Arsip Tag: kopdar tokyo

Pecicilan

Hayooo pecicilan itu kata dasarnya apa? cicil? Tapi waktu aku cari di KBBI daring (yang sekarang sedang down) hanya dapat 2 arti : 1. mencicil seperti kredit dan 2. mata membelalak. Padahal yang aku maksud dengan pecicilan bukan mata membelalak, tapi yang artinya “tidak bisa diam”. Jadi pasti bahasa Jawa tuh. Langsung aku konfirmasikan ke Krismariana, dan memang untuk mengatakan  “tidak bisa diam” bisa dipakai kata “pecicilan”.

Tentu saja tahu dong siapa yang pecicilan kan? Ya si Koala, alias Kai, anak keduaku. Hari Selasa, 1 November itu aku janji bertemu dengan Ade Susanti dan suaminya jam 11 di Stasiun Tokyo. Mereka dari Nagoya naik shinkansen. Tadinya kupikir aku bisa pergi sendiri dan menemani mereka sampai jam 4-an karena aku akan memperpanjang jam belajar di TK nya sampai jam 5. Eh, ternyata aku salah lihat daftar rencana belajar, rupanya tanggal 1 November itu TK nya Kai libur karena ada penerimaan murid baru untuk tahun ajaran (April)  2012-2013. Ya sudah, terpaksa dong aku bawa Kai.  Dan untung sekali kami bisa berkomunikasi lewat sms sehingga bisa bertemu di Stasiun Tokyo yang begitu luas.

Imperial Palace dari luar, kiri bawah Nijubashi

Karena kami mau menaruh koper dulu ke hotel di Asakusa, maka aku pikir lebih baik naik taxi. Lumayan kalau bawa koper naik turun subway yang termasuk lama (sejarahnya) karena biasanya tidak ada eskalatornya. Sesudah naik taxi, aku tanya soal Imperial Palace yang bisa dikunjungi umum itu yang mana. Eh pak supir baik, dia bilang, itu sudah keliatan kok, apa mau dilewati. Wah asyik juga, jadi aku minta pak supir melewati pintu Gerbang utama Palace, dan jembatan Nijubashi. Aryo, suami Ade ingin sekali memotret Nijubashi. Tapi kami cukup kecewa waktu melihat Nijubashi itu tidak sebesar perkiraan kami waktu melihat foto-foto pariwisata. Kecil deh hehehe. Yah, cukuplah aku mengambil foto dari dalam taxi saja. Nanti kalau ada waktu bisa kembali lagi.

Becak tradisional, Gedung Asahi, Sky Tree

Dari depan taman istana, kami menyusuri jalan melalui Akihabara, Ueno, Asakusa, dan kami turun persis di stasiun Asakusa. Ternyata hotel yang dipesan dekat sekali dengan hotel. Aku cukup senang dengan pelayanan hotel bisnis yang cukup ramah dan pintar berbahasa Inggris. (Tapi ngga tau sih bagaimana kalau menginap, nanti musti tanya pada Ade). Karena belum waktu cek in (waktu itu menjelang  pukul 1:00 padahal waktu cek in pukul 3 sore) koper ditinggal dan bisa langsung dimasukkan ke kamar begitu kamarnya selesai. Dan kami keluar lagi untuk cari makan siang. Nah aku menanyakan pada Ade, maunya makan Segala Tahu atau Shabu-shabu. Dan pilihan ke Shabu-shabu.

Kiri atas: Latar Mitsukoshi Ginza, kiri bawah tahu dengan asparagus

Jadi kami menuju Ginza yang terkenal sebagai Daerah Shopping (Kalau di New York ya Fifth Avenue deh). Kami menuju stasiun yang letaknya dekat sekali dengan hotel, dan jalurnya adalah Ginza Line! Jadi kami bisa langsung ke Ginza tanpa harus ganti-ganti kereta lagi. Dengan waswas aku masuki stasiun subway. Aku jelaskan pada Ade bahwa aku tidak bisa naik subway karena pernah panic syndrome, jadi harus ajak aku bicara terus, supaya aku tidak panik. Untunglah Ginza Line itu tidak terlalu dalam di bawah tanah(karena Ginza line adalah subway nomor 2 yang dibangun di Tokyo, Nomor satunya Marunouchi line), jadi aku bisa tahan melampaui 10 stasiun sebelum sampai ke Ginza. Senang juga bisa naik subway lagi. Tapi aku tidak yakin aku bisa naik sendiri. Sedapat mungkin aku cari kereta di atas tanah, bus, atau taxi hehehe.

