Arsip Tag: radio

Takut Kehilanganmu

Ada sebuah percakapan antara aku dan temanku:

Aku :  Kamu suka Naruto?
Dia  : Suka banget…..
Aku : Sasuke?
Dia  : Nggak, aku suka Naruto karena mirip dengan sifatku.
Aku : hahaha… dasar kucing…. eh, kamu suka kucing? atau anjing?
Dia  : Aku suka dua-duanya. Tapi tidak bisa pelihara di rumah karena jarang di rumah sih.
Aku : Ntah ya, aku tidak suka kucing. Jadi kadang-kadang aku bisa berubah tidak suka orang kalau dia suka kucing.
Dia :  Syukurlah. Aku suka tapi tidak punya. **ngeles takut kehilangan**

dan kami tertawa. Lah kok bisa tidak suka pada seseorang hanya karena dia suka binatang tertentu atau barang tertentu. Hmmm tapi ya buktinya aku cukup sering tidak suka mereka yang suka kucing loh. Mungkin aku tidak suka sifatnya yang lain, tapi karena kebetulan dia suka kucing, si kucing lalu menjadi scape goat kambing hitam… (Lah kucing kok menjadi kambing, dasar imelda aneh hihihi)

Sebetulnya yang ingin aku tuliskan di sini adalah sebuah berita yang membuatku teringat masa lalu. Yaitu bahwa Sony mengumumkan menghentikan produksi MD player (Mini Disc Player), menyusul penghentian produksi Cassette Walkman Player yang sudah distop tahun lalu. Sekali lagi aku harus mengucapkan sayonara seperti floppy disc yang aku tulis di sini. MD player ini mungkin tidak begitu populer di Indonesia, tapi sempat booming di Jepang.

Yang dihentikan produksinya dari SONY

MD walkman ini mulai dijual tahun 1992, dan sampai Maret tahun ini sudah terjual sebanyak 22juta unit. Dibandingkan dengan Cassette Walkman dan CD Walkman, bentuknya lebih kecil dan compact,  sehingga menjadikannya populer. Lagipula MD adalah audio digital sehingga kualitas suaranya lebih tinggi daripada kaset.

Seperti sudah aku tulis di about me atau di sini, dulu (tahun 1997) aku pernah bekerja sebagai DJ Radio yang mengisi program musik Indonesia selama satu jam seminggu. Dan untuk memutar lagu-lagu Indonesia, aku hanya bisa mengandalkan CD saja (digital), karena suara yang berasal dari kaset tidak layak diputar. Padahal untuk lagu-lagu lama Indonesia dan lagu dangdut waktu itu kebanyakan masih berupa kaset. Kalau penyanyinya populer seperti Nike Ardilla, ok deh masih banyak album compilasinya, tapi untuk penyanyi yang belum mempunyai pendengar sebanyak Nike, masih merilis album dalam bentuk kaset saja. Nah, untuk mengatasi masalah kurang lagu ini, aku membeli kaset, begitu dibuka plastiknya , langsung aku pindahkan ke dalam MD. Jadilah lagu dalam bentuk digital meskipun mono dan mutu suaranya rendah.

MD pindahan dari kaset lagu, dan copy program acara Gita Indonesia

Satu kaset menjadi satu MD, dan aku harus meluangkan waktu ekstra juga untuk memotong-motong lagu dari in awal lagu sampai out nya. Kalau ada waktu senggang aku juga mencatat intro musiknya berapa detik, dan panjang lagu berapa menit. Aku scan cover kasetnya, dan tempel di MD untuk memudahkan. Meskipun kebanyakan kaset yang aku punya sudah aku pindahkan ke MD, masih ada berkotak kaset yang belum sempat aku pindahkan (terutama yang penyanyinya kurang populer, atau belum pernah ada yang request untuk diputarkan sampai acara itu selesai tahun 2001).

Selain memindahkan isi kaset ke MD, kalau aku mau mendengarkan CD di dalam kereta, aku tinggal memindahkan lagu-lagu yang kusuka dan membuat MD kompilasinya. Yah, sistemnya seperti iPod sekarang ini deh. Memang alasan Sony menghentikan produksi MD walkman ini sedikit banyak juga disebabkan oleh tersedia sarana audio digital yang lebih ringan lagi seperti iPod.

