Arsip Tag: perangko

Perangko Meteran?

Bisa membayangkan perangko meteran? Perangko yang panjaaaang sekali? Sebetulnya namanya Meter Stamp. Aku cari nama ini cukup lama, dan akhirnya ketemu.

Selain perangko yang biasa kita lihat, kadang ada seperti kertas tempelan dengan harga, nama negara, tanggal-bulan-tahun dan kadang kalau dari Jepang ada sedikit ilustrasi, dan capnya biasanya berwarna merah. Nah, kertas pengganti inilah yang disebut Meter Stamp. Biasanya alatnya dimiliki kantor pos atau perusahaan besar, dan harganya bisa disesuaikan dengan berat amplop yang akan dikirim. Keuntungannya tentu saja menghemat tempat. Bayangkan jika biaya pengiriman 1000 yen, tapi dari perangko misalnya @ 100yen. Sepuluh perangko memenuhi amplop, dan tentu merepotkan pengecapannya. Sedangkan kalau pakai Meter Stamp cukup satu lembar saja.

foto dari wikipedia

Kekurangan penggunaan Meter Stamp yaitu tidak bisa dibeli di sembarang tempat. Jadi amplop yang akan dikirim harus dibawa ke kantor pos  untuk ditimbang dan langsung ditempelkan saat itu juga. Selain itu bagi kolektor perangko, Meter Stamp sama sekali tidak menarik! Meskipun ada beberapa orang yang mengumpulkan Meter Stamp dengan maksud mengumpulkan “cap”nya, kebanyakan kolektor tentu saja lebih senang mengumpulkan perangko biasa yang lebih beragam. Namun penggunaan Meter Stamp itu sudah disetujui UPU (Universal Postal Union) sejak tahun 1920, dan mulai digunakan secara luas sejak 1922.

meter stamp Jepang, masih ada gambarnya 😀 foto juga dari wikipedia

Eh, tapi bicara soal meteran, aku jadi iseng ingin mengetahui apakah ada perangko yang terbesar di dunia ya? Dan ternyata ada! Perangko dari Mongol yang diterbitkan tahun 2004 ini besarnya 1 sheet :29×19,9cm terdiri dari 9 perangko, dan yang terbesar itu ukurannya 18,6×13,5cm. Dan harganya sekitar 1500 yen (Rp150.000 ) . Konon perangko ini memang dibuat untuk mengumpulkan dana untuk pendidikan. Sayang sulit mencarinya, masak aku mesti ke Mongol :D TAPI kalau mau dipakai pun, perangko ini pasti memenuhi satu amplop 😀

Nah, bukan Imelda kalau tidak cari perangko terkecil di dunia deh 😀 Dan aku temui keterangan bahwa perangko terkecil berukuran 1,5 x 1,5 cm dari India. Tapi ada juga sebetulnya yang berukuran 1,2 cm x 1,3cm dari Colombia dan 1,2cm x 1,2cm dari Jerman. Tapi ternyata sudah ada peraturan dari Universal Postal Convention bahwa perangko itu harus lebih besar dari 1,5 x 1,5 cm. Jadi yang India itu sesuai peraturan ya.

Perangko terbesar di dunia : Peace Mandala, dari Mongol, terbit 2004

 

Rasa Baru & Edisi Terbatas

Horreee…aku sudah kembali ke rumah di Tokyo! Dan berarti kembali pada kesibukan utamaku sebagai… pembantu dan ojek sepeda 😀 Banyaaaaak sekali cerita yang akan aku tulis, tapi tentu saja tidak bisa sekaligus. Juga kadang aku bingung untuk mulai dari mana. Jadi sabar ya hehehe.

Senin, 8 Januari 2013. Sambil membereskan koper, aku menyiapkan makan malam. Karena siangnya sudah makan rendang, bingung juga malam hendak masak apa. Di kulkas tidak ada bahan yang cukup. Sedangkan Riku maunya makan sushi…. Tapi aku malas keluar rumah karena dingin, apalagi Gen yang sudah kurang tidur karena harus menjemput kami jam 7 pagi di Narita. Jadi aku bongkar koper deh, dan menemukan ini:

