Arsip Tag: polisi

Mama’s Jewel

Aku rasa setiap ibu yang menerima telepon dari polisi pasti akan berdebar-debar dadanya. Bahkan sebelum bilang “Hallo”, sudah memikirkan sesuatu yang negatif, misalnya kecelakaan, atau anaknya ditangkap polisi karena berbuat jahat atau kenakalan lainnya. Dan terus terang dalam setahun ini aku sudah berkali-kali mendapat telepon dari polisi.

Ada beberapa kali aku berada di tengah jalan, dan langsung aku tahu itu dari Riku yang pergi ke pos polisi dan pinjam telepon pak polisi untuk menelepon aku karena aku tidak ada di rumah waktu dia pulang sekolah. Memang waktu-waktu itu aku tidak “keburu” sampai di rumah sebelum Riku pulang sekolah. Dan meskipun aku sudah memberikan kunci padanya, dia masih belum berani menunggu aku sendirian di rumah, dan menelepon dari rumah. Saat itu dia pergi ke pos polisi yang terletak 400 meter dari rumahku, dan melaporkan ke pak polisi bahwa mama belum pulang (untung bukan melaporkan mamanya hilang hahaha)

Itu alasan pertama aku mendapat telepon dari nomor “110” , nomor polisi di Jepang. Nah, barusan ini aku mendapat telepon lagi. Memang Riku sedang bermain di taman sendirian sesudah makan siang. Dan aku sempat berpikir, aduh jangan terjadi kecelakaan atau apa. Ternyata yang menelepon adalah pak polisi yang dari suaranya sudah cukup tua. Dia berkata, “Mohon maaf mengganggu, barusan Riku datang membawa uang 5 yen yang dia pungut di jalan. Saya mau menuliskan laporannya, bisa minta waktu sebentar? Maaf merepotkan.”

Lalu aku berkata, “Maaf, saya yang justru harus minta maaf. Uang 5 jen saja dilaporkan oleh Riku. Saya memang bilang padanya kalau uang, dompet atau kunci harus langsung dilaporkan ke polisi… tapi 5 yen…”
“Ya memang harus tetap mengajarkan begitu. Riku anak yang baik, jangan rubah sikap itu. Tidak apa-apa. Saya hanya mau menuliskan prosedurnya dan ijin apakah boleh memberitahukan nama dan nomor telepon jika pemiliknya datang? ”
“Tidak usah. Sebetulnya ini sudah kejadian ke tiga kalinya, dan tidak perlu memberikan nama atau nomor telepon dan kalau bisa diselesaikan di kantor, selesaikan saja”
“Baik kalau begitu, saya akan tulis suratnya”

Aku pernah menuliskan di “Harga Sebuah Kejujuran” tentang Riku pertama kali menemukan uang 10 yen (sekitar 1000 rupiah) dan langsung melaporkan ke pos polisi.  Kira-kira seminggu yang lalu dia melaporkan penemuan sebuah bola ke polisi, sampai petugas polisi telepon aku dan mencatata prosedur yang seperti tadi. Tapi untuk barang, jika pemilik tidak muncul memang bisa menjadi milik Riku, tapi musti ambil di Itabashi, jauh dari rumah kami. Karena itu aku berkata, “Selesaikan saja (baca buang saja) 処分 shobun. ” Dan Gen menasehati, jika menemukan barang seperti itu biarkan saja dulu, jangan langsung bawa ke polisi, karena mungkin si pemilik akan datang mencari ke tempat dia kehilangan. Dan biasanya pemilik tidak akan terpikir untuk mencari “bola atau mainan lain” ke polisi. TAPI KALAU MENEMUKAN UANG, DOMPET ATAU KUNCI harus langsung melaporkan ke polisi.

