Arsip Tag: lego

Legoland Discovery Center Tokyo

Tulisan yang tertunda, mengenai liburan musim semi kami di awal April.

Setelah pergi nonton Doraemon bareng, aku janjian dengan Sanchan untuk membawa anak-anak ke Legoland Discovery Center yang terletak di Odaiba. Gen sudah lama ingin mengajak anak-anak ke sana sejak mengetahui dibukanya Legoland itu, tapi belum pernah terlaksana. Lucu aja, pas anak-anak ditanya, “Pilih mana Toshimaen (semacam Dufan dengan segala atraksinya) dan Legoland? ” Ketiganya menjawab dengan tegas, LEGOLAND!. Wah cocok deh Riku dan Kai dengan Yuyu, karena mereka bertiga suka lego. So, aku hunting karcis Lego via internet, karena aku tidak mau antri 😀

Dari web resminya, aku mengetahui bahwa dijual paket tiket kolaborasi dengan Madame Tussaud seharga 2500 yen untuk dewasa dan 2100 untuk anak-anak. Wah, lumayan juga potongan harganya, jadi kami berdua, aku dan Sanchan sepakat untuk pergi ke Legoland tanggal 1 April yang lalu. Karena tempat legoland itu cukup jauh dari rumah kami (butuh waktu sekitar 1,5 jam) jadi kami memilih untuk masuk jam 11-11:30 an. Mereka memakai sistem kontrol pengunjung dengan pembagian jam masuk jika penuh. Kami naik JR dan monorail Yurikamome dari stasiun Shinbashi. Sengaja kami menunggu kereta berikutnya supaya anak-anak bisa duduk paling depan dan melihat pemandangan kawasan Tokyo Beach tanpa halangan. Oh ya aku baru sadar bahwa yurikamome itu berjalan dengan ban, setelah Kai mengatakan :”Ma, kereta ini tidak ada relnya loh. Pakai ban!” Jeli bener deh si Kai itu.

yurikamome line

Sambil menikmati perjalanan selama 18 menit dengan biaya yang tidak murah (tiket dewasa one way 310 yen!), aku ikut menikmati pemandangan yang ada. Tanggal 1 itu tidak hujan tapi agak mendung. Tapi menurutku lumayan bagus sehingga tidak terlalu silau oleh cahaya mentari. Aku sempat memotret selama perjalanan. Ya, sudah cukup lama aku tidak ke sini, terakhir aku ke sini waktu bersama temanku Ira W yang kutulis di  “Obat Kekecewaan” sekitar satu setengah tahun yang lalu. Senang juga mempunyai alasan untuk bisa datang ke Odaiba lagi. Tanpa Sanchan, aku malas mengajak anak-anak sendirian 😀

So, begitu sampai, kami langsung pergi ke DECK Odaiba lantai 3 tempat Legoland berada. Sama tingkat dengan Joypolis dan Madame Tussaud. Tapi tentu saja dong deh ya, mama-mama nya mau berfoto dulu di Deck yang menghadap ke Rainbow Bridge dan membuat anak-anak tidak sabar untuk berlari masuk 😀 Tapi kami sampai di depan antrian Legoland pada waktu yang ditentukan yaitu pukul 11:00. Eh, masih harus antri? Sebentar sih, tapi sambil antri itu kami sempat berfoto dan aku mengatakan pada Sanchan, bahwa Gen sebetulnya ingin menjadi anggota tahunan. Dengan membayar 4500 yen, kami bisa keluar masuk selama setahun kapan saja, tanpa ditolak (kalau penuh yg bukan anggota pasti ditolak), dan selain itu kami mendapat potongan 10% untuk semua pembelian di dalam Legoland. Well, Sanchan bilang, kita lihat saja dulu dalamnya gimana… kalau bagus, boleh juga kita beli annual pass nya.

lift menuju lantai 7 dan factory nya

Setelah diperiksa karcis pemesanan dari email yang dikirim, anak-anak mendapat souvenir Lego dan kami diantar ke lift yang akan membawa kami ke lantai 7. Rupanya permainannya sendiri berada di lantai 7, sedangkan pintu masuknya di lantai 3. Di muka lift saja, eh bahkan di tempat antrian sudah ada bentuk-bentuk Lego. Gemes deh lihatnya. Ceritanya kita masuk ke pabrik legonya dengan mesin-mesin yang menjelaskan tentang pembuatan lego dan penyebarannya (pemasarannya) di seluruh dunia. TAPI anak-anak mana mau berlama-lama di sini, mereka mau langsung masuk dan mencari surprise apa lagi yang ada.