MD yang kupunya aku masukkan dalam kantong MD yang bisa memuat sekitar 25 lembar MD, dan kantong ini ada lebih dari 10 buah 🙂 Bisa bayangkan penuhnya rumahku kan? Baru MD saja loh. Tapi mau cari Lagunya Mel Shandy juga ada 😉

Waktu rekaman juga aku bisa membuat kumpulan lagu-lagu yang akan kuputar dalam 1 MD dan bergantian dengan CD dan DAD (Digital Audio Disc – program dalam komputer) memproduksi program satu jam acara yang kunamakan Gita Indonesia. Harus pintar-pintar mengatur sumber musik, karena aku memutar musik sambil bicara juga (one man studio – tanpa produser dan operator). Nah, program ini dimasukkan ke dalam DAT (Digital Audio Tape – Kaset Digital dan waktu aku mau beli playernya duuh mahal banget, sayang keluarkan uang untuk membelinya) untuk kemudian diserahkan pada Main Operator yang akan memutarkan pada jadwal pemutaran. Satu lagi fungsi MD di sini yaitu membuat backup program yang akan diputar, sehingga aku punya siaran setiap minggu langsung dari DAT (maklum jam programku itu hari Jumat dini hari, jadi aku tidak bisa terus bangun mendengar programku sendiri).

DAT berisi program acara, MD berisi copy nya

Waktu mendengar SONY menghentikan produksi MD walkman player ini, aku jadi teringat bahwa dulu aku sangat bergantung pada MD. Meskipun memang masih ada MD player yang menjadi satu dengan compo  (bukan portable) , aku bisa merasa bahwa MD tidak akan selanggeng kaset yang masih bisa dijumpai sampai sekarang. Suatu waktu aku tak lagi bisa mendengar suaraku sendiri dari MD…. mungkin sudah waktunya untuk memindahkannya dalam bentuk lain. MP3 paling bagus, tapi kendalanya adalah waktu. Memutar lagu atau siaran dari MD satu persatu dan memasukkannya dalam program di komputer…duh repot rek.

Well, memang kita harus selalu siap untuk kehilangan sesuatu ya 🙂

waktu masih berprofesi sebagai DJ Radio, 1996 - 2006

Pengaruh Media

Dalam kondisi seperti sekarang ini, memang media sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi. Surat kabar memang tertulis dan akurat tapi tetap hanya bisa membaca semacam laporan hari sebelumnya, yang tidak perlu diketahui saat itu juga. Sehingga untuk real time, kami lebih bergantung pada siaran televisi dan radio, dan/atau media online yang berafiliasi dengan media cetak.

Aku sendiri memanfaatkan NHK Televisi di rumah. Rasanya saat ini aku merasa bangga juga karena selalu membayar iuran NHK yang setiap bulannya ditarik 1340 yen. Begitu gempa terjadi, aku langsung menyalakan NHK dan mendapatkan berita akurat yang disiarkan terus menerus. Tentang gempa, gempa susulan, tsunami, jumlah korban, kemudian tentang PLTN Fukushima, dan pemadaman listrik. Pembacaan berita diselingi oleh siaran langsung dari pemerintah, yaitu Menteri Sekretaris Kabinet Edano Yukio, Perdana Menteri Jepang Kan Naoto, pihak Tepco, dll. Juga siaran perkembangan di daerah pengungsian. Semua bisa diikuti di NHK.

Jika aku kalah dengan anak-anak karena mereka mau menonton acara anak-anak, ya aku pindah ke Radio untuk mendengar berita NHK melalui gelombang FM. Karena tanpa tayangan visual, biasanya jika ada berita penting aku minta anak-anak bersabar karena mamanya mau melihat visual dari yang diberitakan. Begitu selesai, kembalikan lagi TV ke anak-anak. Kasihan juga pada mereka karena terus terang sejak kejadian gempa tgl 11 Maret lalu selama kurang lebih 4 hari mereka terpaksa melihat berita terus menerus (yang kemudian berdampak negatif pada Riku, untung sekarang sudah hilang)

Karena aku menonton NHK terus menerus, aku tidak tahu apa yang disiarkan oleh TV swasta, baru setelah 5 hari lewat aku juga mulai melihat chanel lain. Dan yang mencolok bisa terlihat adalah berkurangnya pemasangan iklan dari perusahaan sponsor. Bagian iklan diisi oleh Iklan Layanan Masyarakat dari AC Japan (Advertising Council Japan) yang intinya ingin mengajak masyarakat untuk peduli pada korban gempa dan tsunami. Salah satu iklan yang menarik misalnya tentang kikubari, perhatian terhadap sesama. Seperti adegan seorang pelajar lelaki yang melihat tindakan orang lain yang memberikan tempat duduknya pada bumil, dan akhirnya dia juga membantu seorang lansia yang sedang naik tangga. Tentang iklan ini sahabatku, Mas Sapto Nugroho menulis di Kompasiana. Silakan baca.

