Arsip Tag: oden

Dousoukai a.k.a Re-Uni

Dousoukai adalah kegiatan reuni, pertemuan kembali dari mantan murid di sekolah yang sama. Ditulis dalam kanjinya : 同窓会 dou = sama, sou=jendela dan kai = pertemuan. Yang aku heran tidak memakai kata sekolah, tapi jendela. Melihat melalui jendela yang sama. Dousoukai dalam arti besar bisa Reuni Akbar, yang biasanya di sini dinamakan Home-coming day suatu sekolah/universitas. Tapi bisa juga berupa Kurasu-kai, reuni kelas dalam lingkup yang lebih kecil.

Nah hari Sabtu kemarin, anakku si Riku mengikuti Dousoukai pertamanya. Haduh…. reuni masa TK ceritanya hihihi. Aku ngebayanginya aja lucu banget. Pasti sih yang merencanakan itu orang tua murid/bekas gurunya. Sekitar 3 minggu sebelumnya aku mendapat telepon dari salah seorang orang tua murid. Masih pakai cara phone tree seperti yang pernah aku tulis di Hubungan dari hantu ke hantu. Dia menyebutkan hari dan tanggal, Sabtu 12 Juni 2010. Jam 1 sampai 3 siang. Membawa makanan kecil secukupnya + minuman dalam thermos, dan tidak lupa untuk membawa uwabaki (sepatu dalam ruangan). Boleh datang naik sepeda.

uwabaki paling sederhana dan paling murah. Riku punya di bagian depannya (karet) berwarna biru, dia yang minta...mau modis katanya hahaha. Dulu waktu TK sih putih semua, persis seperti ini.

Begitu selesai dia menyampaikan pesannya, aku langsung minta maaf. Aku lupa siapa sesudahku dalam daftar phone tree jaman TK nya Riku. Wah itu daftar udah ngga tau ke mana deh. Mana kutahu bahwa masih akan dipakai setelah lulus TK? Untung dia bilang, ngga papa kok Miyashita san yang terakhir, semua sudah tahu (senengnya kalau begini, orang asing dikasih tugas sedikit hihihi). Ok aku bilang, Riku akan datang.

Jadi Sabtu pagi Riku sudah seperti cacing kepanasan. Dia juga ingin sekali bertemu dengan teman-teman lamanya. Karena dia belum ada makanan kecil, aku suruh dia membeli sendiri sekaligus membeli roti dan susu untuk kami makan pagi. Enak sekarang bisa meminta dia membelikan sesuatu. Dia juga sudah pintar berhitung soalnya. Menjelang jam 11 aku baru sadar bahwa uwabakinya cuma ada sebelah! Loh… kemana yang satunya? Mungkin jatuh atau mungkin ketinggalan di sekolah. Jadi Gen pergi dengan Riku untuk membeli uwabaki baru di toko sepatu. Huh ada-ada saja. Untung aku cepat sadar sehingga masih sempat membeli.

Dan… Riku pulang jam 3 dengan keringat. Rupanya sebagai pengisi acara, mereka bermain dochi ball. Dodge Ball, adalah permainan paling umum yang bisa dimainkan siapa saja, asalkan ada bola (volley). Aku tidak tahu apakah permainan ini ada di Indonesia atau tidak, tapi rasanya pantas deh diperkenalkan atau dimainkan di Indonesia. Salah satu permainan yang bisa dipakai untuk meramaikan acara-acara pertemuan. Sambil dia juga bercerita bahwa ada temannya yang sudah pindah ke Saitama dan khusus datang untuk bertemu mereka. So sweet… (Sayang anak-anak tidak boleh membawa kamera, jadi aku tidak bisa membayangkan acara mereka seperti apa)

Sekitar jam 6:30 giliran aku yang siap-siap dan pergi ke acara konshinkai 懇親会, pertemuan ramah-tamah dengan mantan seksi kegiatan anak PTA di sekolah Riku. Kalau seperti ini tidak bisa dikatakan reuni sih… Acaranya dekat stasiun rumahku, sehingga aku pergi naik sepeda. Anak-anak sama papanya jaga rumah.

cheese spreadnya dicampur mentai (telur ikan). lembut dan enak!

