Arsip Tag: kopdar

20 Tahun dan Kopdar Tokyo

♥♥♥♥ Sebetulnya tanggal 23 September kemarin merupakan hari yang bersejarah untukku. Karena tepat hari itu 20 tahun yang lalu aku mendarat di Tokyo, untuk memulai  “petualangan” sebagai mahasiswa persiapan program S2 di Yokohama National University. Seharusnya aku menulis sesuatu yang “berbobot” untuk memperingati 20tahun kedatanganku, dan kebetulan juga 13 tahun tercatat di catatan sipil Jepang, sebagai Mrs Miyashita. Namun…. ya berbagai alasan yang bisa dikemukakan tapi pada intinya, aku tak tahu mau memulai menulis dari mana.

Sejak jumat sore, kami menginap di rumah mertua, di Yokohama. Karena seminggu sebelumnya, tepat pada hari lansia, kami tidak bisa pergi ke sana karena Gen harus mengajar (lalu aku pergi karaoke dengan anak-anak). Karena aku mulai semester genap di universitas S, maka aku otomatis keluar rumah dari pagi. Padahal hari jumat itu juga ada open school di sekolahnya Riku. Open School adalah kesempatan bagi orang tua murid untuk melihat dari dekat kegiatan pembelajaran di kelas anaknya. Jadi aku minta Gen untuk ambil cuti dan mengikuti acara open school itu. Gen sendiri senang karena dia jarang mempunyai kesempatan untuk melihat, lain dengan aku yang selalu hadir. Jadi setelah mengantar Kai ke TK, Gen ke SD dan berada di sana sampai harus menjemput Kai di TK pukul 2 siang. Kesan Gen : “Riku disukai teman, dan tidak terpengaruh pada teman yang ribut… itu yang penting. Dan dia juga aktif menjawab pertanyaan guru (padahal kalau aku yang datang dia malu-malu loh huh)”. Dan setelah kedua anak selesai sekolah, Gen bertiga naik mobil ke Yokohama, ke rumah mertuaku.

Sake Jepang : Momo no Shizuku, fanta jenis baru dan mozarella cheese+tomat dengan olive oil+ pepper

Aku sendiri dari pagi mengajar ke kampus yang kebetulan tidak begitu jauh letaknya dari rumah mertua. Sekitar 40 menit naik kereta. Jadi begitu selesai mengajar, aku menuju stasiun terdekat (meski terdekat juga masih harus naik bus 20 menit, atau taxi ) dan berbelanja dulu sebelumnya. Terutama berbelanja makanan yang mentah seperti sashimi dan roti serta keju. Aku juga sempat membeli sake Jepang yang enak, tapi karena ada persediaan sake yang dibeli ibu mertua, sake itu disimpan di lemari es saja. Tak disangka rombongan Nerima yang naik mobil pun bisa sampai di rumah mertua pada pukul 5 sore karena tidak macet, sehingga kami bisa mulai makan bersama lebih awal. Sake yang disediakan ibu mertua berasal dari Kyoto (jizake 地酒)  bernama Momo no shizuku 桃の滴 (Tetesan Peach), nama yang bagus dan rasanya juga bagus… tapi entah kenapa tidak seperti biasanya aku cepat mabuk minum sake ini. Mungkin karena aku tidak begitu fit juga ya. Alhasil  ibu mertua dan Gen terkapar di tempat tidur pukul 8 malam, sedangkan aku sebelum tidur masih sempat menyediakan nasi untuk anak-anak yang mengeluh lapar. (Kalau minum sake memang yang dimakan semua makanan ringan, seperti sashimi, salad, ikan dan nasi biasanya paling belakang, atau bahkan tidak makan nasi sama sekali…. jadi anak-anak juga makan sashimi, salad segala lauk tanpa nasi. Giliran sudah mau tidur, mereka mengeluh lapar, dan minta nasi).

Hari Sabtunya, kami makan siang dengan daging domba yang dibawa bapak mertua dari daerah Hokkaido. Daerah hokkaido memang terkenal dengan daging dombanya yang diberi nama Jengis Khan. Kupikir daging dombanya bau dan amis, eh ternyata cukup empuk dan enak. Anak-anak suka sekali makan daging domba, sampai aku tercengang melihat Kai yang tambah daging dan nasi terus. Hmmm anakku ini juga mulai menunjukkan sukikirai (pilih-pilih) makanan, tapi memang sejak kembali dari Indonesia aku melihat dia semakin tinggi saja.

Kami memang berencana pulang ke Nerima malam hari, karena aku mau ke gereja di Kichijouji hari Minggunya dan janji bertemu dengan Andori di Kichijoji untuk makan siang bersama. Tapi karena Gen ingin makan di restoran Indonesia Cabe, kupikir kalau dia bisa gabung maka lebih baik bertemu untuk makan malam saja, daripada makan siang. Jadi aku tanya apakah dia bisa memajukan janji bertemunya ke hari sabtu malamnya. Dan bisa.

Ya hari Sabtu malam itu kami mengadakan Kopdar (blogger) Tokyo yang ke tiga untukku, (yang pertama waktu bertemu Mas Agustus Nugroho, dan yang kedua Ade Susanti). Meskipun demikian aku pertama kali bertemu dengan Andori yang bertempat tinggal di Nagoya. Blognya (Toumei Ningen) memang berisi tentang kehidupan di Jepang, terutama film dan musik. Dia fans beratnya band Jepang Laruku deh ([L’Arc~en~Ciel). Andori juga mengajak Grace Kamila, yang konon juga blogger dan sekarang tinggal di Niigata. Pembicaraan kami apa ya? Selain soal blog/blogger, aku tidak bisa ingat, karena kebanyakan meredakan pertengkaran Riku dan Kai. Riku malam itu memang mengantuk, sehingga diam terus, sedangkan Kai full battery, sehingga maunya bermain. Susah deh…. setiap aku bicara, Kai pasti mau bicara juga dan menanyakan hal-hal remeh kepadaku. Sudah sering aku beritahu bahwa tidak boleh ribut kalau mama sedang bicara, tapi entah akunya yang gagal mungkin, dia selalu begitu. Minta perhatian. Setiap aku telepon juga, bahkan kalau aku telepon masuk ke kamar supaya sepi, dia juga ikut masuk ke kamar. Meskipun akhirnya dia juga akan minta maaf, aku sering harus meminta maaf pada teman yang di telepon karena ribut. Aku berharap kalau dia SD mungkin sudah bisa lebih tenang. (Makanya jangan telepon aku kalau malam hari/anak-anak bangun dan ada di rumah deh. Bakal tidak tenang ngegossipnya hahaha). Maaf juga kepada Andori dan Grace atas kenakalan anak-anakku ya. Nanti lain kali silakan datang ke rumah saja, biar lebih bebas bicara ya hehehe.

kopdar Tokyo ke 3 di restoran Cabe, Meguro

Jadi perayaan 20 tahunnya bagaimana? Selain dirayakan malam sebelumnya bersama Andori dan Grace, aku merayakan dengan “diam” berdoa di gereja pada misa jam 9:00. Tema misa kali itu juga tentang pengungsi/imigran, yang terpaksa harus meninggalkan negaranya untuk hidup di negara lain. Dengan bacaan : “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Anehnya aku tidak merasa sedih atau terharu atau menitikkan air mata pada misa itu, seperti kalau aku mengikuti perayaan untuk saat-saat khusus pada kehidupanku kecuali pada saat menyanyikan lagu pujian ini :

Lihatlah burung di udara
Hidup tenang di padang bakung
tanpa menabur tanpa menuai
Sedangkan makhluk sekecil itu
Ada Tuhan yang menjaga

Sahabatku, hari ini mari kita memuji dengan nyanyian
Kasih Bapa di surga meresap pada semua makhluk.

