Arsip Tag: kannonzaki

Summer means … pantai!!!

Saya, Riku dan Kai mendarat di Narita dengan selamat pada tanggal 18 Agustus yang lalu (terima kasih atas doa teman-teman semua). Hari Selasa (duh hari ini sudah jumat ya?). Perjalanan dengan pesawat JAL lancar, dan boleh dikatakan tidak ada guncangan sedikitpun. Riku tidur pulas dalam penerbangan yang makan waktu 7 jam itu. Kai? kadang terbangun, karena dia tidak bisa tidur sambil duduk, sedangkan aku juga tidak mau memeluk dia selama itu. Jadi terkadang kakinya menjuntai ke bawah, sampai badannya ikut melorot, atau dia menjajah wilayah kursiku dan kursi kakaknya. Tapi yang pasti aku lega, karena Riku dan Kai sudah terbangun waktu kami mendarat di bandara Narita. Karena jika tidak, aku harus menggendong si Koala, sambil membawa barang-barang (tidak ada Maas sih yang membantu. JAL tidak mempunyai family service seperti SQ, kecuali membayar tiket dengan harga asli! bukan ecnomic fare — padahal economic fare aja udah mahal loh)

Setelah beristirahat sehari penuh tanggal 19,  tanggal 20 pagi pukul delapan aku terbangun melihat Gen sudah siap-siap ke kantor. Sebetulnya dia cuti s/d tanggal 25 pas Riku masuk sekolah kembali, tapi karena waswas pada pekerjaannya dia pikir lebih baik ke kantor. Dan aku sih bisa mengerti sehingga buatku no problem jika dia mau pergi ke kantor. BUT…. di luar panas terik… benar-benar NATSU,  musim panas. Padahal kemarinnya mendung…. sehingga terpaksa kemarin kami membatalkan pergi ke laut. SO? Hari ini?

Gen memutuskan untuk menikmati matahari! Dia ganti baju kerjanya dan begitu anak-anak bangun, kami naik mobil menuju ke pantai di Kanagawa-ken, Kannonzaki, pantai yang tidak terkenal sehingga dijamin sedikit orang. Kami sampai di Hotel Kannonzaki Keikyu hotel pukul 1:30 siang dan makan siang di sana. Sayang menurutku makanannya tidak enak, tapi pemandangan menghadap pantai, sementara kami duduk di ruangan berAC, memang benar-benar menghibur.

Tapi untuk Gen, pantai haruslah berpanas-panas, berpasir, berkeringat dan terbakar matahari. Jadi kami menaruh mobil di tempat parkir dan bermain air di pantai yang berada di samping sebuah museum. Museumnya sendiri tutup. Riku dengan antuasias masuk ke dalam air laut bersama Gen, tapi Kai yang baru pertama kali melihat laut…. tertegun. Dia memang masih koala yang menempel terus pada mamanya. Jadi aku ajak dia menghampiri ombak.

Lihat mukanya waktu pertama kali ombak menyentuh kakinya. Ketakutan! Akhirnya aku panggil Gen yang sudah cukup lama berada dalam air, untuk menggendong Kai dan membawanya masuk ke dalam air. Meskipun agak takut, karena berada dalam gendongan papanya, dia tidak menangis. Sekembalinya dia di tepian pantai, dia sudah mulai berani untuk berjalan sendiri di atas pasir dan… memunguti botol yang hanyut hihihi.

Meskipun matahari terik, udara tidak lembab, sehingga aku juga tidak merasa sumuk dan berkeringat. Cukup senang bisa menikmati deburan ombak, angin semilir, berfoto bersama Kai, dan memberi Kai minum susu sambil dia tertidur, memandang langit biru sementara beberapa burung elang beterbangan, memotret apa saja yang bisa dipotret, dan….masih sempat membicarakan prospek pekerjaan dengan seorang kenalan yang bekerja di Garuda sebelum batere HPku duuut bin mati a.k.a koit!

Pukul 5 sore kami bersiap untuk pulang, kembali ke parkiran sementara Gen dan Riku membersihkan badan. Aku juga sempat kagum karena parkiran itu berada di antara dua bukit yang masih rimbun dengan pepohonan yang berwarna hijau tua, dan di bagian dalamnya terdapat tanah lapang tempat orang-orang mengajak anjing peliharaan mereka berlari.

Biaya perjalanan kali ini? Hanya biaya tol dan biaya parkir 820 yen. Untuk pantai, pemandangan dan keindahan alam (+kebersihannya) … gratis. Murah!

Yang tidak murah adalah biaya makan. Setelah makan siang yang tidak enak di hotel tadi, kami mencari restoran yang menyajikan makanan laut yang segar. Tentu saja SUSHI! Akhirnya kami bergerak ke arah Hayama, tempat marina kapal yacht pribadi, sebuah tempat wisata yang cukup dikenal. Mencari restoran yang menyajikan hasil laut teluk Sagami, dan kami menemukan restoran sushi yang dimaksud Gen. Namanya Inaho, yang pernah dia kunjungi 16 tahun yang lalu.

Makan sushi di restoran sushi yang bukan chainstore memang mendebarkan. Karena biasanya mereka tidak mencantumkan harga makanannya, dan kalau kamu tidak mengerti ikan/hasil laut yang mana yang murah dan yang mana yang mahal, bersiaplah untuk jantungan begitu menerima tagihannya. Untunglah di SUSHI-YA ini masih mencantumkan harga untuk 3 set sushi yang dibuat sesuai ide si pembuat sushi. Judulnya : Biasa  2500 yen, Khusus 4000 yen dan Spesial 5500 yen. Tentu saja ada course menu yang harganya mulai 15.000 yen saja (kebayang ngga ya makan seorang 1,5 juta rupiah? hmmm bukan level aku nih).

Jadi Gen memesan 2 set Biasa untuk dia dan Riku, dan 1 set Khusus untuk aku. Karena rasa ingin tahu saja, apa sih yang disajikan dalam set Khusus itu, yang katanya semuanya berasal dari laut di teluk Sagami saja. Ternyata isinya: Sushi dengan isi belut (unagi), anago, hati belut (kimo), gurita dan telur gurita, sea urchin (uni) dan satu ikan berdaging putih. Hmmm memang khusus, karena aku belum pernah makan hati belut dan telur gurita. Enak memang, tapi tidaklah terlalu enak sehingga membuatku ingin makan lagi (kecuali dibayarin hihihi)

So kemarin tema keluarga kami adalah Laut! Hari ini? di rumah dulu deh, soalnya Gen akhirnya merasa perlu untuk pergi ke kantor menengok pekerjaan yang sedikit mengkhawatirkan.  Aku juga ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat islam di mana saja berada.