Arsip Tag: riku

Saiga

Saiga adalah sejenis Antelope di daerah Rusia dan Mongol. Pagi tadi ada program tentang Saiga di NHK Bs, dan kebetulan Riku dan Gen tonton. Sambil makan menonton program itu, dan tiba-tiba Gen bilang, “Itu saiga tidak bisa membedakan anaknya atau bukan dengan suara anak-anaknya. Bagaimana dia bisa tahu ya bahwa yang itu anaknya atau bukan….”

Sambil membersihkan lantai yang kotor karena Kai makan belepotan, saya memikirkan kemungkinan-kemungkinannya, tapi tiba-tiba Riku bilang,”Pasti dari baunya…. Dia bisa tahu dari bau anaknya…”
Dan benar, narator di program itu berkata bahwa Saiga mengetahui anaknya dari baunya.

Langsung saya dan Gen lihat-lihatan dan kaget… ya ampun Riku…lebih pinter dari papanya ehhehe. Kami puji dia , dan dengan tersipu dia bilang, “Saya pikir pasti itu jawabannya deh. Riku pintar ya?”

Saiga…Saiga… Kayaknya Riku harus lebih banyak lihat film-filmnya National Geographic deh. Tapi selama ini dia selalu menonton Stanley dari Disney Channel, yang menurut saya juga banyak menjelaskan tentang binatang-binatang.

Please have fun son!

Pagi jam 8:33 aku antar Riku dengan mobil ke tempat berkumpul dekat TK nya. Sebelumnya aku sempat telepon Miki san, tetangga mansion aku  yang anaknya juga akan ikut meskpiun tidak sekelas (satu bis). Karena pagi waktu bangun turun hujan, aku pikir aku antar dengan mobil saja. Dan kemarin juga sudah janjian kalau hujan kita berangkat sama-sama naik mobil. Ternyata Miki san akan pergi naik sepeda, karena Kento-kun kakaknya Kaede-chan akan ikut antar. Apa pasal? Ternyata Kaede chan juga sama seperti Riku, tidak mau pergi, dan nangis terus. Hmmmm

Sesampai di lap parkir TK nya, aku lihat masih banyak ibu-ibu yang santai, padahal sudah waktunya untuk berkumpul di taman, menurut bus nya masing-masing, Huh ternyata ibu-ibu Jepang juga tidak tepat waktu…(Aku sampai jam 8:41, jadwal ngumpul 8:40…. itu saja aku sudah merasa bersalah ….). Langsung lapor kehadiran pada guru TK nya Riku dan kita harus menyerahkan angket kesehatan yang harus diisi sejak 3 hari sebelum keberangkatan. Kartu angket itu berisi suhu badan pagi hari-suhu badan malam hari, ada nafsu makan atau tidak, sembelit atau tidak, dan jam tidur malam.  Kadang-kadang aku sebal juga dengan segala detil yang harus dilakukan. Memang isian ttg laporan kesehatan ini akan menjadi reference gurunya tapi kalau yang lain, misalnya pajama harus ditaruh di satu kantong, handuk dan baju ganti satu kantong, sikat gigi dan peralatan mandi satu kantong, mendokusai… merepotkan. Belum lagi semuaaaaaaaa harus dikasih nama dan nama kelas.

