Arsip Tag: edo

Pintu Pemeriksaan

Posting kali ini adalah catatan wisata berbau sejarah, yang merupakan lanjutan perjalanan kami di Hakone yang telah saya tulis di Paten(i) Seni.

Pada bagian akhir saya menjelaskan bahwa ternyata tempat yang kami kunjungi itu dulunya merupakan tempat perhentian iring-iringan daimyo (tuan tanah) daimyo gyouretsu, sehingga menjadi tempat yang bersejarah. Dan sebetulnya daerah Hakone memang terkenal sebagai jalan masuk/keluar menuju Edo (Tokyo) dan Kyoto. Karena itu di Hakone ada Pintu Pemeriksaan yang disebut Hakone Sekisho.

Pintu masuk Tokyo

Jaman Edo dulu (1603-1868) , para tuan tanah diwajibkan untuk berkumpul di pusat kota pada waktu-waktu tertentu. Peraturan yang dinamakan sankin kotai ini merupakan kebijakan pemerintah Tokugawa untuk menjaga keutuhan negeri. Karena jika tuan tanah pergi ke pusat kota, berarti dia tidak berkesempatan membangun kekuatan militer di daerahnya. Ini bagus untuk keamanan, tapi berdampak buruk untuk perekonomian, karena biaya perjalanan ditanggung oleh sang tuan tanah Daimyo.

Nah untuk melindungi keamanan Edo (Tokyo) maka pemerintah Bakufu (pemerintah Edo Pusat) mendirikan Pintu Pemeriksaan atau Sekisho ini di 53 titik yang dianggap sebagai pintu masuk ke Edo (Tokyo). Selama pemerintahan Bakufu, sedikitnya 260 tahun, Sekisho   menjalankan tugasnya untuk mengamankan Edo (Tokyo) sampai awal Meiji (runtuhnya pemerintahan Bakufu).

Loket penjualan karcis masuk di Pintu Kyoto. Lihat Kai "bersembuyi" di bawah....

Sebetulnya saya sudah pernah pergi ke Hakone Sekisho ini, di awal kedatangan saya di Jepang, sekitar tahun 1992-an.  Saya masih ingat, dulu tempat ini kusam, tidak banyak bangunan dan yang membekas ada semacam museum dengan dokumen-dokumen kuno. Hmmm boleh dikatakan tidak menarik untuk orang asing awam (kecuali yang suka sejarah). Dulu memang saya juga tidak membawa kamera sehingga tidak ada kenangan yang diabadikan.

Yang sebelah kiri tuh ceritanya pendeta Buddha Ikkyu-san

Tapi waktu kami pergi ke hakone Sekisho ini, amat banyak perubahan yang ada. Tempat pemeriksaan ini ternyata sudah direnovasi, setelah 140 tahun terbengkalai. Di bangunan yang di cat hitam ditempatkan patung penjaga, patung kuda, bahkan dilengkapi dengan dapur lengkap dengan panci dan patung orang yang sedang memasak. Patung-patung ini seukuran manusia dan karenanya Kai takut melihatnya.

Kami masuk dari pintu Edo, melintasi Kantor Pemeriksaan dan pos pengawal, untuk kemudian keluar lewat Pintu Kyoto. Tapi untuk melihat ke dalam Kantor Pemeriksaan termasuk dapur dan menara pengintainya, kami musti membeli karcis seharga 500 yen untuk dewasa di dekat pintu Kyoto. Saya merasa agak aneh saja, kok loket karcisnya hanya di pintu Kyoto. Dan sebetulnya 500 yen untuk melihat ke dalam Kantor itu agak mahal deh…. Untuk orang Jepang yang mengerti sejarahnya OK lah. Tapi untuk wisatawan asing…. hmmmm. Baru kali ini saya menyetujui perbedaan karcis masuk untuk wisdom dan wisman di tempat wisata Indonesia.

Pemandangan di kantor pemeriksaan

Di Kantor Pemeriksaan kami bisa melihat proses pemeriksaan yang dilakukan oleh satu petugas Bangashira, satu asisten Yokometsuke, 3 orang Jobannin, dan  15 petugas bawahan. Dan satu lagi yang tidak kalah penting perannya adalah hitomi-onna. Hitomi onna ini bertugas memeriksa wanita yang lewat. Karena peraturan sankin kotai itu mewajibkan tuan tanah meninggalkan anak-istrinya di Edo selama pulang ke daerah mereka. Sebagai tawanan sehingga mereka tidak bisa memberontak melawan penguasa pusat.

Jenis paku jaman Edo. Kok aku ngeliat gini jadi ngeri kalau paku itu dipakukan ke orang ya? hiiii

Meskipun saya merasa mahal karcis masuk yang 500 untuk melihat fasilitas seperti itu, bisa terobati juga sih karena memang pemandangan dari atas menara pengintai itu bagus. Di latar belakang terlihat danau Ashi dengan kapal wisata berbentuk kapal bajak laut. Kalau ada waktu banyak lumayan juga duduk di atas bukit sambil baca buku sambil menikmati pemandangan yang terhampar.

