Arsip Tag: Mie Janda

Kopdar On Air

Bukan kopdar di udara. Masak kopi darat di udara, itu kan kontradiksi sekali? Tapi memang kopdar kali ini ditandai dengan “On Air di sebuah stasiun radio”.

Aku kembali dari Bandung tanggal 4 Agustus malam, dan dalam perjalanan aku sempat menghubungi pemilik Mie Janda, yang menanyakan apakah hari Jumat tanggal 5 nya beliau ada di tempat. Tapi setelah sampai di rumah pukul 9 malam, aku pikir, kok aku ngukur jalanan terus ya? Akunya mungkin kuat, tapi pak supirku belum tentu kan? Mungkin dia butuh istirahat…. Apalagi aku sering pakai dia hari Sabtu dan Minggu. Jadi aku tanya langsung kepadanya: “Pak, bapak mau istirahat?” dan dia jawab, “Kalau ibu tidak perlu saya ya tidak apa-apa, tapi saya tidak mau istirahat”. Hmmm tentu saja, dengan status supir harian, jika satu hari istirahat berarti tidak dapat pemasukan kan? Tapi badan bisa ambruk juga, jika aku pakai tanpa memikirkan kesehatannya. Akhirnya aku bilang, “Besok masuk jam 12 saja deh (dan aku akan memulangkan dia jam 5 sore”.

Dan segera aku re-schedule kunjungan ke Mie Janda pada hari Minggu. Benar juga sih, siapa tahu ada blogger lain yang bisa join di hari Minggu, daripada di hari Jumat. Dan aku janji untuk datang ke Cibinong pukul 4 untuk ngabuburit dan buka di Mie Janda. Kebetulan pas hari Minggu itu aku ada acara pada pukul 12 nya, acara baptisan keponakan baruku, Gissela di Gereja St Stephanus Cilandak.

Tapi hari Minggu 7 Agustus itu tiba-tiba aku dapat sms bahwa kalo bisa, aku diminta menjadi narasumber untuk acara di Radio Sipatahunan. Weleh…berarti ngga boleh terlambat tuh. Kan siaran langsung, kudu tepat waktu (meskipun yang ngundang santai aja sih hehehe). Jadi jam 2  siang aku sudah berpisah dengan anak-anakku yang ikut pulang dengan sepupunya dan opa-omanya. Aku sendiri langsung menuju jalan tol menuju cibinong. Maklum, aku tidak berani ambil resiko nyasar lagi, karena tadinya aku janjian dengan Eka untuk pergi bersama, tapi tidak jadi. Tahu-tahu Eka sudah menunggu aku di pintu keluar tol cibinong. Mie Janda cibinong mudah dicari, karena tidak begitu jauh dari pintu tol keluar dan persis berada di depan SMP. Ya ini kali ke dua aku ke sini. Sebelumnya aku sudah pernah menikmati Mie Tajir 2 tahun yang lalu.

Bersama Eka sebelum acara dimulai

Waktu kami sampai di depan kedai, pas Kang Achoey juga mendarat, sehingga kami bisa langsung pergi ke Radio Sipatahunan yang terletak di Bogor. Karena masih banyak waktu, kami melewati jalan biasa (bukan jalan tol) sambil bercakap-cakap berbagai hal selama perjalanan. Waktu kami sampai pun masih cukup banyak waktu sehingga waktu siaran dimulai pukul 4 diawali oleh Kang Achoey karena Ibu Desi Hartanto  terlambat, seperti melanjutkan pembicaraan di luar ruangan saja. Terus terang aku juga sudah lupa apa saja yang aku bicarakan selama 1 jam itu.  Tapi yang pasti aku pun bernostalgia pada pekerjaan lama ku di radio, rindu rasanya kembali mengudara. Apalagi setelah acara selesai, lagu-lagu yang diputar itu lagu jadul semua. Pak operatornya sepertinya tahu seleraku. Antara lain lagu berjudul “Nona”  nya Gito Rollies…. hayoooo ada yang tahu ngga? Lagunya enak loh 😉

Oh ya sebelum acara dimulai, karena aku upload foto bersama Eka di FB, si Nicamperenique kemudian mengajak teman-teman mendengar streamingnya di internet. Jadi rame karena pak Marsudiyanto ikut nimbrung juga. Terima kasih atas dukungannya ya :D.