ご覧よ 空の鳥 野の白百合を
蒔きもせず 紡ぎのもせずに 安らかに 生きる
こんなに小さな いのちにでさえ 心を かける父がいる

友よ 友よ 今日も たたえて歌おう
すべての物に 染み通る 天の父の いつくしみを

Buku pujian di gereja dengan not balok semua. Pertama kali datang ke Jepang mabok deh karena aku tidak bisa baca not balok. Sekarang sih sudah lumayan deh hehehe

Dan setelah gereja aku sempat berbelanja untuk makan malam bersama sekeluarga berempat…dan lupa mengambil foto :D. Kesimpulannya: Perayaan genap 20 tahun aku di Jepang aku lalui dengan …. sederhanaaaaaa sekali. Yang pasti aku mengucapkan syukur pada Tuhan dan kedua orang tuaku yang sudah melindungi aku dengan doa-doanya selama ini. Amin.

Hunting Room

Hunting Room bukan haunted room, atau yang pasti aku tidak mau hunting haunted room kecuali aku anggotanya ghostbuster hehehe.

Ya sebetulnya waktu aku mudik ke Jakarta kemarin itu, aku sempat hunting room, mencari apartmen/rumah kost. Bukan untuk saya tapi untuk sahabat blogger Ria a.k.a Jumria Rahman yang baru pindah dari Duri ke Jakarta.

Ria datang persis tanggal 17 Agustus. Aku sebetulnya ingin menjemputnya di bandara, tapi ternyata tidak keburu. Adikku juga mendarat sekitar jam yang sama dari Tokyo. Dan karena kami ingin membuat surprise untuk adikku yang berulang tahun, aku lari ke toko kue. Karena sudah mulai masuk liburan Lebaran, stock kue juga tinggal sedikit, tapi memang kuenya Helen’s itu uenak sekali. Cocok deh manisnya untuk keluargaku yang tidak suka manis.

Kopdar terpendek dengan Ria: 5 menit, cuma sempat berfoto di depan rumah 😀

Pas aku sedang berbelanja di Helens, Ria meneleponku bahwa dia sudah berada di depan rumahku dalam taxi. Dia ingin bertemu dulu sebelum pulang ke Bekasi, jadi langsung dari bandara ke rumahku. Benar-benar hanya say hello, berpelukan, berfoto dan bye-bye… karena adikku pas akan sampai di rumah juga. Ria pulang, aku masuk ke dalam rumah dan mempersiapkan kue ultah. Heboh rasanya. Tapi aku senang sekali bisa bertemu Ria meski sebentar, setelah dua tahun tidak bertemu. Dan, aku katakan kalau tanggal 18 aku masih belum ada janji apa-apa, sehingga bisa menemaninya mencari kost di daerah kemang, tempat kerjanya.

Jadilah tanggal 18 Agustus itu, aku dijemput Ria naik taxi. Kebetulan aku pun tidak ada supir/mobil, jadi tak apalah kami naik taxi. Lucu juga karena kami berdua itu sebetulnya kan harus naik turun mobil, mencari rumah kost, tapi naik taxi. Jadi setiap kali kami turun, taxinya menunggu kami. TAPI hebatnya Jakarta waktu liburan menjelang lebaran itu SEPIIIIII sekali. Bayangkan kami naik taxi dengan rute Bekasi – kebayoran -kemang keliling-keliling sampai pejaten, balik lagi kemang -kebayoran – dan berhenti di Senayan City, selama 2 jam hanya bayar 200.ooo rupiah! O o o murahnya, dan surganya Jakarta saat itu.

yang segini 7 jt an… memang daerah mahal sih ya 🙂

Kami melihat 6 tempat, mulai dari yang sudah Ria cari sebelumnya di internet. Sebuah kos dengan kamar yang bagus di lantai 2, living room + kamar + kamar mandi berikut dapur sebulannya 7 juta saja… duh, mahal yah. Lalu di lantai satunya kami ditawarkan kamar yang 5 juta. Pending dulu. Kami menyusuri jalan kemang dan melihat papan nama terima kost. Turun lagi dan melihat kamar yang cukup gelap, tidak jelek-jelek amat dengan harga 3,5 jta. Cuma kok gelap ya kesannya. Yang paling lucu dari melihat kamar-kamar dengan nama apartemen, kami juga mencoba cari dengan papan namanya “terima kost”. Aduh harganya sama 3 juta tapi bobrok sekali. Mana si Ria sempat melongok ke dalam sebuah kamar yang pintunya terbuka, dan berpenghuni lelaki telanjang dada dan hanya mengenakan kolor… kyaaaaa…. mengerikan :D. Gongnya kami melihat sebuah apartemen yang biasanya dihuni oleh expatriat asing. Harganya? Cuma 10 juta. tapi memang bagus sekali dalamnya. Terang dan modern. Aku juga mau tinggal di situ, tapi…. kok harganya mahal begitu ya. Kalau kantor yang bayarin sih OK.

nah ini standar untuk expatriate, jelas gajinya musti setara dengan gajinya orang asing dong hehehe

Jadi hari itu kami menyelesaikan hunting room dengan melihat 6 kamar, dan kesimpulannya Ria masih akan mencari lagi meskipun aku sudah tidak bisa temani dia sesudahnya. Otomatis hari Raya Ria juga tidak bisa mencari karena kena flu juga. Lagipula tanggal 19nya Gen sudah datang, jadi aku tidak bisa lagi mondar-mandir ke mana-mana. Dan sampai aku kembali ke Tokyo, aku tidak bisa menemani Ria pindahan ke kostnya yang sudah dia temukan sendiri. Karena aku belum pernah nge-kost di Jakarta, aku tidak tahu kondisi kost-kostan di Jakarta. Jadi hunting room bersama Ria waktu itu merupakan pengalaman yang menarik. Tentu saja asal ada uang, kita bisa mendapatkan kamar yang bagus. Tapi ada banyak faktor juga yang mesti dipikirkan, keamanan, penerangan, transportasi, cucian termasuk tidak, internet, dsb dsb. Susah ya pindahan itu 😀 (apalagi aku di apartemen di Tokyo ini sudah 13 tahun! Malas pindah-pindah)

sambil mengantar anak-anak ke lollipop, kodar dengan Nunu…. sehingga kami menamakan pertemuan ini dgn kopdar anak makassar 😀

Tapi personal touch #6 ku dengan Ria boleh dikatakan terjadi berkali-kali, dan semuanya juga karena Ria yang datang ke rumah. “MBak aku anterin pesanan palm suikernya ya… ” Atau sesudah kami mengantar anak-anak bermain di Lollipop Sency, Ria dan adiknya Uchi sempat mampir ke rumah, dan itu benar-benar merupakan chit-chat yang menarik, karena mengikut sertakan papa. Perlu diketahui Ria (dan Uchi) adalah putri Makasar, satu tanah kelahiran dengan papa. Dan Uchi masih kental sekali logat makassarnya sehingga lucu sekali kami mendengar dia berbicara dengan papa. Mereka berdua bercakap-cakap dengan logat Makassar. Senang loh melihat teman-temanku bisa akrab dengan papa.

