Arsip Tag: keramik

Tahu Batik

Tentu saja semua tahu batik ! Gimana sih mama…. (gayanya Kai). Tapi maksudku benar-benar TAHU ,makanan yang terbuat dari kedelai  bukan ‘tau’. Nah lebih aneh lagi ya, kok ada Tahu bermotif Batik? hehehe. Ya paling di Jepang ada tahu seperti ini,

tahu yang dibakar bagian atasnya

 

yang disebut dengan Yakidofu, tahu bakar, tahu jenis momen tofu yang seratnya lebih kasar daripada tahu sutra (kebanyakan tahu di Indonesia termasuk jenis momen, tahu yang dibungkus dengan kain katun) tapi bagian atasnya dibakar, sehingga kalau dari jauh ya bisa saja kelihatan seperti batik hehehe. Yakidofu ini biasanya dipakai untuk memasak Sukiyaki. Nanti bisa juga mungkin dibakarnya dengan cap batik, sehingga bisa benar-benar terlihat seperti tahu yang bermotif batik 😀

Tanggal 2 Oktober  sudah ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional, di Indonesia. Dan tentu saja aku mau dong berpartisipasi, jadi memang berniat untuk pakai baju batik untuk keluar rumah. Kebetulan kemarin itu aku ada janji bertemu dengan dua pastor dan seorang tante anggota gereja di Kichijouji. Sayangnya aku lupa mengingatkan ke 3 orang Indonesia itu untuk memakai baju batik…. terlambat deh. Kami janjian untuk lunch bersama kuliner rendah kalori yang bernuasa tradisional Jepang, karena ruangannya memang ruangan Jepang. Sayangnya kamar yang kami dapatkan adalah KUTANI 2 tidak begitu sesuai dengan bayangan aku. Aku inginnya Imari atau Arita yang pernah aku datangi sekian tahun yang lalu bersama mama. Ya restoran tahu “Ume no Hana” ini menamakan kamar-kamar privatnya dengan nama daerah penghasil keramik. Aku suka keramik, jadi sedikit sedikit aku mulai mengingat motif-motif khas suatu daerah. Memang aku paling suka dengan Arita(yaki) yang kerap memakai warna biru dan merah dalam hasil bakarannya.

Pertemuan itu sebetulnya untuk merayakan ulang tahun Tante Kristin yang jatuh tanggal 28 September, Pastor Ardy yang jatuh tanggal 30 September dan kedatangan pastor Denny dari Kumamoto ke Tokyo. Aku kenal dengan pastor Denny melalui multiply, waktu beliau masih di Italia dan sedang mempersiapkan kedatangan ke Jepang. Sayangnya beliau ditempatkan jauuuh dari Tokyo, di Kumamoto. Setelah ‘kenal’ di dumay (dunia maya)selama bertahun-tahun, baru tahun ini sempat bertemu. Jadilah hampir 3 jam kita bercakap-cakap sambil makan sajian course yang dibawakan bertubi-tubi. Hampir semua terbuat dari tahu, dan kami dilayani seorang pelayan pria yang memakai hakama (kimono untuk lelaki)… cakep juga loh, sayang kok aku tidak kepikiran untuk berfoto bersama dia ya? hahahaha… mungkin karena ‘jaim’ pergi dengan pastor hehehe. (Jadi ngga mau pecicilan gitu). Tapi dari dia kami mendapat info bagus tentang SkyTree 🙂

jenis makanan yang sebagian besar terbuat dari tahu

Sebanyak 15 piring jenis makanan diantarkan dan ditutup dengan nasi, sup kembang tahu dan desert. Meskipun semua jenisnya kecil-kecil kenyang juga euy. Dan waktu aku memesan tempat ini memang ditanyakan apakah ada yang berulang tahun? Karena jika ya, mereka akan memberikan hadiah berupa sumpit kepada yang berulang tahun dan memberikan foto bersama kepada yang hadir. Bagus juga jadi kami ada foto bersama tanpa harus mengeluarkan tripod.