Begitu sampai di Ginza, kami menuju Ginza Core Building lantai 2, tempat “Shabusen”, restoran shabu-shabu yang enak dan reasonable  di Tokyo. Aku sekaligus bernostalgia di restoran ini, karena dulu waktu single lumayan sering aku makan di sini, baik dengan papa mama jika datang ke Tokyo, atau teman-teman papa, atau teman-teman gereja. Aku ingat sekali ada satu teman gerejaku yang laki-laki bernama S yang bisa tambah nasi sampai 5 kali (disini bisa tambah nasi atau bubur sebebasnya jika kita pesan shabu-shabu daging). Dan ada satu appetizer (makanan pembuka) yang selalu aku pesan di sini yaitu asparadofu (Tahu sutra dengan asparagus) it melted in your mouth!

 

Shabu-shabu di Shabusen, Ginza

(Eh omong-omong soal tambah nasi, aku sampai tambah dua kali loh, soalnya Kai makan bersamaku, dan dia bisa makan 1 mangkok nasi ukuran orang dewasa! aku sampai heran sekali…..)

 

Torii sebelum menuju Kuil utama Meiji Shrine, Kai dan Ade bergaya ultraman.

Dari Ginza kami langsung menuju ke Meiji Jingu (Meiji Shrine) di daerah Harajuku. Begitu naik lewat pintu keluar no 2, kami langsung menemui sebuah jembatan yang mengarah ke Shrine yang ditandai dengan terlihatnya sebuah Torii (Pintu gerbang kayu) besar nan kuno. Mulai di situ kami harus berjalan jauuuh melalui jalan berkerikil yang diapit pepohonan rimbun. Tidak terasa bahwa kami ini berada di dalam kota Tokyo dengan lebatnya “hutan” ini. Memang merupakan ciri khas bahwa kuil Jepang pasti berada di dalam “hutan” karena menunjukkan keharmonisan dengan alam. Cukup jauh kami berjalan, sampai  kami menemui pameran Kiku 菊 atau Bunga krisan/seruni di sepanjang kanan jalan. Memang Kiku dapat dilihat pada musim gugur (Aku jadi teringat melihat sebuah pameran boneka dari seruni di Nihonmatsu sekitar bulan ini puluhan tahun lalu). Bunga kiku atau seruni merupakan lambang kekaisaran Jepang yang dipakai dalam simbol-simbol kenegaraan.

Bunga Seruni/Krisan berwarna ungu di Meiji Shrine

Akhirnya kami sampai di bagian utama kuil Shinto ini. Dan kebetulan waktu kami masuk ada iring-iringan pendeta Shinto Kannushi memasuki sebuah ruang , sedangkan dari ruangan yang lain keluar serombongan laki-laki berhakama. Kami ditahan untuk tidak mendekati kannushi oleh beberapa petugas berseragam. Aku tak tahu apakah mereka dari kepolisian (sepertinya sih bukan karena bukan seragam polisi) , mungkin dari protokol kuil. Dan di dengan panggung utama ada semacam panggung di tengah-tengah yang ternyata merupakan tempat pertunjukan musik tradisional Jepang. Jadi deh kami mendengarkan sepotong konser tradisional dan melihat  sebuah iringan pengantin ala shinto.

Iringan Kannushi, dan panggung utama kuil

Akhirnya sekitar pukul 4: 15 kami berjalan pulang menuju stasiun dan berpisah. Riku sudah berkali-kali meneleponku dan menanyakan aku sedang berada di mana. Dia pulang dari sekolah jam 3 siang dan sudah bisa tinggal di rumah sendiri. Tapi karena sekarang jam 5 sudah gelap dia sering takut sendiri. Dari stasiun  Harajuku JR aku ke Shibuya, kemudian naik Inokashira line sampai Kichijouji. Aku sengaja ambil rute ini, karena aku takut Kai tertidur di tengah jalan. Sesedikit mungkin berdiri dan kalau perlu aku bisa naik taxi dari Kichijouji untuk pulang ke rumah. Jika Kai tertidur. Soalnya Kai jalan kaki terus bersama kami, sejak awal dan tidak satu kalipun minta gendong. Bahkan dia sering berlari-lari muter-muter, seakan-akan energinya tidak habis-habis…. aku serem kalau dia teler di perjalanan pulang, dan aku harus menggendong dia… oh nooooo….