Tadi memang sempat aku berpikir, duh Riku…. 5 yen saja! Pura-pura saja tidak lihat, karena kalau ambil dan tidak lapor pasti mempunyai “dosa” mencuri. Paling aman “pura-pura tidak lihat”. Tapi untung pak polisi yang baik itu mendukung perbuatan Riku, karena dari kecil harus dibiasakan mengikuti peraturan. Mumpung sifat baik sudah ditanamkan, jangan dirusak.

Kadang memang orang dewasa MALAS untuk berurusan dengan KEADILAN atau KEBENARAN. Toh BUKAN MASALAH SAYA, masalah orang lain, dan pura-pura tidak melihat, mau cuci tangan saja terhadap masalah orang lain, yang sebetulnya mungkin bisa kita bantu. Memang melelahkan jika kita mau CARE/Perhatian terhadap semua masalah, tapi selama masih kita bantu meskipun kecil, meskipun mungkin tindakan kita tidak berarti banyak, apa salahnya kita bantu. Terus terang aku juga akan memilah masalah-masalah (baca sumbangan-sumbangan yang diminta) menurut keperluan dan kepentingannya. Karena bisa-bisa kalau aku bantu semua sumbangan, dalam sebulan aku yang harus minta sumbangan ke semua teman untuk kehidupanku selanjutnya. Prioritas….

Nah kan mulai melantur lagi, tapi hari ini aku mendapat pelajaran lagi dari Riku, permataku, bahwa sekecil apapun perbuatan kita, pasti ada artinya. Dan bahwa kita harus menyegarkan kembali pikiran kita semurni pikiran anak-anak. 陸はママの宝物。 Riku is Mama’s jewel….

Dalam kesempatan ini aku mau memperkenalkan juga sebuah usaha untuk membantu korban lumpur LAPINDO, yang dilakukan teman blogger seperti yang dituliskan di sini, yaitu dengan penjualan T-SHIRT/pernak-pernik. Bisa berkunjung ke websitenya SocioDistro.

Tulisan ini akan kututup dengan sebuah lagu dari acara TV NHK Pendidikan chanel 3, yang sering aku dengar judulnya Mama no takaramono (Mom’s Jewel)

Haru chan suka nakal
selalu menangis cengeng
ini ngga mau itu ngga mau
ngga mau jalan!

tapi aduh manjanya
haruchan haruchan
mama selalu mau peluk kamu

Mama suka sekali, wajah penuh senyum
Main sama mama yuuk, mau main apa? Haru chan
Haru chan … adalah permata mama

Mama sibuk dari pagi
selalu kesal dan marah-marah
nanti ya!! tunggu ya!! Tidak boleh!!
Ayo bereskan!!!!

Tapi kamu seenaknya saja
Haru chan haru chan
tidak pernah capek

Mama suka sekali, wajahmu dalam tidur
Kasih tahu mama kamu mimpi apa, haruchan
Haru chan … adalah permata mama

(translated by Imelda)

はるちゃん いたずら だいすき
いつも ウエンウエン なきむし
あれいや これいや それいや
もうあるけない!

だけど やんちゃな あまえんぼう
はるちゃん はるちゃん
いつでも キュッと だきしめたい

ママはだいすき ニコニコえがお
ママとあそぼう なにしてあそぶ? はるちゃん
はるちゃんは そう ママのたからもの

ママは あさから いそがしい
いつも イライラ ガミガミ
またね こんどね ダメダメ
かたづけなさい!

だけど きみは マイペース
はるちゃん はるちゃん
ちっとも ほーら へこたれない

ママはだいすき スヤスヤねがお
ママにおしえて どんなゆめみる? はるちゃん
はるちゃんは そう ママのたからもの

Harga Sebuah Kejujuran

Kejujuran…. tampaknya sekarang menjadi barang langka, yang menjadi mahal karena hanya bisa ditemukan di toko antik sana. Jangankan di kancah politik negara Indonesia, dalam rumah tangga pun mungkin sudah sulit untuk dijumpai. Saya sendiri juga kadang lupa apakah saya sudah jujur hari ini. Karena dalam kehidupan sehari-hari pun saya sering berbohong. Setiap ada yang ngebel, saya katakan, “Oh maaf saya tidak bisa baca bahasa Jepang” pada sales penjual koran. Atau “Maaf saya sedang menidurkan anak” pada sales asuransi. Dan seribu alasan lain, kalau saya terpaksa harus mengangkat telepon atau menjawab bel rumah. Well, dengan dalih white-lie?