Berpose di studio Radio Sipatahunan

Dan setelah berfoto-foto bersama di studio, kami kembali menuju Kedai Mie Janda di cibinong untuk berbuka bersama. Untung saja masih ada meja kosong dekat meja kasir, karena hampir semua meja terisi pelanggan yang menunggu waktu berbuka. Akhirnya aku dan Eka bisa menikmati sajian mie Janda setelah 2 tahun. Ada beberapa menu baru, bahkan setelah aku selesai makan baru sadar bahwa ada menu nasi ayam goreng. Well, next time ya.

Es duda dan Mie Janda Komplit... bisa ketagihan loh

Dalam kesempatan itu kami juga bisa bertemu dengan Silvia Dewi, istri Kang Achoey yang sedang mengandung. Ah, ngiri benar deh melihat pasangan pengantin baru ini. Mesraaaaa sekali (maksudnya mesra gitu). Oh ya aku juga mendapatkan hadiah novel karangan Kang Achoey yang berjudul Sahaja Cinta. Kabarnya akan terbit (lagi dengan penerbit yang lain) sebentar lagi loh.

Istri Kang Achoey: Silvia Dewi. Berpose bersama sebelum pulang

Ya, dalam pertemuan setelah 2 tahun memang banyak yang berubah. Jika dulu Kang Achoey masih bujang, sekarang calon papa, dan sudah menerbitkan novel. Dan mungkin 1-2 tahun ke depan akan ada lagi perubahan yang terjadi. Namun aku selalu berdoa semoga silaturahmi ini bisa terus dipelihara, dan kelak dapat reuni bersama anak-anak mungkin 😀

Tulisan mengenai pertemuan saat itu juga bisa dibaca di :

http://cucuharis.wordpress.com/2011/08/08/mengulang-perjumpaan/

Ketika Koala bertemu Gajah

Sebetulnya Riku sudah sering ke Taman Safari, bahkan dia juga sudah ke sana tanggal 1 Agustus yal bersama sepupu-sepupunya. Tapi saat itu Kai tidak ikut. Karena itu, ketika Eka mengajak kami jalan-jalan, setelah dari Mie Janda, kami putuskan untuk pergi ke Taman Safari. Untuk Eka dan Kai, Taman Safari adalah yang pertama. Bagi Krismariana, sesudah bertahun-tahun lewat (katanya terakhir ke TS ini waktu masih SD…waduh). Saya sendiri sih sudah sering, karena sering mengantar tamu Jepang ke sini.

Yang lucu, Riku karena sudah pernah ke Taman Safari, dia berlagak menjadi penunjuk jalan. Begitu keluar tol, dia bilang “Sudah dekat loh…”. Kemudian selalu mengingatkan kami untuk membeli wortel dulu sebelum masuk ke TS. “Nanti mau kasih makan Llama loh!”. Jadi deh begitu kami belok kanan dan memasuki jalan kecil menuju TS ini, mampir dulu untuk membeli wortel di pinggir jalan.

Kami sampai di Taman Safari ini,  kira-kira pukul 2 lewat dan langsung memasuki areal binatang. Sebetulnya Kai sedang tidur waktu itu, tapi aku pikir, sayang kalau dia tidak lihat binatang yang ada. Dan benarlah, begitu aku bangunkan dia, pas dia melihat Gajah… langsung, “ooowww … awwww…. … mama…”celoteh kekaguman bertubi-tubi.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, menikmati kehadiran binatang-binatang yang ada dari dekat. Binatang pertama yang menyambut kami adalah Zebra.  Berturut-turut kami melihat Gajah, Llama, Kijang, Kuda Nil, Rusa, Bison, Anoa, Beruang, leopard dsb dsb… Memang puas rasanya melihat berbagai jenis binatang yang ada. Lain deh perasaannya dibandingkan waktu pergi ke Ragunan. (Yah harganya juga beda berpuluh lipat)