Dan sampai hari terakhir sebelum aku naik pesawat, Ria masih menyempatkan datang untuk say good bye dan mengantarkan pisang ijo buatan ibunya. Ah memang kami berdua orang sibuk. Tapi kami selalu berusaha mencari celah untuk bisa saling berkomunikasi, syukur-syukur bisa bertemu muka. Sekali lagi aku mengingatkan diriku sendiri, bahwa silaturahmi itu bukan dari lamanya waktu kita bersama, atau seringnya kita bertemu, tapi dari kwalitas dan makna pertemuan itu sendiri. Ria buatku sudah seperti adik sendiri apalagi sejak kami tahu bahwa kami keturunan satu nenek moyang yang sama, dari Galesong. So Ria, welcome to Djekardah, enjoy my hometown, enjoy juga kemacetannya ya hehehe. Sampai ketemu lagi tahun depan.

Sesaat sebelum kami kembali ke Jepang. Terima kasih untuk pisang ijo….dan personal touchnya ya Ri **hugs**

Personal Touch #3 dan #4

Berhubung ada yang pernah bertanya apa sih bedanya reuni dan kopdar? Aku mau menuliskan definisinya reuni yang saya kutip dari KBBI daring yaitu : re·u·ni /réuni/ n pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. Jadi reuni itu adalah kumpulan orang-orang yang pernah bersama (biasanya belajar bersama), kemudian bertemu kembali setelah berapa lama tidak bertemu. Sedangkan kopdar yang merupakan singkatan kopi darat (off air) adalah pertemuan di udara/darat dari kumpulan atau beberapa personil yang belum kenal secara nyata sebelumnya. Mereka berkenalan di dunia maya (atau fans dari siaran radio/TV) dan pertemuan secara fisik itulah yang disebut dengan kopi darat. Menurut jumlah pesertanya Reuni bisa disebut dengan reuni kecil atau reuni akbar. Tapi aku kok tidak pernah baca soal kopdar akbar ya? 😀 Adanya Pesta Blogger, yang konon namanya sudah berganti (lagi).

Reuni dengan mantan mahasiswa yang mengambil kuliah Bahasa Indonesia di Universitas S, bersama Sasaki Sensei

Nah kalau membaca definisi begitu maka aku juga jadi bingung sih ketika kemarin Sabtu (8 September) aku bertemu dengan mantan mahasiswa, murid bahasa Indonesiaku di Universitas S, yang sudah lulus 4 tahun yang lalu. Apakah pertemuan seperti ini bisa disebut sebagai reuni? Karena posisinya aku sebagai dosen dan mereka mahasiswaku kan? Biasanya Reuni adalah pertemuan antarmurid/mahasiswa….. tapi aku anggap saja itu reuni, karena aku punya prinsip: “Meskipun kedudukanku adalah pengajar, sebetulnya akupun belajar pada saat memberikan pelajaran/kuliah”. Dan senang sekali dengan kelas ini yang begitu kompak, selama kuliah dulu bahkan secara rutin juga bertemu (reuni) sesekali setelah lulus. Aku merasa bahagia mempunyai murid seperti mereka. Salah satu mahasiswanya, Tozu Arisa san, pernah kutulis di Kursi Roda dari Jepang

Tapi selama aku mudik ke Jakarta Agustus lalu, kalau dihitung aku jarang mengadakan kopdar secara rombongan (cuma satu kali yang di pasaraya itu saja ya). Karena itu aku membuat istilah baru, khusus untuk mudikku kali ini yaitu personal touch. Kopdar fisik yang lebih bersifat pribadi, dengan sentuhan pribadi, yang memungkinkan kami bercerita lebih banyak dan lebih dalam (emang laut hihihi).

Kalau personal touch #1 aku bertemu Reti Hatimungilku, dan personal touch #2 aku bertemu teman FB, Yeni Fransisca. Maka di personal touch #3 aku bertemu Nana Harmanto dan Broneo. Senang rasanya bisa bertemu mereka, yang waktu mama meninggalpun pada bulan Februari itu datang ke Jakarta. Tapi waktu itu tentu tidak bisa bicara lama-lama, sehingga waktu bertemu di Jakarta pas tanggal 17 Agustus itu aku bisa lebih santai untuk bercakap-cakap. Tema percakapan juga tidak jauh-jauh dari isi blog sih, terutama soal makanan yang beracun bagi tubuh setiap orang yang berbeda. Aku sebenarnya ingin sekali ke Tasik, tempat tinggal mereka, tapi karena bulan puasa/mendekati lebaran aku urungkan rencana itu. Semoga tahun-tahun mendatang/kesempatan mendatang aku bisa mampir ke sana, tentu jika broneo masih bertugas di sana.

Bertemu Nana dan Broneo, di Sency.

Personal touch #4ku adalah dengan Wita Fauzi. Sahabat Adik blogger yang sebetulnya sedang belajar di Rende, Italia (Tetangga jauhnya Roma). Kebetulan sekali dia juga sedang mudik ke Jakarta, namun karena sama-sama tidak punya pembantu, kami baru bisa bertemu tanggal 24 Agustus, sehari sebelum aku kembali ke  Jepang. Karena rumahnya lumayan dekat rumahku, dan sudah sering datang, kami tidak janji bertemu di luar. Kebetulan pas hari itu aku berjanji pada anak-anak untuk mengantar mereka ke kolam renang pagi-pagi, terakhir berenang sebelum kembali ke Tokyo. Dan Wita dengan tenangnya, “Gampang mbak, nanti aku nyusul ke kolam renang. Dekat rumah mtb kan?” Padahal aku yakin dia tidak bisa menemukan kolam yang berada terpencil begitu…eh ternyata sampai juga.. Memang kalau naik motor bisa aja ya cari-cari hehehe (EH tapi ini kurasa karena JIWA petualang si Wita aja yang tingkat tinggi. Wong dia bisa datang sendiri di rumahku di Nerima, Tokyo sana. SENDIRI! gokil bener deh!)

