Arsip Tag: kebiasaan

Handuk

Selembar kain yang amat penting dalam kehidupan kita. Yang paling sering kita pakai yaitu pada saat mandi tentunya. Nah, kenapa kok tiba-tiba saya jadi menulis tentang handuk?Hmmm… ini masalah kebiasaan saja sih sebetulnya.

Waktu di Jakarta, biasanya setiap anggota keluarga mempunyai satu handuk masing-masing yang dipakai setiap habis mandi, lalu kalau siang dijemur di luar, sore dibawa masuk lagi, dan dipakai. Kalau mendung ya dibentangkan di jemuran handuk khusus. Dan biasanya handuk itu dicuci paling cepat 3 hari, paling lambat 1 minggu. Ibu saya biasanya suka mencak-mencak jika kami meninggalkan handuk di cantelan belakang pintu kamar mandi. Ya tentu saja karena banyak pengguna kamar mandi yang akan menggunakan cantelan itu untuk menggantung baju ganti dsb.

Kebiasaan ini tentu saja saya bawa sampai ke Jepang. Tapi saya mengalami shock budaya pertama waktu menikah. Yaitu, suami saya, si Gen selalu memasukkan handuk bekas satu kali pakai langsung ke dalam mesin cuci. Untung saja orang Jepang mandi sekali sehari…. coba bayangkan kalau dua kali sehari, betapa banyak handuk yang harus dicuci satu hari? Kalau penghuni rumah dua orang, pasti akan menjadi 4 buah handuk ….wahh. Belum lagi, face towel, itu loh handuk kecil yang biasanya diselempangkan bapak-bapak penarik becak atau yang berolahraga. Enaaaak banget langsung masukkan ke dalam mesin cuci setelah satu kali dipakai.

Waktu saya protes, dia bilang…
” loh handuk kan dipakai untuk mengeringkan badan yang basah. Setelah dipakai, dia menjadi kotor, sehingga harus dicuci. ”
Tidak mau kalah, saya bilang lagi,” tapi badan basah kamu itu kan sudah bersih, sudah disabuni. Jadi handuk itu kan basah karena air saja, tidak ada kuman. Ya sudah, kamu boleh ganti handuk setiap kali, tapi aku tetap dengan caraku.”
Meskipun akhirnya karena jadi greget, akhirnya aku juga mencuci handukku kalau tidak setiap habis pakai, ya dua hari sekali. Memang enak sih, plung langsung masukkan mesin cuci yang berada di samping kamar mandi. Cepat dan praktis.

handuk yang lembut bak kulit bayi, putih bersih dan harum
handuk yang lembut bak kulit bayi, putih bersih dan harum

OK, saya tahu bahwa kebiasaan kami ini tidak ramah lingkungan. Karena berarti menghabiskan air untuk mencuci. Tapi kalau sudah kebiasaan, sulit sekali diubah. Dan kebiasaan ini dibawa dari rumah orang tuanya bukan? Jika kami menginap di rumah orang tuanya, maka kami juga melakukan kebiasaan ini.

Tapi, akhirnya saya merasa lega dan boleh tenang sedikit dengan penjelasan  suatu acara kuis televisi. Waktu itu ditanyakan pada para artis yang mengisi acara, berapa hari Anda pakai satu handuk baru kemudian dicuci? Wah ternyata artis-artis itu macam-macam. Ada yang menjawab mempunyai kebiasaan seperti keluarga kami, tapi ada yang sebulan tidak mencuci handuknya…. yieks.

Dalam acara TV itu dijelaskan bahwa, paling lama handuk itu dipakai tanpa dicuci adalah TIGA HARI. Itupun dengan kondisi bahwa handuk itu dijemur di bawah panas matahari. Jika tidak maka hanya berumur satu hari saja. Karena meskipun kita tidak lihat, kuman yang ada di handuk basah itu berkembang dalam tiga hari. Yang juga menjadi parameter bahwa handuk itu perlu dicuci, adalah jika handuk itu sudah menimbulkan bau apek. Langsung harus dicuci. Jika tidak? Ya bersiaplah untuk mengalami gangguan kulit.