Indomie Cabe Ijo

Memang aku membeli Indomie rasa baru ini pada hari Minggu, sehari sebelum aku pulang. Tidak seperti biasanya aku belanja cukup sedikit untuk ukuranku. Karena aku tidak mau menambah jumlah koper yang ada, meskipun sebetulnya aku masih bisa sih membawa 1 koper lagi (=23 kg lagi). Belanja secukupnya saja. TAPI aku mengambil 20 bungkus Indomie rasa Cabe Ijo karena si @Pitoist bilang jumlah yang beredar sedikit sehingga agak sulit carinya. Maksudku, aku mau coba dulu sebelum masuk koper, kalau enak masuk semua, tapi kalau tidak enak ya aku tinggal saja di rumah Jakarta 😀 Jadi begitu pulang dari Carrefour aku minta mbak Anna, asisten rumahku itu untuk masak. Dan rasanya not bad lah. Demikian pula kesan Gen waktu semalam aku masakkan satu bungkus. “Pedes yaaaa!” Kata dia. Cuma aku agak ragu dengan warna “ijo” nya si cabe, kok sepertinya tidak wajar ijonya hehehe 😉 . Yah cukuplah untuk kali ini aku hanya membeli rasa yang baru ini saja, padahal biasanya aku beli berbagai macam rasa loh.

Memang setiap perusahaan yang inovatif biasanya mengeluarkan rasa-rasa baru untuk menarik pembeli lebih banyak lagi. Semakin banyak terjual semakin untung bukan? Tapi kadang kala penuh resiko karena bisa saja bukannya malah laku, tapi merugi karena onglos produksi lebih mahal. Nah, tadi malam aku terbangun pukul 1 malam JST dan lapar. Jadi aku buat sup cangkir yang diberikan ibu mertua. Di kotaknya tertulis Clam Chowder, tapi waktu aku masukkan air panas… loh kok warnanya oranye seperti sup tomat? Mustinya Clam Chowder itu kan putih. Rupanya yang terambil olehku itu adalah extra, tambahan yang dimasukkan dalam kotak dengan rasa sup krim udang. Mungkin perusahaan itu sedang mencoba mempromosikan dengan memberikan sample rasa sup yang baru diproduksi. Rasanya? Hmmm aneh sih, mungkin karena aku tidak begitu getol makan udang ya. Yang pasti, meskipun dijual, aku belum tentu mau membelinya.

sup krim udang

Ada banyak rasa baru dalam produk-produk makanan di Jepang (tentunya di Indonesia juga). Aku biasanya membeli untuk mencoba. Kalau enak ya beli lagi, kalau tidak enak ya stop sampai di situ saja. Aku memang suka mencoba rasa-rasa baru, selama masih edible 😀 Dan sering kali rasa-rasa baru itu dijual untuk jangka waktu tertentu saja, limited edition 期間限定 kikan gentei. Edisi terbatas. Atau ada juga yang dikeluarkan oleh daerah-daerah (perfektur di Jepang) tertentu saja, sehingga kalau mau mencoba harus membeli di daerah itu, atau minta tolong orang belikan, atau lewat internet. Di sini disebut sebagai Chiiki Gentei 地域限定. Dan memang orang Jepang itu suka sekali memburu makanan/barang yang terbatas-terbatas seperti ini. (Sepertinya Imelda sudah mulai jadi orang Jepang :D)

Kitkat limited edition (seasonal and regional)

Aku sempat membeli beberapa kitkat dengan beraneka rasa lewat internet. Ada yang edisi terbatas musim dan ada yang terbatas daerahnya. Memang perlu modal besar untuk mengumpulkan rasa-rasa ini karena satu kotak berisi 12 mini itu harganya sekitar 100.000 rupiah. Dan aku berikan untuk saudara-saudara kandungku dan sahabat terdekat saja masing-masing satu mini berbagai rasa. Limited person only. Untuk kalangan terbatas deh 😀 Aku sendiri belum coba semuanya, meskipun aku bawa pulang kembali satu set. Waktu aku tanya apa Gen mau coba dia bilang, “Aku lebih suka yang classic!”. Classic = coklat tanpa tambahan rasa-rasa lain alias coklat (bitter sweet) tok! … hmmm untuk coklat memang kami  berbeda :D. Mau tahu coklat yang paling aku suka? Marmalade, kulit jeruk yang dilapis coklat bittersweet! (Dan ini mahal harga per ons nya, jadinya jaraaaang sekali aku bisa beli 😀 )

Tapi Gen sangat setuju waktu aku membeli limited edition yang ini. Perangko dan kartu pos khusus peringatan 60 th Anniversary All Nippon Airways (ANA) yang hanya dijual di atas pesawat. Cukup mahal, tapi… kapan lagi kan? Belum tentu tahun ini aku bisa naik ANA lagi. Untuk menambah koleksiku dan mungkin bisa dijual mahal kalau ANA ulang tahun yang ke 100 😀 (kalau aku masih hidup atau aku hibahkan ke Riku saja 😉 )