Jam 8:50 kelompoknya Riku dipimpin Maiko sensei sejumlah 9 anak yang paling rapi dan cepat selesai berbaris, sehingga duluan masuk bus. Mereka berbaris dari taman masuk ke bus. Dan seharusnya ibu-ibu hanya mengantar sampai taman saja. Tapi dasar ibu-ibu dari negara manapun susah diatur deh kalau berurusan dengan anak-anak. Karena hampir semua ibu-ibu ikut jalan ke arah bus, dan mau kasih dadah dari pinggir jalan, aku akhirnya ikut dengan arus. Tadinya ngga mau, kasian Rikunya kalau dia tambah sedih. Tapi kalau aku tidak pergi dan dia lihat ibu-ibu yang lain ada, dia akan merasa bahwa dia benar-benar tidak diperhatikan olehku. Jadi deh aku ikut ke pinggir jalan, dan melambai2…padahal terus terang aku ngga tau Riku duduk di mana, dan apakah Riku lihat aku atau tidak.Dan sambil aku perhatikan bus pergi, aku berpikir, ini yang nangis anak-anak atau sebetulnya ibu-ibu ini semua sedang menangis dalam hatinya melepas kepergian putra/putri tersayang untuk pertama kali. Terus terang aku ingin menitikkan air mata di situ… “Anakku sudah mulai menjadi dewasa…dan akan tiba waktunya dia tidak memerlukan kehadiran aku lagi…”. And kalau waktu itu datang aku akan berbuat apa? My plan is…. aku akan pergi journey sendirian, kalau bisa backpack dan hunting foto. Ngga outdoor camp, karena aku ngga bisa tidur di alam terbuka, but aku akan mencari dan mendokumentasikan pertemuan-pertemuan ku dengan alam dan manusia di manapun. Kalau bisa sampai belanda asyik juga kali ya…. Aku mulai travelling ke luar negeri sejak umur 22 tahun, but never alone. bagaimana rasanya kalau pergi sendiri ya? HItoritabi. Akogareteiru.

Kaede chan sampai dengan anak-anak lain naik bus tetap menangis dan akhirnya dipaksa untuk naik. Kasihan juga dia. Ada beberapa ank yang memang menangis dan tidak mau pergi, terutama anak perempuan. Waktu Riku sudah hampir menangis aku bisikin dia “Eh Riku jangan nangis sekarang, nanti teman-teman laki-laki kan lihat malu…. dan ingat janji mama, besok mama jemput dan kita langsung pergi sama-sama ke Baskin Robbins dan makan es krim banyak..OK?”

Mukanya sih masih cemberut, tapi smeoga dia bisa menikmati perjalanan bersama teman-temannya naik bus dan karena cuaca tidak menentu ,aku juga tidak pasti apakah masih jadi pergi hiking ke gunung sesuai rencana semula, atau pergi ke Museum. Anyway please have fun my lovely son!

Aku tidak mau pergi!

Hari ini Riku pertama kali ke TK setelah liburan panjang di Jakarta. Seharusnya sejak hari Kamis minggu lalu. Tapi aku lupa! Aku pikir baru mulai hari Senin tgl 25. Setelah hari seninnya, baru aku liat kertas pengumumannya ternyata sudah sejak hari Kamis lalu…. Ada acara memecahh buah semangka, finger painting, berenang dan menonton film. Hanya 2 jam dari jam 9:30 sampai 11:30. Memang sih tidak wajib hadir. Tapi aku sudah mendaftar akan hadir jauh-jauh hari.

Hari ini temanya: Body painting. Jadi kemarin sudah ada telepon beranting yang mengingatkan untuk membawa CD dan handuk. Pagi jam 8 Riku sudah siap. Semangat sekali dia mau pergi karena dia tahu hari ini juga Tante Marikonya akan datang (duh udah kayak pacaran aja deh…. kemarin sudah bermain seharian —sampai aku marahin karena bongkar akuariumnya— jam 8 malam masih telepon juga ke Tantenya… dan…. main jankenpong (suit) di telepon !!! duh duh duh). Jam 9:10 Mariko san datang, dan Mereka langsung berangkat ke TK. Hari ini aku tidak usah mengantar Riku, digantikan Mariko san. Hmmm ada rasa kehilangan juga, tapi sekaligus kesempatan untuk membereskan rumah, terutama pakaian yang belum kering karena hari ini cerah sekali. Aku sampai nyuci 3 kali!.