Memang lebih segar kan jika kita memakai handuk baru sesudah mandi? Handuk yang empuk bagaikan kulit bayi…. kalau di TV. Karena pada kenyataannya sulit sekali untuk membuat handuk di rumah empuk. Musti beli handuk yang mahal, yang sering disebut handuk hotel + dicuci pakai pelembut pakaian. (Hmmm pelembut pakaian di Jepang jarang yang enak baunya seperti M*lto di Indonesia. Sampai saya selalu membawa dari Indonesia loh hihihi)

Handuk juga ternyata ada bermacam-macam ukuran dan kegunaannya. Saya paling pusing kalau diberitahu gurunya Riku untuk membawa handuk seukuran face towel. Sibuk deh nyari info di google. Face towel itu sebesar apa.

Menurut jenisnya handuk ada beberapa macam. Di bawah ini menurut penjelasan wikipedia Jepang (yang sedikit berbeda dengan wikipedia berbahasa Inggris)

1. Hand Towel. Seukuran saputangan. Wah kalau ini saya memang suka pakai sebagai pengganti saputangan. Daya serapnya juga lebih tinggi dari saputangan biasa.

Saking kecilnya Kai, selimutnya pakai Hand Towel ukuran 30x30 cm
Saking kecilnya Kai (2500 gr), selimutnya pakai Hand Towel ukuran 30x30 cm

2. Face Towel. Handuk Wajah. Gunanya untuk melap muka, sehingga ukurannya biasanya 30×75 cm. Dan face towel ini di Jepang disebut sebagai tenugui, yang sudah ada lama sebelum kebudayaan barat masuk ke Jepang, paling sedikit sejak jama Tokugawa/Edo (1600 an -1867). Karenanya handuk jenis ini paling banyak ditemukan di Jepang. Jika Anda menginap di ryokan atau penginapan ala Jepang, jangan kaget kalau hanya disediakan face towel saja. Karena dengan face towel itulah orang Jepang menggosok badannya dengan sabun, membilasnya lalu memakai towel yang basah itu untuk mengeringkan badannya. Bisa kering? Ohhh bisa…. saya juga heran pertamanya. Tapi tentu saja karena kami mandi dengan air panas, sehingga setelah dikeringkan dengan handuk lembab itu, badan juga masih berkeringat. Tapi lama kelamaan akan kering, apalagi jika berdiri di bawah kipas angin. Bagaikan hair-dyer cold deh hihihi. Karena face towel  ini amat berguna, banyak kantor-kantor yang mencetak nama perusahaannya pada face towel untuk diberikan sebagai oleh-oleh atau waktu mengucapkan selamat tahun baru, atau acara tertentu. Bagi orang yang baru pindahan juga praktis memberikan handuk kecil ini kepada tetangga sebagai “tanda perkenalan”, karena harganya murah dan pasti terpakai. Kalaupun tidak dipakai untuk orang, bisa dipakai untuk bersih-bersih rumah kan. Jadi jangan heran kalau orang Jepang memberikan hadiah face towel, atau satu kotak besar berisi satu atau dua set handuk mandi dan handuk wajah ini. Apalagi kalau buatan luar negeri dan bermerek seperti wedgwood, minton atau YSL.

3. Bath Towel. Handuk Mandi. Ukurannya memang macam-macam, juga bahannya beragam. Yang enak di Jepang ada handuk mandi yang besarnya dua kali lipat handuk biasa di Indonesia, sehingga sering dipakai sebagai towel ket, pengganti selimut atau alas tidur.

4. Selain 3 jenis di atas yang sering kita pakai sehari-hari ada juga yang disebut Sport Towel (yang ukurannya mirip face towel tapi sedikit lebih panjang), Beach Towel sesuai namanya biasanya dipakai wkatu berenang. Biasanya beach towel ini ada yang mempunyai kancing sehingga dengan “bersarung” kan handuk ini bisa ganti baju renang jika tidak ada kamar khusus. Towel Ket (Gabungan Towel Blanket) , yaitu sprei/selimut  yang terbuat dari bahan handuk, bagus dipakai waktu musim panas sehingga dapat menyerap keringat (jika tidur tanpa AC tentunya). Towel Mat, handuk yang dipakai sebagai pengganti keset, terutama dipakai di depan pintu kamar mandi.

