Arsip Tag: dongeng tentang kelas

Tidak ada lawan(g) na

Aku mungkin tidak berhak menulis tentang bahasa Makassar, karena aku memang tidak menguasai bahasa Makassar. Mungkin dibanding bahasa Jawa, aku masih bisa mengerti 40% bahasa Jawa, dan 10% untuk bahasa Makassar. TAPI aku tentu mengenal logat bahasa Makassar yang khas, yang kukatakan seperti bernyanyi :D.  Dan itu terbukti, waktu aku dan Riku menuruni tangga di Kiyomizudera, Kyoto, musim semi yang lalu. Terdengar sayup-sayup kalimat bahasa Indonesia. Riku berkata,”Ma…. kok aku seperti dengar bahasa Indonesia ya?”
Dan kukatakan, “Benar… dan lucunya logatnya logat Makassar loh!”
“Oh pantas, aku ragu kok bahasa Indonesia tapi logatnya lain tidak seperti sepupu di Jakarta. Rupanya Makassar!”
Senang juga aku, anakku yang baru 3 kali pergi ke Makassar ini, bisa membedakan logat nenek moyangnya. Tadinya sih, aku mau menyapa si turis Makassar itu, tapi karena aku buru-buru juga (Kai yang sedang demam menunggu di taksi) jadi aku tidak menyapa mereka.

Logat Makassar memang “lain dari yang lain”. Selain penambahan suku kata [mi] (sebagai ganti …kan) Itu mi… Juga mengganti [nya] menjadi [na]. Dan satu lagi, mengucapkan konsonan akhir [n] menjadi [ng]. Jadi judul di atas, bahasa Indonesianya adalah TIDAK ADA LAWANNYA.

Dan kurasa, saat ini, itu bisa dipakai sebagai terjemahan dari kata bahasa Jepang saiko  最高. Bagi yang sudah pernah mempelajari bahasa Jepang, tentu tahu bahwa kanji Sai , bisa dibaca mottomo 最も yang berarti paling. kou itu bisa dibaca takai 高い yang artinya tinggi. Paling tinggi atau tertinggi.

Tapi pada kenyataannya, dalam percakapan bahasa Jepang, sering sekali kita jumpai kata SAIKOU ini. Misalnya dalam wawancara tentang atraksi baru di Disneyland, kemudian yang diwawancarai mengatakan “Saikou!!” Bukan atraksinya diadakan di tempat yang tinggi tapi dia merefer saikou pada perasaannya. Perasaan orang itu yang tertinggi, incredible, hebat, menakjubkan, menyenangkan…. dsb. Dan bagaimanapun juga TIDAK BISA kita terjemahkan menjadi paling tinggi atau tertinggi.

Saikou 最高 ini menjadi pemikiranku ketika waktu hari Jumat kemarin, aku menyelenggarakan test bahasa Indonesia. Tema testnya adalah “kata tanya”. Aku menuliskan kalimat pertanyaan  bahasa Jepang, dan kuharap mahasiswa  menerjemahkan pertanyaan itu ke dalam bahasa Indonesia, dan menjawabnya (dalam bahasa Indonesia).

Jadi kutanyakan : インドネシア語はどうですか。 (Bahasa Indonesia bagaimana?)
dengan harapan atau dugaan, mahasiswaku menjawab : “susah” atau “mudah”, atau bahkan “lumayan”…. dengan kata sifat yang sudah kuajarkan. Eh, ternyata ada yang menuliskan 最高, dan menuliskan bahasa Indonesianya: tertinggi.

Benar sekali terjemahannya adalah tertinggi. Tapi tidak bisa dipakai sebagai jawaban “Bahasa Indonesia bagaimana?” kan…. Tapi aku mengerti sekali “perasaan” dia yang ingin mengutarakan bahwa bahasa Indonesia menyenangkan, tidak ada tandingannya….. Tidak ada lawan(g) na 😀

Secara iseng kucari terjemahan bahasa Inggrisnya untuk saikou 最高 ini apa ya? Ternyata ada yang menuliskan bahwa bisa memakai kata-kata : `awesome`, `sick`, `rock`, `epic`, atau `wicked` . (bisa lihat sumbernya di sini) Hmmm aku sendiri mungkin akan lebih memilih kata awesome dibanding lainnya.