Perangko terbatas

Rasa baru apa yang sedang kamu sukai? 😉

 

 

Pada Hari Minggu

kuturut ayah ke kota…. (emangnya aku tinggal di desa)

naik delman istimewa kududuk di muka (boro-boro delman, di sini bajaj aja ngga ada)

kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja (pak supir aja deh)

mengendarai kuda supaya baik jalannya (supaya jangan ngebut!)

tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuuuukkk (brummm brummm)

***********

Aku mau bercerita tentang hari Minggu yang lalu, Minggu tanggal 5 Juni yang lalu. Kami menghabiskan waktu dengan… belanja.

Tapi belanjanya bukan yang seperti dibayangkan man-teman. Karena bukan belanja harian/bulanan sebangsa makanan, atau baju/sepatu dan lain-lain. Tapi belanja untuk menunjang hobi lama dan baru deMiyashita.

Tujuan kami hari itu adalah Stasiun Nakano, karena hanya di situ ada barang yang kami cari. Jadi kami berempat naik bus, lalu naik kereta dari Kichijoji. Sesampai di Nakano kami langsung ke lantai 2  sebuah mansion (apartemen) yang penampakannya seperti ini:

Toko khusus all about insect yang bernama Mushi-sha. Masuk sini bisa beli kumbang kelapa, jenis kumbang lain yang masih hidup atau sudah mati, peralatan menangkap/membesarkan dsb. Di tempat terpisah ada kupu-kupu dari Indonesia juga. Muahal!

Kalau bukan demi anak (dan suami) aku jelas-jelas TIDAK MAU masuk sini. Hiiii… bergidik aku lihat kumbang-kumbang dalam toples bergerak. grotesque... Ada juga kepompongnya, di dalam tanah yang masih musti tunggu menetasnya. Penampakan dalamnya seperti ini:

Ini penampakan dalamnya, waktu 3boys pergi pertama kali dan aku tidak ikut. Waktu aku ke sana banyak orang loh. Terutama anak laki-laki.

Memang menjelang musim panas, hobi mengumpulkan kumbang dan kupu-kupu memuncak. Aku juga lihat loh anak perempuan datang melihat-lihat. Duh aku rasa anak Indonesia tidak ada yang sampai sesuka ini pada serangga. Bayangkan sampai ada toko khususnya loh.

Poster tentang toko khusus ini. Hebat deh orang Jepang kalau sudah suka pada sesuatu. Mereka benar-benar mendalaminya. Riku saja sudah bisa membedakan beberapa jenis kupu-kupu sekarang.

Sebuah poster di luar toko menunjukkan bahwa banyak kumbang ditemukan di Indonesia terutama Jawa dan Sumatra. Bahkan toko ini juga mengatur paket tour ke pulang Flores khusus untuk menangkap serangga! Kalau orang betawi bilang Edan hehehe.

Frame ini yang kami beli di toko khusus serangga di Nakano.

Sebetulnya kami ke sini hanya mau membeli kotak kaca untuk penyimpanan kupu yang telah dikeringkan. Kira-kira sebesar B5 harganya 1500 yen.(Begitu pulang Riku langsung memasukkan kupu-kupunya yang telah kering. Keren juga euy hasilnya.

Sesudah dari toko khusus serangga ini, kami makan siang dan langsung mencari barang kedua yang kami perlukan. Yaitu album perangko. Ya, tidak setiap toko buku menyediakan buku perangko. Dan berkat perangkat GPS di HPku, aku menemukan beberapa toko buku di sekitar situ. Langsung aku telepon dan mencari toko yang tidak terlalu jauh itu.  Mereka hanya punya  2 buku, padahal kalau ada tiga aku mau beli juga. Tapi ya sudahlah, yang penting ada untuk Riku dan Kai.

Kedua anakku memulai hobi baru. Kita lihat bisa lanjut terus sampai kapan 😀

Sayangnya album yang ada di Jepang kebanyakan berupa clear file dengan kertas hitam berpita transparan, bisa dikeluar masukkan. Aku tidak suka yang ini, aku lebih suka buku lama, benar-benar seperti album. Tapi karena jarang sekali album yang seperti kumau itu, jadi beli saja yang ada. Sebesar B5 (22 x 17 cm) , 8 halaman harganya 1365 yen (menjawab pertanyaan mbak Devi dalam posting Dara-dara). Mahal menurutku. Dan memang sih hobi mengumpulkan perangko ini mahal, seperti yang dikatakan pak Agus Siswoyo di postingan Dara-dara. Karena sebetulnya selain mengumpulkan perangko bekas hasil surat-menyurat, kita bisa membeli perangko bekas “kiloan” atau mengumpulkan perangko baru yang belum dipakai.