Waktu saya mencari bahan tentang handuk ini, baru saya ketahui bahwa suatu kota di Jepang bernama Imabarishi, di Prefektur Ehime merupakan produsen handuk terbesar di dunia. Karena di kota ini saja tidak kurang dari 175 perusahaan pembuat towel yang tergabung dalam suatu asosiasi. Dan handuk Imabarishi ini bertahun-tahun mendapatkan penghargaan grandprix di Amerika.

Orang Jepang suka mandi, meskipun setiap harinya hanya mandi satu kali, pada malam hari. Kalah memang jika dibandingkan dengan Indonesia yang dua kali. Tapi mandi di Jepang adalah kebudayaan yang dinikmati bersama maupun perorangan terutama di pemandian air panas, hot spring. Kalau pergi menginap ke hot spring, dalam satu hari bisa 10 kali masuk ke dalam bak penuh berisi air panas dan berendam….. dan mungkin bak itu berada di alam terbuka. Jadi bisa dimengerti bahwa handuk juga merupakan barang yang mutlak ada dan penting dalam kehidupan orang Jepang.

Saya sendiri suka handuk yang fuwafuwa (empuk) dan harum dan besaaaar (maklum gajah sih) dan berwarna biru atau putih.  Saya senang kalau dikasih hadiah handuk apalagi kalau bermerek hihihi (soalnya ngga mampu beli sendiri sih).

Mau mandi dulu ahhhh!(Saya masih orang Indonesia, jadi suka mandi kapan saja …..)

Kai umur 1 hari, waktu dimandikan oleh bidan
Kai umur 1 hari (belum 2000gr), selesai acara mandi oleh bidan sebelum masuk inkubator lagi

NB: Kata handuk berasal dari bahasa Belanda handdoek. Saya kok jadi ingat dulu ibu saya bilang “doek” untuk pembalut wanita… pernah dengar?

Kartu Nama

Ada satu hal yang kadang saya rasakan kurang ketika bertemu dengan teman-teman lama atau teman-teman baru, baik waktu reuni, maupun  kopdar blogger di Indonesia. Yaitu tidak adanya kebiasaan untuk bertukar kartu nama. Seperti saya dengan Lala, saya tidak punya kartu namanya, sehingga kalau saya mau mengirim sesuatu, saya harus menanyakannya via email atau sms. Dari sekian banyak blogger/teman lama yang pernah saya temui, mungkin hanya 5-10 lembar kartu nama yang pernah bertukar tempat dengan kartu nama saya.

Mungkin memang cukup dengan nama, blog dan email saja. Tapi mungkin karena saya sudah (seperti) orang Jepang, maka saya merasakan ada kejanggalan. Ya, di Jepang, jika mau bertemu dengan seseorang , harus menyiapkan KARTU NAMA atau MEISHI  名刺. Kalau tidak membawa, seakan kamu tidak “serius” dalam berkenalan, dan saya yakin, kamu akan kehilangan chance untuk mendapatkan pekerjaan. Terutama untuk orang seperti saya yang freelancer, then don’t leave home without it! (kalau Anda hanya ibu rumah tangga tentu saja tidak perlu, sekarang cukup tukar menukar nomor HP dan email HP saja!)