Aku baru pertama kali ke restoran/ tempat minum di Tsuboya ini. Tempatnya cukup nyaman dan …murah. Makanannya lumayan enak dengan paket all you can drink yang relatif murah dibandingkan restoran lainnya. Sambil makan-makan dan minum-minum, kami bercakap-cakap tentang macam-macam. Dan yang paling aku “pasang telinga” soal ijime atau bullying di sekolah, dan bagaimana mengatasinya. Ternyata yang cukup banyak menjadi masalah justru di kalangan anak perempuan, karena sejak dari kecil mereka sudah mempunyai “geng-geng”… entahlah… apa mungkin kebetulan saja orang tua murid yang datang kebanyakan anaknya perempuan. Kami berdelapan menikmati konshinkai ini sampai pukul 9:30, dan setelah 3 orang pulang, dan kami berlima melanjutkan ke tempat minum yang lain. Hashigo! (arti sebenarnya adalah tangga, tapi istilah ini dipakai untuk acara makan (minum) dengan berganti restoran/tempat minum … mungkin seperti clubbing deh — aku belum pernah clubbing jadi ngga tau juga hehehe). Dan….kami berlima pulang jam 1 pagi! Karena ada satu yang berjalan kaki, akhirnya kami menuntun sepeda dan berjalan bersama pulang (arah pulangnya sama semua). Duuuh ibu-ibu pulang pagi! (Jadi inget masa muda …tsah hihihi)

Di dalam resto yang kedua "Ron" ada penjual oden... hari ini dietku gatot deh...gagal total!

Museum Arsitektur

Weekend kali ini kami tidak kemana-mana, karena Sabtu-Minggu Gen harus bekerja dalam rangka Festival Universitas. Akhir Oktober-Awal November merupakan waktu sibuk bagi sekolah, terutama universitas untuk mengadakan Festival Universitas. Karena tanggal 3 November di Jepang adalah hari libur resmi, Hari Kebudayaan、Bunka no Hi.

Jadi hari Selasa, tanggal 3 November yang lalu itu kami sekeluarga menggunakan waktu libur untuk pergi ke Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum yang terletak di dalam Taman Koganei. Bahasa Jepangnya Edo-Tokyo Tatemonoen, jadi sebetulnya terjemahan secara harafiahnya Museum Bangunan Edo-Tokyo. Sebab jika diterjemahkan Museum Arsitektur, agak kurang pas, karena sama sekali tidak ada keterangan tentang rumah-rumah tersebut, seperti maket, denah, keterangan bahan…. mungkin lebih mirip Taman Mini Indonesia Indah, versi Jepang… dan jauh lebih kecil luas wilayahnya. Tempat ini mengalahkan alternatif yang lain yaitu Taman  Showa Kinen Koen yang sudah pernah kami kunjungi.  Padahal saat ini pasti taman itu juga bagus dipenuhi oleh bunga Cosmos.  Alasannya: Hari itu DINGIN sekali. Menurut perkiraan hanya 7 derajat Celsius, sehingga pasti tidak nyaman untuk berjalan di taman yang begitu luas…. brrrr.

Tiak lebih dari 20 menit dengan mobil, kami sampai di Museum Bangunan ini. Parkir mobil, dan keluar mobil…brrr…. Aku terpaksa pinjam coat Gen,  Sedangkan Kai pakai shawl wool yang tadinya aku akan pakai. Riku? dia bawa jacket kantornya Gen deh. (Gen sih orang Jepang jadi tahan dingin hihihi). Untung kami parkir dekat sekali dengan lokasi. Tapi harus melewati kantin yang menjual AMAZAKE, minuman khas musim dingin. Namanya sih kalau diterjemahkan seperti Sake manis, tapi minuman ini sama sekali tidak beralkohol. Seperti tape ketan putih yang diblend hancur dan disajikan panas-panas. Manis.

Karena kami berniat untuk makan di restoran lain pada waktu makan siang, kami pikir masuk kantin itu untuk membeli amazake, dan menghangatkan badan sebentar. Ehhh jadinya malah aku membeli Oden, Riku Oshiruko ( bubur kacang merah panas dengan mochi), dan Gen membeli Amazake. Kai ikut makan denganku, dan dia suka Oden.