Begitu masuk lorong, kami melihat antrian yang cukup panjang… Dan ternyata itu atraksi Kingdom Quest, yang memungkinkan penumpang kendaraan (max  5 orang) untuk menembak musuh-musuh kerajaan 😀 Di sini juga ada tempat khusus yang dipasang kamera sehingga waktu kita keluar ada foto kita di dalamnya. Tentu saja dijual (mahal) seharga 1000 yen berupa foto, atau bisa juga berupa gantungan kunci dan magnet. Sayang waktu kami membeli foto yang pertama kami belum dapat diskon 😀 Ssstt tempat ini menjadi tempat favorit mama Imelda dan mama Sanchan loh 😀

Setelah Kingdom Quest kami memasuki sebuah ruangan yang berisi maket kota Tokyo dari lego semua. Tentu saja ada semua tempat wisata di Tokyo termasuk Tokyo Tower dan Sky Tree. Ada pula pojok khusus Kyoto. Yang bagusnya di sini dipamerkan suasana Tokyo di siang hari dan malam hari…. Lampu-lampu malam hari dibuat sedemikian rupa sehingga membuat kami seakan memang berada di Tokyo pada malam hari. Duuuh detil pembuatan bangunan, jembatan, orang-orang dan mobil2 itu benar-benar bagus deh! Mungkin pecandu Lego ingin membuat kamar khusus seperti ini di rumahnya 😀 Aku cukup menikmati pemadangan di sini, tapi anak-anak tentu cari yang lebih seru lagi.

Lebih seru buat anak-anak berarti bisa membuat lego sendiri, bisa berlari, manjat-manjat memakai badannya. Dan di bagian tengah memang terpasang jungle jim besar berwarna merah kuning seperti lego, tempat anak-anak bermain. Sebelum masuk jungle jim ini semua anak harus melepas sepatunya. Bisa dibayangkan betapa banyak sepatu di depan pintu masuknya. Dan ibu-ibu semua duduk di sekitar situ, dan atau di meja kursi dari tempat makan yang disediakan. Setelah lama di situ baru aku perhatikan bahwa harga-harga di tempat makan itu tidak mahal sama sekali. Kalau di disney misalnya, mereka memasang harga mahal untuk makanan yang rata-rata tidak ada seharga 500-an. Nah kalau di legoland ini ada makanan seharga 500-an, yang cukup untuk anak-anak. Tentu saja untuk ibu-ibunya tidak level 😀 Karena biasanya ibu-ibunya makan di restoran di luar legoland, bangunan DECK yang banyak diisi restoran-restoran yang enak-enak. Pada hari kedua aku dan Sanchan bahkan makan siang di restoran Surabaya di Aqua City yang terletak di sebelah DECK. (Ketahuan deh pergi ke legoland sampai dua kali :D)

junglejim dan wc di legoland

Setelah puas bermain, anak-anak menjemput jacket yang kami pegang, dan kami antri di tempat menonton film 4D. Film pertama yang kami lihat adalah ”Spellbreaker”, cerita tentang lego kingdom deh… Dan terus terang lebih bagus dari film ke dua yang berjudul apa racer gitu hehehe. Jadi film di 4D Cinema itu ada 2 judul yang diacak pemutarannya. Dan kalau ke sini HARUS nonton 😀 Aku sendiri suka sekali cinema 4D ini karena seruuuuu. Ada angin, air, bahkan “salju”… pokoknya seru!

Lego Racer: build and test!

Setelah keluar dari cinema langsung ada pojokan yang berjudul Lego Racer: build and test…nah anak-anak langsung deh ngedon di sini. Mereka buat mobil-mobilan sendiri dan langsung coba di track yang disediakan. Padahal di sebelahnya ada juga pojok untuk cewek-cewek …di sini sepi deh. Memang kelihatan penggemar lego kebanyakan anak-anak laki-laki. Jadi sementara anak-anak main ya mamanya ngobrol ngalor ngidul seh.

Eh tapi kami sempat keluar untuk makan dan membuat kartu anggota tahunan. Yang aku dan Sanchan rasa hebat tuh, kami kan sudah bayar 2800 untuk beli karcis hari itu, dan untuk kartu anggota tahunan itu harus bayar 4500 yen per orang (dewasa dan anak-anak sama harganya). Tapi kami cukup membayar kekurangannya saja sejak hari itu bisa berlaku. Wah… untung sekali. Kami bayangkan kalo di Indonesia pasti ngga bisa seperti itu. Karcis yang sudah terpakai pasti dianggap hangus dan kami harus tetap bayar 4500 yen. Bengong juga waktu disuruh bayar sisanya saja. Salut deh.

permainan untuk anak-anak di bawah 6 tahun juga ada, jadi Kai bisa main sendiri

Akhirnya tanggal 1 April itu kami bermain di Legoland sampai jam 7:30 malam, dan makan malam di Odaiba. Sampai di rumah pukul 11:30, bersamaan dengan papa Gen pulang. Tentu saja anak-anak ramai menceritakan kunjungan mereka ke Legoland, dan tidur setelah pukul 12:30 malam. Dan tanggal 4 Aprilnya kami pergi lagi ke sana untuk bermain lagi, dan dari awal anak-anak sudah diwanti-wanti tidak boleh beli souvenir di toko legonya, meskipun akhirnya kami kasian juga dan memperbolehkan membeli lego seharga 350 yen. (Tanggal 1 masing-masing anak mendapat jatah 1000 yen). Dan kami sampai di rumah jam 9 malam 😀 Dingin juga mengayuh sepeda di malam harinya. TAPI wajah anak-anak itu puas sekali bisa bermain seharian eh dua-harian di Legoland, bersama teman yang sehobi juga.  Dan karena kami sudah punya passport tahunan, bisa deh pergi setiap saat sampai dengan tanggal 31 Maret 2014 Yeahhhh… Bisa juga antar tamu dari jakarta tapi tamunya bayar karcisnya sendiri ya hehehehe 

rainbow bridge waktu kami datang(siang hari), dan waktu pulang (malam hari)