Tidak berbeda dengan di Indonesia, Kartu Nama di Jepang tentu saja memuat Nama, Alamat dan Nomor telepon. Untuk bisnis, biasanya hanya mencantumkan alamat dan nomor telepon kantor, nomor HP dan email HP. Dan untuk kalangan entertainer (maklum pernah bekerja di Radio) biasanya dipasang juga foto wajah (bukan pas photo).

kartu nama ini sempat saya pakai sebentar, tapi sekarang sudah habis

Nah ada satu fenomena yang menunjukkan bedanya masyarakat Jepang dan Indonesia mengenai pendidikan. Dan ini saya sering pakai untuk menjelaskan mengenai Gakureki shakai 学歴社会 society which places excessive [undue] emphasis on academic records . Dalam kartu nama saya yang berbahasa Jepang, tidak pernah saya cantumkan gelar kesarjanaan saya. Tetapi dalam kartu nama yang berbahasa Indonesia “terpaksa” saya pasang gelar itu. Saya selalu memberikan contoh kartu nama orang Indonesia misalnya Prof. Dr. H. Alibaba SE, MA, MSc dst dst. (Jadi bahan juga untuk menjelaskan singkatan apa saja itu, termasuk bedanya singkatan dan akronim). Saya rasa sedikit sekali orang Indonesia yang “tidak mau memamerkan” gelar mereka yang panjang-panjang itu. Lah…untuk dapatkannya juga susah payah …mungkin itu alasannya. Dan inilah gakureki shakai… yang jumlah elite berpendidikan masih sedikit (dibanding Jepang), sehingga gelar yang didapat haruslah dipajang.

Saya tidak bermaksud mengritik siapa-siapa, lah wong saya juga akhirnya pakai penulisan gelar itu karena memang masyarakat Indonesia menuntutnya. Sayang saya tidak sempat memotret baliho-baliho caleg di Indonesia waktu itu. Duuuh banyak sekali gelar kesarjanaan yang saya TIDAK TAHU singkatan apa itu. Coba lihat poster caleg Jepang! tidak ada satupun yang memakai gelar kesarjanaan. Dan memang pada dasarnya gelar kesarjanaan TIDAK ditulis. Lulus Universitas itu atarimae 当たり前, lumrah. Gelar kesarjanaan hanya dipakai di biografi buku yang ditulisnya, atau di seminar-seminar ilmiah.

Ada satu cerita lucu yang saya dapatkan dari teman saya. Dia cerita begini:

“Mel, kamu punya kebiasaan nulis sesuatu ngga di kartu nama orang?”
“Ya dong, biasanya tulis pake pensil, ketemu kapan, di mana”
“Tulis ciri khas orang itu ngga?”
“Hahahahahaha … iya, abis orang jepang kan mirip semua. Kadang aku tulis berkacamata, atau pinter bhs indo, atau cantik, atau spt somebody dll”
“Nah …. ini kejadian. Aku dan temanku pergi bertemu orang Jepang. Setelah selesai, kita masih ada di kantor itu beberapa saat, sambil ngopi di coffee shopnya. Terus temen gue ini pergi ke WC. Di situ ketemu dua kartu nama yang jatuh. Ternyata itu kartu nama kita. Dan……

“Hahahaha ada tulisan apa di belakangnya?”
“Ah elu mel, nyela aja. Iya gitu deh, ternyata si Jepun itu tulis ciri khas kita. Nah si temen gue ini sampai pucet, ternyata di kartu namanya ditulis cerewet, gendut, rambut kriwil. Sebel banget dia.
“Haahahaha. Makanya kalo nulis di kartu nama orang tuh yang bagus-bagus aja. Atau jangan pake bahasa yang bisa dimengerti orang lain. Kode dong kode…..”
“IYAAAAA…. tapi kan ini orang Jepang. Dan lu tau ngga di kartu nama gue ditulis apa? Si temen gue ini sampe ngga mau kasihin ke gue, takut gue marah.
“Apa? Gendut? ”

“Masih mending… ditulis HAGE はげ alias BOTAAAAAAAAAAAAAAAKK!”