Bersama Wita di rumah… kameranya dibawa Gen ke TMII, jadi pakai BB deh hehehe

Sayang waktu dia sampai di kolam renang, kami sudah kembali ke rumah, jadi kami bertemu di rumah, dan melewatkan waktu tidak lebih dari 1 jam. Hanya bercerita-cerita soal Roma dna Italia, dan tentu tidak lupa untuk berfoto dong (namanya blogger tuh pasti harus narsis :D). Tapi ada satu yang begitu membuatku amat sangat terharu yaitu waktu dia menyerahkan oleh-oleh dari Roma. Sebuah ROSARIO….. Rosario (seperti tasbih untuk umat Islam, atau untuk umat Buddha) itu kami, umat katolik pakai untuk berdoa kepada Bunda Maria. Dan Rosario dari Roma, merupakan hadiah yang indah! Dan lebih indah dan bermakna untukku karena yang memberikan adalah seorang sahabat yang muslim. Aku sempat bertanya padanya, “Kamu tidak dilihat dengan aneh, seorang muslim berjilbab membeli rosario?” dijawab dengan tertawa…. dan …. satu lagi ucapannya di twitter waktu aku bilang “Ah aku juga mau coba kopi dari Italia” dia berkata, “Abis aku tidak berpikir kopi untuk kado untuk onesan (kakak perempuan)… cuma satu yang terpikir: Rosario”. Kopi dan rosario memang tidak bisa dibandingkan 🙂 Personal touch yang begitu mewah dan istimewa.

Ah Wita… terima kasih banyak… aku semakin yakin bahwa persahabatan kita melampaui kerangka agama atau pemikiran/dugaan lain yang mungkin dapat merusak persahabatan itu sendiri. Aku akan berdoa dengan caraku sendiri, semoga kamu kembali ke Rende dengan selamat, dan dapat meneruskan kuliahmu tanpa halangan. Dan siapa tahu setelah itu bisa belajar ke Jepang, atau London, negara impianmu yang lain. Kiranya persahabatan kita dapat abadi ya.

Tambahan informasi:

Rosario memang banyak dijual sebagai souvenir di toko-toko rohani. Jika ada yang memakainya sebagai kalung, tentu tidak bisa dilarang, karena terbatas sebagai souvenir dan belum diberkati. Tapi sebelum rosario baru kami pakai untuk berdoa, kami akan meminta berkat dulu dari pastor. Rosario yang terlah diberkati akan kami jaga, dan jika putus atau rusak, biasanya kami kumpulkan dengan hormat. Dulu mama pernah bilang bahwa rosario yang rusak harus dibuang ke laut, tidak boleh buang ke tempat sampah. Ternyata waktu aku baca di sini, dikatakan harus dibakar atau dikubur. Tapi sampai sekarang rosario-rosarioku yang rusak masih kusimpan saja.

 

Coba-coba & Personal Touch #2

Aku suka anak-anak karena mereka punya 好奇心( rasa ingin tahu) dan polos, dan aku selalu berusaha memberikan jawaban yang sewajar-wajarnya. Kadang aku bingung menjawab pertanyaan Kai yang suka aneh-aneh. Seperti kemarin malam waktu aku membacakan dongeng みにくいあひるのこ ”The Ugly Duckling” karya H.C. Andersen yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Sudah dua hari ini aku dan Riku bergantian membaca buku untuk Kai, mulai jam 8 malam sampai jam 9 lalu tidur dalam usaha mengurangi nonton TV.

“Ada seekor induk bebek yang sedang mengerami (menghangatkan) telur-telurnya. Kraaakk…kraaak satu persatu mulai menetas”
“Kalau tidak dihangatkan bagaimana?”
“Ya tidak lahir bebeknya”
“Kalau didinginkan?”
“Apalagi, kedinginan kan jadi tidak lahir….”
“Kalau dimakan gimana?”
“Kalau mama makan Kai gimana?” Dan aku pura-pura gigit Kai…..

Dibanding Riku, Kai tidak begitu suka mencoba sesuatu yang baru. Makanan apalagi. Dia hanya mau makan apa yang dia suka, sehingga kadang harus aku bujuk-bujuk untuk mencoba sesuatu. Sedangkan Riku, apa juga dia mau coba, makanan tentu nomor satu, tapi kegiatan lain yang dia belum pernah lakukan, dia juga mau mencoba. Seperti melompat dari papan setinggi 2 meter di kolam renang atau yang terakhir dia coba di Indonesia adalah Ice Skating.

Kebetulan tanggal 16 Agustus itu, aku janjian bertemu dengan Yeni Fransisca di Mall Taman Anggrek. Sudah lama aku tak ke sini, jadi kupikir mau mengajak anak-anak juga. Dan kupikir mereka bisa bermain dengan anaknya Yeni. Eh ternyata Yeni tidak jadi membawa anaknya. Jadi kupikir ya aku kasih lihat saja Ice Rink, tempat bermain Ice Skate di dalam Mall tersebut. Riku langsung bersinar-sinar matanya. Aku tahu dia ingin mencoba. Tapi aku tidak bisa menemani, jadi aku minta instruktur saja sekalian. Karena dia tidak bawa jaket, ya terpaksa aku membelikan jaket anti air sekalian supaya bisa dipakai juga di Jepang. Dan dia siap untuk mencoba sesuatu lagi yang baru!

Riku pertama kali mencoba ice skating di Mall Taman Anggrek

Memang rasanya lucu juga orang Jepang mencoba ice skating pertama kali justru di Jakarta, di negara yang tidak mengalami 4 musim 😀 Alasan pertama sih sebetulnya : karena jauuuh lebih murah mencoba di Indonesia daripada di Jepang 😀 Selain dari aku tidak tahu tempat terdekat rumahku itu di mana adanya. Biasa kan kalau sudah kembali ke Tokyo, banyak tugas yang harus dilakukan sehingga tidak terpikir untuk mencoba sesuatu yang baru. Ingin aku mengajak anak-anak ke Bali dan mencoba snorkeling (aku juga belum pernah). Prinsipku, kita harus mencoba segala sesuatu, urusan suka, atau tidak bisanya adalah urusan ke dua. YANG PENTING COBA!

Yeni bersama Riku dan Kai di ruang tunggu Ice Rink. Kameraku terputar settingnya sehingga hasilnya jelek…. 🙁

Dan tentu saja Riku tidak bisa melanjutkan ice skatingnya. Karena konsentrasi di kaki yang harus menjaga keseimbangan, maka kakinya cepat capai, dan menyelesaikan pelajarannya sebelum waktunya berakhir. Tidak apa. Jangan paksa. Karena kalau dipaksa dia akan benci dan tidak mau mencoba lagi. Yang pasti dia bangga sekali bisa mencoba Ice Skating.

Setelah Riku selesai, kami makan bersama Yeni. Aku bisa berbincang-bincang dengan Yeni mengenai hal-hal yang sama-sama kami ketahui yaitu mengenai penulisan. Aku memang kenal Yeni di Facebook, tapi aku selalu kagum pada tulisannya baik di status atau notes yang begitu memukau. Biasanya aku hanya membubuhkan “like” saja, dan jarang meninggalkan komentar,   bahkan aku tak meninggalkan jejak sama sekali dalam sebuah notes mengenai perjalanan spiritualnya yang kubaca. Tapi aku jadi lebih mengerti pribadinya dari tulisannya.  Dan aku seringkali diingatkan oleh tulisannya, tulisan khas yang sering disebut tulisan motivasi. Dan senang sekali bisa mendapatkan personal touch dengan Yeni waktu mudikku kemarin. Semoga persahabatan kita bisa terus berlangsung ya Yen. Terima kasih sudah menemani Riku juga bermain Ice Skating. Dan semoga, suatu saat (dalam waktu dekat) aku bisa membaca bukumu atau paling tidak blogmu 😀 😉

 

Aku bersama Yeni di Mall Taman Anggrek. Photo by Riku. Kai mengintip dari belakangku.