Begitu Mariko san kembali ke rumah, aku siapkan makanan untuk Kai, dan aku naik sepeda ke arah stasiun untuk mengurus Bank dan belanja. Ternyata setelah dari Jakarta, baru hari ini aku keluar rumah sampai sini. Hmmm tidak ada perubahan yang berarti tapi…. ada satu toko sayuran yang murah, menempelkan kertas di depan tokonya, “Libur untuk waktu yang tidak ditentukan”. Ada apakah gerangan? Saya selalu curiga dengan perkataan itu, karena seakan-akan toko itu akan tutup.

Setelah dari Bank, aku sempat mampir di tempat penitipan anak “Baby Station”, untuk menanyakan tentang peluang untuk menitipkan Kai di situ. Ternyata di situ juga penuh. HMmm jelas lah, bulan september begini biasanya pasti sudah penuh. Jalan satu-satunya…. minta kesediaan Tante Mariko jadi baby sitter hehehe mumpung Kai mau sama Mariko san … Kai bilang ” mbakkkk… mau”.  (ngga juga deh… soalnya tante Mariko sudah sibuk dengan pacara barunya…aku bisa titip Kai sebagai visitor di HImawari, tempat Riku dulu). Setelah belanja sayur dan buah-buahan aku cepat-cepat pulang karena sudah jam 11… Riku harus dijemput jam 11:30.

Sebetulnya aku ada janji dengan dokternya Kai untuk check up dan vaksin MR jam 2:30. Tapi karena Kai persis tidur dan sebelumnya ada kecelakaan kecil (lantai basah kuyup akibat kai main air yang dibawa Riku) jadi aku tidak siap pergi. Kepala juga rasa mau meledak karena aku masih harus siapkan perlengkapan yang harus dibawa Riku untuk pergi menginap besok. Semua perlengkapan harus diberi nama dan dimasukkan dalam kantong plastik terpisah-pisah. Pokoknya banyak banget aturannya. Sibuk deh. Aku batalkan dokter hari ini dan ganti jadwal ke minggu depan.

Nah… yang menjadi masalah adalah… tiba-tiba Riku menangis…

“Mama besok Riku tidur sendiri? ngga sama mama?”

“Iya sama teman-teman loh, dan sama Maiko sensei. Riku kan sayang pada Maiko sensei…. besok bisa sama-sama main dan sama-sama tidur loh”.

“Riku mau sama mama terus. Sama papa sama Kai. Aku ngga mau pergi”.

“Hmm Riku besok itu menyenangkan loh. pasti Riku lupa sama mama dan papa saking senangnya bermain dnegan teman-teman. Ada campfire nya juga loh. ”

Dia menunduk dan di pipinya bergulir air mata…..

Aku peluk dia erat-erat dan aku bilang,

“Biarpun mama tidak ada di depan Riku, mama selalu ada di dalam hati Riku. selalu. ”

dia masih diam

“Gini Riku bawa deh saputangan mama pakai minyak wangi mama… mau?”

“Aku mau bawa notesnya mama aja sama bolpennya”

“OK….! (sambil pikir anakku ini kok praktis banget —mirip ibunya — taelah.)

Alhasil, sampai dengan detik dia bobo malam ini, terus mengatakan aku tidak mau pergi,

tidak mau berpisah sama mama dan papa….

Semoga besok pagi, dia tetap mau pergi begitu bertemu taman-temannya di depan bis yang akan mengantar mereka ke gunung Tsukuba. Anakku yang berumur  5tahun pertama kali perpisah dengan orang tua dan menginap dengan orang lain yang bukan saudara. Tujuan dari sekolahnya memang bagus, anak-anak dilatih untuk bisa menjadi “mandiri”, karena bulan April nanti, mereka akan menjadi siswa kelas 1 SD.

Susah deh jika si Riku sudah dalam kondisi “nangis” begini. Karena sebetulnya beberapa hari yang lalu, Riku juga sambil menangis bertanya,

“Ma, kenapa sih mama selalu pikirkan Kai saja?”

“Kai kan belum bisa apa-apa Riku. Berdiri saja belum bisa. Jadi mama harus bantu kai. Riku sudah bisa semua sendiri kan? Jadi sekarang Riku memang harus sabar karena Mama terlalu banyak pikir Kai. Tapi kalau Kai sudah bisa apa-apa sendiri, pasti mama juga pikir Riku dan Kai yang sama besarnya. Sabar ya….”