Setelah “istirahat” (belum apa-apa sudah istirahat hehehe), kami berjalan menuju gedung gerbang Museum Bangunan itu. Tiket tanda masuk seharga 400 yen untuk dewasa, dan gratis untuk anak SD ke bawah. Dalam gedung yang merupakan pintu gerbang museum open-air ini, dipamerkan sejarah jalur kereta api Tokyo, yang bernama Chuo Line. Chuo Line ini memotong Tokyo dari Timur ke Barat, dari Stasiun Tokyo sampai Gunung Takao. Rumahku juga bisa dicapai dengan menggunakan bus 20 menit dari stasiun Kichijoji, yang berada di Chuo Line itu. Hmmm…kapan-kapan aku bercerita soal Kichijoji deh, kota modis murah meriah di pinggiran Tokyo.

denah museum, kami menuju arah kanan
denah museum, kami menuju arah kanan

Dari gedung, kami keluar dan mendapati sebuah meriam besar. Jadi teringat meriam di depan Museum Fatahillah, Jakarta. Lalu mendapatkan denah keseluruhan museum taman. Kami langsung menuju salah satu rumah terdekat yaitu rumah mantan menteri keuangan Jepang, Takahashi Korekiyo   (pernah menjabat sebagai Perdana Menteri juga)  yang dibunuh dalam peristiwa kudeta 226 (Niniroku Jiken, 26-2-1936). Sebuah rumah tradisional Jepang yang besar, meskipun mungkin ada orang Jepang terkenal lain yang rumahnya lebih mewah. Kesannya rumah ini jauh dari glamour, meskipun besar.

Sayangnya kami tidak boleh memotret dalam rumah ini, karena sebetulnya kami juga memasuki kamar kerjanya di lantai dua, tempat dia dibunuh oleh tentara Jepang yang melakukan kudeta (katanya sih karena dia akan memotong budget angkatan perang… perlu keterangan akademis yang lebih detil… aku agak malas mempelajari Sejarah Showa Awal (1926-1989), yang waktu itu diajar oleh Pak Mossadeq Bahri — Kak Ade —… udah semester-semester akhir juga sih, udah males belajar, maunya cari bahan untuk skripsi aja hehehe)

Sento dilatar belakang merupakan pusat dari perkampungan itu, dan tempat diadakan pertunjukan sulap
Sento dilatar belakang merupakan pusat dari perkampungan itu, dan tempat diadakan pertunjukan sulap

Dari sini, kami menuju ke Sento (pemandian umum) di perkampungan Jepang untuk mengambil tiket menonton sulap dari jam 1. Karena pertunjukan gratis, tiket disediakan  satu jam sebelumnya untuk 200 orang pertama. Nah, sambil Gen mengambil tiket itu, aku dan anak-anak menunggu di mulut perkampungan tempat sebuah kereta tram dipajang. Di dekatnya juga ada warung-warung tradisional yang menjual makanan khas warung, seperti bakmi goreng, octopus ball alias takoyaki, sup suiton, sup miso daging babi, oden dan lain-lain.

Nah, karena aku belum pernah coba suiton, jadinya aku beli suiton. Ternyata suiton itu hanyalah adonan terigu yang dimasukkan dalam air rebusan sehingga membentuk bulatan bakso. Untuk membayangkannya, TEKWAN. Tapi tekwan jauuuuuh lebih enak, karena ada rasa ikannya kan? Kalau ini hambar …benar-benar hanya terigu saja hihihi. Jadi deh Gen yang menghabiskan sup itu. Lumayan sih air supnya bisa menghangatkan badan juga.

Karena Jam 1 kami masih akan berada di situ untuk menonton sulap, jadi akhirnya kami makan siang dengan bakmi goreng Jepang, Yakisoba, dan chijimi, martabaknya korea. Sambil membuat foto-foto juga di tram, karena kami makan di bangku dekat situ.