 

Kopdar Keluarga #1

Bagaimana jika blogger beserta keluarga masing-masing bertemu dalam sebuah kopdar? Tentu seru dan ramai ya. Nah, tanggal 13 Agustus itu aku mengadakan kopdar emak-emak beserta anak-anak mereka di Bandung Coret.

Tahu kan Bandung Coret itu di mana? Ya, Bandung Coret itu adalah julukan tempat-tempat yang termasuk Kabupaten Bandung, tapi entah berapa km jaraknya dari pusat kota Bandung yang biasa Anda kenal :D. Pinggiran gitu ….. Jahat ya 😀

Pagi itu tanggal 13 Agustus, Senin pagi, aku berangkat dari rumah pukul 7:30 bersama Riku, Kai dan Krismariana. Sebetulnya mobilnya sudah siap dari jam 7, tapi biasalah ibu-ibu selalu ada saja yang mau dibawa. (Padahal tetap saja ada yang lupa). Kami langsung masuk tol dalam kota untuk kemudian menuju Bandung. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kemacetan Jakarta, dari arus balik/berlawanan. Mereka yang mau masuk ke Jakarta tapi terhenti di tol karena macet. Aduuuh benar-benar seperti parkiran di Disneyland Chiba sana yang gedeeee banget. Ini tol atau parkiran sih. Sama Bang Raja yang nyetirin mobil, kami berdiskusi, berapa banyak kerugian negara dengan kemacetan seperti itu. Rugi tenaga, rugi energi listrik dsb dsb dsb. Kalau cuma sekali-sekali sih masih mending, tapi katanya kemacetan seperti itu sudah lazim 🙁

 

duh, sampai pakai satu jalur lawannya? Tidak pernah lihat kejadian seperti ini di Jepang. Di sini juga suka macet di tol kalau musim liburan, tapi tetap jalan meski 10 km/jam. Jarang sampai terhenti total

Kami turun di pintu tol StoneFruit a.k.a Buah Batu, dan langsung mengikuti pesan dari GPS hidup, Jeng Nchie. Karena ini kali yang ke dua untukku melewati daerah itu, jadi sudah familier. GPSnya juga canggih sih 😀 Dan kali ini kami langsung masuk rumahnya Nchie. Katanya alasannya tahun lalu aku sudah ke rumahnya Bibi Erry, jadi giliran. Kami di sambut di depan pagar oleh kedua blogger bersahabat itu (katanya mereka bersahabat jauh sebelum mulai menulis loh). Dan setelah itu Diandra bergabung.

Lima blogger bertemu di Bandung Coret

Senang sekali bisa kopdar dengan tiga ibu empunya Bandung Coret dengan satu pasukan anak-anaknya. Tentu saja bapak-bapaknya tidak ada karena sedang gawe, tapi tanpa bapak-bapakpun aku tetap menamakan kopdar ini sebagai Kopdar Keluarga. Serunya pas berfoto bersama, karena aku lupa membawa tripod (kan ada yang lupa :D) jadi mesti ada salah satu yang tekan tombol deh. Udah gitu, kopdarnya di Bandung Coret tidak ada satu jam, karena ternyata aku ditunggu di Restoran Kartika Sari oleh petinggi ITB dan salah satu Bank, mantan teman-teman segereja di Meguro Tokyo. Maaf sudah membuat mas-mas  ini menunggu.

Blogger ibu-ibu dengan anak-anaknya di Bandung Coret

Riku dan Kai senang sekali di Restoran Kartika Sari itu karena ada tempat bermainnya. Jadi deh aku biarkan mereka bermain satu jam, sementara aku dan Kris makan siang di situ. Kami baru keluar tempat itu pukul 4:3o padahal aku merencanakan sudah berada di tempat selanjutnya pukul 4. Waktu kuhubungi orang yang ingin kutemui, ternyata mereka baru saja keluar dari restoran Kartika Sari dan sedang berbelanja di tempat lain. Waduh, padahal kami berada di satu tempat yang sama, kok bisa tidak ketemu. Memang sih restorannya di bagian belakang, dan bagian depannya ada penjualan oleh-oleh khas Bandung. Rupanya kami memang ditakdirkan untuk bertemunya di tempat yang telah ditentukan. Dan ternyata Kopdar Keluarga Bandung berlanjut di tempat berikutnya….

bersambung

 

Bertemu teman-teman mantan Meguro-kyokai di Kartika Sari. Mas Nanang dan Mas Bambang.

Personal Touch #1

Karena sesungguhnya pertemuan dua hati tidak dibatasi oleh tempat, waktu dan kwantitasnya. Tapi oleh keinginan dan pengertian dari kedua belah pihak. (IEVCM)

Setelah mengadakan kopdar pada tanggal 10 Agustus di Pasaraya Blok M, keesokan harinya aku bertemu dengan dua orang blogger. Yang satu belum mantan (semoga) meskipun sedang hiatus cukup lama, sedangkan yang satunya blogger aktif penulis masalah sosial yang memang cukup vokal menurutku. Vokal dalam arti semua pemikirannya ditumpahkan dalam blog, yang mungkin bagi sebagian orang akan dicap sebagai radikal. Tapi aku pribadi lebih banyak setujunya, meskipun aku mungkin tidak bisa menulis seperti dia.

Si “vokal” satu ini adalah Pito. Cukup lama aku mengenalnya, dan setiap aku pulkam kami juga cukup sering bertemu. Terakhir (mungkin tahun lalu) dia datang ke rumahku pas aku sedang packing untuk pulang. Dan dia ikut membantuku packing menghadapi koper-koper yang perlu diisi. Dengan dia, selalu bebas, dalam arti jika pas waktunya, “Nte.. aku ke rumah ya…” “OK…” atau aku akan mengajak dia bersama-sama bertemu temanku jika aku sudah ada janji sebelumnya. Dan dia akan dengan “anteng”nya duduk bersama kami, tidak pernah merasa kikuk. Malah sebaliknya aku sering dibantu menangani anak-anak. Kadang aku suka heran, Pito ini bisa menjadi baby sitter yang baik :D, bahkan baik sekali.

Hari itu aku janji bertemu dengan Reti dan Moza di Senayan City. Reti sulit mengikuti acara yang diadakan pada sore/malam hari karena harus keluar dengan Moza berdua saja. Tahun lalu, dia datang bersama om-nya ke acara kopdar Pasaraya. Tapi Om-nya yang sudah akrab juga dengan kami sudah meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi yang menemani Reti bepergian. Aku tahu betapa shock dan kehilangannya Reti ketika om nya meninggal. Apalagi sebulan setelah itu bapaknya di Surabaya juga kena stroke. Untunglah sekarang bapaknya sudah mengalami kemajuan dalam rehabilitasinya.

