Arsip Tag: onigiri

Terry Rice Set

Uhhh, aku seenaknya saja pakai nama orang. Waktu aku browsing ternyata ada orang bernama Terry Rice, yang fotografer ….dan karyanya keren-keren banget loh! Very fabulous! Untung bukan nama anaknya Rice, THE Secretary of State.

OK aku akan jelaskan postingan hari ini. Waktu baca di webnya Pak De Cholik yang ini, yaitu tentang resep makanan berbasis ikan dan sayur…. aku sempat berkomentar, Ikan di sini lain dengan di Indonesia. Dan mendapat jawaban “alasan aja”…. something like that deh.

Ya jelas aja, memang ikan di sini lain sih. Memang diimpor ke Indonesia, tapi kan muahal….. Lagian orang Jepang paling senang makan ikan itu mentah atau di bakar, tanpa bumbu-bumbu tambahan. Sushi dan sashimi tuh kan bukan masakan karena tidak dimasak hihihi.

Jadi saya puter otak, ikan apa yang sama dengan di Indonesia. Dengan syarat murah dan mudah didapat! Akhirnya saya bertemu si Terry Rice ini, si kecil yang banyak mengandung kalsium dan …relatif murah, serta bisa dibeli di mana saja. Saya tahu jenis ikan teri di Indonesia banyak. Sedikitnya dua yang saya tahu, Teri Medan dan Teri Nasi. Nah karena saya suka teri nasi, maka saya memikirkan resep teri nasi + sayuran sebagai syarat dari blognya Pak De itu.Dan tentu saja jumpalitan cari bumbu yang ada di Indonesia.

Ikan Teri di Jepang juga bermacam-macam. Yang paling kecil dan halus, bernama shirazu, biasa dimakan mentah dengan parutan daikon (lobak) dan diberi shoyu (kecap jepang). Nah kali ini saya akan menampilkan Terry Rice Set, yaitu nasi kepal (onigiri) dengan ikan teri + acar sawi hijau serta salad nya yang terdiri dari lettuce+tahu sutra+ ikan teri goreng.

Karena saya tidak tahu apakah shirasu / ikan teri nasi di Indonesia bisa dimakan mentah atau tidak, semua teri nasinya saya goreng.

shirazu

Cara Pembuatan

Nasi Kepal Teri :

bahan:

1 mangkuk nasi panas (paling bagus jika beras dicampur dengan beras ketan dengan perbandingan 3:1, supaya mudah dibentuk/dikepal)
ikan teri goreng secukupnya sesuai keinginan
acar sawi hijau ditiriskan airnya dan dikeringkan dengan tissue/lap potong kecil-kecil.

(Kalau tidak bisa membuat acar sawi hijau sendiri, boleh memakai caysim yang sudah dijual. Cara membuat acar sawi hijau : seduh sawi hijau dengan air panas, bubuhkan garam, masukkan plastik dan inapkan. Bisa juga masukkan satu cabe merah yang sudah dicuci. Jika keluar air dan sawi sudah layu maka acar sudah jadi)

Campur bahan ke dalam nasi panas. Lalu basahkan tangan Anda dengan air bersih (paling bagus dengan air mineral kalau di Indonesia) taburkan sedikit garam di tangan. Ambil sesendok campuran nasi dan bentuk segitiga/bundar seperti pembuatan onigiri. Besarnya bisa disesuaikan, tapi saya lebih suka berukuran mini, satu suap. Waktu mengepal nasi ini memang panas  …. tapi tahan. Cinta Anda kepada keluarga tertumpah dalam sebuah onigiri!
Baca di sini untuk mengetahui nasi kepal/onigiri Jepang!