Stamp album (Stock Book) di Jepang banyak yang berbentuk begini.

Nah, dulu waktu aku masih single dan kaya (ho ho) aku selalu membeli 1 sheet perangko setiap ada perangko baru terbit. 1 Sheet berarti sekitar 10-20 perangko. Tergantung nominalnya berapa, kalau 50 yen berarti 1 sheet bisa 1000 yen kan. Dan, Pos Jepang selalu menerbitkan perangko baru sedikitnya 2-3 jenis per bulan! Belum lagi masing-masing prefektur juga bisa menerbitkan perangko khusus. Duh, tak ada habisnya jenis perangkonya, tapi yang pasti habis uangnya 😀

Koleksiku. Kiri atas adalah perangko kuno, jaman pendudukan Jepang, bertuliskan JAWA. Kanan atas, perangko Jepang banyak yang bersambung gambarnya spt itu. Kiri/kanan bawah clear file tempat menyimpan perangko lembaran/sheet.

Untuk perangko dalam 1 lembaran itu aku memasukkan ke dalam clear file biasa saja bukan yang khusus untuk perangko, karena lebih murah. Koleksiku yang 1 sheet baru 5 album. Sedangkan yang dimasukkan ke album baru 3 album. Ini yang di Jepang. Yang di Indonesia sih banyak hehehe, sudah ada 12 album dari seluruh dunia! Setiap mudik aku pandangi dan simpan lagi. Untung tidak kena lembab, jadi kondisi masih bagus.

Lihat apa yang kutemukan dalam Koleksi Gen (beruntunglah kami berdua hobinya sama) . Perangkonya Agus Salim, satu-satunya perangko Indonesianya sebelum kami menikah. Tentu saja ada byk koleksi kuno dari Indonesia milik alm kakeknya.

Jadi sepulang dari Nakano, deMiyashita langsung berkutat dengan hobinya. Ada yang masukkan perangko ke album, ada yang memasukkan kupu-kupu ke dalam frame. Kai yang terkecil meskipun baru 3 tahun 10 bulan, juga ikut-ikut mempunyai album perangko. Mana mau dia kalah dengan kakaknya 😀

Tapi sesungguhnya belanjaan kami hari ini bukan hanya frame kupu-kupu dan album perangko. Tapi juga ada satu set Lego Star Wars untuk Riku dan Kai. Riku sedang tergila-gila pada Lego Star Wars, sehingga ingin membeli yang baru terus. Dasar perusahaan juga mau untung, mereka menempatkan master Yoda,Luke skywalker dsb yang ber-light saver itu tercerai berai dalam pake yang beragam. Jadi kalau mau punya pentolan Star Wars yang lengkap harus beli semua. Huh ! Duit lagi….. jadi pilih yang paling murah 😀 (Tapi terus terang aku jauuuuh lebih suka melihat Riku bermain lego daripada bermain game Nintendo 😀

Koleksi Riku, pangkalan Star Wars kreasi sendiri 😀 (Pangkalan yang dari Lego harganya 1,5 juta Rp bo! kagak bisa beli)

Bisa bayangkan kan hobi kami seperti itu butuh space yang banyak sebetulnya. Jadilah rumah “Kandang kelinci” kami tidak pernah beres. Dan karena Minggu lalu sudah banyak belanja, hari Minggu ini kamu tinggal di rumah saja, neres-beres rumah dan melanjutkan membereskan hobi yang tertinggal.

