga sih, karena aku mencuri dengar mengemudi gokart itu cukup sulit. Banyak yang akhirnya terdiam di tengah-tengah arena.

menyetir mobil klasik

Satu lagi yang aku lihat bagus di dalam taman ini adalah sebuah tempat pertemuan yang bisa disewa, persis berada di bawah rindangnya pohon sakura. Wahhh sakuranya di sini benar-benar bagus kalau mekar semua. Ya memang karena tempatnya bagus sih maka dibuat sebagai tempat pertemuan, enkaijou 宴会場.

Pohon sakura yang rimbun. Kalau sore/malam banyak orang berkumpul di sini untuk mengadakan hanami/pesta minum-minum

Akhirnya kami pulang pukul 4 lewat karena harus menjemput Kai di penitipan, dan saat itu badai angin mulai membesar (sampai dengan Jumat malam), sehingga kami harus bersusah payah mengayuh sepeda pulang.

sakura sepanjang sungai di pintu masuk Toshimaen. Kami pulang dengan membawa keindahan ini dalam hati kami.

読み込み中

クリックでキャンセルします

画像が存在しません

Mencari daun muda

OK, OK, daun muda memang mempunyai konotasi negatif, mungkin lebih tepat daun baru, atau bunga baru, udara  baru… di musim semi tahun ini.

pohon ajisai yang gundul, mulai mengeluarkan daun baru di antara dahan. Sekitar bulan Mei baru bunganya bermunculan.

Beberapa waktu yang lalu, waktu aku mengantar Kai ke penitipan, sang guru berkata,”Mari kita mencari HARU(musim semi)”. Memang pada hari cerah, setiap pukul 9:30, anak-anak akan diajak berjalan-jalan ke taman di sekitar penitipan, dan dibiarkan bermain di situ sampai waktu makan siang pukul 11:00. Ini adalah jadwal setiap hari, kecuali jika hujan, bersalju atau cuaca buruk. Apa tanda-tanda HARU? daun hijau muda yang tumbuh, bunga bermekaran, terutama bunga sakura, hari menghangat, bau matahari, semua pertanda kehidupan baru di awal musim semi.

Tanggal 22 kemarin adalah hari libur di Jepang. Semestinya tanggal 21, tapi karena hari Minggu, diganti menjadi hari Senin. Tanggal 21 Maret adalah hari Equinox, hari dimana panjang siang dan malam sama. Dan hari ini juga disebut sebagai HIGAN, hari khusus untuk nyekar ke makam leluhur. Jadi hari Minggu kami berencana untuk menginap di rumah orangtua Gen di Yokohama. Tapi waktu dini hari aku terbangun, ternyata Gen baru pulang kerja jam 2 pagi, dalam angin kencang sekali. Aku sampai pikir kalau angin kencang terus menerus alamat kita tidak bisa pergi deh.

Tapi untung sekali angin dihentikan oleh hujan sehingga kami bisa berangkat pukul 1 siang. Ternyata ada awning di parkiran sepeda yang terbang akibat angin, dan pecah menimpa mobil kami. Untung tidak begitu kelihatan kerusakannya, jadi kami langsung pergi ke Yokohama, dan membeli kue ulang tahun. Kebetulan tanggal 1 dan 14 Maret, kedua mertuaku berulang tahun. Dan hari itu juga, Riku dan Kai banyak bermain dengan anjing mereka yang kebetulan diperbolehkan masuk ruangan…dan tidur bersama kami.(tentu saja beda tempat tidur hahaha)

Kami nyekar ke makam leluhur di kuil Buddha keesokan harinya. Pada waktu menuju ke kuil tersebut, Riku langsung berteriak…”Sakura!…nanti mampir yuuk”. Sepanjang jalan memang sakura berkembang. Pohon sakura yang di sini memang jenis yang cepat mekar. Dan kebetulan di situ ada rumah tradisional yang pernah aku ceritakan di sini, sehingga sepulang dari makam kami mampir, dan menikmati musim semi di sini.

Sakura yang berwarna merah muda, Nanohana yang berwarna kuning. Bunga-bunga rumput berwarna biru dan ungu. Daun-daun muncul di tunas yang baru. Sementara di kejauhan terdengar kicau burung Uguisu.