Tapi beberapa hari yang lalu saya sempat tertegun oleh tindakan Riku. Dia pulang dari bermain di rumah temannya, dan dia menaruh selembar kertas A4 di atas meja kerja papanya. “Mama ini ada surat keterangan polisi!”

What?

“Iya tadi aku ketemu uang di jalan. Sepuluh yen (kira-kira 1000 rupiah). Lalu aku pergi ke pos polisi, dan menyerahkan uang itu ke pak polisi. Itu suratnya.”

“#’$&))(I~=-0…… Kamu ketemu uangnya di mana?”
“Di jalan depan penyeberangan itu loh ma…..”
“Oh ok… kalau kamu ketemunya di dalam rumah ini, itu berarti punya kita loh”
“Itu sih tau dong”
“Hehehe, abis kamu jatuhin uang di mana-mana. OK Riku apa yang kamu buat sudah benar. Mama bangga padamu”

Dalam benakku terlintas, “Aduh uang 10 yen aja ngapain sih dilaporin ke polisi?”.  Sepuluh yen adalah koin ketiga terkecil nominalnya. Mungkin kalau di Indonesia ya seperti koin 100 rupiah deh. Ngapain sih nyerahin ke polisi segala…. Lagian itu polisi kok serius amat ya pake tulis laporan “penemuan barang” segala. Kalau di Indonesia, mungkin pak polisi akan tertawa, dan berkata, “Udah nak ambil aja. Satu lembar ketik laporan “Penemuan barang” ongkosnya berkali lipat deh. (Sorry kalau terkesan sinis).

Well, anakku ini baru belajar bermasyarakat. Dan aku bangga dia melakukan tindakan yang benar, bahkan tanpa bertanya dulu padaku. Masalahnya bukan 10 yen atau 10.000 yen. Bukan nominalnya. Masalahnya adalah kejujuran! Bagaimana kita mau jujur kalau pada sesuatu yang kecil saja kita tidak bisa?

Dan saya kagum pada tindakan pak polisi yang langsung menuliskan laporan “penemuan barang” itu. Di sana tertulis nama, alamat penemu, bentuk barang/nominalnya, dan karena Riku masih SD, tertulis umurnya.Waktu Gen pulang malam harinya, dan membaca surat laporan itu, dia tidak bisa menahan tawa…. sekaligus haru. Sepuluh yen. “Bahagianya kita punya anak yang jujur ya….” Dan kami bersyukur pada Tuhan, atas moment ini.

Dan esok harinya saya terbengong, ketika menerima telepon (rupanya malamnya sudah telepon tapi karena saya sedang menidurkan Kai tidak bisa saya angkat) dari polisi di pos polisi terdekat rumah saya (dari nomor telepon 3 angka terakhir adalah 110 – nomor polisi).

