Arsip Tag: reuni

Meniti kenangan #4 – after 22 years

Bukannya mau saingan dengan Lala dalam postingan after 23 years, tapi memang kemarin aku bertemu dengan seorang teman, yang pertama kali kita berjumpa itu memang 22 tahun yang lalu, dan setelah itu berpisah. 1986, pertama dan terakhir… Kami akrabnya hanya 100 jam saja (eh bener ngga ya. Dulu penataran P4 hanya 100 jam saja kan ya?) +Ospek di Rawamangun.

Pertama kali masuk UI 1986, saya bertemu dengan Dadi Lebon (berhubung suka Duren-duren tuh hehehe). Berhubung dia dari CC (Canisius College) dan saya serta Chandra dari Tarki, akrablah kita. Bersama Yota kita membuat geng 4 sekawan sehingga kemana-mana selama kita bersama. Sebetulnya kami menganggap Dadi ini lebih sebagai Bodyguard karena emang bodynya yang guede banget (padahal waktu liat di foto…ngga gede ah). Masih ingat saya, kita bertiga adalah Charlie’s Angelnya dan Dadi adalah Bosney hihihi.

Apa yang menyebabkan kita jadi dekat? tidak tahu…tapi mungkin karena BETE musti dengerin penataran yang ngga ketahuan ujungnya. Sebagai intermezzo, kita cekakak-cekikik dengan buat *geng*, lalu godain orang. Saya masih ingat ada satu cowo yang sering kita godain, atau ‘liatin’ karena si cowo ini putih, manis dan….. bibirnya meraaaaaaaaaah sekali seperti pake lipstik tapi tidak pake tentu saja. Bertiga dengan Chandra dan Yota cekikikan sambil bilang….duuuuh tuh bibir serasa siap untuk dic*um. Dia anak kedokteran, tidak tahu namanya dan bukan anggota kelompok kita. Sayang deh hehehe.

Dan yang surprise kemarin malam adalah Dadi membawa foto-foto jaman baheula itu!!! Dan ternyata sodara-sodara. Peserta penataran berjaket kuning sekitar 20 orang itu PERNAH berkumpul dan datang ke rumah sayah. dan itu saya LUPA….. dalam acara apa kita berkumpul pun saya tidak tahu alias pikun deh. Foto-foto itu juga jadi bukti bahwa, Dadi saat itu lebih gede dari sekarang, dan Imelda saat itu jauuuh lebih  kurus dari sekarang (kayaknya kita tukeran lemak deh hehhehe) Hayooo bisa tebak saya yang mana ngga?

Udah gitu foto-foto itu juga membawa kenangan akan rumah saya yang sudah banyak berubah. Dulu rumah saya tuh gini toh… jadi membawa kenangan deh.

Sempet juga foto di taman depan rumah….huh seperti foto di Cibodas saja…sekarang ngga ada tuh yang kelihatan seluas itu. Dulu taman itu sering jadi lapangan main bola…sekarang sudah tidak bisa karena banyak pohon dan dipagar hiks. Ingat dulu banyak anak-anak laki-laki main bola hujan-hujanan dan mereka mandi di keran depan rumah dengan memanjat pagar!

Di antara 20 orang itu yang saya ingat juga hanya charlie’s angel +bosney, + Abduh (karena sejarah masuk ke FSUI jadi satu fak dengan saya. Waktu Dadi menyebutkan nama-nama yang dia ingat seperti Estherlita, Iwan (yang paling kece tuh…katanya dia naksir Chandra), Yayan,  …….. dsb yang sekarang saja saya lupa hehhehe (ngga diperhatikan sih). Hebat juga ingatan kamu Dadi…. Padahal kita bertemu di Ospek itu dari bermacam fakultas, dan sesudah itu tidak ada kesempatan bertemu lagi. Misalnya saya FSUI tahun 1987 pindah ke Depok, sedangkan FEUI masih tetap di Salemba bahkan sampai Dadi lulus th 1992. (gimana mau ketemu yah)

Tapi memang saya pernah kirim kartu pos dari Tokyo, dan dibalas…lalu 2-3 kali tahun kami saling bertukar kartu natal. Sesudah tahun 1995 putus informasi, dan ketemu lagi akibat teman SMP yang juga FEUI dan ternyata juga teman dekatnya Dadi di fakultas. Jadi deh saya bertemu Dadi hari ini. I’ts a small world afterall.

