Yang Aneh dari Tokyo

28 Apr

Judul aslinya sih “Tokyo no koko ga hen”, yaitu suara warga atau pendatang di Tokyo mengenai Tokyo sendiri. Maksudnya, kenapa sih  kok bisa begitu, dan mungkin bisa dibayangkan mengucapkannya sambil geleng-geleng kepala dan mengeluarkan suara “ck ck ck”.

Ini adalah hasil ranking yang dibuat dari responden online, dan kupikir bisa menjadi gambaran tentang kota Tokyo.

Ranking pertama, apalagi kalau bukan, “Mahalnya sewa rumah”, well semakin dekat pusat kota, dan semakin dekat stasiun semakin mahal. Tokyo terbagi dalam 23 -ku (ku = kotamadya) yang terletak di pusat dan 26 shi yang perpanjanganya Tokyo, kemudian 5 machi dan 8 mura (desa). Tentu tinggal di “23 KU”. Dan di antara warga Tokyo sendiri ada semacam pengetahuan bahwa ketenaran masing-masing KU itu berbeda. Shinjuku- ku adalah daerah padat dan terkenal, sehingga sewa rumah di situ mahal, sehingga tidak bisa menyewa apartemen yang luas. Memang tergantung lokasinya juga. Apartemen sebesar 65m persegi bisa lebih dari 20 juta rupiah perbulan jika di daerah Shinjuku. Apalagi jika dekat stasiun.

Peta Tokyo, bagian berwarna ungu adalah KU, sedangkan sebelah kiri berwarna hijau adalah perpanjangan Tokyo terdiri dari SHI. Ada beberapa pulau yang dikategorikan shi dan mura

Sumber : http://www.metro.tokyo.jp/PROFILE/map_to.htm

Ranking ke 2 adalah Banyaknya orang. Jelas saja, persis tadi pagi tgl 27 April dilaporkan penduduk Tokyo per 1 April 2010 sudah mencapai 13.010.279 jiwa. Bertambah 25.619 dari bulan Maret. Dan…. dari jumlah penduduk itu 20 persen adalah warga berusia 65 tahun ke atas.

Yang ketiga adalah  Mahalnya ongkos parkir. Well di tempat yang padat bisa sampai 10 menit 100 yen (Rp10.000 ), tapi kalau pergi ke pinggiran Tokyo, hampir semua restoran dan toko mempunyai pelataran parkir yang besar dan gratis.

Keempat:  udaranya kotor. hmmm aku sih tidak begitu merasa, mungkin karena aku bandingkan dengan Jakarta ya hihihi.

Ranking lima adalah kereta padat penumpang…. hahaha ini memang khasnya Tokyo. Bener-bener nempel deh orang kalau naik kereta terutama di jam-jam sibuk. Dan ini pula yang menyebabkan timbulnya kata chikan (orang yang ramah alias rajin menjamah tubuh wanita hihihi)

Yang ke enam adalah  mahalnya biaya makanan dan minuman. Well, kemarin minggu aku bertemu Eka di Tsukuba. Kami makan ke restoran dan ada set menu dengan harga 1050 yen. Memang di Tokyo ada juga set menu dengan harga segitu, tapi tidak pada hari Minggu, dan malam hari. Mau makan malam hari di restoran? harus siap-siap membayar 3000-4000 yen satu orang.

Ranking 7 adalah air ledengnya tidak enak. Aku sih tidak pernah minum  air ledeng, meskipun sebenarnya air ledeng di Tokyo bisa diminum (kecuali tempat/WC umum) . seperti kebiasaan di Indonesia aku selalu masak atau membeli mineral water. Sekarang aku rajin mengambil air mineral gratis di supermarket, dengan menjadi anggota dan membayar 500 yen untuk “membeli” botol 4 liter. Selanjutnya gratis terus tuh.

Yang ke delapan : tidak mengenal tetangga sebelah. Untung aku masih kenal tetangga sebelah apartemen aku…dulu sebelum Riku lahir memang tidak pernah tahu siapa tetangga sebelahku. Itu karena aku bekerja siang, sehingga tidak ada kesempatan bertemu tetangga, dan ngobrol.

Ke sembilan : ribut meskipun malam. Yaaaa kalau pergi ke daerah Shinjuku, Roppongi, Harajuku ya jelas aja. Atau ke stasiun-stasiun. Sampai pagi malah. Tapi kalau ke daerah perumahan ya ngga lah.

Ranking 10: walaupun kereta terakhir tetap saja penuh. Justru karena kereta terakhir jadi penuh, karena tidak mau ketinggalan kereta sehingga harus menginap di taman (kalau tidak mau keluar duit) atau hotel/karaoke/bar.

Yang ke 11: pintu masuk keluar stasiun yang banyak. Terutama stasiun kereta bawah tanah. Kalau salah keluar pintu, bisa-bisa nyasar deh.

Ranking ke 12: Tetap terang meskipun malam hari. Well itu benar. Dan ini kusadari waktu mudik, loh kok jakarta gelap sekali ya? heheheh

Ke 13 adalah :  Jalannya cepat! Heheheh kalau lambat ya DITABRAK! Makanya aku suka kasihan kalau ada lansia yang keluar rumah dan mau naik kereta pas jam-jam sibuk. Orang-orang tidak berperasaan sekali deh, tabrak-tabrak mereka. Dan kadang kalau aku terpaksa berada di belakang mereka juga merasa sebal karena LELET nya. Padahal kalau aku nanti tua juga sama tuh. Tokyo bukan untuk LANSIA, terutama pagi/malam hari.