Pelayanan yang sempurna. Foto dari mereka, dekorasi ruangan yang indah, bahkan sampai wc-nya pun nyaman, dan disediakan ruang membetulkan make up. Pintunya rendah seperti memasuki ruang untuk tea ceremony -chado/sado- sehingga kita memang harus membungkuk untuk memasukinya. Jaman dulu yang melakukan upacara minum teh adalah para samurai. Karena memasuki ruangan dengan menunduk, mereka HARUS melepaskan pedangnya dulu sebelum masuk. Memang upacara minum teh harus dengan perdamaian dan kesederhanaan. Wabi dan sabi.

Setelah selesai makan, kami berjalan menuju gereja Kichijouji dan berfoto bersama di depan gereja, juga melihat sepeda lipatnya pastor Denny yang dibawa dari Kumamoto. Jadi selama di Tokyo beliau bersepeda kemana-mana, bahkan malam harinya akan pergi ke Nagano untuk bertemu seorang suster Jepang di sana…. Buatnya jarak 17 km dari Shibuya sampai Kichijouji itu DEKAT! hihihi. (Aku aja dari rumahku bisa juga sih naik sepeda ke Kichijouji, mungkin makan waktu 50 menit… padahal kalau naik bus cukup 20 menit. Hmmm belum berani coba sih). Cukup tergoda juga sebenarnya, karena pastor Denny itu bisa turun berat badannya 20 kg selama 6 bulan hanya dengan mengubah pola makan dan  bersepeda. huhuhuhu pengeeen 😀

sempat juga berfoto di gereja. Pastor Denny dengan sepeda lipatnya.

Lalu kenapa aku menuliskan judul Tahu Batik? Ya, selain kemarin itu hari Batik di Indonesia, di Jepang adalah hari TAHU, karena 10/2 (2 Oktober) dibaca TOFU. Jadi cocok sekali kan kalau makan Tahu sambil pakai baju batik?

(Eh ternyata aku juga baru tahu bahwa tanggal 1 Oktober, selain hari Tokyo, juga hari KOPI … duh ada-ada saja nih orang Jepang. Tapi mungkin yang lebih ada-ada lagi waktu aku melihat iklan di TV pagi tadi tentang teh yang terbuat dari biji kopi yang dikeluarkan oleh Nescafe…. gimana ya bilangnya? Teh kopi? bingung heheheh)

Hobi Baru

Kalau ditanya hobi umumnya orang akan mengatakan : baca buku, masak, makan, gowes/ jalan-jalan, dan …koleksi. Nah, kalau koleksi itu memang bisa macam-macam tidak terbatas (asal jangan koleksi pacar aja yah :D).  Aku sendiri punya koleksi macam-macam. Koleksi perangko, kartu pos, gantungan kunci,  pernah coba ikut teman yang mengumpulkan tissue hotel/restoran akhirnya dibuang, sekarang mengumpulkan koin dari negara yang pernah dikunjungi tapi kalah (jauh sekali) dengan mama.  Sekarang koleksiku tidak pernah bertambah lagi 😀

Kali ini aku ingin bercerita tentang hobi baru keluarga kami, terutama Riku. Tidak jauh dari koleksi sih, tapi cukup sulit untuk mendapatkannya. Bermula dari pelajaran menangkap kupu-kupu yang diikuti Gen dan Riku pada liburan Golden Week yang lalu, mereka menjadi rajin mengikuti acara “hunting” kupu-kupu. Kelompok yang sama (Perkumpulan Henri-Fabre Jepang) pada tanggal 15 Mei yal mengadakan hunting ke daerah Okutama, pegunungan yang berada di sebelah barat Tokyo. Kalau naik kereta dari rumahku makan waktu 2 jam. Lumayan jauh tuh.

Untung senseinya sempat mengabadikan ayah-anak berdua, maklum fotografernya ketinggalan di rumah sih 😀

Karena belum pernah pergi ke daerah Okutama inilah, maka Gen mau melihat juga apa saja obyek wisata yang bisa dikunjungi sebagai getaway kami. Jadilah aku mengantar Gen dan Riku pukul 6:30 pagi naik mobil ke stasiun terdekat rumahku. Dan berdasarkan laporan mereka, daerah pegunungan itu cukup bagus, ada sungai yang jernih, ada tempat camping dan barbekyu yang bernama American Village, dan sebuah gua wisata. Suatu waktu kami sekeluarga ingin pergi ke sana, jika cuaca dan kesehatan mendukung (masih belum sembuh benar nih).