Kami sempat berdiri di sebelah parit di depan kompleks perumahan dan menemukan Dojou, belut kecil. Belum lagi kupu-kupu putih dan kuning beterbangan. Ya, musim semi telah datang. Binatang dan tumbuhan yang “tertidur” di musim dingin, menggeliat bangun dan menyambut hari-hari hangat dengan semangat baru.

difotoin Riku.... dengan latar belakang Nanohana

Pemakan segala?

Aku jadi terpikir, apa betul orang Jepang pemakan segala? Yang bukan hanya “biasa” dimakan oleh manusia, tapi juga segala macam yang “tidak terpikirkan” bahwa itu bisa dimakan?

Dari dulu kita tahu bahwa orang Cina pemakan segala…. tapi kalau menurutku “segala” di sini berkisar pada “semua bagian tubuh makhluk hidup yang bergerak atau tepatnya binatang”. Konon, otak monyet bisa dimakan dan bahkan menjadi obat kuat. Aku sendiri pernah shock melihat sup kodok utuh di televisi… hmmm aku menganggap diriku sebagai pemakan segala, tapi kalau kodoknya masih berbentuk kodok begitu? tunggu dulu deh. Kalau sweekee kan cuma kakinya aja, jadi anggap saja makan burung dara.

Nah, aku berpikir apakah pantas orang Jepang dianggap sebagai pemakan segala? Umumnya mereka tidak mau makan “jerohan” sapi, meskipun ada masakan “motsu nikomi” yang berarti rebusan usus dengan bumbu miso. Kalau kangen dengan soto babat dulu, jaman aku mahasiswa (belum punya dapur sendiri) , beli deh motsu nikomi ini di resto/ tempat minum nomiya yang murah bernama “Tengu”. Kasih bubuk cabe banyak-banyak, dan terhibur deh kerinduan akan masakan Indonesia.

Memang orang Jepang baru-baru saja berkenalan dengan masakan yang terbuat dari daging setelah jaman Meiji. Kebiasaan makan daging yang dihasilkan dari peternakan dibawa oleh warga asing, dan Kaisar Meiji sendiri yang menghapus “Pelarangan Makan Daging” yang dikeluarkan Kaisar Tenmu tahun 675.  (Sumber : http://detail.chiebukuro.yahoo.co.jp/qa/question_detail/q1219644977) Karena berabad-abad orang Jepang tidak mengenal “daging” (hasil peternakan) maka masakan Jepang menggunakan bahan yang ada disekelilingnya yaitu dari tanaman dan laut (ikan dan tumbuhan laut).

Nah di situlah aku bisa berkata, bahwa memang Jepang “ahli” dalam mengolah apa yang ada kemungkinan untuk bisa diolah. Aku sudah pernah tulis tentang akar bunga teratai RENKON yang bisa dimakan dan enak! Akar yang keliatannya tidak menarik, kasat dan mungkin orang Indonesia bilang, “duuuh kok manusia makan akar gituan sih” bernama GOBOU, sering nangkring di meja makan orang Jepang.

lihat tuh, akar kayak gini dimakan! Ini namanya Gobou

Atau tidak usah jauh-jauh, rumput laut dan ganggang laut saja, yang pasti tidak terbayangnya masuk ke dalam perut orang, merupakan bahan makanan terpenting dalam kehidupan orang Jepang. Sushi Roll (makisushi) tidak afdol tanpa dibalut “sesuatu berwarna hitam seperti kertas” yaitu NORI. Sup Miso juga lebih lezat rasanya jika dimasukkan ganggang laut yang bernama WAKAME. Dan tumbuhan dari laut ini banyak mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh. Aku pernah dengar bahwa zat besinya saja 40 kali lipat bayam!!! Yang aku heran kenapa di Indonesia, yang juga merupakan negara bahari tidak ada makanan atau bahan makanan yang terbuat dari rumput/ganggang laut kecuali agar-agar? Salada dari berbagai jenis rumput laut itu yummy sekali loh!

Tulisan hari ini aku potong di sini karena sebetulnya dengan judul ini saja bisa menjadi thesis. Aku tergerak untuk menulis ini karena komentar dari Mas Goenoeng pada foto yang saya upload di facebook: “daun sakura bisa dimakan, Mbak Imel? *melongo*”

Sakura mochi (kiri) dan Doumyouji (kanan). Daunnya daun sakura yang bisa dimakan.