Penataran dan Ospek UI 1986, satu episode lagi dalam hidup saya yang timbul kembali dari perjalanan saya kali ini. Lucu juga summer 2008 ini karena bisa menjadi semacam tapak tilas bagi saya (kayak orang uzur menjelang **** aja ya tulis autobiografi dan tapak tilas…. but you`d never know….). Kita juga tidak tahu apakah tulisan saya ini akan ada di dunia maya terus atau tidak. Yang pasti kalau saya tidak bayar domain per-tahun maka akan hilang, tidak seperti teman-teman yang pakai wordpress langsung.  Someday, somewhere, somebody will read this…. I hope.

Well Dadi, good luck with your job…dengan posisi yang bagus tentunya…Kalau aku balik lagi maybe kamu udah president director ya hehehe. Salam untuk Yanti-san. And thanks for the dinner at KOI yang artinya ikan koi (koi ada dua arti, ikan koi atau cinta, tergantung kanjinya). Nice place (dan tamunya orang bule semua…sayang ngga ada yang cakep…hehhehe…… )  [pasti aku dimarahin deh jalan sama cowo masih lirik sana-sini hihihi]{alasannya…kan musti scanning setiap tempat yang kita datangi…meticulous observant}

Meniti Kenangan #3 Pisa Cafe

Kamis malam ini (7 Agustus) aku pergi ke Pisa Cafe, Mahakam dengan Ira. Begitu aku mendarat di Jakarta, Ira adalah satu-satunya orang yang langsung kukabari kedatanganku. Karena aku pernah dimarahi waktu datang ke Jakarta dan memberitahu dia tiga hari sebelum kepulangan ke Jepang. Waktu itu aku beralasan, “Ra, aku kan tahu kamu sibuk….”. Lalu dia jawab,”Ehhh sama temen tuh ngga ada kata sibuk…awas loh lain kali ke Jakarta lagi harus kasih tahu. ” Ahhh baik sekali temanku ini. Biarpun dia sudah terkenal, tetap bersahaja, sama seperti suaminya. Tahun sebelumnya juga aku terpaksa membatalkan janji makan malam dengan mereka karena Riku demam, beberapa hari sebelum kembali ke Jakarta.

Di Pisa Cafe itu ternyata tiap malam ada pertunjukan music livenya, dan hari ini Kamis, yang main adalah Beda Band membawakan lagu-lagu eighties. Hmmm suaranya bagus, ambiencenya bagus, lagu-lagu yang direkues juga bagus-bagus.
—together forever —Just once — Have I told you lately that I love you– careless whisper– against all odds–hotel california–Overjoyed….. and seperate life (Phil Collins)…

You have no right to ask me how I feel 

You have no right to speak to me so kind 

We can't go on just holding on to time 

Now that we're living separate lives

lagunya sih enak tapi sedih amat…. Untung aku pergi dengan Ira, bisa sambil ngobrol, dan menikmati pizza dan ice cream yang enak. Kalau misal sendiri bisa nangis deh…(mana ada sih cewe ke Cafe sendirian mel?) Tapi kata Ira kelompok Band yang main Rabu, Romantic Four juga bagus. Sayangnya Rabu depan dia ada acara jadi tidak bisa menemani. So, aku akan pergi sendiri…hihihi kok dibela-belain banget sih? Seandainya ngga ada yang perlu dipikirin (anak-anak dan jam malam) mungkin cuek aja juga pergi sendiri. Nangis… nangis deh sana. Sometimes we need to let the feelings flow…..

Ngomong-ngomong soal nangis, tadi sore aku pergi ke Carrefour untuk mulai nyicil belanja barang-barang yang mau dibawa pulang. Kopi, bumbu-bumbu, Nutrisari (ngga ada sih di sana) dll. Sebetulnya begitu masuk carrefour permata hijau itu, aku langsung pusing dan mual. Ntah karena emosi atau karena warna. Warna barang-barang, kemudian terletak di lantai basement, membuat aku teringat kembali phobiaku. Dan aku harus menahan airmata yang ingin keluar tiba-tiba. Akhir-akhir ini penyakit ini mulai menghantuiku lagi. Psikis memang. Setiap menaruh barang ke kereta dorong, aku teringat bahwa aku harus kembali ke kenyataan, back to normal life dan yang sebenarnya melelahkan. (Hey, Wonder Woman juga bisa capek kan? and I have right to feel exhausted also)