Tapi ternyata Kai memang sambil berkata, “Mama aku capek” tapi tetap berjalan terus, tidak tertidur, dan masih mau aku ajak berkeliling food court Atre di Kichijoji untuk membeli makanan jadi. Aku sih sudah teler untuk masak lagi, dan pasti Riku sudah lapar dan menagih makanan begitu aku pulang. Kami akhirnya sampai di rumah pukul 6:30 dan disambut Riku, “Mama aku lapaaaar” hehehe.

Well satu hari yang melelahkan tapi mengasyikkan. Sudah lama aku tidak jalan-jalan di dalam kota Tokyo, dan dengan kedatangan Ade, aku bisa bernostalgia, dan juga bisa naik subway! Tapi ya itu 30% capeknya aku ya karena Kai pecicilan terus, sehingga memerlukan kewaspadaan extra waktu kami berada di pinggir jalan besar, atau di peron stasiun. Tentu saja aku tidak mau anakku celaka kan?

 

Stasiun Harajuku JR

Kopdar Tokyo

Asyiiik, setelah tahun September 2009 aku bertemu dengan blogger Mas Agustus Nugroho di Tokyo Tower, hari ini aku mengadakan kopdar kedua di Ueno – Asakusa. Ya aku bertemu dengan Ade Susanti atau yang lebih sering dikenal dengan Unidede.

Setelah mendarat dan check in di hotelnya, Unidede menghubungi aku dan kami janjian bertemu di Ueno. Akhirnya kami bertemu menjelang jam 3 di depan Hard Rock Cafe, Hirokoji Exit di Ueno. BTW, aku baru tahu bahwa ada HRC di Ueno. Setahuku HRC hanya ada di Roppongi. Ketahuan deh sudah lama tidak main-main 😀

Kami berlima, Unidede dan suami, aku, Riku dan Kai akhirnya makan siang di sebuah restoran sushi yang berada di lantai 2. Dan yang menyebalkan aku terlambat mengambil bill bayaran sehingga akhirnya aku ditraktir Mas Aryo deh. Terima kasih banyak ya. Aku juga dibawain Beng-beng, Kopi dan Teh Kotak!  Waaah sekeluarga menikmati oleh-oleh sampai merem melek di rumah.

Late lunch dengan sushi...

Sesudah makan kami naik taxi ke Ueno. Tidak jauh, sekitar 1200 yen ongkosnya. Dan kami bisa melihat Sky Tree menjulang. Sayang waktu itu aku repot pangku si Kai, jadi tidak bisa memotret Sky Tree di depan mata. Oleh pak supir kami diturunkan persis di depan Kaminari Mon, pintu gerbang menuju Kuil Sensoji, Asakusa, yang merupakan tempat wisata yang harus dikunjungi di Tokyo.

Di depan Kaminari Mon

Ada banyak pemuda ber-happi (kimono pendek) yang menawarkan untuk naik Jinriki-sha (becak yang ditarik manusia), aku pernah tulis di sini. Kata temanku sih satu keliling sekitar 4000 yen, maklum tidak pernah coba untuk naik sih.

Setelah berfoto di depan Kaminari Mon, kami masuk menyusuri toko-toko sepanjang jalan kiri-kanan. Riku dan Kai senang sekali, bagaikan kuda lepas berkata, “Mama boleh ini? boleh ini?” Dan mamanya kadang harus pasang muka anker dengan berkata “tidak boleh!” Tapi kami sempat membeli gantungan kunci, coba minum amazake dan makan kibidango (kue mochi yang dibawa oleh Momotaro sebelum menaklukkan Oni di Onigashima) , mizuame (permen berisi buah-buahan, lengket-lengket deh hihihi) dan terakhir aku belikan pra model untuk mereka berdua.