Tapi karena iklan layanan masyarakat ini terlalu sering, rasanya juga bosan mendengar himbauan seperti ini terus menerus. Tapi dari chanel swasta ada beberapa hal yang aku juga bisa lihat, antara lain perkembangan kumpulan sumbangan yang dibuka oleh Stasiun TV tersebut. Misalnya pada saat aku melihat chanel Nihon Terebi, mereka melaporkan bahwa sudah terkumpul 400juta yen. Suatu pengumuman yang tidak ada di TV NHK. Selain itu aku juga bisa mendengar diskusi-diskusi mengenai penanganan masalah (nuklir dan pengungsi) yang lebih keras dan kritis daripada NHK. Yah, mereka juga dibayar untuk “bersuara”. Tapi aku pribadi lebih suka mendengar berita yang tidak “radikal”, yang hanya memberikan info begitu saja, tanpa perlu dianalisa. Tapi untuk PLTN, di NHK  analisanya dilakukan seorang ahli Nuklir dari Tokyo University, Prof Sekine. Dan aku suka gayanya yang cool (meskipun sementara orang mengatakan “dia tidak tahu apa-apa”).

Well, memang sulit untuk memilih info mana yang terbaik untuk kita masing-masing. Saking banyaknya media yang bisa dipilih, kadang kita terlalu “banjir” info, yang kadang menyesatkan dan membuat panik. Jangan lupa bahwa di internet, orang bebas untuk mengemukakan pendapat.

Sejak terjadi gempa, aku memang memakai FaceBook sebagai tempat untuk “berkumpul”, bertukar informasi. Mungkin ada beberapa teman yang juga di Jepang yang kurang bisa membaca bahasa Jepang sehingga menganggap tulisanku bisa dipakai sebagai sumber informasi. Terima kasih untuk kepercayaan itu, karena sebetulnya aku juga HANYA menulis saja, menulis apa yang sedang terjadi sebisa mungkin TANPA bumbu. Kalau tidak ada datanya lebih baik aku tidak tulis, karena akan membuat orang bingung.

Dan dipikir-pikir, aku juga merasa beruntung aku tidak lagi menjadi DJ Radio (bisa baca di “Kugadaikan Cintaku” ceritanya). Karena stasiun Radioku dulu itu sebenarnya didirikan untuk memberikan informasi kepada warga asing yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya dalam bahasanya sendiri. Jika aku masih bekerja di situ, dan jika stasiun Radio itu masih bertujuan yang sama seperti pada awalnya didirikan, maka aku pasti harus berada di studio terus, untuk siap memberikan laporan gempa, informasi dalam bahasa Indonesia dan termasuk membacakan nama-nama korban/ orang hilang. Sekarang aku cukup menulis di blog TE saja bukan? 😀 Tanggung jawabnya lebih ringan.

Ada beberapa teman di FB juga yang menanyakan padaku, “Dalam laporan gempa Jepang, saya belum melihat liputan yg memperlihatkan korban dalam keadaan yg sangat menyedihkan sehingga terkesan …tidak manusiawi”

Memang Jepang tidak pernah menayangkan korban atau jenazah dalam tayangan TV sehari-hari. Juga tidak dalam bentuk foto di media cetak. Kenapa?

Aku jawab karena Jepang sangat menghargai hak asasi manusia, sehingga ada privacy law, undang-undang menjaga kerahasiaan individu. Aku pun selalu berusaha mem-blurkan wajah orang-orang dalam foto yang kupakai di sini, kecuali jika anggota keluarga atau teman orang Indonesia yang sudah pasti tidak keberatan. Sebelum difoto atau disorot, biasanya pihak TV/wartawan bertanya dulu apakah bersedia disorot. Nah, jenazah pun sebelumnya adalah manusia, tapi tak bisa ditanyakan bukan? Itu jawabanku hanya berdasarkan hak asasi manusia. Tapi selain itu aku juga sudah pernah menjelaskan di TE sekilas, bahwa dalam upacara penguburan pun, tidak ada orang yang memotret jenazah. Tabu! Meskipun memang aku belum pernah bertanya apakah ada dasarnya dalam agama Buddha. Nanti kalau kebetulan bertemu dengan pendeta Buddha akan aku tanyakan. Tabunya lebih pada perasaan/hati. Tentu saja lebih baik kita mengenang orang yang kita cintai itu dalam rupa yang bagus, ceria, sebelum meninggal kan? Daripada mengingat muka terakhirnya yang mungkin dalam rupa kesakitan atau mungkin rusak karena kecelakaan. Intinya apakah kita memakai HATI atau tidak. Etika di sini juga memegang peran. 

(Mungkin bisa baca juga kritik dari Sapto Nugroho tentang : Kritik ke KOMPAS : Judul Menarik tidak harus membuat Panik)

Setelah aku mencari-cari apa sih dasar hukumnya, mengapa di TV/atau koran tidak ada tayangan/foto  jenazah? Aku menemukan jawaban sebagai berikut: (Bisa baca blog dalam bahasa Jepangnya di http://shima-x.petit.cc/banana/20100117164515.html. )

Menurut UU Penyiaran Jepang (Housoushou 放送法) Pasal 3 ayat 2:
Sebagai kewajiban dan persyaratan penting program penyiaran yang merupakan tanggung jawab setiap perusahaan adalah:
Tidak merugikan keamanan umum dan merugikan kebaikan moral umum
adil dalam bidang politik (tidak berat sebelah)
Penyiaran tidak membelok dari kenyataan/kebenaran
Jika terdapat perbedaan pendapat, sedapat mungkin dijelaskan dari berbagai sudut.

karena itu penayangan mayat di media bisa dianalisa:
– membuat mual, merugikan kondisi kesehatan
– memberikan pengaruh buruk pada anak-anak (yang juga melihat tayangan itu)
– Tanggapan, isi, tampilan dari si pembuat
– Berpikir dari sisi jenazah itu, menghormati jenazah, masalah agama
– reaksi dari perusahaan sponsor
– reaksi dari komite moral penyiaran.