“Riku chan no okaasan desuka? (Apakah Anda ibunya Riku)?”
“Ya, saya ibunya. Maaf kemarin Riku merepotkan….”
“Sudah baca surat penemuan barangnya? Nanti tolong dibaca benar-benar bagian belakang surat laporannya ya. Saya ada beberapa pertanyaan, tolong dijawab ya. Kemarin Riku menemukan 10 yen di jalan, dan melaporkan pada kami. Biasanya kalau yang punya datang kepada kami, kami bisa memberikan nama dan no telepon Riku supaya orang itu telepon dan bilang terima kasih. Apakah Anda bersedia kami memberitahukan nomor teleponnya?”
“Wahh… (dalam hati saya pikir aduh telepon terima kasih utk 10 yen?…eh tapi ini prosedur! formalitas!)… Tidak usah berikan nomor telepon pak. Biar saja”
“OK, kami tidak akan memberikan nomor telepon Anda. Tapi apakah kami boleh memberitahukan nama penemunya?”
“Hmmm kalau nama saja tidak apa-apa pak. Silakan kasih tahu saja”
“Seperti tertulis di laporan tersebut, jika dalam jangka waktu tertentu, tidak ada orang yang claim uang ini, maka uang ini akan menjadi milik Riku. Kami tidak boleh mengambilnya. Jadi kalau tidak ada telepon dari kami yang memberitahukan adanya orang yang mengclaim, kasih tahu Riku untuk ambil uang ini di pos polisi ya. ”
“Maksudnya… uang itu jadi milik Riku?”
“Ya… Dan tolong dibaca ya bagian belakang surat laporan tersebut. Semua ketentuan tertulis di situ”
“Baik pak. Terima kasih banyak untuk teleponnya”

click…. Telepon ditutup. Well…. Untuk 10 yen betapa seriusnya polisi Jepang. Menulis laporan, waktunya melayani Riku, masih menelepon lagi. I AM AMAZED. Takjub! Inilah pendidikan kejujuran yang didukung oleh masyarakat setempat.

Kejujuran Riku kali ini berharga 10 yen, tapi merupakan harta yang tak ternilai untuk masa depannya. Semoga dia bisa tetap begitu. Dan…. Oh Tuhan, tolong aku supaya bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anakku….

satu satu nol

110 – seratus sepuluh dan bahasa Jepangnya biasa disebut Hyaku-toban (110 番). Bagi yang mengerti bahasa Jepang, akan bertanya, “Loh kok bukan hyaku juu sih?) . Ya, memang bukan disebut hyaku juu, karena angka ini adalah angka keramat. cieee…

Seperti pernah saya ceritakan di “Di Jepang ada pencuri?”, bahwa 110 adalah dial, telepon khusus untuk polisi. Di mana saja Anda berada di Jepang, jika menelepon ke 110, pasti akan disambung ke kantor polisi terdekat. Jadi layaknya  nomor 110, memberikan keamanan dan keselamatan bagi warga Jepang.

Pada lambang/papan  yang ada di sebagian rumah di daerah-daerah pemukiman, ada yang bertuliskan “Kodomo 110(こども110番)”. Kodomo = anak-anak (bukan komodo lohhh…. tapi komodo no kodomo itu berarti anak komodo hehhehe bingung yah) . Jadi anak-anak jika mengalami ketakutan, merasa diikuti orang, dikejar penjahat atau segala sesuatu yang membahayakan dirinya, bisa lari ke rumah-rumah dengan tanda itu. Dan di daerah Nerima, daerah kami, selain tulisan “kodomo 110” ini juga memakai lambang bunga matahari, “himawari“.

Bahkan kata Gen, jika anak-anak haus dan tersesat, bisa mengebel rumah dengan tanda itu, dan minta air minum, minta bantuan. Shelter for children. Dan waktu saya jalan-jalan memang sering sekali menemukan tanda itu. Dulu belum punya anak, jadi belum “mengerti” artinya. Tapi sekarang setelah anak saya mulai sekolah, merasa aman dengan kehadiran rumah-rumah 110 itu. Dan memang karena sekarang saya adalah anggota pengurus PTA sekolahnya Riku, saya harus mengecek rumah-rumah mana saja yang 110 di sekeliling sekolah dan rumah.

Sebagai tambahan usaha untuk keamanan anak-anak bersekolah, semua anggota pengurus PTA (satu kelas 3 orang) dibagikan lencana yang dipakai di lengan atau tas, bertuliskan bohan 防犯 (pencegahan kejahatan) , dan juga sebuah kertas berlaminating dengan tulisan パトロール (Patrol) yang dipasang di sepeda. Semua dengan warna dasar hijau.