Setelah selesai dengan course yang naik mobil, kami berhenti di parkiran untuk melihat pertunjukan gajah. Yang pasti Riku mau naik gajah katanya. Kai yang agak malas berjalan (minta digendong terus) juga antusias melihat gajah, sehingga dia langsung berlari menghampiri. Kami sampai di arena tersebut kira-kira pukul 4, dan dikatakan bahwa setengah jam sesudahnya akan ada pertunjukan gajah yang terakhir. Jadi sambil menunggu waktu pertunjukan, kami berfoto dengan gajah dan naik gajah. Untuk Riku, sudah ke tiga kalinya dia naik gajah, tapi untukku dan si Koala Kai pertama kali. Sempat saya tanyakan pada petugasnya, apakah bisa ‘gajah’ naik Gajah? Jawabannya…. “Ngga apa bu, tiga ‘gajah’ juga masih bisa” hahahaha.

Koala, Gajah dan Riku naik gajah... goyangannya muantabbb
Koala, Gajah dan Riku naik gajah... goyangannya muantabbb

Jadilah kami bertiga naik Gajah yang terbesar di situ. Well, naik gajah ternyata amat sangat tidak nyaman. Mana aku musti menggendong Kai yang ketakutan, sambil berpegangan menahan goyangan setiap kali si gajah melangkah.

Selesai course naik Gajah ini, kami menonton show, dan di akhir show ada pertunjukan si Gajah menggambar dengan kuas pada sebuah T-shirt. Aku jadi ingat sebuah cerita dari seri Curious George tentang gajah dan monyet yang melukis. T shirt yang digambar gajah-gajah ini dijual tentu saja, untuk biaya apa tepatnya sih aku tidak tahu. Tapi akan menjadi cerita yang menarik bagi Riku sebagai pengalaman di liburannya kali ini, jadi aku mengacungkan jari mau membeli Tshirt itu. (Memang cukup mahal harganya, yaitu Rp. 100.000 untuk selembar kaos. Kalau saya bukan turis, pasti saya tidak akan beli hehehe)  Rupanya ada upacara khusus untuk 4 pembeli pertama, yaitu upacara pengalungan bunga oleh sang gajah. Tapi rupanya si Gajah bingung untuk mengalungkan karangan bunganya pada Kai yang digendong, sehingga akhirnya aku yang dikalungkan bunga.

Riku dikalungkan bunga oleh gajah
Riku dikalungkan bunga oleh gajah

Setelah upacara pengalungan bunga, kami mengambil T Shirt lukisan si gajah di samping panggung. Melihat Riku dan Kai memakai T Shirt itu, aku teringat untuk membelikannya juga untuk Gen, sehingga “my Three Boys” bisa kembaran…. hehehe.

Karena di samping panggung juga ada toko cendera mata, kami masuk ke dalam untuk melihat-lihat apa ada yang bisa dijadikan oleh-oleh. Yang pasti Riku harus membeli oleh-oleh untuk 3 sahabatnya di Tokyo. Aku sempat pusing mau membelikan apa untuk anak laki-laki seusia Riku sebagai hadiah dari Jakarta. Tapi begitu melihat boneka harimau dan leopard yang Riku pilih, aku langsung setuju untuk membeli. CUTE! dan harga murah jika dibandingkan dengan barang yang sama di Tokyo. Yang terpenting juga, ada kalung/tag di leher mereka yang bertuliskan “Taman Safari Indonesia”. Well ini sangat mewakili oleh-oleh yang manapun.

boneka binatang ini memang lucu dan empuuuk
boneka binatang ini memang lucu dan empuuuk

Yang aku heran, Riku akhir-akhir ini suka pada boneka stuffed animal sebagai teman tidur. Perasaan dulu aku tidak pernah punya boneka (apalagi orang hahahah) sebagai teman tidur deh. Tidak juga bantal atau guling khusus yang konon dimiliki oleh anak-anak yang tidak bisa digantikan oleh apapun juga, meskipun sudah robek, usang dan tidak karuan bentuknya. Seakan setiap anak punya “boneka/benda kesayangan”. (Dan aku rasa pasti di antara pembaca TE juga ada yang begini, atau bahkan mungkin mempunyai boneka itu sampai sekarang… hiiii kebayang deh bentuknya) Well, aku tidak! Tapi Riku akhir-akhir ini membawa si beruang hadiah dari Opa dari Toronto sebagai teman tidur, dan dia bawa dari Tokyo dan menghuni tas ransel hijaunya, dan setia menemani dia tidur di Jakarta.