“Abis waktu itu aku harus tidur di tempat A-chan sendirian. Papa ngga ada, Mama ngga ada…. lama lagi. ”

“Loh Riku, Riku sayang A-chan ngga? Waktu itu mama kan masuk Rumah sakit. Mama ngga bisa berbuat apa-apa. Mama di atas tempat tidur terus loh. Ngga bisa kemana-mana. Kalau Riku ikut mama, Riku pasti tidak dapat makan loh. Papa juga kerja. Jadi Riku tidak bisa tunggu di rumah sendiri kan? Nanti kalau ada pencuri masuk, dan bawa pergi Riku, Mama nangis loh. Jadi lebih baik Riku tinggal sama A-chan. ”

“Huh …coba Kai tidak ada, aku bisa terus sama papa dan mama…”

Keluar deh penyataaan itu. 4 tahun semua perhatian cuma ke Riku saja. Sekarang harus berbagi (untuk bukan berbagi suami…gubrak)

Susah juga ya mempunyai anak lebih dari satu. Tapi aku kemudian menjelaskan begini,

“Riku kalau Kai tidak ada susah loh. Riku terus jadi besar, ikut mama dan papa terus….. Tapi nanti papa mama kan juga jadi kakek-nenek (kayaknya sudah mulai deh hihihi) lalu meninggal. Kalau tidak ada Kai wkatu itu, Riku sendirian loh kesepian. Makanya Riku harus baik-baik sama Kai, dan berteman. Jadi kalau ada apa-apa dengan papa dan mama, Riku selalu ada temannya, Kai.”

“Riku mau terus sama mama… terus …”

Waduh gawat dong, padahal aku sudah berusaha dengan segala macam penjelasan, sampai bisa dimengerti.

Ceker Ayam

yang terkenal memang adalah sebutan salah satu konstruksi khas ciptaan orang Indonesia. Tapi tentunya Anda juga tahu bahwa ceker ayam yang sesungguhnya adalah kaki ramping (pasti ngga ada dong ceker yang “daikon” alias gendut) penyangga tubuhnya ayam yang mungkin kelak akan menjadi santapan di meja makan. Banyak mengandung gelatin, dan sering dipakai sebagai pembuat kaldu. Kalau lagi miskin, Sup ayam bisa berubah menjadi Sup Ceker. Karena membeli satu kg ceker tentunya jauuuuuh lebih murah daripada membeli satu kilogram ayam.

Selain sup ada masakan chinese yang menyajikan ceker ini dengan bumbu pedas. Saya tidak mengerti namanya mungkin Shechuan style, yang pasti rasanya enak! Dulu waktu papa masih di London, kami sering menerima kiriman “dim sum” ceker ini satu loyang penuh dari Ibu Husein. Yummy. Namun tidak semua orang bisa tahan melihat “bentuk”nya sehingga merasa jijik untuk membawanya masuk dalam mulut. Kebanyakan orang Jepang memang tidak bisa makan segala “isi perut” dan ceker, bahkan melihat satu ayam utuhpun mereka tidak bisa. Kimchiii my japanese sister, smepat kaget waktu melihat satu ayam utuh di Ayam Suharti….tapi setelah melewati masa “shock”nya, saya rasa dia sekarang sedang ngiler membayangkan Ayam Suharti (nanti saya makankan untuk kamu ya kim).

Nah, beberapa kali Riku ikut pergi makan Dimsum di restoran depan Bulungan. Dan saya perkenalkan dia dengan jenis masakan yang satu ini, sambil berkata” Kalau tidak suka, jangan dimakan. Agak pedes loh!!”

But, Riku bilang,”Ini enakkkkkkk!!!”, dan setelah itu bilang “Mama, besok kita ke toko ini lagi ya”.