Waktu pertunjukan sulap yang diadakan di Sento, kami tidak boleh mengambil foto. Dan waktu itu aku juga sempat keluar dari gedung, karena si kai tiba-tiba ingin “pupu”. Terpaksa deh aku gendong dia sambil mencari toilet terdekat. Tapi satu hal yang memang aku sukai dari Jepang, WC di mana-mana bersih, dan biasanya ada WC khusus untuk penderita cacat/wanita dengan bayi yang terpisah.

Setelah selesai pertunjukan Riku sempat bermain gasing dan engrang, di halaman depan Sento. Aku yang bosan menunggu, duduk terkantuk-kantuk sampai akhirnya aku dan Kai membeli oden lagi deh. Kami duduk di bangku yang disediakan depan warung sambil menikmati terik matahari senja yang hangat.  Karena memang matahari cepat sekali turun dan meninggalkan bayang-bayang semakin panjang.

Sekitar pukul 3:3o kami bergerak ke arah pulang. Kami memang santai sekali menghabiskan waktu di perkampungan Jepang itu, sehingga sebetulnya kami baru melihat separuh dari museum bangunan ini. Well, selalu ada lain kali kan? Lagi pula kali ini aku melakukan satu kesalahan. Persis setengah jam sebelum berangkat aku men-charge batere kamera. Jadi kupikir seharusnya penuh. Tapi ternyata justru habis! sehingga aku tidka bisa pakai kamera digital seperti biasanya. Tidak tahu, apakah sistem chargenya mengosongkan dulu, baru mengisi penuh atau bagaimana. Karena sebetulnya sebelum aku charge masih setengah penuh. Terpaksa deh aku pakai kamera HP ku dan HP Gen. Jadi SEMUA foto di sini adalah hasil jepretan HP.

di depan pos polisi jaman dulu, di dalamnya ada kasur untuk tidur loh

Oden

Memasuki musim gugur, temperatur udara mulai menurun sehingga cukup membuat badan menggigil jika berpakaian tipis. Saat kutulis posting ini pukul 3 pagi temperatur sekitar 15 derajat celsius. Sambil kemulan selimut duduk di depan komputer, dan browsing menemukan suatu artikel berjudul “Isi oden apa saja yang disukai orang”.

Oden adalah semacam rebusan dengan memakai kaldu ikan dan ayam, berisi daikon (lobak), chikuwa dan sumire, (semacam bakso ikan dengan cara pembuatan yang berbeda), satsuma age (bakso ikan goreng berbentuk pipih), tahu goreng, tulang muda sapi, sosis, telur rebus, shirataki (semacam soun) , kulit tahu berisi mochi dan lain-lain. Semua bahan direbus dalam kaldu untuk waktu yang lama, dan tentu saja disajikan dalam keadaan panas. Oden ini selalu dijual di toko-toko konbini (convinience store) begitu musim mulai menjadi dingin.

menurut angket isi oden yang paling laku adalah Daikon (lobak), telur, chikuwa dan kulit tahu isi mochi... yummy
menurut angket, isi oden yang paling laku adalah Daikon (lobak), telur rebus, kulit tahu isi mochi dan konyaku (devil tounge) ... yummy

Kecuali sosis (jika ada), semua bahan oden yang dijual sebenarnya adalah halal. Tentu paling aman kalau masak sendiri, sehingga bisa memilih bahan apa saja yang dimaui. Bumbu oden instant juga banyak dijual di toko-toko. Tinggal rebus saja deh. Dulu aku pernah masak oden di acara bazaar kebudayaan Jepang di kampus UI, dan saat itu saya masukkan potongan ayam…. jadi deh seperti sup ayam hehehe.

Dulu waktu masih single,  kalau saya kangen bakso, saya akan membeli oden terutama sumire (bakso ikan) di konbini, dan makan panas-panas pakai sambal ABC (kalau orang Jepang biasanya memakai karashi, mustardnya orang Jepang berwarna kuning). Memang lain sih dengan bakso daging, tapi bisa sedikit mengobati kerinduan akan makanan tanah air. Sekarang? Kangen bakso sih tinggal buat sendiri hihihi (Jadi ingat Sigi yang tinggal di Mie, minta resep bakso. Sudah coba belum ya dia?)

Huh ngomongin makanan dini hari begini jadi lapar deh. Mendingan tidur dulu deh. Oyasuminasai! (Selamat tidur).