 

 

 

 

Hobi Baru

Kalau ditanya hobi umumnya orang akan mengatakan : baca buku, masak, makan, gowes/ jalan-jalan, dan …koleksi. Nah, kalau koleksi itu memang bisa macam-macam tidak terbatas (asal jangan koleksi pacar aja yah :D).  Aku sendiri punya koleksi macam-macam. Koleksi perangko, kartu pos, gantungan kunci,  pernah coba ikut teman yang mengumpulkan tissue hotel/restoran akhirnya dibuang, sekarang mengumpulkan koin dari negara yang pernah dikunjungi tapi kalah (jauh sekali) dengan mama.  Sekarang koleksiku tidak pernah bertambah lagi 😀

Kali ini aku ingin bercerita tentang hobi baru keluarga kami, terutama Riku. Tidak jauh dari koleksi sih, tapi cukup sulit untuk mendapatkannya. Bermula dari pelajaran menangkap kupu-kupu yang diikuti Gen dan Riku pada liburan Golden Week yang lalu, mereka menjadi rajin mengikuti acara “hunting” kupu-kupu. Kelompok yang sama (Perkumpulan Henri-Fabre Jepang) pada tanggal 15 Mei yal mengadakan hunting ke daerah Okutama, pegunungan yang berada di sebelah barat Tokyo. Kalau naik kereta dari rumahku makan waktu 2 jam. Lumayan jauh tuh.

Untung senseinya sempat mengabadikan ayah-anak berdua, maklum fotografernya ketinggalan di rumah sih 😀

Karena belum pernah pergi ke daerah Okutama inilah, maka Gen mau melihat juga apa saja obyek wisata yang bisa dikunjungi sebagai getaway kami. Jadilah aku mengantar Gen dan Riku pukul 6:30 pagi naik mobil ke stasiun terdekat rumahku. Dan berdasarkan laporan mereka, daerah pegunungan itu cukup bagus, ada sungai yang jernih, ada tempat camping dan barbekyu yang bernama American Village, dan sebuah gua wisata. Suatu waktu kami sekeluarga ingin pergi ke sana, jika cuaca dan kesehatan mendukung (masih belum sembuh benar nih).

Gen sengaja tidak menceritakan pada Riku sebelum berangkat bahwa mereka harus berjalan jauh, karena tahu Riku paling malas berjalan jauh. Tapi untunglah anakku ini bisa tahan dan mengikuti semua acara sampai selesai, dan tak lupa berpose di mana-mana (kalau ini pasti keturunanku :D)

berjalan membawa jaring, masukkan kupu yg tertangkap dalam kertas segitiga, menuliskan namanya

Dia juga berhasil menangkap jenis kupu-kupu yang jarang didapat, yang bapaknya sendiri belum pernah lihat. Rupanya memang banyak terdapat di daerah itu. Ahlinya memang jauh lebih tahu.

Jadi kupu-kupu yang ditangkap dengan jaring itu, dimasukkan ke dalam kertas parafin segitiga. Sehari sebelum ke Okutama ini, mereka pergi ke toko khusus peralatan serangga di Nakano, untuk membeli kertas parafin ini. Memang jarang sekali kita bisa dapatkan kertas parafin di toko buku/peralatan tulis di Tokyo, harus pergi ke toko khusus.

Kertas parafin segitiga berisi kupu-kupu kemudian dimasukkan ke dalam kaleng segitiga. Kadang kupu itu masih hidup sampai di rumah.

Kaleng segitiga penyimpan kupu yang ditangkap sebelum diawetkan

Nah begitu sampai rumah sedapat mungkin kupu itu langsung “dibentuk” sebelum menjadi keras. Caranya dengan meletakkan kupu diantara dua papan yang memang khusus untuk keperluan itu. Sayap kupu-kupu dilebarkan dan ditahan dengan kertas parafin yang dibuat seperti pita. Jarum pentul dipakai sebagai penahan kertas pita itu.

Membentuk kupu-kupu di dua bilah papan memakai jarum dan pita kertas

Kupu-kupu yang sudah dibentuk itu dibiarkan mengering. Kira-kira seminggu kupu itu dilepaskan dari papan dan dimasukkan dalam bingkai khusus. Hmmm mahal juga loh harga bingkai itu, ukuran sedang seharga 1500 yen (150.000 Rp). Aku sudah manyun aja kalau mereka musti beli bingkai lagi hehehe.

Bingkai sebesar itu tuh 150rb Rp hihihi.... tapi daripada dia main ngga ketahuan di mana dan dengan siapa.

Tapi aku senang melihat Riku mempunyai hobi baru ini. Dia menjadi bertanggung jawab akan koleksinya, dan sangat berhati-hati dalam mengerjakan proses sampai dengan masuk bingkai. Masing-masing kupu di dalam bingkai diberi nama, kapan/dimana ditangkapnya. Dan tentunya jika sudah penuh bingkainya, aku kupajang di dinding rumahku. (Aku ingat dulu sempat membeli kupu-kupu kering di Bantimurung – Malino dan ingin kubingkai, tapi salah membeli bingkai lukisan 😀 )

Ah, aku juga mau cari hobi baru ah…. Ada usul? 😀

Syaratnya: ngga mahal (gratis lebih bagus), ngga lama (bosenan), ngga perlu pakai kaki dan tangan sekaligus (dua-duanya tidak akan bisa bersatu di Imelda, jadi jangan suruh aku dansa 😀 ), dan ngga makan tempat (apartemenku sekecil kandang kelinci euy & ngga ada taman) …..
ada ngga yah yang memenuhi syarat  :)?