Saya tidak tahu kenapa hijau yang dipakai. Coba saja tanda emergency exit yang dipakai di gedung-gedung. semua berwarna hijau bukan? belum lagi tanda-tanda itu mengkilat/berlampu sehingga saat gelappun bisa terlihat. Kenapa bukan kuning? yang lebih alert daripada hijau? Mungkin, mungkin loh, menurut hipotesa saya saja, jika terlalu banyak warna kuning dipakai rasanya kehidupan manusia akan berisi ketegangan terus. Alert terus. Sedangkan warna hijau, lebih nyaman di hati, seakan memberikan perlindungan. Hmmm mungkin saya harus mencari lagi di google jepang, kenapa dipakai warna hijau. Saya senang sekali “melacak” di google jepang, karena sering pertanyaan aneh-aneh seperti saya ini, bisa terjawab di sana. Dan itu karena, ORANG JEPANG SUKA MENULIS. Apapun didokumentasikan (tulisan/foto) oleh orang Jepang. So, menurut saya, Jepang adalah surga bagi penelitian. ASAL BISA BAHASANYA.

Lalu apa tugas saya yang membawa kedua tanda itu? Tugasnya bukan seperti polisi yang melakukan patrol memang. Tapi bila dengan tidak sengaja menemukan sesuatu yang mencurigakan, kita bisa langsung melapor ke polisi. Jadi diharapkan saya juga waspada terhadap keamanan sekeliling, dan jika diminta bantuan oleh anak-anak yang melihat tanda saya itu, saya wajib menolong dan membawanya ke pos polisi terdekat.

Papan Kodomo 110 himawari di rumah penduduk, lencana bohan, tanda patrol di sepeda. Ini semua memperlihatkan lagi kerjasama antara pemda, polisi, masyarakat sekitar,dan orang tua murid dalam keselamatan anak-anak. Dan mungkin sedikit banyak tulisan ini bisa menjawab pertanyaan teman-teman dalam komentar yang diberikan dalam tulisan-tulisan tentang Riku pertama kali bersekolah. Dan ya…. ini adalah satu lagi oleh-oleh dari pertemuan orang tua murid PTA yang saya ikuti hari kamis lalu.

(Masih ada yang bisa saya ceritakan lagi ngga ya dari pertemuan itu? Hmmm masih banyak… misalnya bagaimana cara pemilihan pengurus, dan kegiatan-kegiatan mereka…. tunggu saja kapan bisa terungkapnya)

Di Jepang Ada Pencuri?

Yah pasti ada deh…. Akhir-akhir ini saya baca banyak teman blogger yang menulis tentang kondisi perumahannya. Ada soal pagar, keamanan, banjir dsb.  Saya akan bercerita sedikit tentang rumah saya di Tokyo.

Waktu pertama datang ke Jepang, saya tinggal bersama keluarga Jepang yang kaya. Rumahnya terletak di Meguro distric, dekat dengan kota anak muda Shibuya (kira-kira 15 menit) dan Harajuku (20 menit). Konsekuensinya tentu saja harga eceran di sekitar perumahan itu agak mahal.

Setelah 4 tahun saya tinggal di situ, dan nenek yang selalu menghalangi saya untuk pindah itu meninggal, saya pindah ke apartemen atau tepatnya mansion. OK saya jelaskan apa bedanya apartemen dan Mansion di Jepang. Apartemen itu mungkin lebih seperti rumah kos-kosan di Indonesia. Paling tinggi berlantai 3, bentuknya sederhana dan biasanya terbuat dari kayu. Sedangkan mansion bentuknya lebih berupa gedung tinggi di atas 4 tingkat dan terbuat dari beton. Mansion yang lama biasanya tidak ber-lift. Nah kalau yang disebut apartemen di Jakarta itu lebih dekat ke mansion atau yang mewah ke condominium (biasanya di Tokyo bertingkat 20-an dan terletak di daerah pusat kota sehingga mahal sekali). Nah sesudah 4 tahun itu saya pindah ke mansion lama yang letaknya sekitar 2 menit berjalan kaki dari rumah awal. Menempati sebuah pojok di lantai 4, dengan 2 kamar tidur, dapur, living (2LDK) . Saya memilih mansion ini karena Tina adik saya akan datang ke Tokyo dan menemani saya tinggal bersama. Karena mansion itu manison tua jadi tidak ada lift, olahraga terus setiap hari naik turun tangga 4 lantai. Belum lagi kalau ada yang ketinggalan.