Tapi ada satu hasil “panenan” belanja kali ini, yaitu aku bisa menemukan kopi yang “pas” buat aku. Dan ternyata si adikku Lala juga suka hehehe (aku ngga sadar bahwa kopi merek ini yang suka dia tulis di blognya). Biasanya aku tidak suka coffe campuran yang dijual di Indonesia. Terlalu manis, atau terlalu banyak creamnya. Biasanya aku campur 1 sachet kopi mix berbagai merek dengan kopi instant 1 sendok teh sehingga pahitnya kopi akan menutupi manisnya. Tapi untuk yang satu ini, aku bisa minum begitu saja (airnya dikurangi tapi). Hmmm karena aku cuma beli 1 kotak, dan langsung habis…kayaknya musti beli lagi deh kalau mau bawa ke Jepang.

Ada lagi ngga tempat-tempat Cafe yang tidak ramai, ada music live tapi jangan disco-discoan, makanan enak dan suasananya enak…. Maunya sih nonton Katon yang akan ngadain show tanggal 21 nanti, tapi aku sudah di Jepang tuh…. Dulu aku sering ke Fashion Cafe karena sepupu saya, Arbian sering nyanyi di sana. Tapi dia sekarang katanya sih di Surabaya….jadi ngga bisa dengar dia nyanyi deh…. (hmm telpon dia dulu ahhh)

Thank you Ira for a great evening. Padahal keesokan harinya Ira harus pergi ke Yogyakarta untuk 3 hari…. Kita dulu di SMA tidak begitu dekat ya…tapi aku senang sekarang kita bisa ngobrol santai, bicara masa lalu dan masa sekarang even for once a year. Dan siapa tahu tahun ini bisa ketemu di Jepang ya…..

Kala satu ditambah satu sama dengan satu

Pasti saya akan dimarahi ahli matematika, karena sudah pasti 1+1 =2, bukan satu. Tapi jika Anda pernah mengikuti upacara pernikahan dengan cara agama katolik, maka pasti Anda pernah mendengar “sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”(Markus 10:7)”

Bertambah lagi pasangan suami-istri di dalam keluarga besar Mutter, karena keponakan saya, Imma menikah dengan Ryggo, hari Minggu tanggal 3 Agustus yang lalu. Sudah lama saya tidak hadir dalam upacara pernikahan dalam keluarga besar kami karena saya berdiam di negeri lain. Dan dalam kesempatan ini, saya bisa menyegarkan kembali hubungan akrab yang pernah ada dalam keluarga kami. Memang biasanya pertemuan keluarga besar secara lengkap terjadi dalam dua “peristiwa” besar, yaitu kematian dan perkawinan. Hal ini sama juga dengan masyarakat Jepang, namun bedanya, jumlah anggota keluarganya berbeda. Sehingga terasa lebih cepat kita berjumpa dengan keluarga di Indonesia daripada dengan keluarga di Jepang.

Misa pernikahan dilaksanakan di gereja St Monika, BSD. Untung saja jalan menuju BSD dari rumah tidak macet, sehingga otomatis dalam 45 menit kami bisa sampai di sana (tentu saja dengan bertanya kanan-kiri untuk kepastian letak gereja). Misa dimulai pukul 1 siang, dan terus terang…. panas. Gereja ini tidak ber-AC, sehingga setelah sepuluh menit mengikuti misa, Riku menjadi gerah dan mulai merayuku untuk diperbolehkan pergi ke luar (sabar nak, di luar lebih panas daripada dalam ruangan!). Misa selama 2 jam ini dimeriahkan dengan alunan lagu-lagu dari paduan suara yang katanya sering menjuarai festival choir. Bagus… tapi menurut saya terkadang lagu yang dinyanyikan tidak cocok untuk dinyanyikan dalam gereja. Teringat akan Oma Poel F, pemimpin paduan suara Cavido, yang boleh dikatakan “cerewet” dalam pemilihan lagu. Misalnya lagu “Tonight I celebrate my love” rasanya tidak pantas dinyanyikan dalam misa…. entahlah, mungkin saya ini oldefo. Tapi memang perlu memikirkan juga kepantasan suatu lagu, untuk dinyanyikan pada suasana yang sakral itu.