Meri Kurisumasu

Meskipun tanggal 23 Desember kami libur karena memperingati ulang tahun Kaisar, biasanya tanggal 24-25-26 Desember kami yang tinggal di Jepang tetap harus bekerja karena tanggal-tanggal tersebut tidak libur. Kebetulan saja tanggal 24 Desember tahun ini jatuh pada hari Sabtu sehingga banyak orang yang bisa libur beruntun. Tapi Gen harus bekerja hari Sabtu itu, sehingga kami tinggal di rumah saja. Untung dia bisa pulang cepat (jam 6 sore) sehingga bisa makan malam bersama. Aku cuma bisa memasak ayam panggang dan membuat kue tart yang dihias anak-anak. Kalau natal tahun lalu berbentuk pohon Natal 2 D, kali ini aku putar otak untuk membuat pohon Natal 3 D dengan membuat susunan dari kue bulat yang mengecil ke atas. Anak-anak juga senang dan tidak sabar untuk makan 😀

Riku menghias kue dengan whipping cream dan coklat

Lucunya kami makan Christmas dinner sambil menonton TV acara “Tensai! Shimura Dobutsuen” dan ikut menangis melihat cerita-cerita tentang anjing yang menolong majikannya. Apalagi cerita mengenai Dog Therapist, anjing yang khusus dilatih untuk menemani anak-anak yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Kebanyakan anak-anak ini menderita penyakit berat, dan sebagian besar tidak mempunyai harapan hidup. Dengan kehadiran Dog Therapist itu ada anak-anak yang menjadi riang dan bersemangat untuk tetap hidup, meskipun ada pula yang tidak tertolong. Tapi sisa waktu hidupnya bisa dilewati dengan gembira. Ada dua cerita yang disampaikan, seorang balita  berusia 1 th yang menderita perdarahan otak (meninggal setelah 6 bulan) dan seorang berusia SMP yang menderita leukemia dan sembuh! Anak yang sembuh ini takut mati dan tidak mau “membuka hatinya”. Namun ketika melihat anak ini, si anjing memandangnya dan mendekat, berusaha berteman. Padahal Dog Therapist itu sebetulnya tidak boleh memberikan reaksi terhadap pasien, tapi pada anak-anak tertentu (si penderita Leukemia dan balita 1 tahun yang sebelum sakit sangat suka anjing) anjing ini seakan mempunyai ikatan/panggilan batin.

Ada santa claus mini di atas kue, dan santa claus kecil yang bajunya salah kancing!

Setelah acara “Shimura Dobutsuen” ini kami menonton seri “Youkai Ningen (Manusia Jejadian) ” yang merupakan tayangan terakhir. Manusia Jejadian ini merupakan penciptaan manusia dari seorang profesor yang gagal, sehingga wujudnya seperti monster tapi baik hati. Mereka berwujud seperti manusia biasa, tapi jika marah/emosi berubah menjadi monster. Mereka ingin menjadi manusia sesungguhnya  dan menjadi cara-cara. Lalu diketahui bahwa untuk menjadi manusia harus mempunyai Zen (hati yang baik) Aku (hati yang jahat). Manusia memang terdiri dari dua unsur itu, tergantung bagaimana dia menekan perasaan jahatnya. Akhirnya mereka memilih untuk tidak menjadi manusia daripada harus memasukkan unsur jahat ke dalam diri mereka.

wajah gembira Riku mendapat hadiah dari Opa-Omanya

Biasanya setelah film seri ini, kami menonton acara dari grup musik terkenal Arashi, tapi karena anak-anak ingin mendapatkan hadiah dari Santa Claus, mereka akhirnya tidur juga. Karena aku bilang, Santa Claus datangnya waktu kalian tidur. Kalau tidak tidur ya tidak datang. Jadi begitu Riku dan Kai tidur, sekitar pukul 11 malam, aku mempersiapkan kado untuk anak-anak di bawah pohon  Natal. Dan ternyata saudara-saudara, Riku bangun jam TIGA pagi, menemukan hadiah itu dan membangunkan aku, “Ma, ada hadiah dari Santa, aku boleh buka ngga? Nanti aku foto deh”
“Ngga boleh. Ini jam 3, kamu harus tidur lagi. Jam 6 baru boleh bangunkan mama dan boleh buka. Mama tidak perlu foto hadiahnya, mama perlu foto kalian menerima hadiahnya”
Jadi deh dia tidur lagi dan pasti tidak nyenyak karena penasaran.