Dan isi dari UU Penyiaran itu juga bisa menjawab pertanyaan berikut:

“Apa TV di Jepang itu hanya memilih tayangan yang bagus-bagus dan ada sensor ya? Kok terlihat masyarakat Jepang tenang saja sesudah gempa dan masih antri lagi untuk pulang? Segitunya tenang dan teraturnya mereka ya?”

Memang begitulah adanya masyarakat Jepang sama seperti apa yang ditayangkan oleh media. Karena sebetulnya TV juga mengambil gambar bahwa barang-barang di toko-toko habis, bukan? Itu bukan berita bagus kok menurutku, jadi memang begitulah kenyataannya. Bahkan kemarin ada tayangan pembagian makanan di tempat pengungsian, bisa dilihat mereka juga antri untuk mendapatkan makanan. Tidak ada yang berebut. Malah ada volunter yang mengambilkan makanan, atau berkeliling yang menanyakan kebutuhan para lansia yang di pengungsian. Apakah memang begitu semua? Tentu saja ada beberapa kasus yang negatif, tapi jumlahnya begitu kecil. Bukan karena tidak dilaporkan tapi karena tidak ada sedikit sekali kejadiannya. Ada kok berita tentang anak yang menipu dengan alasan sumbangan ke pusat gempa padahal masuk kantong sendiri. Jumlah kerugian? 2000 yen! Kecil kan?

Satu hal lagi yang ditanyakan media asing terutama di Amerika. Mengapa tidak ada penjarahan di Jepang sebagai dampak dari musibah? Waktu ada bencana hurricane di Amerika, dikatakan banyak terjadi penjarahan, mumpung penghuni/pemilik tokonya tidak ada, ambil saja! Di Indonesia juga terjadi penjarahan besar-besaran tahun 1998 kan? Mengapa?

Di Jepang ada istilah Kajibadorobou. Orang yang menjarah pada wkatu terjadi kebakaran (musibah). Ada? Tentu saja ada, tapi sedikit, tidak banyak. Mungkin karena orang Jepang tidak terlatih untuk merampok 😀 Kalau mau berbuat kejahatan lebih rapih, seperti ore-ore (lewat telepon/transfer). Dan secara moral orang yang mencuri pada saat musibah sudah dicap saitei 最低 tidak berharga lagi hidup sebagai manusia.

Meskipun sebetulnya kalau aku pikir tindakan seperti menyerbu membeli bahan makanan gila-gilaan di toko-toko hampir serupa dengan Kajibadorobou juga kan? Memanfaatkan musibah untuk diri sendiri. OK deh kalau memang sama sekali tidak ada persediaan. Karena aku tahu juga bahwa orang Jepang jarang menyimpan barang, biasanya secukupnya saja, dan berbelanja setiap hari. Lagipula mau membeli barang banyak juga mau simpan di mana? Rumah terlalu kecil. Biasanya aku pun sekali membeli beras max 5 kg. Lain dengan mereka yang tinggal di daerah dingin dan rumahnya lebih besar yang setiap membeli 30 kg.

Aku memang tidak rush untuk berbelanja seperti orang lain. Kupikir untuk seminggu masih cukup kok makanan. Aku tahu bahwa barang di supermarket tidak ada juga dari teman-teman yang tinggal di Tokyo dari tulisan mereka di FB. Susah memang untuk menahan diri untuk tidak ikut panik. Seperti kata Gen, “Orang-orang itu panik kan karena mereka mau segala sesuatunya TIDAK BERUBAH, tidak mau menyesuaikan diri. Kalau memang tidak ada susu, telur dan roti, ya tidak usah panik kan? Kita bisa tetap hidup tanpa itu.”
Ah, untung sekali pemikiranku juga sama dengan pemikiran suamiku. Kesempatan juga untuk matiraga selama bulan Puasa (Katolik – menyambut Paskah).

Tenang dan jangan panik. Justru harus kita praktekkan dalam saat-saat seperti ini. Tapi memang ketenangan itu timbul karena KEPERCAYAAN. Bukan hanya kepercayaan kepada Tuhan yang memang mutlak, tapi aku juga seperti warga Jepang lainnya PERCAYA bahwa Pemerintah Jepang TIDAK AKAN mengorbankan warganya.