“Hahahahahahahahaahah…. sorriiiiii but…. abis …. gimana lagiiiiiii”
“Sompret bener tuh orang”
“Hahahaha….. ya sudah… abis mau digimanain lagi kan? ”
“Iya…sekarang masalahnya. Dia ngejatuhin kartu nama kita nih kan. Nah kalo dia mau urusan sama kita kan ngga bisa jadinya. Dia mungkin cari ke WC. Tapi itu kan udah kita ambil. Mau kita balikin, ntar diambil org lain gimana? NAHHHH, kalo kita kembaliin ke YBS, lebih gawat lagi dong. Dia akan tahu kalo kita udah baca “MEMO” dia di kartu nama itu kan. Mazui まずい。 Payah!”
“Hahahahahahha… buah simalakama ya…. susyah deh. Ya diemin aja lah, mustinya dia bisa usaha tanya temennya yang lain atau gimana.”
“Ho oh. Cuman gue kan KESEL banget ditulis gitu”

Cerita nyata dengan sedikit modifikasi. Untuk yang merasa sorry ya …. hehehe.

So, hari ini tentang Kartu Nama ada dua pelajaran penting yang harus dihapal:

1. Selalu siapkan kartu nama jika bertemu dengan orang Jepang
2. JANGAN menulis yang negatif sebagai keterangan di kartu nama orang lain.

eh yang ketiga:

3. JANGAN menjatuhkan kartu nama orang lain di tempat senonoh….hihihihi  (Kalau kartu nama sendiri sih namanya promosi atau cari masalah hihihi)

IBSN: Kapan Anda Merasa Orang Indonesia?

Ya sebuah pertanyaan yang mudah, tapi mungkin agak sulit dijawab oleh orang Indonesia. Karena belum ada standar yang pasti ciri-ciri khas orang Indonesia. Adanya ciri khas orang dari suku Jawa, Sumatra, Bali dll. Mungkin sebuah survey yang dilakukan pada orang Jepang ini bisa menjadi semacam “referensi” bagi kita. Ini adalah sebuah hasil angket terhadap pertanyaan, Kapan Anda merasa bahwa ternyata Anda memang orang Jepang.

  1. Merasa bahagia waktu minum sup miso.
  2. Merasa relaks waktu masuk ke dalam pemandian air panas (hot spring)
  3. Merasa bahagia waktu minum teh hijau
  4. Merasa “at home” waktu mencium bau tatami
  5. Makan acar Jepang
  6. Tidur di kasur Jepang di lantai/tatami
  7. Mendukung tim Jepang dalam pertandingan olah raga
  8. Berkata,”Kereennnn ” waktu melihat orang memakai kimono
  9. Kalau terus menerus makan roti, jadi ingin sekali makan nasi
  10. Membungkuk -bungkuk waktu menelepon
  11. Memperhatikan kapan waktu sakura mekar
  12. waktu makan umeboshi (buah plum kering)
  13. Merasa senang waktu mendengar suasana festival (matsuri)
  14. Merasa minder waktu diajak omong orang asing
  15. Menyesuaikan dengan orang lain pada waktu rapat
  16. Merasa bersyukur waktu melihat gunung Fuji
  17. Memperhatikan kapan waktunya bisa melihat pemandangan daun berubah di musim gugur
  18. Secara tidak sadar memilih rasa Maccha (Green tea) misalnya es krim dsb.
  19. Selalu mengatakan “Barang tidak berguna” waktu menyerahkan hadiah pada orang lain
  20. merasa senang waktu bisa duduk menekuk lutut meskipun di atas kursi (Seiza= duduk ala jepang atau ala pendeta buddha)

Kadang kala saya merasa saya sudah menjadi orang Jepang, yaitu waktu masuk hot spring (2), makan acar Jepang (5), suka melihat orang pakai kimono (8), membungkuk waktu menelepon (10), senang mengikuti festival terutama taiko -gendangnya (13), melihat gunung Fuji (16) , dan (18) serta (19). Tapi nomor 10 memang sering dikatakan ibu saya, karena saya tidak sadar melakukannya.

Nah, sebagai orang Indonesia, kalau mengacu pada angket itu, apa ya? Makan sambal, mendukung tim Indonesia, senang melihat orang berkebaya, merasa bersyukur melihat pohon kelapa (di Jepang tidak ada pohon kelapa) dan bertelanjang kaki. Mungkin masih ada yang lain, tapi untuk sementara cukup sekian. Bagaimana teman-teman, kapan Anda merasa bahwa Anda itu orang Indonesia (terutama dalam pergaulan dengan orang asing)?