Deretan toko-toko sepanjang jalan menuju Kuil Sensoji

Terakhir aku ke Kuil ini sudah sekitar 15 tahun lalu, waktu masih single, dan waktu itu siang hari. Ternyata kalau malam hari memang tempat wisata Jepang itu lebih terasa mistis dan indah. Asalkan di light-up ya, kalau tidak ya susah untuk ambil fotonya. Dari depan kuilnya pun kami bisa melihat sepotong dari Sky Tree yang menjulang. Mas Aryo yang kameranya sama denganku (Nikon D80, tapi lensanya lebih canggih tuh) juga banyak mengabadikan kuil ini.

Pemandangan malam hari di Kuil Sensoji

Akhirnya sekitar pukul 6:30 kami kembali ke Ueno naik taxi lagi, dan berpisah di Ueno, dengan janji untuk bertemu kembali besok, Selasa pagi untuk jalan-jalan di Tokyo. Tapi bener deh, jalan-jalan bawa anak itu….refoooot banget. Tanya aja sama unidede, betapa lincahnya si Kai 😀

Ayoooo siapa lagi yang mau kopdar di Tokyo? Tak tunggu loh 😀

Recovery and TBoB

Ya akhirnya TE bisa pulih dan recover seperti semula. Tidak pakai recovery disc tapi berkat kebaikan Mas Astho, pemilik hostemple. Saya mulih kembali pakai hosting dari beliau, yang memang masa berlakunya masih ada. Jadi ceritanya sebelumnya  itu aku pindah ke server yang berada di Singapore, dengan harapan teman-teman dari Indonesia akan lebih mudah mengakses blog ini. Aku banyak menerima komplain dari teman-teman yang memakai salah satu provider, mengatakan sulit mengakses ke TE karena memang server Mas Astho ini berada di Amerika. Coba-coba pindah awal Juni, tapi eeeh bukannya lebih lancar, tapi kelancaran alias terlalu lancar yang akhirnya bermasalah dengan disuspendnya account aku. Setelah mengalami beberapa kali suspend, akhirnya aku buang semua plugin yang tidak perlu serta berhati-hati sekali dalam mempromosikan TE di social media yang lain. Nah, puncaknya waktu Senin pagi, mungkin semua warga Indonesia buka TE pas jam 9 pagi untuk blogwalking (hiperbola banget) , dan aku tulis di Twitter pada Vixxio, bahwa aku menulis tentang Vixxio di TE loh…. sehingga semua pengguna Twitter sedunia mengakses TE (lebay ngga sih?). Dan …… Jederrrrrrr…. aku diultimatum memakai 20% resources CPU si Singapore. Account suspended deh 🙁

Dan waktu itu aku yang sedang membuka dashboard kaget baca di Twitter, “Mbakkkk kok TE ngga bisa dibuka?”…. dan di Inbox FB, mas Nug menulis begini: “Mel aku tadi mau buka Blog mu kok gak bisa ya. Tulsiannya Account suspended. Hm…” Kubalas dengan menjelaskan dan disahut dengan: “Resiko jadi selebriti sepertinya mel.. Wkwkwkwk… Ya udah nikmatin aza.. :)” . Dan benar waktu aku refresh dashboardnya, aku ditolak. huhuhuhu…. Ngga boleh masuk rumah sendiri. Well, aku langsung tanya ke Mas Astho, dan sepakat mengadakan percobaan pindahin ke hostingnya kembali sambil memonitor, apakah aku akan di suspend oleh server Amerikanya…. So, Jika nanti sesudah posting ini ada kejadian suspended lagi, berarti bener aku sudah bisa jadi celebrity deh….  dan kudu punya server sendiri hahahaha.

Sebetulnya berbarengan dengan “sakit” nya TE, anakku Kai juga sakit. Demam dan batuk hebat! Tiga hari demam membuat dia lemas dan tidur terus. Jadi waktu hari Selasa tgl 22 Juni itu, dia memang agak demam, binetsu bahasa Jepangnya, 37,2 derajat. Padahal batas orang dikatakan demam adalah 37,5. Jika sudah 37,5 maka kami tidak bisa menitipkan anak-anak ke hoikuen, penitipan. Batuk juga cukup parah, sehingga aku menelepon gurunya dan mengatakan bahwa hari itu aku akan mengantar Kai ke RS dulu dan meliburkan penitipan. Oleh dokter diberi obat seabrek.

Mukanya Kai waktu sakit.... hiks...kasihan yah .