Kemudian 9 tahun yang lalu, karena saya akan menikah, saya pindah ke mansion yang sekarang yang masih di dalam Tokyo tapi lebih ke utara. Maksudnya supaya perjalanan Gen dan saya, tidak terlalu jauh. Gen menjauhi pusat kota, sedangkan saya kerjanya lebih banyak di dalam kota. (Yang enak Gen bisa duduk di kereta karena arus balik, sedangkan saya …harus berjuang dalam rush hour).

Pojok yang saya tempati ini terletak di lantai 4 dari 5 tingkat, dan persis terletak di samping lift. Saya suka mansion ini karena serba putih dengan teras yang lebar dan memanjang untuk 3 kamar (3LDK). Saya kurang suka interior berwarna coklat karena gelap kesannya. Dindingnya juga banyak dan luas, sehingga seluruh dinding saya pasang rak buku sampai langit-langit (susyah kalau dua-duanya suka buku + CD kerjaan saya) Jadi hiasan dinding saya adalah buku, jangan harap ada hiasan lain…. palingan frame foto.

Nah kejadiannya tanggal 10 Januari 2002. Mulai sekitar tgl 20 Desember 2001 sampai 6 januari 2002, saya berwisata (sendiri tanpa Gen) ke Munchen. Ceritanya saya dan Tina akan bergabung dnegan papa dan mama melewatkan natal di Munchen, tempat Novi (adik saya no 2) +suami dan 1 anak tinggal di Munchen untuk bekerja waktu itu. Dari Munchen, kami ke Amsterdam untuk reuni dengan keluarga di sana (menikmati pemakaian EURO yang pertama) lalu tanggal 6 Januari saya kembali ke Tokyo. Nah tanggal 10 januari itu saya harus mengajar seharian sampai malam. Tiba-tiba sebelum saya pulang, petugas administrasi di sekolah bahasa menyapa saya dan berkata, “Suami Anda menelepon”. Hmmm ada apa? Begitu saya telepon Gen, yang dia tanya hanya satu,

“Kamu bawa laptop kamu hari ini?”

“TIdak…”

” Hmmm ok… yah… laptop itu tidak ada….”

“What do you mean with tidak ada?”

“Ya dicuri… sudah kamu pulang saja cepat-cepat”.

Langsung terbang pulang, dan waktu saya sampai di rumah, saya menjumpai rumah saya berantakan… bener-bener berantakan. Polisi sudah tidak ada, karena Gen sudah menyelesaikan laporan dsb. Well, kalau sering nonton film action pasti tahu deh kondisi rumah yang dibongkar oleh penjahat untuk mencari sesuatu. Tapak kaki bersepatu (huh seballlll, padahal di Jepang kalau masuk rumah HARUS copot sepatu), kertas-kertas buku semua di jungkirbalikkan, semua laci tertarik dan dia buang isinya, semua amplop dirobekin dipikir mungkin ada uangnya…. padahal tidak ada…. edannya lagi kasur di kamar tidur diacak-acak… tas yang berisi satu set sendok garpu yang saya beli di Jerman dibongkar… dia pikir tas itu isi uang mungkin. …. pokoknya heboh…dan saya hanya bisa bengong… speechless kalau mau niru katanya om nh18.