Salad Tahu Teri:

bahan:

daun salada (lettuce) dipotong acak
tahu sutra (kalau di Jepang bisa dimakan mentah, kalau di Indonesia mungkin perlu digoreng dulu. Tahu goreng biasa juga boleh, dipotong kecil-kecil, kotak-kotak)
ketimun/ kyuri diiris halus
ikan teri goreng secukupnya

Hidangkan di piring dan bubuhkan salada dressing yang Anda punya. Tentu saja dressing ala japanese atau chinese yang berbumbu minyak wijen paling cocok, tapi mayonaise pun tidak apa-apa.
Jika tidak ada dressing bisa campurkan bahan berikut ini:

2 sendok makan kecap asing Jepang (kikkoman) atau apa saja yang ada
2 sendok makan minyak wijen
sedikit cuka (cuka Indonesia sangat kecut, sehingga hati-hati menggunakannya)  bisa diganti dengan lemon/jeruk
satu sendok teh gula pasir

Sebetulnya jika mau membuat dressing ala jepang perlu diberi sake untuk masak dan mirin, tapi saya sudah coba dengan bahan di atas sudah cukup. Campurkan semua bahan dan bubuhkan di atas salada yang siap disantap. (Ingin berbumbu yang lebih “maknyus” ala Indonesia? Pakai saja bumbu gado-gado/pecel yang diencerkan sehingga menjadi seperti goma dressing. Jadi deh Gado-gado Jepang hihihi.)

Perlu diketahui, orang Jepang memang sangat menghargai rasa alami dari setiap bahan yang ada. Karena ini menuntut kesegaran setiap bahan. Sedapat mungkin tidak memakai minyak untuk menggoreng untuk mengurangi kolesterol. Pokoknya makanan Jepang amat sangat healty.  Selamat mencoba!

NB: Saya tidak tahu apakah seperti ini memenuhi persyaratan atau tidak untuk disertakan dalam acaranya PakDe Cholik.

 

Nasi kepul yang dikepal

Ya memang kalau mau membuat nasi kepal, nasi harus dalam keadaan mengepul. Kenapa nasi harus dikepal sih? Saya masih ingat dulu ibu saya berkata bahwa dia sering membuat nasi kepal kecil waktu anak-anak masih balita,  dan mulai meninggalkan susu/bubur untuk makan nasi biasa (dalam bahasa Jepangnya makanan peralihan masa ini disebut Rinyushoku 離乳食) Nasi kepal itu dibubuhi garam dan dalam sekejap kami makan.

Setelah kita dewasa, saya rasa jarang yang masih makan nasi kepal bukan? Tapi di Jepang Nasi kepal boleh dibilang adalah bagian dari kebudayaan orang Jepang. Karena mutu beras Jepang memang memungkinkan membuat bentuk yang bagus dan mudah dikepal. Nasi kepal ini disebut ONIGIRI atau OMUSUBI. Saya sudah pernah membahas tentang onigiri ini pada posting saya yang ini pada tanggal 18 Juni 2008 karena memang tanggal tersebut merupakan peringatan onigiri.

Tapi waktu saya lihat display “kalender pinter” di komputer aku kok  ada tertera “Hari OMUSUBI” untuk tanggal 17 Januari ini. Loh kok bisa ada dua tanggal yang berbeda untuk memperingati hari nasi kepal itu? Kalau tanggal 18 Juni itu karena alasan historis, ternyata tanggal 17 Januari ini lebih kepada peringatan waktu pembagian nasi kepal kepada para korban gempa bumi, para korban berkata bahwa nasi kepal yang hangat itu yang paling berharga dan memberikan ketabahan bagi mereka.(Hari peringatan bukan hari libur loh)

Ada satu cerita anak-anak yang mengambil topik nasi kepal ini. Judulnya adalah Omusubi Kororin, kalau diterjemahkan bisa dengan “Nasi kepal menggelinding“. Karena memang menceritakan tentang seorang kakek yang membawa nasi kepal untuk bekal makan siangnya. Waktu dia mau makan, nasi kepal itu menggelinding ke bawah bukit. Si Kakek kejar terus dan nasi kepal itu  masuk ke dalam sebuah lubang. Kakek menyesal sekali, tapi kemudian dari dalam lubang terdengar lagu yang indah. Kakek yang mendengarnya menjadi gembira, dan mulai menari. Akhirnya Kakek melemparkan dua nasi kepal yang tersisa ke dalam lubang sambil berkata,” Nyanyi terus doooonng!”.