Riku langsung membuka satu-satu legonya dan merakitnya

Teng jam 6, Riku sudah membangunkanku, padahal aku masih ngantuk sekali. Dan aku menyuruh dia menungguku. Akhirnya aku kasihan juga, sehingga aku bangun untuk memberikan hadiahnya. Gen juga sudah bangun, sehingga kami bisa melihat mukanya yang begitu berseri mendapatkan hadiah, yang memang sudah lama dia inginkan. Lego – Pirates of Caribbean yang harganya memang mahal, sehingga kami hanya bisa belikan pada waktu khusus saja. Tapi selain itu sebagai hadiah dari opa-omanya dia dan Kai mendapat advent calendar Lego yang star wars. Sebetulnya ini merupakan pilihan Gen yang melihat bahwa di dalam kotak advent calendar itu banyak lego yang anak-anak belum punya. Tapi melihat Riku merakit satu-per-satu lego itu, dalam waktu singkat, Gen melihat dengan kagum. Well jaman dulu belum ada sih mainan seperti begini.

Biar baru 4 tahun, Kai sudah bisa merakit sendiri parts Lego dari Star wars sambil melihat petunjuknya. Kadang kalau perlu tenaga untuk menekan atau melepas partsnya dia minta bantuan kakaknya.

Tapi Riku memang cepat sekali merakitnya. Bayangkan mulai jam 6:30 sampai 12:30 dia menyelesaikan 3 kotak Lego, termasuk satu kapal “Black Pearl” nya Jack Sparrow. Kapal dari Lego ini memang keren! Detil dari film Pirates of Caribbean banyak terekam menjadi parts lego yang unik. Mulai dari koin sampai rambut gondrongnya si Sparrow. Tapi biarpun aku bicara panjang lebar, kalau tidak mengerti Lego seperti situkangnyampah, mungkin tidak bisa mengerti apa sih enaknya main Lego. Iya kan? 😀

Kai meskipun dia belum bisa merakit sendiri kalau terlalu rumit, kami belikan juga seri Pirates ini, sehingga mereka berdua bisa bermain bersama.Tentu saja Kai ingin yang sama juga dengan kakaknya. Tapi dengan alasan pembuatannya sulit (padahal karena mahalnya) dan hanya boleh untuk anak berusia di atas 8 tahun, maka Kai berhasil kami tenangkan. Dia puas dengan merakit sendiri Advent Calendarnya, sedangkan Legonya yang Pirates dikerjakan papanya.

Riku dan Kai bersama kapal Black Pearl (Pirates of Caribbean)

Pagi yang tenang dan cerah. Aku mencuci pakaian dan melakukan rutinitas kerjaan ibu-ibu, sambil melihat mereka konsentrasi membuat lego. Sesekali aku mengintip soc med di internet serta memotret kegiatan mereka. Damai…. apalagi mendapat banyak ucapan selamat dari saudara dan teman-temanku. Meskipun Tokyo dingin, hati kami hangat merayakan hari Natal, hari kelahiran Yesus Kristus. DeMiyashita mengucapkan Selamat Natal bagi umat kristen dan terima kasih untuk semua ucapan yang diberikan kepada kami.

 

Merry Christmas from deMiyashita

*** Meri Kurisumasu adalah pengucapannya orang Jepang untuk Merry Christmas. Kalimat lainnya yang diucapkan adalah kurisumasu omedetou (omedetou = selamat) ***

 

Christmas Shopping

Hari Minggu (11 Desember) kemarin, aku bertemu adikku yang tinggal di kota tetangga karena mau menitip koper kosong untuk diisi 😀 (ngga deng, cuma mau kasih pinjam koperku hehehe). Ya dia akan mudik untuk Natalan nanti ke Jakarta. Sudah menjadi kesepakatan kami berdua, untuk gantian pulang menengok orang tua. Kalau aku bisanya waktu libur musim panas, yaitu bulan Juli/Agustus, dia akan pulang waktu Natal dan…. Golden Week yang kebetulan berdekatan dengan ulang tahun Mama di bulan Mei. Jadi paling sedikit orang tua kami bisa bertemu dengan anak-anaknya yang di Jepang 3 kali setahun. Meskipun ruginya kami jarang sekali bisa pulang bersamaan, kecuali ada acara khusus seperti waktu itu ulang tahun pernikahan mama papa yang ke 40.

Kami janji bertemu di stasiun ShinYurigaoka, dan makan siang bersama di sebuah restoran Jepang bernama Yumean 夢庵 yang termasuk semacam family restaurant. Waktu kami masuk ke restoran itu, kami diwajibkan melepas sepatu dan menaruhnya ke dalam loker sepatu khusus tamu. Loker itu terbuat dari kayu, berupa laci-laci dengan kunci dari kayu juga. Di bagian bawah kotaknya lebih tinggi dari yang lain, khusus untuk menaruh sepatu lars panjang (boots). Pada musim dingin begini, banyak wanita memakai boots tinggi, sehingga hampir semua laci boots itu penuh. Untung saja aku tidak pakai boots tinggi, sehingga bisa dimasukkan ke laci biasa. Tapi kupikir loker ini tidak ramah untuk orang asing, karena nomornya pakai hiragana 😀

Loker penyimpan sepatu bernuansa tradisional di restoran. Kuncinya juga dari kayu! Bagian bawah yang panjang untuk sepatu boot.