Dan setelah itu dia dua kali ke restoran ini tanpa saya, dan dia selalu minta “tori no ashi (kakinya ayam)”. Repotnya kalo dia minta dimasakin itu nanti sesudah pulang ke Tokyo. Karena, ceker ayam tidak dijual di toko/supermarket biasa. Harus pergi ke tempat ethnic food, yang jauh dari rumah kami. Jadi….puas-puasin makan di sini ya Riku!!!

Rajanya buah-buahan

Di Jepang ada istilah ini….果物の王様 Kudamono no Ousama. Rajanya buah-buahan. Dan itu adalah Durian. Mungkin sedikit orang Indonesia tahu istilah ini, tapi jika Anda berada di Jepang, pasti akan mendengar istilah ini. Kenapa Durian dianggap Rajanya buah-buahan. Katanya sih karena RASA Manis nya yang kuat, Tapi karena baunya yang menyengat banyak orang Jepang tidak bisa membawa buah ini ke dalam mulutnya. Suami saya tidak bisa, dan ternyata Riku juga tidak bisa. Saya sendiri sudah menjadi alergi pada Durian, gatal hebat di leher bagian dalam jika memakannya. Tapi…ibu mertua saya suka sekali. Dan satu peringatan (pemerintah) yaitu jangan makan durian jika sedang minum alkohol, karena bisa menyebabkan kematian. Dan ini bukan tabu saja, mungkin (hipotesa saya) kadar gula yang ada dalam tubuh bisa naik tiba-tiba….

(pertamanya sih semangat…di foto terakhir mulai terlihat dia tahan-tahan tuh untuk keluarin heheheh)

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memastikan bahwa Durian adalah Rajanya buah-buahan, dan Manggis sebagai Ratunya. Tentu bagi setiap orang, anggapan Raja dan Ratu buah-buahan untuk dirinya akan berbeda. Bagaimana dengan Anda? Kalau saya…. Semangka (makanya bisa jadi induk semang heheheh) dan Longan atau Pear Korea. FYI, saya alergi buah rambutan, manggis dan durian. (Dulu sempat alergi kismis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa)

Terima kasih atas pilihan Anda….

Sebuah kalimat terakhir yang masih aku hafal “Terima kasih atas pilihan Anda terbang bersama Japan Airline”. Serentetan salam dan pengumuman yang harus aku bacakan dan direkam dan sudah diputar bertahun-tahun. Aku sendiri tidak berharap untuk bisa mendengarnya kali ini, tapi ternyata masih juga diputar meski dengan volume yang lirih sekali. Sambil aku kasih tahu Riku, “Itu suara mama loh”. Ternyata masih dipakai.

Jam 5:45 pagi Gen jemput Tina dan Koko untuk kemudian langsung ke Narita, sedangkan aku dan anak-anak naik mobilnya mertua langsung ke Narita juga. Untung aku hanya membawa satu koper kecil, karena dua koper yang besar sudah menunggu di Narita (bahkan mungkin di pesawat) dan tinggal kita ambil di Cengkareng Tebura puran (hands free plan), layanan dari ABC+JAL. Proses check in lancar, meskipun aku lihat ada antrian panjang di beberapa counter JAL. Bandara saat itu boleh dikatakan sepiii sekali. Mengherankan juga. Apa akibat kenaikan harga avtur (bensin pesawat) menjadikan orang-orang Jepang memilih untuk berlibur di daerah yang dekat-dekat saja. Or ini juga menandakan resesi juga sedang  terjadi di Jepang. Entahlah aku bukan ahli ekonomi, dan tidak pernah berminat memperdalam ekonomi. Mungkin kalau mau belajar lagi aku lebih memilih Hukum daripada bidang ilmu lainnya. Wahhh kok melantur sampai hukum ya? Pesawat JAL yang kami tumpangi ini juga tidak penuh, tidak sampai separuhnya.

