Arsip Tag: peringatan

Family Day: Shichi Go San

Bukan nama orang yang bernama Shichigo loh, tapi ini adalah peringatan yang jatuh pada tanggal 15 November setiap tahunnya terutama untuk keluarga yang punya anak-anak, baik anak lelaki maupun anak perempuan.

Sesuai dengan namanya, shichi = 7, go=5, dan san =3. Pada hari ini mereka yang mempunyai anak perempuan berusia 3 dan 7 tahun, serta anak lelaki berusia 5 tahun (di beberapa tempat ada juga yang merayakan untuk anak lelaki berusia 3 tahun, tapi kami tidak), merayakan “kesehatan” dan perkembangan anak-anak mereka dengan berdoa di Jinja atau Kuil (dan sekarang juga banyak yang merayakannya di gereja Jepang). Dan pada usia-usia inilah anak-anak ini pertama kali memakai baju tradisional Jepang, kimono untuk anak perempuan dan hakama 袴 untuk anak laki-laki.

Kebiasaan ini ternyata baru dimulai pada jaman Tokugawa Tsunayoshi tahun 1681, untuk mendoakan kesehatan anaknya. Secara mudahnya, kebiasaan shichigosan ini karena dulu anak-anak berusia dibawah 7 tahun itu banyak yang sakit dan tidak bisa hidup terus. Jadi kita melewati tahun ke 3, ke 5 dan ke 7, orang tua mengucapkan syukur kepada dewa-dewa atas pertolongan melindungi anak-anaknya. Diharapkan setelah usia 7 tahun, anaknya akan tumbuh sehat terus sampai nanti upacara berikutnya pada usia 20 tahun, yaitu hari dewasa Seijin no hi, waktu anak-anak itu dinyatakan sebagai dewasa.

Hasil foto studio 4 tahun yang lalu

Nah, Kai sudah berulang tahun ke 5, tahun ini. Jadi aku tahu bahwa kami harus mengikuti tradisi shichigosan ini. Waktu Riku aku ingat kami hanya mengambil foto di studio bersama Kai, dan itu aku laksanakan di bulan Mei. Perkiraannya waktu itu karena jika sudah masuk bulan November, maka akan banyak orang yang memakai jasa foto studio. Pada hari H, sekitar tanggal 15 November, kami makan bersama di rumah mertua, dan Riku berkunjung ke kuil dekat rumah Yokohama. Itu tahun 2008.

Tahun ini aku lebih “sigap” jadi aku mengatur supaya papa Gen bisa cuti, Riku dan Kai bolos sekolah dan aku juga tidak ada kerja, lalu menelepon foto studio untuk membuat jadwal. Sampai dengan tanggal 15 November, foto studio yang biasa kami pakai itu menggratiskan penyewaan kimono dan hakama bagi anak yang merayakan 753, serta orangtuanya. Wah, kesempatan bagiku untuk juga ikut memakai kimono, meskipun aku harus membayar untuk makeup dan hair stylistnya. Waktu upacara pernikahan aku memang tidak memakai kimono, dan dalam waktu dekat juga tidak ada keluarga jauh kami yang akan menikah, sehingga kali ini merupakan kesempatan bagiku kecuali aku mau menunggu kedua anakku menikah nanti 😀 Aku juga mengajak orang tua Gen untuk ikut berfoto bersama, apalagi tahun ini mereka merayakan ulang tahun pernikahan ke 45 tahun! Sekalian saja.

Jadi pukul 9:30 pagi kami keluar rumah dan naik bus menuju Kichijouji, tempat foto studio Laquan NY, karena aku akan mulai didandani pukul 10:30. Anak-anak dan Gen sebetulnya bisa datang pukul 11 karena pemotretan sendiri mulai pukul 12. Tapi…. aku tidak yakin membiarkan 3boys jalan sendiri, terutama aku takut kalau Kai berulah. Tapi ternyata kekhawatiranku tidak perlu. Meskipun mereka harus menunggu 30 menit sebelum jadwal mereka ganti baju, mereka dapat mengikuti petunjuk staff studio dengan baik. Bahkan Kai gembira sekali melihat 3 jenis hakama yang aku pilihkan buat dia. Memang sebelumnya aku sudah pilihkan 3 set hakama untuk Kai, dan ternyata dia pilih yang paling unik sendiri. Yaitu pakaian untuk samurai yang bernama Kamishimo (かみしも).