Kebanyakan restoran yang mempunyai ruang tatami atau meja dengan horigotatsu (kursi rendah dengan kaki seperti dimasukkan dalam bak tanpa air tentu) . Beda tatami dengan horigotatsu, jika tatami = lesehan kita harus melipat kaki dan duduk di lantai, tentu dengan resikoperut berlipat, sedangkan horigotatsu itu hampir sama dengan duduk di kursi biasa, tapi kakinya masuk ke dalam tanah. Kami mendapat tempat duduk di horigotatsu. Kemudian kami memilih makanan dari menu yang tersedia. Biasanya musim dingin, menu yang populer adalah kerang Kaki (oyster), dan nabe atau rebusan yang dimakan panas-panas. Aku suka makan kerang Kaki  tapi karena aku pernah keracunan, aku hanya makan yang digoreng saja. Tidak berani lagi makan yang mentah. Keracunan kerang itu beresiko kematian!

Horigotatsu dan Oyster goreng

Setelah makan, kami berenam pergi ke departemen store yang menyatu pada stasiun tersebut. Tadinya sih aku hanya menemani adikku yang mau berbelanja. Tapi akhirnya aku juga ikut belanja deh. Apalagi waktu dia masuk ke toko khusus jual snacks. Wah, jadi tergoda deh membeli untuk Riku dan Kai (dan mama Imelda hahaha). Toko khusus ini memang jauh lebih murah dari tempat lain, sehingga mengundang orang untuk borong. Yang lucu di sini banyak permen/jajanan jadul. Jadi sekaligus bernostalgia deh. Tapi di antara jajanan jadul itu ada yang baru satu kali aku coba namanya morokko fruits yoghuru モロッコ・フルーツ・ヨーグル.

kiri : Kai pertama kali bermain game "garuk" , kanan: snack jadul

Terus terang aku itu jarang pergi ke mall, jadi kesempatan juga sekalian dengan adikku jalan-jalan cuci mata. Kenapa aku jarang ke mall? Ya, karena aku lebih sering belanja online. Bisa pilih barang tanpa harus keluar ongkos, bahkan sering kali di online harga barang jauuuh lebih murah. Negatifnya: jarang jalan kaki dan bawa barang berat. Ringan di dompet, berat di badan hahaha.

Riku, Kai dan hadiah natal dari tantenya

Setelah itu kami pulang ke rumah adikku dan menikmati kopi toraja. Saat itu adikku memberikan hadiah natal untuk Riku dan Kai. Semestinya sih ditaruh di bawah pohon Natal, tapi…anak-anak mana bisa tahan dan sabar menunggu hari. Langsung deh dibuka saat itu juga. Dan tentu saja Riku senang sekali dengan hadiahnya, karena itu salah satu wishlistnya : Lego Pirates of Caribbean Isla de Muerta (Island of Death). Sedangkan Kai dapat yang On Stranger Tides. Terima kasih ya tante Titin! Dan selamat merayakan hari Natal dan Tahun Baru bersama Opa dan Oma. Peluk cium kami untuk semua di Jakarta.

Sebagai bonus foto, adalah foto gerhana bulan total yang terjadi Sabtu tanggal 10 Desember 2011 sekitar pukul 10-11:30 malam. Cuma berhasil memotret beberapa, karena posisi memotret yang sulit (persis di atas kepala) dan udara yang dingiiiiin sekali!

Gerhana Bulan Total Sabtu 10 Desember 2011 malam.

Mainan, antara Kreatifitas dan Investasi

Anak-anak dan mainan memang tidak bisa dipisahkan. Sehingga terkadang orang dewasa yang masih suka dengan mainan akan diejek, “Kamu itu seperti anak-anak saja!”. Padahal mainan itu juga diperlukan oleh orang dewasa sebagai hiburan.

Di Jepang ada peribahasa” よく学びよく遊べ Banyak belajar banyak bermain”. Bahkan ditekankan dalam keterangan pepatah itu : りっぱな人間になるためには、勉強するときにはしっかりと勉強をして、遊ぶときにはとことん遊ぶべきだということ (Untuk menjadi manusia yang sempurna, waktu belajar, belajar sungguh-sungguh dan waktu bermain juga harus benar-benar bermain). Dan untuk bermain memang ada dua jenis, dengan alat atau tanpa alat. Setiap orangtua tentu ingin membelikan alat bermain/ mainan kepada anak-anaknya dan idealnya memang membelikan mainan yang edukatif dan kreatif sehingga  selain bermain, anak-anak juga dirangsang untuk berpikir dan berkreasi. Dan mainan edukatif  ini beraneka ragam jenis dan bentuknya.

Anakku Riku (8tahun) belum sampai setahun ini sangat getol dengan mainan LEGO. Tahu Lego kan? Sering orang Indonesia menamakan LEGO untuk segala macam mainan balok, tapi sebetulnya Lego adalah merek! Ya fenomena yang sama dengan penamaan semua carian penghapus dengan TippEx padahal mereknya bukan TippEx, atau Yamaha untuk semua sepeda motor. (Bisa baca tulisannya Donny yang ini). Kembali lagi ke Lego, aku cukup terperanjat waktu aku bercakap-cakap dengan sahabatku Ria, dan dia mengatakan dia tidak tahu LEGO itu apa. Pikirku semua orang tahu LEGO itu apa…. padahal jelas saja kalau tidak punya anak, mungkin tidak tahu apa itu LEGO. Kata Ria: “Maklum mbak dulu waktu kecil tidak ada uang untuk beli mainan begitu….” Waaaah aku juga sama lah. Aku bahkan sama sekali tidak punya mainan, baik boneka, atau karakter-karakter lain. Makanya begitu gede aku pernah membeli boneka anjing besar yang kunamakan Ben! (Padahal ngga dimainin juga sih….. memang dari sononya tidak suka mainan!)