Dia bermain dengan kakaknya Selasa malam itu, dan tentu saja berantakanlah rumahku. Sambil marah-marah aku suruh mereka membereskan mainannya. Tak lama lagi Kai mulai lemas dan mengajak tidur. Berbaring di sebelah dia, aku raba demam tinggi! 38 derajat lebih. Mukanya melasss sekali, sehingga aku berkata, “Kai maaf ya tadi mama marah-marah. Gomennasai” Dan dia jawab dengan ” go…men… na…sai………”. Nangis deh aku…hiks.

Setelah lewat 3 hari akhirnya dia bisa lumayan sehat meskipun batuknya tetap parah. Dan puncaknya hari Senin, Kai tidak bangun sejak tidur malamnya, sampai jam 3 siang! Wadow … bener-bener hibernasi. Tapi berkat istirahat itu dia sudah bisa ke penitipan esoknya.

Nah setelah TE dan Kai sembuh, malah akunya malas nulis. Biasa kan, kalau nafsu dipending, pas sikon memungkinkan …udah ngga nafsu lagi. (Nafsunya nafsu MENULIS loh!)  Padahal banyak sekali yang mau aku ceritakan. Jadi untuk mengawali tulisan di awal Juli ini, aku mau menulis tentang TBoB. Ini singkatan dari The Beauty of Blogging, trade marknya mas NH18, yang baru saja (blognya) nangkring di Indonesian Matters. Hebring ya! Ungkapan itu selalu dia ucapkan dalam laporan-laporan kopdar antar blogger sehingga akhirnya kami juga akhirnya sering memakai istilah ini.

Well menurutku sebetulnya TBoB ini bisa dibagi dua, yaitu bertemu teman-teman dalam satu blog secara “maya” , pertemuan tidak berupa fisik, tapi mungkin suatu saat pernah atau akan bertemu fisik. Misalnya di blog TE si A bisa bertemu si B, yang ternyata teman lama, atau kakak kelas, atau bahkan ternyata ada unsur saudara, seperti saya dengan Ria yang pernah kutulis di sini. Lalu, baru-baru ini aku kedatangan tamu di TE kakak kelas di SMA, Retty yang ternyata temannya Krismariana dan Diajeng. Sampai-sampai Mbak Retty (cihuy …kita ngga pernah mbak-mbak-an sebetulnya) merasa perlu menuliskan pertemuan kami di sini.  Silakan teman-teman bertandang juga ke sana, meskipun blognya berbahasa Inggris, komentar boleh pakai bahasa Indonesia kok, ya kan Ret hihihi. Biasanya udah keder dulu sih kalau baca blog berbahasa Inggris.

Nah TBoB yang kedua adalah pertemuan berupa fisik, alias kopdar. Dan tanggal 26 Juni lalu, aku kedatangan seorang tamu blogger di rumah. Yang lucunya aku mengenal Narpen ini awalnya dari Ibu Enny, yang adalah ibunya Narpen dan blogger kondang. Aku bertemu ibu Enny pertama kali bulan November th 2008, yang laporannya ada di sini. Memang pertemuan aku dan Narpen merupakan yang kedua kalinya Yang pertama buru-buru di rumah Jakarta) , tapi sejak Narpen belajar di Jepang, pertama kalinya kami bertemu dalam suasana santai.

siap makan malam!

Riku awalnya ribut terus tanya-tanya siapa yang mau datang, karena aku butuh waktu seminggu untuk membereskan kamar yang tadinya sudah menjadi gudang. “Mama, yang datang orang Indonesia? Laki-laki atau perempuan?” …. Dan Riku dan Kai juga yang membukakan pintu di pagi hari kala Narpen mengebel pintu rumahku. Kali ini Kai lebih lihai, dia yang memonopoli Narpen untuk menemani dia bermain.

Jadi deh Kai mendaulat Narpen untuk bermain Lego

Khusus untuk Narpen aku buat bakso dan ayam bakar bumbu rujak. Pesan ayam dan daging halal di Bumbu-ya, dan kali ini daging gilingnya pas cocok untuk dibuat bakso. Sukses deh!

Sayang sekali Narpen hanya menginap satu malam, karena esoknya dia ada janji dengan temannya.  Blog Narpen sudah pernah kuperkenalkan di artikel DPR yang Di Bawah Pohon Rindang.