Pakai kimono bagaimana rasanya? Hmmm sama saja seperti pakai kebaya deh. Cuma kalau kebaya yang “menyesakkan” biasanya bagian perut dan pinggang karena pakai korset, sedangkan untuk kimono yang menyiksa adalah bagian dada. Percuma punya dada membusung karena pasti ditekan sedemikian rupa supaya rata. Prinsipnya pada kimono, wanita tidak perlu mempunyai body bentuk biola 😀 karena akan memakai obi (ikat pinggang) lebar yang membuat dada, perut dan pinggang menjadi satu garis :D. Jadi siap-siaplah buka bh, dan untung tidak perlu buka cd seperti wanita Jepang jaman dulu. Semua “lembah” disumpal dengan kapas dan kain sehingga menjadi rata, baru dipakaikan kimono. Yang menjadi patokan adalah motif bunga bagian bawah, jadi yang penting bagian bawah dulu, baru kemudian diatur bagian perut dan dada. Yang pasti akan sulit sekali memakai kimono sendiri, perlu belajar dan latihan yang banyak supaya bisa memakai sendiri. Kecuali badannya lurus seperti papan setrikaan kali ya hahaha.

Setelah aku siap kimononya, Gen dan anak-anak siap memakai hakamanya, kami menuju studio foto yang terletak di lantai 3. Fotografernya perempuan cantik dan lincah. Berkat dia, kedua anak lelakiku bisa bergaya dengan baik 😀 Kai sendiri, lalu Kai berdua Riku, lalu kami sekeluarga ber-4 dan ber-6 dengan bapak ibu mertua. Kai juga bergaya sendiri dengan memakai tuxedo (baju eropa). Yang pasti hasil pemotretan keseluruhannya ada 360 lembar!

Setelah selesai ganti baju, kami masih harus memilih dari 360 lembar, berapa yang kami mau cetak. Kami sudah pengalaman dan sudah tahu bahwa di situ cetaknya mahal (ongkos cetak ukuran terkecil seharga 2100 yen (Rp210.000), sehingga benar-benar memilih yang terbagus saja. Dan kami memilih 20 foto dengan 2 berukuran 5R (sisanya berukuran L). Memang mahal tapi kapan lagi bisa begini. Tapi pelayanan studio Laquan memang top. Mereka memberikan service 2 foto berukuran kecil dalam bentuk data untuk HP. Juga memberikan kalender dengan salah satu foto yang kami pilih. Bahkan karena aku cek in di FB, kami mendapatkan satu set kotak coklat dengan bungkus fotonya Kai :D.

Hasil foto baru jadi 2 minggu yang akan datang, tapi aku bisa menampilkan foto yang kami terima sebagai gambar background HP.

Kiri: Kai memakai Kamishimo dengan memegang Chitose Ame (Permen 1000 tahun), permen yang mengungkapkan harapan orang tua agar anak-anaknya panjang umur. Kanan: Kai dengan tuxedo yang kupilih. Senang sekali melihat dia langsung menyukai tuxedo ini.

Setelah selesai pemesanan dan pembayaran di studio, kami masih punya waktu 2 jam lebih sebelum bisa makan malam bersama di sebuah restoran Perancis masih di dekat-dekat stasiun Kichijouji itu. Aku memesan tempat untuk ber 6 pada pukul 17:30, begitu restoran itu buka untuk dinner. Sebetulnya restoran itu TIDAK menerima tamu di bawah 6 tahun, karena sudah bisa dipastikan anak berusia di bawah 6 tahun itu ribut dan bisa mengganggu tamu lainnya. Tapi waktu aku tanyakan apakah kami bisa merayakan Shichigosan di sana,kami diterima. Katanya ada kekecualian untuk event-event khusus. Untunglah.

Aku memilih restoran ini karena pernah diusulkan oleh teman ibu mertua. Katanya masakannya lebih enak daripada restoran Perancis yang sering kami datangi yang bernama Kaisen Shokudo. Dan restoran ini bernama Mariage, sehingga kurasa cocok untuk merayakan ulang tahun pernikahan bapak ibu mertua. Mariage tentu saja berarti pernikahan.

Restoran ini tidak besar, tapi berada dalam sebuah rumah yang cantik, jadi seperti memasuki rumah bergaya Eropa. Karena malam dan dingin, kami tidak mau duduk di teras yang juga terlihat menyenangkan. Untuk makan siang pasti menyenangkan deh.