Si Kakek mau mendengar terus lagu tersebut, tapi sadar bahwa dia sudah tidak punya nasi kepal lagi. Jadi dia berteriak ke dalam lubang di tanah itu, “Nasi kepalnya sudah habis!”. Eeeeee, entah kenapa, kakek itu terjatuh dan masuk ke dalam lubang itu. Ternyata Kakek jatuh dalam sebuah ruangan yang dipenuhi tikus putih yang sedang membuat mochi. Pemimpin tikus mengucapakan terima kasih pada kakek untuk nasi kepal yang jatuh itu. Dan sambil menikmati lagu tikus-tikus yang sedang bekerja, kakek disuguhkan makanan.

Akhirnya tiba waktu si Kakek untuk pulang, dan dia berpamitan pada tikus-tikus putih itu. Sebagai hadiah, tikus membawa dua buah kotak, yang satu besar dan satunya lagi kecil. Kakek disuruh memilih mau yang mana. Katanya, “Karena saya sudah tua, saya pilih yang kecil saja” Ternyata setelah dibuka kotak itu di rumah, isinya penuh dengan uang (logam).

Rupanya tetangga si Kakek mendengar cerita bagaimana dia mendapatkan kotak berharga itu. Lalu si Tetangga ini pergi dnegan sebuah nasi kepal yang kecil. Dia melemparkan nasi kepal ke dalam lobang,  dan seperti pengalaman Kakek tadi, dia juga mendengar nyanyian para tikus itu. Tapi saking tidak sabarnya, Tetangga itu malah menjatuhkan dirinya dalam lubang. Dan dia mengalami penyambutan yang sama dengan kakek pertama.  Dasar tetangga yang rakus, dia langsung minta hadiah untuk dibawa pulang. Dan meniru kucing untuk menakut-nakuti tikus -tikus itu. Sehingga tikus menjadi berhamburan kabur. Dan akhirnya si Tetangga itu tidak mendapat apa-apa.

Alur cerita ini menekankan kesederhanaan, kerendahan hati, kesabaran (ya iya lah, kasihan si kakek udah lapar nasinya jatuh hehehe),  jangan rakus (Kakek memilih kotak yang kecil) dan kebaikan (di akhir cerita Kakek membagikan uang tersebut kepada warga desa). Rakus itu tidak bagus! Judul dan tokoh yang muncul dalam cerita otogibanashi (dongeng) ini berubah-ubah di setiap daerah.  Tapi yang pasti “tokoh” dalam cerita yang dilanjutkan turun temurun itu adalah Nasi Kepal atau Onigiri atau Omusubi.

Semar Mendem?

omuraisu onigiri
omuraisu onigiri

Pagi ini hujan. Sudah sejak kemarin siang sebetulnya, sehingga kemarin terpaksa aku meninggalkan sepedaku di parkiran sepeda sebelah penitipan Kai, dan naik taksi pulang. Dan pagi ini aku keluar lebih cepat dari biasanya. Naik taksi lagi, dan menitipkan Kai ke guru pengasuh di Penitipan Himawari. Tentu saja dia menangis begitu aku melepaskan pelukan. Tapi kata gurunya kemarin, dia hanya menangis pertama saja, sesudah itu dia enjoy bermain dengan teman-temannya yang lain. Untunglah.

Karena aku hari ini bercelena jeans, bersepatu kets, dan mungkin berjalan seperti robot, gradak-gruduk seperti tulisannya ibu Enny, rasanya cepat sekali aku sampai di stasiunnya Universitas Senshu. Rekor! jam 9:50 loh…. padahal ngajarnya baru jam 10:45. Hehehe. Dan pagi ini sambil aku naik kereta, aku merasa bersyukur karena badanku gede. Kenapa? Satu, aku bisa gendong Kai yang 12 kilo + tas ransel kira-kira 5-6 kg jalan mencari taksi dalam hujan. Ke dua, aku tidak mudah tumbang waktu didorong-dorong orang yang berebutan masuk ke dalam kereta karena memang masih Rush Hour. Dan untungnya meskipun hari ini masih sakit kepala, aku tidak berasa “mau pingsan” dalam kereta yang penuh sesak. Ke tiga: aku masih bisa cekatan berlari (thanks to my sepatu kets) meliuk-liuk melawan arus manusia yang berjalan dengan cepat di stasiun Shinjuku, untuk pindah kereta.