Tapi ada satu lagu pop yang saya suka, dan karena dinyanyikan pada akhir misa, saya rasa tidak menjadi masalah. Berjudul “Congratulation” (dan ternyata berkat bantuan Mas Google ku…lagu dari Cliff Richard)

Congratulations and celebrations
When I tell everyone that you’re in love With me
Congratulations and jubilations
I want the world to know I’m happy as can be.

Who could believe that I could be happy and contented
I used to think that happiness hadn’t been invented
But that was in the bad old days before I met you
When I let you walk into my heart

Congratulations…

I was afraid that maybe you thought you were above me
That I was only fooling myself to think you loved me
But then tonight you said you couldn’t live without me
That round about me you wanted to stay

Congratulations…

Tak terasa badan ingin ikut bergoyang menyanyikan lagu ini. Hey, memang upacara pernikahan itu haruslah menggembirakan. Tapi….. jangan sampai mengikuti misa tanpa makan deh. Aku sendiri baru sadar bahwa aku belum makan apa-apa sejak pagi dalam misa, karena merasa pusing. Tapi dasar anak-anak, Riku terus-terusan berkata,”Mama kapan pulang? aku lapar…” Dan celakanya aku tidak bawa apa-apa dalam tas. Repot deh membujuk dia untuk bisa sabar. Dan memang misa 2 jam lama untuk dia, yang masih anak-anak, dan yang otomatis tidak mengerti apa-apa karena semuanya bahasa Indonesia.

Tapi laparnya seketika hilang, ketika dia bertemu misan-nya (katanya tidak boleh pakai istilah sepupu untuk anak-anak dari dua saudara sepupu, hmmm bahasa Indonesia ribet juga yah) bernama Timmy. Lalu dia tanya,

” Mama aku punya banyak misan?”

“Iya dong, kan mama punya banyak sepupu. Itu kakak-kakak yang dududk di situ semua misan-nya Riku.”

“E……. Yatta…. Aku punya banyak misan…. ”

Hmmm kalau dipikir, senang ngga sih punya banyak misan, banyak saudara? Kalau di Jepang memang ‘jumlah’ saudara itu sedikit, dan jaraaaaaaang sekali bisa bertemu. Kalau di Indonesia, keluarga dekat saja setiap ada pesta keluarga minimum datang 50 orang -100 orang. Jadi saya juga terbiasa masak untuk 100 orang (hmmm dulu pertama nikah sulit sekali masak “sedikit”) . Untuk Riku, punya misan/saudara banyak menggembirakan karena bisa bermain.

Riku senang sekali waktu keluar dari gereja mendapatkan “bekal” dalam kotak yang apik. Dia bilang,

“Mama, nanti di jepang, aku mau bawa bento pake ini aja”

“Ok,nanti mama taruh di situ ya makanannya Riku.”

“Tapi aku mau minta satu lagi untuk Kai”

Opanya dengar jadi jatah Opanya dikasih ke dia…. Lucu juga dengarnya. Tapi memang kemasannya apik sih, aku juga suka lihatnya.

Karena Opa masuk angin dan Oma kecapekan dua hari berturut-turut ikut acara, jadi malamnya Aku, Riku, Novi dan Chris saja yang pergi ke resepsinya. Di situ bertemu dengan Kepala Clan Mutter, Om Lody, opanya pengantin wanita. Dari Keluarga Mutter yang sepuh tinggal Om Lody, mama, Tante Dina dan tante Reny yang di USA. Terasa banget sepinya….soalnya biasanya kalau keluarga Mutter kumpul pasti ramai oleh canda tawa, meskipun dalam upacara kematian. Tinggal generasi aku yang boleh dibilang jarang ngumpul juga yang harus menjaga kerukunan keluarga besar Mutter ini.

Yang mngejutkan aku adalah aku tidak bisa mengenali beberapa saudara yang memang sudah lebih dari 20 th pindah ke luar negeri. Sesudah acara foto-foto bersama keluarga selesai aku heran juga ada seorang pemuda bule ganteng yang dikerubuti cewe-cewe pager ayu…hmmm coba masih muda akunya, pastilah aku ikutan ngerubutin hehehe. Wah ternyata si pemuda bule itu adalah keponakan jeh…. ngga jadi lah…. hehehe.