Selama ini aku ingin coba:
1. Main Wadaiko (genderang Jepang), ini capek bo… tujuannya biar kurus 😀 tapi tidak ada di dekat rumahku
2. Kaligrafi Jepang (pernah coba, ngabisin kertas dan belum ketemu guru yang mantap)
3. Keramik (ntar deh ini kalau anak-anak udah besar)

Kalau kamu ingin coba apalagi sebagai hobi (baru) ?

Hubungan Indonesia Jepang

Tahun 2008 ini, Indonesia dan Jepang memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia Jepang, yang dirayakan dengan bermacam kegiatan baik di Indonesia dan di Jepang sendiri. Hampir sebulan lalu saya membaca juga laporan dari Mang Kumlod yang menceritakan tentang JI Expo di Jakarta, atau dengan kegiatan Javarizm oleh anak-anak muda Indonesia di Tokyo. Bahkan kegiatan dalam satu tahun ini diawali dengan penandatanganan EPA, dengan program utamanya mendatangkan perawat/pramurukti ke Jepang, yang pernah saya posting di sini.

Tahun 2008 hampir habis, dan sebelum habis saya ingin share kan satu koleksi saya dalam memperingati 50 tahun hubungan Indonesia Jepang, yaitu perangko khusus yang diterbitkan di dua negara bersamaan dengan latar yang berbeda. Di Jepang berlatar Candi Prambanan, sedangkan yang di Indonesia berlatar Pagoda di Kyoto.

Nominalnya 80 Yen, harga standar untuk mengirim surat dalam amplop tertutup di dalam negeri Jepang untuk berat tertentu. Dua gambar bersandingan, paling atas adalah Danau Kelimutu dan gunung Fuji, Kemudian Borobudur dan pagoda 5 tingkat Kyoto, Bunga Raflesia dan Bunga Sakura, Angklung dan Koto, dan terakhir Arwana bersanding dnegan Ikan Koi.

Sedangkan di Indonesia nominalnya adalah Rp.2500. Hmmm kalau yang diterbitkan di Jepang sih punya, tapi saya masih harus hunting dengan terbitan yang di Indonesia. Rp 2500 bisa ya untuk kirim surat di Indonesia? saya benar-benar ngga ngerti harga euy. Mungkin sekarang kalau kebetulan di Indonesia saya lebih sering terima surat dengan tiki atau yang diantar sendiri…… (kapan sih kamu terima surat mel —apalagi surat cinta — hehhehe) Sekarang jaman sms dan internet sih, perangko menjadi barang langka. Tapi, meskipun frekuensi membeli perangko sudah semakin berkurang, saya akan tetap mengumpulkan perangko sampai saya mati mungkin. Satu-satunya hobi yang saya tekuni sejak kelas 4 SD.

Mel, kamu kalau mau mempunyai hobi, lebih baik coba mengumpulkan perangko. Mama dulu punya teman yang suaminya suka sekali mengumpulkan perangko. Dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang perangko. Yang dia tahu suaminya menghamburkan uang untuk sepotong kertas. Tapi waktu suaminya meninggal, ada kolektor perangko yang mencari koleksi suaminya. Si istri memperlihatkan koleksi suaminya, dan si kolektor berkata bahwa koleksi suaminya amat jarang, dan berharga mahal. Untung si kolektor ini orang yang jujur, semua koleksi suaminya akhirnya dapat terjual dengan harga yang tinggi, dan si istri menyadari bahwa suaminya telah meninggalkan warisan yang amat berharga. (Percakapan mama dengan imelda kecil usia SD)

Mama dan papa masing-masing punya beberapa koleksi perangko jaman perang, yang tidak pernah dia ijinkan saya menyentuhnya (untung saja karena jika waktu itu  diberikan pada saya  pasti sudah hilang. tapi sekarang buku album mama/papa ada di mana ma?pa? hihihi) Buku koleksi saya sekarang sebagian besar masih ada di Jakarta, dan semoga tidak ada yang “berani” menyentuhnya.