Aku share email dari temanku Alex sehubungan dengan recording Yamaha sebagai berikut:

Hello Imelda-san,

It was really a pleasure to hear your cheerful voice this afternoon. In the times like now I am so happy that I am able to talk to people like you and I am happy that you are fine.

Believe it or not but people in Japan are still keep on working: maybe for those who are abroad it’s hard to believe but we both know it is true. Some of my friends left Japan in panic like my good old ****** buddy xxxxxx who came to Japan more than 30 years ago, I really couldn’t believe it…

Anyway I am sending you the text and 2 maps of the studio in Akasaka for the recording on March 22, Tuesday. I will see you there. If there are any questions please let me know anytime.

Till then – all the best and may the God bless us all,Alex

 

Masih kurang percaya? silakan juga baca tulisan seorang Indonesia di Tokyo, Pepih Nugraha yang menulis “Mengapa Saya (Masih) Bertahan di Tokyo“.

It is all about Faith, about Confidence, about Loyalty, about LOVE

Sebagai penutup tulisan aku ingin sharing sebuah lagu dari ANPANMAN. Tahu kan anpanman? Karakter roti yang pernah aku tulis di sini : Roti Sebagai Sumber Ide. Lagu Anpanman March ini populer di kalangan anak-anak. Dan untuk menghibur anak-anak di pengungsian diputar oleh sebuah stasiun Radio. Teman-teman blogger seperti  Imoe, Koelit Ketjil, Kika, Yoga, Uda Vizon, dkk tentu tahu bagaimana anak-anak di pengungsian memerlukan penghiburan untuk meringankan trauma mereka. Bukan terus menerus kabar sedih yang harus mereka terima, mereka tetap mempunyai harapan untuk maju dan hidup. Mereka butuh bermain, bergembira, meskipun sulit. Nah, lagu anak-anak yang diputar ini TERNYATA dapat menghibur pengungsi dewasa lainnya. Karena mereka juga baru sadar kata-katanya saat itu. Begini liriknya:

Ya! Senangnya, Gembira akan Kehidupan ini
Seandainya pun ada luka di dada.

Untuk apa kita lahir,  apa yang dilakukan untuk hidup
Jangan sampai tidak bisa menjawabnya
Bakarlah semangat dengan Hidup yang sekarang ini
Karena itu kamu, pergilah dengan senyum

Ya! Senangnya, Gembira akan Kehidupan ini
Seandainya pun ada luka di dada.

Ah Anpanman yang baik
Pergilah! Pertahankanlah mimpi semua orang

Apa yang kamu perbuat untuk bisa bahagia,
apa yang kamu perbuat untuk bisa gembira
Jangan sampai selesai tanpa mengerti apa-apa
Jangan lupakan mimpi, Jangan teteskan air mata
Karena itu kamu, terbang sampai manapun juga
Jangan takut, untuk semua orang
Hanya CINTA dan KEBERANIAN, teman kita

Ah Anpanman yang baik
Pergilah! Pertahankanlah mimpi semua orang

そうだ うれしいんだ 生きるよろこび
たとえ 胸の傷がいたんでも

なんのためにうまれて なにをして 生きるのか
こたえられないなんて そんなのは いやだ!
今を生きる ことで 熱い こころ 燃える
だから 君は いくんだ ほほえんで
そうだ うれしいんだ 生きるよろこび
たとえ 胸の傷がいたんでも

ああ アンパンマン やさしい 君は
いけ! みんなの夢 まもるため
なにが君の しあわせ なにをして よろこぶ
わからないまま おわる そんなのは いやだ!
忘れないで 夢を こぼさないで 涙
だから 君は とぶんだ どこまでも
そうだ おそれないで みんなのために
愛と勇気だけが ともだちさ

ああ アンパンマン やさしい 君は
いけ! みんなの夢 まもるため

時は はやく すぎる 光る星は 消える
だから 君は いくんだ ほほえんで
そうだ うれしいんだ 生きるよろこび
たとえ どんな敵が あいてでも

ああ アンパンマン やさしい 君は
いけ! みんなの夢 まもるため

(Pencipta Miki Takashi ) Jika mau dengar silakan dengar di YouTube ini.

Hidup terus berjalan….

dan aku menutup tulisan ini sambil menonton TV tentang kantor pos yang berada di daerah gempa (yang masih berdiri) dibuka kembali, dan semua surat yang belum disampaikan, diantarkan ke rumah-rumah, sambil mencari warga di pengungsian juga.

dan lagu yang dinyanyikan oleh siswa yang mengikuti upacara kelulusan di pengungsian:

asu toiu hi ga arukagiri
shiawase ni shinjite

Selama ada hari yang disebut ESOK
Percayalah pada KEBAHAGIAAN

Asu toiu hi http://www.youtube.com/watch?v=QQsKdWKmY-A

dan Selamat Hari Minggu!