Sebetulnya ada cerita unik mengenai si beruang ini, yang aku ketahui dari Mbak Riana, asisten rumah tangga di Jakarta. Dia bercerita begini, “Bu, Riku lucu deh…tiba-tiba datang pada saya dan bilang gini….
“Mbak beha aku mana?”
“Emang Riku punya beha?”
“Iya … beha aku mana… (padahal yang dia maksud itu BONEKA beruangnya) hahahaha. Aku baru mengerti setelah lama, bahwa Riku memang tidak salah atau menghafal salah. Mungkin malah si Mbak mendengar salah. Karena Beruang dalam bahasa Jepang adalah KUMA, tapi jika memakai Japlish, akan menjadi BE-YA (bear) …dan memang Beha dan Beya itu dekat! hihihi.

Nah, kembali lagi ke toko souvenir Taman Safari. Aku heboh menyuruh Riku memilih kado untuk teman-temannya. Padahal dia sendiri sibuk memeluk dua buah boneka yang agak besar, boneka harimau dan macan putih.
“Mama, aku boleh beli ini? Ini kado untuk papa”
“Boleh … tapi satu aja ya…”
“Tapi ini untuk aku… aku mau dua ini. Yang ini papa, yang ini aku”
(perlu diketahui bahwa semua percakapan Riku di Jakarta memakai bahasa Indonesia! Dia sudah mahir dan sering show off bahwa dia bisa bahasa Indonesia… terutama doang, dong, banget dan kereeeen)
Well, dengan alasan itu aku bisa merasakan dia sudah kangen papanya. Jadi aku setuju membeli dua boneka yang kemudian dia bawa terus ke mana-mana, mirip lagunya Mbah Surip alm…. digendong ke mana-mana.

Sementara itu toko mulai dipadati pengunjung. Duh mesti begini deh. Setiap aku masuk toko yang kosong, yang tadinya tidak ada siapa-siapa….tidak lama akan menjadi penuh dan…menyebalkan karena terpaksa aku yang harus antri menunggu pembeli lain memilih dan membayar. Hal ini pernah juga aku tulis dalam postingan berjudul  JINX. Sifat “menarik pembeli” sepertinya juga terjadi waktu penawaran TShirt lukisan gajah tadi. Yang tadinya tidak ada yang mau membeli, setelah aku, Riku dan Kai maju ke depan menerima pengalungan bunga, bertubi-tubi orang yang juga mau membeli.Akhirnya abis deh stock T Shirt hari itu…. Syukurlah.

Sementara itu Kai si Koala ternyata juga berkeliling sendiri dan menemukan mainan yang dia mau…dan itu bukan boneka fluffy, tetapi bentuk dinosaurus. (Yang akhirnya begitu sampai rumah tidak ketahuan lagi ada di mana…..). Karena sudah lewat jam setengah 5, padahal kami harus sampai di jakarta jam 7 malam karena Adrian menunggu, jadi kami buru-buru keluar dari lokasi Taman Safari. Memang masih banyak yang belum kami lihat, termasuk berfoto di Baby Zoo dsb… well next time ya…

Yang mengejutkan kami adalah kenyataan bahwa jalan turun dari Taman Safari sampai ke depan tol itu ternyata MACET CET CET…. KOK bisa ya? padahal kan hari biasa tuh… Kalau begini, bisa-bisa jam 10 kami baru bisa sampai Jakarta. Biarpun kami bisa bercerita macam-macam, tetap saja khawatir dengan keadaan jalan yang macet begitu. And then…. terdengarlah bunyi SIRINE…..