Begitu sampai di stasiun Mukogaoka Yuen, aku lihat bis kampus baru akan berangkat. Tapi kali ini aku pikir, santai aja…. toh masih ada waktu. Dan….aku menemukan makanan ini SEMAR MENDEM!!!!. Langsung aku teringat pada semar mendem di Indonesia, dan membayangkan isinya, daging ayam giling dan dibungkus dengan dadar telor. Hmmmm enakkkkk…. PENGEEEEEN….. (BTW kenapa ya namanya Semar Mendem, apa ada si Semar dalamnya?)

Tapi tentu saja makanan itu bukan Semar Mendem, Itu adalah Onigiri, nasi kepal yang dibuat dari nasi goreng rasa tomat yang dibentuk segi tiga, kemudian dibungkus telor dadar, sehingga terlihat seperti semar mendem segi tiga. Rasanya? belum tahu enak atau tidak, karena sesudah menulis ini baru akan saya coba. Well, jam sudah menunjukkan pukul 10:39, I should go now, bertemu mahasiswa-mahasiswa ku yang cantik -cantik dan cakap-cakap (tapi rada malas hahahaha). Have a nice day minna-san, dan juga have a nice week end. With love….Imelda…..

40-PLAN

Masih oleh-oleh dari Sendai nih….. Meskipun hanya 2 hari 1 malam, dan dengan driving melelahkan — 6 jam menuju Sendai, dan 8 jam pulangnya — Saya enjoy sekali liburan kali ini… suatu kemewahan yang sudah lama tidak dirasakan. Ternyata fresh air, pemandangan yang lain dari biasa, bertemu dengan orang-orang yang kita sukai, sangat berarti dalam kehidupan kita. Hari kedua (tgl 14 Oct) kami bangun jam 8 pagi, dan jam 9 sudah siap to hit the road. So? mau sarapan apa? Daripada makan pagi yang ada di Hotel yang memang murah tapi belum tentu enak, kami telpon adiknya Gen, menanyakan restoran yang enak. Sambil tunggu balasan teleponnya, kami bersiap-siap dan menuju ke Kebun Binatang, kalau perlu kita buang waktu di sana…pikirnya. Tapi belum sampai di Kebun Binatang, kami mendapat telepon bahwa lebih baik kita pergi sarapan bersama. So, janji bertemu sekitar jam 10:30 – 11 :00 di lobby Hotel koyo Grande Hotel. Hotel yang terkenal di Sendai, meskipun belum tentu saya mau nginap di situ (waktu saya periksa di internet, ternyata hotel ini juga tidak mahal-mahal banget loh. Kalau untuk bisnisman cukup 4000-5000 yen untuk single room.. MURAH!….. tapi masalahnya ada kamar kosong atau tidak ya. Dan kebanyakan yang memakai hotel ini adalah pengantin baru, karena sekaligus membuat pesta nikah di sini)


Tujuan tempat sarapan kita ternyata terletak sekitar 5 menit berjalan kaki dari hotel tersebut, sebuah restoran dengan counter dengan 5 kursi dan sebuah sofa/kursi untuk 5 orang, meja kecil dan counter menghadap jendela untuk 2-3 orang. Kecil untuk ukuran orang Indonesia yang kaya akan space, tapi apik. Dan yang istimewa di sini adalah, menyediakan mainan/buku untuk pengunjung yang membawa anak-anak.  Yang melayani kami seorang ibu di belakang counter dan seorang remaja yang membawa piring-piring ke depan. Menu yang disediakan hanya satu macam untuk sarapan (s/d jam 11 siang) dan dua macam yaitu Kare atau something tergantung harinya. Dan ternyata Nasi Kare di sini terkenal sehingga jika datang jam 1:30 pasti sudah kehabisan makanan.