*********************************************************************:

Tanggapan Tim Nuklir Indonesia KBRI Tokyo Terhadap Peningkatan Status INES 5 dari PLTN Fukushima

 

Pada hari Jumat,18 Maret 2011, NISA (Badan Pengawas Keselamatan Industri dan Nuklir Jepang) mengeluarkan informasi pada sekitar pukul 18.00 tentang dinaikannya level INES (International Nuclear Events Scale) dari level 4 menjadi level 5 dari skala 7. Peningkatan level ini dilakukan karena lebih dari 3% bahan bakar (fuel) telah mengalami kerusakan (damage). Menurut berita NHK, level 5 ini sama dengan level ketika terjadi kecelakaan pada Three Miles Island-2 (TMI-2) yang terjadi pada tahun 1979.

Pengumuman skala INES menjadi 5 oleh pemerintah Jepang ini tidak diikuti dengan perluasan daerah evakuasi. Sehingga hingga saat ini, daerah evakuasi tetap 20 km dan antara 20 km hingga 30 km disarankan tetap berada dalam ruangan. Dengan melihat data laju dosis radiasi di reaktor Fukushima Daiichi ataupun di beberapa daerah lain (lihat Update Laju Radiasi 18 Maret 2011), memang tidak terlihat peningkatan, terlebih lagi peningkatan yang signifikan. Bahkan data pengukuran mengindikasikan bahwa tindakan pendinginan melalui operasi penyemprotan air mampu menurunkan dosis radiasi. Usaha untuk memulihkan kembali sumber listrik pada instalasi memberikan harapan pemulihan sistem pendingin reaktor. Meskipun keberhasilan dua usaha ini masih perlu menunggu perkembangan lebih lanjut.

Selain pertimbangan dari Tim Nuklir yang berada di Crisis Center KBRI Tokyo, analisis pakar keselamatan reaktor nuklir di tanah air juga memperkuat pertimbangan. Dr. Setiyanto, Kepala Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir BATAN, sesaat setelah pengumuman peningkatan level INES dari 4 menjadi 5 (18 Maret 2011), menyatakan bahwa dari data yang ada, dosis radiasi dari reaktor Fukushima Dai-ichi belum mengkhawatirkan. Beliau pun menyatakan bahwa radius evakuasi 20 km dari pemerintah Jepang sudah cukup aman, meskipun skala kecelakaan ditingkatkan menjadi INES 5.

Dengan memperhatikan berbagai faktor di atas, hingga saat ini KBRI Tokyo belum mengubah rekomendasinya terkait penentuan radius evakuasi, yaitu tetap 50 km. Oleh karena itu, semua WNI di Jepang diminta untuk tetap tenang dengan tetap memperhatikan sumber-sumber informasi dari Pemerintah Jepang dan KBRI Tokyo.

 

Kugadaikan Cintaku

“Di Radio aku dengar…. lagu kesayanganmu…..”

Enak ya lagunya si Alm. Gombloh ini. Menunjukkan keberadaan RADIO sebagai media untuk “bercinta”. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi dulu senang rasanya bila kita mendengarkan nama kita diucapkan oleh sang penyiar, …untuk xXx dari yYy dengan ucapan ……

Atau melalui Radio, saya juga menikmati sandiwara Radio dan menikmati suara Maria Oentoe yang bagi saya “bening” (istilah sapa ya ini)…. Pernah terlintas di benakku, aku ingin menjadi seperti dia. Seiyu bahasa Jepangnya. Kalau diterjemahkan harafiah “Artis Suara”. Dan ….tahukah Anda bahwa Seiyu di Jepang merupakan profesi yang menjadi incaran pemuda-pemudi Jepang. Banyak kita temukan sekolah-sekolah yang melatih profesional Seiyu ini. “Pengisi Suara” atau dubber biasanya melewati sekolah-sekolah ini. Saya tidak tahu apakah ada unsur “teknik” rekaman, tapi coba dengarkan suara si Nenek Sophie dalam film “Howl the Moving Castle”. Suaranya bisa berubah dari suara Sophie Remaja menjadi Sophie Nenek, dan kembali lagi. Pengisi suara si Sophie ini adalah seorang Artis yang menjadi adik tokoh Torajiro yang terkenal itu.