Belajar bahasa memang sulit ya. Kita harus bisa membaca keseluruhan konteks kalimat, tidak bisa menerjemahkan secara harafiah saja. Apalagi jika kita memakai aplikasi atau situs terjemahan di internet yang biasanya hasil terjemahannya “menakjubkan” hehehe. Sekaligus saja aku kasih contoh jawaban mahasiswa yang lain yang memakai “mesin terjemahan” di smartphonenya. Pasti dia mencari kata muzukashii (bahasa Jepang) dan ketemu kata angel (bahasa Jawa BUKAN bahasa Inggris). Laaah mbok yo buka itu fotokopi halaman 12, ada kata “susah” sebagai terjemahan muzukashii  loh 😀

eh yang angel bahasa Jawa atau bahasa Indonesia ya?

lost in translation 😀

~~~~~~

NB: “Tidak ada lawang na” ini aku selalu ingat karena papa menyampaikan sebuah joke mengenai percakapan orang Jawa dan orang Makassar: (asal mulanya bagaimana saya kurang jelas, mungkin sudah ada perubahan di sana sini)

Jawa: “Kami punya sebuah mesjid yang megah”
Makassar : “Kami juga punya mesjid megah. Tidak ada lawang na!”
Jawa: “loh dari mana masuknya? (lawang dalam bahasa Jawa = pintu)
Makassar: “Dari pintunya tantu …… dongo (dongo = dungu) !”

😀

Menyatakan Cinta

Tadi pagi, sambil menonton TV, aku tertawa melihat murid-murid SD menyatakan cintanya di depan teman-temannya. Wah, apaan nih, pikirku awal aku menonton acara itu. Masa anak SD sudah berkata: “Aku suka sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?” hehehe

Ternyata itu adalah sebuah kompetisi yang diadakan oleh murid-murid sendiri. Jadi ceritanya anak-anak memilih tema “menyatakan cinta” karena tema ini tidak mengenal kelas, umur dan jenis kelamin. Meskipun ada beberapa peserta murid perempuan yang mengatakan, “Aneh ah jika perempuan menyatakan cinta”, dan dia memang senang jika bukan dia yang proposed melainkan yang laki-laki. Well, jaman boleh berubah, tapi masih banyak kok yang memang mengetahui “kodrat”nya.

Tujuan kompetisi ini agar anak-anak tidak malu berbicara dengan lantang di muka orang banyak, dan bisa mengungkapkan perasaan/pemikirannya. Kreatif juga sih. Yang lucu waktu si pemenang kontes, seorang anak laki, ditanya apakah nanti kalau sudah besar akan berkata seperti yang dia katakan? Lalu dijawab, “Waaaah tidak tahu ya nanti… masih jauh sih!” sambil memerah mukanya 😀 Aku juga heran kenapa dia yang terpilih, soalnya dia berkata, “Maukah kamu menjadi MILIKKU!” waaaaah perempuan jaman sekarang mana mau cuma jadi MILIK 😀

Tapi menyatakan cinta memang butuh keberanian. Dan ini pula yang disimulasikan untuk anak-anak disleksia, anak autis, anak yang terbelakang. Kebetulan aku menonton acaranya, dan kupikir… iya juga ya, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka pun perlu mengenal cinta dan mengetahui cara-caranya.

Pada acara itu, disimulasikan sepasang anak terbelakang, laki-laki dan perempuan pergi berkencan selama 1 jam. Mulai dari si lelaki mengajak perempuan itu pergi, lalu ke mall dan memilih kegiatan apa yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa anak-anak ini TIDAK BISA berhitung. Mereka juga cepat emosi, cepat panik. dari tayangan itu diketahui si anak lelaki mengajak temannya makan spaghetti, lalu panik setelah selesai makan harus bagaimana. Jadi dia meninggalkan ceweknya, dan cepat-cepat bayar. Sayangnya dia LUPA mengatakan “betsu-betsu” (bayar sendiri-sendiri) kepada kasirnya. Padahal uangnya tidak cukup untuk membayar dua orang. Panik deh… untung si cewe sadar (dan kelihatan yang cewek autisnya tidak begitu parah) dan pergi ke kasir untuk membayar bagiannya. Well, di Jepang meskipun pacaran juga masih bayar sendiri-sendiri loh. Tidak ada kewajiban untuk yang laki harus membayar, apalagi jika statusnya dua-duanya belum bekerja.

Di situ aku merasa terharu pada usaha guru-guru di sekolah luar biasa itu untuk menanamkan keberanian dan mengajarkan bermasyarakat. Ah, mereka juga bisa kok seperti manusia normal lainnya, asal didukung, diajar dan diberikan waktu. Aku merasa beruntung tinggal di Tokyo, apalagi di dekat rumahku ada sekolah luar biasa 養護学校, sehingga aku setiap hari bisa melihat mereka. Mereka TIDAK dikucilkan, dan kami warga juga tidak heran jika berjumpa dengan mereka.