Voorrijder!!!

kemudian supir cantik kami berkata,
“Mbak Em, aku ngga sabar nih… boleh ya..”
“Wah aku sih terserah..kamu yang nyetir kok!”

Dengan keahliannya menyetir, Eka langsung masuk ke belakang mobil yang berada di belakang “pembuka jalan” itu, menyalakan lampu hazard, dan sesekali membunyikan klakson pada mobil yang mau menyalip kami. Jadilah kami menjadi rombongan di belakang Voorrijder yang jelas-jelas mengambil setengah  jalur naik, sehingga kami dengan leluasa bisa “ngebut” melampaui deretan mobil yang terjebak macet.

Well, aku pernah menulis bahwa aku tidak mau berada pada rombongan yang dikawal oleh Voorrijder pada tulisannya Daniel Mahendra, dengan alasan malu. Tapi jelas untuk kondisi semacam ini, memang ada bermacam perasaan…. malu, deg-degan, merasa kasian pada yang terjebak macet, tapi jika mengetahui waktu 2 jam bisa dipersingkat begitu cepat… maka uang Rp 1 juta (katanya) rasanya tidak mahal jika kita dalam keadaan darurat.  Yang pasti, aku sendiri tidak bisa menyetir seperti Eka, dan tidak berani “ikut-ikutan” pada rombongan di belakang pembuka jalan. Nyaliku kecil, dan aku memang masih “de niue batakers” kalah bener dengan the real batak, Eka.

Kalau aku mungkin, setelah tahu bahwa memang bisa menyewa jasa voorrijder…. akan mengeluarkan uang segitu untuk mohon dikawal…jika terpaksa. Ahhh… memang aku tidak bisa melawan peraturan. Mungkin karena itulah aku berada di Jepang! Dimana peraturan memang ada untuk dipatuhi…..

Kalau aku yang menyetir, pasti patuh berada di antrian dan sampai di Jakarta pukul 10 malam. Dan tentu saja aku bersyukur sekali, mempunyai supir yang cantik, berani dan handal menyetir seperti si Eka. Sayang aku tidak bisa menggaji dia untuk menjadi supir pribadiku (ngga bakal dikasih lah sama Adrian hihihi). Cukuplah hari itu, aku menikmati THRILLING yang mungkin tidak ada ke dua kalinya dalam hidupku.

Eka…. you are GREAT!!!! (Riku juga enjoy loh, dia duduk di samping bu supir!”)

Sebetulnya masih banyak yang ingin kutulis, begitu banyak foto yang ingin kupasang…. tapi nanti pembicaraan jadi tidak terfokus, jadi kusudahi sampai di sini. Tapi yang pasti hari itu Kamis, 13 Agustus, merupakan hari yang benar-benar menyenangkan. Thanks to Eka and Krismariana.

So… next year….driving to…. Bandung or Jogja? yihaaaa.

Kai mau menjadi driver seperti Tante Eka!
Kai mau menjadi driver seperti Tante Eka!

Men JANDA

Bertubi-tubi pertanyaan di Yahoo Messenger saya waktu saya menulis status, “Mari Men Janda”. Tetapi bagi blogger aktif mereka tahu apa yang saya maksudkan, dan tidak berpikiran negatif.

Hari Kamis yang lalu, tanggal 13 Agustus, sahabatku Eka bisa mengambil cuti dan mengajak aku dan anak-anak untuk jalan-jalan dengan Atoz birunya. Sudah sejak minggu lalunya kami merencanakan perjalanan kami, dan kami memutuskan untuk mendatangi Uztad blogger teman kami, Achoey di kedainya yang bernama MIE JANDA.