So, kembali ke Radio…. Radio mungkin merupakan media hiburan yang termurah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Saya rasa kalau Anda bermobil, dan lupa membawa CD/Kaset, juga pasti mendengarkan Radio di mobil Anda. (Hei….ada acara di suatu Radio di Jakarta yang selalu saya dengarkan dan itu damn good, humornya hidup euy). Radio juga sempat dipakai sebagai alat propaganda Jepang pada waktu pendudukan di Indonesia (1942-1945). Lewat Radio disiarkan lagu-lagu untuk senam bersama, lomba pidato bahasa Jepang, pengumunan-pengumuman penting bagi kejayaan Asia Timur Raya. Radio berperan penting dalam “Shakai Kyouiku” (Pendidikan masyarakat). Waktu saya meneliti tentang  Pendidikan Indonesia jaman Pendudukan Jepang inilah, saya tergelitik juga untuk menyelidiki peran Radio bagi pendidikan masyarakat… tapi belum ada waktu. Pikiran saya sekarang, Jika mau mendidik bangsa Indonesia secara menyeluruh, kita bisa menggunakan Radio… karena Radio merupakan alat yang termurah dan termudah.

Stop tentang Radio-radioan… sebetulnya yang ingin saya posting di sini adalah ingin bercerita mengapa di kolom perkenalan saya terdapat kata “Mantan DJ”. Sebetulnya saya juga tidak setuju istilah DJ ini tapi ternyata seorang “yang bekerja sebagai pembawa acara dan memutarkan lagu di Radio” awalnya disebut sebagai DJ. Atau jika bagian “bicara”nya lebih banyak dari “musik”nya sering disebut personality. Baru kemudian konotasi DJ adalah untuk mereka yang memutar lagu dari piringan Hitam or whatever dengan mencampuradukkan lagu-lagu sehingga menjadi suatu musik yang baru. Yang terkenal di Jepang misalkan DJ HOnda. Saya tidak tahu tentang DJ Indonesia bagaimana… (or mungkin sepupu saya, Richard Mutter bisa disebut terkenal, secara dia mantan pemain drumer PAS dan sekarang berprofesi sebagai VJ yang pernah juga mendapatkan penghargaan. Sorry aku ambil nama kamu sebagai contoh ya Ki.)

Saya mulai bekerja sebagai announcer, pembawa berita di Radio InterFM, Tokyo (76,1 Mhz) sejak usai menyelesaikan program Master di Yokohama National University (YNU), April 1996. Saya langsung diterima sebagai pembaca berita berbahasa Indonesia di situ karena mempunyai “pengalaman” dengan “Mike Radio”. Itu saja alasannya. Memang saya pernah sebelumnya selama 3 tahun kontrak mengisi sebuah acara di Radio Japan (radio NHK-Internasional) yang berjudul “Ogenkidesuka” yang disiarkan lewat Radio SW (ShortWave). Acara pengajaran percakapan bahasa Jepang selama 5 menit setiap minggu selama setahun, dan paket itu diulang selama 2 tahun (padahal honornya cuman buat setahun tuh….heheheh). Di NHK ini yang dipakai adalah pengalaman saya or latar belakang saya yang pernah mengikuti pendidikan menjadi guru bahasa Jepang. Bukan latar belakang “Radio” nya. Dan itu ternyata menjadi jalan pelicin saya menjadi “Orang radio”.

(NHK -Ogenkidesuka with Yasui-san    — Stasion’s opening ceremony -PSA personality)

Awalnya tugas saya hanya menerjemahkan berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dalam acara “Public Service Announcement” (PSA) …ini disiarkan satu kali seminggu dengan jangka waktu 3 menit saja. Tapi di hari yang sama, saya memperoleh jatah 2 x 3 menit untuk membacakan berita-berita aktual dalam bahasa Indonesia. Dan beritanya saya cari sendiri, edit sendiri dan bacakan sendiri, karena producernya tentu saja tidak mengerti bahasa Indonesia. Jadi kalau seandainya saya seorang provokator, saya bisa saja mengumumkan “seruan perang”, berbohong pada laporan isi berita. Jadi untuk acara 3x 3 menit ini saya harus datang seminggu sekali ke studio InterFM , yang waktu itu berkantor di Shibaura, dekat Tokyo Tower. Jadi kalau dipikir juga, biasanya honor di Jepang itu dihitung berdasarkan jam, saya berdasarkan menit. hehheh …cuma persiapannya itu loh….

Selain membaca berita, kemudian saya harus membuat Bansen (Bangumi Senden= Promosi Acara lain) di Radio kami dalam bahasa Indonesia. Misalnya … “Anda sedang mendengarkan Acara Prime Time bersama Charles Glover”. Si Charles ini biasanya minta kita bacakan dengan “suara bersemangat”, “suara seksi” (karena acaranya dia larut malam), dan “biasa-biasa”. Huh, suara seksi itu yang paling susah bo…..