Gen sengaja tidak menceritakan pada Riku sebelum berangkat bahwa mereka harus berjalan jauh, karena tahu Riku paling malas berjalan jauh. Tapi untunglah anakku ini bisa tahan dan mengikuti semua acara sampai selesai, dan tak lupa berpose di mana-mana (kalau ini pasti keturunanku :D)

berjalan membawa jaring, masukkan kupu yg tertangkap dalam kertas segitiga, menuliskan namanya

Dia juga berhasil menangkap jenis kupu-kupu yang jarang didapat, yang bapaknya sendiri belum pernah lihat. Rupanya memang banyak terdapat di daerah itu. Ahlinya memang jauh lebih tahu.

Jadi kupu-kupu yang ditangkap dengan jaring itu, dimasukkan ke dalam kertas parafin segitiga. Sehari sebelum ke Okutama ini, mereka pergi ke toko khusus peralatan serangga di Nakano, untuk membeli kertas parafin ini. Memang jarang sekali kita bisa dapatkan kertas parafin di toko buku/peralatan tulis di Tokyo, harus pergi ke toko khusus.

Kertas parafin segitiga berisi kupu-kupu kemudian dimasukkan ke dalam kaleng segitiga. Kadang kupu itu masih hidup sampai di rumah.

Kaleng segitiga penyimpan kupu yang ditangkap sebelum diawetkan

Nah begitu sampai rumah sedapat mungkin kupu itu langsung “dibentuk” sebelum menjadi keras. Caranya dengan meletakkan kupu diantara dua papan yang memang khusus untuk keperluan itu. Sayap kupu-kupu dilebarkan dan ditahan dengan kertas parafin yang dibuat seperti pita. Jarum pentul dipakai sebagai penahan kertas pita itu.

Membentuk kupu-kupu di dua bilah papan memakai jarum dan pita kertas

Kupu-kupu yang sudah dibentuk itu dibiarkan mengering. Kira-kira seminggu kupu itu dilepaskan dari papan dan dimasukkan dalam bingkai khusus. Hmmm mahal juga loh harga bingkai itu, ukuran sedang seharga 1500 yen (150.000 Rp). Aku sudah manyun aja kalau mereka musti beli bingkai lagi hehehe.

Bingkai sebesar itu tuh 150rb Rp hihihi.... tapi daripada dia main ngga ketahuan di mana dan dengan siapa.

Tapi aku senang melihat Riku mempunyai hobi baru ini. Dia menjadi bertanggung jawab akan koleksinya, dan sangat berhati-hati dalam mengerjakan proses sampai dengan masuk bingkai. Masing-masing kupu di dalam bingkai diberi nama, kapan/dimana ditangkapnya. Dan tentunya jika sudah penuh bingkainya, aku kupajang di dinding rumahku. (Aku ingat dulu sempat membeli kupu-kupu kering di Bantimurung – Malino dan ingin kubingkai, tapi salah membeli bingkai lukisan 😀 )

Ah, aku juga mau cari hobi baru ah…. Ada usul? 😀

Syaratnya: ngga mahal (gratis lebih bagus), ngga lama (bosenan), ngga perlu pakai kaki dan tangan sekaligus (dua-duanya tidak akan bisa bersatu di Imelda, jadi jangan suruh aku dansa 😀 ), dan ngga makan tempat (apartemenku sekecil kandang kelinci euy & ngga ada taman) …..
ada ngga yah yang memenuhi syarat  :)?

Selama ini aku ingin coba:
1. Main Wadaiko (genderang Jepang), ini capek bo… tujuannya biar kurus 😀 tapi tidak ada di dekat rumahku
2. Kaligrafi Jepang (pernah coba, ngabisin kertas dan belum ketemu guru yang mantap)
3. Keramik (ntar deh ini kalau anak-anak udah besar)

Kalau kamu ingin coba apalagi sebagai hobi (baru) ?