Aku sebenarnya merasa bersalah, meminta Reti dan Moza yang mendatangiku ke Senayan City. ‘Secara’ aku hanya butuh waktu 5 menit sampai di Sency, padahal Reti membutuhkan waktu 1,5 jam menembus kemacetan dari Bekasi ke Sency. Seharusnya aku yang mendatangi dia, tapi aku ‘buta’ sama sekali daerah Bekasi. Kelapa Gading saja aku tidak tahu 🙁 Dan Sabtu itu aku tidak ada supir yang bisa diandalkan untuk mencari alamat karena papa juga ada acara di gereja. Peringatan ulang tahun paroki kami yang ke 60, sehingga papa yang termasuk dalam Dewan Paroki harus ikut sibuk wara-wiri. Benar-benar aku menyesal tidak memilih tempat yang lebih dekat dengan kediamannya. Sebetulnya tempat mana sih yang asyik buat ketemu, yang di tengah-tengahnya Kebayoran dan Bekasi (Barat)?  Ada usul tidak? Untuk lain kali 😀

Tapi, sesuai dengan judul postinganku, dengan bertemu hanya sendiri atau berdua, terasa lebih akrab. Ada personal touch, ada ikatan batin yang lebih dekat, meskipun waktunya tidak sampai berjam-jam. Kami bisa bicara dari hati ke hati, sambil menikmati makanan, apalagi Pito membawa Moza jalan-jalan ke luar menonton TV sebesar kamarku di Jepang 😀 sambil lesehan 😀 Untung aku tidak ada di situ, jadi tidak bisa ambil foto ketika Pito dan Moza lesehan berdua 😀 Dan waktu yang mereka berikan padaku dan Reti cukup lama, sehingga kami benar-benar bisa bercerita tentang macam-macam. Yang pasti aku kagum pada keputusan Reti untuk membesarkan anaknya sendiri, tanpa pembantu dan baby sitter. Hebat! Memang konsekuensinya, kami tidak banyak bisa melihat update status di FB atau di blognya. Tapi itu tak mengapa, semuanya kan tergantung prioritasnya. Dan Reti lebih memprioritaskan keluarga terutama Moza. Aku angkat topi untuknya, karena tidak banyak yang bisa dan mau. Aku dukung dari jauh ya Reti dan Pito! Terima kasih untuk waktu dan kesediaan untuk bertemu, penuh dengan sentuhan pribadi yang mewarnai liburanku kali ini.

 

Reti-Aku dan Moza. Pito yang ambil fotonya, dengan BB. Karena aku dan Reti lupa bawa kamera 😀

 

 

Pasaraya dan Pak Djaelani

Rasanya kalau pulang kampung dan tidak bertemu teman-teman blogger yang sudah lama kenal memang tidak afdol ya. Maka dari itu, aku merencanakan pertemuan a.k.a kopdar blogger pada tanggal 10 Agustus yang lalu. Yang diundang sebetulnya siapa saja, tapi tentu saja teman-teman blogger yang dulu sudah pernah bertemu di Kopdar Pasaraya tahun 2011. Dan setelah berdiskusi dengan mas Necky, diputuskan untuk tetap memakai Food Court Pasaraya sebagai tempat berkumpul. Dengan pemikiran dekat dengan terminal bus sehingga bisa langsung pulang cepat. Segera kubuat undangannya via event di FB. Praktis ya dengan cara ini, namun tidak bisa diandalkan bagi yang jarang buka FB.

Meskipun aku tahu bahwa resiko membuat acara buka bersama di hari Jumat itu sebetulnya riskan sekali, karena biasanya masing-masing komunitas akan mengisi kegiatan di bulan puasa pada hari Jumat dan Sabtu. Tapi kupikir bukan jumlah pesertanya yang penting, tapi kebersamaannya. Dan benar saja, dengan kehadiran teman-teman ini acara bukber/kopdar blogger Jakarta bisa berlangsung dengan sukses. Aku memang datang yang pertama, maklumlah pengangguran. Kemudian Ibu Enny juga hadir, sehingga kami berdua punya cukup banyak waktu untuk berbincang berdua. Sekitar pukul 5 lewat Krismariana bergabung, dan kami mulai memesan minuman untuk buka (yang buka sih Cuma ibu Enny).

Nah waktu aku habis memesan ketoprak, dari jauh kulihat seorang gadis berjilbab sedang asyik dengan BB nya di tengah jalan orang lalu-lalang. Aku langsung mencari BB ku dalam tas, karena takut ada yang mencariku tapi tak terjawab dan bingung. Kami memang duduk di tempat yang terpisah dari keramaian, sehingga agak sulit untuk dicari. Dan, ternyata memang si gadis itu adalah Inon. Dia cukup modis, tapi itu karena aku tak tahu bahwa ada cerita heboh sebelum ke Pasaraya.

Dan aku juga kaget karena ternyata Mas NH yang tidak mengkonfirm kedatangannya, tiba-tiba muncul. Selanjutnya yang datang adalah Dhana dan temannya. Dhana pada saat itu bukan blogger tapi sebagai pembaca TE, tapi keesokan harinya dia resmi menjadi blogger karena sudah memberitahukan blognya kepadaku. Kalau sempat silakan main juga di sini. Dhana pernah menjadi perawat di Kumamoto, Jepang dan sudah kembali bertugas di RSCM. Satu lagi pembaca setia TE adalah Elizabeth Novianti, yang setiap tahun, pasti kami bertemu. Tahun lalu di kami berdua mencoba restoran Meradelima. Dan sebagai peserta terakhir datangnya (karena macet di busway) adalah Mas Necky.

 

Apa saja ya bahasan kita? Sudah banyak yang lupa, tapi yang kuingat kami membahas soal peraturan imigrasi bagi orang Indonesia. Semisal paspor yang masa berlakunya kurang dari 6 bulan, atau posisi anak-anak kelahiran ibu WNI dan ayah WNA (seperti Riku dan Kai), atau anak Indonesia yang lahir di Amerika yang harus mempunyai paspor Amerika (tidak bisa apply visa) dsb.

Enaknya bukber di Pasaraya ini, karena dibanding dengan restoran di mall lain, relatif lebih sepi. Makanannya juga beragam dan terjangkau jika tidak bisa dibilang lebih murah. Yang pasti ada sate padang Mak Syukurnya 😀 (Rp. 20.000 saja per porsi) yang begitu maknyus deh 😀 Aku pasti pesan sate padang ini kalau pergi ke Pasaraya. (duuuh sambil nulis aja jadi ngiler lagi deh hehehe, kapan bisa ke sana lagi ya….)

 

Akhirnya sekitar pukul 8:30 kami bubar, setelah berfoto bersama tentunya. Dan masalahnya adalah taxi saat itu amat sulit. Rupanya ada kecelakaan beruntun di Senayan, sehingga macetnya minta ampun. Kebetulan ada satu taxi aku naiki bersama Novi, supaya sesudah mengantarkan aku, bisa langsung ke rumahnya di Depok. Yang lucu setelah aku sampai di rumah, Novi mengirim BBM :
Novi: Mbaak taxinya bau ya… 😀
Aku: Makanya aku buka jendelanya hahaha
Novi : Ya, baunya keras d posisi mbak duduk. Krn pas angin ac nya. Posisiku tdk terlalu
AKU : Ya makanya jangan pindah 😀
Novi: Makanya aku pindah posisi lagi 😀

Aku sering menghadapi situasi seperti begini. Supir BB (bukan burung biru tapi bau badan) sehingga mabok deh rasanya. Biasanya aku buka sedikit jendelanya. Tapi pernah loh di Tokyo, aku naik taxi baru, mobilnya baru berbahan bakar listrik. Tapi kok bau ya? Kupikir tadinya karena bau plastik sehingga bau, tapi sepertinya BM alias bau mulut sang supir. Duh benar-benar sengsara deh, sehingga aku perlu mengalihkan pikiran sehingga tidak ‘tercium’. Untung jaraknya ‘hanya’ 20 menit, kalau lebih bisa pingsan aku 😀

 

Tuh kan tulisannya ngalor ngidul lagi. Tapi sebetulnya dari judul posting ini, aku belum menceritakan siapa itu Pak Djaelani kan?