Tanggal 12 hari Rabunya sekitar jam 3 sore, Kang Achoey sempat mengirimkan sms,
“Udah sampe mana?”….
“Laaaaaaah, kang…besok atuuuuhhh (euy si akang inih hihihi)”
(Tampaknya Kang Achoey juga ngga sabaran pengen ketemu tamu Jepang hahaha)

Karena ingin sampai di Cibinong, lokasi Mie Janda kira-kira pukul 12 siang, kami. Eka, Krismariana dan saya, plus Kai de Koala dan Riku berangkat dari rumahku di kebayoran jam 10:10 pagi. Eeehhh ternyata lewat Arteri langsung masuk tol dan langsung ke Cibonong amat lancar, sehingga jam 11:20 kita sudah sampai di depan lokasi Mie Janda. Keluar tol Cibinong, belok kiri ke arah cibinong jalan teruuuus sampai di kanan jalan ada SMAN 1, tidak lama di kiri jalan ada deretan kiosk dan di bagian pinggir di pinggir jalan tertulis: Mie Janda. Pas menemukan SMA 1 itu sekitar 11:17 aku sempat sms Kang Achoey, “Kang, kita kecepetan nih. Sudah hampir sampe di MJ nih. Santai aja kang, kita pesen makan dulu”

papan penunjuk

Dan…. begitu kami menemukan papan MIE JANDA, langsung parkir di depan toko… masuklah kami. Saya pikir kita pesan aja dulu… tapi ada seorang yang datang menghampiri, pemuda berkulit putih bermata ramah beralis tebal dan berjenggot sedikit dengan muka tersenyum dan langsung menjabat tanganku(ngga bisa bercipika cipiki loh sama ustad hihihi). Aku tidak menyangka bahwa Achoey sudah ada di situ…kupikir dia ada di tempat lain, lalu baru akan datang kalau aku sms.

Entah kenapa bertemu demikian membuatku terharu sekali… aku sampai tidak bisa bicara sambil mengerjapkan mata…  “Akhirnya bisa ketemu ya Kang…” Ya… aku kenal kang Achoey ini sudah sejak setahun lebih yang lalu, di blognya mas trainer. Dulu blognya bernama Achoey Sang Khilaf. Di blog lamanya aku tidak banyak berkomentar karena memang isinya banyak yang bernuansa islam. Aku tidak tahu akan  dan bisa menuliskan apa.

kacian si Kai bintitan

Tapi sejak mempunyai blog baru di cucuharis.wp, aku mulai rajin membaca dan memang Aa ini rajin sekali menulis. Setiap hari pasti ada satu tulisan, dan tulisannya memang sangat menyegarkan iman. Terkadang sendu, tulisan seorang bujang yang menanti kekasih, terkadang begitu bersemangat, menyemangati semua pembaca untuk mempunyai jiwa wiraswasta. Yang sampai sekarang aku ingat, dia pernah menulis, “Jangan berwiraswasta jika sudah di PHK, tapi bercita-citalah jadi wiraswasta”. Kira-kira gitu deh intinya… Daleeem bo!

Dan satu lagi yang aku benar-benar ingin tulis di sini yaitu…. Achoey itu cakep bin ganteng oi (hihihi jangan tersipu loh Aa… beda umur kita 10 tahun jadi aku berani tulis gini hihihi ) mungkin karena si Aa cakep jadi banyak yang suka, dan akhirnya Aa yang sulit memilih ya hihihi. Kalau di foto Aa seperti keturunan chinese, padahal…. BUKTIKAN sendiri deh kalo ngga percaya. Datanglah ke Mie Jandanya (loh aku ini mempromosikan Mie Janda atau Achoey nya sih? jadi bingung sendiri hahahah).
Well, Achoey = Mie Janda, dan Mie Janda = Achoey deh!

OK, sekarang ceritanya ke makanannya dong. Mau pesan apa? Mie Janda Kembang, Janda PR, Janda Bombom, Janda Kaya, Janda Tajir, atau Janda KT, Janda Komplit? Aku sebenernya pengennya Janda Komplit biar afdol… tapi menurut Aa specialtynya MJ adalah Janda KT, jadilah aku pesan janda KT + kriuk, sedangkan Eka pesan Janda Tajir, Riku + Kai Janda Bombom deh dan Kris Janda komplit.