Sebelum memasuki restoran ini, aku sudah wanti-wanti Kai untuk behave! Tidak boleh ini itu, dan harus dengar-dengaran. Tapi tentu saja sulit bagi anak seusia 5 tahun untuk bersikap dewasa apalagi menguasai table manner. Sekaligus kesempatan ini kami pakai untuk mengajarkan table manner pada Kai. Kalau Riku sudah 9 tahun, sehingga sudah bisa mengikuti tata cara makan ala eropa. Kalau dipikir debut Riku di restoran Perancis memang jauh lebih muda daripada Kai. Usia 6 bulan saja dia sudah makan foie gras :D

Kami memesan makanan course menu, tapi masing-masing memilih main course beda-beda. Ibu mertua dan Riku memilih masakan udang besar, Gen dan papanya memilih steak daging sapi, Kai memilih roast chicken, sedangkan aku memilih steak menjangan. Rasanya? tentu semua enak (dan mahal). Tapi kami bisa memperingati sekaligus shichigosan dan ulang tahun pernikahan, dan mungkin untuk tahun ini adalah perayaan yang terakhir karena kami tidak merayakan pergantian tahun (tahun baru) karena dalam suasana duka mochu 喪中 (mama meninggal bulan Februari)

20 Tahun dan Kopdar Tokyo

♥♥♥♥ Sebetulnya tanggal 23 September kemarin merupakan hari yang bersejarah untukku. Karena tepat hari itu 20 tahun yang lalu aku mendarat di Tokyo, untuk memulai  “petualangan” sebagai mahasiswa persiapan program S2 di Yokohama National University. Seharusnya aku menulis sesuatu yang “berbobot” untuk memperingati 20tahun kedatanganku, dan kebetulan juga 13 tahun tercatat di catatan sipil Jepang, sebagai Mrs Miyashita. Namun…. ya berbagai alasan yang bisa dikemukakan tapi pada intinya, aku tak tahu mau memulai menulis dari mana.

Sejak jumat sore, kami menginap di rumah mertua, di Yokohama. Karena seminggu sebelumnya, tepat pada hari lansia, kami tidak bisa pergi ke sana karena Gen harus mengajar (lalu aku pergi karaoke dengan anak-anak). Karena aku mulai semester genap di universitas S, maka aku otomatis keluar rumah dari pagi. Padahal hari jumat itu juga ada open school di sekolahnya Riku. Open School adalah kesempatan bagi orang tua murid untuk melihat dari dekat kegiatan pembelajaran di kelas anaknya. Jadi aku minta Gen untuk ambil cuti dan mengikuti acara open school itu. Gen sendiri senang karena dia jarang mempunyai kesempatan untuk melihat, lain dengan aku yang selalu hadir. Jadi setelah mengantar Kai ke TK, Gen ke SD dan berada di sana sampai harus menjemput Kai di TK pukul 2 siang. Kesan Gen : “Riku disukai teman, dan tidak terpengaruh pada teman yang ribut… itu yang penting. Dan dia juga aktif menjawab pertanyaan guru (padahal kalau aku yang datang dia malu-malu loh huh)”. Dan setelah kedua anak selesai sekolah, Gen bertiga naik mobil ke Yokohama, ke rumah mertuaku.

Sake Jepang : Momo no Shizuku, fanta jenis baru dan mozarella cheese+tomat dengan olive oil+ pepper

Aku sendiri dari pagi mengajar ke kampus yang kebetulan tidak begitu jauh letaknya dari rumah mertua. Sekitar 40 menit naik kereta. Jadi begitu selesai mengajar, aku menuju stasiun terdekat (meski terdekat juga masih harus naik bus 20 menit, atau taxi ) dan berbelanja dulu sebelumnya. Terutama berbelanja makanan yang mentah seperti sashimi dan roti serta keju. Aku juga sempat membeli sake Jepang yang enak, tapi karena ada persediaan sake yang dibeli ibu mertua, sake itu disimpan di lemari es saja. Tak disangka rombongan Nerima yang naik mobil pun bisa sampai di rumah mertua pada pukul 5 sore karena tidak macet, sehingga kami bisa mulai makan bersama lebih awal. Sake yang disediakan ibu mertua berasal dari Kyoto (jizake 地酒)  bernama Momo no shizuku 桃の滴 (Tetesan Peach), nama yang bagus dan rasanya juga bagus… tapi entah kenapa tidak seperti biasanya aku cepat mabuk minum sake ini. Mungkin karena aku tidak begitu fit juga ya. Alhasil  ibu mertua dan Gen terkapar di tempat tidur pukul 8 malam, sedangkan aku sebelum tidur masih sempat menyediakan nasi untuk anak-anak yang mengeluh lapar. (Kalau minum sake memang yang dimakan semua makanan ringan, seperti sashimi, salad, ikan dan nasi biasanya paling belakang, atau bahkan tidak makan nasi sama sekali…. jadi anak-anak juga makan sashimi, salad segala lauk tanpa nasi. Giliran sudah mau tidur, mereka mengeluh lapar, dan minta nasi).