KKami menempati tempat duduk pertama setelah Bussiness Class, sebelah kiri dan ada bashinet, baby bed nya untuk Kai. Aku pesan child meal and baby meal. Yang mengherankan, makanan child mealnya lebih enak dan lebih cool dari yang untuk dewasa. Pudingnya puding caramel sedangkan di meal dewasa puding manggo. Saladnya Fruit Cocktail…. Duuh kan aku suka puding caramel…akhirnya tukeran deh sama Riku. Aku sambil suapin Riku karena Kai bobo, dan Riku kalau sambil menonton pasti tidak akan makan. Dia lebih pilih nonton daripada makan. Riku enjoy banget karena setiap tempat duduk ada video/game nya. Dia main terus, juga nonton Disney Channel.


Ada satu kejadian dengan Riku sehubungan dengan WC. Waktu pertama kali ke WC, dia pergi ke WC bersama aku. Kedua kalinya dia pergi sendiri dan berhasil. Good. Kemudian yang ketiga kalinya, di minta pergi sendiri lagi dan aku sedang kasih makan Kai yang sudah terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup aku dengar suara teriakan anak-anak dua kali. Anak siapa tuh? pikirku. Ehhh tau-taunya Riku muncul dan dia bilang

“Mama tadi aku pergi ke WC yang lain, trus….. aku …. ngga bisa buka……(dia mulai nangis)… aku teriak dan pramugarinya buka…..”

Aduuuh anakku….

“OOOhhh pantesan tadi mama dengar anak teriak, itu Riku ya?”

Aku peluk dia dengan sebelah tangan. Dan aku bilang,

“Riku pintar deh….Riku kan teriak jadi orang orang bisa tau dan bisa bukakan pintu untuk Riku. Memang harus begitu. Bagus Riku. Nanti kalau mau ke WC lagi, nanti Riku liat deh ada tombol yang bergambar orang dan berwarna oranye. Tekan itu saja, nanti pasti ada orang yang tolong. Tapi teriak itu sudah bagus.”

Aku takut dia trauma dan tahan pipisnya tidak mau ke WC bisa berabe. Jadi waktu dia mau ke WC lagi aku antar dia dan kasih tunjuk tombol yang aku maksudkan. Sesudah itu dia bisa pergi sendiri lagi.

Terkunci di WC, suatu kondisi yang pasti tidak mau kita alami. Tapi aku ingat Mama pernah mengalaminya di bandara Yogyakarta. Sampai terpaksa petugas naik dari atas dan masuk ke dalam bilik, untuk membuka pintu dari dalam. Untung masih sempat naik pesawat. Aku sendiri belum pernah mengalami, tapi mungkin karena dulu ikut pramuka, aku selalu memeriksa kondisi wc/kamar yang aku masuki untuk mengantisipasi kemungkinan terkunci dsb. Prepared, tapi melelahkan karena syarafnya tegang terus deh. Kadang tidak enak juga menjadi orang yang “selalu siap”

Tujuh jam perjalanan memang melelahkan. Untuk sendiri saja capek, apalagi jika membawa bayi/anak balita. Belum lagi kalau nangis terus. Untung aku bisa konsentrasi ke Kai saja, karena Riku bisa main video game sendiri. Tapi waktu landing, Riku sempat muntah, dan aku dengan satu tangan harus cari kantong plastik, dan akhirnya pakai selimut untuk bantu Riku. Rasanya ingin punya 10 tangan supaya bisa melakukan semuanya sekaligus. Ini aku sudah terlatih deh untuk melakukan dua pekerjaan yang berbeda dengan satu tangan. Sulit memang menjadi seorang ibu. Untuk urusan barang kali ini tidak menjadi masalah karena Tina bantu aku untuk angkat barang. Tapi kalau misalnya tidak ada Tina? duhhh bagaimana nanti pulangnya ya? Que sera-sera deh.