Berhubung bapaknya sang manten wanita bekerja di Bir Bintang, tersedialah stand BIr Bintang dan Green Sands. So Mama kampai dengan Riku deh. Tentu saja Riku tidak boleh minum bir ya (kalau mama boleh karena sudah 20th ke atas….–di Jepang merokok dan minuman keras baru boleh setelah 20 th ke atas)

Entah kapan kita bisa bertemu lagi, tapi yang penting sekarang saya harus menghafal nama keponakan-keponakan dan bersiap dipanggil “Oma” huh.

Meniti kenangan #2

Hari Jumat tanggal 1 Agustus yang lalu akhirnya aku bisa bertemu lagi dnegan teman-teman waktu SMP. Terakhir buat acara gini th 2006. Dan katanya sih setelah itu belum ada pertemuan lagi. Berhubung ibu Lurah, si monica hamil dan melahirkan (then aku juga hehehe). Reuni terakhir yang aku hadiri di Izzi Pizza, dan th 2008 ini bertempat di Urban Kitchen Pasific Place lantai 5…dari jam 7 malam sampai beberapa orang tinggal nongkrong di Starbuck yang tutup jam 11 malam….gelaaaap banget satu lantai tuh…. Ngga mau deh ke WC sendirian kalau udah jam segini.

Ada sekitar 20 orang yang berhasil dikumpulkan (hihihi kayak barang aja), but ternyata masih banyak yang terlewatkan, alias tidak tercover SMS-an aku. Sorry untuk Shinto kalau baca blog ini, juga Paulina… karna nomor kamu hilang ngga tau kemana (PDA aku ke-reset sih). Juga ada 2 orang yang terpaksa membatalkan karena sakit (Palupi) dan Shinta Ambar karena harus ke bandung urusan Dharma Wanita (huh untung aku tidak ada harus ikut kegiatan DW gitu hihih). But Sinta masih sempet-sempetnya anterin rendang yang top markotop itu ke rumah hari Sabtunya. (Nta…kayaknya rendangnya bakal habis sebelum aku balik ke Tokyo nih)

Entah kenapa aku memang lebih senang reunian dengan teman SMP daripada SMA. Mungkin, karena SMA saya cewek semua, sehingga membosankan hihihi. Dan jumlah 3×50 orang per angkatan masih lebih memungkinkan kita mengenal wajah teman seangkatan. Tentu saja banyak kenangan selama di SMP (baca : Who am I). Dan setelah sekian tahun (hmmm dari sejak masuk SMP th 1979 -lulus 1983 ***ada perpanjangan 6 bulan nih di sini) wajah tidak berubah, tapi memang banyak yang bertambah subur….termasuk saya tentunya.

Tapi ada juga yang malah bertambah kurus, seperti Devi (bener-bener kita 25 th tidak ketemu ya Dev), Siswi (kalo siswi mah setiap aku ke Jakarta pasti aku laporan —alias berobat ke RSPP), dan Dede kuda (iya deh de,… Aku suka khawatir liat badan kamu apalagi kamu suka ngerokok gitu… makan banyakan dong jangan kasih ke kuda kamu mulu hihihi. Masih suka nge jocki ngga sih? === goblok kok tanya di sini, tanya langsung ke orangnya atuh)

Romo Ari yang pertama hadir… bahkan katanya sudah sempat menonton film dulu (aduh Romo… sempet-sempetnya, eh tapi sekalian ya keluar dari Klender). Beliau ini merayakan 10 tahun Imamat tgl 14 Agustus nanti. Selamat ya mo…., but kayaknya aku masih belum bisa deh ngaku dosa sama kamu hihihi. Romo Ari bermaksud mengadakan reuni keluarga yang pake nginep (aku tahu tuh si Romo maunya ngurusin anak2 aja kan…udah yang lain kalo ngga mau bawa spouse dan anak, Romo urus anakku saja deh. Untuk itu belajar bahasa Jepang standar ya…) So… tahun depan kita akan nginep bareng ya….  but jangan di Wisma Samadi ya Rom. ngga bisa hahahihi. Nanti saya bantu arrange dari Tokyo.