Setiap "merubah" kreasi legonya, Riku sendiri mengambil foto dokumentasi. (untung digital yah hihihi)

Aku juga tidak tahu sejak kapan aku tahu soal mainan LEGO. Mungkin aku tahu lewat iklan atau gambar di TV. Dan aku pernah melihat sebuah tayangan di televisi Jepang mengenai pabrik Lego (entah di mana) yang begitu besar, dan masing-masing pegawai bisa memakai sepatu roda dan atau segway dalam pabrik dan dibiarkan mempunyai jiwa bermain, untuk bisa membuat lego-lego bentuk baru. Rasanya enak sekali bekerja di sana.

 Lego berasal dari Billund, Denmark yang sejarahnya dimulai tahun 1940-an. Penciptanya Ole Kirk Kristiansen yang awalnya membuat balok-balok kayu tahun 1932. Perusahaannya bernama Lego, berasal dari bahasa Danish (Bahasa yang dipakai di Denmark) : leg godt yang berarti bermain dengan baik. Pada tahun 1947 bahan balok-balok ini berubah menjadi plastik, dan tidak mengalami kemajuan karena banyak orang yang lebih suka pada balok-balok kayu. Lego modern dikembangkan tahun 1958 dengan suatu ukuran yang pasti, sehingga loga dari tahun 1958 itu masih tetap dapat dipakai (disambung-sambungkan) sampai dengan sekarang.

Lego pertama Riku waktu dia berusia 1 tahun adalah DUPLO yang ukurannya besar. Kebetulan paket yang kami beli itu berjudul “kebun binatang” sehingga ada bentuk binatang, pohon kelapa, bunga selain kotak-kotak  beraneka ragam. Baru waktu dia berusia 4 tahun dia mempunyai lego ukuran standar, bahkan sampai mempunyai 2 kotak besar, satu di rumah kami dan satu di rumah mertua. Tapi waktu Riku kecil, dia belum begitu aktif bermain lego ini, karena mungkin belum menemukan “keasyikan”nya.

Tapi waktu Kai berusia 3 tahun, dia sering mengambil Legonya Riku. Mungkin mulai saat itu  Riku  (usia 7 tahun)merasa tidak mau kalah dengan adiknya, dan kebetulan 3 teman bermainnya gandrung dengan lego. Game nintendo yang mendominasi permainan waktu Riku berusia 5-6 tahun akhirnya sekarang hanya dipegang sekali sebulan (dan mamanya bersorak-sorak)

Dan kalau berbicara soal mainan Lego ini, aku sering harus menahan nafas. Harganya mahal! Karena itu kami hanya membelikan waktu ada peristiwa khusus misalnya ulang tahun dan natal. Tapi melihat “passion” dia waktu membangun bentuk-bentuk yang dia inginkan, melihat kemungkinan-kemungkin memakai parts kecil-kecil atau bahan lain digabungkan untuk mewujudkan kreasi yang dia inginkan, aku juga jadi semangat untuk membantu dia mengumpulkan bagian-bagian yang dia inginkan (kalau perlu aku berkorban tidak membeli lunch waktu kerja untuk bisa membelikan parts itu). Dia membuat luncuran dari karton bundar bekas tissue WC, atau memakai benang transparan menggantungkan jendela atau orang-orangan supaya dapat meluncur atau melayang. Dengan bantuanku dia membuat mantel hitam bagi orang-orangannya. Jadi lego yang dijual dengan motto “membina kreatifitas” juga bisa diperluas dengan melengkapi memakai bahan-bahan lain. Sayangnya Riku masih belum bisa menambahkan “motor” untuk menggerakkan parts-parts atau menambahkan lampu kecil. Dia masih terlalu kecil tapi jalan menuju itu terbuka lebar.

Sekarang Riku sedang jatuh cinta pada set yang mengambil cerita dari Star Wars, dan kalau mau mengumpulkan semuanya bisa jutaan. Lucunya dia malah tidak mengikuti bentuk yang sudah ada, tapi membuat kreasi sendiri, misalnya pangkalan dan pesawat yang aneh-aneh, tidak sesuai dengan manualnya. Setiap kali ada parts baru yang temannya punya, maka dia juga akan minta dibelikan. Biasanya kalau mahal aku menyuruhnya menunggu sampai Natal. Kalau murah, dia harus menunjukkan test dengan nilai 100 dulu baru dibelikan.