Hari Sabtunya, kami makan siang dengan daging domba yang dibawa bapak mertua dari daerah Hokkaido. Daerah hokkaido memang terkenal dengan daging dombanya yang diberi nama Jengis Khan. Kupikir daging dombanya bau dan amis, eh ternyata cukup empuk dan enak. Anak-anak suka sekali makan daging domba, sampai aku tercengang melihat Kai yang tambah daging dan nasi terus. Hmmm anakku ini juga mulai menunjukkan sukikirai (pilih-pilih) makanan, tapi memang sejak kembali dari Indonesia aku melihat dia semakin tinggi saja.

Kami memang berencana pulang ke Nerima malam hari, karena aku mau ke gereja di Kichijouji hari Minggunya dan janji bertemu dengan Andori di Kichijoji untuk makan siang bersama. Tapi karena Gen ingin makan di restoran Indonesia Cabe, kupikir kalau dia bisa gabung maka lebih baik bertemu untuk makan malam saja, daripada makan siang. Jadi aku tanya apakah dia bisa memajukan janji bertemunya ke hari sabtu malamnya. Dan bisa.

Ya hari Sabtu malam itu kami mengadakan Kopdar (blogger) Tokyo yang ke tiga untukku, (yang pertama waktu bertemu Mas Agustus Nugroho, dan yang kedua Ade Susanti). Meskipun demikian aku pertama kali bertemu dengan Andori yang bertempat tinggal di Nagoya. Blognya (Toumei Ningen) memang berisi tentang kehidupan di Jepang, terutama film dan musik. Dia fans beratnya band Jepang Laruku deh ([L’Arc~en~Ciel). Andori juga mengajak Grace Kamila, yang konon juga blogger dan sekarang tinggal di Niigata. Pembicaraan kami apa ya? Selain soal blog/blogger, aku tidak bisa ingat, karena kebanyakan meredakan pertengkaran Riku dan Kai. Riku malam itu memang mengantuk, sehingga diam terus, sedangkan Kai full battery, sehingga maunya bermain. Susah deh…. setiap aku bicara, Kai pasti mau bicara juga dan menanyakan hal-hal remeh kepadaku. Sudah sering aku beritahu bahwa tidak boleh ribut kalau mama sedang bicara, tapi entah akunya yang gagal mungkin, dia selalu begitu. Minta perhatian. Setiap aku telepon juga, bahkan kalau aku telepon masuk ke kamar supaya sepi, dia juga ikut masuk ke kamar. Meskipun akhirnya dia juga akan minta maaf, aku sering harus meminta maaf pada teman yang di telepon karena ribut. Aku berharap kalau dia SD mungkin sudah bisa lebih tenang. (Makanya jangan telepon aku kalau malam hari/anak-anak bangun dan ada di rumah deh. Bakal tidak tenang ngegossipnya hahaha). Maaf juga kepada Andori dan Grace atas kenakalan anak-anakku ya. Nanti lain kali silakan datang ke rumah saja, biar lebih bebas bicara ya hehehe.

kopdar Tokyo ke 3 di restoran Cabe, Meguro

Jadi perayaan 20 tahunnya bagaimana? Selain dirayakan malam sebelumnya bersama Andori dan Grace, aku merayakan dengan “diam” berdoa di gereja pada misa jam 9:00. Tema misa kali itu juga tentang pengungsi/imigran, yang terpaksa harus meninggalkan negaranya untuk hidup di negara lain. Dengan bacaan : “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Anehnya aku tidak merasa sedih atau terharu atau menitikkan air mata pada misa itu, seperti kalau aku mengikuti perayaan untuk saat-saat khusus pada kehidupanku kecuali pada saat menyanyikan lagu pujian ini :

Lihatlah burung di udara
Hidup tenang di padang bakung
tanpa menabur tanpa menuai
Sedangkan makhluk sekecil itu
Ada Tuhan yang menjaga

Sahabatku, hari ini mari kita memuji dengan nyanyian
Kasih Bapa di surga meresap pada semua makhluk.