Sudah minum “Sapporo” setengah gelas… (hei, aku baru ketemu tempat yang jual Sapporo tuh di situ… 35.000 rupiah kalau di Jepang 350 yen, so so) si Fara Sasanti datang…. duh bener deh 25 tahun ngga ketemu. Dulu aku dan Santi ini satu mobil jemputan om Dharmaji rutenya mtb-dempo-singgalang-lamandau-barito… Kangen sama si Om yang kebapakan gitu (tapi supir-supirnya genit-genit, novi pernah tabok satu supir gara-gara colek aku hahaha, novi emang galak…or…akunya yang terlalu takut/diem)

Sesudah it ibu Uti datang, Siswi dan Nanik. Aku tidak sangka Nanik datang sebenernya. Sejak aku rubah tempat pertemuan dari Gd Karya ke PP sini, dia tidak kasih kabar akan datang. Soalnya Nanik ini bener-bener masih anak mami, pulang harus diantar. Untung ada yang antar dia pulang sehingga aku ngga usah antar naik taksi hehehhe.

Tapi kayaknya lain kali jangan di Urban Kitchen deh…ngga bisa ngobrol kecuali sama temen samping kamu, karena terlalu ribut BGM nya, musti teriak-teriak ngomongnya. Meskipun sistem pembayarannya praktis, kamu bayar apa yang kamu makan/minum. Ngomong-ngomong soal makanan, aku malam itu praktis tidak makan, hanya minum saja. Soalnya aku beli Sop Buntut, niatnya makan berdua Siswi… eeee asiiiiiiiiiiiin sekali. No way deh… Jadi deh isi perut aku malam itu cuma cairan + kopi Starbuck deh. Sampai di rumah jam 11:30, dianter Pak Coca-cola, mantan ketua kelas all the years, Wawam. Sayang tahun ini aku ngga sempat kumpulin gimmicks dari cola di Jepang.

buat yang mau lihat foto-foto lainnya bisa dilihat di : Multiply aku

Meniti Kenangan #1

Hari Minggu tanggal 27 Juli. Homecoming Day Universitas Indonesia yang sebetulnya sudah dimulai dari tanggal 26 Juli.

Pagi jam 9, Windy sudah muncul di ruang tamu (kamu bener-bener sudah japanese minded deh win, but its a good habit) sesuai janjinya. Tunggu punya tunggu, windy ditemani papa, sementara aku wira-wiri siapkan segala macam untuk anak-anak meskipun I am ready to go(japanis ai am). Kai sedang dimandikan dan mulai diplontos tapi baru setengah…keburu batere shavernya habis. Dan dia menangis meraung-raung. Sedih aku dengarnya.

Jam 9:30 an Susi datang sesudah nyasar di daerah HangLekir…. ( glad to meet you again Sus, aku hormat pada Doktor yang satu ini. Satu-satunya di angkatan aku yang mencapai gelar doktor dari Universitas Hitotsubashi. Tapi memang jam terbang bahasa Jepangnya jauuuuuh melampaui kita semua. Wong kita masih belajar katakana-hiragana , dia bawaannya 国語辞典 Kamus Jepang-jepang. Ngga heran kita cuman 6 bulan bersama ya…..)

Tak lama (hmm lumayan deh) si Elvi —alias daijobu san— datang dari Palembang hihihi. Ngga deh , dari rumah sodaranya di ….(huh i couldn’t recall the name) palmerah sonoan lagi deh. But bener-bener dia datang dari Palembang kemarinnya HANYA untuk ketemu AKU (iiih ge-er) …..untuk Reuni HIMAJA (Himpunan Mahasiswa Japanologi) FSUI lintas angkatan deh.

Sementara aku sudah di-sms-in terus sama Nana yang sedang nunggu kita di Pejaten, rumah Ira. She said…”Osoi….. mou 10 ji dayo…”(lelet banget..udah jam 10 loh)…. Iya Na….aku juga mau aja berangkat but

Rahma datang paling akhir datang dari cilandak. Uhhh ibu guru Inggris satu inih. Rahma emang aneh bin ajaib deh menurut kita…saya karena dari dulu udah macem-macem yang dibuat. Kuliah di sastra Jepang juga, di LPK Tarki juga…ndobel… tapi aku lupa kamu selesaikan di jepangnya ngga ya Mah? Kadang aku kagum dengan orang yang bisa ndobel gitu. Aku mah dobelnya di FSUI dan Japan Foundation aja deh (soalnya ada Matsushima sensei tuh, my idol… tapi setelah tahu dia gay, jadi ngga respect lagi deh)