So, apa saja yang diambil? laptop, 2 celengan (yang cukup banyak isinya…. abis khusus koin 500 yen), perhiasan (anehnya dia tahu yang mana yang emas , mana yang bukan… dia pilih booooo), walkman dan rupanya barang itu dia masukkan ke dalam satu tas handbag milik Gen.  Ya sudah apa boleh buat, kita laporkan dan minta ganti asuransi saja. Tiba-tiba Gen bilang, “Sh*t”… kenapa? Rupanya rokok Malboro 2 sloss yang saya beli di Duty Free sebagai oleh-oleh untuk dia, diambil juga oleh si pencuri… Saya bilang, alahhhh gitu aja… kan cuman tabacco…

But saya kena juga ketika keesokan harinya saya mau mencari dus-dus coklat yang saya beli dari Belanda untuk hadiah pada murid-murid… loh kok tidak ada? Ternyata sodara-sodara, ROKOK dan Coklat  itu diambil oleh si pencuri… SEBAAAAAAAAAAAL sekali… rasanya waktu itu mau nangis aja. Masak sih kamu ambil juga yang harganya cuman segitu itu… hiks kesaaaal. Dan Gen dengan kalemnya bilang,”So, you know my feeling kan? waktu tau rokok saya diambil? ” Huh… Mengerti sekali. Gomennasai.

Dan ternyata tanggal 10 Januari itu di mansion saya yang terdiri dari 25 pojok, ada 2 pojok lagi yang kemasukan pencuri dan ada 20-an rumah di sekitar mansion kami juga yang menjadi korban. Jadi, pencurinya memang berkelompok, masing-masing punya targetnya. Dan diperkirakan bukan orang Jepang (Kalau orang Jepang tidak bisa menilai value emas, permata katanya… dan caranya either lebih vulgar atau lebih rapi) Dan saya menganggap gang penjahat ini seakan mengejek polisi. Karena tanggal 10-1 kalau dibaca secara Jepang akan terbalik 1-10 , yang mana 110 adalah dial khusus untuk polisi. APES deh emang.

Tapi dari musibah ini, saya bisa mengambil hikmah yaitu belajar mengenai asuransi Jepang. Ya, ternyata computer laptop, walkman…semua alat listrik portable tidak dicover oleh asuransi. Nangis deh. Mana Gen orangnya jujur sekali, jadi semua harganya dilaporkan dengan benar, tanpa ditambah-tambah… hiks. Yang diganti hanya uang tunai maksimum 200.000 yen (meskipun yang diambil lebih dari itu), lalu 80% dari harga perhiasan. Setelah kejadian itu saya banyak mendapat nasehat dari teman-teman untuk melebihi laporan kerugian perhiasan daripada melaporkan kehilangan uang tunai… (semoga petugas asuransi ngga baca ya hihihi… dan saya tidak tahu apakah taktik ini bisa dipakai di Indonesia atau tidak). But bagi saya sudah terlaporkan, sehingga saya harus bisa menerima bahwa komputer saya hilang, dan lumayan merugi. (Komputer hilang ya sudah…. tapi data-datanya??? untung saya secara rutin selalu backup data komputer saya).

So, siapa bilang Tokyo aman? ada juga kejadian kok pencurian di sini. Terutama untuk rumah yang sering ditinggal pemiliknya. Biasanya penjahat akan mengintai kebiasaan pemilik rumah, sehingga dia tahu kapan waktu paling aman untuk masuk dan beroperasi. Kejahatan ini disebut AKISU (pengintip rumah kosong) Hmmm untung waktu itu saya kerja, kalau tidak? mungkin sudah dibunuh ya? Karena itu saya menanggapi kejadian itu sebagai “buang sial” di tahun 2002. (kalau mau  lebih berpikir mistis lagi, waktu itu saya berusia 33 tahun. 33 tahun adalah tahun sial untuk wanita di Jepang. ) Dan Riku lahir Feb 2003….