Yang payah, suamiku memang sering mencari informasi mengenai Lego untuk Riku. Loh kok payah ya? hehhee… iya maklum emak-emak selalu khawatir untuk mengeluarkan duit untuk mainan. Bisa dibayangkan kalau tambah suka Lego, tambah banyak yang dibeli, tambah banyak uang yang dikeluarkan, dan…tambah berantakan deh rumahnya :D. Tapi Gen (dan saya tentunya) ingin agar anak-anak mempunyai sedikitnya satu hobi yang ditekuni sungguh-sungguh. Sekarang Riku masih dalam proses mencari seperti menangkap kupu-kupu dan membuat specimen, atau mengumpulkan perangko, memasak dll.

Gen menemukan sebuah informasi tentang sebuah proyek  untuk membuat “Sky Tree” dari 133.320 buah lego yang kemudian dipamerkan di National Museum of Emerging Science and Innovation tanggal 22 Mei yang lalu. Proyek ini diikuti 100 anak selama 40 hari! Sayang kami terlambat mendaftarkan Riku untuk ikut acara itu (tempatnya jauh juga sih). Katanya sih skalanya 1:100 dibandingkan aslinya. Bisa dibayangkan semangat anak-anak itu membangun sesuatu yang spektakular, dari mainan.

Selain itu dari informasi yang didapat  Gen, di Universitas Tokyo, universitas nomor satu di Jepang, ada klub pecinta Lego (Bayangkan mahasiswa saja masih suka mainan Lego hihihi)! Jadi Riku pernah berkata: “Aku mau masuk klub itu”
“Ya tentu boleh saja, tapi masuk Universitas Tokyo itu susaaaaah sekali loh. Musti belajar rajin, karena hanya anak pintar yang bisa masuk Universitas Tokyo”….
Ya, memang katanya banyak anak yang mau masuk Universitas Tokyo hanya karena ingin masuk klub Lego itu. hihihi. Semoga tercapai deh (dan tidak berubah).

Jadi memang kadang kita harus mengeluarkan uang untuk membeli mainan bagi anak-anak. Anggap saja mainan itu sebagai INVESTASI untuk masa depan anak-anak kita. Soal mahal atau murah tentu bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan prioritas keluarga masing-masing.

Artikel ini untuk memeriahkan Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak

 

(Dan sebetulnya hari Minggu siang ini, Riku dengan papanya sedang pergi ke Festival SMP/SMA almamater papanya, yang menampilkan juga klub Lego. Tapi aku tidak bisa menunggu foto-fotonya karena hari ini adalah hari terakhir Kontes Mainan Bocah)

Pada Hari Minggu

kuturut ayah ke kota…. (emangnya aku tinggal di desa)

naik delman istimewa kududuk di muka (boro-boro delman, di sini bajaj aja ngga ada)

kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja (pak supir aja deh)

mengendarai kuda supaya baik jalannya (supaya jangan ngebut!)

tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuuuukkk (brummm brummm)

***********

Aku mau bercerita tentang hari Minggu yang lalu, Minggu tanggal 5 Juni yang lalu. Kami menghabiskan waktu dengan… belanja.

Tapi belanjanya bukan yang seperti dibayangkan man-teman. Karena bukan belanja harian/bulanan sebangsa makanan, atau baju/sepatu dan lain-lain. Tapi belanja untuk menunjang hobi lama dan baru deMiyashita.

Tujuan kami hari itu adalah Stasiun Nakano, karena hanya di situ ada barang yang kami cari. Jadi kami berempat naik bus, lalu naik kereta dari Kichijoji. Sesampai di Nakano kami langsung ke lantai 2  sebuah mansion (apartemen) yang penampakannya seperti ini:

Toko khusus all about insect yang bernama Mushi-sha. Masuk sini bisa beli kumbang kelapa, jenis kumbang lain yang masih hidup atau sudah mati, peralatan menangkap/membesarkan dsb. Di tempat terpisah ada kupu-kupu dari Indonesia juga. Muahal!

Kalau bukan demi anak (dan suami) aku jelas-jelas TIDAK MAU masuk sini. Hiiii… bergidik aku lihat kumbang-kumbang dalam toples bergerak. grotesque... Ada juga kepompongnya, di dalam tanah yang masih musti tunggu menetasnya. Penampakan dalamnya seperti ini:

Ini penampakan dalamnya, waktu 3boys pergi pertama kali dan aku tidak ikut. Waktu aku ke sana banyak orang loh. Terutama anak laki-laki.

Memang menjelang musim panas, hobi mengumpulkan kumbang dan kupu-kupu memuncak. Aku juga lihat loh anak perempuan datang melihat-lihat. Duh aku rasa anak Indonesia tidak ada yang sampai sesuka ini pada serangga. Bayangkan sampai ada toko khususnya loh.

Poster tentang toko khusus ini. Hebat deh orang Jepang kalau sudah suka pada sesuatu. Mereka benar-benar mendalaminya. Riku saja sudah bisa membedakan beberapa jenis kupu-kupu sekarang.

Sebuah poster di luar toko menunjukkan bahwa banyak kumbang ditemukan di Indonesia terutama Jawa dan Sumatra. Bahkan toko ini juga mengatur paket tour ke pulang Flores khusus untuk menangkap serangga! Kalau orang betawi bilang Edan hehehe.

Frame ini yang kami beli di toko khusus serangga di Nakano.