Jadi, mari kita kembangkan TBoB di lingkungan kita ya …tsah!

Rikunya tidak begitu kelihatan. Bersiap santap malam

NB:

Kalau ada yang mau resep baksonya:

Daging giling 1 kg
Tepung Kanji (Katakuriko/corn starch) 200 gr
Bawang putih sesukanya, tapi aku pakai 4 siung besar
Kemiri disangrai dulu, seadanya
Ketumbar sedikit
Lada 1 sdt
Garam 3 sdt

Bumbu digiling dan masukkan pada daging giling yang dihaluskan memakai Food Processor. Tanpa Food Processor daging sulit halus. Kalau sudah tercampur semua baru dimasukkan tepung kanji dan campur pakai tangan. Bentuk bulat-bulat dan rebus dalam air mendidih. Jadi deh.

Kopdar atau Jumpa Fans?

Sebetulnya apa artinya kopdar sih? Kopi Darat, atau bahasa Inggrisnya Off Air. Suatu ajang pertemuan dengan sesama teman dalam suatu komunitas. Bisa jadi sesama pendengar acara Radio, atau TV, atau yang pasti sekarang adalah sesama pembaca blog. Tapi seringnya kopdar itu antar blogger, jarang kudengar pertemuan antara penulis dan pembaca bloggernya. Nah, aku tidak tahu deh apakah yang terakhir ini termasuk dengan Jumpa Fans hehehe.

Ekawati Sudjono, muncul di depan pintu apartemenku

Apapun namanya, yang pasti mulai tanggal 15 sampai 17 malam, aku kedatangan tamu di kandang kelinciku (usagi goya, sebutanku untuk apartemenku yang kecil). Kebetulan Gen tidak ada di rumah karena menginap di universitasnya yang dipakai untuk ujian sipenmaru Jepang. “Tante Eka” demikian Riku dan Kai memanggilnya, akhirnya sampai juga di pintu apartemenku jumat lalu, setelah mengikuti panduan naik kereta, bus dan jalan kaki. Ekawati Sudjono  merupakan orang kedua yang datang langsung ke rumah setelah Ekaperwitasari alias Wita yang pernah kutulis di “Ratu Kopdar?”.  (Heran deh di sekelilingku sekarang byk banget yang namanya Eka… helloooo EKA PNS hahhaha, apa kabar penatarannya)

Rumahku memang tidak begitu sulit dicapai, tapi harus ganti kereta beberapa kali dan naik bus. Biasanya orang asing takut untuk naik bus sendiri di Tokyo, karena memang tiap daerah cara membayarnya agak lain. (Silakan baca juga tulisan Hilda tentang naik bus di Jepang). Kalau dalam Tokyo biasanya 200-210 yen tarif tetap untuk berbagai jarak, dan membayar waktu naik.

bertiga dengan kue yang dibawa khusus dari Tsukuba

Berhubung aku bingung mau masak apa, jadi untuk hari jumat mulai jam 3 an, kita makan onabe, rebus-rebusan ayam, ikan, kerang dan sayuran. Malam juga masih sama. Aku malessss banget masak jumat itu.Tapi karena Eka bawa kue buatan temannya, jadi malam itu kita ada desert yang enak.

Kesempatan juga ada Eka, jadi aku minta dia untuk memotret aku dengan baju yang kuterima dari ketiga sahabat blogger. Biar bagaimanapun, difoto orang lain hasilnya akan lebih bagus daripada foto sendiri. hihihi…

Dan untuk menebus rasa bersalahku dalam penyambutan Eka hari sebelumnya, sabtunya aku masak deh. Ayam Bakar Padang plus balado terong. Asyik banget makan berdua pake tangan, serasa di Salero Bagindo deh. Sayang kurang pedas, karena aku masukkan cabenya terakhir, setelah ambil ayam tanpa cabe untuk anak-anak. Dan aku kaget ternyata Kai makan banyaaaak sekali, nasi dan ayam “gule”.

Kalau begini kan bisa makan pakai tangan, ngga usah pakai sumpit... sayang kurang pedas

Tadinya kami mau jalan-jalan sekitar rumah, tapi karena aku sakit kepala, jadi malas deh…. santai-santai aja di rumah, sampai hari berganti tanggal.  Tadinya ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Eka persis pergantian ke tanggal 17, tapi ternyata aku ketiduran bersama anak-anak dan baru bangun sekitar jam 5:30 pagi.