ご覧よ 空の鳥 野の白百合を
蒔きもせず 紡ぎのもせずに 安らかに 生きる
こんなに小さな いのちにでさえ 心を かける父がいる

友よ 友よ 今日も たたえて歌おう
すべての物に 染み通る 天の父の いつくしみを

Buku pujian di gereja dengan not balok semua. Pertama kali datang ke Jepang mabok deh karena aku tidak bisa baca not balok. Sekarang sih sudah lumayan deh hehehe

Dan setelah gereja aku sempat berbelanja untuk makan malam bersama sekeluarga berempat…dan lupa mengambil foto :D. Kesimpulannya: Perayaan genap 20 tahun aku di Jepang aku lalui dengan …. sederhanaaaaaa sekali. Yang pasti aku mengucapkan syukur pada Tuhan dan kedua orang tuaku yang sudah melindungi aku dengan doa-doanya selama ini. Amin.

Peringatan itu perlu tidak?

Peringatan dari Pakdhe Cholik bahwa tulisan ASKAT harus dilaporkan/didaftarkan sebelum pukul 17:00 teng itu benar-benar strict sekali. Lewat berapa detik langsung ditutup tuh pendaftarannya. Maklum deh pak Komandan blogger ini memang tegas dan seram :D. Aku sendiri sudah 2 kali mengikuti acara ASKAT, tapi ya itu, yang ke dua terlambat. Dan waktu hari ini aku melihat kata kuncinya ASKAT adalah peringatan, aku sedang berada di luar rumah. Sibuk deh berpikir mau menulis apa tentang PERINGATAN.

per·i·ngat·an n 1 nasihat (teguran dsb) untuk memper-ingatkan:  2 kenang-kenangan; sesuatu yg dipakai untuk memperingati:  3 catatan: 4 ingat-an; 5 hal memperingati (mengenang dsb):  (KBBI Daring)

Nah, tadinya aku mau menulis tentang peringatan yang nomor 5, tapi kok tidak ketemu tentang apa. Hari Ayah sudah lewat. Meskipun kalau cari di igoogle ku hari ini di Jepang adalah GESHI 夏至, yaitu hari dimana panjang siangnya terpanjang selama setahun. Jadi hari ini katanya panjangnya siang 14 jam 36 menit karena matahari baru terbenam jam 19:01 (Tokyo).

Jadi aku mau menulis tentang beberapa “Peringatan” yang bisa diterjemahkan menjadi WARNING 注意 yang ada di Jepang. Peringatan ini belum pernah aku jumpai di Indonesia.

1. Peringatan pada sumpit kayu: “Hati-hati waktu membelah sumpit, jangan sampai tertusuk”. Apalagi ada beberapa toko yang menyediakan tusuk gigi di dalam plastik sumpit. Bagus sekali ada peringatan ini, meskipun belum tentu orang “sempat” membacanya. (Saking laparnya…)

Ada bahasa Inggrisnya loh, "Toothpick may hurt your finger"

2. Peringatan pada WC yang sedang dibersihkan. “Hati-hati sedang dibersihkan, licin”. Nah, kalau ini kupikir memang perlu, apalagi kakek nenek yang jalannya susah dan mudah tergelincir.

Papan peringatan ini dipasang di depan WC atau lantai yang sedang dibersihkan/dipel

3. Peringatan cara jongkok di WC ala Jepang. Cara menghadapnya kemana ditandai dengan tanda bundar (yang benar) serta tanda silang (salah). Hmmm ini juga perlu deh, jangan sampai “salah tembak” hihihi.

Peringatan: Jangan hadap belakang! hihihi

4. Peringatan bahwa ada kamera pengintai. Perlukah ini? Hmm paling tidak sebagai pencegah supaya jangan berbuat jahat/iseng karena tindakanmu terekam loh.