Ya, daun sakura bisa dimakan. Tentu saja tidak semua jenis, waktu aku cari katanya Sakura jenis Oshima, daunnya dibubuhkan garam (mungkin diperam lebih tepat untuk pengolahan ini ya?) . Jangankan daunnya, bunganya pun bisa dimakan kok. Dicuci, diberi garam, seperti diasinkan, lalu masukkan dalam teh hijau, atau sup bening, atas nasi, atau….. berbagai jenis masakan sampai menjadi hiasan untuk kue. Dan bisa dimakan! Silakan lihat sajian foto makanan dengan tema sakura yang aku dapat di website sebuah restoran (http://www.villa.co.jp/cook/2009/04/28.html)

semua PINK…. cocok untuk Pink lover!

Hidangan lengkap memakai sakura dan nuansa sakura  dari sebuah restoran

Lalu minumnya bir SAKURA!!! dari asahi. Kalau ini sih bukan terbuat dari sakura, tapi seasonal aja.

limited edition

Tapak Tilas

Gara-gara berita di TV tentang Sakura di Taman Takada di Niigata, Gen mengusulkan untuk pergi ke Takada, Niigata hari Sabtu 12 April dengan naik mobil pulang hari. Kita berangkat jam 6 pagi, naik Kan-etsu menuju Takada. Memang masuk propinsi Niigata, tapi bagian selatan sehingga sebtulnya dekat. Kita sampai dalam kota Takada pukul 10 pagi. Itu sudah pakai istirahat beberapa kali di Parking/Service Area. Dan seperti biasa aku kalau tidak menyetir mudah sekali untuk tertidur. Rupanya akibat kurang tidur beberapa hari terakhir membuat aku lebih enak lagi bobo di mobilnya.

Sesampai di Takada…hujan. Walah. padahal menurut prakiraan cuaca hari ini mustinya cerah tapi hujan hari MInggu sehingga si pembawa berita bilang lebih baik keluar rumah hari Sabtu. Kok di sini hujan? Memang kota Takada ini kecil tapi di mana-mana tampak pohon sakura bermekaran. Lalu kita menuju Takada Castle, taman sakura yang terkenal itu. Tapi….. mobil dari segala penjuru Jepang sudah antri untuk masuk parkir. Dan Tidak tanggung-tanggung parkiran terdekat dengan taman itu, hanya diperbolehkan untuk pengunjung cacat, sedangkan umum dipindahkan parkirannya ke bantaran sungai. Hmmmm….

Melihat keadaa seperti itu aku bilang pada Gen, lebih baik kita cari makan dulu. Nanti kalau sudah jam 12 akan sulit cari makannya. Aku juga sudah lapar, karena waktu sudah jam 11. Aku punya kebiasaan jelek yaitu cepat marah kalau perut kosong…nah loh. Belum masuk Taman, udah ke toko sake hehehe. Beli Sake yang terbuat dari daerah ini. Sake jepang yang terkenal dibuat di daerah yang dingin dan airnya bersih. Karena Sake dibuatnya hanya pada musim dingin. Jadi untuk jenis yang enak tidak dijual lagi, karena sudah lewat musimnya.

Keliling-keliling kota cari tempat makan. Dan di sekitar taman memang tidak terlihat satu restoran yang terkenal misalnya franchise dari Mac Donald, atau Royal Host dan family Restaurant yang lain. Heran juga aku. Akhirnya kita sampai di toko ramen. Lumayan enak…mungkin karena perut lapar. Kai juga makan banyak. Waktu aku kasih yoghurt saja kurang, akhirnya aku buka paket makanan dia, bubur dengan teri…habis juga… Waaaah Rakus!! Aku juga ngamuk makannya hehehe

Dari situ kita coba parkir untuk ke tamannya, tapi cukup jauh, dan pikir punya pikir, udah deh kita batalkan sakuranya menuju ke bekas castle Kasugayama. Setelah itu kita mencari keluarganya Gen di sini. Bapaknya gen berasal dari sini, dan merupakan keturunan pendeta Buddha. Untung saja Kakeknya”pergi” dari rumah sehingga Gen tidak usah menjadi pendeta Buddha heheheh. Kalau tidak? ya ngga ketemu saya deh.

Hari itu tidak bisa melihat keindahan sakura tapi hati puas melihat gen juga senang bisa menemukan bagian sejarah keluarganya. Kita sampai kembali di Tokyo jam 10 malam. Capekkk!