Arsip Tag: okinawa

Kaleidoscope

Saya diberi tugas oleh Bang Hery untuk membahas tentang kaleidoscope. Setelah saya cari dalam google versi jepang, saya mendapatkan keterangan ini.

Kaleidoscope berasal dari bahasa Yunani yang merupakan paduan kata [Kalos] yang berarti indah, [eidos] berarti corak dan [scope] berarti melihat. Jadi kaleidoscope sendiri merupakan sebuah alat semacam teropong yang didalamnya terdiri dari 3 lembar lempengan kaca yang diberi sekat, dan di bagian dalam diberi kepingan kaca atau kertas warna warni sehingga bisa memantulkan sesuatu corak yang berwarna-warni. Kita bisa melihat langsung ke dalam teropong tersebut atau memantulkannya ke dinding. Seni ini sangat terkenal di Jepang, sehingga kalau Anda pergi ke toko cendera mata, pasti akan menemukan tabung dengan lapisan kertas Jepang, dan jika Anda melihat lewat lubang kaca yang ada di ujungnya, bisa melihat corak warna yang bisa berubah jika tabung itu diputar.

Ya! itulah kaleidoskop (bahasa Jepangnya Bankakyou) . Arti sesungguhnya melihat corak yang indah…. sampai ada museum di Kobe bernama Kobe Kitano Kaleidoscope yang menyuguhkan keindahan kaleidoscope dalam berbagai jenis warna dan corak. Lihat slogannya, Healing and Relaxing Time with Beautiful View in a Small Hole.

Tapi di penghujung tahun biasanya memang ada acara di televisi/media lain di Indonesia yang menyajikan suatu rangkaian kejadian yang terjadi dalam satu tahun sebagai kilas balik, dan dinamakan Kaleidoscope. Tapi karena isinya bermacam-macam kejadian, dan termasuk juga kejadian buruk, mestinya tidak cocok ya dinamakan kaleidoscope. Semestinya diberi nama kilas balik saja… atau perenungan. Siapa yang mau usul?

Hei boy... what are you thinking about? Live? or enjoying the scenery or thinking of you Mother?
Hei boy... what are you thinking about? Live? or enjoying the scenery or thinking of you Mother?(Riku @ Okinawa)

:::::::::::::::::::::::

Saya sebetulnya ingin sekali membuat kaleidoscope eh kilas balik saya di tahun 2008. Tapi karena tidak ada waktu, saya ingin membuat sebuah “CHILDLENS”. Apa yang dilihat seorang anak melalui lensa kamera. Terinspirasi dari sebuah buku dengan judul sama, yang saya baca di Sendai. Seorang anak diberikan kamera dan bebas mengambil foto apa saja. Dalam buku itu ada foto tatami, ada foto kamar, atau mainannya, dan ada foto ibunya sedang berganti baju. Sebagai pengganti Kaleidoscope saya, saya ingin mengetengahkan childlens Riku yang membawa kamera waktu dia pergi ke Okinawa musim panas lalu. Saya pilihkan beberapa foto dia yang layak menurut kacamata orang dewasa.

Bagaimana? Apakah Anda terhibur dengan hasil potret Riku?

Waktu kecil dan pertama kali saya kasih Riku pegang/potret dengan camera digital, papanya bersungut-sungut. Katanya,”Anak-anak dikasih kamera, nanti kalau rusak bagaimana?” Tapi saya bilang, asal kita kasih tahu tidak boleh begini begitu kan pasti bisa. Kalau rusak ya itu resiko. Sama halnya waktu Riku sudah mulai mengerti dan menggeratak apa saja, saya bilang, “Jangan pegang pisau. Pisau itu bisa membuat berdarah, dan sakit. Tapi kalau Riku mau sakit, silakan!. Riku mau sakit?”….. Tentu saja dia bilang tidak. Dan sejak saat itu biarpun ada pisau di atas meja, dia tidak akan pernah ambil atau bermain. Malahan dia bilang, “Mama ini pisau. Bahaya loh!”….

Biarkan anak-anak bermain dan berkembang dan juga merasakan kenyataan yang mungkin tidak bagus, sejauh resiko itu masih rendah. (Tentu saja saya tidak akan biarkan dia berjalan sendirian di jalan besar waktu itu kan, karena semua juga ada waktunya. Lihat-lihat kondisinya lah….)

Kriiing

jam 12:00 siang

telepon berbunyi

“Moshi-moshi…..  …. halllo?”

“Hallo mama…”

“Riku chan… genki?

sekarang aku ada di hotel… hotelnya bagus loh… tempat tidur nya ada 3. trus trus di sebelah tempat tidur, di depan aku ini ada tombol banyak….. Wahhh pokoknya lampunya bagus loh”

“oooh jadi nanti Riku bisa mati dan nyalakan lewat tombol itu ya?”

“(ngga perhatiin ucapan mamanya….) Hebat loh bagus sekali hotelnya. Hmmm nanti lagi ya…. Daaaag….”

click…. tut tut tut….

(Kenapa ya laki-laki tuh semua irit bicara di telepon… semua ngga kecil ngga besar…hiks)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

jam 19:30 malam

Kring…kring…kring…. empat kali, cepat-cepat aku ambil, sebelum answering machine yang menjawab,

(pasti dari Riku, siapa lagi yang telepon jam segini)

“Hallo… Riku chan?”

” unnnn. mama lagi tidur?”

“ngga , mama lagi masak”

“papa ada?”