Sebetulnya kami ke sini hanya mau membeli kotak kaca untuk penyimpanan kupu yang telah dikeringkan. Kira-kira sebesar B5 harganya 1500 yen.(Begitu pulang Riku langsung memasukkan kupu-kupunya yang telah kering. Keren juga euy hasilnya.

Sesudah dari toko khusus serangga ini, kami makan siang dan langsung mencari barang kedua yang kami perlukan. Yaitu album perangko. Ya, tidak setiap toko buku menyediakan buku perangko. Dan berkat perangkat GPS di HPku, aku menemukan beberapa toko buku di sekitar situ. Langsung aku telepon dan mencari toko yang tidak terlalu jauh itu.  Mereka hanya punya  2 buku, padahal kalau ada tiga aku mau beli juga. Tapi ya sudahlah, yang penting ada untuk Riku dan Kai.

Kedua anakku memulai hobi baru. Kita lihat bisa lanjut terus sampai kapan 😀

Sayangnya album yang ada di Jepang kebanyakan berupa clear file dengan kertas hitam berpita transparan, bisa dikeluar masukkan. Aku tidak suka yang ini, aku lebih suka buku lama, benar-benar seperti album. Tapi karena jarang sekali album yang seperti kumau itu, jadi beli saja yang ada. Sebesar B5 (22 x 17 cm) , 8 halaman harganya 1365 yen (menjawab pertanyaan mbak Devi dalam posting Dara-dara). Mahal menurutku. Dan memang sih hobi mengumpulkan perangko ini mahal, seperti yang dikatakan pak Agus Siswoyo di postingan Dara-dara. Karena sebetulnya selain mengumpulkan perangko bekas hasil surat-menyurat, kita bisa membeli perangko bekas “kiloan” atau mengumpulkan perangko baru yang belum dipakai.

Stamp album (Stock Book) di Jepang banyak yang berbentuk begini.

Nah, dulu waktu aku masih single dan kaya (ho ho) aku selalu membeli 1 sheet perangko setiap ada perangko baru terbit. 1 Sheet berarti sekitar 10-20 perangko. Tergantung nominalnya berapa, kalau 50 yen berarti 1 sheet bisa 1000 yen kan. Dan, Pos Jepang selalu menerbitkan perangko baru sedikitnya 2-3 jenis per bulan! Belum lagi masing-masing prefektur juga bisa menerbitkan perangko khusus. Duh, tak ada habisnya jenis perangkonya, tapi yang pasti habis uangnya 😀

Koleksiku. Kiri atas adalah perangko kuno, jaman pendudukan Jepang, bertuliskan JAWA. Kanan atas, perangko Jepang banyak yang bersambung gambarnya spt itu. Kiri/kanan bawah clear file tempat menyimpan perangko lembaran/sheet.

Untuk perangko dalam 1 lembaran itu aku memasukkan ke dalam clear file biasa saja bukan yang khusus untuk perangko, karena lebih murah. Koleksiku yang 1 sheet baru 5 album. Sedangkan yang dimasukkan ke album baru 3 album. Ini yang di Jepang. Yang di Indonesia sih banyak hehehe, sudah ada 12 album dari seluruh dunia! Setiap mudik aku pandangi dan simpan lagi. Untung tidak kena lembab, jadi kondisi masih bagus.

Lihat apa yang kutemukan dalam Koleksi Gen (beruntunglah kami berdua hobinya sama) . Perangkonya Agus Salim, satu-satunya perangko Indonesianya sebelum kami menikah. Tentu saja ada byk koleksi kuno dari Indonesia milik alm kakeknya.

Jadi sepulang dari Nakano, deMiyashita langsung berkutat dengan hobinya. Ada yang masukkan perangko ke album, ada yang memasukkan kupu-kupu ke dalam frame. Kai yang terkecil meskipun baru 3 tahun 10 bulan, juga ikut-ikut mempunyai album perangko. Mana mau dia kalah dengan kakaknya 😀

Tapi sesungguhnya belanjaan kami hari ini bukan hanya frame kupu-kupu dan album perangko. Tapi juga ada satu set Lego Star Wars untuk Riku dan Kai. Riku sedang tergila-gila pada Lego Star Wars, sehingga ingin membeli yang baru terus. Dasar perusahaan juga mau untung, mereka menempatkan master Yoda,Luke skywalker dsb yang ber-light saver itu tercerai berai dalam pake yang beragam. Jadi kalau mau punya pentolan Star Wars yang lengkap harus beli semua. Huh ! Duit lagi….. jadi pilih yang paling murah 😀 (Tapi terus terang aku jauuuuh lebih suka melihat Riku bermain lego daripada bermain game Nintendo 😀

Koleksi Riku, pangkalan Star Wars kreasi sendiri 😀 (Pangkalan yang dari Lego harganya 1,5 juta Rp bo! kagak bisa beli)

Bisa bayangkan kan hobi kami seperti itu butuh space yang banyak sebetulnya. Jadilah rumah “Kandang kelinci” kami tidak pernah beres. Dan karena Minggu lalu sudah banyak belanja, hari Minggu ini kamu tinggal di rumah saja, neres-beres rumah dan melanjutkan membereskan hobi yang tertinggal.