Perlu tidak ya? Buat yang pacaran mungkin perlu, supaya kalau sedang ciuman jangan terekam. Tapi... orang Jepang cuek-cuek kok 😀

5. Peringatan untuk berhati-hati akan kotoran burung dara/walet di stasiun. Ya memang kadang ada burung-burung yang membuat sarang di tiang-tiang stasiun, di atas peron, persis di atas orang-orang menunggu kereta datang. Tapi meskipun ada peringatannya, kita tidak bisa menengadah terus ke atas untuk melihat ada burung dara/walet ngga ya. Salah-salah si kotoran-chan akan masuk ke dalam mulut kita (makanya mingkem! hihihi). Untuk peringatan ini aku tak punya fotonya. Nanti deh kalau nemu dan sempat foto ya 😀

Di Jepang sebetulnya banyak peringatan-peringatan yang kadang kala kami pikir tidak perlu. Tapi begitulah orang Jepang, tidak mau membuat orang lain menderita atau celaka, jadi dipasanglah peringatan-peringatan itu. Juga sebagai “tameng” jika terjadi sesuatu, bisa mengatakan… “Loh kan sudah dikasih peringatan” 😀

Posting ini diikutsertakan dalam acara ASKAT nya pakdhe.

 

tissue

Posting terpendek di TE…mungkin. Berhubung sibuk mempersiapkan semester baru, belum sempat menulis posting baru. Jadi kali ini mau menampilkan foto saja yah.

Saya pernah membaca di postingan teman…lupa siapa (yang sadar harap lapor!). Bahwa di tempat duduk pesawat tertulis warning, supaya jangan membawa pulang life-jacket pesawat udara yang ditumpangi. Warning itu ditulis dalam bahasa Indonesia…. hmmm membuat kita berpikir bahwa orang Indonesia emang suka nilep….

Di Jepang, tentu saja jarang ada “peringatan” semacam itu, tapi saya menemukan ini di WC umum di stasiun. Sudah beberapa kali saya temukan, entah jika di WC Pria ada atau tidak.

Di atas tempat tissue itu tertulis: Jangan bawa pulang tissue!

Rupanya banyak kejadian orang membawa pulang tissue dari WC umum itu sehingga kekurangan tissue. Padahal tissue di Jepang itu tidak bisa dipakai untuk mengeringkan tangan atau membuang *maaf* ingus, karena terbuat dari kertas daur ulang yang peka sekali terhadap kandungan air. Tissue akan langsung lebur, jika tersentuh air. Jadi orang yang membawa pulang tissue itu untuk apa ya?

Pasutri dan pekerja yang baik

Ya memang hampir setiap hari di Jepang ada peringatannya. Dan memang tidak semua orang Jepang tahu tentang hari-hari peringatan itu. Kadang hari itu diperingati atau ditentukan menjadi suatu hari peringatan oleh sekelompok kecil masyarakat atau organisasi/perusahaan. Hari-hari itu biasanya ditentukan berdasarkan sejarahnya atau yang lebih aneh adalah ditentukan oleh “bunyi” pelafalan tanggal dalam bahasa Jepang. Hal ini disebabkan angka dalam bahasa Jepang bisa dibaca dengan beberapa lafal tergantung satuan benda yang mengikutinya. Misalnya angka 1 bisa dibaca [ichi], [hitotsu] atau [i —] atau kalau mau lebih extrim lagi dibaca [wan] dalam bahasa Inggris.

Nah, tanggal 22 November (dibalik menjadi 11-22 dalam pengucapan bahasa Jepang) adalah hari untuk pasangan suami istri. Karena bisa dibaca menjadi ii fuufu yang artinya pasutri yang baik. Karena terbentuk dari pengucapan, hampir semua orang Jepang mengetahui hari ini, meskipun tidak semua memperingatinya hehehe. Laah bagaimana cara  memperingati “Hari Pasutri”? Paling-paling pergi berdua, dinner di suatu tempat, atau bahkan berwisata berdua. Banyak paket murah yang menawarkan harga spesial di hari ini, tapi saya lihat di berita televisi biasanya yang pergi adalah pasutri yang sudah manula atau sudah mapan (di atas 50 tahun ke atas). Tentu saja sulit bagi pasutri yang muda untuk meninggalkan anak-anak mereka hanya untuk bersenang-senang berduaan saja. Kecuali berduaan di malam hari, nah kalau ini tentu tidak perlu saya sorot kan…ehm ehm.