OK, aku mau memperkenalkan supir bajaj ‘keluarga’ kami. Rupanya asisten rumah tangga kami sering memakai jasa pak Djaelani ini untuk antar jemput anak-anak (keponakanku = sepupu Riku dan Kai). Nah karena parno macet ke acara bukber di Pasaraya, kupikir lebih baik aku naik bajaj dari rumah, dan aku meminta asisten kami untuk memanggil bajaj. Sesudah bajaj sampai depan pintu rumah, aku naik dan sempat mengganti status di BB : “Perfume Chanel No 5, mobilnya bajaj orange”.

Seru juga naik bajaj, dan memang lebih bisa nyelip di kerumunan mobil-mobil. Tapi, aku heran mengapa dia tidak masuk ke jalan yang sebelah gereja Effatha.

“Pak, kok belok kiri…”
“Ngga boleh masuk situ. Nanti lewat sana”
Ya sudah kupikir mustinya dia tau dong… Dan dia ikut antri untuk ambil karcis parkir di pintu masuk yang depannya hotel Ambhara. Sambil antri dia berkata,
“Ibunya Sofie ya?”
Loh kok dia tahu?

“Bukan pak, saya tantenya….. “
“Kakaknya ibunya Sofie ya?”
“Iya, makanya gede…” sambil manyun hihihi

“Saya sering anter sofie. Dulu oma suka bilang sama saya… hati-hati bawa anak-anak… Kasian ya Oma…sepi sekarang”
………………. Dan aku terharu… amat terharu. Sekali lagi aku menemukan orang yang mengenal oma (mama). Dia terlihat tulus menyatakan kesepian tak ada oma. Aku harus menahan air mataku.

Tapi, dia tidak membawaku ke jalan sebelah kiri tempat Pasaraya berada.

“Loh mau ke mana pak?”
“Sana…”
“Udah pak sini aja. Nanti saya jalan”, dan aku keluar dari bajajnya dan membayar lebih + 2000 untuk masuk. “Titip anak-anak kalau antar ya….”
Dan aku harus berjalan melalui jalan rusak di depan Gramedia Blok M, yang sepi, sambil ketakutan juga, jangan sampai dijambret. Pak Djaelani, kalau tadi kamu belok kiri di sebelah Effatha, aku tidak perlu jalan jauh. Tapi dengan demikian aku kehilangan moment mengenang mama.

 

Sesaat sebelum turun aku tanya boleh ambil foto tidak 😀 Dan inilah fotonya. Ternyata si Opa (papaku) pun sampai punya no HP nya! Dan aku pernah sms padanya minta “dijemput” untuk pergi bukber daerah blok M ahhahahaa Canggih supir bajaj sekarang

Salah satu episode Perjalanan Hati 2012.

Perjalanan Hati

Sudah pernah baca buku “Perjalanan Ke Atap Dunia”nya Daniel Mahendra? Buat yang pernah bermimpi melanglang buana kurasa buku ini patut dibaca. Aku sendiri baru saja mendapatkan buku ini beserta tandatangan pengarangnya, meskipun aku sudah baca catatan perjalanannya ke Tibet waktu dituliskan di blognya, setahun yang lalu.

Dalam percakapanku dengan Danny, aku mengatakan, “Aku bukan backpacker, meskipun aku suka berwisata. Tapi ternyata aku TIDAK mencari keindahan suatu daerah/kota, karena jika aku bepergian aku lebih mencari orang-orang yang kukenal. Aku akan berusaha pergi ke suatu tempat yang baru jika aku kenal seseorang yang tinggal di situ. Untuk menemuinya, dan keindahan tempat di situ (wisatanya dan pertemuan dengan orang lain lagi) hanya menjadi sebuah bonus. Aku jarang bahkan tidak pernah menentukan tujuan kepergianku tanpa ada pertemuan dengan seseorang. Entah itu Amsterdam, New York, Manchester, dll semua pasti ada temanku atau saudaraku di sana. Perjalananku adalah perjalanan hati.” Aku ingin sekali pergi ke Surabaya menemui teman SMP Gatot dan teman SMA ku Nana, atau ke Tasik menemui Nana Harmanto dan BroNeo, atau ke tempat-tempat lain dimana ada temanku di sana. Sayangnya waktu yang kupunya (dan dana tentunya) tidak mendukung, sehingga perlu dibuat daftar yang cukup panjang.

Namun salah satu tujuan setiap aku mudik, berhasil aku laksanakan pada tanggal 3 Agustus yang lalu, yaitu ke Rumah Dunia. Kebetulan sekali ada acara bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia” karya Daniel Mahendra yang dibedah Yudi Kudaliar Febrianto yang merupakan rangkaian acara Nyenyore, program “ngabuburit” ala Rumah Dunia. Sebetulnya aku ingin mengikuti acara Kado Lebaran untuk anak-anak pada tanggal 5 nya, tapi karena aku sudah ada rencana lain, kupikir aku majukan saja rencana pergi ke Rumah Dunia nya pada tanggal 3 Agustus itu. Lagipula selama aku kenal Danny, aku belum pernah datang pada acara launching atau bedah buku karyanya (Epitaph dan Perjalanan ke Atap Dunia” ). Oleh Yudi dikatakan buku PKAD ini sebagai RACUN! Mau mengetahui sebabnya silakan baca ulasan Yudi di sini.

Aku mengikuti acara ini sampai sekitar pukul 5 (dimulai pukul 4 lewat), sambil kemudian aku bersama mbak Tias Tatanka (istri Gol A Gong) mempersiapkan es teler dan makanan kecil untuk acara berbuka. Meskipun demikian aku sempat mendengar “malu-malu”nya Danny ketika mengatakan, “PKAD ini menurut saya memberikan kebahagian yang begitu besar, karena selain dibukukan dalam jangka waktu setahun setelah perjalanan, buku PKAD juga yang memberikan seorang calon istri kepada saya”. Ya, akhirnya seorang Daniel Mahendra, mengumumkan bahwa dia akan mengakhiri masa lajangnya. Siapa calonnya? Tunggu saja press release DM karena bukan wewenangku untuk memperkenalkan siapa calonnya, yang pasti inisialnya adalah LS. 😀

Aku selalu senang melihat kegiatan Mbak Tias dan Mas Gong dalam menjalankan gempa literasi dengan berbagai kegiatan di Rumah Dunia. Kadang jika membaca kegiatan mereka berdua yang tak ada hentinya, aku merasa capek sendiri, dan berdoa semoga keduanya tetap diberikan kesehatan dan energi yang melimpah oleh Yang Mahakuasa. Kali itu aku juga sempat mengobrol dengan ibunda Mas Gong, yang kami panggil Nenek, seorang perempuan bersahaja yang melahirkan penulis novel terkenal. Dalam pembicaraan seperti begitu, aku sering harus menjelaskan kehidupanku di Jepang, yang bagi yang mendengar seakan “hebat” tapi menurutku biasa saja. Selalu ada sisi positif dan sisi negatif, di mana saja kita berada dan tinggal.