Setelah lengkap kita berlima jemput tiga orang di Pejaten. Waktu aku keluar rumah, Riku sedang mandi di plastick pool di luar dengan sepupu-sepupunya. (Mungkin ini yang buat dia sakit). Sedangkan Riku aku ngga berani liat, takut dia nangis terus. Kita sewa colt untuk ke UI, supaya semua bisa santai sambil ngobrol ngga usah ada yang musti susah-susah nyetir. Ke arah pejaten, rumahnya Ira Koesnadi,yang bapaknya alm teman bapakku juga. Dan bapaknya meninggal dalam kecelakaan pesawat di Yogya. (Aku dikasih liat foto bangkai pesawat dari dekat …weird) Aku diberi hadiah buku kumpulan tulisan terpilih “Ekologi, Manusia, dan Kebudayaan”. Dengan papa, beliau satu ilmu yaitu Environment, tepatnya Hukum Lingkungan. Tapi aku pernah wawancarai beliau sebagai pelengkap thesis aku karena kebetulan waktu itu berada di Jepang. We had a good time sambil makan sambal buatan tante dan Om bercerita… kadang sambil berjalan-jalan di Shinjuku. I respect him as a teacher, scholar, writer and father of my friend. Keterangan om Koes juga dapat dibaca di dalam buku : “Dibawah Pendudukan Jepang – Kenangan Empat Puluh Orang yang mengalaminya” Perpustakaan Nasional …. dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Prof Aiko Kurasawa ふたつの紅白旗 (2835 Yen, 木犀社 1996/08)

Me and Nana

Nana juga datang dari surabaya waza-waza untuk aku….(kalo ini bener ya Na hehehe, she need eyedrops and japanese tea, while aku butuh “the medicine”). She is my old friend yang terus berhubungan melalui chat…dan waktu di chat baru sadar bahwa kita bersekolah di SMA yang sama. Jadi isi Facebooknya dia hampir sama dengan isi Facebooknya aku. Cuma dia di IPS dan aku di IPA. Aku sering naik starletnya dia sampai terminal bus Pondok Labu, untuk kemudian aku naik bus pulang ke rumah. Itu sebelum aku bisa nyetir sendiri sih.

Yang terakhir Dina diantar oleh kakaknya ke Pejaten. Ibu yang satu ini awet muda banget…padahal anak tertuanya sudah masuk kuliah di Monash…goshhhh…am I that old??? Aku dan Dina adalah wisudawan pertama dari angkatan ’86. Dina gara-gara sudah nikah, kebelet punya anak hehehhe (aku baru tahu bahwa dia kompre while pregnant), sedangkan aku emang maunya cepet lulus, supaya bisa mikir what is my next step… (sayangnya ipk aku cuman 3,6 ngga bisa seperti si ipk4cumlaude tuh … hmm narsisnya keluar …gomen ne)

Sesudah pick up Nana, Ira dan Dina dari Pejaten kita ber-delapan menuju ke UI Depok. Pas jam 11….padahal acaranya mulai jam 11…padahal ini pertemuan alumni jepang…padahal jepang itu disiplin waktu…. yah endonesah.

And here is it… Pusat Studi Jepang, tempat kita ngadain reuni lintas angkatan. Di pintu kita disambut oleh Bu Ermah Mandah…. Ibu yang disiplin banget, yang galak (emang bener ya bu) tiap hari ada test kata-kata baru bahasa Jepang, dan tidak boleh terlambat barang 5 menit pun. fffff fokoknya streng deh. Dan Ibu Ermah berkata padaku, “Eh Imelda, anakku sekarang di Kobe lagi ambil S2 nya, nanti aku suruh dia hubungi kamu”… “%#&$%’&()’)((‘&R&$R Oh My….anak yang dulu sekecil apa…umur 4-5 tahun …. sudah program S2…. Bener berasa TUA deh.