Ranking 14:  banyaknya gedung pencakar langit. well namanya Metropolitan, ya wajarlah kalau banyak skyscapernya.

Ke lima belas adalah Jarak antar stasiun yang pendek. Ini di pusat kota, kalau agak menjauh juga tidak dekat kok. Aku sendiri sekarang tinggal di tengah-tengah 3 stasiun, yang bisa dicapai dengan bus.

Ranking 16 : banyaknya orang berfashion aneh-aneh. Hahaha…. memang aneh-aneh sih. tunggu saja di musim panas, ada kok yang berani memakai celana pendek macam celana dalam pendeknya hihihi/

Ke 17 adalah  banyaknya jumlah kereta dalam satu jalur. Misalnya untuk jalur yamanote line yang memutar Tokyo, setiap 3-5 menit pasti ada kereta yang datang, sehingga tidak perlu menunggu lama.

Yang ke 18: peron stasiunnya banyak. Wahh iya, coba datang ke stasiun tokyo, Stasiun Ueno dan Shinjuku… sudah merupakan satu “kota” sendiri deh.

Ke 19. tidak perlu mobil. Well, karena kereta lebih tepat waktu, banyak dan teratur, buat apa punya mobil. Lagian sewa tempat parkir di apartemen itu mahal. setahuku di daerah Meguro sebulan bisa 40.000. Kalau Ginza? Wahhh siap-siap aja membayar 60.000 yen.

Dan yang terakhir adalah adanya gerbong kereta khusus perempuan. Seperti sudah pernah aku tulis di sini, memang karena padatnya gerbong kereta waktu jam-jam sibuk, membuat perusahaan kereta api menyediakan gerbong khusus penumpang. Biasanya di bagian ujung kereta.

Sumber ranking : http://cache001.ranking.goo.ne.jp/crnk/ranking/999/tokyo_funny_2010/p1/

Sumber berita: asahi.com

東京都は27日、4月1日現在の推計人口が初めて1300万人を超え、1301万279人となったと発表した。3月より2万5619人(0.2%) 増えていた。都は「都心部のマンション増に加え、求人が減った地方から仕事を求めて移住する人が増えたためでは」とみている。

都の人口は1967年に1100万人を超え、33年後の00年に1200万人に到達。その後は年10万人程度のペースで増加し続けた。97年以降は毎 年、転入者数が転出者数を上回っている。

地域別では、23区が882万440人、多摩地区が416万2592人、島しょ部が2万7247人。人口増は区部で目立ち、前年同月比で最多だったのは 高層マンション建設が相次いだ江東区の7470人増。次いで足立区が4840人増だった。asahi.com

IBSN: Kapan Anda Merasa Orang Indonesia?

25 Jan

Ya sebuah pertanyaan yang mudah, tapi mungkin agak sulit dijawab oleh orang Indonesia. Karena belum ada standar yang pasti ciri-ciri khas orang Indonesia. Adanya ciri khas orang dari suku Jawa, Sumatra, Bali dll. Mungkin sebuah survey yang dilakukan pada orang Jepang ini bisa menjadi semacam “referensi” bagi kita. Ini adalah sebuah hasil angket terhadap pertanyaan, Kapan Anda merasa bahwa ternyata Anda memang orang Jepang.

  1. Merasa bahagia waktu minum sup miso.
  2. Merasa relaks waktu masuk ke dalam pemandian air panas (hot spring)
  3. Merasa bahagia waktu minum teh hijau
  4. Merasa “at home” waktu mencium bau tatami
  5. Makan acar Jepang
  6. Tidur di kasur Jepang di lantai/tatami
  7. Mendukung tim Jepang dalam pertandingan olah raga
  8. Berkata,”Kereennnn ” waktu melihat orang memakai kimono
  9. Kalau terus menerus makan roti, jadi ingin sekali makan nasi
  10. Membungkuk -bungkuk waktu menelepon
  11. Memperhatikan kapan waktu sakura mekar
  12. waktu makan umeboshi (buah plum kering)
  13. Merasa senang waktu mendengar suasana festival (matsuri)
  14. Merasa minder waktu diajak omong orang asing
  15. Menyesuaikan dengan orang lain pada waktu rapat
  16. Merasa bersyukur waktu melihat gunung Fuji
  17. Memperhatikan kapan waktunya bisa melihat pemandangan daun berubah di musim gugur
  18. Secara tidak sadar memilih rasa Maccha (Green tea) misalnya es krim dsb.
  19. Selalu mengatakan “Barang tidak berguna” waktu menyerahkan hadiah pada orang lain
  20. merasa senang waktu bisa duduk menekuk lutut meskipun di atas kursi (Seiza= duduk ala jepang atau ala pendeta buddha)

Kadang kala saya merasa saya sudah menjadi orang Jepang, yaitu waktu masuk hot spring (2), makan acar Jepang (5), suka melihat orang pakai kimono (8), membungkuk waktu menelepon (10), senang mengikuti festival terutama taiko -gendangnya (13), melihat gunung Fuji (16) , dan (18) serta (19). Tapi nomor 10 memang sering dikatakan ibu saya, karena saya tidak sadar melakukannya.

Nah, sebagai orang Indonesia, kalau mengacu pada angket itu, apa ya? Makan sambal, mendukung tim Indonesia, senang melihat orang berkebaya, merasa bersyukur melihat pohon kelapa (di Jepang tidak ada pohon kelapa) dan bertelanjang kaki. Mungkin masih ada yang lain, tapi untuk sementara cukup sekian. Bagaimana teman-teman, kapan Anda merasa bahwa Anda itu orang Indonesia (terutama dalam pergaulan dengan orang asing)?