“papa belum pulang”

“Kai ada?”

“Ada”

“Sedang tidur?”

“ngga… ini ada di sebelah mama… Riku bicara saja…” (pasang speaker)

“KAIIIiiii…. halllo….”
(Kai lihat ke telepon dan tertawa, tapi segera mukanya berpaling melihat TV)

“Kai tahu suaranya Riku loh, dia ketawa….”

“hmmm sebentar ini Achan….” Dan aku harus bicara dengan neneknya…..

“Imechan, Riku hebat loh, dia sudah berenang, dan waktu jalan-jalan dia gendong terus ranselnya. Waktu kita bilang ranselnya di taruh di Taxi saja, dia ngga mau. Dia bilang, “Ada barang-barang yang dibawakan mama. Aku ngga bisa lepaskan ransel ini. Ini adalah ikatan aku dengan mama” (huuuuuu mau nangis deh). Dia banyak ambil foto juga, katanya disuruh mama ……”

(Dan neneknya suruh Riku say goodbye. )

“Mama, ja…sampe besok ya…”

oyasu…. (klick tut tut tut) ….nasai… belum sempat habis bicaraku, dia sudah tutup.

Dasar lelaki!.

——dan aku harus cepat-cepat menyambar Kai, karena tangannya sudah mencapai meja, dan akan menjatuhkan botol air mineral. —- aaaahhhh  malam ini aku kesepian lagi deh. Riku biasanya datang tengah malam ke ranjangku dan tidur di tempat tidur single yang ada di ruang computerku. Kalau sudah begini biasanya aku bangun, dan membuka laptopku untuk kerja atau menulis lagi. Bagaimana bisa tempat tidur single itu ditempati dua orang…yang ada aku bisa jatuh deh.

Kai menemukan biskuit dalam tas dan dengan mukanya yang suci (+nakal) , tersenyum begitu melihat aku mau foto.
Kai menemukan biskuit dalam tas dan dengan mukanya yang suci (+nakal) , tersenyum begitu melihat aku mau foto.

Wisata Pertama

Hari ini tanggal 19 Oktober menurut catatan buku pintar aku “What day is today” adalah hari untuk berwisata ke luar negeri. Kok bisa begitu? Penyebutan tanggal menurut bahasa Jepang dibalik menjadi 10-19 … dan dibaca sebagai Tooku e iku (Pergi Jauh).  Jadi mustinya hari ini kita semua bepergian deh….

Kebetulan tema ini tepat juga untuk “curhat” tentang Riku. Malam ini aku sambil mengetik di meja makan, Riku menonton TV. Filmnya “Mrs Doubtfire”… sudah berkali-kali aku menonton film ini, dan kagum pada akting si Robbin Williams. Lalu tiba-tiba Riku datang padaku.

Riku: “Mama …aku akan pergi beberapa hari. aku akan kesepian tanpa mama. dan akan ingat mama terus”

Mama: ——aku peluk dia—- (dia mulai menangis)

Riku: “Aku sayang mama….”

Mama: “Iya Riku, mama juga sayang Riku”…. dan aku terpaksa tidak bicara, karena aku juga jadi ikut menangis… membayangkan 4  malam tanpa Riku mulai besok malam. Riku akan pergi bersama ibu dan bapaknya Gen ke Okinawa, kepulauan resort di Jepang Selatan. Kakek dan Neneknya pikir mereka ingin mengajak cucu pertamanya ini bersama mereka (tanpa orang tua) menikmati wisata bersama. Mereka sudah rencanakan ini sudah lama, yaitu akan mengajak pergi wisata sebelum Riku masuk SD. Dan tentu saja aku setuju, karena meskipun aku misalnya punya uang untuk wisata, tidak akan memilih Okinawa sebagai tujuan wisata keluarga. Daripada pergi ke Okinawa lebih baik aku ke Bali atau Yogya, atau ke Lombok…. dan pulkam ke Jakarta.

Riku masih menangis dipelukanku.

Mama: “Riku…lihat, Riku nangis kan… mama juga nangis… Riku sayang mama, dan mama juga sayang Riku. Riku kesepian tanpa mama, Mama juga kesepian tanpa Riku. Tapi … Riku harus enjoy pergi bersama A-chan dan Ta-chan. Riku bisa pergi ke Aquarium terbesar di dunia, Churaumi Aquarium, menginap di hotel bagus, berenang, makan yang enak…. Nanti Riku bisa cerita sama mama tentang perjalanan Riku, jadi Riku harus menikmati perjalanan itu ya. Nanti kalau bagus dan menyenangkan, Mama kan bisa pergi ke sana berdua  Riku. Jadi jangan sedih ya…. Dan Riku itu laki-laki, waktu itu kan Riku sudah bisa pergi sendiri dengan teman-teman TK meskipun satu malam. Dan ini kan pergi cuma 3 malam dengan Achan dan Tachan. Nanti kalau Riku sudah besar, Riku juga bisa pergi sendiri ke Jakarta loh. ( Dan sebetulnya sampai umurnya yang 5 tahun ini,, Riku sudah 18 kali naik pesawat terbang…. what a record… yang pasti lebih banyak dari papanya).

Riku: Iya nanti Riku telpon mama tiap malam ya…

Mama: Ok mama tunggu ya.

Well, aku juga harus bersiap-siap suatu saat dia datang ke aku, peluk aku dan bilang, “Mama aku mau sekolah di Amerika “……..