“Hati yang luas yang mau menerima mereka yang kurang, apa adanya” justru bisa kutemukan di Jepang. Aku pun merasa kagum pada universitas tempatku bekerja yang memang kuketahui menerima mahasiswa yang dianggap tidak normal. Aku pernah mengajar seorang mahasiswa yang berkursi roda, seorang mahasiswa yang berpendengaran tidak normal sehingga harus memakai alat khusus. Untuk menghadapi mereka aku dikirimi surat oleh pihak universitas, untuk memperhatikan mahasiswa ini, dan jika perlu memberikan tugas yang lain dengan mahasiswa normal. Aku juga usahakan untuk tidak berbicara cepat-cepat supanya si mahasiswa tidak bingung. Memang tidak setiap kelas, dan tahun ini aku mempunyai seorang mahasiswa yang menderita  Asperger syndrome, sejenis autis. Kekurangan yang  paling mendasar, dia tidak bisa membaca situasi, yang istilah Jepangnya: Kuuki wo yomenai 空気を読めない.  Dia selalu duduk paling depan, dan suaranya paling kencang (dan cepat sehingga sering salah) jika aku suruh seluruh kelas membaca sebuah percakapan. Awalnya aku tidak sadar, lalu kemudian aku menerima surat dari pihak universitas tentang mahasiswa tersebut. Sayangnya dia jarang masuk dan terakhir dia sudah duduk di bangku belakang sekali. Semoga dia bisa bertahan sampai akhir semester deh.  Dan tentu… tentu aku akan memberikan tugas yang sedikit berbeda dari teman-temannya yang lain.

 

Pergeseran

Hari ini aku pergi mengajar di universitas yang cukup jauh dari rumahku. Karena sejak musim dingin kemarin kakiku sakit (meskipun berangsur pulih), aku sering “memanjakan” kakiku dengan tidak naik turun tangga. Kalaupun naik turun tangga aku usahakan untuk tidak cepat-cepat. Daripada kakiku tidak bisa dipakai selamanya kan, lebih baik mencegah.

Jadi aku sekarang sering berangkat lebih pagi dari biasanya, dan memakai lift di stasiun. Di setiap stasiun biasanya ada lift, yang diperuntukkan bagi kaum lansia, atau mereka yang sedang hamil, sakit atau membawa barang besar (seperti koper) dll. Layaknya silver seat, bangku khusus untuk yang membutuhkan.

Waktu aku sehat, aku TIDAK akan menaiki lift karena kupikir, aku masih mampu jalan. Dan kalau aku buru-buru justru akan lebih cepat jalan/naik eskalator daripada naik lift. Tapi sekarang setelah aku lebih banyak menggunakan lift, aku banyak melihat yang tidak lazim. Yaitu anak muda, remaja baik perempuan atau laki-laki sehat yang tidak terlihat hamil atau sakit kakinya menggunakan lift. Dan mereka sabar menunggu datangnya lift, dibandingkan harus jalan dan naik tangga, tentu saja sambil bermain dengan HP nya. Duh….  Bahkan aku sering melihat mereka naik lift sendirian. Hmmm kalau aku sehat, aku tidak akan naik lift sendirian. Bukan, bukan memikirkan keamanan, tapi memikirkan boros energinya. Kan untuk menjalankan lift perlu listrik 🙂

Itulah, sudah terjadi pergeseran pemikiran manusia sekarang. Yang penting dirinya enak, tidak capai, tidak mau bergerak sedikit. Tidak memikirkan dampak perbuatannya pada lingkungannya. Rasanya masyarakat sekarang mulai menjadi “sakit” deh.

Di universitas, biasanya satu kali dalam 15 kali pertemuan, aku meminjam ruang komputer di universitas, untuk “memaksa” mahasiswa mencari informasi tentang Indonesia di internet, dan menjawab pertanyaanku (dalam bahasa Indonesia).  Setiap mahasiswa biasanya mempunyai akun sendiri yang dibagikan pihak universitas, sehingga untuk bisa login memakai komputer pun harus memasukkan id dan passwordnya. Untuk email juga disediakan webmail universitas sendiri, tapi kali ini ada dua mahasiswa (dari 20 orang) yang tidak bisa mengirim email karena lupa passwordnya. Untuk ini aku bisa bantu dengan “meminjamkan” aku emailku yang lain.

Dan pagi ini aku melihat pemandangan aneh seperti ini:

aneh kan? (foto sudah minta ijin si mahasiswa)

aneh tidak? Dia duduk di depan komputer, display besar. Tapi mencari informasi JUSTRU dengan smartphonenya yang berlayar kecil. Aku tidak bisa mengerti pemandangan seperti ini. Dan kelihatannya memang kaum muda sekarang tidak biasa memakai komputer. Segal-segalanya cukup dengan smartphone. Kalau dalam kondisi di jalan sih bisa dimaklumi, ini sedang berada di depan komputer loh 😀

Aku masih merasa pentingnya punya komputer. Karena secanggih-canggihnya smartphone, tetap saja kapasitas dan kemampuannya lebih kecil dari komputer. Misalnya akan sulit dong, membaca pdf dari smartphone. Untuk membaca format A4, tentu lebih baik dari komputer, daripada dari smartphone. Meskipun kalau terpaksa aku juga kadang memakai aplikasi Word untuk smartphone. Untuk browsing di internet, kalau mendadak dan mendesak tentu saja bisa pakai smartphone, tapi kalau aku ada di rumah atau tempat yang ada komputernya aku lebih suka mencari info-info itu dengan komputerku.

Aku tahu jaman memang berubah, juga manusianya. Sah-sah saja, sepanjang kita masih bisa memilah dengan hati tentunya.