Kami 4 dewasa dan Riku, Kai, dan Nobu memesan menu sarapan yang terdiri dari onigiri dari beras campur (putih dan merah) kische dan salad. Tapi….. kami juga ingin makan Kare, sehingga kami bungkus saja onigirinya kemudian begitu jam menunjukkan pukul 11, kami pesan Kare. Hmmm saya tidak begitu suka Kare, tapi kare dari restoran ini enak. Oishii gohan おいしいご飯, nakayoku kyoudai 仲良く兄弟, kaitekina fun-iki 快適な雰囲気・・・最高 (makanan yang enak, persaudaraan yang akrab dan suasana yang menunjang…. nothing to complain.

Restoran ini bernama 40-plan. Nama yang aneh… tapi begitu kami tanyakan… Ryoko menjawab  bahwa itu adalah tekad mereka (si pembuat restoran) yang ingin mewujudkan impian dengan membuat restoran sebelum mereka menjelang  berumur 40 tahun. Wow…. Saya sudah 40 tahun, tapi apakah rencanaku sebelum ini? atau adakah rencanaku misalnya nanti menjelang 45 atau 50 atau 70 tahun (kalau masih hidup). Fffff berat… dalam…. dan terus terang saya tidak punya rencana yang konkrit. Que sera sera….

Riku berkata,"Papa dan Om Taku bajunya sama belang-belang ya... Anak Kembar sih"

Onigiri – Nasi Kepal

Kali ini saya mau posting khusus mengenai onigiri atau bahasa Inggrisnya Rice Ball, dan saya mengatakannya dalam bahasa Indonesia adalah nasi kepal, karena dibuatnya dnegan mengepalkan tangan, meskipun besarnya belum tentu sekepalan tangan (boleh juga sih…. yang big size ya hihihi). Onigiri juga sering disebut dengan omusubi, atau nigirimeshi. Nasi kepal ini mudah dibuat, enak dan mengenyangkan. Saya posting ini sambil teringat Eva, Jeng lala, Ai dan teman-teman lain yang mungkin mau coba buat. Atau untuk Bang Hery, Mas trainer  mungkin yang mau memanjakan istri,  atau bahkan mas Hangga untuk memikat gadis-gadis.

Hari ini adalah hari yang paling tepat posting mengenai Onigiri, karena ternyata hari ini adalah hari Onigiri, menurut masyarakat dari Prefektur Ishikawa. Prefektur ini menghasilkan beras yang pulen dan enak. Beras diperingati setiap tanggal 18 dan kenapa bulan juni peringatan onigiri? Karena ada sebuah daerah di Prefektur Ishikawa yang bernama Rokuseimachi yang dianggap sebagai kampung halamannya onigiri, akibat ditemukannya fosil onigiri tertua disebuah perumahan dari tanah liat (pithouse). Dan ditetapkan bulan juni karena bulan juni = rokugatsu , roku nya merupakan kata pertama dari nama kota tersebut (huh asal bunyi sama …gitu aja alasannya).