Setelah dari tempat ini, kami sempat mampir juga di sebuah hotel kuno di daerah Hakone Yumoto yang bernama Miya no shita Fujiya Hotel. Kami sudah 2-3 kali ke hotel ini, tapi memang tidak menginap. Karena tarif per malam menginap di hotel ini mahal sekali. Satu orang per malam bisa 3,6 juta rupiah saja hihihi. (FYI: menginap di penginapan Jepang hampir semua dihitung per kepala, bukan per kamar)

halaman hotel Fujiya

Hotel yang didirikan tahun 1878 ini memang terkenal sebagai hotel kuno, yang sering dikunjungi seleb dan orang terkenal dari manca negara. Karena kami belum menjadi seleb, jadi belum mampu deh menginap di situ. Cukup makan nasi kare saja di restorannya. Nasi Kare restoran di hotel ini begitu terkenal sampai dijadikan makanan retort (siap saji dalam kemasan).

Gambar kompleks hotel Fujiya. Diambil dari web resmi hotel ini.

Dan kami pernah mengajak papa-mama mampir ke hotel ini waktu papa mama datang ke Jepang. Salah satu foto mereka yang amat saya suka…. (obat kangen nih)

aku suka foto ini yang aku ambil 29 Mei 2005 di Fujiya Hotel, Hakone

Dengan selesainya tulisan ini, selesai deh perjalanan kami ke Hakone tanggal 11 Januari yang lalu. Satu hari wisata dengan 3 tulisan, yaitu: kerajinan Yosegisaiku Paten(i) Seni, Museum Pangeran Kecil , dan Pintu Pemeriksaan ini.

Kota Metropolitan Tokyo

Waaah karena mendapat pertanyaan/komentar dari Mascayo, saya jadinya dapat bahan untuk posting malam ini, sebelum hari berganti — dan sebelum bobo, capek euy hari ini (karena saya punya komitment pada diri sendiri untuk posting minimum 1 setiap hari). Pertanyaannya: “lho Tokyo baru tahun 1898 toh didirikan, lha sebelumnya apa ya Mbak?”

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/Tokyo_odaiba.jpg
from wikipedia japan

Heheheh, sebagai seorang sejarawan (gaya deh namain diri sendiri sejarawan) , jadi gatal deh kalau tidak menjelaskan sedikit tentang Tokyo, yaitu sejarah penamaan Tokyo. Memang Tokyo itu secara resmi didirikan tahun 1898, sebagai ibukota negara Jepang dan sebetulnya dinamakan Tokyo karena dilihat dari kanjinya juga bisa, yaitu TO =higashi artinya timur, dan Kyo dari kyoto. Karena kota ini berada di sebelah timur Kyoto, maka dinamakan sebagai Tokyo.

Nah Sebelum itu bagaimana, emangnya belum ada kotanya? Ada, dan namanya adalah EDO atau kadang ditulis dalam bahasa Inggris sebagai YEDO. Sampai dengan restorasi Meiji nama kota yang sekarang saya tinggali ini adalah Edo, baru kemudian berganti menjadi Tokyo. Pusatnya di wilayah Chiyoda, dengan istananya Edo Castle. Biasanya umum bisa masuk ke halaman Edo Castle ini waktu Kaisar berulang tahun yaitu tanggal 23 Desember. Terus terang saya belum pernah ke sini. (Tokyo Tower aja belum pernha masuk…. biasa lah kalau kita tinggal di kota itu, biasanya kita pergi ke tempat wisatanya sendiri paling akhir kan…pikirnya ntar aja lah… Saya mau tanya sekarang, ada yang sudah pernah naik MOnas? hehehe)

Nah, Edo itu merupakan ibukota pemerintahan Shogun (Jendral) keluarga Tokugawa yang menjadikan jaman pemerintahannya itu diberi nama Jaman Tokugawa 1603-1867. Saat ini Jepang menutup negeri dari bangsa lain, dan satu-satunya pintu masuk yang boleh dimasuki pedagang asing, dalam hal ini Belanda adalah Dejima. Selama hampir 300 tahun berkuasa, keluarga Tokugawa ini dianggap sukses menyatukan Jepang. Nah…. skripsi saya tentang sejarah pendidikan jaman Tokugawa ini, yaitu sekolah rakyat, mirip pesantren (tapi bukan) bernama Terakoya. Gitchuuu dehhh (ngga mau lebih detil ntar yang baca bosen).

Jadi Edo adanya mulai 1603? Ya nggak lah, sebelumnya juga ada tapi bukan sebagai ibukota pemerintahan. Kalau dilihat sejarahnya, Kota Edo bisa ditelusuri sampai akhir jaman Heian (704-1185). Jadi sebetulnya kota saya sekarang ini sudah tuaaaaaaaaaaa banget, tapi nama Tokyo nya itu masih muda…..