Selain Bansen, saya juga mengerjakan narator untuk iklan-iklan misalnya Kartu Telepon Internasional. Tentu saja dalam bahasa Indonesia karena targetnya adalah orang Indonesia yang tinggal di Tokyo sekitarnya. Oh ya mungkin saya harus menjelaskan sedikit mengapa Radio InterFM ini memiliki siaran 7 bahasa asing, dan merupakan Radio berbahasa Inggris (90%) , satu-satunya di Tokyo. Awalnya adalah karena gempa KOBE yang banyak menelan korban jiwa. Nah disitu terpikirkan bagaimana orang asing yang tinggal di Jepang ini bisa mendapatkan “bantuan” informasi jika terjadi bencana alam yang besar. Dengan tujuan memberikan informasi pada warga asing itulah, akhirnya di Tokyo didirikan InterFM ini (meskipun setelah 10 tahun tujuan itu memudar dan akhirnya dibeli pihak swasta dan tidak menjadi internasional lagi…dan saya juga berhenti dari situ…after 10 years).  Jadi misalnya selama saya bekerja di situ, terjadi gempa besar di tokyo, saya harus datang ke studio dengan cara apa pun  dan bagaimanapun, untuk kemudian membacakan pengumuman-pengumuman bagi masyarakat dalam bahasa Indonesia. Karena itu juga saya tahu banyak tentang apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi gempa. (Untung saja selama itu belum —dan amit-amit jangan—- terjadi gempa besar di Tokyo).

Setahun sesudah acara PSA berjalan, saya ditawari dipaksa untuk menjadi DJ, host untuk program 1 jam dalam bahasa Indonesia. Program ini BOLEH diisi apa saja. TERSERAH kamu. Bagaimana-bagaimana nya semua TERSERAH kamu. Karena pihak Radio hanya BUTUH program 1 jam itu berbentuk kaset digital SIAP PUTAR setiap minggu. DOOOOr deh. So saya yang sorangan ini, harus menjadi Producer, Penulis naskah, Pemilih lagu (jangan sebut music director deh…kekerenan), Pemutar lagu, dan Cuap-cuap dan setelah itu menulis laporan lagu apa saja yang dipasang, dan berita apa saja yang dibicarakan ke dalam bahasa Inggris (mengisi Cue sheet), dan terakhir menuliskan keterangan lagu (judul, artis, album, produksi, lama lagu, lama diputar) untuk diserahkan ke JASRAC. Duuuh ,…… Help Meeee. Dan satu lagi teman-teman, saya waktu itu sudah 5 tahun di Jepang dan no touch dengan musik Indonesia… how can I know that in this very short notice. Untuuuuung banget waktu itu adik saya baru datang dari Indonesia untuk melanjutkan studi di sini, dan tinggal sama-sama (of course yah) dan dia yang input saya dengan band baru Indonesia saat itu, GIGI, Dewa, Slank dsb dsb dsb dsb dsb ….

Start from zero!!! Saya belajar bagaimana mainkan operator board, bagaimana rekam ke kaset digital DAT, menggunakan DAD, MD,  kemudian tidak boleh ada blank lebih dari 5 detik karena bisa menjadi “kecelakaan siaran” and so on, and so on. Sepertinya saya harus MENJELMA menjadi DJ (yes saya rasa saya bisa pakai kata DJ for this kind of work, not just announcer) dalam huh …no time. Saya hanya diberi satu kali studio rehearsal untuk coba alat-alat then sesudah itu langsung rekaman siaran pertama. SAKIT PERUUUUT. Untung lagi si Tina mendampingi aku, dan bantu serabutan…wong sama -sama ngga tau. Program yang satu jam itu butuh waktu studio 6 jam, padahal skrip nya sudah disiapkan, album juga sudah disiapkan. So saya sekarang tidak mau dengar kaset rekaman siaran pertama saya…. gagap jeh. kaku…  Ya gimana dong, sistem One Man Studio ini bagaimana bisa saya kuasai dalam waktu yang (bukan relatif lagi) BENAR-BENAR singkat. Bagaimana saya bisa nyaingi DJ kawakan seperti si Charles yang sudah “bangkotan” kerja di Radio. aduh aduh aduh deh. Dan musti diingat juga saya tidak kerja as a DJ saja waktu itu. Saya masih dan terus kerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Bahasa. Satu hari dalam satu minggu saya harus menderita euy. (satu hari lainnya yang PSA itu sudah “bukan apa-apa” lagi). Saya harus putar otak terus…ini acara 1 jam harus saya isi apa….. Nangis, nangis deh loe. Satu-satunya yang menghibur saya waktu itu adalah jam penyiarannya jam 2 pagi hari Sabtu (Jumat jam 26:00 istilahnya). Saya pikir ah sudahlah …toch tidak ada yang mau dengar jam segitu.

BUT …… perkiraan saya salah….. hiks….. (lanjutnya besok besok aja ya….capek….jadi inget masa lalu sih).

bersambung

NB: Nama program musik 1 jam itu saya namakan “Gita Indonesia” dan memakai Tema Song lagu-lagunya Ruth Sahanaya yang riang, berganti setiap tahun (untuk 4 tahun).

cerita lain mengenai kegiatan saya di Radio juga bisa dibaca di:

http://imelda.coutrier.com/2008/12/17/kartu-pos-itu/