Aku tidak bisa siapkan kado apa-apa untuk Eka, karena aku sama sekali tidak tahu apa kesukaan dia. Terus terang aku juga baru kenal Eka. Gara-gara dia minta add di FB, tapi dengan pesan begini:  “Hi kk imelda… boleh kenal kah? eka salah satu peserta teacher training-nya monbukagakusho 2009 yg lagi belajar di university of tsukuba =) eka tahu blog kk imelda dari orang tua murid lho karena anaknya juga lagi belajar di ibaraki…eka tinggal di jakarta dan dulu anak sma 70 heheeh ga jauh dari tempat tinggal k imelda =p sebelum berangkat bulan oktober kemaren, sering bgt buka blog k imel =) di confirm yaaaaa.” Siapa yang tidak akan confirm kalau dapat “opening” semanis ini bukan? (heheheh makanya kalau mau add saya di FB, musti kasih alasan hihihi). Tapi setelah jadi friend di FB, baru tahun ternyata Ms Eka ini guru bahasa Inggris keponakanku… what a small world.

Tapi you know, lahir di bulan januari beda 3 hari, sedikit banyak tahu deh sifat-sifat yang dimiliki, yang memiliki persamaan. Jadilah waktu yang dilewatkan bersama kita bercerita tentang ciri-ciri “seorang capricorn sejati” hihihi.

Ini loh yang namanya tumpeng anak-anak..... 😀

Kebetulan rasa ingin masakku hari minggu itu timbul, sehingga waktu dengan berderai air mata Eka cerita bahwa kalau ulang tahun biasanya ibunya membuatkan nasi kuning, aku bilang padanya, “kenapa ngga bilang-bilang? ” Dan dengan lembutnya dia berkata, “Aku ngga mau repotin orang lain kak”…. hihihihi khas nya capricorn.

Happy Birthday sweet seventeen untuk Eka

Jadi deh hari Minggu aku nguprek isi dapur, kira-kira apa saja yang bisa dipersiapkan untuk nasi kuning. Tentu saja bumbu instant… dan jangan sangka bumbu instant tidak bisa enak loh. Yang penting kata Eka, “Masak dari hati”… itu yang menentukan makanan itu enak atau tidak. Eh tapi baru kali ini juga aku lahap makan nasi kuning buatanku (aku biasanya tidak suka makan masakan sendiri) …. kayaknya sih karena ada sambal….

Kai mau bantu.. kalau Riku sih sudah biasa... heboh deh

Demikian pula dengan kue tart Black Forrestnya. Bener-bener darurat karena aku lupa menyiapkan stock bubuk coklat. Jadilah bungkusan cocoa untuk minuman yang dipakai. Biasanya dalam sachet cocoa untuk minuman sudah ada susu/krimnya, jadi warna kuenya tidak bisa coklat tua deh. Tapi sekali lagi yang penting kan rasanya ya Eka….

Yang ulang tahun dengan yang buat kue

Dan sebetulnya selain hasil karya masakanku berhasil diicipi oleh Eka, ada juga hasil kerja tanganku yang lain, yang sayang sekali tidak bisa dipameri di sini. Ya, kata Eka sih sudah sekelas Jonny Andrean hihihi. (Siapa korban berikutnya ya? hihihi)

Well, liburan sudah berakhir, sayang sekali aku tidak bisa mengajak Eka jalan-jalan di Tokyo karena mobil dibawa Gen. Tapi selalu ada lain kali ya Ka…. Ayo, siapa lagi orang Indonesia yang berani datang sampai di depan rumah saya sendiri? Saya tunggu loh 😉 Untuk Eka yang baru tinggal di Jepang 3  bulan (sejak Oktober 2009) ini, selamat melanjutkan pelajarannya, semoga betah dan bisa diterima ke program master…. terima kasih juga untuk kedatangannya bisa membawa suasana Indonesia di rumah, dan menemani saya bersama dua krucil yang suka bertengkar 🙂

Kai yang selalu ngotot mau memotret

Sttt, aku lagi ngeracunin Ekawati Sudjono ini untuk jadi blogger. Di sini nih alamat URLnya dia… http://asakiri.wordpress.com/