Men JANDA

Kalau lihat kertas pesanan baru tahu deh “definisi”nya jenis-jenis Janda di MJ ini. Seru banget … (katanya Riku yang akhir-akhir ini seneng pakai kata “banget”… untung bukan bangget…) Janda KT yang aku pesan itu adalah Mie Janda + bakso dalam kuah telor… ada elor puyuhnya juga loh. Lalu kalau Tajir itu Bakso + Pangsit Rebus. Bombom itu cuma pakai bakso, sedangkan komplit pake semuanya hihihi. Kriuk itu adalah pangsit gorengnya.

Rasanya? nyam nyam nyam… maknyus kata orang sekarang, yummy kata saya dan leker kata nenek moyang saya. Dan kami sempat terkecoh dengan besarnya porsiannya. Dipikir …wah kecil nih, ternyata cukup banyak dan kalau pakai sarapan pagi, kayaknya aku ngga akan bisa habis (ngga nyangka si Eka  perutnya kecil (eh salah… maag nya kecil hihihi) jadi ngga habis. Elu juga sih Ka, makan roti di mobil hihihihi (ih mending makan roti aja, kayaknya dia udah makan pagi juga, soalnya aku ketemu sendok di dalam mobil huehueheueh… sorry ka kubuka rahasianya)

“Sayang ngga ada DUDA ya di sini?”…. Eits siapa bilang? Adaaaaa.
BUKAN, BUKAN Achoey yang DUDA, Achoey dijamin halal deh hahahaha. Yang duda itu nama Es nya. ES DUDA…. dan berebutlah 3 ibu yang khusus Men-janda satu hari ini memesan Es Duda. Padahal Es Duda itu adalah singkatan madu kelapa muda… DU DA deh!! Ada mangganya loh…. yummy..

Ngobrol punya ngobrol… keringat membasahi muka dan badan. (Tahun depan udah pake AC ya Aa hihihihi) Kita sampai bermimpi deh mengadakan kopdar +launching buku (entah bukunya sapa) di Mie Janda tahun depan. Juga sekaligus mau ketemuan dengan blogor, teman-teman blogger yang akrab di telinga seperti Hangga dan Bunda Menik.  Karena hari biasa, maka sulit memang untuk teman-teman lain ikut berkumpul. Dan sebetulnya Eka juga agak menyesal mengambil cuti hari Kamis karena Adrian, suaminya berkata,”Kan kalau ambil cuti hari Jumat, lebih panjang tuh…secara hari Seninnya juga libur”. Tapi perlu diketahui sodara-sodara, hari Jumat pas jam sholat Jumat, MJ tutup. Jadi memang kami betul datangnya hari Kamis. Sudah diatur Tuhan kok!

kopdar di MIE JANDA, Kris, Eka, Aku, Kai, Riku, Achoey

Sebelum pamit dari MJ, kami sempat berfoto bersama teman-teman staf MJ yang semua berpakaian hitam-hitam. Aku dan Eka juga hitam-hitam… bisa deh kita berdua jadi staff di MJ ka… hihihi. (Kamu Kasir, aku bagian promosiin aja ya? seperti pelayan di resto Jepang yang berteriak “Irrashaimasse” hihihi)

bersama staf mie janda

Kang Achoey dan staf MJ terima kasih banyak atas “service” yang memuaskan. Staf di MJ memang ramah semua, dan mereka kebanyakan berasal dari suku Jawa, sedangkan Kang Achoey dari Sunda… Karena itulah menjadi nama JANDA! (Biasanya singkatan begitu kan terjadi karena peranakan Jawa-Sunda, tapi ini karena PERSAHABATAN… alangkah indahnya!)

So, mari mari…. Mari kita MEN – Janda (Menu mi Janda!) hari ini.

(Jadi ingat lagunya Rita Effendi yang berjudul “Menjanda” dalam album “Perempuan” deh… tapi semoga kita perempuan yang di sini jangan menjanda beneran ya? cukup makan Mie Janda saja)

sampai tahun depan
sampai tahun depan

Dan tulisan ini sengaja saya persembahkan untuk Kang Achoey di postingan saya di Twilight Express genap ke 600. Semoga SUKSES selalu!