Beras yang enak tentu menentukan rasa dari onigiri itu sendiri. Beras jepang termasuk dalam keluarga japonica sehingga pulen dan bisa menyatu jika dipadatkan, berlainan dengan beras indica. Karena itu jika Anda yang berada di Indonesia ingin membuat onigiri, saya sarankan Anda membeli beras Jepang (pasti mahal) atau mencampur beras indonesia dengan beras ketan dengan perbandingan 3:1. (Dicoba saja nanti sendiri perbandingan yang tepat karena tentu saja beras di Indonesia berbeda kepulenannya berdasarkan jenis/mereknya) . Begitu beras tanak, biarkan sebentar supaya uap air yang tersisa bisa menguap. Kemudian ambil nasi tersebut sebanyak yang mau dibuat sebagai onigiri. Jangan lupa basahkan tangan. Tangan yang basah penting sekali untuk membuat onigiri. Karena di musim panas bakteri mudah berkembang biak, perhatikan kebersihan tangan sebelum membuat onigiri. Juga jangan memakai air ledeng untuk membasahkan tangan di Indonesia (kalau di Jepang sih air ledeng bisa diminum sehingga tidak menjadi masalah). Jika Anda suka, Anda bisa menaburkan sedikit garam pada telapak tangan Anda. (Kalau saya tidak begitu suka asin …mengurangi garam untuk kesehatan sehingga tidak pernah memakai garam) Nasi panas itu dikepalkan setengah jadi dan bagian tengah dibuat lubang untuk mengisi “lauk/daging” yang akan dimasukkan. Setelah lauk itu ditaruh di tengah-tengah, lanjutkan kembali dengan menutup lauk tersebut dan buat bentuk onigiri yang diinginkan. Onigiri ada bermacam bentuk, tapi yang lazim adalah segitiga. Ada pula yang berbentuk bulat gepeng seperti perkedel. Setelah nasi menjadi padat dan berbentuk tutupi dengan nori (rumput laut kering) jika suka. Saya tahu banyak orang Indonesia yang tidak begitu suka nori, sehingga buat mereka yang tidak suka, tidak perlu ditutup dnegan nori. Kalau mau, bisa juga menutup nasi kepal dengan wijen putih atau hitam. Wijen yang segar dapat menambah aroma dan rasa yang enak pada nasi kepal tersebut.

Nah, sekarang apa saja sih yang bisa dimasukkan dalam onigiri? Banyak!! Tapi yang terumum di Jepang adalah Umeboshi (buah plum kering), serpihan Ikan tuna begitu saja atau dicampur dengan mayoneise, telur ikan mentaiko/tarako mentah atau dibakar dan okaka (serutan ikan tuna kering – katsuobushi). Selain memasukkan lauk tadi secara utuh di tengah onigiri, Anda bisa mencampurnya dulu pada nasi sebelum dikepal. Biasanya di Jepang jenis-jenis sayuran kering/ wakame (gagang laut) atau ikan teri nasi mentah/goreng yang paling banyak dijadikan campuran dalam nasi tersebut. Pokoknya hampir semua bahan makanan/daging yang cocok dimakan dengan nasi bisa dijadikan “lauk/daging” dari onigiri. Daging sukiyaki, semur, susis, ikan sardin, ayam cincang bumbu kecap ….whatever lah.

Variasi untuk di Indonesia misalnya :Coba deh masukkan corned beef begitu saja atau dicampur mayoneise dulu…pasti enak. Atau abon sapi…. hmmm yummy. Mustinya sih kalau dimasukkan keringan tempe juga enak, tapi saya belum coba karena tempe mahal sekali di sini. Pokoknya cobalah buat onigiri versi Anda sendiri… Dan kalau ada teman yang mau membuka usaha restoran, bisa juga nih coba usaha restoran ONIGIRI…saya yakin pasti laku deh. Di sini saja banyak kok warung onigiri yang bisa makan di situ sambil berdiri.

Sebagai pendamping onigiri biasanya disajikan acar-acaran. Kalau di Jepang ada Takuwan (acar lobak yang berwarna kuning) yang praktis, atau kalau di restoran tentu saja ada tsukemono (acar) dari bermacam-macam sayur, seperti terong, ketimun, lobak putih, sawi dsb. Kalau untuk orang Indonesia, mungkin lebih cocok dengan acar ketimun/wortel. Selain acar, juga bisa disajikan dengan sup miso yang panas…. hmmm jadi lapar nih. ITADAKIMASU (artinya saya makan yahhhh)

So…silakan coba. Yang penting adalah Nasi panas dan tangan basah. Tak ada daging? Garam saja cukup kok.

Entah kenapa kok sekarang sambil nulis begini saya membayangkan onigiri yang isinya tempe bakar, yang ditumbuk dengan cabe rawit….. duh kangen tempe…..hiks…. (sabar…. sebulan lagi bisa makan tempe sepuasnya). Trus… supnya sayur bening hihihi. Ini mah bukan masakan Jepang lagi, udah menu masakan Indonesia dengan Nasi kepal. hihihi