Ngomong-ngomong soal tua, Si Dedi —tuh yang sebelah kiri saya di foto kanan — dia yang termuda di angkatan kita, karena lahirnya bulan April 3 bulan sesudah aku… (padahal kalo ngga ada si Dedi ini, aku jadi yang termuda dan terimut loh…uhuyyyyy…) Dan Dedi bergabung dengan kita di TKP sehingga melengkapi angkatan kita menjadi 9 orang. Tuh foto bisa liat aku dan dedi yang sudah berubah setelah 22 tahun berlalu padahal dulunya ceking tuh kita berdua.

Acara reuninya dibuka oleh MC nya Bang Tabah Helmi dan Diana chan dari JF. Sambutan oleh Ketua Jurusan yang sekarang Pak Jonni dan sambutan dari Dekan FIPB UI yang alumni sastra Jepang angkatan 84, Bambang -san. Dulu kita memang sering panggil Bengki. Dekan yang satu ini dulu bener2 anak Band…rambut panjang semeter, dan kuku panjang. Bahkan kalo denger ceritanya, pernah pura-pura sakit jantung waktu di mapram heheheh. Seorang Doktor dari Universitas Tohoku, yang jadi Dekan sekarang. Hebring euy. Sesudah sambutan dipanggil tiap angkatan secara kelompok dimulai dari angkatan 1967 (wahhh aku belum lahir tuh heheheh) sembari ditayangkan foto-foto jaman baheula.

Untung angkatan 1986 masuk ke grup 1986-2000 hihihi… masih berasa muda dikit. Tapi yang membuatku sedih sebetulnya lebih ke ngga ingat nama sempai dan kohai, padahal dulu lumyan deket. Untung pada pake label nama di bajunya, jadi bisa sambil ngelirik, dan mukanya tidak banyak berubah. Yang buat aku terharu juga banyak yang angkatan di bawah aku, masih ingat bahwa aku pernah jadi Ketua Himaja (untuk dua tahun ya? lupa euy. musti bongkar dokumen lagi ntar di Tokyo). hihihi… Sambil makan siang yang katanya sumbangan dari sempai-sempai. Gochisosamadeshita.

Setelah itu kita diantar oleh Pak Dekan ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ntah kapan ganti namanya) jjl sekitar kampus sastra yang dulu. Dan memang sudah banyak perubahan. Kolam sastra tempat anak-anak berkreasi baca puisi dll udah ngga ada. Gedungnya tambah banyak dan yang aku ngga tau adalah Jembatan Teksas ( yang menghubungi Fakultas Teknik dan Sastra) …. mungkin maksudnya dulu sebagai jembatan utk yang cowo-cowo cari cewe-cewe cantik di Sastra hihihi.Dari situ kita pulang dan tidak lupa berfoto juga deh di depan lambang UI dari luar kampus.

Dari Depok kita langsung ke rumahnya Uti, teman seangkatan yang sedang dalam proses penyembuhan dari breast cancer. Mendengar penjelasan dia, jadi ngeri juga sih…. Hayoooo Mammograf…and Pap Smear ….. Dan jangan lupa periksa darah 6 bulan sekali. Selama kita di rumah Uti mulai jam setengah enaman-an Hujan deras turun. Dan karena Susi musti langsung kerja (dia orang tipi sih) kita langsung pamit dan menuju Rest Midori, di Pondok Indah. Dina bilang…

“Sorry ya Mel, kamu udah bosen kali makanan Jepang”

Hmmm mau dibilang bosen juga ngga sih… aku sendiri lagi bingung kok maunya apa. So, aku makan sushi aja karena porsinya kan kecil.

And the time for say goodbye. Dan kita berencana untuk kembali mengadakan reuni 25 tahun kebersamaan pada tahun 2011 nanti. Kalau bisa mau nginep bareng dimana gitu hehehe. Bol-bol aja sih…tapi siapa mau ngurus? Masa gue dan Windy lagi? And thank you for the friendship we share together….

(Imelda — Nana — Windy… mustinya aku pake kacamata juga biar seragam…padahal bawa tuh dalam tas heheh)

NB: aku disuruh jadi koordinator acara Zona -80 Metro TV, kabarnya akan ada rekaman tanggal 10 Agustus nanti …tapi aku belum pernah liat acaranya kayak gimana …so gimana bisa jadi koordinator?  Kalo cuman buat masuk tipi aja mah aku ogah…udah sering sih di Tokyo huheuheuehu…hmmm narsis lagi.

Untuk melihat foto-foto lainnya dari reuni Himaja lintang, clik di sini