Dan yang lucu waktu saya menonton berita tadi, banyak pasutri yang datang ke sebuah tempat wisata di Hokkaido, dan membuat foto kenangan mereka dengan tulisan di bagian bawah foto dengan “memperingati Hari Pasutri 11-22, tapi tidak ada satu pasangan pun yang berpelukan atau menggandeng tangan atau menggandeng bahu apalagi berciuman. Ternyata memang sulit ya menyatakan rasa cinta di depan orang-orang (dan mungkin tidak perlu sih). Hai pasutri Indonesia…. saya yakin meskipun tidak ada “Hari Pasutri” di Indonesia, kehangatan di antara pasangan suami istri pasti terjaga ya….

Hari masih panjang karena besok adalah hari libur resmi di Jepang yaitu Hari Pekerja/Buruh (kinrou kansha 23 November). Untung sekali jatuh pada hari Minggu, sehingga suamiku tercinta tidak harus pergi ke kantor (tahun lalu dia pergi ke kantor pada hari buruh tersebut…. padahal sudah ditetapkan pemerintah sebagai hari libur). Dan karena hari libur resmi jatuh pada hari Minggu, maka hari Senin juga merupakan hari libur, sebagai Happy Monday, pengganti hari libur yang jatuh hari Minggu. (Kayaknya sih Jepang mau ikut-ikutan Thanksgiving aja nih).

Kampai (Cheers) dari kami untuk semua pasutri. Singapore Sling and Long John @ Raffless Bar Singapore, 2000
Kampai (Cheers) dari kami untuk semua pasutri. Singapore Sling and Long John @ Long Bar, Raffles Hotel, Singapore, 2000

Keterangan foto: Untuk mengunjungi Long Bar, Raffles Hotel lebih baik membuat reservasi sebelumnya. Jangan kaget jika Anda menemukan banyak kulit kacang di lantai bawah, karena konon kebiasaan mereka untuk membuang kulit kacang ke lantai. Jorok? well untuk kebudayaan cina mungkin tidak. Karena mereka menganggap makanan yang dibuang ke bawah memberikan rejeki, karena mereka sudah memberikan kepada dewa/orang/binatang yang membutuhkan (katanya). Jadi memang saya sering merasa aneh (baca jijik) makan di restoran masakan cina di Singapore. Satu-satunya kota di dunia yang pernah membuat saya merana sakit perut.

Saya juga terkejut menerima informasi dari seorang supir taksi di Singapore, bahwa Raffles Hotel adalah hotel berbintang enam. Namun katanya waktu itu pamor Raffles akan menurun oleh Ritz Carlton yang baru dibangun (waktu itu). Hmmm kapan ya saya bisa menginap di Ritz Singapore ….. (mimpi dulu ahhhh)

***************

Sehubungan dengan hari pasutri ini ada sebuah angket ttg “Bagaimana membuat kehidupan pernikahan Anda awet bak tahun-tahun pertama perkawinan (bagaikan bulan madu)”

Nah hasilnya :

  1. Mengucapkan terima kasih atas apa yang diperbuat pasangan Anda (always)
  2. Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan pasangan Anda (semoga terus begitu)
  3. Buat waktu untuk DATE berdua saja (meskipun sulit karena ada anak-anak tetap harus dibuat… kapan yah terakhir date berdua?)
  4. Memuji perbuatan pasangan Anda (hmmmmm)
  5. Harus memperingati hari anniversary!! (Yoi…harus nih ….  hmm sebentar lagi nih)
  6. Meskipun capek, tetap harus mengucapkan salam (ini sih ngga lupa)
  7. Jangan berpisah kamar tidur! (Nah loh ….. kalau dia ngorok gimana dunk)
  8. Punya hobi yang sama (baca buku hihihi pisah pisah itu mah sih, dia bhs jepun aku bhs indo/inggris)
  9. Setahun sekali pergi wisata jauh bersama (yaaah ngga bisa nih, kantornya brengsek sih)

segitu dulu deh (ada 20 sih)

Nah, itu katanya angket yang diadakan di Jepang. Kalau di Indonesia sih ngga tau urutannya bagaimana ya?

Oh ya untuk yang di Indonesia kabarnya mau ada KLa Returns launching @ Nov 29th in Kamasutra. Kayaknya nama tempatnya cocok deh untuk pasutri hehehehe. (Aku ngga tau nih nama tempat ini, kayaknya di Jakarta  atau di Bali. Kudu coba dua-duanya. next agenda! hihihihi)

KLa Returns : Album Launching & Perfomance
29 November 2008, 10 PM onwards
@ Kamasutra Jakarta, Crowne Plaza Hotel
Jl. Jend. Gatot Soebroto, Kav, 2-3
JAKARTA
contact info : 02152880120