Akhirnya setelah 7 setengah jam, kita landing dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Satu hal yang membuat aku senang dengan bandara Indonesia adalah dengan adanya sistem porter. Kalau di Jepang tidak ada sistem porter. Semua orang harus bertanggung jawab mengangkat kopernya sendiri dari luggage belt ke trolley. Dan aku harus mengalami mengangkat koper sendiri dalam keadaan hamil dan waktu menggendong bayi. Tidak ada orang Jepang yang membantu. This is what I called DINGIN. Nobody cares. Kalau ada porter, biarpun mahal aku akan bayar. Tapi tidak ada. Di sini bisa dirasakan bahwa uang tidaklah menyelesaikan segalanya (eh bisa deng kalau saya bayarin tiket  seseorang khusus untuk angkat-angkat koper…ayo siapa mau? tapi duitnya ngga ada tuh).

Setelah bertemu orangtua, Chris dan Andy, kita muat koper di dua mobil dan go home deh. Satu hal yang membuat aku sedih juga waktu melewati bundaran Senayan, yaitu berubahnya pemandangan akibat adanya Senayan City. Where is my old town?

(lucu deh si riku dan kai lagi bobo….ada suatu saat riku sebelah dalam dan Kai sebelah luar, sesudah 2-3 jam kedudukan berubah….kok bisa?)

Kedua buah hatiku

Kemarin hari panas sekali, max 32 derajat. Riku pergi dengan papanya untuk menangkap serangga. Dengan harapan dapat kumbang kelapa, tapi ternyata belum ada. Yang banyak beterbangan adalah kupu-kupu. Katanya mereka menangkap 3 kupu-kupu, tapi 2 dilepaskan sedangkan satu dibawa pulang untuk diperlihatkan ke mama. Kupu-kupu asli Jepang yang berwarna hitam kelam dagian permukaan dengan sedikit pola di bagian dalam. Namanya Kuroageha.

Paginya dia sempat berlatih naik sepeda dengan papanya. Jadi dua kali keluar rumah, sehingga membuat dia capek dan tertidur di kamar tamu. Sementara aku main dengan Kai yang sedang mencoba untuk berdiri. Kai yang 10 hari lagi berusia 1 tahun itu sudah bisa mengungkapkan keinginannya dengan teriakan atau gerakan. Yang mengharukan pernah sekali dia menarik muka aku (dengan cara menjambak rambutku) dengan maksud mencium…duhhh anakku. Jangan-jangan nanti di jakarta dia akan mulai berjalan. Dulu Riku baru bisa berjalan umur 1 tahun 2 bulan. Cuma karena panas dia juga agak kesal dan jadi manja, sehingga aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menemani dia. Makan siang Soba dingin dnegan tempura, dan makan malam kare.

Yang membuat aku sempat panik hari ini adalah dnegan pernyataan Riku di malam hari. Dia sedang makan snack kue coklat, lalu dia bilang,

“Mama kencing aku juga berwarna ini loh”

“Hah…kencing siapa? Kamu? kapan?”

“Iya tadi aku kencing warnanya seperti ini”

Hmmm kulihat suamiku sudah mulai cemas… aku sendiri antara percaya dan tidak. Aku perhatikan akhir-akhir ini dia sering berbohong atau membesarkan cerita. Waktu aku cerita dengan ibu teman TKnya, ibu itu berkata, “sama kok anak saya juga. mungkin sedang saatnya. kita iya-iyakan saja”.

Tapi aku pikir, iya kalau bohong… kalau benar, nanti kita sendiri yang menyesal. Karena itu aku bilang pada Riku,

“Biasanya kalau kencingnya berwarna begitu, perutnya sakit loh. Perut kamu sakit?

“Iya”

Tapi yang dia tunjuk bagian tengah yang tidak ada hubungan dengan ginjal dsb. Akhirnya aku bilang

“Ya sudah, nanti kalau mau pipis lagi, kasih tau mama, Kalau perlu senin kita ke dokter”

Akhirnya sodara-sodara sebelum tidur jam 11 malam….. aku ikut dia ke wc dan kencingnya sama sekali tidak berwarana.

Pffff….capek deh hari ini, soalnya pakai mikir gimana seandainya dia sakit ginjal atau saluran kencing atau yang lain….