Sore yang tidak terlalu panas jika tidak bisa dikatakan sejuk, berubah menjadi malam yang pekat. Satu hal yang mungkin perlu diketahui teman-teman Rumah Dunia dibangun secara gotong royong dan sukarela sehingga tempatnya benar-benar berada dalam lingkungan pemukiman, dan tidak mempunyai listrik jalanan yang memadai. Hal itu terasa sekali waktu kami ingin berfoto bersama di depan panggung Balai Belajar Bersama yang tanpa pencahayaan. Untung aku cepat meminta supirku untuk memutar mobil dan membantu penerangan ke arah balai sehingga masih bisa membuat foto seperti ini. (Foto courtesy of Yudi  Febrianto)

Satu-satunya foto yang membuktikan bahwa aku pergi ke RD tanggal 3 Agustus itu 😀

Karena makan malam yang berupa gojlengan akan disajikan pukul 8:30, padahal aku masih harus pulang ke Jakarta, maka aku mohon pamit. Tapi sebelum itu sempat mengikuti acara tiup lilin ulang tahun Mbak Tias yang bintangnya sama dengan suaminya yang akan berulang tahun tanggal 15 Agustus mendatang. Ah ternyata banyak sekali teman-teman akrabku yang berbintang Leo!

Tetapi karena merasa belum puas mengobrol, Koelit Ketjil (KK) mengajak ngopi bersama. Berdelapan termasuk aku dan Mas Gong beranjak menuju kedai kopi di depan kepolisian Serang. Kedai kopi yang cukup lengkap menyediakan berbagai macam kopi, bukan hanya “nama” asing dengan pilihan kopi yang kurang maknyus. Aku dan KK memilih kopi Lanang Aceh sebagai pilihan kami, sementara Mas Gong yang bukan penikmat kopi memilih Hot Chocolate. Ternyata tepat sekali pilihanku, kopi Aceh memang maknyus sekali. Setelah ngalor ngidul bicara soal pendidikan luar sekolah di Jepang sampai pada wejangan untuk calon pengantin baru, kami berjabat tangan perpisahan pukul 8:15. Akupun kembali ke Jakarta menembus jalan tol yang masih padat terutama oleh truk-truk dan kendaraan berat lainnya dalam pekatnya malam. Namun kutahu hatiku tidak pekat, karena selalu ada cahaya-cahaya harapan bagi negeriku tercinta. Cahaya yang dipancarkan sahabat-sahabat yang berusaha membangun dunia melalui literasi dan buku. Kudoakan Rumah Dunia akan tetap terus berdiri dan menjadi contoh bagi Taman Baca lainnya. Banzai!

 

Peserta sesi lanjutan acara Nyenyore di Kedai Kopi

Utara, Selatan dan Khatulistiwa

Kalau dilihat dari Jakarta, ya memang Jepang terletak di utara, serta Australia di selatan. Dan kami, aku yang dari Jepang serta Donny yang dari Australia bertemu di khatulistiwa, tepatnya di ibukota Indonesia.

Setiap aku mudik ke Jakarta, memang aku selalu menyempatkan diri untuk kopdar dengan teman-teman blogger. Tapi khusus kali ini aku hanya merencanakan  kopdar jauh hari dengan teman blogger dari Australia yang kebetulan juga sedang mudik ke Indonesia. Tapi waktu yang memungkinkan kami untuk bertemu hanya 3 hari, yaitu hari setelah aku mendarat dan sebelum dia kembali ke Sydney. Jadilah jauh-jauh hari kutentukan untuk bertemu setelah papa ulang tahun, yaitu tanggal 30 Juli.

Sebenarnya kami berdua pecinta sushi, namun karena sang istri, Joyce sedang flu, ingin makan yang panas-panas sehingga akhirnya kami janji bertemu di Pasific Place di restoran Sop Buntut Bogor Café, yang menyediakan sup buntut legenda dari Hotel Borobudur. Daripada jauh-jauh ke hotel Borobudur lebih baik ke Pasific Place yang memang juga lebih dekat dari rumahku.

Sup buntut yang konon terkenal seantero Jakarta.

 

Aku dan Krismariana datang terlebih dahulu dan sambil menunggu Donny, kami sempat bertukar buku. Tak lama kemudian kami melihat Donny masuk menggendong anaknya Odi dan kereta dorongnya. Well, aku memang sudah mengenal Donny lewat tulisannya, dan sekarang bisa membuktikan secara langsung rajahan nama Odilia di leher pasangan suami istri itu. Lucunya kami  sama sekali tidak membicarakan tulisan-tulisan kami di blog tapi justru membicarakan pengalaman-pengalaman waktu kepulangan Donny ke Jogja/Klaten dan Jakarta.

 

Sambil menghabiskan pesananku yang legendary, yaitu sup buntut rebus dengan porsi mantap alias cukup besar, aku juga sempat bermain dengan odilia yang menggemaskan.  Sementara itu aku juga sempat mengirimkan pesan singkat ke empunya PP, mas NH18, jikalau beliau bisa muncul menjumpai kami di sela-sela waktu kerjanya. Namun sampai kami bermaksud pulang kembalike rumah masing-masing, mas NH belum memberikan kabar apakah beliau bisa atau tidak. Eh untung saja kami masih sempat bertemu di lobby bawah setelah mas NH mempercepat meetingnya. Inilah kopdar pertamaku di Jakarta th 2012 yang dihadiri oleh Krismariana, Donny Verdian dan mas NH18. Meskipun merupakan standing kopdar, cukuplah untuk menambah pengalaman daftar kopdar antar blogger sedunia 😀

 

standing kopdar PP : dari kiri ke kanan Mas NH18, Donny, Imelda, Krismariana

Sebetulnya pada hari yang sama, siang harinya, adik angkatku yang tinggal di Hongkong juga mendarat di Cengkareng. Ntah kenapa dia tak bisa menghubungi HPku sehingga dia langsung menuju ke rumah dan sempat bertemu dengan adik dan  papaku, tapi aku belum kembali dari PP. Jadi begitu ada waktu malam harinya, aku langsung menemui Kimiyo di hotelnya. Perjumpaan setelah 2 tahun tak bertemu ditandai dengan hadirnya bayi Haru, adik dari Aoshi yang sangat sumringah, full of senyum!

Menemui adik angkatku Kimiyo bersama kedua anaknya Ao dan Haru.

Karena aku mau menemani Kimiyo, Ao dan Haru berlibur di Jakarta, maka sampai dengan tanggal 7 aku tidak merencanakan membuat kopdar. Baru setelah tanggal 7 Agustus aku ada waktu….sedikit 😀